Unlike Him [Chapter 26]

Hiiiii 😀

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

Chapter 26

 

Lima hari telah berlalu dan pasangan itu menghabiskan waktu mereka bersama-sama dengan makan, tidur, bermain-main, seakan tidak ada yang terjadi selama tiga tahun mereka berpisah. Seolah-olah mereka sedang berbulan madu. Lebih dari sekadar bulan madu yang pernah dilakukan TaeNy. Masalah mereka telah diselesaikan. Keduanya juga telah menyerah untuk mencoba keluar dari tempat yang tidak mereka ketahui dan hanya menikmati waktu yang mereka miliki bersama.

Saat makan siang, keduanya saling menyuapi. Jessica ingin tetap seperti ini selamanya, mereka berdua, dengan hidup yang sederhana, dengan senyum puas yang tersungging di wajah mereka. Mereka bahagia, tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan, tidak diragukan lagi.

“Menikahlah denganku…” kata Yuri sambil mencium buku-buku jemari Jessica.

“Ya, aku akan menikah denganmu.” Jessica tersenyum manis pada tunangannya. “Meragukanku, eh?”

“Maksudku sesegera mungkin, aku ingin kau menjadi istriku…”

“Apa maksudmu?” Tanyanya, memiringkan kepalanya sambil sedikit mengerutkan kening.

“Kita akan menikah begitu kita sampai di rumah. Pada hari yang sama,” usul Yuri, menatapnya tulus.

“Benarkah? Apa kau yakin?”

Yuri mengangguk. “Aku sangat yakin. Kumohon?” Pintanya.

“Kau tidak perlu memohon Yuri. Aku sudah menyetujuinya. Dan aku akan bersedia untuk menikah denganmu kapan saja, di mana saja.”

“Terima kasih,” Yuri tersenyum dan memeluknya dengan erat. “Tema apa yang kau mau? Mewah? Kerajaan? Katakan saja dan aku akan menyiapkannya untukmu.” Tanya Yuri antusias.

Jessica tertawa melihat tunangannya yang lucu, “Yuri, aku ingin pernikahan kita sederhana. Hanya dengan keluarga dan teman dekat kita, dan tentu saja kita berdua. Itulah yang paling penting, kita.”

Yuri tersenyum lebar, “Sica romantis, eh? Aku mencintaimu…”

“Aku lebih mencintaimu,” jawab Jessica.

“Tidak, aku lebih mencintaimu…”

Setelah makan siang, mereka memutuskan untuk menonton film romantis dengan Jessica yang merebahkan kepalanya di pangkuan Yuri, dan kemudian suara ketukan mengejutkan mereka berdua. Mereka saling bertukar pandang dan segera berlari menuju pintu. Mereka berhenti di depan pintu dan bertemu dengan Mr. Kim.

“Tuan Yuri, Nona Jessica, selamat siang,” ia membungkuk.

“MISTER KIM!!” Seru Yuri dan tanpa sadar memeluk pria tua itu. “Syukurlah kau di sini! Aku merindukanmu…”

“Saya juga, Tuan,” jawabnya, tertawa.

“Kenapa kau di sini, Mister Kim?” Jessica, yang juga cekikikan melihat tunangannya yang kekanak-kanakan, bertanya.

“Uhm, ya Nona,” katanya, menyatakan misinya. “Sudah waktunya pulang,” ia tersenyum.

*****

“MOM!!” Jisoo berlari begitu ia melihat kedatangan ibunya.

“Ya Tuhan, Jisoo,” serunya, ibu dan anak itu bertemu dan berpelukan secara dramatis, seperti di film-film.

“Aku harap aku bisa memeluk Jisoo seperti itu juga, memanggilku ayahnya,” Yuri, yang membuntuti Jessica, bergumam pada dirinya sendiri.

“YURI!!” Seru Taeyeon, berjalan ke arahnya seperti yang dilakukan Jisoo sebelumnya. Kemudian Yuri memutuskan untuk menunggunya dan mulai memikirkan rencana untuk mencekiknya nanti.

Yuri memutar bola matanya pada sahabat-pendek-dramatisnya. Istrinya yang berjalan di sampingnya juga sama antusiasnya dengan yang lain. Hanya Mr. dan Mrs. Jung yang tidak terlihat.

