Ice Boy [Chapter 12]

enjoy~

~~~~ ~~~~ ~~~~

XII

 

Hari terakhir di tahun ini tiba; musim dingin mendekat dengan cepat.

Jessica berada di apartemennya, sibuk membereskan rumahnya, ia menunggu teman-temannya datang. Ia memandang sekeliling apartemennya. Segalanya sudah berada pada tempatnya.

Jessica tersenyum puas. Tahun baru, semoga menjadi lebih baik.

Minutes later, she heard a knock on her apartment’s door.

Beberapa menit kemudian, ia mendengar suara ketukan di pintu apartemennya.

“Jessi, kami di sini.”

Dengan antusias Jessica membuka pintu dan disambut oleh teman-temannya.

“Selamat tahun baru!”

“Masuklah, teman-teman!” ia mengundang mereka masuk.

“Sica! Kami punya kejutan untukmu!” seru Yoong.

“Benarkah?”

“Kami membawa seseorang.” Tambah Sunny.

“Seseorang? Omo~ siapa dia?” Jessica tak bisa menahan kegembiraannya lagi.

“Aku yakin kau akan sangat senang bertemu dengan laki-laki ini.” Goda Soo.

Laki-laki? Jessica tersenyum lebar, ia telah menebak seseorang; seorang laki-laki dingin untuk lebih jelasnya.

“Kau siap, Jessi?” sahabatnya mundur dan menarik laki-laki itu dengannya. “Ta-da!”

“Hai.” Sapanya.

Jessica menatapnya dengan terkejut. “Wookie Oppa?”

“Sooyeon-ah. Selamat tahun baru!” Dongwook merangkulnya dan memeluknya dengan bahagia.

Jessica tersenyum tipis setelah Dongwook melepaskan pelukannya, merasa sedikit kecewa.

“Ayolah, mari kita makan! Aku kelaparan!” seru teman Shikshin mereka dan mulai merayakan liburan mereka.

+++

“Selamat tahun baru, Sica!”

“Terima kasih sudah datang, Sunny-ah!”

Hari sudah menjelang malam dan dua temannya memutuskan untuk pulang.

“Terima kasih, Shikshin.” Jessica memeluk Soo juga, laki-laki itu terkejut namun kemudian dia balas memeluknya.

“Tidak masalah, Sica.”

Satu jam berlalu dan sahabatnya memutuskan untuk pulang juga.

“Selamat tahun baru, Jessi! Love you!”

“Love you, Tiff. Terima kasih.”

Ketika mereka saling melepas pelukan, Tiffany menoleh pada Yoong.

Laki-laki itu tengah sibuk mengobrol dengan Dongwook.

“Yoongie, kau tidak ikut denganku?”

Yoong berhenti sejenak dan menoleh pada Tiffany. “Tidak. Aku ingin tinggal lebih lama lagi.”

Tiffany menghampirinya dan meraih lengannya. “Tapi Yoong-ah, ini sudah malam. Kita harus pulang.”

“Tapi-”

“Lagipula, Dongwook Oppa masih ada di sini.” Tiffany melirik Dongwook dan mengedipkan sebelah matanya pada Jessica.

Jessica menatapnya tercengang, tidak mengerti apa yang diisyaratkan sahabatnya.

“Tapi Fany, aku mau tinggal lebih lama lagi!” Yoong merengek dan berusaha lepas darinya.

“Tidak, ayo kita pulang. Orangtuamu akan khawatir.”

“Apa?! Aku bukan anak kecil!”

“Ya, kau.” Kata Tiffany tegas dan menariknya keluar dari apartemen Jessica. “Sampai jumpa, Jessi! Sampai jumpa, Oppa!”

“Uh…sampai jumpa, Tiff! Terima kasih, Yoongie! Selamat tahun baru!” serunya sebelum kedua orang itu menghilang dari pandangan.

