Ice Boy [Chapter 19]

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

XIX

“Yul!”

Yul berhenti berjalan.

Tiffany berdiri di hadapannya.

Mata Yul terfokus padanya saat gadis itu berbicara.

“Maafkan…aku.”

Ia tidak tahu apakah Yul memahami apa yang dikatakannya atau tidak.

“Maaf karena menilaimu dengan secepat itu dan,” bergeser tidak nyaman, Tiffany melanjutkan. “karena mengikutcampuri urusanmu dengan Jessi.”

Seolah-olah Yul telah mengerti apa yang ingin dikatakannya, ia hanya menganggukkan kepalanya.

Tiffany mendongak dan tersenyum. “Jadi, kau memaafkanku?”

Yul menjejalkan kedua tangannya ke saku celananya dan balas menatapnya dengan diam, ekspresinya tidak terbaca.

Tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan selanjutnya, Tiffany berpikir untuk memberikan pelukan. “Terima kasih, Yul.”

Yul membeku sesaat.

“Dan ini.” ia mengeluarkan sekotak cokelat. “Selamat hari Valentine!”

Yul menatap cokelat itu dengan dahi berkerut, lalu pandangannya berpindah pada Tiffany.

Tiffany menarik salah satu tangan Yul dan menyerahkan cokelat itu padanya.

Yul hendak mengembalikannya dan mengatakan sesuatu namun Tiffany segera pergi dan menunjukkan eyesmile-nya.

“Dan kumohon,” Tiffany menambahkan dengan pelan saat dirinya berjalan melewati Yul. “jangan buat dia menunggu.”

Alis Yul berkerut. Ia memandang Tiffany berlalu, meninggalkan dirinya tercengang.

“Yul!”

Suara lain memanggilnya.

Ia berbalik dan disambut oleh Hyoyeon yang tersenyum lebar.

“Sedang apa kau di sini?” Hyoyeon memandang berkeliling lalu kembali menatapnya. “Sendirian?”

Yul mengangkat bahunya.

“Aku mengerti.” Ia tersenyum. “Selamat hari Valentine, Yul!”

Seolah-olah terpengaruh dengan ekspresinya, bibir Yul menyunggingkan seulas senyum canggung.

Pada awalnya Hyoyeon merasa terhibur, lalu terkekeh. “Kau terlihat seperti orang bodoh.”

“Benarkah?”

Hyoyeon mengangguk mantap dan menunggu reaksinya meskipun laki-laki itu terlihat tidak terpengearuh.

Mata Hyoyeon terbelalak ketika melihat tangan Yul. “Apa itu cokelat?”

“Ya.” Yul mengangguk.

“Oh.” Menyipitkan matanya, Hyoyeon memberinya senyuman menggoda. “Kau punya seorang pengagum, huh?”

Yul tidak menjawabnya dan hanya mengulurkan cokelat itu. “Kau mau?”

“Kau memberikan itu dengan cuma-cuma?

Yul mengangkat bahu. “Aku tidak terlalu suka makan cokelat.”

“Kurasa aku tidak pantas menolak pemberian dari Kwon Yul.” Hyoyeon menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih.”

