You’ll be the Prince & I’ll be the Princess [Chapter 5]

Hi…..

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

Title1d

Chapter 5: Left or Right

 

Keduanya duduk diam selama perjalanan kembali ke istana. Sooyoung dan kepala pelayan Yoon pun tetap diam. Mereka telah menyadari bahwa sebaiknya masalah itu tidak dibahas lagi. Sooyoung lebih mengkhawatirkan keselamatan kakinya sendiri. Sebelumnya, Yuri mengancam akan memotongnya.

Jessica masih marah atas insiden tadi.

“Laki-laki mesum itu… dia pasti sengaja melakukannya… kukira dia benar-benar terlihat sopan… Tampilan mesumnya… Hmpf! Brengsek…”

Di sisi lain, Yuri masih terguncang karena tamparan tadi. Di sepanjang hidupnya tidak ada seorang pun yang pernah menamparnya, tidak ada seorang pun yang berani melakukannya.

“Biarkan saja, Yuri… itu bukan salah gadis gila itu… Biarkan saja…”

Kemudian sebuah ide muncul di kepalanya.

“Tidak, tunggu… hei, cara itu bisa berhasil… Aku bisa membuat dia pergi atas kemauannya sendiri! Dengan begitu tidak akan ada pertunangan! Dan aku akan bebas lagi!”

Yuri tersenyum menyeringai, merasa terkesan dengan ide briliannya sendiri.

Jessica menangkap tatapan itu.

“Astaga… dia benar-benar mesum!”

*****

Tak lama kemudian, Jessica melihat beberapa struktur batu besar di sepanjang jalan dan kemudian, ia akhirnya melihat pintu gerbang utama Istana Kekaisaran, Gyeongbokgung. Tugas para pengawal berubah menjadi pengiring, saat mobil melaju melalui gerbang yang dijaga ketat yang dimaksudkan untuk keluarga kerajaan dan para penjaga. Di sepanjang jalan, Jessica terpesona dengan kemegahan bangunan kuno dalam arsitektur tradisional Korea yang telah bertahan selama berabad-abad.

“Yang Mulia, Yang Mulia Ratu tidak akan kembali dari pelajarannya sampai pukul 4 sore. Silakan istirahat terlebih dulu sampai saat itu tiba.” Jelas Sir Yoon saat mereka keluar dari mobil.

Yuri mengerang dalam hati. Ia takut bertemu neneknya, Ibu Suri.

“Pelajaran?” tanya Jessica penasaran.

“Ya, Yang Mulia Ratu memberikan pelajaran merangkai bunga di sebuah pusat komunitas lokal.” Sir Yoon tersenyum, “Silakan lewat sini, Yang Mulia. Saya akan menunjukkan istana tempat tinggal Anda.”

Bersama-sama, mereka berjalan melalui beberapa lantai dan akhirnya mencapai istana kediaman Putra Mahkota. Istana itu sangat kontras dengan struktur di sekitarnya. Istana itu terlihat modern, dirancang dalam gaya arsitektur Eropa.

Ketika Jessica masuk melalui pintu depan, ia melihat sebuah halaman yang indah dengan air mancur kecil di tengah, dikelilingi oleh tanaman hijau yang subur. Setiap tempat tinggal masing-masing menghadap ke halaman.

“Yang Mulia, Anda akan tinggal di tempat tinggal Putri di sebelah kiri.”

“Dia akan tinggal di kamarku!?” Sooyoung langsung menatap Yuri, “Maksudku- kamar adikku?”

“Ini rencana Yang Mulia Ratu. Kamar tamu terlalu kecil untuk Putri Jessica.”

“Aku bisa tinggal kamar tamu, jika sang putri keberatan…”

“Oh, saat ini Yang Mulia Putri Yuri tidak ada di sini. Dia ada di Amerika, sekolah.” Jelas Sooyoung.