Hanya dua orang yang tersisa. Dongwook dan Jessica.

Jessica menutup pintu apartemennya dan duduk di samping Dongwook.

“Wine?” Dongwook meraih botol sampanye setengah penuh.

Jessica mengangguk dan menyerahkan gelasnya.

“Teman-temanmu sungguh perhatian.” Kata Dongwook.

“Ya, Oppa. Setiap tahun mereka selalu merayakan liburan denganku.”

“Aku senang kau tidak merasa kesepian meskipun keluargamu tidak ada di sini.”

Jessica tersenyum mendengar pernyataannya.

Suasana di apartemen itu menjadi hening.

Jessica menyesap winenya sementara Dongwook menatap padanya.

Merasakan mata laki-laki itu menatapnya, Jessica menoleh padanya.

Tatapan laki-laki itu sedikit kuat.

Tanpa melepaskan tatapannya dari Jessica, dengan perlahan Dongwook menaruh gelasnya di atas meja. Ia juga mengambil gelas Jessica dan melakukan hal yang sama.

Di sisi lain, Jessica hanya duduk diam, bingung dengan tindakannya.

Dongwook bergeser di kursinya dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Jessica.

Ketika wajah mereka hanya berjarak beberapa inci, Dongwook memejamkan matanya.

Dan pada saat itu, Jessica sudah mengetahui apa yang akan dia lakukan.

“O-Oppa-”

Ia tidak sempat mengucapkan kata lain ketika Dongwook segera menutup celah di antara mereka.

Ciuman itu mengejutkannya namun kemudian Jessica memejamkan matanya dan membalas ciumannya.

Bibir itu adalah bibir yang sangat ingin ia cium, empat tahun lalu.

Merasakan bahwa Jessica tidak menolaknya, Dongwook memperdalam ciumannya.

Jung.

Jessica mendadak membuka matanya dan mendorong laki-laki itu.

“O-Oppa, a-aku lelah. Aku mau i-istirahat sekarang.” Jessica beranjak dari duduknya tanpa melihat ke arahnya.

Dongwook bangkit juga dan meraih lengannya. “Sooyeon-ah…”

“Oppa, tolong kunci pintunya saat kau pergi.” Suaranya hampir terdengar seperti bisikan. “Selamat tahun baru.”

Jessica menarik lengannya dan berlari ke kamarnya. Ia segera mengunci pintu kamarnya dan bersandar ke pintu.

“Aku sudah melupakanmu.” Air mata mulai menggenangi matanya.

“Kau juga bilang kalau kau tidak mencintaiku.” Dan segera, air matanya tumpah.

“Apa yang terjadi sekarang?” mengangkat telapak tangannya ke dada, ia mulai menangis diam-diam, merosot ke lantai.

“Kenapa, Oppa? Kenapa kau melakukan ini padaku?”

Jessica terdiam sejenak.

Setelah ia mendengar pintu depan tertutup, ia menyeka air matanya dan mencoba menenangkan dirinya.

Berdiri dari duduknya, ia membuka pintu kamar dan pergi ke ruang duduk; Dongwook sudah pergi.

Ia berjalan perlahan menuju sofa dan mengempaskan tubuhnya di atasnya.

Membenamkan wajahnya di tangannya, ia menarik napas dalam-dalam.

Ia melirik jam dinding.

11:21 PM

Setengah jam lagi. Ia menghela napas. “Aku tidak bisa berpikir jernih di sini.”

Jessica kembali ke kamarnya dan meraih jaketnya, memutuskan untuk pergi keluar.

