My Brother’s Girlfriend [One Shot]

one shot!!!

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

Genre: Comedy, Gender-bender

Characters: Kwon Yuri, Jessica Jung, and Kim Taeyeon

Status: Completed

Translator: Guitarra Spazzer

Author: mainehee09

Source: Soshified

Original linkMy Brother’s Girlfriend

~

My Brother’s Girlfriends

 

Yuri’s POV

“TaeTae…pelan-pelan…”

Sial. Malam tanpa tidur lagi bagiku, dengan semua desahan dan erangan dan suara berisik lainnya dari kamar sebelah. Aku mulai membenci ide untuk mempunyai kamar tepat di sebelah kamar kakakku. Ini membuatku selalu mendengar hal-hal yang seharusnya tidak aku dengar, tapi apa boleh buat? Pilihan ini sudah diputuskan sejak hari pertama kami memilih tempat tinggal ini. Dan sekarang, kakakku sedang melakukan hal itu lagi. Seorang gadis lain jatuh ke dalam perangkap yang tidak dapat dielakkan. Kakakku, Kwon Taeyeon, adalah seorang playboy kelas kakap.

Olahraga apa yang dia mainkan? Main perempuan. Seandainya itu termasuk dalam pertandingan olimpiade, dia pasti sudah mengantongi semua medali emas. Aku akan memberitahu kalian, kakakku itu tidak bisa dianggap remeh, dia mendapatkan semua gadis cantik dengan penampilan dan kemampuan rayuan manisnya. Itu bukan seperti aku tertinggal jauh di belakang kakakku. Aku bertubuh tinggi, berkulit kecokelatan dan sangat tampan. Para gadis juga suka mengejarku, mengajakku berkencan, tapi aku menolak tawaran mereka saat aku tahu kalau aku tidak tertarik untuk menyukai mereka, karena aku yakin bahwa di luar sana ada seorang gadis yang akan menjadi jodohku. Di luar sana ada seorang gadis yang hanya akan menjadi milik Kwon Yuri seutuhnya.

Aku melirik jam di samping tempat tidurku, ‘3.20am’ aku mengacak-acak rambutku sebagai bentuk kekesalanku, “aarrgggghhh!! Apa mereka sama sekali tidak lelah?!” kataku sambil menatap dinding yang memisahkan kamarku dan kamar kakakku. Aku mengambil iPod di meja samping tempat tidur dan memasang earphone di telingaku sambil mengatur posisi tubuhku agar lebih nyaman. iPod-ku ini sangat membantu selama malam-malam seperti ini. Aku lebih memilih jenis musik seperti ini daripada jenis ‘musik’ kakakku.

“Terima kasih, Steve Jobs.” Mataku mulai terpejam dan perlahan aku menuju tempat yang selalu aku datangi setiap malam sejak aku lahir, ke alam mimpi.

-///-

“Pagi, Yul.” Sapa kakakku begitu aku membuka pintu kamarku.

Dia sedang duduk di meja makan sambil menyantap sarapan yang mungkin dibuatkan oleh gadis barunya. Aku berjalan menuju meja sambil menggosok-gosok mataku yang masih mengantuk dan duduk di hadapan kakakku.

“Kau tidur nyenyak?” tanyanya.

Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya. “Ya, tidur yang sangat nyenyak.” Aku mulai menaruh makanan di piringku.

“Maaf sobat, apa kami terlalu berisik?”

Aku berhenti setelah mendengar pertanyaannya dan sebelum berbicara aku memandang berkeliling untuk mencari gadisnya, “Kau? Berisik? Psshhhh! Tidak! Tentu saja tidak!” kataku dengan nada sinis sambil berusaha mengendalikan suaraku sehingga gadisnya tidak akan mendengarku dari dapur. “Yah, kalau kau mau tetangga kita mendengar kalian maka kalian sudah jelas tidak cukup berisik.”

Kakakku hanya menertawakanku, “Kau tahu, kau juga harus punya pacar.” Katanya acuh tak acuh.

Aku tidak membalasnya dan hanya menyantap makananku dengan diam hingga kakakku kembali berbicara.