Yul mulai berjalan di sepanjang koridor dan Hyoyeon mengikutinya; mereka berdua berjalan sambil terus mengobrol.

~~~:~~~:~~~

Dengan susah payah ia berjalan melalui kerumunan orang yang tersebar di sepanjang koridor.

Banyak perempuan yang telah menerima pengakuan cinta dari fanboys mereka. Dan sepertinya ia salah satu dari perempuan itu.

Ia berusaha bergabung dalam kerumunan hanya untuk menghindar dari murid-murid yang mengejarnya.

“Ms. Seo! Ms. SeoHyun, tunggu!”

Napasnya terengah-engah, akhirnya ia berhasil keluar dari bangunan itu, jauh dari keramaian.

Menegakkan tubuhnya, ia mulai mencari tempat yang tenang.

Ia melihat lapangan baseball yang berada tidak jauh darinya. “Tempat itu mungkin aman.”

Hanya ketika dirinya hendak duduk di tempat sepi itu, ia melihat seseorang yang tidak asing lagi duduk di salah satu bangku.

Orang itu duduk sendirian.

Ia menghampiri orang itu dan menepuk pundaknya. “Yoong Oppa.”

Yoong menoleh ke sampingnya dan disambut oleh Seohyun yang tengah tersenyum.

“Kenapa Oppa sendirian di sini?” tanyanya.

Mengangkat bahu, Yoong cemberut.

Seohyun tidak ingin bertanya lagi. Ia memutuskan untuk duduk di sebelahnya dan membuka buku.

“Bagaimana denganmu? Kenapa kau di sini?” Yoong balas bertanya ketika Seohyun mulai membaca bukunya dengan hening.

“Aku hanya menginginkan tempat yang tenang.”

“Di hari yang spesial ini?”

Seohyun mendongak dengan tatapan polos dan mengangguk.

Yoong balas menatapnya dan melirik ke belakang. “Kau yakin kau ingin berada dalam kedamaian atau, kau sedang bersembunyi dari seseorang?”

Seohyun mendongak dari bukunya dan melihat Yonghwa berlari ke arah mereka.

Dia berhenti di hadapan Seohyun dan napasnya terengah-engah, “Aku mencari-carimu.”

Yoong dan Seohyun memandangnya.

“Aku punya sesuatu untukmu.” Laki-laki itu tersenyum lebar dan mengulurkan boneka kodok hijau yang besar dengan mata yang lebar. “Selamat hari Valentine!”

Mata Seohyun terbelalak kaget. Ia memandangi laki-laki itu sejenak lalu tersenyum lebar.

“Aku tahu ini boneka kesukaanmu.” Kata Yonghwa senang, melihat gadis itu bahagia.

Seohyun diam tanpa kata. Ia kehabisan kata-kata.

Seohyun mengambil boneka hijau itu darinya dan memeluknya dengan sangat erat. “Sgt. Keroro!”

“Yonghwaaa Oppaaa!!!”

Sekelompok fangirls terlihat tengah mengejarnya.

“Uh…Ms. Seohyun, aku harus pergi. Sampai jumpa.” Sebelum dia pergi, dia mengecup pipi Seohyun sekilas, membuat gadis itu berhenti sejenak dan tersipu.

Laki-laki di sampingnya menyadari hal itu dan mulai tertawa.

“O-Oppa, kenapa kau tertawa?” gerutunya.

“Kau menyukai dia?”

“Tidak.”

Yoong terkekeh mendengar jawabannya. “Aku mengerti.”

Seohyun tetap diam.

“Kau menyukai orang lain?”

Seohyun menoleh ke arahnya.

Yoong balas menatapnya dan menambahkan. “Karena kalau kau menyukai seseorang, kau harus segera memberitahu Jung Yonghwa agar dia tidak sia-sia mengejarmu.”

Seohyun mengalihkan pandangannya kembali ke katak hijau di tangannya. “Tapi aku tidak menyukai siapa pun.”

Yoong menggumamkan sesuatu namun ia tidak begitu mendengarnya.

“Kau baik-baik saja, Oppa?” tanyanya khawatir, melihat ekspresi wajah laki-laki itu muram.

Yoong menoleh ke arahnya dan tersenyum.

“Siapa namanya?” tanya Yoong tiba-tiba.

Seohyun mengangkat alisnya dan menyadari bahwa pertanyaan Yoong mengacu pada boneka katak hijau yang dipegangnya.

“Oh. Ini Sgt. Keroro.” Seohyun tersenyum bangga.

“Senang bertemu denganmu, Sgt. Keroro.”

~~~:~~~:~~~

Suara ketukan terdengar di pintu ruang staf pengajar.

“Masuklah.”

Dengan hati-hati ia membukanya dan mengintip ke dalam. “Hai, Ms. Lee!”

“Jessica!”

“Mister Lee ada di sini?”

“Dongwook tidak ada di sini, sayang. Dia sedang libur.”

“Oh. Begitukah?”

“Kau membutuhkan sesuatu dari dia?” tanya Ms. Lee, menyadari siswanya cemberut setelah mendengar informasi tersebut.