~~~:~~~:~~~

Yul mendengar ketukan di pintu kamarnya.

“Masuk.”

“Yul, kami akan pergi ke pusat kota. Kau mau ikut?”

“Tidak, Mrs. Choi.”

“Baiklah.” Mrs. Choi menutup pintu dan pergi.

Mrs. Choi adalah salah satu pegawai di kediaman keluarga Kwon.

Karena Mrs. Choi juga merupakan teman baik dari orangtua Yul, keluarganya, Mr. Choi dan Minho tinggal bersama dengan keluarga Kwon.

Yul mengempaskan dirinya di atas tempat tidur, menanti datangnya tahun baru.

Ia melipat tangan di belakang kepalanya dan menghela napas. Tahun baru, semoga menjadi lebih baik.

Ia melirik jam bekernya.

11:22 PM

Merangkak turun dari tempat tidurnya, Yul memutuskan untuk pergi ke luar, karena tidak ada seorang pun di rumah.

Ia mengenakan penutup telinga, sarung tangan, dan meraih jaketnya, kemudian pergi.

~~~:~~~:~~~

Taman yang dikunjungi Jessica tertutupi salju. Ia duduk di sebuah bangku taman dan mengamati sekitarnya.

Terlihat banyak orang yang sedang berjalan-jalan di sekitar.

Mungkin mereka sedang menantikan tahun baru juga. Pikirnya.

“Unnie, ayo kita pergi ke sana!”

Ia melihat seorang gadis kecil berjalan bergandengan tangan dengan kakaknya.

Menghela napas, ia bergumam. “Aku merindukan Soojung-ah.”

Ketika mereka berjalan melewatinya, ia menyunggingkan seulas senyum pada mereka.

Mengalihkan tatapannya ke sisi lain, ia melihat sepasang kekasih.

Si laki-laki merangkulkan tangannya di sekitar bahu si gadis.

Jessica tiba-tiba merasa iri, menatap mereka sambil cemberut.

“Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukan Yul saat ini.”

Merasa kedinginan, ia merapatkan jaketnya dan kembali mengamati sekitarnya.

+++

Yul mengemudi tanpa tujuan di sepanjang jalan.

Ia melirik ke samping dan membaca sebuah brosur.

 .

PERTUNJUKAN KEMBANG API AKAN DITAMPILKAN TEPAT PUKUL 11.59 MALAM.

.

“Lebih baik.”

Ia berhenti di trotoar dan turun dari mobilnya.

Ia lalu pergi ke sebuah taman di dekatnya.

Ketika berjalan-jalan, Yul melihat seseorang yang familiar sedang duduk di bangku taman.

Ia tidak langsung menghampiri orang tersebut sebaliknya ia pergi ke kedai kopi terdekat.

+++

Masih disibukkan dengan pikirannya sendiri, Jessica merasakan sesuatu yang hangat menempel di pipinya.

Hal itu membuatnya terkejut dan melihat ke sampingnya. “Yul?”

“Minum ini. kau terlihat kedinginan.” Yul menawarkan secangkir kopi instan.

“…terima kasih.” Ia menerimanya dengan ragu dan Yul mulai berjalan pergi.

“Tunggu, Yul!” ia mengosongkan cangkirnya dan dengan cepat berjalan di sampingnya. “Sedang apa kau di sini?”

“Bagaimana denganmu?”

“Kau tahu, menunggu tahun baru karena di apartemenku tidak ada seorang pun yang bisa diajak merayakan tahun baru.”

“Sama.” Jawab Yul singkat.

“Huh?” Jessica merasa bingung dengan jawabannya. “Kenapa? Kau tidak merayakan liburan dengan keluargamu?”

Yul menggelengkan kepalanya. “Kakekku sedang melakukan perjalanan bisnis di luar kota.”

“Oh. Bagaimana dengan orangtuamu?”

“Aku tidak punya orangtua.”

Jessica mengerutkan keningnya dengan bertanya-tanya.

“Mereka sudah meninggal beberapa tahun lalu.” Lanjutnya.

Jessica menatapnya, kehilangan kata-kata. Tapi Taeng bilang keluarganya hanya sedang sibuk.

Informasi itu benar-benar baru baginya dan itu membuat hatinya terasa berat.

Begitu teringat Yul tanpa orangtua, entah kenapa ia merasa tertekan.

“Maaf.” Jessica menghela napas. “Bagaimana dengan saudara? Kau punya saudara?”

“Seorang kakak.”

Jadi, dia punya seorang kakak. “Di mana dia?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau tidak tahu?”

Yul terdiam dan Jessica mengerti bahwa ia harus menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi.

Mereka berhenti di sebuah taman bermain dan Yul duduk di salah satu ayunan.

Beberapa anak kecil terlihat sedang bermain-main.

Jessica duduk di ayunan di sampingnya.

Mendengar keheningan yang hanya diisi dengan sedikit keributan yang terdengar dari suara anak-anak, Jessica memutuskan untuk berbicara. “Yul?”

Namun laki-laki itu tidak merespon.

“Apa kau pernah…” ia menunduk melihat ke pangkuannya sebelum melanjutkan. “…jatuh cinta?”

“Belum.”

Belum? “Jadi, kau tidak pernah punya pacar?”