“Nona Choi, tolong antar Putri Jessica ke kamarnya, Yang Mulia Pangeran dan aku harus mengahadiri beberapa pertemuan mendesak.” kata Sir Yoon setelah melihat jam tangannya.

“Ya, Sir!”

“Baiklah, kanan milikku, kiri milikmu! Ingat itu baik-baik, dan jangan menyentuh barang-barangku- adikku!” Teriak Yuri. Dia merasa kesal, Ia harus tidur di kamar kakaknya, sementara menyerahkan kamarnya sendiri untuk Jessica.

“Selamat beristirahat.” Sir Yoon bergegas pergi, menyusul di belakang sang pangeran yang pergi dengan langkah buru-buru.

“Jangan pedulikan Yang Mulia, akhir-akhir ini dia mengalami masa-masa sulit.” Sooyoung meminta maaf atas nama Yuri.

Jessica tidak memedulikan pangeran yang suka murung itu. Dia hanya bersikap brengsek…

“Oh, aku belum memperkenalkan diri… Aku Choi Sooyoung, pengawal pribadi Yang Mulia.”

“Tapi kau seorang perempuan? Bukankah itu…”

“Ahhh, erm… Aku-”

“Bukankah itu Sooyoung?” Seorang wanita tua datang menghampiri mereka.

“Lady Park!” Sooyoung segera membungkuk untuk menyambut wanita yang mengenakan pakaian resmi istana.

“Anda pasti calon putri mahkota. Salam, Yang Mulia.” Pelayan senior itu menyambut Jessica dengan membungkuk sopan, yang segera dibalas Jessica.

“Itu benar… Sooyoung, kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau bersama Yang Mulia Putri di Amerika?”

“Ah, saya… saya er-” Sooyoung berusaha mencari alasan, “Saya dikirim pulang oleh Putri!”

“Eh?” Lady Park memberikan ekspresi bingung.

“Saya membuat Putri marah, aku mematahkan biola-” Sooyoung menghentikan ucapannya pelan-pelan, merasa tidak enak karena telah berbohong.

“Dan dia mengirimmu pulang hanya karena itu? Apa yang terjadi dengan Putri Yuri? Kalian berdua sudah seperti saudara!”

“Mm… maaf Lady Park, saya harus menunjukkan Putri Jessica ke sekitar tempat tinggal barunya.”

“Oh… aku harus meminta maaf karena tiba-tiba mengganggu!”

Setelah Lady Park pergi, Sooyoung akhirnya mengembuskan napas lega.

“Lewat sini…”

“Jadi, awalnya kau pengawal Putri Yuri? Dan dia menyuruhmu pergi hanya karena itu?”

Sooyoung mengangguk dengan penuh rasa takut. Dia berdoa agar Yuri tidak akan pernah datang untuk mendengar kebohongan terang-terangan yang ia buat dengan putus asa. Salah satu kakinya sudah dicap sebagai milik Kwon Yuri dan Sooyoung berniat untuk menjaga kakinya yang lain.

Jessica mendengus, “Aku rasa itu genetik…”

“ACHOO!”

Tepat di luar, Yuri bersin.

*****

Kamar itu dicat dengan warna biru terang dan furnitur di dalamnya sangat sesuai dengan dekorasi interiornya. Kamar itu sangat cocok dengan seleranya. Setidaknya, kamar itu tidak ‘ke-putri-putri-an’ seperti yang ia perkirakan pada awalnya.

Namun, Jessica lebih tertarik pada dekorasi di dinding. Ada banyak frame dalam berbagai ukuran, masing-masing frame berisikan selembar kertas kecokelatan. Karena penasaran, Ia melihat frame yang terdekat. Frame itu berisikan selembar partitur tua. Ia melirik sekitarnya sekilas dan mendapati keseluruhan tempat itu dihiasi dengan lembaran-lembaran partitur yang terbungkus dalam bingkai.

“Kamar mandi di sebelah sini dan kamar tidur di sebelah sana. Oh dan para pelayan akan segera melayanimu.”

