Unlike Him [Chapter 16]

Hi…..

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

Chapter 16

 

Berjalan bergandengan tangan dengan Donghae yang menggendong Jisoo dalam pelukannya, Jessica merasa sedih karena itu adalah pertama kalinya ia akan berada jauh dari Donghae. Ia mengeratkan genggaman tangannya. Mereka berhenti di gerbang keberangkatan ketika pesawat mereka siap berangkat.

“Sampai jumpa, Jisoo. Baik-baik, ya? Jangan merepotkan ibumu. Sampai nanti.” kata Donghae sambil mencium pipinya. “Kau juga, mommy! Baik-baik di sana, aku akan merindukanmu,” katanya kemudian membungkuk untuk menciumnya.

“Aku juga akan merindukanmu.”

Donghae tersenyum, “Jangan terlalu sedih, kau hanya pergi untuk beberapa hari. Kau tidak akan menyadari itu akan berakhir dalam sekejap,” ia meyakinkan. “Kau akan baik-baik saja, oke?”

Jessica mengangguk dan mengambil Jisoo dari Donghae. “Sampai jumpa, Hae! Jaga dirimu dan jangan berani-berani melihat gadis lain.” ia memelototinya, membuat laki-laki itu tertawa dan menciumnya lagi.

“Aku tidak bisa menyelingkuhi sersanku,” bisiknya dan menarik diri. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga.”

*************

Melihat sekitarnya, Tiffany mengetuk-ngetuk jarinya di kursi mereka sambil menunggu kedatangan kakaknya di Bandara Gimpo. Ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya untuk akhirnya kembali berkumpul dengan kakaknya bahkan setelah mereka baru terpisah selama beberapa minggu.

“Oppa, jam berapa mereka tiba?” tanyanya pada tunangannya, yang sedang sibuk mengunyah camilannya.

“Sekitar jam 1 siang, bersabarlah Fany-ah, mereka akan segera tiba di sini. Jangan khawatir,” ia meyakinkan tunangannya.

“Aku hanya khawatir.”

“Kakakmu sudah cukup besar, lagipula dia bersama Donghae.”

“Kurasa aku terlalu banyak berpikir dan antusias karena keluargaku akan kembali berkumpul.” keluhnya

Ponsel Taeyeon tiba-tiba berdering. Ia menghela napas saat ia melihat nama si penelepon. “Dia lagi. Mungkin dia akan mencoba memberi alasan lain. Dia berkeras hati.” Gumam Taeyeon pelan dan berdiri menjawab teleponnya. “Halo.”

Tiffany mengembuskan napas keras-keras. Pernikahannya akan digelar tiga hari dari sekarang dan ia merasa tertekan oleh semua orang dan segalanya. Dan ketika ia mengembuskan napas keras lainnya, ia melihat seorang gadis berambut pirang yang mendorong cart dengan barang-barangnya dan pada saat yang sama menggendong anaknya di sisi lain.

“UNNIE!” Serunya.

Gadis berambut pirang itu menoleh dan tersenyum.

“Woah, unnie!” Serunya dan berlari menghampiri kakaknya.

“Di sini kau rupanya. Aku baru saja akan meneleponmu.”

“Kami sudah berada di sini selama hampir satu jam, apa yang terjadi?” Tanyanya mengambil alih cart  dari kakaknya dan mendorongnya sendiri.

Delay, tapi jangan khawatir, aku sudah ada di sini, kan?”

“Di mana Donghae?” tanya Tiffany, memutar kepalanya, mencari laki-laki itu.

“Dia tidak bisa pergi karena pekerjaan. Tapi dia bilang dia akan berusaha datang. Dia juga meminta maaf.”

“Itu mengecewakan,” Tiffany cemberut sambil mereka mulai berjalan. “Semoga dia bisa datang.”

Jessica mengangguk, ia kemudian menyerahkan Jisoo ke Tiffany dan menyapanya.

