Unlike Him [Chapter 22]

Hi… T_T

enjoy~

~~~ ~~~ ~~~

Chapter 22

 

“Sayang…”

“Uhm?”

“Aku hanya memanggil namamu,” bisiknya sambil tersenyum.

“Hae?” panggilnya.

“Ya?”

“Aku hanya melakukan hal yang sama,” ia tertawa dan menyandarkan kepalanya di dada Donghae.

“Jessica,” bisiknya lagi dan memeluknya dengan erat. “Aku mencintaimu.”

Jessica menatap ke arahnya dan tersenyum, mereka berdansa bersama. Keduanya menari dengan iringan musik lembut, hanya mereka berdua di tengah-tengah lantai dansa. Tiba-tiba, Donghae perlahan menjauh dari pelukannya dan menatapnya tajam dengan senyuman di bibirnya. Jessica menunggu dan menatapnya bingung saat laki-laki itu meraih sesuatu dari sakunya. Sebuah kalung ditunjukkan kepadanya. Sebuah kalung dengan liontin hati perak.

“Jessica, kalung ini melambangkan hatiku. Bawalah kalung ini bersamamu selamanya.” ia tersenyum dan memasangkan kalung itu di leher Jessica.

“Terima kasih, terima kasih banyak,” Jessica tersenyum, ia memeluknya dan mereka kembali berdansa. Suasananya terlalu serius untuk mereka. Jessica merasa aneh tapi ia tidak ingin merusak suasana dan terlalu banyak bertanya kepadanya.

“Aku akan segera pergi,” gumamnya.

“Ke mana?”

“Ibuku menelepon. Dia bilang dia sangat merindukanku.”

Jessica menatapnya dan mengerutkan keningnya.

“Apa kau akan meninggalkanku di sini?  Kukira kita akan pulang bersama-sama?” tanyanya. Tapi Donghae menggeleng.

“Kau akan baik-baik saja di sini, Jess,” hiburnya. “Jangan khawatir.” Donghae meletakkan tangannya di atas dada Jessica. “Aku di sini. Aku akan selalu berada di sini.”

*****

Membuka mata tampaknya membutuhkan proses yang lama untuk dilakukan. Jessica telah terjaga selama beberapa saat sekarang setelah ia terbangun dari mimpi buruk itu. Tubuhnya bekerja sama sehingga akhirnya ia bisa membuka matanya. Melihat sekeliling, sekelilingnya sangat gelap sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa di sekitar. Ia perlahan-lahan turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu di samping tempat tidurnya. Ia menghela napas, ia berada di kamarnya. Ia hendak kembali ke tempat tidur ketika mendengar erangan di suatu tempat. Ia segera menyadari tempat tidur kecil di sebelah miliknya dan di sana lah ia melihat dua orang yang tidak ia duga berada di sana. Orang itu adalah Jisoo yang memeluk Yuri. Dan ia tidak percaya hanya dengan melihat itu bisa membuatnya merasa bahagia meskipun ia juga merasa sedih dan terluka hanya dengan melihat Yuri. Ia ingin membuang kasih sayang dan kekaguman yang tumbuh untuk laki-laki itu terutama ketika melihat wajah Yuri yang tenang dan damai saat dia tertidur dan ketika Jisoo memeluk ayahnya. Sepertinya semua kebencian selama tiga tahun terakhir itu telah lenyap.

Tidak ingin kembali bersedih, Jessica memutuskan untuk pergi keluar. Ia berjalan dan berjalan tanpa tujuan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Yuri bukanlah siapa-siapa. Ia memutuskan untuk mencari Donghae. Ia ingin mengobrol dengannya. Tiba-tiba ia hanya melihat dirinya di dapur mereka.

“N-nona,” Mr. Lee tergagap, matanya melebar setelah melihat majikannya yang telah lama tertidur. “A-akhirnya Anda bangun!”

Jessica tersenyum dan menunggu kepala pelayan itu pulih dari kekagetannya.

“Bagaimana perasaan Anda? Anda butuh sesuatu? Anda lapar?” Tanya Mr. Lee gembira. “Saya akan memanggil pelayan yang lain untuk menyiapkan sarapan Anda.”

“Uhmm tidak,” katanya. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin jalan-jalan.”

“Saya akan menyiapkan segelas susu untuk Anda, nona.”

“Terima kasih,” ia tersenyum pada orang tua itu.

Beberapa saat kemudian, Mr. Lee muncul dengan segelas susu dan duduk di depannya.

“Bagaimana perasaan Anda sekarang, Nona?”

“Aku baik-baik saja, aku merasa sedikit lebih hidup,” ia tiba-tiba teringat Donghae. “Mister Lee, apakah kau tahu Donghae di mana?”