Dan begitu Taeyeon dekat dengan mereka, Yuri segera berlari ke arahnya, dan mengunci kepalanya. “Kau, Kim Taeyeon! Aku akan mencekikmu sampai mati!”

“Yah!!!! Kwon YURIIII!!! Lepaskan aku. Aku tahu kau menikmatinya juga,” teriak Taeyeon saat ia mencoba lepas dari lengan laki-laki yang lebih muda itu.

“Ya, berkat kau,” katanya sinis.

“Ayolah Yuri, kita bicarakan di luar,” katanya, begitu Yuri melepaskannya.

Yuri menoleh ke Jessica seolah-olah meminta izin darinya. Jessica mengangguk dan Yuri segera mengatakan ‘ya’ pada Taeyeon.

Saat mereka berdua duduk di bangku taman mereka, Taeyeon tersenyum lebar pada Yuri. Langit di luar sudah gelap dan Taeyeon tidak tertarik untuk berbelit-belit.

“Jadi, katakan padaku. Bagaimana semuanya?”

“Tidak ada,” jawab Yuri, berwajah polos.

“Tidak ada apanya, Kwon Yuri, Aku melihat itu sebelumnya. Katakan padaku, apakah kalian akhirnya bersama-sama?” Tanyanya. “Ayolah kawan!”

Suasana menjadi hening sejenak sebelum Yuri memutuskan untuk menjawabnya, “Kami berpacaran.”

“YES!!!” sorak Taeyeon dengan kekanak-kanakan, mengangkat tangannya ke udara.

Yuri tidak bisa menahan senyumnya. “Terima kasih teman, sungguh. Jika bukan karena ini, Sica dan aku tidak akan bersama-sama.”

“Itu membuktikan kejeniusanku,” katanya.

“Tapi seberapa bersyukurnya aku, aku akan mencuri semua dookongmu!”

“Yah!!!”

“Jangan bilang ‘yah!’ padaku Kim Taeyeon. Berkat orang-orang berpenampilan kejam suruhanmu itu aku kena tikam. Tapi dengan begitu Sica merawatku. Itu ide yang bagus, tapi aku bisa mati, beran-beraninya kau!”

“Apa yang kau bicarakan?” Taeyeon mengerutkan kening.

“Aku hampir terbunuh, idiot!” Ia menggertakan giginya.

“EH?” Seru Taeyeon. “TIDAK! Aku tidak melakukan itu! Aku hanya meminta mereka menculik kalian berdua lalu membawa kalian ke tempat rahasiaku.”

Yuri mendengus, “Kau bohong, Kim Taeyeon!”

“Aku bersumpah aku tidak melakukan itu!” Kata Taeyeon. “Aku bersumpah padamu, kami tidak berniat melakukan itu.”

Yuri mengangkat alisnya sementara Taeyeon mengangguk padanya, meyakinkan dia.

“Sungguh?”

Taeyeon mengangguk lagi.

“Aishh, lalu orang-orang itu… mereka… mereka menginginkan Sica… aish… terkutuklah mereka…” kata Yuri marah.

“Siapa yang tidak mau? Jessica adalah salah satu wanita yang seksi.” Taeyeon menyeringai.

“YAH!!! Kim Taeyeon!!!”

“Hanya bercanda…”

“Aku tidak akan mengampuni dookongmu…” ia cemberut dengan kekanak-kanakan.

“Hei, anakmu sudah menyalahgunakan semua dookongku dan melemparkan mereka ke seluruh penjuru ruangan. Mereka semua ada di laundry sekarang, malangnya dookong,” ia terisak.

“Berbicara tentang anakku bagaimana keadaannya?”

“Sangat hiper-aktif seperti dirimu, tapi menangis dengan begitu keras seperti ibunya,” katanya, masih terisak. “Kembali ke pertanyaanku yang sebelumnya, bagaimana kabar KALIAN BERDUA?” Tegasnya.

“Kami akan menikah, hari ini,” ia tersenyum.

“MENIKAH? HARI INI?” Tanya Taeyeon keras.

“Yup, kami sudah sepakat,” jawabnya bangga.

“Apa? Terbang ke Las Vegas dan menikah?” ia mendengus.