“Mommy.” 

Mereka memutuskan untuk duduk di salah satu bangku di dekatnya, Jessica beristirahat sejenak dan merapikan kemeja Jisoo yang kusut.

“Halo Jisoo, kau ingat Aunty Tiff?” ia tersenyum.

“Katakan hai pada Aunty Miyoung.” 

“Yah!” teriak Tiffany saat ia meraih Jisoo.

“A-anyeong haseyo, Aunty Miyoung,” Jisoo membungkuk. Jessica bangga karena ia telah mengajarkan anaknya beberapa kata bahasa Korea saat di pesawat tadi. Jessica tertawa kemudian menoleh mencari tunangan adiknya. 

“Di mana Taeng?”

“Dia sedang menelepon. Oh itu dia.” katanya sambil menunjuk ke calon suaminya.

“Dia terlihat marah…?” Tanya Jessica bingung saat ia melihat Taeyeon mengerutkan kening dan mengibas-ngibaskan tangannya di udara, dengan marah.

“Dia sudah seperti itu selama berhari-hari, sejak kami kembali ke Korea,” keluhnya. “Lupakan saja. Jisoo-yah, kau lapar?” Tanyanya mengubah topik pembicaraan dan mereka mulai berjalan lagi.

“Kau mau es krim?”

“Es krim? Jisoo suka es krim! Es krim!” Ia bersorak.

“Yah! Es krim? Kau baru saja bangun. Dan kau harus makan sesuatu terlebih dahulu!” Jessica menentang.

“Jangan khawatir, Unnie! Aku tidak akan memberinya. Aku akan merawatnya,” ia mengedipkan sebelah matanya. 

“Jangan terlalu memanjakannya, Donghae selalu memanjakannya, tidak kau juga.”

“Tidak apa-apa Donghae memanjakan dia, kau berada di sana sebagai penyeimbang,” ia terkekeh.

Mereka berhenti di depan Taeyeon yang masih berbicara di telepon.

“Taeng,” panggil Tiffany.

“Cukup dengan alasan-alasanmu, oke? KAU. HARUS. DATANG.” ia menekankan kata-kata terakhir dan mengakhiri panggilan sambil berjalan menuju gadis-gadis.

“Halo Taeng.”

“Halo Jess,” sapanya kembali sambil memeluk Jessica. “Halo sobat kecil!” Sapanya dan menggendong anak kecil itu. “Jadi kita mau ke mana?”

“Es krim! Es krim! Ulang Jisoo. 

+++

Setelah makan siang di restoran terdekat, mereka kemudian menuju ke kediaman keluarga Jung. Dan saat mobil mereka memasuki tempat itu, Jessica merasa lebih cemas, gelisah, takut dan perutnya terasa mual, siap memuntahkan makan siangnya. Ia mempererat genggamannya pada anaknya yang sedang tidur.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Tiffany, memutar kepalanya dari kursi depan.

“Ah… ya,” Jessica menelan ludah.

“Seperti yang kami janjikan, kami tidak memberitahu siapa pun tentang kepulanganmu. Untungnya ayah dan ibu tidak ada di rumah, jadi jangan takut, oke? Mereka akan pulang sebelum makan malam.”

“Tiba-tiba aku akan merasa lebih lega kalau kau memberitahu mereka kalau aku akan datang,” gumamnya pelan tapi masih terdengar Tiffany dan Taeyeon. 

“Ini keinginanmu, kami hanya mengabulkannya,” jawab Taeyeon, suasana hatinya sudah membaik setelah bersantai dengan menyuapi Jisoo bersama Tiffany. Tiba-tiba ia tidak sabar untuk segara memiliki momongan.

Mobil mereka akhirnya berhenti di depan pintu rumah besar. Mr. Lee berlari ke arah mereka, dan  membukakan pintu depan untuk Tiffany.