“Tuan Donghae? Tidak, Nona. Maafkan aku, tapi aku tidak melihat dia selama beberapa hari sejak hari senin,” jawab.

Ke mana dia pergi?” Pikirnya. “Sejak Senin?” Serunya.

“Ya nona, sejak Senin, saya rasa sudah lima hari. Anda tertidur selama lima hari. Tuan Muda Jisoo juga terkena demam setelah menangis terus-menerus.”

“Lima hari?” Matanya melebar. “Jisoo sakit? Ap dia baik-baik saja?”

Mr. Lee mengangguk.

Jessica cepat berdiri dan mendongak ingin kembali ke kamarnya. “Bagaimana keadaannya?” Tanyanya lagi.

“Jangan khawatir, Nona.” Mr. Lee tersenyum, menghentikan dia dan menawarinya untuk kembali duduk. “Tuan Yuri sudah merawatnya.”

Dia merawatnya? Ulangnya.

“Dia sudah lebih baik sekarang, Nona. Tuan Yuri tidak meninggalkan dia meskipun dirinya benar-benar mengantuk. Dan setelah Tuan Muda pulih, dia tampaknya sangat menyukai Tuan Yuri, dia ingin bersamanya di setiap saat dan sekarang dia menangis jika tidak melihat Tuan Yuri.”

“Sica…”

Suara seseorang memanggilnya dari belakang. Orang itu adalah Yuri, ia segera berlari dan memeluknya dari belakang sementara Jessica tetap menghadap Mr. Lee. Yuri melepas pelukannya dan berjalan memutar untuk menghadap Jessica, ada sedikit kekhawatiran dan kebahagiaan di raut wajah Yuri. “Sica… Aku pikir… Aku pikir kau pergi.” Tiba-tiba air mata mengalir dari matanya. “Terima kasih Tuhan kau akhirnya terjaga.” Ia memeluknya lagi, lebih erat. Di sisi lain, Jessica bingung. Bingung dengan bagaimana cara Yuri memeluknya. Pelukan ini, rasanya sama seperti pelukan yang ia rasakan tiga tahun lalu.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa ada yang terluka?” Tanya Yuri spontan saat ia menarik diri dan menatap Jessica. “Apa kau membutuhkan sesuatu?”

“Kau…” napasnya tercekat, berusaha untuk menahan tangisnya. Ia merasa marah, sedih dan kesal pada dirinya yang seperti ini. Dan Yuri yang bertindak begitu perhatian dan peduli terhadap dirinya membuatnya semakin marah. “Menjauhlah.”

“Sica …”

“Jangan pernah mendekatiku, Aku tidak mengenalmu,” katanya sambil mundur dari Yuri dan berlari menuju kamarnya. Ia menangis dan mengunci pintu. Ia membutuhkan Donghae. “Di mana dia?” Pikirnya dan mencari ponselnya, memanggil nomornya. Tapi ia tidak bisa menghubunginya. Ia berjalan ke kamar mandi mencoba untuk tidak membangunkan anaknya. Ia frustrasi, “Apakah Donghae kembali ke San Francisco? Tapi kenapa Mister Lee tidak tahu di mana dia? Gumamnya dalam hati sambil berjalan berkeliling, masih berusaha untuk menghubungi Donghae.

Ia akhirnya duduk di lantai kamar mandi, terisak-isak. Ia ingin Donghae berada di sampingnya, untuk mengambil apa pun yang ia rasakan saat ini. Isakannya lalu berubah menjadi dengkuran saat dirinya jatuh tertidur, sebagai bukti untuk Yuri yang masih menangis di sisi lain pintu.

Setelah Jessica lari darinya, ia langsung meminta kunci kepada Mr. Lee begitu ia mendapati bahwa Jessica telah mengunci pintunya, khawatir Jessica akan mengalami serangan jantung lagi, sejak dia baru saja menjalani operasi. Ia mempersiapkan dirinya untuk apa pun yang akan dikatakan Jessica padanya, tapi setelah membuka pintu, ia segera mendengar tangisannya dari kamar mandi.

Ia merasa sedih bahwa gadis itu menginginkan Donghae daripada dirinya. Ia merasa bahwa gadis yang dicintainya menangis untuk laki-laki lain. Jika ia tidak begitu bodoh dan mengsia-siakan saat-saat ia bersamanya, mungkin sekarang namanyalah yang yang ditangisi gadis itu. Mungkin ialah yang dia cari. Setelah dengkuran itu terdengar lebih jelas, Yuri membuka pintu kamar mandi dan segera menyadari sosok yang meringkuk di lantai. Ia merangkulnya sehati-hati mungkin dan perlahan-lahan membaringkannya di tempat tidurnya.

“Hae,” gumam Jessica.