“Aku hanya ingin memberikan ini padanya.” Ia mengulurkan sebuah kotak kecil.

“Cokelat?”

Jessica tersenyum malu-malu dan mengangguk.

Ms. Lee balas tersenyum. “Kau mau aku memberikan ini padanya?”

“Ya, jika Ms. Lee tidak keberatan.”

Ms. Lee terkekeh gembira saat Jessica menyerahkan cokelat itu padanya.

“Dan ini.” Jessica mengulurkan kotak lainnya. “Ini untuk Ms. Lee.”

Ms. Lee mengangkat alisnya dengan kaget. “Wow, kau begitu perhatian. Terima kasih, Jessica.”

Jessica berterima kasih juga, ia membungkuk sebelum pergi meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, ia menghela napas. “Di mana dia saat ini?”

Ia memegang satu kotak lain di tangannya. Kotak ini berbeda dari yang sebelumnya karena berbentuk sebuah hati kecil.

Jessica langsung ke ruang kelas mereka dan menemukan dia.

Hanya beberapa siswa yang terlihat di dalam ruangan; kebanyakan dari mereka sedang berkeliaran di sekitar sekolah.

Jessica berhenti di depan pintu kelas, ia melirik kotak di tangannya dan tersenyum.

+++

Hembusan napas keras keluar dari mulutnya.

Duduk dengan diam, ia mengamati kotak kecil berwarna merah yang tergelatak di atas mejanya.

Akankah dia menyukainya? 

Ia mengerjap, melirik jendela, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke mejanya.

“Yul!”

Ini adalah ketiga kalinya seseorang memanggil namanya di hari itu dan kali ini, sudah jelas, yang paling berbeda di antara mereka.

Mendengar suara yang sudah tak asing lagi, Yul menolehkan kepalanya ke samping dan melihat Jessica yang tersenyum padanya.

“Jung.” Sapanya singkat. Meskipun begitu, mau tak mau ia menirukan ekspresi gadis itu.

Yul balas tersenyum namun senyumnya tidak bertahan lama, alisnya berkerut. “Apa?”

“Apa itu?”

Jessica melihat kotak merah itu dan Yul segera menyembunyikannya di bawah mejanya.

“Apakah seseorang memberikan itu padamu?” tanyanya, terdengar sedikit muram.

“Tidak. Ini bukan apa-apa.”

“Aku mengerti.” Jessica memalingkan muka darinya, terdiam.

Yul menyadari tingkah lakunya dan mengira bahwa dia sudah salah paham.

Yul berdeham dan mencoba meyakinkannya. “S-Sungguh, Jung, ini bukan apa-apa. Ini bahkan bukan milikku.”

Jessica menatapnya dengan ekspresi cemberut. “Sungguh?”

Yul tidak langsung menjawabnya dan mendapati dirinya balas menatap Jessica sejenak.

Ekspresi gadis itu terlalu lucu dan ia tidak bisa menanganinya, wajahnya mulai memanas.

“S-Sungguh.” Ia akhirnya menjawab.

Jessica tersenyum dan dahi Yul berkerut melihat reaksinya.

Jessica terkekeh. “Kenapa kau bicara dengan gagap?”

Yul menatapnya, masih dengan ekspresi yang sama. “Apa kau mengolok-olokku?”

“Aku hanya bertanya.” Jawab Jessica datar, mengangkat bahunya.

Yul tetap di kursinya dan memalingkan muka.

Duduk di sebelahnya, Jessica berdeham dan menaruh kotak yang dipegangnya di atas meja Yul.

“Untukmu.” Gumamnya.

Untukku? 

Tidak mendengar jawaban, Jessica menggigit bibir bawahnya. “Er…ini sekotak cokelat. Aku membuatnya.”

“Cokelat?”

Jessica mengangguk dan segera membuka tutupnya.

Terdapat sekitar 9 cokelat berukuran kecil yang memiliki wajah seorang laki-laki.

Yul menatapnya dengan pandangan bingung.

“Ini adalah kau dengan ekspresimu yang berbeda-beda.”

Dahi Yul berkerut. “Cokelat itu memiliki ekspresi yang sama.”