“Kami memiliki tamu,” seru Tiffany dengan kegembiraan dalam nada suaranya saat pria tua itu hendak membuka pintu belakang.

“Ya, Nona,” ia mengangguk. Dan seolah-olah ia melihat hantu, mata Mr. Lee melebar ngeri. “Nona?” Tanyanya tak percaya saat Jessica keluar dari mobil sambil menggendong Jisoo.

“Anyeonghaseyo,” sapa Jessica malu-malu.

“Nona Sooyeon, Anda kembali!” Serunya dan hendak memeluknya ketika ia melihat sosok kecil yang tertidur di lengannya. “Oh.”

“Dia anakku,” ia tersenyum gugup, memperkenalkan anaknya sebelum pria tua itu menduga-duga.

“Benarkah?” Tanyanya tak percaya lagi tapi ia mengabaikannya dan mengalihkan pembicaraan. “Ibu dan ayah Anda berada di dalam, jadi karena ini…”

“Ya,” Tiffany menyetujui kesimpulan tak terkatakan itu, ia berjalan di samping kakaknya dengan Taeyeon yang membawa beberapa koper Jessica.

“Itulah kenapa semua orang berkumpul di sini. Saya sangat senang keluarga ini kembali lengkap dan sekarang ada tambahan lain. Haruskah kita masuk, nona?” Pria tua itu menawarkan. 

Saat mereka masuk, beberapa pelayan segera datang dan membantu Taeyeon membawakan koper.

“Tolong bawa koper-koper ini ke kamar Nona Jessica,” instruksi kepala pelayan.

“Terima kasih,” kata Jessica, menguap, matanya mengancam untuk segera menutup.

“Kau terlihat lelah, kau mau istirahat dulu?” tanya Taeyeon.

“Ya,” ia kembali menguap.

“Tentu, kalau begitu sampai nanti?” Jawab Tiffany. “Kami akan berada di kamar kami, jangan sungkan untuk memanggilku.”

“Oke… sampai nanti.”

Seakan memperbarui dirinya dari segala sesuatu dan apa pun yang telah terjadi tiga tahun lalu, Mr. Lee terus berbicara tanpa henti bahkan tanpa melihat ketidaktertarikan di wajah Jessica dan mulai berjalan menuju kamarnya. Tidak ingin bersikap kasar, sesekali Jessica mengangguk dan yang ia inginkan hanyalah merasakan tempat tidur yang lembut di punggungnya.

“Kami tidak mengubah apa pun di kamar Anda, tetapi dengan anak Anda sekarang, apakah Anda ingin kami memasang tempat tidur kecil atau semacamnya?” Tanyanya.

Jessica menguap untuk kesekian kalinya, ia membenarkan posisi Jisoo di lengannya. Ia tidak bisa mengatakan betapa irinya ia dengan anaknya yang sekarang berada di alam mimpi, ia berharap untuk ke sana juga. Memperhatikan ekspresi menunggu dari pria tua itu, ia bertanya, “Maaf?” 

“Sudahlah,” katanya, raut wajahnya melembut. “Kami akan mengurusnya. Beristirahatlah untuk sekarang, sampai jumpa makan malam nanti?”

“Ya,” Jessica mengangguk saat ia berhenti di depan kamarnya sementara Mr. Lee membukakan pintu untuknya. Ia membungkuk sedikit dan perlahan-lahan membaringkan Jisoo di tempat tidurnya. Terlalu lelah untuk melihat-lihat, begitu tubuhnya menyentuh sesuatu yang sangat ia dambakan saat ini, ia langsung tertidur sambil memeluk anaknya.

*****

Terbangun dengan sebuah tamparan di wajahnya, Jessica segera membuka matanya.

“Mommy!” panggil Jisoo, ia terkejut saat ibunya tersentak. 

Jessica melihat sekelilingnya dan menyimpulkan bahwa ia berada di kamarnya dan kegelapan di luar sana menandakan hari sudah malam.