“Di mana Donghae?” Pikirnya juga. Ia terus bertanya pada dirinya sendiri selama beberapa hari terakhir ini. “Kenapa dia meninggalkan keluarganya seperti ini? Apakah dia ingin membiarkanku memiliki waktu seperti ini dengan anak dan cintaku kemudian mengklaim mereka kembali? Beginikah cara dia menyiksaku? Tanyanya pada dirinya sendiri. Ia menatap Jessica dan membelai pipinya, menyeka air mata yang tak berhenti mengalir dari matanya. “Kau pasti sangat mencintainya. Aku tidak akan mengganggumu lagi.” Ia mencium keningnya sebelum keluar kamarnya.

Yuri pergi ke kamarnya dan mandi, berharap ia tidak akan membuat Jessica menangis lagi. Lebih baik ia mengabaikan gadis itu daripada menyebabkan rasa sakit dan penderitaan untuknya. Tapi kemudian ia memikirkan Jisoo, anaknya, dia mungkin menangis. Setelah Jessica terbangun, dia akan merawatnya, ia beralasan pada dirinya sendiri dan pergi ke mobilnya.

Perusahaan biasanya akan dibuka pukul delapan pagi tapi saat itu baru saja pukul lima ketika ia tiba di  kantornya. Ia menyalakan lampu-lampu dan beberapa mainan Jisoo yang ia beli masih tergeletak di seluruh tempat. Tempat kerjanya yang polos dan sepi kemudian seketika beralih menjadi taman bermain setelah hampir tiga hari mereka bersama-sama. Ia memutuskan untuk mengambil satu per satu mainan-mainan dan mobil-mobilan yang sangat disukai anaknya. Ia berhenti dan tertawa saat melihat boneka Mickey Mouse besar yang dipeluk erat Jisoo kemarin malam sebelum mereka pulang. Ia merasa sangat bahagia bahwa anaknya pun sangat mencintai karakter yang dicintai ayahnya. Mereka memang terhubung dengan darah. Juga dengan menghabiskan waktu bersama putranya, ia mengamati karakter yang mereka berdua miliki dan karakter yang diwariskan Jessica padanya.

Begitu ia selesai beres-beres, ia memutuskan untuk berbaring di sofanya sambil memeluk boneka Mickey Mouse tadi dan segera jatuh tertidur setelah menangis, berpikir untuk meninggalkan keluarganya.

*****

“Selamat pagi,” sapa Mr. Jung.

“Selamat pagi, tuan.”

“Di mana Tiffany dan Taeyeon?” Tanya Mrs. Jung sambil membuntuti suaminya dan duduk di sampingnya.

“Mereka menuju ke sini, Madam,” jawab salah satu pelayan.

Dengan antusias Mr. Lee ingin memberitahu kabar baik kepada mereka tetapi ia menunggu semua orang untuk berkumpul di ruangan. Begitu Taeyeon dan Tiffany duduk di tempat duduk mereka yang biasanya, ia tersenyum lebar dan menghela napas.

“Nyonya, Tuan dengan bahagia saya memberitahukan bahwa nona Jessica akhirnya bangun,” katanya.

“Benarkah?” tanya mereka.

Ia mengangguk, “Tapi dia kembali ke kamarnya dan sekarang sedang tidur lagi.”

Taeyeon dan Tiffany saling berpandangan dengan kegembiraan di wajah mereka sementara Mr. dan Mrs. Jung saling melirik satu sama lain. Sekarang setelah Jessica terjaga mereka harus memutuskan apakah mereka akan menceritakan semua yang telah terjadi atau tidak. Dan memberitahukan berita itu tidaklah mudah, entah mereka akan menghancurkan hatinya atau terus menyembunyikan berita itu darinya dan dari orang lain. Ya, tak ada yang mengetahuinya kecuali mereka berdua. Mr. Jung perlahan mengangguk pada istrinya dan keduanya berdiri.

“Mister Lee,” kata Mr. Jung.

“Tolong kumpulkan semua orang begitu Jessica bangun. Kemudian hubungi kami di kamar kami,” lanjut Mrs. Jung kemudian mereka berdua kembali ke kamar mereka. Meninggalkan semua orang yang berada di ruangan tersebut tercengang dan bingung.

“Taeng, apakah menurutmu ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Tiffany pada suaminya yang sama tidak tahunya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya sambil menggeleng.

Ia menghela napas dan tersenyum. “Tapi aku senang unnie sudah bangun.”

“Aku juga.”

“Mister Lee, di mana Yuri Oppa?” Tanya Tiffany sambil mencari-cari laki-laki itu.

“Oh… tuan.”

“Paman Yowree,” suara seorang anak menggema dari lorong, menyela jawaban Mr. Lee. Ketiganya lalu melebarkan mata mereka dan melihat jalan yang diperkirakan akan dilalui oleh satu-satunya anak di rumah menuju mereka. “Paman Yowree!”

“Selamat pagi, Tuan Muda Jisoo,” Mr. Lee membungkuk ketika ia melihat anak laki-laki itu dan memintanya untuk duduk bersama Bibi dan Pamannya tapi anak kecil itu tetap diam di posisinya.