“Kalau bisa, kenapa tidak?” Yuri mengangkat bahu. “Pernikahannya tidak perlu bermewah-mewah, segera setelah kami terikat secara hukum, aku tidak keberatan.”

Ekspresi wajah Taeyeon melunak dan tersenyum, “Aku ikut senang teman,” katanya dan memeluk sahabatnya.

“Terima kasih, aku sungguh-sungguh, Taeng. Terima kasih atas semua yang telah kau lakukan.”

“Tidak masalah, saudaraku.”

Keduanya tertawa.

“Omong-omong bisakah kau membantuku mencarikan seorang pendeta atau semacamnya?”

“Tentu. Tapi bisakah kau setidaknya menunda pernikahan ini sampai besok?” Tanya Taeyeon. “Aku akan meneleponnya, jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya. Yang harus kalian lakukan adalah beristirahat dan menjadi tampan dan cantik, oke?” Taeng tersenyum.

“Benarkah??? Terima kasih, Taeng.”

Segera, setelah beberapa saat mengobrol, keduanya kembali memasuki rumah, Yuri kemudian melihat Mr. Jung, yang sedang berjalan menuju ruang kerjanya.

“App… Sir!” Panggilnya, mengoreksi dirinya sendiri. Karena ia akan melamar putrinya, ia berpikir bahwa ia harus bersikap formal dengan dia.

“Yuri, selamat datang di rumah.”

“Sir, saya ingin berbicara dengan Anda.”

Merasakan aura serius yang dipancarkan Yuri, Mr. Jung dengan senang hati membuka pintu ruang kerjanya dan mempersilakan pria muda itu masuk. Keduanya duduk saling berhadapan.

“Sir, saya akan menikahi putri Anda.”

Keheningan menyelimuti di seluruh penjuru ruangan. Wajah pria tua itu terlihat tanpa emosi dan itu membuat Yuri gugup hingga ia bisa mendengar debar jantungnya sendiri.

“S-sir?”

“Aku senang kau akhirnya melamar putriku.”

Yuri mengembuskan napas lega.

“Kapan?”

“Hari ini,” ia tersenyum penuh kemenangan, ia bersyukur Mr. Jung telah menerimanya dengan begitu cepat.

“Hari ini?” Seru Mr. Jung, matanya melebar.

“Ya, tadinya. Tapi aku dan Taeyeon memutuskan untuk menundanya sampai besok dan setidaknya bersiap-siap sedikit,” jelasnya.

*****

Yuri tersenyum lebar saat ia mengetuk pintu kamar Jessica. Pintu terbuka dan Jisoo berlari menghampirinya.

“UNCLE YOWREE!!!” Jisoo menyambutnya, menyunggingkan senyum lebar.

“Halo, sobat,” Yuri balas menyapa, menggendongnya. “Di mana mommy?”

“Di kamar mandi,” katanya sambil menunjuk dengan polos.

“Bolehkah Uncle masuk?”

Jisoo mengangguk.

Mengunci pintu, mereka berdua duduk di tepi tempat tidur. Ia merasa senang berada dekat dengan anaknya. Jisoo kemudian melompat dari pelukan Yuri dan berlari menuju boneka Mickey Mouse yang terletak di sudut kamar. Melihat betapa kotornya boneka Mickey tersebut, Yuri merasa kasihan terhadap temannya. Ia mencintai semua koleksi mainannya seolah-olah mereka adalah anak-anaknya, namun ia menyingkirkan pikiran-pikiran tersebut, Jisoo, anaknya yang sebenarnya akan lebih membutuhkan boneka-boneka tersebut daripada hanya tersimpan di dalam lemarinya. Mungkin ia harus memberikan boneka-boneka itu satu per satu.

Setelah Jisoo menceritkan semua hal yang Uncle Taeyeon dan Aunt Tiffany mainkan beberapa hari terakhir membuat Yuri merasa lebih senang. Beberapa hari terakhir ini Jisoo secara aktif berlarian, melompat ke sana kemari.

Seperti inikah rasanya menjadi orangtua?” Pikirnya. Begitu memikirkan dirinya menjadi orangtua, Yuri memikirkan orangtuanya sendiri. Meskipun mereka tinggal cukup jauh dengannya, tetap saja mereka harus mengetahui langkah besar yang akan ia lakukan dalam hidupnya. Ia akan memberitahu orangtuanya nanti.

