Unlike Him [Chapter 24]

Hi fellas~

enjoy~

~~~ ~~~ ~~~

Chapter 24

 

Jessica menangis saat ia berlari ke arah pantai.

“Donghae,” ia memanggil nama Donghae lagi dan lagi, sampai kakinya tersandung dan ia terjatuh menyebabkan lututnya terluka. Tapi ia tidak peduli, ia memilih untuk tidak berdiri, dan terus menangis. Ia merasa tak enak hati karena jantung yang ia miliki sekarang adalah jantung milik Donghae. Donghae memilih untuk bunuh diri demi menyelamatkannya. Dan yang paling menyakitkan adalah bahwa laki-laki itu dibayar oleh ayahnya untuk menjaganya saat ia jauh dari rumah.

“Sica!” panggil seseorang dengan nada khawatir. Ia berlari mendekatinya dan membantunya berdiri.

“Jangan sentuh aku,” katanya sambil melepaskan genggaman orang itu. Ia berdiri dan berjalan menjauh darinya.

“Sica, kumohon…”

Jessica mengabaikannya dan terus berjalan menjauh, meringis kesakitan.

Yuri segera menyadari hal itu dan mengikutinya.

“Jangan ikuti aku, Kwon Yuri!” Teriaknya, bahkan sebelum Yuri berhasil mendekatinya.

“Aku harus mengikutimu.”

Ia berhenti dan berbalik padanya, “Apa yang kau inginkan dariku, Kwon?”

Cara dia memanggil namanya sangat menusuk hatinya. Tapi Yuri tak akan menyerah. “Kau… Yang aku inginkan hanyalah kau, Jessica.”

Jessica mendengus, “Apa yang kau katakan? Pergi dari sini dan pergi dari kehidupanku. Kau bukanlah siapa-siapa.” Jessica berbalik dan mulai berjalan lagi. Tapi kemudian Yuri menariknya dan memeluknya dari belakang.

“Aku mencintaimu,” bisiknya. Jessica berusaha melepaskan pelukannya tetapi Yuri tidak mengizinkannya. “Aku mencintaimu Jessica,” ulangnya. “Kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu. Saat Kau pergi,” ia terisak. Ya, ia menangis. Jessica berhenti dan melihat ke bawah. “Aku… aku sangat terpukul. Aku terlambat menyadari perasaan cintaku padamu. Aku bodoh. Cukup bodoh untuk tidak menyatakan perasaanku dan hanya membiarkanmu pergi. Aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa makan, aku tidak bisa fokus. Jessica, kumohon percayalah. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” isaknya.

Jessica merasakan air matanya mengalir dari matanya. Rasanya seperti mimpi ketika Yuri mengatakan bahwa dia mencintainya. Ia marah, kenapa ia tidak memiliki kekuatan untuk tetap marah padanya. Meskipun kemarahan itu bertahan selama hampir 3 tahun, ia tahu dan takut bahwa semua kemarahan dan kebencian yang ia tahan selama bertahun-tahun akan hilang begitu ia kembali melihat Yuri.

“Yuri …”

“Romantis sekali,” seorang pria tiba-tiba berbicara.

Jessica mendongak dan melihat tiga pria kekar di depan mereka yang menyeringai keji pada mereka. Ia cepat-cepat menyeka air matanya dan mencoba untuk menjauh dari genggaman Yuri. Bukannya melepaskan Jessica, Yuri malah memutarnya, membuat wajah gadis itu menghadap dadanya dan ia memeluknya dengan erat.

“Apa yang kau inginkan?” Tanya Yuri dingin saat ia mendeteksi bahaya dari mereka.

“Sepertinya kau kaya, apa kau memiliki sesuatu di sana? Kami belum makan malam.”

Yul cepat meraih sakunya menggunakan tangannya yang bebas dan mendesis saat ia lupa membawa uangnya di rumah. “Maafkan aku, tapi aku tidak punya uang.”

“Kita tidak bisa menerima jawaban itu pria tampan,” jawab salah satu dari mereka.

“Beri kami uang atau jika tidak, kami akan membunuhmu,” ancam yang lainnya.

