Unlike Him [Final Chapter]

sorry modem gue mati, ini aja numpang wifi haha

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

Final Chapter

 

Yuri berlari dengan cepat. “Sica!!!” panggilnya, napasnya terengah-engah saat ia memasuki ruangan pribadi Jessica. Ia melihat Jessica di sana, tertidur di balik selimut. “Apa yang terjadi?”

“Uhmmm…S-sir,” Jong kook tergagap.

Yuri duduk di kursi kecil di samping tempat tidur Jessica dan membelai tangannya yang bebas. “Sica…” ia memanggil nama Jessica karena ia tidak tahu harus berbuat apa pada saat itu. Apakah dia terkena serangan jantung lagi? Apakah tubuhnya menolak jantung pemberian Donghae? Atau mungkin dia terlalu banyak pikiran? Apakah meninggalkan dia sendiri merupakan langkah yang salah? Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya pada setiap kesimpulan yang berkeliaran di dalam kepalanya, namun jika Jessica membutuhkan jantung yang lain ia akan memberikan jantungnya dengan suka rela, sama seperti apa yang telah dilakukan Donghae, hanya untuk kembali menyelamatkan Jessica. Ia akan melakukan apa pun untuk Jessica. Yuri tak sadar dengan sekelilingnya. Jong Kook tengah menjelaskan apa yang sebelumnya terjadi di kantor mereka. Yuri merasa sangat terluka melihat semua ini terjadi pada istrinya. Ia baru saja kembali mendapatkan Jessica, dan Jessica tidak akan mungkin untuk terlepas dari genggaman Yuri lagi. Yuri tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia mulai menangis, menggeleng-gelengkan kepalanya, dan merebahkan kepalanya di atas tangan bebas Jessica. ‘Kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku,’ pikirnya, menangis tersedu-sedu.

“Pak,” panggil Jong Kook. Namun Yuri terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. “Pak…” panggilnya sekali lagi, ia berjalan menghampiri Yuri dan menepuk pundaknya. Kali ini, Yuri menoleh padanya, matanya masih dipenuhi dengan tangisan.

“P-pak, dokternya ada di sini, dia ingin berbicara pada Anda.”

Yuri mengangguk dan menyeka air matanya. Ia membungkuk perlahan dan mengecup kening istrinya. “Aku akan segara kembali, Sica. Tetaplah di sini, oke?”

Setelah Yuri keluar dari ruangan Jessica, ia bertemu dengan dokter yang menangani Jessica.

“Tuan Kwon?”

“Ya.” Yuri membungkuk.

“Saya Dokter Seungyeon, senang bertemu dengan Anda.”

“Ya, saya juga.”

“Apakah Anda tidak keberatan jika kita membicarakannya di ruangan saya?”

Yuri mengangguk dan mengikuti si dokter ke ruangannya. Ketika mereka berjalan pikiran Yuri melayang-layang, mengkhawatirkan kondisi istrinya, ia bahkan tidak menyadari ketika mereka telah berada di ruangan dokter itu. Dr. Seungyeon melihat catatannya sebelum bertanya pada Yuri yang duduk berlawanan dengannya.

“Suami dari Nona Jung Sooyeon, benar?”

Yuri kembali mengangguk, melihat ke bawah, lebih tertarik pada lantai daripada Dokter di depannya. “Dokter, apakah istri saya harus tinggal di rumah sakit lebih lama?”

“Tidak,” jawab dokter itu segara.

Kepalanya tersentak ke atas, menatap dan mengamati raut wajah si dokter. Ekspresi dokter itu tidak terlihat seperti dia hendak menyatakan berita kematian istrinya yang semakin mendekat, pada kenyataannya dokter itu tersenyum padanya.

“Apa istriku sakit?”

“Tentu saja tidak.”

“Lalu kenapa dia pingsan?” tanya Yuri, sedikit tidak sabar. Ia benar-benar ingin mengatahui kondisi, istrinya sekarang. SE.KA.RANG.

“Dia terkena anemia. Ini normal baginya.”

“Normal? Sejak kapan pingsan bisa disebut normal?” Yuri mendengus.

“Tuan Kwon, bukankah Anda ada saat kehamilan pertama istri Anda? Bukankah ini anak kedua Anda?” jawabnya.

Mata Yuri terbelalak. “Tuan Kwon, bukankah Anda ada saat kehamilan pertama istri Anda? Bukankah ini anak kedua Anda?” ulang Yuri.

“Tuan Kwon.” Panggil dokter itu, menarik perhatian Yuri.

“Wah, apa yang Anda katakan tadi? Hamil? Istriku hamil?”