“Dia sedikit mempunyai beberapa kesamaan dengan gadis sebelumnya, keduannya ceria, siapa namanya? Sa…San….”

“Sunny.” Aku menyelesaikan ucapannya.

“Oh ya, Sunny.”

Satu masalah mengenai kakakku adalah dia tidak mengingat nama-nama pacarnya. Singkatnya dia tidak cakap dalam mengingat nama dan terkadang dia harus bertanya padaku.

“Siapa Sunny?” mata kakakku terbelalak. Aku juga tidak menyadari kalau gadis itu keluar dari dapur dan sedang berjalan ke arah kami.

“Brittany!” aku menendangnya di bawah meja karena dia menyebutkan nama yang salah. “Maksudku Tiffany!” dia membenarkan. “selesai?”

“Yup.” Jawab gadis itu. “Siapa Brittany?”

“Brittany?” aku bisa mengatakan kalau saat ini kakakku sudah merumuskan satu alasan sempurna dalam benaknya, “Tidak, aku hanya mencampurnya, tadi aku memberitahu adikku betapa seksinya kau sama seperti ketika Britney Spears masih muda, Britney, Tiffany, Brittany.” Dia menyelesaikannya.

Seperti dugaanku.

“Lalu siapa Sunny?” gadis itu kembali bertanya.

“Sunny?” dia menyantap makanannya terlebih dulu untuk memberi dia sedikit waktu untuk berpikir, aku sangat mengenal kakakku. “Kudengar hari ini cucanya akan-” dia menunjuk ke luar jendela yang mana membuat kami mengikuti arah telunjuknya. “…cerah (Sunny)…” dia menghentikan ucapannya.

Di sana, di luar jendela, kita bisa melihat langit dengan jelas. Awan yang gelap.

Aku hanya bisa tersenyum sinis pada kakakku. Dan untuk menambah rasa malunya, Guntur dan halilintar tiba-tiba terdengar.

“Aneh, kudengar hari ini cuacanya akan cerah.” Kakakku tetap bersikeras dengan kebohongannya.

“Tidak apa-apa, mungkin peramal cuacanya salah bicara.” Kata Tiffany sebelum memberinya sebuah kecupan.

“Yup!” kata kakakku bahagia. Setahuku, dia bahagia karena dia bisa meloloskan diri lagi.

“Sekarang cepat habiskan sarapanmu.”

“Lalu setelah ini kita bisa melakukannya lagi?” kata kakakku, merangkul bahu Tiffany.

Oh tolong. Aku tahu persis apa maksudnya. “Oh lihat jam berapa sekarang! Aku akan terlambat!” aku bahkan tidak repot-repot menghabiskan makananku dan bergegas pergi bersiap-siap untuk berangkat sekolah sebelum mereka berdua akan melakukan ‘itu’ lagi.

-///-

“Sobat!” seseorang tiba-tiba muncul tepat setelah aku menutup lokerku yang mana sedikit mengejutkanku.

“Sooyoung, kenapa kau suka muncul dengan seperti itu?” kataku pada teman bertubuh jangkung itu. Dia sedang bersandar pada loker yang lain.

“Ini keren!” dia merangkul bahuku dan mulai menarikku ke koridor. “Jadi………apa yang kau dengar tadi malam?” dia senang mendengarkan cerita-cerita semacam itu.

“Lepaskan aku!” aku sedang fokus untuk berusaha lepas dari rangkulan temanku sehingga aku tidak melihat gadis yang sedang berjalan ke arah kami dan tanpa sengaja menabrak buku yang dibawanya.

“Maafkan aku!” aku segera berlutut untuk membantu gadis itu mengumpulkan barang-brangnya. “Aku sungguh-”

“Tidak apa-apa.” Katanya setelah kami berdiri.

“-minta maaf.” Aku menyelesaikan ucapanku sambil menyerahkan buku-buku itu padanya.

Waktu seolah melambat begitu pandanganku bertemu dengan matanya. Matanya yang perlahan menarikku padanya. Rambut pirangnya melengkapi wajah cantiknya. Aku mempunyai satu kata untuk menggambarkan gadis ini: sempurna.