“Di mana Paman Yowree?”

Mereka bertiga saling berpandangan dan Mr. Lee perlahan menggeleng, memberitahu pasangan itu bahwa dia tidak ada di rumah. Pasangan TaeNy kemudian mengerang karena mereka tahu akan sulit membuat anak itu berhenti menangis jika dia tahu bahwa Yuri tidak ada di rumah seperti apa yang pernah terjadi selama beberapa hari terakhir.

“Di mana Paman Yowree?” Ulangnya sambil memandang berkeliling mencari laki-laki itu.

“Uhmmm… D-dia keluar untuk jo-jogging. Uhm, ya Paman Yuri pergi keluar untuk joging,” Taeyeon tergagap. “Bukan begitu, Mister Lee?”

“Ah ya, Tuan Yuri bilang dia akan…”

Segera air mata keluar dari mata anak itu dan ia mulai menangis. “Paman Yowree!” Teriaknya.

Tiffany menghela napas dan menatap Taeyeon. “Telepon dia, aku akan mencoba untuk menghiburnya dan membuatnya berhenti menangis,” katanya dan pergi menggendong Jisoo. Keduanya pergi ke taman, sementara Taeyeon mengeluarkan ponselnya dan menelepon Yuri.

Yuri, tidak menjawab teleponnya, membuat Taeyeon kesal saat tangisan Jisoo menjadi lebih keras.

“Yah! Kwon Yuri! Angkat teleponmu!” Gumamnya marah. Seolah doanya didengar, sahabatnya akhirnya menjawab telepon itu. “YAH KWON YURI!!”

“Jangan berteriak, Kim Taeyeon!” erangnya, karena ia baru saja bangun.

“Di mana kau? Anak cengengmu! Bisakah kau datang ke sini dan mengambil anak ini?”

“Aku tidak bisa, banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Tolong jaga dia untuk sementara waktu,” jawabnya.

Taeyeon mendengus. “Seolah-olah alasan ‘banyak-pekerjaan-yang-harus-aku-lakukan’ tidak pernah kau gunakan sebelumnya. Kalau kau tidak akan mengambilnya di sini, aku akan membawa dia padamu.”

“Tolong, jangan. Ini karena Jessica, dia tidak ingin melihatku,” jawabnya lirih.

Taeyeon segera menyadari kesedihan dari suaranya.

“Mungkin dari awal dia bahkan tidak mencintaiku, Taeng. Bertahun-tahun, aku menunggu dia karena aku percaya kalau dia sangat mencintaiku, tapi… Tapi kita salah,” isaknya.

Taeyeon merasa bersalah. Melihat Jessica tiga tahun lalu, ia tahu bahwa mata berkilau itu hanya untuk Yuri. Kedekatan mereka, senyum cerah mereka dan bahkan tangan mereka yang bergandengan, Taeyeon mengetahui semuanya. Mereka sedang jatuh cinta. Bahkan Tiffany, sebagai orang yang sensitif, mengetahui ada hubungan di antara keduanya, tidak sampai Jessica pergi.

“Yuri…”

“Aku ayah Jisoo,” kata Yuri, menyela jalan pikirannya, terisak.

“Kau, apa?” Serunya.

“Donghae, dia bilang padaku, aku adalah alasan kenapa Jessica pergi malam itu. Dia bilang kalau aku menyuruh Jessica untuk menggugurkan Jisoo,” lanjutnya.

“Kau… KAU BILANG BEGITU!”

“Tidak, Taeng, tentu saja tidak! Aku mencintainya, kau tahu aku sangat mencintainya.” bela Yuri.

“Lalu siapa?”

Siapa, pikir Yuri. “Malam itu,” katanya sambil menutup matanya mencoba mengingat setiap peristiwa di malam itu. Ia menceritkan semua yang ia ingat malam itu.

“Kenapa Donghae bilang kalau kau menyuruh Jessica aborsi dan semacamnya kalau kau juga pergi ke taman?” Tanya Taeyeon.

“Aku tidak tahu, Taeng,” ia mendesah dan mengacak-acak rambutnya. “Kau tahu, tolong jaga saja Jisoo untukku. Aku tidak ingin menyebabkan masalah lainnya bagi Jessica. Dia baik-baik saja sekarang, dan aku yakin dia tidak ingin aku berada di dekatnya lagi. Mungkin aku harus mulai mencari rumah dan pindah.”

“Jangan berpikir untuk pindah Kwon Yuri! Oke? Aku akan menjaga Jisoo dulu! Kita akan bicarakan hal ini nanti! Jangan berani-berani bertindak tanpa memikirkannya lebih dulu, oke?”

Yuri tersenyum sendiri mendengar sahabatnya yang peduli. “Oke hyung!”

Taeyeon mendengus. “Sekarang, bisakah kau setidaknya memberiku saran bagaimana cara membuat anakmu berhenti menangis? Aku tidak mau Tiffany menjadi tuli mendangar semua tangisan itu!”

“Bawa dia ke kamarku,” ia tersenyum.

“Kamarmu?”