Jessica berusaha untuk melihat mereka tapi Yul tidak mengizinkannya dan menyembunyikan dia di dadanya. Ia mencari sesuatu untuk diberikan kepada mereka hanya untuk membuat mereka pergi. Ia segera menyadari jam tangannya.

“Ini, ambil ini,” katanya sambil melepas jam tangannya. “Ini adalah merek mahal, jam ini akan dikenakan biaya banyak.” dengan gugup  ia melepas jam tangannya dan melemparkannya ke tanah saat salah satu tangannya kembali untuk mengamankan Jessica dalam pelukannya. Jessica benar-benar merasa aman dalam pelukan Yuri tapi mendengar detak jantungnya yang keras membuatnya ingin tertawa.

Dia gugup, pikirnya. ‘Orang-orang ini pasti benar-benar berbahaya.

Salah satu pria menyeringai dan mengambil arloji itu. Saat ia mendongak, ia ingat betapa cantiknya gadis yang berada dalam pelukan pria berkulit kecokelatan itu. Ia menjilat bibirnya dan perlahan-lahan pergi ke pemimpinnya dan mulai berbisik-bisik.

Pemimpin itu tertawa keras dan mengangguk. “Kami ingin satu hal lagi. Ketika kami mendapatkan itu, kami bisa mengizinkanmu pergi.”

“Berikan gadis itu pada kami!” tambah pria yang lainnya.

Yuri mengencangkan tangannya di sekitar Jessica dan gadis itu melakukan hal yang sama.

“Tidak, aku sudah memberi apa yang kalian inginkan.”

“Ini tidak cukup, kami ingin beberapa hiburan.” Kemudian ketiga pria itu tertawa keji.

Jessica menutup matanya, mencerna apa yang mereka katakan.

“Tidak, kau tidak bisa menyentuh istriku tidak sampai kau membunuhku,” Yuri menggertakkan giginya dan ia mengubah posisi mereka, Yuri membuka tangannya lebar-lebar menghalangi orang-orang itu sementara ia membuat Jessica memeluknya dari belakang.

“Jessica, kau harus lari,” bisiknya.

Dengan cepat Jessica menatapnya, matanya menolak permintaannya.

Yuri terkekeh, “Jangan keras kepala, Sica. Seobang harus melindungi istrinya.” ia tersenyum lebar dan dengan cepat memutar kepalanya ke arah orang-orang itu. “Pada hitungan ke-tiga, kau pergi.”

“1… 2… 3…” bisiknya. “Lari!!”

Yuri berlari menghampiri orang-orang itu dan memukul mereka sementara Jessica melarikan diri dari tempat kejadian, namun ia memutuskan untuk bersembunyi di balik semak-semak.

Pada awal perkelahian, Jessica bisa melihat Yuri menghindari setiap pukulan yang diberikan kepadanya dengan mudah, tidak sampai salah satu pria memukul keras perutnya, membuatnya memuntahkan beberapa cairan. Jessica terkesiap. Yul sekarang berlutut, dua pria itu menahan sisi tubuhnya, sementara pemimpin mereka tertawa.

Jessica tidak tahu harus berbuat apa. Yuri dalam masalah, sementara ia ada di sini, menyembunyikan dirinya sendiri. Orang-orang itu berhenti sejenak, terlihat mereka seperti sedang bercakap-cakap atau jika tidak, mengumpat. Beberapa saat kemudian perkelahian dimulai kembali, ia senang bahwa Yuri bisa berkelahi dengan baik. Ia tiba-tiba melihat tiga pria itu melarikan diri dengan pincang, sementara Yuri terjatuh.

Begitu ia melihat Yuri tergeletak di tanah ia berlari secepat mungkin dan menatapnya dengan cemas. Alis laki-laki itu berkerut.

“Yul,” serunya. Yuri membuka matanya dan tersenyum. “Sica,” ia menelan ludah. “Kukira aku menyuruhmu untuk melarikan diri?”

Seolah-olah tidak mendengar apa pun, ia bertanya, “Kau baik-baik saja?”

“Ya.”

Jessica mendesah lega, tapi segera menyimpulkan bahwa laki-laki itu berbohong ketika darah di kemejanya menjadi lebih jelas. Ia segera mengangkat kemejanya dan melihat luka tusukan pisau di bagian sisi perutnya.

“Kau berdarah.”

“Tidak apa-apa, aku berhasil mengelak. Lukanya tidak terlalu dalam,” katanya sambil terengah-engah saat ia mencoba untuk bergerak.