“Sang putri adalah seorang musisi?” Tanya Jessica menunjuk ke frame dengan partitur berjudul ‘Double Violin Concerto’ karya komposer terkenal, JS Bach.

“Ya,” jawab Sooyoung, “Oh, itu karya favoritnya. Itu adalah cetakan pertama yang asli.”

Jessica langsung menurunkan lengannya, takut jika ia akan mematahkan frame itu tanpa sengaja. Jessica memiliki kecenderungan yang mana kehilangan keseimbangan pada waktu yang salah. Bukan harga selangit partitur musik itu yang membuatnya takut, melainkan ia merasa takut akan merusak partitur musik yang mungkin menjadi beberapa lembaran mahakarya yang tersisa. Ia memandang sekeliling dan menemukan sedikitnya semuanya ada 10 frame.

Ia mengerang dalam hati. Ia harus berhati-hati agar tidak tersandung benda apa pun di tempat ini.

*****

Gedung megah berlantaikan kayu dan ukiran dari mitologis phoenix pada struktur tiang tak lain hanya penanda jelas akan tingginya status kerajaan, terutama bagi orang-orang yang bertempat tinggal di sebagian istana. Saat dirinya berjalan melalui lorong tadi, Jessica merasa kagum pada nilai sejarah istana ini.

Butir-butir keringat mulai bermunculan di dahinya bersamaan dengan rasa sakit di pergelangan kakinya. Ia sedang berlutut, menyaksikan wanita paling dihormati di seluruh istana dan mungkin seluruh Korea, sibuk sendiri dengan tugas yang rumit. Dalam pikiran Jessica, citra Ibu Suri adalah seseorang yang menakutkan – seorang wanita tradisional tegas yang tidak akan mentolerir omong kosong apapun. Tapi sebaliknya, sang ratu adalah seorang wanita anggun yang selalu menyunggingkan seulas senyum di wajahnya. Senyum yang sama yang dilihat Jessica sebelumnya. Senyum sama yang diwarisi Yul dari neneknya.

“Maafkan nenek karena membuat kalian menunggu lama, anak-anakku tersayang. Selamat menikmati secangkir teh ini.”

“Ya, Yang Mulia.”

Jessica menoleh ke sebelah kirinya, memastikan untuk mengikuti gerakan Yul dengan seksama. Mereka menunggu Ibu Suri untuk mengambil cangkirnya sebelum dengan anggun mengambil cangkir mereka sendiri. Jessica tidak pernah bisa memahami kerumitan upacara minum teh.

Jessica meneguk isian panas di cangkir porselen putih itu dengan cepat.

“Aroma tehnya enak,” komentar Yul, melambaikan aroma teh ke arahnya dengan gerakan menyapu lembut.

Dengan segera Jessica menghentikan tindakannya, menyadari belum ada seorang pun yang meminum tehnya. Wajahnya memerah malu. Ibu Suri hanya tersenyum, meskipun Jessica bersumpah ia mendengar tawa tertahan Yul.

“Ah, kalian semua sudah duduk berlutut dalam posisi ini dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana kalau kita pindah ke posisi yang lebih nyaman?” Kata Ibu Suri ramah.

Dalam gerakan cepat, para pelayan istana membantu Ibu Suri berdiri dan menuntunnya ke seberang ruangan, menuju sofa.

Jessica juga bangkit, tapi kakinya yang mati rasa karena terlalu lama berlutut tidak menuruti perintahnya. Ia mendengking dan hampir terjungkal ke depan ketika sepasang tangan bertindak dengan cepat, membantunya menahan keseimbangannya.

Jessica berbalik dan menatap mata cokelatnya.

“Hati-hati,” bisik Yul.

Jessica memalingkan muka malu-malu, tapi sebelum ia bisa menggumamkan kata terima kasih, Yul menambahkan dengan sengaja.

“Karena kau akan mati kalau kau memecahkan peralatan teh favoritnya.”