“Terima kasih.” Ditambah suaranya yang merdu dan juga senyumnya.

“Tidak masalah.” Dia membungkuk dan berbalik untuk kembali berjalan. Aku hanya melihatnya sebentar tapi rasanya seperti aku sudah melihat ciptaan terindah di dunia ini.

Kebahagiaanku terputus singkat saat aku merasakan sesuatu yang memukul kepalaku. “Aduh!” aku berbalik menghadap temanku dan melihat dia memegang gulungan buku catatan yang aku asumsikan sebagai benda yang dia pukulkan padaku.

“Kau menyukainya, bukan?” dia menggodaku.

“Tidak!” aku segera membantah.

“Ya, kau menyukainya.” Sepertinya aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa pun dari temanku.

-///-

Bahkan sejak hari ketika aku melihat gadis itu, sepertinya aku tidak bisa melepaskan dia dari benakku. Di waktu yang sebentar itu aku bisa melihat dia dari dekat, dan bayangan itu tetap tinggal di dalam pikiranku seperti noda yang tidak akan pernah bisa dihapus.

Dan sepertinya takdir sedang memihak padaku karena hari ini aku bisa bertemu dengannya lagi.

“Hei, Yul!” temanku menyikutku, “Bukankah itu gadis yang terakhir kali kau perkosa secara visual?”

Aku melihat ke  arah yang dia tunjukkan, dan di sanalah aku melihat bidadariku yang sedang berbicara dengan seseorang yang sepertinya seorang professor. “Ya, tunggu, apa?!” tiba-tiba aku teringat apa yang dikatakan temanku, “Aku TIDAK memperkosanya secara visual!” aku mendengus.

“Oke…oke…kau tidak melakukannya.” Sooyoung tertawa. “Aku hanya menggodamu.”

“Kau pergi duluan, aku harus melakukan sesuatu.”

“Apa? Menguntitnya?”

Aku memelototi temanku. “Oke…oke…sampai nanti, Yul!” katanya sebelum menghilang dari pandanganku.

Aku tidak akan menguntitnya, aku hanya….akan mengikutinya.

Dan dari situlah semuanya bermula, selama waktu luangku, aku akan selalu mencari di sekitar kampus di mana aku selalu menemukan dia, dengan selalu menjaga jarakku dan dengan hanya memperhatikan dia dari jauh aku sudah merasa puas.

Ada sebuah tempat yang sangat dia sukai, perpustakaan, tempat di mana aku berada saat ini.

Dia sedang berusaha mengambil buku dari rak teratas. Pada awalnya, aku merasa tingkahnya saat berusaha sekeras mungkin untuk mengambil buku itu lucu tapi kemudian aku melihat buku-buku itu akan jatuh ke kepalanya. Refleksku mengambil alih dan yang kuketahui selanjutnya aku bergegas pergi ke sampingnya.

“Awas!” kataku sambil berusaha mengambil buku-buku yang berjatuhan itu sebelum menimpanya. “Kau tidak apa-apa?”

“Ya, terima kasih.” Katanya setelah pulih dari keterkejutannya, “Akhirnya, kau menunjukkan dirimu.”

“Huh?”

“Sudah berapa lama kau menguntitku?” aku terkejut dengan pertanyaannya.

“Apa? Tidak! Aku tidak…….tunggu…..kau tahu?”

Dia hanya menganggukkan kepalanya. Lucunya.

“Dan kau tidak keberatan dengan itu?”

“Yah, kau tidak bermaksud jahat, kan?”

Aku tertawa kecil. “Aku Kwon Yuri, dan jangan khawatir, aku tidak mengikuti sampai ke rumahmu.” Aku tidak tahu dari mana aku mendapatkan keberanian untuk mengatakan itu.

“Senang bertemu denganmu Yuri, Aku-” sebelum dia sempat mengatakan namanya, bel sekolah kami berdering. “oops, aku harus pergi, sampai nanti Yuri.” katanya sebelum pergi.