“Tidak. Dan aku tidak berencana untuk segera mempunyainya.”

Jessica cemberut. Hatinya mendadat terasa sakit. Apakah itu sebuah penolakan secara tidak langsung?

“Kenapa?” Jessica kembali bertanya.

“Cinta bukanlah untukku.” Ia mengembuskan napas. “Seseorang sepertiku tidak pantas merasakan cinta.”

“Semua orang berhak mendapatkan cinta, Yul.”

Yul tidak lagi mengatakan apa pun.

Kenapa? Apakah dia takut pada cinta? Jessica mulai berpikir dan berspekulasi kenapa sikapnya terhadap ‘cinta’ seperti itu.

Atau, mungkin dia gay? Jessica mendengus.

Yul mendengarnya dan bertanya. “Apanya yang lucu.”

Jessica menatapnya dan tersenyum. “Tidak ada. Aku hanya tidak bisa membayangkan kalau Kwon Yul ternyata masih polos.”

Polos? Yul mengangkat sebelah alisnya.

Beranjak dari ayunan, Yul berdiri di depannya dan meletakkan tangannya di rantai ayunan di atas Jessica.

Yul membungkuk lebih dekat. “Jangan terlalu cepat menyimpulkan, Jung.”

Wajah Jessica mulai memanas dan ia menelan ludah dengan gugup.

Yul menegakkan tubuhnya dan mulai meninggalkan dia, lagi.

“Ah!”

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki tersandung di depan Yul.

Yul berhenti namun ia tidak menolong anak kecil itu, sebaliknya, ia mengabaikannya.

Dengan tergesa-gesa Jessica berlari menghampiri anak kecil itu. “Hei, kau tidak apa-apa?”

Si anak kecil itu tidak menjawabnya dan terus menatapnya.

“Di mana orangtuamu?”

Anak laki-laki itu menunjuk ke belakangnya.

“Lain kali hati-hati, ya?” Jessica membersihkan salju di pakaian anak laki-laki itu dan tersenyum padanya.

Ketika anak itu pergi, Jessica memelototi Yul dan mendekatinya. “Yah!”

Yul mengangkat bahunya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Kenapa kau tidak menolongnya?”

“Aku tidak kenal dia.”

“Lalu kenapa kalau kau tidak mengenalnya? Seharusnya kau menolong dia, dia hanya seorang anak kecil.”

Yul mencondongkan tubuhnya ke Jessica. “Aku tidak peduli dengan orang lain.”

“Noona!”

Anak laki-laki yang tadi memanggilnya.

Jessica berbalik dan tersenyum padanya. “Ya, ada yang bisa aku bantu?”

Anak kecil itu mengulurkan setangkai mawar natal.

“Oh.Untukku?”

Anak kecil itu tersenyum dan mengangguk.

Jessica menerimannya dan berterima kasih padanya. “Mawarnya cantik.”

“Tidak, Noona. Noona cantik.” Kata si anak kecil itu membuatnya terkekeh.

What? Sementara itu, Yul yang tengah memerhatikan mereka mengernyitkan dahinya.

“Noona. Ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa itu?”

Anak kecil itu menyuruh Jessica untuk mendekat padanya.

Jessica menurutinya dan membungkuk sehingga wajah mereka sejajar. “Oke. Apa yang ingin kau katakan?”

Tanpa peringatan, anak laki-laki itu memberikan kecupan tepat di bibirnya.

Jessica mengerjap-ngerjapkkan matanya dengan kaget.

“Saranghaeyo, Noona!”

“Yoogeun!”

“Umma memanggilku.” Ia tersenyum sebelum melambaikan tangannya. “Dah, Noona!”

Jessica memandangi anak itu pergi, masih tercengang.

Setelah ia kembali tersadar, ia melirik setangkai bunga di tangannya dan berbalik.

Yul menatapnya.

“Anak kecil itu genit.” Yul mendengus.

“Dia bukan anak yang genit. Dia hanya bersikap jujur dengan perasaannya.” Jessica balas mendengus.

Yul menatapnya, seolah-olah apa yang dia katakan ditujukan langsung padanya.

Yul berjalan perlahan di depannya dan ketika ia berada dekat dengan Jessica, ia melepas penutup telingannya dan memasangkan benda itu di telinga Jessica, mengejutkannya.

Yul menatapnya sejenak lalu meraih tangannya.

“Lain kali kalau kau keluar, pakailah pakaian yang hangat.”

Yul melepas satu sarung tangannya dan memakaikannya di tangan kiri Jessica.

Jessica tersenyum dengan tindakan manisnya dan Yul menyadari hal itu. “Kali ini apanya yang lucu?”

“Kukira Ice Boy tidak peduli dengan orang lain.” Katanya, terhibur. “Tapi sebenarnya apa yang dia lakukan sekarang?”

Lagi-lagi, Yul menatap langsung ke matanya. “Mungkin aku memang Ice Boy seperti yang kau bilang.”

Yul kemudian melepas syalnya dan melingkarkannya di leher Jessica. “Tapi ketika berurusan denganmu, aku bisa membuat pengecualian.”

Setelah memesangkan syal itu, Yuri berbalik untuk pergi, meninggalkan Jessica yang tersipu.

Pengecualian? Untukku?