“Yup, biarkan dia pergi ke tempat tersembunyiku,” ia tertawa.

“YAH! KWON YURI! APAKAH KAU TAHU BETAPA TIDAK ADILNYA KAU PADAKU??? AKU SANGAT INGIN MELIHAT TEMPAT TERSEMBUNYIMU ITU, TAPI JISOO!! WAE???” Seru Taeyeon.

“Taeng, dia anakku!”

“Kau benar,” katanya dengan tenang. “Sekarang apa yang ingin kau lakukan di sana?”

“Kau lihat saja nanti,” ia tertawa lagi.

Taeyeon mendengus, “Jangan bilang tempat itu adalah tempat di mana kau menyembunyikan semua barang-barang tikusmu?”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Yuri malu-malu.

“Sudah kuduga,” Taeyeon mendesah tak berdaya pada sahabatnya yang mencintai tikus, yang tampaknya mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengumpulkan hal-hal berbau tikus. “Oke, aku akan membawa dia ke sana, tapi apakah dia akan menyukainya?”

“Dia anakku, dia akan menyukainya. Jangan khawatir.”

“Oke, ngomong-ngomong, Appa Jung menyuruh semua orang berkumpul ketika Jessica bangun,” kata Taeyeon saat ia mulai berjalan menuju istrinya dan Jisoo.

“Kau tahu jawabanku, Taeng, Aku mungkin pulang terlambat. Aku akan pergi duluan, oke?”

Yuri, Jessica dan sekarang Jisoo, betapa rumitnya untuk menyatukan tiga orang ini dalam satu tempat? Taeyeon mendesah.

“Tiff…” panggilnya.

“Oh, apa yang Oppa katakan?” Tanya Tiffany sambil menenangkan Jisoo yang masih menangis.

“Dia sedang rapat sekarang,” bohongnya. “Dia meminta bantuan kita berdua untuk menjaganya sebentar, dan menyuruh kita membawa dia ke kamarnya.”

“Apa yang bisa membuatnya berhenti menangis?” tanya istrinya, memiringkan kepalanya.

Dengan anak kecil yang menangis lebih keras, Taeyeon mengangkat tangannya dan meraih anak yang menangis itu, menenangkan dia. Lalu mereka bertiga pergi ke kamar Yuri. Dan saat mereka masuk, yang merupakan pertama kalinya bagi Tiffany dan Jisoo, Taeyeon cepat membawa mereka ke sebuah ruangan. Begitu mereka bertiga berada di dalam, mata mereka melebar. Ruangan itu dipenuhi wajah si tikus, mulai dari tempat tidur yang ditutupi dengan selimut, bantal, sandal, jubah mandi, karpet, wallpaper, boneka, mobil, patung-patung, standees, dan patung Mickey Mouse yang hampir sama tingginya dengan Tiffany. Bahkan telepon, karpet, komputer dan kap lampu ditutupi dengan stiker tikus itu.

“Oh.My.God!” Kata Tiffany kagum.

“Jadi, inilah tempat tersembunyi,” gumamnya, Taeyeon menggelengkan kepalanya melihat betapa luar biasanya ruangan yang dimiliki Yuri ini sementara Jisoo melompat turun dari pegangannya dan terkikik sambil memeluk patung berukuran manusia.

Seiring berlalunya waktu, Tiffany dan Taeyeon bermain dengan Jisoo. Mereka mengeluarkan semua barang dari wadah dan melemparkannya ke seluruh tempat. Beberapa saat kemudian, Mr. Lee mengetuk pintu dan menawari mereka makan siang.

“Jisoo, kau pergi dengan Mister Lee,” kata Tiffany.

“Bagaimana dengan kalian, tuan Taeyeon, nona Tiffany?” Tanya pria lebih tua itu.

“Kami akan menyusul. Yuri bisa marah kalau dia melihat ruangannya berantakan seperti ini,” Tiffany terkekeh.

“Ya, nona. Tuan Muda Jisoo, mari?” Ia mengulurkan tangan dan untungnya, karena si kecil sudah terbiasa, dia segera meraih tangannya dan berjalan keluar bersama-sama.

Begitu mereka berdua sendirian, Taeyeon memutuskan untuk membicarkan apa yang Yuri katakan sebelumnya. Tapi sebelum ia bahkan bisa mengucapkan sepatah kata, Tiffany telah melemparkan sebuah boneka ke punggungnya. Taeyeon memelototi istrinya dengan main-main dan melompat padanya, menyebabkan mereka berbaring di tempat tidur dengan Taeyeon di atas tubuhnya. Taeyeon menggelitiki istrinya dan mereka berdua tertawa.

“STOP! TAE!”

Taeyeon mengabaikan permohonannya dan terus menggelitiki istrinya. “Setelah menyerang suamimu, huh?” ia tertawa keras.

Tiffany mencoba menarik diri darinya sampai mereka berguling dan Taeyeon jatuh telentang. Taeyeon menyentuh pantatnya yang kesakitan, masih tertawa dengan istrinya.