Sebuah ekspresi tak percaya terpampang di wajah Jessica.

“B######k!”

*****

“Yul, apa hanya perasaan nenek saja atau kau terlihat jauh lebih kurus sejak terakhir kali nenek melihatmu?”

Yuri hampir tersedak dengan tehnya.

“Tidak! Nenek, pasti mata nenek yang salah…” Yuri memalingkan muka, berpura-pura tertarik pada lukisan di dinding.

“Hmmm…mungkin karena penglihatan nenek yang buruk…” Ibu Suri menarik napas panjang. Menjadi tua bukanlah pilihan.

“Bagaimana kabar orangtuamu, Jessica? Sudah lama sejak terakhir kali nenek bertemu dengan mereka. Nenek masih ingat saat-saat ketika ayahmu datang untuk makan malam ketika dia masih muda. Ayahmu dan ayah Yul berteman dekat. Orang lain bahkan bisa mengira kalau mereka adalah saudara kandung. Dan tentu saja, ibumu yang cantik, dia adalah gadis kecil manis yang mengetahui apa-apa saja yang harus diketahui seorang gadis.”

“Mereka baik-baik saja, Yang Mulia. Mereka meminta saya untuk menyampaikan salam mereka kepadamu.”

“Anakku, panggil aku nenek, seperti bagaimana Yul memanggilku…”

“Y-Ya… Nenek…”

*****

Pertemuan dengan Ibu Suri berjalan lancar, meskipun Yuri tidak dapat mengerti bagaimana cara Jessica bisa berhasil bergaul akrab dengan neneknya. Ketika neneknya mengetahui bahwa Jessica telah mempelajari beberapa langkah dasar dalam merangkai bunga dari ibunya, selama makan malam neneknya sungguh-sungguh memaksa Jessica untuk bergabung di kelas berikutnya besok.

Yuri bisa mengatakan bahwa neneknya sangat menyukai Jessica dan mengagumi kemampuan Jessica dalam membujuk orang tua yang biasanya bersifat keras.

Meskipun hal itu baik, bagi Yuri itu adalah sebuah pertanda akan datangnya masalah yang lebih rumit. Jika Ibu Suri sungguh menyukai Jessica sebagai cucu mertuanya, rasanya akan lebih sulit untuk membatalkan pertunangan mereka terutama karena pandangan para tetua memainkan peran besar dalam keputusannya.

“Mungkin aku harus mengambil sikap yang lebih keras padanya.”

Kembali ke tempat tinggal mereka, keduanya berjalan melewati tempat tinggal utama menuju taman. Mereka sekarang berdiri di depan air mancur kecil dengan tiga jalur dikelilingi oleh semak-semak kecil, masing-masing menuju ke tiga tempat tinggal berbeda.

“Yah! Ingat kanan milikku, kiri milikmu!” bentak Yuri sambil mengingatkannya.

“Aku mengerti!” Jessica balas membentak, “Dan aku bertanya-tanya siapa yang seharusnya lebih marah atas insiden di bandara!”

Mereka saling bertatapan dengan marah, dan sambil mengembungkan pipi, mereka saling berbalik, berjalan langsung ke kamar mereka.

“Kau dan kembaranmu memang sama! Sama-sama manja!” teriak Jessica tanpa membalikkan tubuhnya, meninggalkan Yuri yang kebingungan sambil menggaruk kepalanya.

“Apa dia baru saja…mengumpatku 2 kali?”

*****

 “Jadi, bagaimana hari pertamamu sebagai seorang pangeran?” Sooyoung melongokkan kepala ke atas sofa saat ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Yuri muncul keluar dari kamar mandi setelah mandi lama yang menyegarkan.

“Sangat melelahkan…” Jawab Yuri sambil mengempaskan diri ke sofa. Sooyoung langsung menawarkan sekantong keripik kentang yang ia makan sejak TV dinyalakan pada Yuri.