“Ya, sampai nanti,” perasaan ini lagi. Aku hanya mengobrol dengannya sebentar tapi kebahagian yang aku rasakan ini sungguh tak dapat dijelaskan.

-///-

“Hei, Taeng.” Aku baru saja pulang sekolah dan menemukan kakakku yang sedang menonton pertandingan basket.

“Yo, ada sesuatu yang menggembirakan?”

“Huh? Tidak ada.” Aku berbohong, “Kenapa kau bertanya?”

“Hari ini kau terlihat sangat gembira, dik.”

Dan kukira aku menyembunyikannya dengan baik.

“Ngomong-ngomong aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.”

“Seseorang?” kurasa pacar barunya. “Ada apa dengan Tiffany?”

Kakakku tidak bisa menjawab pertanyaanku karena bel pintu berdering menandakan bahwa orang itu ada di depan.

Inilah dia pacar barunya. Dengan malas aku mengempaskan tubuhku ke sofa sambil menunggu kakakku untuk memperkenalkan pacar barunya padaku.

“Yul”

“Yup!” aku langsung berdiri setelah mendengar namaku dipanggil, tapi ketika aku melihat pacar barunya, betapa aku mengharapkan aku tidak pernah melihatnya. Gadis cantik berambut pirang dari sekolahku berdiri di samping kakakku sambil memegang tangannya.

“Perkenalkan, Sooyeon. Pacarku.”

Jadi namanya adalah Sooyeon.

“Dia adikku, Yuri. Tapi aku lebih suka memanggil dia dengan sebutan Yul.”

“Hai, Yul. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu.” Dia melambai padaku.

Tapi kita sudah pernah bertemu. Semua kebahagiaanku sirna. “Aku mau ganti baju dulu.” Aku kembali melihat ke arahnya, kenapa dia tidak memberitahu kakakku kalau kami sudah pernah bertemu? “Senang bertemu denganmu lagi.” Kataku sebelum pergi ke kamarku.

-///-

Di sinilah diriku, lagi-lagi tidak bisa tidur, tapi malam ini bukan karena suara berisik di kamar sebelah. Untungnya, malam ini bukanlah malam di mana kakakku akan mencetak gol. Dari semua gadis di dunia ini, kenapa kakakku harus memilih dia sebagai korban lainnya? Yah, aku tidak bisa menolak fakta kalau gadis itu memang menarik, tapi kenapa? Kenapa kita harus menyukai gadis yang sama? Kenapa harus dia? Dan apa yang akan kulakukan ketika malam itu datang? Malam di mana kakakku akan melakukan apa pun yang dia inginkan?”

“Arrgghh!!” semua pertanyaan ini membuatku pusing. Semoga musik yang bagus akan membantuku terlelap.

-///-

Hari ini aku tidak pergi menguntit, untuk apa? Dia sudah memiliki kakakku. Aku memberitahu temanku, Sooyoung, kalau hari ini aku tidak mau diganggu olehnya. Suasana hatiku sedang tidak baik untuk berbicara, jadi di sinilah aku, menatap kosong makananku, di kantin sendirian, hingga seseorang datang.

“Kau sudah bosan menguntitku?” seorang gadis menempati kursi di depanku.

“Huh?”

“Hari ini kau tidak mengikutiku, Yuri.” bukan sekadar gadis, tapi gadis dari mimpiku.

“Kenapa? Kau merindukanku?” mataku melebar. Seharusnya aku tidak mengatakan itu.

“Mungkin…mungkin tidak.” Lagipula untuk apa dia merindukanku? “Kau tidak apa-apa?”

“Huh? Oh… hanya saja hari ini suasana hatiku sedang tidak baik.” Aku sangat ingin bertanya padanya mengenai kenapa dia tidak memberitahu kakakku, tapi sepertinya dia sendiri tidak mau menceritakannya.

“Kau mau jalan-jalan? Ayo kita pergi ke mall!” aku terkejut dengan tawarannya. Tidak ada salahnya untuk dekat dengan pacar kakakku, bukan? Aku hanya ingin lebih mengenalnya. “Ya, tentu.”