“Maafkan aku,” kata Tiffany sambil menyeka air matanya yang keluar karena tertawa kemudian membantu suaminya untuk berdiri. Keduanya duduk di tepi tempat tidur.

“Tiff… ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” Taeyeon memulai dengan serius, menyadari bahwa Tiffany ingin ia melanjutkannya, ia mendesah. “Ini tentang Yuri dan Jessica.”

“Tentang Yuri yang merupakan ayah Jisoo?”

Taeyeon berhenti. Tiffany menatapnya dan tersenyum. “B-bagaimana?”

“Aku memiliki banyak teori dalam pikiranku saat pertama kali kita bertemu mereka. Aku mengobrol dengan unnie hari itu dan aku langsung mencurigai hal ini. Dan dengan peristiwa yang terjadi saat ini, melihat bagaimana dekatnya Yuri dan Jisoo, aku bisa merasakan kalau kecurigaanku benar.”

“Kau… sungguh… anak yang tahu segalanya,” katanya dan mencubit hidung istrinya.

“YAH! KIM TAEYEON!” Tiffany mengeluh. “Aku bermimpi menjadi seorang detektif suatu hari nanti, jadi, ya, seperti inilah aku.”

“Oke, Detektif Kim, kalau begitu bolehkah aku mempekerjakanmu untuk sebuah kasus?” Tanya Taeyeon, meletakkan tangannya di dadanya saat ia berdiri.

Tiffany segera mengikutinya dan memberi hormat padanya. Berusaha untuk tidak tertawa, Taeyeon mulai berjalan berputar-putar.

“Rupanya, terdakwa kami, Kwon Yuri, sudah tahu bahwa dia adalah ayah Jisoo dengan bantuan Lee Donghae, yang saat ini hilang dan tidak ada jejak dari keberadaannya. Klien kami, Mister Kwon mengatakan sebelumnya bahwa Mister Lee telah memberitahunya bahwa dia telah meminta kakakmu, Jung Sooyeon alias Jessica Jung, untuk melakukan aborsi…”

“Apa?” potongnya.

“Diam Detektif!”

Tiffany menutup bibirnya kemudian Taeyeon melanjutkan dan menceritakan semua yang dikatakan Yuri sebelumnya. “Kau boleh berbicara, Detektif.”

Tiffany mengerutkan alisnya dan mengetuk-ngetuk dagu dengan jarinya, menganalisis apa yang telah dikatakan suaminya. “Jadi, maksudmu Yuri… diberitahu oleh Donghae?” Taeyeon mengangguk. “Kemudian unnie meminta dia untuk menemuinya di taman tetapi karena terjebak macet dia tidak datang tepat waktu, benar?” Taeyeon mengangguk lagi.

“Jadi masalah kita di sini adalah bahwa ‘Yuri’,” ia menekankan. “… menyuruh unnie untuk melakukan aborsi dan untuk tidak menemuinya lagi?”

“Benar, detektif, sekarang, apakah kau butuh waktu untuk memikirkan semuanya?” Tanyanya.

Tiffany mengangguk.

“Oke, aku akan mengurus masalah ini, kau boleh duduk dan menggunakan waktumu, oke?”

Sementara Taeyeon sedang membersihkan ruangan, Tiffany sedang berpikir sendiri. Sekarang semua itu masuk akal baginya, kenapa malam itu kakaknya menangis, kenapa kakaknya memutuskan untuk pergi ke Amerika. Tapi sekarang ia harus membantu Yuri. Ia tiba-tiba teringat beberapa kemungkinan.

“Apakah mungkin kalau seseorang menggunakan identitas Yuri dalam situasi ini?”

“Mungkin?” Taeyeon mengangkat bahu dan kembali beres-beres.

“Bagaimana mereka tahu kalau Yuri menyuruh unnie melakukan hal itu?” Tanya Tiffany lagi.

“Aku tidak tahu, tapi Yuri bilang kakakmu mengirim sms padanya untuk pertemuan tersebut. Apakah itu membantu?”

“Hmmm…” Tiffany bergumam, berpikir lagi.

“Oh! Aku ingat, Yul bilang, dia meninggalkan ponselnya di apartemennya.” Mata Tiffany melebar mendengar apa yang ia dengar.

“Tuhan! Aku bisa berpura-pura kalau aku menggunakan ponsel Yuri dan mengirim pesan seperti, ‘Hei, aku melihat Tiffany mencium pria lain,” katanya sambil memperdalam suaranya. “Jangan tersinggung, cintaku.”

Taeyeon mendengus, “Aku tidak tersinggung, lanjutkan, cintaku.”

Tiffany tersenyum tapi dengan cepat kembali ke sisi seriusnya. “Dengan contohku tadi, orang dapat dengan mudah berpura-pura. Apakah Yuri berkelahi dengan seseorang atau dia kehilangan ponselnya atau semacamnya?”

“Bagaimana aku tahu?” Ia mengangkat bahu lagi. “Bagaimana kalau kita menginterogasinya? Dia hanya mengatakan kalau kakakmu mengirimnya pesan lalu orang yang disebut Hara ini datang kemudian Yuri pergi keluar, terjebak macet dan terlambat.”