Beberapa saat kemudian, Jessica keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi.

“Jis-” panggilnya namun kemudian melihat laki-laki berkulit kecoklatan duduk di tempat tidur mereka. “Hei.” Wajah Jessica memerah ketika Yuri menoleh dan menatapnya dari kepala sampai kaki, merasa senang dengan apa yang dilihatnya.

Menyadari wajah tunangannya memerah, Yuri tersenyum. “Jisoo, Uncle Taeyeon ingin bermain denganmu. Dia bilang dia punya banyak boneka minion.”

“Benarkah?”

Yuri mengangguk.

Anak kecil itu berlari keluar dari kamar. Yuri dan Jessica tersenyum ketika mereka mendengar dia menyerukan nama pamannya, Uncle Taeyeon.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Jessica sambil duduk di sampingnya.

Yuri memegang tangannya dan menciumnya. “Aku sudah memberitahukan rencana kita pada Ayah dan Taeng,” katanya.

Mata Jessica melebar ngeri.

“Jangan khawatir,” tambah Yuri, memotong pikirannya. “Mereka senang dan Taeng menyarankan kita untuk menundanya sampai besok, dan aku menjawab kenapa tidak. Sekarang sudah cukup larut dan kurasa kita tidak bisa menemukan seseorang yang bisa menikahkan kita dengan begitu cepat.”

Jessica tersenyum dan membelai pipinya, “Aku tidak keberatan. Aku masih bisa menunggu.”

Hening sejenak, Yuri merebahkan kepalanya di pangkuan Jessica.

“Sica…”

“Hmmmm?” Tanyanya dan mulai menyisir rambut Yuri dengan tangannya.

“Haruskah kita memberitahu Jisoo sekarang?” Ia mendongak.

“Bagaimana?”

“Mungkin aku harus mencoba berbicara dengannya,” ia mengangkat bahu.

“Tentu saja, Yuri. Aku percaya padamu. Dan aku tahu kalian berdua akan memiliki hubungan yang sangat erat. Semuanya akan baik-baik saja.” Jessica tersenyum dan perlahan-lahan membungkuk kepadanya, menutup kesenjangan di antara mereka.

Mereka menarik diri dan saling bertatapan. “Bagaimana menurutmu kalau kita pindah?”

“Hmmm…” Jessica terdiam, berpikir sejenak. “Bagaimana kalau kita tinggal di sini untuk sementara waktu? Tentu saja Ayah dan Ibu masih ingin bersama kita semua, lihat saja Taeyeon dan Tiffany meskipun mereka sudah menikah, mereka masih tinggal di sini.” Jessica meyakinkan.

Mengerti maksudnya, Yuri tersenyum, “Oke, oke.” Ia duduk dan memeluknya.

“Dan satu hal lagi,” Jessica tersenyum, menyembunyikan wajahnya di dada Yuri, “Aku ingin kembali bekerja.”

“Bisa kau ulangi?”

“Aku… ingin… k-kembali…b-bekerja,” bisiknya, kali ini secara perlahan, mengintip sambil mengamati reaksinya.

“Apa kau yakin?” Tanya Yuri, tanpa emosi.

Jessica mengangguk takut.

Yuri merenung, mengusap-usap dagunya. “Kerja apa?”

“Pekerjaanku…”

“Benarkah?” Tanyanya lagi.

Jessica mengangguk, mencoba meyakinkan dia.

“Baiklah, tapi setidaknya kau harus memberitahuku di mana, kapan dan apa…”

“WHIIII!!” Jisoo yang tengah berteriak tiba-tiba memasuki kamar, mengejutkan pasangan itu. Seketika Yul merasa gugup untuk berbicara dengan putranya, lebih gugup daripada berbicara kepada investor perusahaan.

“Shhh…” Jessica menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya, membungkam anak kecil itu. “Kemarilah.”

Jisoo berlari ke arahnya dan Jessica mengangkatnya untuk duduk di pangkuannya. “Jisoo, pria ini akan mengatakan sesuatu padamu.” Dengan polos Jisoo menoleh ke arah laki-laki yang tengah gelisah di samping mereka.

“Uhm…” Yuri memulai dengan gugup.