“Berita terkini… Di bandara tadi, Putra Mahkota-”

Sebelum berita itu berhasil ditayangkan, Sooyoung segera memindahkan saluran televisinya. Untungnya, Yuri, yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk, tidak memerhatikan TV. Ia tidak ingin mengingatkan Yuri yang akan memenggal kakinya.

“Barney? Kau sedang menonton Barney?” Layar TV menampilkan dinosaurus ungu yang sedang bernyanyi.

“I love you, you love me… we’re a happy family–” Sooyoung bernyanyi bersama, berhenti hanya setelah melihat tatapan mematikan dari Yuri.

“Kenapa kau masih di sini? Malam sudah larut, bukankah kau akan pulang?”

“Misi baru. Aku harus tinggal di istana untuk melindungimu.”

“Dari apa?” Yuri lalu menambahkan, “Oh, kalau kau akan melindungiku dari gadis kasar itu, itu akan sangat hebat… lakukan pekerjaanmu dan jauhkan dia setidaknya 10 meter dariku.”

“Kau memecat semua pengawal pangeran. Apa kau sudah lupa?”

Yuri tidak memecat mereka. Ia telah membuat kesepakatan dengan Kepala Pelayan Yoon untuk mengurangi jumlah pengawal menjadi satu pengawal saja. Hanya Sooyoung sendiri saja sudah cukup. Ia tidak ingin kebebasannya yang terbatas dibatasi dengan banyaknya yang mengawasi.

“Tidak, aku tidak memecat mereka…tapi itu tidak menjelaskan kenapa kau harus muncul di kamarku jam segini!” Jam di dinding menunjukkan pukul setengah 11.

“Awwww, kenapa? Sebelumnya kita tidur di ranjang yang sama!”

“Dan itu ketika kau tidur sambil berjalan ke kamarku!”

“Arhh, itu hanya…Hei, kau berliur padaku waktu itu! Hehehehe, aku punya buktinya!”

Sooyoung segera mengambil iPhone dan mengacungkannya di depan Yuri, jelas menunjukkan foto Yuri yang sedang berliur saat tidur.

Sekantong keripik kentang tumpah di seluruh sofa ketika Yuri menerkam Sooyoung, bergulat untuk merebut ponsel dalam upaya untuk menghapus momen memalukan itu.

“Yah, aku menyerah!”

Meskipun telah berusaha sekeras mungkin, Sooyoung, sebagai seorang pengawal terlatih, adalah pemenangnya.

“Awww, jangan sedih…kemarilah, kau mau minum anggur spesial keluarga Choi?” Kata Sooyoung, sambil mengangkat botol berisikan setengah cairan bening.

“Kau sudah minum setengahnya?”

“Tidak, aku menaruh sisanya dalam botol terpisah di lemari es. Rasanya akan lebih baik ketika dingin! Tapi kita akan menghabiskan ini sekarang!” Sooyoung bernyanyi gembira saat ia menuangkan isinya ke dalam gelas-gelas wine.

“Cheers untuk kesuksesan transformasimu!” Gurau Sooyoung.

“Cheers untuk pertunanganku!” Tambah Yuri dengan maksud bercanda.

“Habiskan!”

Gelas mereka berdenting keras di udara, mereka tidak sedang merayakan apapun yang menggembirakan pada khususnya. Duo ini tidak membutuhkan alasan untuk minum seduhan anggur yang terkenal lezat dari bisnis pembuatan bir keluarga Sooyoung.

“Hei Sooyoung…bagaimana bisa orang gila itu tahu segalanya tentangku…seperti Yuri yang asli? Dia mengumpatku dua kali, sebagai Kwon Yul dan Kwon Yuri!”

Sooyoung memuntahkan seteguk anggur.

*****

Angin dingin bertiup dan sesosok gadis mendekap erat tubuhnya saat ia berjalan di sepanjang jalan yang remang-remang. Untungnya, ia mengenakan hoodie Hollister abu-abu sebelum pergi keluar.