“Bangunlah,” kata Jisoo, seolah menanggapi pertanyaan ibunya. 

Ia berbalik untuk melihat anaknya, “Ada apa, Jisoo?” 

“Daddy!” Serunya sambil memegang ponsel ke arah ibunya. 

Jessica mengangkat alis dan mengambil ponsel itu, “Halo?”

“Selamat pagi sleeping beauty?” Sapanya penuh semangat.

Mendengar suaranya membuatnya tersenyum dan ia menguap sambil memeluk Jisoo lebih dekat dengannya.

“Mommy, Jisoo lapar!”

“Maafkan mommy sayang, Mommy tidur terlalu lama,” katanya sambil tersenyum padanya.

“Sayang, kau sudah melihat camilan-camilan yang aku kemas di kopermu?” Tanya Donghae melalui telepon. Ia bergegas melihat koper, kemudian mendapatkan makanan ringan yang dimaksud pacarnya. “Ada.” Dan segera kembali ke sisi Jisoo.

“Katakan padaku, bagaimana kau di sana?”

“Semacam gugup, kurasa. Aku merasa sedikit asing,” gumamnya dan mereka berdua mulai mengunyah camilan.

“Kalau saja aku ada di sana…”

“Ya, kalau saja,” desahnya juga. “Kau tahu mungkin dari awal seharusnya aku tidak ada di sini. Aku bilang aku tidak bisa.”

“Jangan khawatir, aku akan meminta izin manajer lagi, kalau dia masih tidak mengizinkanku, aku akan melakukan apa saja untuk pergi ke sana, oke?” Donghae meyakinkannya.

“Tidak, Hae, mungkin aku hanya akan memberitahu Tiff, kita akan pergi begitu pernikahan selesai.” 

“APA?”

Jessica menoleh dan melihat Tiffany bersandar di pintu, melotot ke arahnya. “Tiff…” 

“Apa kau berencana untuk melarikan diri lebih awal?” tanya adiknya, menyilangkan tangan di dada.

“Hae, adikku di sini, Aku akan menelepon lagi nanti.”

“Oke, I love you.”

“Love you too,” jawabnya dan mengakhiri panggilan.

Tiffany mendengus setelah ia menyimpulkan alasan kakaknya memutuskan hal seperti itu. “Jangan bilang kau merindukannya?”

“Bagaimana kalau iya?” Jawab Jessica memutar bola matanya sambil memberikan camilan untuk anaknya. Tiffany duduk di samping Jessica.

“Kau akan segera pergi hanya karena kau merindukannya?”

“Ini bukan karena dia. Kurasa aku tidak bisa tinggal di sini. Aku merasa seperti orang asing. Aku gugup, menyedihkan dan aku merasa tidak waras.” Keluh Jessica. Seolah-olah berkumpul kembali dengan keluarganya tidak terlihat benar. Ia merasa asing dengan rumahnya sendiri. Setelah tiga tahun berlalu ia tidak tahu lagi apa yang orangtuanya pikirkan tentangnya.

Tiffany mendesah stres. Wajar saja jika kakaknya merasa seperti ini. Jika ia ada di posisi kakaknya, mungkin ia akan merasakan hal yang sama. “Unnie, itu sebabnya aku di sini, bukan? Aku adikmu, kita adalah keluarga. Dan untuk mengakhiri masalahmu, aku sudah memberitahu ibu dan ayah kalau kau di sini. Bahkan mereka sudah ada di sini ketika kau masih tertidur, dan mereka juga sudah bertemu Jisoo,” ia tersenyum.

Mendengar hal itu memberikan beban lain ke dalam hatinya yang sudah berat. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan atau bahkan apa yang harus dilakukan. “Sungguh?” Ia menatap adiknya tak percaya. Ia kemudian berbalik untuk melihat anaknya yang mengunyah camilan mereka dengan polos.