“Kita harus kembali ke rumah, langitnya sudah mulai gelap,” kata Jessica sambil melihat sekitarnya, berusaha menemukan jalan untuk kembali ke rumah.

Memotong kemejanya dengan pisau di samping mereka, Jessica mengikatkannya di sekitar perut Yuri yang terluka dan memasangnya erat-erat membuat laki-laki itu kesakitan.

“Jangan cengeng, kita harus kembali ke rumah sekarang,” kata Jessica sambil membantu dia berdiri dan melingkarkan lengan laki-laki itu di pinggangnya.

“S-sica… aku ingin tidur,” gumamnya nyaris tak terdengar.

“Jangan berani-berani kau tidur, Yuri!”

“Aku… mengantuk…”

Jessica mencubit keras kulitnya, membuat laki-laki itu berteriak.

“Sekarang, katakan apa saja yang ingin kau katakan, bicaralah,” perintah Jessica, cara itu mungkin cara terbaik untuk membuat laki-laki itu tetap terjaga.

“Bagaimana kabarmu dan Donghae?”

Jessica menelan ludah, Kenapa dari semua pertanyaan yang ada, kenapa dia memilih pertanyaan ini?’ pikirnya dan menelan ludah sebelum menjawab. “Dia… dia sangat menyayangiku… Dia melindungiku… dan mencintaiku tanpa syarat…”

“Kau mencintainya?”

“Aku…”

“Mungkinkah kau mencintaiku?”

Suasana di antara mereka menjadi hening dan mereka sudah dekat dengan rumah, Jessica mengetahuinya, ia akhirnya melihat pintu gerbang rumah mereka.

“Yul…”

“….”

“Yah! Kwon Yuri!”

Jessica panik, ia sangat ingin melihat keadaannya tapi ia memutuskan untuk berjalan menuju rumah dengan lebih cepat.

“AYAH! IBU! TIFFANY! TAENG! TOLONG AKU!!” Serunya. Tidak ada yang menjawab. Ia melihat berkeliling, hening. “Ini tidak mungkin,” gumamnya. Ia membaringkan Yuri di sofa terdekat dan memeriksa denyut nadinya, ia mendesah lega melihat laki-laki itu masih hidup. Ia pergi untuk mengambil kotak obat dan mengambil semua peralatan yang diperlukannya dengan gugup. Ia melepas kemeja laki-laki itu dan menuangkan alkohol ke seluruh lukanya. Ia bisa mendengar Yul, meringis.

*****

“Kami belum menemukan mereka, Pak.”

“Belum? Bagaimana bisa? Semalam ini?” Tanyanya kesal.

“Kami sudah memeriksa seluruh area yang Anda beritahukan kepada kami dan kami tidak melihat salah satu dari mereka,” pria itu menjelaskan.

“Periksa rumahnya, mungkin mereka sudah ada di sana,” desahnya.

“Ya, Pak. Kami harap Anda memaafkan kami.”

“Tidak apa-apa.”

Panggilan berakhir.

“Mereka belum menemukan Yuri dan Jessica,” katanya begitu ia melihat istrinya.

“Benarkah? Sekarang apa yang harus kita lakukan, Tae?” Tanya Tiffany.

Ia mendengus, “Kita akan tetap menjalankan rencana itu. Aku sudah menyuruh mereka untuk pergi ke rumah, mungkin mereka ada di sana.”

Tiffany mengangguk. “Oke, semoga semuanya akan berjalan dengan baik.”

*****

“Ugh…” ia mengerang. “Yul berat sekali!” Jessica terengah-engah ketika ia merapikan tempat tidur untuk Yuri. Ia telah memutuskan bahwa akan lebih baik untuk menempatkan Yuri di kamar agar ia dapat melihatnya. Setelah membaringkan dia di balik selimut, Jessica memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari keluarganya. Tapi setelah memeriksa semua ruangan, ia menyimpulkan bahwa mereka telah pergi. Ia mendesah saat ia kembali ke kamar Yuri.

“Sica…” gumamnya.

Ia segera berlari ke sisi Yuri dan menatap ekspresi wajahnya yang kesakitan dengan cemas. Ia membelai pipinya.

“Kumohon… tetaplah di sini…”