“Aish, dia pingsan dengan cepat…”

Ia mendengar suara yang tak asing lagi di dekatnya.

“Sooyoung?”

“Yang Mulia!” Sapa Sooyoung, terkejut karena bertemu Jessica di tengah malam, “Apa yang kau lakukan selarut ini di sini?”

“Ah, aku hanya sedikit haus. Aku mau minum…”

“Oh, dapurnya ada di sana!” Sooyoung menunjuk lurus pada tempat tinggal utama. ”Masuk saja dan belok ke kiri. Minumanya ada di lemari es.”

“Ah, terima kasih. Selamat malam!”

“Selamat malam juga, Yang Mulia!”

Jessica berhasil menemukan jalan ke dapur. Ia melihat sekelilingnya namun ia tidak melihat apapun yang menyerupai lemari es, tapi ia melihat pintu logam di sudut ruangan. Karena penasaran, ia membuka pintu itu dengan relatif mudah dan menemukan dirinya menatap lemari es walk-in berukuran 200 meter persegi, ruangan dengan rak-rak bahan makanan yang tersusun rapi.

“Ini gila,” pikirnya, “Lemari es walk-in?”

Bermacam-macam cokelat, permen, minuman dan masih banyak lagi yang mengejutkan. Ia merasa ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sini, hanya untuk menghitung jenis-jenisnya saja. Tapi pertama, ia ke sini untuk memuaskan dahaganya. Ia berjalan menuju bagian minuman untuk memilih pilihannya.

“Coke…Pepsi…7-Up…tidak…Aku sudah sering minum itu di Amerika…”

Lalu ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah botol bening kecil dengan label menarik di atasnya. Namun, label itu ditulis dalam bahasa Korea dan karena sepanjang hidupnya ia tumbuh dewasa di Amerika, pengetahuannya tentang huruf Hangul Korea sangat terbatas.

“Setidaknya itu sesuatu yang baru…”

Jessica mengambilnya dan mencoba seteguk. Terkejut dengan rasa manis yang sangat lezat meski ada sedikit nuansa pedas, Jessica melanjutkan untuk mengambil tegukan kedua. Rasa surgawi itu terus terasa lebih baik di setiap tegukannya dan minuman itu membuat Jessica merasa hangat dan pandangannya kabur.

Akhirnya, tak ada setetes pun tersisa.

Merasa puas, Jessica berjalan keluar. Awalnya, ia terus berjalan tapi saat ia maju, langkahnya menjadi lebih lambat dan kakinya mulai terhuyung-huyung. Dan lebih parahnya lagi, ia tersenyum menyeringai seperti seekor kucing Cheshire. Ia menaruh botol di meja dapur dan berjalan keluar dengan terhuyung-huyung.

Butuh waktu cukup lama sebelum Jessica berhasil mencapai air mancur dengan selamat meskipun ia menabrak beberapa benda di jalan.

“Kanan milikku, kiri milikmu…”

Jessica menunjuk dua arah yang berbeda bersamaan dengan jari telunjuknya yang berayun dari kiri ke kanan.

“Kanan milikku, kiri milikmu…”

“Kanan…” Jessica mengikuti jari yang menunjuk ke kanan dan berjalan melintasi halaman.

Dalam keadaan mabuk, ia tersandung masuk ke dalam ruangan, dan meraba-raba jalan ke tempat tidur dalam gelap. Ia berbaring telentang di tempat tidur yang besar, menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

“Si brengsek bodoh…”