“Kau tidak percaya padaku, bukan? Baiklah, ikut aku. Ibu dan ayah baru saja selesai makan malam. Ayo kita pergi!” Ujarnya sambil mulai menarik kakaknya turun dari tempat tidur. “Jisoo! Nenek menunggumu di ruang duduk, dia bilang dia punya sesuatu untukmu.”

“Yah!” keluh Jessica, tetap bertahan di tempat tidur sementara Jisoo sudah berlari ke luar ruangan.

“Nenek! Nenek!” panggil anak kecil itu.

Beberapa saat kemudian permainan tarik-ulur berakhir saat Tiffany menyeret kakaknya. “Tenanglah, unnie, kau tidak akan dibunuh,” katanya seolah-olah merasakan kegelisahan kakaknya.

+++

Keduanya berhenti dan Jessica melihat orangtuanya ketika mereka mulai berjalan lagi, kali ini dengan perlahan-lahan.

Di sisi lain, semua orang di ruang duduk dihibur oleh artis muda yang sedang berbicara polos tentang rumah mereka di San Francisco. Taeyeon melihat Tiffany dan Jessica, ia meraih Jisoo untuk duduk di pangkuannya, mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya.

“Kemarilah,” kata Mr. Jung memberi ruang di sampingnya, melihat keduanya. Tapi menyadari kakaknya tidak berencana untuk bergerak dari posisinya, dengan tidak sabar Tiffany mendorongnya ke samping ayah mereka. Dan begitu Jessica berhasil duduk, dia meminta ibu mereka untuk duduk di samping Jessica, mengapitnya. Gadis berambut pirang itu hanya melihat ke bawah seolah-olah lantai adalah subjek yang paling menarik baginya saat ini, mencoba mengingatkan dirinya untuk mengatur napasnya.

“Aku…” ia memutuskan berbicara dengan berusaha untuk tidak menangis, tapi suaranya menggagalkannya. Saat ia menyiapkan untuk menyelesaikan kalimatnya ia merasakan pelukan dan kehangatan dari orang tuanya. Dan seperti hujan, air matanya mengalir tanpa henti. “Ayah,” tangisnya sambil membalas pelukan mereka.

Ayahnya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Ayah merindukanmu Sooyeon.” Ia menarik diri untuk melihat dan menghapus air mata putrinya sebelum tertawa. Sudah berapa lama ia tidak melihat putrinya? “Jangan menangis, Sayang. kami mengerti, kami di sini untuk mendukung dan menerima apa pun yang terjadi atau yang sudah terjadi padamu, bukan begitu Bu?

Mrs. Jung mengangguk, “Sooyeon, kami mencintaimu. Ingat itu selalu, oke?

“Maafkan aku,” kali ini tangisnya lebih keras.

Di sisi lain, Jisoo, berhasil lepas dari pelukan paman Taeng dan berlari ke ibunya. “Mommy! Mommy menangis?tanya anak kecil itu.

Jessica tersenyum dan mendudukkan dia di pangkuannya. “Mommy menangis karena Mommy sangat merindukan ibu dan ayahnya.”

Dia melihat ke arah kakek-neneknya dan mereka berdua mengangguk padanya.

Sapa mereka, Jisoo-yah,” katanya kepada anaknya dengan senyum di wajahnya, membuat Jisoo menghadap semua orang. Dengan ibunya yang berbisik kepadanya untuk melanjutkan, segera anak kecil itu membungkuk pada setiap orang dan menyapa dengan suara lucu.

“Aku tidak percaya aku melihat cucu pertamaku,” kata Mrs. Jung, bertepuk tangan padanya. “Di mana Daddy kita?”

“Dia ada di rumah kami!” Kata Jisoo sambil menunjuk ke suatu tempat yang jauh. Semua orang tertawa.