-///-

Aku benar-benar menikmati hariku bersamanya, itu membuatku melupakan beberapa hal yang memenuhi benakku, tapi semua itu juga ada akhirnya.

Bel pintu berbunyi dan aku bersukarela membukakan pintu karena aku tahu dia yang datang. Aku tahu kalau dia ke sini untuk kakakku. Aku hanya ingin berinteraksi dengannya.

Aku membuka pintu menampilkan wajah yang ingin aku lihat setiap pagi aku terbangun. “Hei.” Sapaku ceria.

“Hai.” Katanya cepat sebelum bergegas menghampiri kakakku. Kelihatannya dia melupakan semua kesenangan yang kami miliki di mall sebelumnya dan ini membuatku kehilangan suasana hatiku yang ceria dan pergi ke kamarku untuk menghindari beberapa pemandangan yang sudah jelas tidak ingin aku lihat.

-///-

Hari lainnya di sekolah tiba, dan anehnya, dia menghampiriku, aku sangat ingin mengabaikannya namun ketika dia mulai berbicara padaku, aku tidak bisa mengabaikannya dan pada akhirnya mengobrol dengan bahagia bersamanya.

Dan sama seperti hari-hari lainnya, ketika dia ada di rumah kami, dia bahkan tidak begitu banyak berbicara padaku.

Kelihatannya seperti ketika dia bersamaku dia adalah orang berbeda dan ketika dia bersama kakakku dia orang yang berbeda juga, seseorang yang tidak ramah, tidak seperti orang yang mengobrol bahagia denganku ketika aku di sekolah.

-///-

“Hei Yul, kau mau ikut denganku?” Sooyoung menawarkan.

“Tidak, aku mau pulang, sekarang hari jumat. Aku mau menonton sesuatu nanti.”

“Oke, kalau kau bilang begitu.” Katanya sebelum pergi.

Aku mencoba mencarinya di sekitar kampus sebelum pulang ke rumah namun sia-sia.

Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya, dan aku bukan tipe orang yang suka membawa payung sehingga aku tidak punya pilihan lain selain berlari ke mobilku.

Malam ini benar-benar bukan malam keberuntunganku karena aku tidak bisa menemukan kunci mobilku. Aku mengeluarkan semua isi tasku di atas kap mobil, tapi kunci itu tidak ada di mana-mana. Tubuhku basah dan aku harus pulang ke rumah seperti seekor anak ayam yang tersesat di tengah hujan.

“Yuri?” aku tahu suara manis itu. Itu adalah suaranya.

“Hei…”

“Apa yang kau lakukan di tengah hujan?!”

“Aku tidak bisa menemukan kunci mobilku.” Aku memandang barang-barang yang berserakan di atas kap mobilku.

“Astaga kau basah kuyup! Taruh kembali barang-barangmu sekarang!” dia berlari ke sampingku dan berbagi payungnya denganku, sementara tangannya yang lain membantuku menaruh barang-barang itu di tasku. “Ayo kita pergi.”

“Ke mana?”

“Asramaku dekat dari sini, keringkan dirimu di sana, kau akan jatuh sakit dalam keadaan seperti ini.”

“Oh, terima kasih.” Kami mulai berjalan ke asramanya dengan mengunakan satu payung di bawah guyuran hujan lebat.

-///-

“Apa yang kau lakukan berdiri di tengah hujan seperti itu?” aku menunggu dia menyerahkan handuk padaku, tapi dia malah mulai mengelap tubuhku. “Kau bisa saja mencari kuncimu dulu sebelum berlari ke mobilmu.”

Aku menyadari kalau dia juga sedikit basah, mungkin karena kami berbagi payung yang kecil.

Aku mengambil handuk lain yang dibawanya. “Kau juga basah, maaf.” dan mulai mengelapnya. Aku bisa mengatakan kalau dia terkejut dengan tindakanku. Dia menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan menatapku saat aku balas menatapnya. Aku mulai merasa tersesat di dalam matanya lagi dan aku kehilangannya, perlahan aku mendekatkan wajahku padanya, hingga bibir kami bersentuhan.