“Tepat.” Jessica tersenyum lebar dan mulai menunjuk cokelat itu satu per satu. “Kwon Yul hanya memiliki satu ekspresi. Ini ketika kau bahagia. Ini ketika kau sedih. Dan ini ketika kau marah…dan-”

Mengambil tutupnya, Yul langsung menutup kotak tersebut.

“Kau tidak akan mencobanya?”

“Tidak.”

Jessica cemberut. “Ayolah, Yul, makan satu saja.”

“Kau bilang kau membuatnya.”

“Ya.”

Yul mengangkat bahu tidak tertarik.

“Ya, aku membuatnya tapi aku juga memastikan kalau cokelat itu layak dimakan.” Jessica bersikeras namun laki-laki itu geleng-geleng kepala.

Menghela napas, Jessica meraih kotak dari tangan Yul dan menjejalkan cokelat itu ke dalam mulut Yul secara paksa.

Yul mengunyah dan menelannya dengan perlahan.

“Jadi, bagaimana?” tanya Jessica menanti-nanti.

Yul menatapnya sejenak dan bergumam. “Aku menyukainya.”

“Sungguh?” mata Jessica bersinar-sinar bahagia.

Jessica mengambil satu buah cokelat itu dan hendak memakannya namun Yul menghentikannya. “Yah! Apa yang kau lakukan?”

“Aku juga mau.”

“Tidak.” Yul mengambil cokelat itu dan tanpa membuang-buang waktu ia memakannya. “Kalau kau mau, buat lagi sendiri. Ini milikku.”

Menyipitkan matanya, Jessica mendengus. “Rakus.”

Yul mendengarnya namun ia memilih untuk mengabaikannya dan terus mengunyah cokelat itu.

+++

“Suster Joy, dia akan baik-baik saja?”

“Ya, jangan khawatir. Keadaanya sama seperti waktu itu kau di sini.”

Jessica mengangguk lega namun wajahnya menunjukkan kekhawatiran. “Maafkan aku, Yul.”

“Kau tidak perlu meminta maaf.” Kata Yul, berbaring di atas tempat tidur.

“Kenapa kau berbohong? Kenapa kau bilang cokelatnya enak ketika itu bahkan tidak layak dimakan?” Jessica cemberut.

“Aku tidak bilang rasanya enak. Aku bilang aku menyukainya.”

Mendengar kata-kata itu, seulas senyum mulai tersungging di sudut bibir Jessica.

Yul berdeham tidak nyaman dan turun dari tempat tidur.

“Kau mau ke mana?”

“Aku tidak bisa diam di sini.” Katanya dan meninggalkan ruangan.

“Yul!”

“Tidak apa-apa, Jessica. Dia akan baik-baik saja.” Suster Joy tersenyum.

Jessica membungkuk berterima kasih. Ia keluar dari ruangan dan mengikuti Yul di belakangnya.

“Tunggu, Yul!”

Yul memperlambat langkahnya.

“Aku benar-benar minta maaf.”

“Berhentilah meminta maaf.”

“Tapi ini salahku. Seharusnya aku membeli cokelat dari toko daripada berpikir untuk membuatnya.”

Yul kembali berjalan, mengabaikan permintaan maaf Jessica sepenuhnya.

“Kumohon jangan marah padaku. Kalau kau menginginkan sesuatu, aku akan melakukannya untukmu.”

Yul menghentikan langkahnya membuat gadis itu menubruknya.

Ia berbalik dan menatap Jessica. “Apa kau begitu menyesal?”

Jessica mengatupkan mulutnya dan mengangguk. “Aku akan melakukan apa pun yang kau mau.”

“Apa pun?”

Jessica kembali mengangguk.

Sambil masih tetap berdiri, Yul menarik napas dan menatap lurus ke mata Jessica. “Berkencanlah denganku, Jessica Jung.”

Mata Jessica terbelalak. “N-Ne?”

“Ayo kita makan malam.”

Jessica tidak merespon, jelas terkejut dengan apa yang baru saja Yul katakan.

“Aku akan menjemputmu jam 8 malam nanti.” Yul berbalik untuk pergi. “Jangan terlambat.”