Jessica tidak tahu harus berbuat apa. Yuri telah melunakkan hatinya yang keras dan sekarang melihat Yuri seperti ini, sangat menyakitkan baginya. Ia bersyukur bahwa laki-laki ini melindunginya dari orang-orang tadi. Ia tiba-tiba tersenyum ketika Yul menyebutnya sebagai istrinya dan itu membuat hatinya berbunga-bunga. Semua ini tidak terkesan nyata tetapi ia akan bertanya pada Yuri. Ia tidak bisa menyangkalnya. Ia jatuh cinta berkali-kali, pada orang yang sama.

“Aku cinta padamu…” laki-laki itu terus bergumam.

“Aku juga…” bisiknya dan memegang tangan Yuri. Rasanya seperti SMA lagi. Ini adalah pertama kalinya ia tidur dengan sangat bahagia, pertama kalinya sejak mereka berpisah tiga tahun lalu.

*****

“Tuan, kami sudah menemukan mereka…”

“Oke, bawa mereka ke lokasi kami….” perintahnya.

Baik, tuan.”

*****

Keesokan paginya, matahari bersinar begitu terang, menerangi ruang di mana dua sosok terbaring. Salah satu dari mereka mengerang. Lukanya berdenyut-denyut nyeri, ia meringis begitu ia memeriksanya. Ia memutuskan untuk melihat-lihat dan mengerjapkan matanya berkali-kali, menerka-nerka di mana ia berada. Tiba-tiba, ada yang bergerak di sampingnya. Ia segera berbalik dan matanya melebar begitu ia mengenali siapa orang itu. Orang itu adalah Jessica.

Tidak peduli di mana ia berada, ia memutuskan untuk berbaring dan menghadap bidadari yang tertidur di sampingnya. Ia tidak bisa menahan senyumnya ketika mimpinya untuk melihat wajah gadis itu sedekat ini akhirnya menjadi kenyataan. Mengabaikan rasa sakit dari lukanya, ia perlahan menarik tubuh gadis itu lebih dekat dengannya, berharap untuk tidak membangunkannya. Berhasil memeluknya, ia merasa seperti berada di surga, mencium aroma strawberry yang dipancarkan gadis cantik di bawah lengannya. Ia menutup matanya berharap ia bisa kembali tidur.

“Jika ini adalah mimpi, aku akan tinggal di mimpi ini selamanya,” pikirnya.

*****

Merasakan kehangatan tubuh di sampingnya, ia merasa bahagia dan pada saat yang sama aman dengan tangan hangat yang melingkar erat di sekelilingnya. Ia mengencangkan pelukannya juga dengan kakinya yang terjerat dengan sepasang kaki lainnya di bawah selimut. Rasanya seperti mimpi baginya, semuanya terasa begitu nyata. Ia tertawa saat merasakan tangan hangat itu tiba-tiba menyisir rambutnya. Ia berharap ia tidak akan terbangun lagi. Lalu tiba-tiba gerakan itu membuatnya bingung. Matanya langsung terbuka dan ia duduk.

“Apa kau mimpi buruk?” tanya sebuah suara tiba-tiba.

Ia cepat-cepat menoleh untuk melihat asal suara dan matanya melebar.

“Apa… Apa yang kau lakukan di sini? Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa aku tidur di sebelahmu?” Tanyanya panik. Ia melihat berkeliling. Ia berada di sebuah kamar asing. “Di mana kita? Bagaimana kita sampai di sini?”

Yuri tetap menatapnya, tersenyum.

“Jawab aku Kwon YURI!!” Teriaknya.

Yuri mendengus, “Aku tidak tahu. Saat aku bangun, kau sudah berada di sisiku.”

“Bagaimana ini bisa terjadi? Oh Tuhan, di mana Jisoo?” ia mulai menggumamkan kata-kata yang tidak jelas sambil melihat sekelilingnya.

“Tenang, Sica.”

“Tenang? Kenapa aku harus tenang? Aku tidak tahu di mana aku berada? Kenapa aku bersamamu dan tidur di sebelahmu?”

Yuri mendesah dan menariknya ke sampingnya, membaringkannya di tempat tidur.

“Bisakah untuk saat ini kau lupakan semua itu?” Tanyanya sambil memeluknya. “Aku ingin menghabiskan waktu denganmu.”

Jessica merasa kaku di bawah lengannya, tetapi ia segera merasa santai dan perlahan-lahan merenggangkan dirinya. Suasana di antara mereka pun menjadi hening.