-///-

Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Dan pada awalnya ini tidak seharusnya terjadi, seandainya aku mengendalikan diriku sendiri. Aku tahu kakakku seorang playboy tapi dia bukan tukang selingkuh. Dia tidak pernah berselingkuh dari pacarnya, tapi aku, aku tidur dengan pacarnya sendiri. Ini sungguh tidak benar.

“Maafkan aku.” Aku tahu dia tidak tidur.

“Untuk?”

“Ini. Seharusnya ini tidak pernah terjadi.” aku berdiri dan melepas selimut yang menutupi tubuh telanjangku dan mulai mengambil pakaianku dan berpakaian.

“Apa? Kenapa?”

Aku tidak menjawabnya dan hanya fokus berpakaian. “Sekali lagi aku minta maaf,” lalu pergi meninggalkan kamarnya dan keluar dari asramanya.

-///-

Sudah tiga hari sejak malam itu. Segalanya terasa baik-baik saja, tapi itu terjadi di waktu yang tidak tepat. Sudah tiga hari sejak terakhir kali aku keluar dari rumah. Artinya, tiga hari ini aku tidak sekolah dan tiga hari ini aku mengunci diriku di kamar ini.

Tapi aku tidak bisa diam di sini selamanya. Cepat atau lambat, aku harus menghadapi apa yang telah kuperbuat, dan malam ini, aku akan menghadapinya, malam ini saat kutahu kalau pacarnya tidak akan datang, atau begitulah perkiraanku.

Ketika aku membuka pintu kamarku, mereka tengah menyantap makan malam, sudah terlmbat untuk kembali menutup pintu kamarku karena kakakku melihatnya.

“Hei sobat! Kemarilah, bergabung dengan kami.”

Aku tersenyum dan duduk di hadapan kakakku sementara mencuri-curi pandang darinya.

Dia berbeda lagi.

Setelah dia memberiku makanan, dia kembali bertingkah manis pada kakakku. Apakah dia marah padaku karena apa yang sudah kuperbuat? Atau dia berhasil melupakan hal itu hanya dalam kurun waktu 3 hari? Dia bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Rasa bersalah ini, aku tidak bisa lagi menahan rasa bersalahku.

“Kenapa kau melakukan ini padaku?” keduanya menatap padaku.

“Ada apa Yul?”

Aku tidak menjawab pertanyaan kakakku dan bertanya pada gadis itu. “Kenapa kau melakukan ini?”

“Uhh…melakukan apa?” dia memberikan pandangan bingung.

“Ini! Kau bertingkah manis pada kakakku lalu ketika kau bersamaku, kau bertingkah manis padaku!” amarahku meledak.

“Apa?” masih bertingkah bingung, huh?

“Yuri, ada yang salah?” tanya kakakku lagi.

“Ya! Ada yang salah! Aku tidur dengannya!”

“Apa? Tidak mungkin!”

“Apa? Kapan?”

“Jumat kemarin…” jawabku dengan nada rendah.

“Jumat kemarin?” dia menoleh pada pacarnya sebelum tertawa. “Jumat kemarin…”

“Kenapa kau tertawa? Aku tidur dengan pacarmu dan kau hanya menertawakannya?!”

“Kau bilang jumat kemarin?” tanyanya lagi.

“Tapi, kawan! Kami juga sedang melakukan ‘itu’ saat itu!”

“Tapi aku bersumpah-” tiba-tiba bel pintu berbunyi. Kurasa kami kedatangan tamu.

“Aku akan membukanya.” Kata pacar kakakku.

“Kami mengundang adiknya, dan kurasa sekarang aku tahu siapa yang kau bicarakan.” Aku tidak mengerti apa yang dikatakan kakakku hingga aku melihat mereka. Dua orang gadis identik. Satu-satunya yang berbeda adalah pakaian yang mereka kenakan.

“Yul, adikku tersayang, perkenalkan saudara kembar Sooyeon…”

Kembar?