~~~:~~~:~~~

“Apa yang kita lakukan di sini?”

Mereka berdiri di sebuah jembatan kecil yang berada di tengah-tengah taman.

Yul meraih lengan Jessica dan melirik jam tangannya.

“20 detik lagi menuju pesta kembang api.” Yul mengumumkan.

Jessica menatapnya dengan gugup. “A-Apa? Ke-kembang Api?”

“Ya. Kembang api.”

Wajah Jessica berubah pucat seketika. “Er…Y-Yul?”

10!

 .

9!

 .

Lalu perhitungan detik-detik menuju tahun baru pun dimulai.

“Hmm?”

 .

8!

.

7!

 .

“Aku harus pergi sekarang.”

6!

 .

5!

 .

“Apa?”

4!

 .

3!

 .

“Aku bilang-”

2!

.

1!

 .

Bunyi desingan dan letupan kembang api itu terdengar.

“Indah sekali.” Mata Yul terpaku pada berkas-berkas sinar yang meluncur ke langit; ia merasa terpesona dengan apa yang dilihatnya.

Menyadari keheningan di sebelahnya, Yul melihat ke samping.

Jessica menangkup telinganya sambil menutup matanya.

“Hei, apa yang kau lakukan?” Yul menepuknya. “Kau akan melewatkan pertunjukkan ini.”

Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya dengan penuh ketakutan. Ia benar-benar takut akan kembang api.

Melihat bahwa Jessica tidak akan menurutinya, Yul menggenggam tangan kanan Jessica dan memegangnya.

“Buka matamu, Jung.” Ia berbicara ke telinga Jessica. “Jangan takut, aku di sini.”

Merasakan kehangatan Yul di tangannya dan mendengar suara lembutnya, hati Jessica merasa tentram.

Jessica perlahan membuka matanya dan melihat ke atas. Ia pun terpesona dengan apa yang dilihatnya.

“Indah Sekali.”

“Ya, kau benar.”

Setelah menonton beberapa menit, Jessica tersenyum pada Yul. “Selamat tahun baru, Yul-ah.”

Seolah-olah dipengaruhi oleh senyuman Jessica, Yul balas tersenyum. “Selamat tahun baru.”

Jessica menatap padanya. Ya tuhan! Apakah dia benar-benar tersenyum padaku?

Tentu saja, senyuman itu adalah kali pertamanya Yul tersnyum pada Jessica.

Akhirnya, ia bisa melihat senyum yang selama ini dinantikannya.

Yul mengalihkan tatapannya dan menggenggam tangan Jessica erat-erat.

Omo~ dia sangat tampan!

Jessica lalu mendapatkan sebuah ide.

Ia melepaskan tangan Yul yang mana membuat laki-laki itu melihat ke arahnya dengan bingung.

Mengeluarkan ponselnya, Jessica berkata. “Ayo kita foto bersama.”

Ia menarik Yul lebih dekat dengannya dan punggung mereka menghadap ke pertunjukkan kembang api.

“Hana, duhl, seht… Kimchi!”

*CLICK*

Jessica melihat ponselnya. Yul tersenyum.

“Foto pertama kita bersama-sama.” Jessica tersenyum dan menatapnya.

Yul balas menatapnya.

“Er…maksudku, foto pertama kita…tahun ini.”

“Tahun ini?”

“Tahun ini.” ulang Jessica.

Yul berbalik dan bersandar ke pagar, masih menonton pertunjukkan di depannya.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar Jessica menguap.

“Mengantuk?” tanyanya.

Mata Jessica terlihat lelah dan ia mengangguk menanggapinya.

Mengulurkan tangannya, Yul menawarkan, “Ayo. Aku akan mengantarmu pulang.”

Jessica meraih tangannya dan mereka berjalan bersama menuju mobil Yul.

Mereka tiba di depan apartemen Jessica namun gadis itu tertidur pulas.

“Hei, kita sudah sampai.”

Dengan letihnya Jessica membuka mata dan Yul turun dari mobilnya.

Membukakan pintu untuknya, Yul menyadari sesuatu yang aneh pada Jessica. “Kau baik-baik saja?”

Jessica mengangguk lemah dan turun dari mobilnya. “Terima ka-”

Bahkan sebelum Jessica bisa berterima kasih pada Yul, ia tiba-tiba jatuh pingsan.

Beruntungnya, Yul berhasil menangkapnya.

“Hei, Jung.” Yul mengguncang-guncang Jessica yang berada di lengannya namun gadis itu tidak merespon. “Jung?”

Yul menyadari wajah Jessica yang sedikit merah, ia meraba dahinya.

“Kau panas!” Yul menjadi panik, ia menggendong gadis itu dan membawanya ke dalam apartemennya. “Bertahanlah.”

+++

“Maaf sudah merepotkanmu, Paman.”

“Tidak apa-apa, Yul.”

Dr. Kim, dokter pribadi keluarga Kwon dan juga merupakan ayah Taeng, datang untuk memeriksa keadaan Jessica begitu Yul meneleponnya.

“Jadi, bagaimana keadaannya?” tanya Yul cemas.

“Dia hanya terkena demam. Dia hanya perlu sedikit beristirahat.” Jelasnya.

Yul menghela napas lega. “Terima kasih.”

Dr. Kim tersenyum. “Tidak masalah.”

Setelah Dr. Kim pergi, Yul memasuki kamar Jessica dan duduk di samping tempat tidurnya.

Yul mengamati gadis itu sejenak.

“Aku tidak pernah memedulikan siapa pun. Apa yang kau punya dalam dirimu?”

Tanpa disadari, tangannya mulai membelai wajah demam Jessica.

“Dan apa yang kau lihat dari diriku yang membuatku istimewa bagimu?”