Jessica menyikutnya, seketika itu Yuri menoleh ke pacarnya yang mendengus sambil mengerutkan alisnya.

Jangan bersikap seperti pengecut, pikir Jessica, berbicara melalui matanya.

Yuri mengangguk perlahan seolah-olah membaca apa yang dia pikirkan. Ia menghela napas dalam-dalam dan menatap anaknya. “Me-menurutmu…bagaimana kalau Uncle Yuri…Menjadi daddy Jisoo?”

“Daddy?” Ulang Jisoo. “Uncle Yuri menjadi daddy Jisoo?”

Yuri mengangguk dengan gugup, berpura-pura tersenyum kecil.

Jessica yang tampaknya tenang di luar memiliki dilemanya sendiri dan mengkhawatirkan bagaimana reaksi anak mereka dengan masalah ini. Ia berharap anaknya tahu bahwa Yuri adalah ayah kandungnya. Detik-detik berlalu seolah-olah mereka telah berjam-jam  menunggu jawaban anak mereka. Ia menggenggam sumber kekuatannya saat itu, Yuri-nya.

Jisoo melompat dari pangkuan Jessica dan berlari-lari di sekitar. “Yay! Jisoo punya dua Daddy!”

Keduanya saling bertukar pandang.

“Daddy Yuri,” Jisoo terus mengulanginya sementara masih berkeliaran.

Jessica segera menghentikannya, sebelum Jisoo mulai merasa pusing, “Panggil dia Appa.”

“Appa?”

Keduanya mengangguk. Jisoo tersenyum lebar dan mengangguk. “Appa Yuri…”

Yuri berlutut di samping anaknya dan memeluknya dengan erat. “Appa mencintai Jisoo!”

Jessica tersenyum dan bergabung dengan calon suaminya, dan mencium Jisoo. “Umma mencintai Jisoo.”

“Appa mencintai Umma,” kata Yuri sambil menatapnya, dan perlahan-lahan membungkuk untuk mencium pipinya.

“Umma mencintai Appa,” jawabnya dan melakukan hal yang sama.

Jisoo tertawa dan mencium pipi orangtuanya.

“Apakah Jisoo bahagia?” Tanya Yuri.

Tanpa ragu anak kecil itu mengangguk.

“Kemarilah,” kata Yuri, menyambut putranya ke dalam pelukan. Ia tidak menduga jika berbicara dengan Jisoo akan semudah ini. Meskipun dengan menyebutkan nama Donghae bisa membangkitkan banyak kenangan, ia tetap merasa bahagia. Ia akan membuktikan kepada Donghae bahwa kesempatan yang telah dia berikan padanya akan sangat dihargai. Ia akan membuktikan bahwa ia layak mendapatkan kesempatan kedua ini. Ia akan mencintai keluarganya dengan sepenuh hati.

“Besok akan ada pesta untuk Appa dan Umma, Jisoo harus tampan dan mengagumkan seperti Appa, oke?”

“Jisoo menjadi setampan Appa?”

“Tentu saja,” jawab Jessica, mencubit pipi anaknya. “Besok appa akan membantu Jisoo untuk menjadi tampan. Sekarang kita akan memulainya dengan pergi tidur.”

Dengan Jisoo yang berada di tengah-tengah, Yuri dan Jessica berbaring sambil memeluk Jisoo. Yuri berharap bahwa mereka akan seperti ini selamanya. Lalu tanpa sadar ia bersenandung untuk keluarganya. Ia membalikkan tubuhnya dan mengawasi mereka tertidur, tetapi hanya untuk melihat Jessica yang tersenyum padanya dengan tangannya di perut anaknya, menidurkannya. Dengan segera Yuri perlahan merangkak turun dari tempat tidur. Berusaha untuk tidak membangunkan putra mereka, Jessica mengikutinya dan mengantarnya ke pintu.

“Tidur yang nyenyak,” Yuri tersenyum.

“Aku akan mencobanya,” Jessica tersenyum manis.

Yuri memeluknya dan membungkuk ke depan untuk memberikan ciuman selamat malam.

“Tunggu, apa kau ingat apa yang kau katakan padaku dua hari yang lalu?”

“Yang mana?” Yuri mengerutkan kening.

“Kau akan membawaku untuk melihat kamarmu, kan?” Jessica tersenyum.