“…Jessica.”

~~~;~~~;~~~

THE END

thanks for the permission mainehee09  🙂

credit: mainehee09 @SSF

boiboi~

Advertisements

49 thoughts on “My Brother’s Girlfriend [One Shot]

  1. oh my good..
    kira in emang benar yul opla tidur sama sica onnie yang jadi pacar taeng oppa..
    eh ternyata malah kebarannya..
    parah, hampir jantungan gue bacanya..
    jadi yang jadi pacar taeng oppa itu sooyeon, dan yang selama ini dekat sama yul oppa itu sica onnie, mereka dua orang yang berbeda..
    syukur deh, jadi yul oppa kagak patah hati..
    adun taeng oppa, sumpah byun amat disini, tumben dia kagak sama fanng onnie, hehhe..
    lanjut tarra, selalu ditunggu ceritanya yang lain..
    jangan lama- lama ya updatenya..
    see you, fighting..

  2. Annyeong …….

    Waaah, ak terkejut ini lah yng terjadi ..lol
    Sooyeon and jessica kmbar .. kirain bkan bgtu….
    Nah skrang yul yng gak tau,calon pacarnya ini …ckckck
    Dannnn kim taeyeon ,bner” dah,, tobat tobat ..ckck
    Tpi keren critanya ..wkwk,thanks for update …
    Dtunggu next update nyah ..
    SEMANGAAAAAAAAAAT

  3. Dasar tae pnter cari alasan..
    Ternyata jessi & sooyeon kmbar kirain bkal ssaingan TAERI.. lucu jga seh..
    endingnya kurang tepat YULSIC lum jdian
    hehe

  4. Taeng byun mu gk ilank2….
    Sempat agk curiga sich klo sica kembar eh trnyata bnr….
    Ending ny agk gantung ni…
    Klo boleh ada sequel ny ni kan yulsic blm jadian…
    Lanjut thor….

  5. Ahahaaa daebak ternyata kembar , sooyeon + jessica , taeeeyeon. Parah bngt si penjahat kelamin wkwkk

    Nice oneshoot tarra..

  6. Annyeong,,,,
    Jiahahhahahahahahahaha,,,,ktpu nech,,krain bkln ad prang antar kwons brsaudra,,,tau nya nona jung trnyta kmbar,,,,ckckckckck dsar taeng mau pkai mrga appun byun nya ngak hilang yg ad mkin prah,,bnr2 PK
    Heheheheh msh gntung yul msih slahpham,,yulsic jga blm jdian tp sdh kawin dluan#plakkkkk
    Ok dech ttp smngattttt,,
    Gomawo,,,,

  7. Hahaha…Berat banget kalo punya kakak kyk Taeyeon.Haha….setiap malam wajib dengerin musik untuk menghalau suara dari kamar seblah.

  8. jiaaaahahahaha pantesan aja sifat sooyeon beda2 org yg d mksd sica kmbaranya 😀
    cieee meka udh tdur breeeeeeng ni yeee tggung jwab yul *yul : iyeee gw tau*
    wah cba ada ljutanya seru jg ni hehe
    its ok yg pnting yulsic ttp brsatuuu *^▁^*

  9. wakakakakkkkk…
    salah paham tuh.. hahaha..
    ternyata jessica n sooyeon tuh kembar??
    kembar identik ya.. bingung tuh yuri..
    hahahaha..

  10. wooaahh ketinggalan banyak ff mu taraaa..
    sudah ku duga kalau mreka kembaran wakakakakakk xD
    kasiaann si kwon itu ckck
    ntr aku lanjut baca ff mu lgi..
    semangatt taraa !!

  11. haduuhhhh trnyta sooyeon pnya kembran tho, syukurlah gw pikr yul udh ngerebut pacar kakaknya
    emng dasar si taeng playboy akut

  12. Sumpah gw baca ini deg degan, kiranin pacar nya Taeng & yg dsukain sama Yul orang nya sama tau2 nya kembar, huh jantungan..
    Ya aneh dari sini Yul ga tau siapa nama yg dy suka itu, udah jalan bareng smpek udah tidur bareng dy ga tau nama nya?
    KEJAM..

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s