Lalu ibu jarinya dengan lembut menyentuh bagian bawah bibir Jessica yang terasa dingin.

Yul berhenti sejenak dan menatap bibir gadis itu.

Jantungnya berdebar kencang seolah-olah hanya suara debar jantungnya lah yang dapat ia dengar di kamar tersebut.

Seperti magnet, Yul mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica.

Hanya ketika ujung bibir mereka hendak bersentuhan, telepon rumah berdering.

Suara itu membuatnya terkejut dan dengan tergesa-gesa Yul menarik diri dari Jessica.

Yul menarik napas dalam-dalam dan melenyapkan pikiran-pikiran itu.

Setelah menyelimuti tubuh Jessica, Yul segera keluar dari kamarnya.

~~~:~~~:~~~

Sinar mentari yang menyinari kamarnya membangunkan Jessica dari tidur lelapnya.

Ia bergeser ke samping namun tetap tidak membuka matanya.

Bantal di sampingnya tercium wangi…

Yul?

Jessica membuka matanya dan memandang sekeliling kamarnya.

Ia tidak melihat seorang pun.

Ia merasa sangat hangat.

Melihat ke sampingnya, Jessica menemukan sebuah catatan dan membacanya.

 .

Minum obatmu begitu kau bangun.

Aku memasakkan makanan untukmu. Ada di atas meja makan.

Yul

 .

Seulas senyum lemah merayap di wajahnya.

Jessica merangkak turun dari tempat tidurnya dan dengan susah payah ia berjalan menuju ruang makan.

Ia melihat bermacam-macam makanan yang disiapkan untuknya.

“Dia memasak semua ini untukku?”

Mengangkat sumpitnya, ia mencicipi makanan tersebut.

“Rasanya enak.”

Telepon rumah berdering, mengejutkannya.

“Halo?” sapanya begitu ia menjawab telepon tersebut.

“Selamat tahun baru, Unnie!”

“Soojung-ah!”

“Unnie! Apa kabar? Aku sangat merindukanmu!”

“Aku baik-baik saja, Krys. Bagaimana denganmu? Ayah dan ibu apa kabar?”

“Kami baik-baik saja. Tapi kami sangat merindukanmu.”

Jessica tersenyum sedih mendengar pernyataan adiknya. “Aku juga.”

“Sooyeon-ah! Apa kabar kau di sana?”

Tiba-tiba, suara seorang pria mengambil alih telepon.

“Ayah?”

“Apa kau makan dengan baik? Apa kau tidur dengan cukup? Sekarang musim dingin. Jaga dirimu dan jangan sampai terkena flu. Dan kalau-”

“Ayah.” Jessica menyela. “Jangan mencemaskanku, aku baik-baik saja.”

Meskipun ia merasa tidak begitu sehat, ia berusaha untuk terdengar baik-baik saja sehingga ayahnya tidak akan menyadari kalau ia sedang sakit.

“Kau yakin?”

“Ya, ayah.”

“…sayang, biarkan aku berbicara dengan putri kita…”

Jessica mendengar seseorang mengambil alih telepon dari ujung lain.

“Jessica, sayang.”

“Ibu.” Suaranya menjadi lembut setelah mendengar suara ramah ibunya.

“Selamat tahun baru, sayang.”

“Selamat tahun baru, ibu. Aku merindukanmu.”

“Ibu juga merindukanmu. Bagaimana liburan putri sulung ibu?”

“Teman-temanku datang ke sini lagi dan kami merayakannya bersama-sama.”

“Ibu benar-benar harus berterima kasih pada teman-temanmu karena telah merawatmu.”

Jessica tersenyum dan tangisnya mulai mengancam untuk keluar dari matanya.

“Jangan menangis, Sooyeon-ah.”

“Aku tidak menangis.”

Ia mendengar ibunya terkekeh.

“Aku mencintaimu, bu.”

“…sayang, biarkan aku berbicara padanya lagi…”

“Sooyeon-ah.” Suara ayahnya lagi. “Apa kau punya pacar?”

“Apa?” Jessica agak terkejut mendengar pertanyaan ayahnya.

“Soojung bilang seorang laki-laki menjawab teleponmu tadi.”

Oh, Yul?

“Siapa dia? Di mana dia? Ayah ingin berbicara padanya.”

“Ayah!” omel Jessica. “Dia temanku, dan dia sudah pergi.”

“Siapa namanya? Apakah dia laki-laki yang baik? Dan apa yang dia lakukan di apartemenmu? Jessica-”

Jessica tidak mendengar apa-apa.

“Ayah? Halo? Ayah masih di sana?”

Saluran teleponnya terputus.

Jessica menjauhkan gagang telepon itu dari telingannya dan menghela napas. “Ayah, seperti biasa.”

Setelah ia meletakkannya, telepon itu berdering lagi.

“Ayah, dia bukan pacarku, oke?”

“Jung.”

Matanya terbelalak begitu mendengar suara laki-laki itu. “Y-Yul?”

“Kau sudah meminum obatmu?”

Oh tidak, aku lupa. “Belum.”

“Kau bangun jam berapa?”

“Baru saja.”

Ia mendengar Yul menghela napas. “Jangan lupa meminumnya dan sebaiknya kau istirahat.”

“Apa kau menelepon hanya untuk mengingatkanku hal itu?”

“Tidak. Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja.”

Peryataannya membuat Jessica tersenyum.

DAN tersipu.

“Kurasa kau sudah baikan sekarang karena kau tersenyum.”

Senyum di wajah Jessica lenyap seketika. Bagaimana dia tahu?

“Dah. Semoga lekas sembuh.”

Ia mendengar Yul mematikan telepon dan bergumam. “Dah. Selamat tahun baru, Yul.”

“Selamat tahun baru…

Jessica.”

“Uh…h-halo? Yul?”

Lalu ia tidak mendengar apa-apa.

Jessica meletakkan telepon itu dan pergi ke ruang makan dengan seulas senyum di wajahnya.