“Oh, benar,” Yuri mengangguk. “Bagaimana kalau kita pergi sekarang?”

Mencium anak mereka, mereka berjalan bergandengan menuju kamar Yuri. Ia membukakan pintu untuk Jessica sambil merangkul pinggangnya, Yuri membawanya ke tempat tinggalnya. Menyalakan lampu dengan cahaya redup, Jessica merasakan mulutnya menganga. Melihat koleksi tikus-tikusnya, Yuri sangat bangga akan hal itu dan membimbingnya untuk duduk di tempat tidur kecil yang ditutupi dengan sprei Mickey Mouse. Tiba-tiba sebuah ide muncul di otaknya.

“Bagaimana kalau kalian tinggal di sini?” Tanyanya, masih memeluknya dari belakang.

“Kau ingin kami pindah ke sini?”

Yuri mengangguk, “Jisoo akan tinggal di kamar ini dan kita berdua akan tidur di kamar tidur utama. Bagaimana menurutmu?” Yuri membuat gadis itu menghadap padanya. “Aku yakin dia akan senang.”

Jessica mengangguk.

“Terima kasih,” katanya, mencium keningnya. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu,” jawab Jessica. Dan segera, celah di antara mereka tertutup saat mereka berbagi ciuman penuh gairah.

“Ayo kita pergi, aku akan mengantarmu kembali ke kamarmu,” Yuri tersenyum saat mereka melepaskan ciuman.

Jessica mendengus. “Kau diam di sini, Mister. Aku bisa pulang sendiri.”

“Kau yakin?”

Jessica membelai pipinya, “Jangan terlalu memanjakanku, aku bukan bayi.”

Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kau Sicababy-ku.” ia tersenyum lebar.

“Sicababy? Bukankah itu agak sulit diucapkan?” Tanyanya, menggodanya.

“Aku tidak keberatan. Pergilah,” katanya. “Aku tidak ingin mempelai pengantinku berjalan seperti orang mabuk di altar karena tidak cukup tidur.”

“Selamat malam.”

 ~~~ ~~~ ~~~

TBC

credit: zhel @SSF

boiboi~

Advertisements

34 thoughts on “Unlike Him [Chapter 26]

  1. Authorrrrr… TBC ny nyebelin…
    Doyan bgt potong sweet momen thor 😦

    Akhirny yulsic bklan nikah.. Yeeeeee
    G ada konflik lg kan thor?
    Jd g sbar nunggu part sljtny
    Smangat ‘-‘)/

  2. Oh eg gehhhhhh,nif ff gw udah ketinggalan jauh bingittt yah,yeyyyyyyyy yulsicccc mau nikah ni yeeee,chukkaeee,bikin little kwon atu lagi yah,haahahaahha
    Mian thor,,aku baru komen d sini,soalnya baru nemu wp mu,mian yaaa

  3. Annyeong !!!!!

    Hey akhirnya. Apdet .. kkkee
    Ok , trnyta bulan madu slama 5 hri dngan cpat berlalu . . Pernikahan. Lbh cepat lbh baek ,,,
    Kemesraan YulSic ,jngan lah cepat berlalu,, dtunggu next chap nyah ..
    SEMANGAAAAAAAAT!!!!

  4. Kirain cuman gw yg bingung sama Las Vegas..Ngapain juga yulsic nikah di Las vegas
    ?haha
    Entah mengapa,baca unlike him akhir” ini selalu bikin gw diabetes.Manisnya ngalahin gula…#Lol
    Jadi rindu yulsic yg berantem.keke

  5. yeeaaaa akhirnya yulsic merid, chukaeee
    emng slalu aja yulsic bikin diabetes tmbah kronis, maniiiisss bangggeeettt:-D:-D
    whooaaa jisoo akhirnya pnya appa:-D:-D

  6. sica cuma pakai baju handuk kan tadi? ato baju tidur? yg jelas yul pasti ngiler dach tuch hahahah
    buru buru amat mau langsung nikah,,, dikira gampang apa nikah itu??

  7. keren..
    yulsic segera nikah..
    semua berkat bantuan taeny .
    ye jisoo menerimanga dengan senang hati..
    lanjut tarra .
    selalu ditunggu..
    see you..

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s