Jessica memandanginya pergi; otaknya masih mencerna kata-kata laki-laki itu.

“A-Apakah dia baru saja mengajakku kencan?”

Begitu Yul hilang dari pandangannya, ia menjerit bahagia. “EOTTEOHKE!”

Ia merogoh ponselnya dan dengan tergesa-gesa menekan tombol-tombol ponselnya.

+++

Mianhaeyo, Fany Fany Tiffany sedang kencan dengan Ttae-Ttae.

Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi bip. BEEEEEP. HAHAHA! 

Jessica menghela napas dan menaruh ponselnya. “Dia pasti sedang bersenang-senang sekarang.”

Ia mengubrak-abrik lemarinya, mencari pakaian sempurna untuk ia kenakan di kencan spesial malam ini. “Aku harus pakai apa?”

Ia memandang kamarnya. Kegembiraan dan kegelisahan terlihat di wajahnya. “Ayolah, Jess. Ini hanyalah kencan.”

Jessica mengempaskan tubuhnya di tempat tidur. “Dengan Kwon Yul.”

Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. “Di hari Valentine.”

Setelah beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk mengenakan gaun cocktail selutut tanpa lengan berwarna cokelat terang yang memeluk tubuh bagian atasnya dengan sempurna.

Ia mengenakan heels berwarna silver, membiarkan rambut cokelat panjangnya tergerai, dan memasang seulas senyum di depan cermin. “Semuanya akan baik-baik saja, kan?”

Ia melirik jam dindingnya.

7:48 PM

Jessica terkesiap kaget ketika ponselnya berdering.

“Halo?”

“Jessica?”

“Hai, Ms. Lee. Kenapa Anda menelepon? Apakah Anda membutuhkan sesuatu?”

“Jessica, ini mengenai Dongwook.”

Ia tidak tahu mengapa namun jantungnya berdebar-debar setelah mendengar pernyataan itu.

“Oppa? Ada apa dengan dia?”

~~~:~~~:~~~

 TBC

*Sgt. Keroro –> Sergeant Keroro

credit: Juri @SSF

boiboi~

Advertisements

52 thoughts on “Ice Boy [Chapter 19]

  1. Huaaa krain author bnran mo update nie FF klu FF blind dah tamat ..
    Xeexee ..
    Seneng bgt liat yulsic moment ea ..
    Yulsic mo ngedate tpi si dongwook mlah ngeganggu ..
    Jgn2 sica gx jdi dtang lgi gra2 dongwook ..
    Ntar yul slah paham lgi d kra ea sica gx suka ma dya ..
    Huaaaa …
    Galauuuu ..
    D tnggu blind ea ..

  2. Ahhh. Yul makin bikin greget ajah hahah
    Huffft. Ntuh cuara ponsel fany gitu dah -_-”
    Dongwook kenapa harus muncul?-_-“

  3. Dongwook knp muncul, jgn btl dong kencannya yulsic, moment TaeNy kok gak ada ya :pђέ:Dºђέº:pђέ:D -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ thor

  4. yaa…gagal deh kencan yulsicnya,dongwook nelf disaat yg tak tepat.
    jd kapan jadianya thor ? arghhh…greget jadinya 🙂

  5. ahhhh sumpah gregetan nih sma critany.
    yulsic mw kencan, dongwook sllu muncul huft!
    tp suka pas pngorbanan yul mkan coklat buatan sica yg mngakibatkan dy sakit n hrs d priksa ahahahaha

    1 bln lg updateny? lal lama thor!
    jgn lma2 yahhhh #puppy eyes 😀

  6. annyeong ,,,,,,,,,,

    wooh ,,,,isshh,,tak tau mau comment apaan,,,wkwkwk
    ini bner” ya,,hadooh,,,
    #IniKnpa# ,,
    sdahlah,yng jelas tnggu next chapter nyah,,deg”an yng jelas,,,,,oke
    SEMANGAAAAAT

  7. yah yah yah kenapa Ms Lee harus muncul di saat situasi sprti ini?? 😦
    pdhlkan jrng2 yul oppa kencan b2 ma sica unnie..
    ditunggu part slnjutnya

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s