“Siapa Hara?”

“Hara… hmmm… Aku lupa siapa dia, maafkan aku. Kita tanya saja Yuri, oke?” Ia perlahan-lahan berdiri dan meregangkan tubuhnya. “SELESAI! Ayo kita pergi, istriku, aku lapar!”

Tiffany tertawa, “Ya, suamiku, ayo kita pergi!”

Saat mereka berjalan menuju ruang makan, mereka mendengar tawa ringan dari Jisoo dan suara bernada tinggi yang tak asing lagi. Keduanya saling bertukar pandang kemudian setengah berlari ke ruang di mana suara itu berasal. Di sana lah mereka melihat Jessica menggelitiki anaknya dengan ciuman.

“UNNIE!” panggil Tiffany.

“Halo, Tiff,” Jessica tersenyum. Jisoo memeluk ibunya dengan erat sementara keduanya duduk gembira di seberang ibu dan anak itu.

“Terima kasih sudah merawat Jisoo,” katanya.

“Ya, tapi kau tahu dia sering menangis,” kata Taeyeon.

“Bagaimana keadaanmu unnie?” Tanya Tiffany, tampaknya masih tertegun dan tidak percaya bahwa kakaknya benar-benar terjaga seakan tidak ada yang terjadi padanya.

Jessica mendengus, “Semua orang terus menanyakan hal ini, dan untuk kesekian kalinya, aku sangat baik-baik saja,” katanya meyakinkan. Begitu mendengar dari Mr. Lee bahwa Jessica akhirnya bangun, Mr. dan Mrs. Jung keluar dari kamar mereka.

“Apakah semua orang sudah ada di sini?” Tanya Mr Jung.

“Yuri bilang dia tidak bisa datang,” jawab Taeyeon kepada ayah mertuanya.

“Hmm… Yuri? Aku akan mengurusnya. Siapkan barang-barang kalian sekarang, kita harus tiba di Jeju malam ini. Dan sekadar informasi, ini adalah upacara pemakaman,” Mr. Jung mengumumkan. Begitu ia selesai ia segera pergi dengan Mrs. Jung yang mengikutinya seperti sebelumnya.

Keluarga Jung, dengan Taeyeon, menggunakan pesawat pribadi keluarga Jung sendiri dan terbang ke Jeju. Semuanya merasa penasaran akan siapa yang meninggal di keluarga mereka. Mungkin orang itu adalah kerabatnya, berdasarkan pada gelapnya ekspresi Mr. dan Mrs. Jung beberapa hari terakhir. Mengambil barang-barang mereka ke kamar masing-masing, Tiffany dan Taeyeon melihat betapa indahnya tempat itu. Itu adalah perjalanan pertama mereka sebagai pasangan.

“Taetae…” panggil Tiffany sambil menatap pemandangan yang indah dari balkon mereka.

“Ya, istriku?” tanya suaminya sambil memeluknya.

“Apakah menurutmu Yuri Oppa akan datang hari ini?”

“Ya, Appa Jung akan membuat dia datang,” jawabnya, mengendus leher istrinya. “Kenapa kau bertanya?”

“Aku ingin dia dan kakakku kembali bersama,” katanya sambil berbalik menatapnya, tersenyum.

“Lalu bagaimana dengan Donghae? Dan ditambah, kakakmu tidak lagi menginginkan Yuri… Kau tahu, itu sebabnya dia mengalami hari yang buruk,” jawab Taeyeon dan mengayunkan tubuh mereka perlahan-lahan.

“Donghae menghilang, dan mungkin tidakkah kau berpikir kalau dia menceritakan semuanya kepada Oppa berarti dia menyerah pada unnie dan Jisoo?”

“Mungkin?” Ia mengangkat bahu. “Jadi apa yang ingin kau lakukan?”

“Aku punya rencana…” ia menyeringai.

“Rencana…” ia menyeringai juga. “Kedengarannya menarik, aku ikut.” kata Taeyeon dan perlahan-lahan mendorong istrinya ke tempat tidur besar.

“Lalu kita akan membutuhkan sebuah rumah di suatu tempat dan beberapa pria yang terlihat jahat, bagaimana menurutmu?” bisik Tiffany, seakan mengetahui apa yang akan dilakukan suaminya.

“Jess sangat beruntung menjadi kakakmu,” katanya parau sambil duduk dan mendudukkan  Tiffany di pangkuannya. Ia kemudian mendaratkan ciuman di bibir istrinya. “Aku. Sangat. Mencintaimu. Kim. Tiffany..” Katanya di sela-sela ciumannya dan membiarkan Tiffany berada di atasnya.

Tiffany melepaskan ciuman dan menatapnya sambil terengah-engah. “Aku juga mencintaimu,” ia tersenyum menyeringai.

Melihat ekspresi Tiffany membuat Taeyeon meminta lebih, “Kau merangsangku, cintaku,” katanya dan dengan cepat menarik Tiffany untuk ciuman lainnya. Tiffany tertawa secepat Taeyeon menggulingkannya dan segera ia merasakan tangan laki-laki itu masuk ke dalam bajunya.