“Aku mencintaimu.”

“Yul…”

“Jessica aku mencintaimu,” ulang Yuri, memotong ucapannya.

“Kita… KITA TIDAK BISA…”

“Aku masih mencintaimu…” katanya, mengencangkan pelukannya pada gadis itu.

Jessica mendorongnya, “Bisakah kau setidaknya biarkan aku menyelesaikan ucapanku?”

Yuri terkejut dan mengangguk sambil terkekeh padanya.

“Yuri, kita tidak bisa bersama lagi…”

Wajah Yuri berubah muram.

“…dalam sekejap…”

“Apa maksudmu?”

“Yuri, aku juga mencintaimu, tapi…”

“Tapi apa?”

“Bisakah kau diam? Aku sedang menjelaskannya!”

Yuri tersenyum dan menutup bibirnya.

“Kau harus menjelaskan apa yang terjadi malam itu? Aku akui, aku sangat terluka begitu kau menyuruhku pergi dan.”

Yuri memotong ucapannya, “Menggugurkan Jisoo?”

“Bagaimana kau tahu?”

Yuri segera menutup bibirnya lagi.

Jessica memutar bola matanya, “Oke kau boleh bicara sekarang.”

Ia tersenyum, “Donghae, dia memberitahuku apa yang terjadi.”

“Bagaimana… berapa lama kau mengetahui hal ini?” Tanyanya, bertemu dengan tatapan Yuri.

“Sehari sebelum dia meninggal…” katanya. “Sica, aku ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Aku pergi ke taman. Aku… aku sudah siap untuk menyatakan perasaanku, untuk mengatakan bagaimana perasaanku padamu. Tapi sialnya… aku terjebak macet dan tidak datang tepat waktu.”

“Kau mengirim sms padaku!!” Tuduhnya.

“Aku sangat antusias untuk bertemu denganmu sehingga aku tidak punya waktu untuk membalas pesanmu atau bahkan meneleponmu.”

“Bahkan saat kau terjebak macet?” Tanyanya.

“Aku menyadari kalau aku meninggalkan ponselku di apartemen karena tunanganku datang dari Eropa,” jawabnya.

“Jadi… kau punya tunangan?”

“Tapi sekarang tidak…”

Jessica menatapnya, penasaran.

“Aku sudah bilang, aku sangat terpuruk dan dia akhirnya meninggalkanku. Lagipula aku tidak menyukainya, aku menyukaimu. Tidak…aku mencintaimu…”

Jessica mendengus.

Yuri memeluknya lagi, “Selama tiga tahun, aku menunggu saat-saat untuk menyatakan perasaanku padamu, untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu, di setiap harinya dalam hidupku.”

“Tiga tahun lalu, aku sangat hancur karena kau bilang kau tidak menginginkan kami berdua. Aku tidak tahan dan lari darimu dan keluargaku. Lalu Donghae datang.”

“Pertama-tama, aku benar-benar tidak mengatakan apa pun tentang menggugurkan dan membunuh anak kita. Kalau saja aku datang tepat waktu, semua ini tidak akan terjadi. Kita bisa menjadi keluarga yang bahagia.”

Jessica bisa merasakan kesedihan dengan hanya mendengar suaranya.

“Aku bisa melihat Jisoo tumbuh dewasa. Aku bisa menjadi ayahnya.” Ia mulai terisak-isak. “Saat aku tahu aku adalah ayahnya, aku merasa tidak berguna. Dia tidak tahu aku sebagai ayahnya. Aku benar-benar menyesal. Kebodohanku menyebabkan kesakitan dan kebencian ini selama bertahun-tahun. Maafkan aku.”

Jessica menarik diri dari pelukan Yuri dan menatap matanya. Tatapan laki-laki itu sedih, tatapan yang merindukannya. Jessica menciumnya. Mata Yuri melebar. Jessica menarik diri dan tersenyum. “Aku juga mencintaimu.” Ia menyeka air mata laki-laki itu dan memeluknya.

*****

“Bagaimana keadaan mereka?” Tanya Tiffany.

“Mereka sudah di lokasi,” Taeyeon tersenyum. “Sekarang kita hanya perlu membiarkan mereka di sana.”

“Lima hari,” Tiffany menunjukkan eye smile-nya.

“Ya, lima hari,” suaminya mengangguk.

“MOM!!!”

Keduanya saling melirik dan menghampiri Jisoo.

“Lima hari mengasuh bayi, aisshh…” keluh Taeyeon.