Malam telah larut dan Jisoo tertidur. Tiffany dan Taeyeon pergi ke kamar mereka sementara Jessica kembali ke orangtuanya untuk mengobrol dengan mereka dan juga untuk menceritakan semua yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Ia tersenyum begitu ia melihat kedua orangtuanya, ponselnya berdering dan dengan cepat ia mengamati layar ponselnya. Ia tersenyum lebar saat melihat nama pacarnya dan segera berlari ke taman mereka. Ia duduk di bangku terdekat. 

“Hai sayang!” Kata Donghae.

Tapi tidak ada respon dari gadis yang sedang tersenyum lebar sehingga ia bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

“Jangan lakukan itu…”

“Eh?”

“Kau tersenyum seperti orang idiot, Jess,” katanya sambil tertawa. “Kenapa kau harus menghapus senyummu? Orang-orang mungkin berpikir kau memiliki pikiran mesum,” guraunya.

“Yah!”

“Haha, ya aku juga merindukanmu,” kali ini tawanya lebih keras.

“Aku lebih merindukanmu… kemarilah,” rengek Jessica. Ia mengakuinya sendiri, karena kali itu adalah kali pertama mereka saling berjauhan, ia lebih dan lebih merindukannya.

“Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bisa pergi,” ia meminta maaf, suaranya tiba-tiba menjadi sedih.

Sekali lagi raut wajah Jessica muram.

Setelah selesai mengobrol dengan Donghae, Jessica masuk ke dalam rumah dan duduk di samping orangtuanya.

“Siapa itu?” Tanya Mrs Jung.

“Hae.”

“Apakah dia pacarmu?”

Jessica mengangguk pada pertanyaan ibunya dan tersenyum.

“Woah, ayah Jisoo, ibu sedikit antusias untuk bertemu dengannya. Bagaimana dia?Ia melanjutkan sementara Mr. Jung tiba-tiba melemparkan pandangan tajam saat menangani dokumen di tangannya.

“Dia sangat peduli, sangat melindungi, sopan dan baik, kadang-kadang sikapnya yang seperti anak kecil membuatku bahagia,” ia tertawa pada dirinya sendiri mengingat kenangan-kenangan mereka di rumah mereka dulu. “Dia sangat pekerja keras dan memang sangat tampan.” 

“Lebih tampan dariku?” sela Mr. Jung.

“Ayah!” Rengek Jessica. “Ayah adalah pria yang paling tampan dalam daftarku, selalu ingat itu!”

Kau akan tinggal lebih lama?” Tanya Mr. Jung menertawakan jawabannya. 

“Tidak,” jawabnya, menggeleng.

“Kenapa?”

Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan di San Francisco dan aku sudah memberitahu Donghae kalau kami akan pulang setelah pernikahan.”

Mrs. Jung segera menyadari ekspresi wajah suaminya yang muram. Ia memeluknya dan menepuk-nepuknya. “Jangan khawatir yeobo, dia harus pergi setelah dia menikah, juga sama seperti Tiffany yang akan pergi setelah beberapa minggu.”

Mr. Jung mendesah, “Sekarang, aku mulai menyesal karena anak-anakku adalah perempuan.” 

“Ayah!” Tapi kemudian sesuatu tiba-tiba datang ke pikiran Jessica, matanya melebar. “Tunggu, ayah! Kalau ayah ada di sini lalu siapa yang menjalankan perusahaan? Dan sebelum aku lupa, apa yang terjadi pada perusahaan saat aku pergi? Aku ingin kembali menjalankan semuanya,desaknya.

Mr. dan Mrs. Jung saling bertukar pandang dengan gugup sebelum menjawabnya.

“Yah,” Mr. Jung tergagap. “Dia… ayah mempekerjakan seseorang di tempatmu. Dia sangat baik... sangat efisien sehingga ayah mulai melatih dia dan sekarang dia menangani perusahaan kita di Jepang.

“Dia pasti sangat baik,” gumam Jessica.