~~~;~~~;~~~

TBC

gue gak potong bagian akhirnya sumpah!! 😀 kalo ada yang salah tolong kasih tau gue, Thanks ^^

credit : zhel @SSF

boiboi~

Advertisements

46 thoughts on “Unlike Him [Chapter 22]

  1. akhirnya sica sdh trbangun dr tidur pnjangnya:-D
    tp kasian yuri, sica sepertinya sdh gak mau lg ktemu yuri, pdhal jisoo sayang bnget sm yuri
    itu taeny mo sok2an jd detektif:-D moga aja mereka bs membntu biar yulsic bs brsatu lg
    jgn2 mr jung mo ke pemakamannya hae

  2. ternyata berita kematian hae tdk ada yg mengetahuinya selain mr&mrs.jung.yuri sepertinya menyerah untuk mendapatkan kembali hatinya sica dan ternyata fany sudah menduga kalau jisoo anak dari yulsic berkat analisis detektivenya
    lanjut lagi thor penasaran apakah yuri akan datang ke jeju dan apakah rencana yg dibuat oleh taeny utk mempersatukan kembali yulsic akan berjalan lancar

  3. Semoga aj taeny bz bantu yulsic jadian aplg jisoo ny udh syng bngt m yul…
    Sica gk ush nyari dong2 lg kasian jg tu si yul ny….
    Lanjut thor….

  4. wajar lh jisoo gk bsa dr yuri wong dia itu appa nya…
    jessica matahin ati yuri mlah yuri cpt bner nyerah nya tnpa usha lbh dlu

    tiffany edogawa dan inspektur taeyeon mulai braksi..
    jgn blg itu pemakaman donghae…

  5. aduh taeny taeny sungguh terlalu hehe.hmm sica slh phm m yuri pst hara yg kirim tuh sms k sica….ky sica bnci bgt m yul jd hopeless dh klo yulsic brstu smg j taeny bs bkin yulsic brsatu lg..smg j dgn kdktn yul n jisoo bs mluluhkn hati sica..krn sica sgt ncintai yul

  6. Pasti itu pemakaman donghae tuh yg bkal mreka datangi duh gmn yah nnti reaksi jessica..
    Smoga ntar rencana taeny buat nyatuin yulsic bkalan berhasil..

  7. Annyeong …….

    Heeey akhirnya update deh .paling dtunggu …..
    Dan ya ampun nysek bngt ya ,tpi mau gmna ini emng yng bklan trjadi …
    Aish tnggal nunggu ke salah phaman berakhir ,tolong bantu detecTiff kim … kkee
    Gak sabar next chap nyah, smga tak lama …. >< dtunggu
    SEMANGAAAAAAAAAAT

  8. pemakaman hae d jeju..smga sica ga shock taw hae yg dnorin jantung bwt dy…yul jg knp nyerah..pdhl jisoo ud dkt ma dy…tggal dketin sica lgi..y mmg aulit c..sica ud cnta ma hae..rumit..lnjut y..

  9. Sica dah sadar, kasian yuri..mg aja taeny bs nyatuin lg yulsic ya..-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ thor dah update

  10. suka banget ama detective kim,, hahha
    tapi aku harap badai segera berakhir,,,,
    hmm,,,, nggak herean jika si kwon si masnusia maniak tikus merah hitam itu hahah
    hmm,,, aku tahu rencana si kim,, hahah mereka akan menyuruh beberapa pria buat menculik sica, dan menyekapnya di rumah tanpa penghuni kan?? dan biar si kwon datamg menyelamatkan

  11. Kyah akhirny jessica udah bngn dr tidur pnjngny kya mr jung mau ksh tau tntng kmtian donghae kli y di tnggu nextny

  12. Huft… Kalo aja bener di dunia ini ada cowok mirip karakter donghae, perempuan bnr2 brasa jd putri.
    *apadahini*
    “ƗƗέƗƗέƗƗέ”

    Hatur taengkyu bwt apdetannya…
    Pye pye…

  13. Yees! Selangkah menuju yulsic bersatu? Ga bisa bayangin deh itu kamar penuh dgn gambar tikus dimana2-____- aaahh taeny nya di cut di bagian yg ga pas bgt>< wkwk

  14. hohoho mendekati detik” yulsic kambek yeeee mantapppp ini nih ini nihhhh hihi
    tenih.. tenih.. baru kali ini gw suka peran tenih disini.. mantappp

  15. jdi Jisoo sdh deket banget sma Yul yah.,,
    Aigooo.,, itu Yul pecinta tikus mickey yah.,, smpai sgtunya., 🙂
    Tiffany cocok jdi detektif tuh.,
    ayo TaeNy pecahin masalh yg dialami YulSic.,
    itu kluarga Jung mau menghadiri pemakaman Donghae kah???

  16. apakah itu upacara pemakaman donghae ??
    pliase yul oppa jangam nyerah sama sica onnie, yul oppa harus perjuangkan cinta oppa..
    sica onnie pliase itu semua hanya salah faham saja, jangan berfikir kalau yul oppa beneran nyuruh itu…
    keren taeny jadi detektif cinta, semoga apa yang kalian kerjakan mendapatkan hasil yang bagus..
    semoga yulsic bisa bersatu lagi..
    lanjut chingu..
    ditunggu ya..
    semangat..
    see you..

  17. Selamat bangun putri tidur haha
    Hahh kasian amat si donghae akhirnya meninggal. Sica nangis2 pasti ntr
    Yoyo time to yulsic moment
    Njir itu si taeny ya bikin ngakak kata2nya hahaha

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s