Perasaan bahagia itu berlangsung selama beberapa saat sebelum ia merasa sedih dan kesepian ketika perasaan penderitaannya datang. Tak berapa lama, ia memikirkan keluarganya di Amerika dan air matanya mulai mengalir tak terkendali. Ia menangis tanpa suara sampai ia merasa lelah dan tertidur nyenyak, tidak mengetahui kehadiran orang lain, yang pingsan di sampingnya.

 ~~~;~~~;~~~

TBC

huaaaaa akhirnya bisa buka wp lagi…..sorry guys modem gue mati 😦 tapi gue bakal berusaha buat update ff 🙂 *minjemmodemmommy

credit : choki @SSF

boiboi~

Advertisements

39 thoughts on “You’ll be the Prince & I’ll be the Princess [Chapter 5]

  1. haha kyk nya sica salah msuk kamar tuh,,,ada org lain yg pingsan di samping nya,,,jgn” itu yuri lagi,,,
    waduh ntar pas bangun pagi trus yuri msh di situ bisa berabe nih…

    di tggu lnjtn nya^^
    fighting

  2. annyeong…

    Aduh itu Jessica mabok gara-gara salah minum 0.o
    Dan sekarang pun Jessica salah masuk kamar dan malah bobo bareng sama Yuri -_-. Siap-siap aja pas mereka sadar ada yg kena gampar atau tendangan *lirik Yuri

  3. hai apa kabarnya tara???
    aiiih pada mabok gituh ceritany?alamak
    soo punya kelakuan nih aaah jd pada mabok tuh pan ah yuri agak dingin ya ma sica makin penasar aje ane ma ini cerita..hehhe

  4. sica ke kamar pangeran yuri tuh…
    haduh paginy dengar dolphin scream deh ntar yuri..
    tapi yuri dalam keadaan masih jadi pangerankan? mksdnya msh lngkap dgn atribut dan penyamaran yg digunakan

  5. Sica mabuk dan dia salah masuk ke kamarnya Yul??Yul pun mabuk…woowww…apa yg akan terjadi…???
    Ini bener” menghibur….
    Hahahahahah
    Di tunggu dh lanjutannya…

  6. Akhirnya update jg…..
    Wwwwwoooooaaaaaaaa……. yulsic sekamar……tr gmna klo mereka bangun….
    Itu yuri msh dlm keadaan menyamar apa gk tuch……
    Tr yuri kena cap 5 jari lg……
    Lanjuy thor jng lama2……

  7. annyeong..

    sica salah masuk kamar dech..

    kyknya soju kali yg di minum sm sica jadi mabuk gitu dia..heehee

    gimana ya reaksi sicca pas bangun..

  8. Woooaahhh….. Gue yakin sica salah masuk kamar tuh. Kana milikku , kiri milikmu. Klo orang stengah sadar kan bisa tebolak balik yak.
    Seru nih ky nya, pas melek sica pasti langsung ngeluarin dolphin scream nya nih. Ato paling sial si yuri di tendang ampe nyungsep tuh.
    Oklqh tanpa bnyk kata2…
    Di lanjut yaaaaaa

  9. Annyeong…

    Itu Yuri kan yg pngsan. Duh syang bnget sih klo itu bner Yuri pngsan,,jdi ntar mreka gak ngpa2in dong *heh. Mksd nya spa tau mrka maen bekel or congklak gtu #abaikan.

    Bhasa ny pham bnget nih di part ini,,ada kmajuan dri yg kmaren…

  10. hahahaha parah, yang sabar ya yul oppa (yuri onnie) menghadapin gunung es kayam sica onnie..
    lucu pas yul oppa berkata “Apa dia baru saja…mengumpatku 2 kali?”
    benar sica onnie mengupat yul oppa dua kali dikarenakan dia mendengar sooyoung berbohong..
    aduh sica onnie main minum saja, kan jadinya mabuk .
    itu kan anggur yang diletakkan oleh sooyoung…
    apa sica onnie masuk kekamarnya yul oppa..
    kalau emang ia, aku penasaran bagaimana reaksi mereka besok pagi..
    lanjut chingu..
    selalu ditunggu semua ceritanya .
    semangat .

  11. yulsic mabuk, dan mereka tidur bersama, waaaahhhh apa yg akan terjadi selanjut nya?. gawat, mereka pasti akan bertengkar lagi. kekekekk…

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s