*****

Setelah mengobrol untuk beberapa saat, Jessica kemudian memutuskan untuk pergi ke kamar mereka. Menyelimuti Jisoo dengan selimut, ia memutuskan untuk melihat-lihat dan seperti apa yang Mr. Lee katakan, tidak ada yang dipindahkan dari kamar itu, bukunya masih di sana dan bahkan tumpukan terakhir dari catatan-catatan jaman sekolahnya tetap tersimpan di atas meja belajarnya. Ia berjalan menuju balkon dan melihat keluar. Bahkan setelah hampir tiga tahun, kenangan itu masih terasa segar dalam ingatannya. Tempat itu adalah tempat di mana mereka belajar bersama untuk yang terakhir kalinya. Secara tidak sadar air matanya bergulir di pipinya dan ia segera menyekanya ketika ia tersenyum mengingat saat mereka hampir berakhir dengan bercinta di kursi yang sama. Mungkin merindukan Donghae adalah salah satu alasan dirinya merasa tidak nyaman untuk tinggal di Seoul, tapi kenyataannya, itu tetap saja Yuri. Yuri masih menjadi alasan utamanya, ia takut bahwa bahkan setelah tiga tahun ia mencoba untuk membangun sebuah dinding untuk hatinya agar tidak merindukan laki-laki itu, mungkin hanya dengan melihat laki-laki itu lagi, semuanya akan berakhir kusut kembali.

+++

Pagi harinya, dua hari sebelum pernikahan Tiffany, semua orang sudah bangun, antusias dengan acara mendatang, ya kecuali gadis berambut pirang yang masih meringkuk ke bantalnya dengan nyaman.

Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika ia terbangun. Dengan panik Jessica langsung tersentak saat menyadari sosok yang hilang di sampingnya. Ia segera melompat turun dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi, lalu pergi keluar kamar, menghampiri pembantu di dekatnya.

“Apa kau melihat anakku?”

“Selamat pagi Nona,” pembantu itu membungkuk. “Nona, Tuan Muda Jisoo ada di taman dengan kakek-neneknya.”

“Wah, terima kasih,” ia tersenyum dan membungkuk padanya.

Ngomong-ngomong, Nona. Anda ingin sarapan di kamar Anda?” Tanyanya.

“Kau bisa menaruhnya di sana,” ia menyetujui dan cepat berbalik menuju taman setelah menyuruh pembantu itu pergi.

Ia melihat orangtuanya dan Jisoo duduk di bawah pohon tua yang berumur ratusan tahun. Jisoo tersenyum dengan senyum terbaiknya dan berlari menuju ibunya sementara Jessica membuka tangannya lebar-lebar menyambut anaknya dengan pelukan besar.

“Umma!” Katanya sambil mencium pipi ibunya.

Mata Jessica melebar.

“Selamat pagi, Umma!” ulang Jisoo menunggu reaksi dari ibunya.

“Whoa… Jisoo memanggil mommy umma?” Katanya. “Anakku, sungguh laki-laki yang lucu dan cerdas!” Ia membanjiri anaknya dengan ciuman membuat si kecil tertawa padanya.

Mereka berdua pergi ke orangtuanya dan mereka menyapanya. “Anakmu sangat cerdas.”

“Ayahmu benar,” Mrs Jung setuju. “Kami hanya sekedar mengajarkan dia beberapa kata untuk beberapa jam saja dan sekarang lihatlah!”