~~~:~~~:~~~

TBC

credit : Juri @SSF

boiboi~

Advertisements

55 thoughts on “Ice Boy [Chapter 12]

  1. annyeong…

    wwwooootttt?? Jessica kissing scene 2x o.0
    giliran Yul mau ikut2 an kisseu,ehh telepon rumah ‘ngomel’ 🙂
    ganggu bgt tuh telepon *bantingtelepon*
    YulSic moment na mah… u know lah udah pasti suitt suiitt gimana gituh *TOKCERR lah pokonya 😉

  2. kyaaaa
    yul g jd lg kiss jessica, ada aj yg gnggu.
    autorny bkin gregetan dahh 😀
    next part pkokny yulsic kiss yaaa #maksa hahahaha

    thun baru yulsic so sweet bgt, yul udh mlai pduli dgn sica #lalayeyeye

  3. Wadiuh apa2’n tuh donk wook maen cium2 aja .?
    Aduh sica si gitu cute a kah Di dirimu
    anak kecil aja bisa jatuh cinta ma kamu
    aduh si bocah maen cium aja ya kan kesian yul jadi ga kebagian
    hahahaha yg sabar ya yul tar juga pasti kebagian ko hehe
    tq

  4. hai tarra.? 🙂
    ah yul tidak seberuntung bocah itu *sian*yul mah banyak ile?jd gk dpt kan.wkwkwkwk
    ah aku gk suka adegan jessica sm bang lele jd pengen nendang pan.:D

  5. Ya.. Kok pendek thor, tp -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶. Ya thor dah update, yulsic momennya msh kurang sweet thor, dtunggu lanjutannya

  6. geregetan ama yul, yg masih dingin ama perasaannya ama sica..
    ntar sica nyah keburu d ambil orang..
    cemunguuuuuuuuuuuut ^^

  7. hufftt .. gw bener2 takut pass tiffany meninggalkan sica eomma bersama dengan dongwook .. apalagi pas bibir mereka bersentuhan .. ahh bener emosi + takut bercampuran ..

    kyaa!! ank itu genit banget yahh .. bisa2ny nyium bibir ny sica eomma .. dasar anak jaman sekrang ..

    its okk yul appa .. ngga apalah kalau bibir sica eomma pernah d colong asalhkan ajung2ny bibir itu kembali padamu dan tak akan ada yang berani nyolong tuh bibir .. wkwkwk

    okk thor .. lanjutt .. jangan lama ..

  8. Untung pas kisuean nya ma dongwook sica langsung sadar fuuuuh~
    Waduh kapan nih yul kebagian nyicipin(?) bibir tipis sica? *asyik*
    Oke buat taeny mungkin belum yah? Hehe

  9. pengen banget banting tuh telepon, ganggu orang mau ciuman -_-
    kalau bisa,bikin yul cemburu

    lanjut thor,, semangat

  10. sica kisseuan sama dongwook 😦
    yul peduli banget sama sica
    yul kapan sadar sih kalau sica punya rasa sama dia?

    lanjut thor,, semangat 😀

  11. Aaaah… Kenapa si dongwook yg nyium sica, aaa asli nyesek.
    Hiks,hiks mungkin jdi 3 cowo yg nyium sica di hari itu, cuman si yul gk jdi gegara ada tlp ituu pdhl dikit lagiiii. Ahaha

  12. Brakk…buggghhh…prankkkk…klontank_klontank…prakkkk….dziiiggghhhh…..chiiittt….pluung……blubuk_blubuk_blubuk….# suara phaan tuh hayooo??? % ku_ci_ng guk guk guk guk guk guk guk auwwwwwwwww…..¤_^…..
    sebel_sebel ku sebel liat si wookie yg selalu mengganggu umma gak jemu_jemu… pha 6i pake camplok umma segala 2x deng 2x iiewwww awaz jha kau ku buang ke jurang yg terdalam…’¤’..