“Ya. Kehamilannya dalam trisemester pertama.”

“BENARKAH??? Anda tidak bercanda?” tanyanya sambil beranjak dari kursinya, ia ingin memastikan berita baik tersebut. Dokter itu mengangguk. “Itu menjelaskan kenapa dia begitu emosional beberapa hari yang lalu.” Gumam Yuri pelan namun terdengar oleh dokter di depannya.

“Itu efek dari perubahan hormonnya, wanita hamil cenderung memiliki emosi yang berubah-ubah dan masih banyak lagi. Anda harus merawat istri Anda dengan baik.”

“Ya, terima kasih Dok.” Katanya dan menjabat tangan si dokter tanpa henti. Tepat pada saat itu, ia melihat ruangan dokter itu ditempeli dengan foto-foto bayi, wanita hamil dan gelar si dokter yang merupakan seorang dokter kandungan. Yuri menggaruk belakang lehernya, saat itu juga ia merasa bodoh. Ia berpamitan pada si dokter dan segera keluar dari ruangannya dan pergi ke ruangan istrinya. Ia tidak bisa menahan senyum yang tersungging di bibirnya. Jessica masih tak sadarkan diri ketika ia tiba di sana, napasnya terengah-engah untuk yang kedua kalinya hari itu, mengejutkan sekretarisnya. “Kau boleh pulang sekarang, Jong Kook. Terima kasih sudah menjaga istriku dan aku benar-benar minta maaf karena berteriak padamu tadi. Kuharap kau memaafkanku, aku hanya khawatir.”

Jong Kook tersenyum dan mengangguk, “Dengan senang hati, Pak.” Pada kenyataannya ia sangat memahami bosnya. Melihat Yuri menangis karena istrinya, ia tahu betapa Yuri sangat mencintai istrinya, cinta yang sangat tulus dan murni.

“Terima kasih dan dengan berbangga hati aku ingin memberitahukan sesuatu. Istriku hamil.” Yuri bersorak dengan kekanak-kanakkan namun dengan cepat menurunkan volume suaranya, khawatir akan membangunkan Jessica. Yuri terkekeh dan kembali merayakannya secara diam-diam seperti seorang anak kecil. “Aku sangat bahagia.” Bisiknya. “Aku akan menjadi ayah lagi, yay!”

“Selamat Direktur Kwon,” balas Jong Kook, berbisik.

“Terima kasih banyak.”

Tak lama kemudian Jong Kook berpamitan dan meninggalkan Yuri yang masih tersenyum lebar. Setelah ia kembali dari kamar mandi, ia melihat mata istrinya terbuka.

“Seobang.” Panggil Jessica lemah.

“Sicababy!!!” teriak Yuri dan segera berlari menghampirinya. “YAY!!! Bagaimana perasaanmu? Kau menginginkan sesuatu?”

“Aku hanya menginginkanmu di sini,” Jessica tersenyum.

Yuri ikut tersenyum dan duduk di samping istrinya. “Sicababy-ku sangat merindukanku, benar?”

“Sangat.” Jessica mengangguk.

“Mulai sekarang aku berjanji untuk tidak meninggalkanmu.” Yuri menenangkan.

“Kapan kau pulang?” tanya Jessica sambil bergeser untuk memberikan ruang bagi Yuri.

“Satu jam yang lalu,” jawabnya. Keduanya meringkuk di tempat tidur dan saling berpelukan. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu…” bisiknya, menyisir rambut Jessica.

Jessica terkekeh, merasa geli oleh napas Yuri di lehernya. “Apa?”

“Aku mencintaimu…” katanya dan terkekeh sebelum mengecup pipi Jessica. “Aku sangat mencintaimu…”

“Gombal,” kata Jessica, memutar bola matanya.

“Aku hanya sungguh mencintaimu.”

+++

Tak lama kemudian, Jessica keluar dari rumah sakit dan keduanya kembali ke kantor mereka untuk mengambil barang-barang mereka sebelum pulang ke rumah. Yuri tersenyum bahagia begitu mereka memasuki rumah. Jessica yang masih tidak tahu apa-apa merasa aneh dengan tingkah laku suaminya. Setelah bertemu dengan Jisoo, Yuri meminta Mr. Lee untuk mengumpulkan semua orang sebelum makan malam.

“Ada apa?” tanya Jessica, namun Yuri hanya tersenyum dan mengencangkan genggamannya pada tangan Jessica. Jessica mengangkat bahu dan bermain-main dengan Jisoo sementara menunggu semuanya berkumpul. Beberapa saat kemudian, satu per satu, anggota keluarga mereka datang.