Hanya ketika Jessica hendak menyetujui betapa hebat anaknya, ia mendengar adiknya meneriakkan namanya, “UNNIE!”

~~~;~~~;~~~

TBC

wow kalem Tiff 😀

HAPPY BIRTHDAY MOMMY, STAY HEALTHY, FRESH, AND GORJESS.

credit: zhel @SSF

boiboi~

 

Advertisements

51 thoughts on “Unlike Him [Chapter 16]

  1. hmm jgm jgn kt”dia” itu mksdny yul y thor hmm jd gregetan dh m crt ny thor.sebel dh sica dh mlsi cinta m hae.tp klo dipikir2 dy mbohongi diri sendiri n nyakiti dr sndiri lnjut ah.

  2. hmm jgm jgn kt”dia” itu mksdny yul y thor hmm jd gregetan dh m crt ny thor.sebel dh sica dh mlsi cinta m hae.tp klo dipikir2 dy mbohongi diri sendiri n nyakiti dr sndiri lnjut ah….

  3. Mau nebak lagi, yg di maksud mr.jung itu si item yak? Trus yg nlp taeng jg dia kan? Trus kapan si pabo itu dateeeeng??? Huaaa ternyata madam blm lupain kwon pabo nya :’) yuk lah lanjuut thor~

  4. Mau nebak lagi, yg di maksud mr.jung itu si item yak? Trus yg nlp taeng jg dia kan? Trus kapan si pabo itu dateeeeng??? Huaaa ternyata madam blm lupain kwon pabo nya :’) yuk lah lanjuut thor~

  5. annyeong ……

    heyy ~~~~
    ak harap kwon Yul cept datang …. tpi gak ada jua _._
    dmna kau seobang ……. >< kkee
    tp in bklan susah ya kek nya …. aduh deg degan …
    dtunggu next chap nyah ..
    SEMANGAAAAAAT

  6. Aduhh thor kpan si yul mau nongol . . .
    Tp klo yul muncul psti bkalan ada drama2an dahh . .

    TaeNy mau nikah mda”han aja lancar dahh , adain nc buat TaeNy ya thor msa yulsic aja . . Hhaha

  7. gw kira part ini yul nongol.. ternyata.. ahsudalah…

    thor ini ff haesica apa yulsic thor???
    plissss kluarin yul..

  8. Wakakakakaaa Kasihan ye semua readers ngarepin yuri… huufff perjlnn yulsic msh panjang… kenyang deh m haesica…. klo baca agak g rela geto..aiishh…
    Oke Tararengkyu~
    Lanjutkan belajarmu!!!

  9. yaelaahh si yul kapan muncul nya sih
    enek gw ama haesica mulu..
    buruan ktemuin yulsic gih..pnasaran ama badai nya nanti.

  10. itu yg di tlfn taeyeon waktu dibandara pasti yuri,dan yg scene terakhir fany manggil jessie..karna yul dateng:)
    moga tebakan ku bener biar yulsik ketemu.

  11. Ddduuuuuhhhh….si kwon kpn muncul sich????? Smp bulukan liat hae mulu…
    Tu yg d tlfn taeng ap si kwon ye….
    Thor, prince yuri ny d tnggu jg nich….lanjyt n semangat…

  12. whooaaa taeny mo merid, chukaeee
    trnyata kakek neneknya jisoo seneng bnget pnya cucu
    gak sabar liat yulsic ktemuan
    itu sp ya yg bantu usha mr. jung

  13. Huaaaaa.. Kapan HaeSicx berakhir?? -_-
    Gw panasssss author suguhin HaeSic mulu 😥
    YulSic gw kemana??
    Duhh,cpt2 bersatu deeeh sblm terlamabat

  14. mengharukannn…… T^T tapi sayang kurang lengkap, coba donghae bisa datang ya. lengkap deh kumpul keluarganya walaupun seharusnya itu tempat yul. 😦

  15. namja ikan itu siapa sih sebenarnya ??
    sica onnie and jisoo uda ada di korea…terus yul oppa nya kemana ??
    kok belum muncul juga sih, jangan bilang yul oppa sekarang di jepang ya ??
    lanjut chingu..
    selalu ditunggu..
    see you..

  16. Jadi kebawa arus haesica
    Oke perjuangan yulsic masih panjang buat ketemu dan bersatu kembali yeahh
    Pany selow oany elah kalo manggil sampe triak2 gitu melel

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s