~~~;~~~~;~~~

TBC

oke stop, udahan nyengirnya 😀

btw next part itu semacam ada ‘NC’nya, dan gue rada awkward gitu nerjemahinnya, jadi gue mutusin buat gak nerjemahin bagian NC haha tapi ga bakal gue protect sih 😀 *lameexcuse*

 credit: zhel @SSF

boiboi~

Advertisements

45 thoughts on “Unlike Him [Chapter 24]

  1. Annyeong thor
    Maaf br bs komen
    Finally yulsic bs nyelesaiin mslh mereka slama ini
    Loh knp g dterjemahin ncny? 😦
    Smangat thor

  2. finally!!!!! yulsic is back!! huwaaaa stelah skian lama badai menerpa akhir.y yulsic comeback jg!
    ko’ kgk diterjemahin sih? wkwkwk
    ok gw cmn nunggu sweet” moment yg bs bkin diabet aja deh hihi

  3. Yyyyyyyyeeeeeee…..
    Akhirny yulsic kombek jg…
    Tinggal nunggu sweet moment ny nich…
    Ya sebagian aj yg NC d trjemahin gk smua ny…hehehe…
    Lanjut thor…..

  4. Kirain bakalan ada perang dunia ketiga antara yul ama sica sebelum mereka baikan lagi.
    Tapi untunglah mereka baikan dalam satu part.hahaha.
    Buat taeny…Selamat jadi pengasuh bayi selama 5hari.Itung” belajar ngurus anak 😀 😀

  5. annyeong ……..

    Hello !!!!!!! akhirny d lanjut .. kkeee
    Akhirnya juga ksalah pahaman YulSic udh selesai yaww …
    Mkin nunggu next chap nyah!!
    SEMANGAAAAAAAT

  6. sica akhirnya mendapatkan penjelasan dari yuri dan sica masih mencintainya dan mereka mendapatkan 5 hari yg spesial sedangkan taeny mendapatkan 5 hari yg buruk menrut taeyeon karena harus menjaga anak mereka
    lanjut lagi thor kalo bisa NC harus ada.percuma kalo 5 hari ga ada moment spesial NC yulsic

  7. Akhirnya habis gelap terbitlah yulsic :3
    Lol taeny bakal jadi pengasuh jisoo, itung-itung belajarlah entar kalo udah punya baby kekkee

  8. akhirnya sicca maafin yuri jugaaa,,,
    hahaha, 5 hari buat yulsic bersama,,
    dan 5 hari juga buat taeny ngurusin tuhh anak yulsic ahahahah

  9. tau aja kl bacanya smbil nyengir hehehe
    whoaaaa yulsic akhirnya baikan, lega akhirnya smua keslah pahaman yulsic slma brthn2 dah slesai, tinggal nunggu nc an nih#eh yadongnya kambuh
    wkwkwk taeny untk smentara jd babysitter nya jisoo

  10. yeaaaay!!! akhirnya 3 kata itu yuri ucapkan dan jessica ngebalasnya. yuhhhuuuuu yulsic jadian tinggall tunggu tanggal nikahnya. 😀

  11. aw yul oppa keren, menyebut sica innie istrinya..
    untung yul oppa kagak mati, kalau mati kan kasihan sica onnienya..
    yes akhirnya yulsic bersatu dan sica onnie tau tentang kebenarannya..
    senangnya..
    apa sih rencana taeny ??
    kompak banget jadi pasangan.
    haha, lima hari mengurus bayi..
    yang sabar ya taeny..
    lanjut chingu.
    selalu ditunggu..
    see you.

  12. masih agak nggak terima sich sica nerima yul dengan mudahnya setelah pengorbanan hae,,
    tapi ya ikut bahagia kalo akhirnya yulsic bersatu..

  13. Lala yeyeye lala la yeye
    Cieee udah utarain cintanya ni ye langsung ae meluk2
    Btw alurnya cepet banget yak kirain ada moment dimana sica nangisin donghae sampe berlarut2 gitu kan biar mendramatisir dikit lah

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s