    Yeyeyeyeyeyeyeyeyeyeyeyeyeye yulsic moment yulsic moment berhasil belhasil horeeeee# nae si alien pluto jungkir balik dari dorm snsd ke jurang terdalam bolak balik sampe seterus na% @_@
    appa sabar ea ujian tuhan lom bisa caplok umma gegara telphone xixixixixi# DIAM KAU NAE lagian tuh telphone pake ganggu w jha 6i

    unn,wat yg lebih banyak 6i yulsic moment na ne?? Oh ea uun, napa umma tu2p mata ma telinga sat kembang api thn ru di nyalain?# untung jha gak tu2p umur xexexexe.,.# muka umma dah merah padem nahan kesel ma alien pluto yg cuantik nan menggemaskan

    Pay…pay…chu~
    ~_^

    http://www.ali3nMANI3TZZZ@isKIND.com

  13. Huaaa Yulsic mank pda dsar ea dah jodoh jdi kmna aja ktmu …
    Yulsic cepet jdian donk …
    Xeexeexee ..
    Yul seobang perhtian bgt nie ma sicababy ea ..
    Haahaaiii

  14. ak suka kata2 yul buat sica
    “Tapi ketika bersamamu, aku bisa membuat pengecualian.”
    ahhhh…. so sweet…
    yul hny peduli klau sma sica…

    adegan kisseu ny ngingetin ak sma wild romance… klau d drama itu kucing yg ngentiin klai dsni suara yul yg ngentiin tuh adegan…

  15. Annyeong ,,,,,,,,,,,,,,,,,,

    Wwwh,,, Kecewa daah,,, kissing nya double,,,,ckckck
    Dan lagi ktika yul,,,mlah terganggu,,,,*kcewa2Kali*

    Tapiiii,,,, Bgaimnapun YulSic nyaaaah msih sweeeet,,,,kkkee

    D tunggu Dah Next chapter nyaah,,,
    SEMANGAAAAAAT

  16. klo yul tau sica di cium dongwook kira2 gmn ya yul nya??? sica d cium ank kcil aja dah cemburu geto…

  17. Yulsic, huwaaaa. Cuit bgt. Cneng deh, l0w yulsic m0mentnya bnyk gni. Mzqipun td smpt sbel pz bca adegan wild r0mancenya. Lnjuuut!

  18. yul cemburu sama anak kecilnya ya? wkwkwk XD
    ish.. itu dongwook apa2an coba main nyosor aja.. dulu ga mau knp skrg jadi mau? *lembar ke lubang buaya*
    ini yulsic kapan jadiannya ya?? bikin gemes *cubit pipi yulsic* *beku*
    lanjut.. lanjut… 😀

  19. sabar sabar sabar yul. ini blm waktu buat yul utk c
    mencium jessica. nanti author akan kasi kesempatan langka buat yul ya.
    tunggu lanjutan dan hwaiting.

  20. Itu dongwook apa2an main nyosor aja, nyadar diri dong ahjussi, udah tua masi ganggu aja -_-
    Yahhh yulsic gajadi kissing gara2 telepon sialan *bantingtelpon*

  21. akh maaf baru komen , ciuman jessie ama wookie oppa sama kaya di wild romance , apakah yul sudah mulai menyukai jessica? semoga iya. beruntungnya jessica dapat ciuman daro dua orang yg berbeda

  22. aarggh sica kisseuan ma om dongwook..andwaeee..kga nrima, klo ma ank kcil sih kga nape.. trus pas yul mau kisseu eh ada pengganggu ga jdi dweh..hufft
    kapan yulsic jadian’y seeh..
    lanjut lanjut…

  23. knp Dongwwok main cium Sica :3
    yah Yul kau keduluan ama Dongwook x_x
    yah Yul kau kalah romantis dgn anak itu 😀
    wah Yul apa kau merasa tdk tersindir @_@
    wah Sica kau demam x_x
    uhh kau gagal untuk mencium Sica Yul.,
    ha ha ha 😀 jangan menyerah 🙂
    next part..,

  24. Apa pula Dongwook nyium Sica, dulu aja lu nolak Sica..
    Cie Yul mau nyium Sica, tapi sayang ada gangguan..
    Yul prhatian nya sama Sica..

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s