“Kau mau mengumumkan sesuatu, Kwon?” tanya Taeyeon sambil duduk di samping istrinya.

Yuri menjulurkan lidahnya dengan main-main, membuat Tiffany tertawa melihat tingkah kakak iparnya sementara Yuri menerima tatapan dingin dari istrinya. Raut wajah Yuri mendadak berubah dan mulai meminta maaf pada istrinya.

“Kami sedikit terlambat,” kata Mrs. Jung begitu mereka turun dari kamar mereka dengan Mr. Jung mengikuti di belakangnya.

Yuri berdeham seolah-olah ia akan memberikan sebuah pidato di depan orang banyak. “Tadi,” ia memulai. “Jessica pingsan.” Semua mata tertuju pada Jessica. “Jangan khawatir, dia baik-baik saja. Dia sungguh baik-baik saja.” Jelasnya sebelum semuanya mulai khawatir.

“Lalu kenapa dia?” tanya Tiffany.

“Aku juga menanyakan hal yang sama pada dokternya, Tiff.” Yuri menyunggingkan senyum yang sama semenjak ia pulang ke rumah. “Dokter bilang…” ia berhenti sejenak. Semua orang menelan ludah, termasuk Jessica sendiri.

“Dia hamil.”

“APAA?” teriak mereka.

“Yah Kwon Yuri!!!!!!” Taeyeon berdiri. “Kau…beraninya kau!!!!” ia mulai mengejar laki-laki berkulit kecokelatan itu dan keduanya berlarian seperti Tom dan Jerry sementara sisanya membeku di tempatnya masing-masing.

“Seobang.” Panggil Jessica dan Yuri bersama dengan Tom alias Taeyeon berhenti dan menoleh padanya. Yuri tersenyum lebar, ia berlari menghampiri Jessica dan berlutut di depannya. “Aku hamil?”

Yuri mengangguk penuh semangat dan keduanya berbagi senyum yang sama. Jisoo yang berada di antara orangtuanya menatap polos pada mereka secara bergantian.

“Appa? Umma?”

Yuri mengangkat putranya dan mengayunkannya. “Whiii! Jisoo akan punya adik!!!”

“Adik?” tanya Jisoo polos begitu ayahnya menurunkannya.

“Adik laki-laki atau perempuan?”

Jisoo tidak bisa menjawabnya. Yuri menoleh padanya istrinya dan membantunya berdiri. “Kita akan mempunyai anak lagi. Aku sangat bahagia.” Katanya sambil memeluk Jessica.

“Itu menjelaskan senyummu.” Jessica mendengus di dadanya.

“Aku pria paling bahagia! Tidak ada seorang pun yang tidak akan bahagia jika berada di posisiku, aku memiliki istriku, Jisoo, dan aku akan memiliki seorang anak lagi,” Yuri terkekeh. Mereka berdua terlihat bahagia sampai-sampai tidak menyadari raut wajah bahagia dari orang-orang di sekitarnya.

Mrs. Jung beranjak dari kursinya dan memeluk pasangan itu. “Selamat, mungkin sekarang kalian harus mulai mencari rumah kalian sendiri.” Ia tersenyum.

Mr. Jung menghampiri mereka. “Kau begitu cepat, Yuri. Ibumu benar, kalian lebih baik pindah sekarang. Kamar Yuri tidak akan cukup untuk kalian berempat.”

“Kami akan memikirkannya, Ayah.” Jawab Jessica.

Yang terakhir adalah pasangan TaeNy, Taeyeon tersenyum lebar pada Yuri begitu ia menghampiri mereka. “Kalian berdua benar-benar membuat bayi dengan cepat. Kwon Yuri, gen apa yang kau miliki huh?”

“Gen menarik dan tampan.” Kata Yuri sombong dan semua tertawa.

“Jangan khawatir, kalian berdua akan segera mempunyai momongan juga, bersabarlah.” Kata Mr. Jung.

“Ya, kalian berdua harus menculik diri kalian sendiri lalu mengasingkan diri ke sebuah tempat yang tak dikenal selama satu minggu.” Goda Jessica.

+++

Setelah menyantap makan malam mereka, mereka pergi ke kamar masing-masing. Yuri, Jessica dan Jisoo bermain-main di kamar Yuri dengan mainan-mainan baru yang Yuri belikan dari Jeju.

“Appa, Umma, apa itu saudara?” tanya Jisoo.

“Saudara itu seperti Aunt Tiffany dengan Umma. Seorang adik, anak dari Umma dan Appa.” Jelas Jessica sambil membuka bungkus mainan lainnya.

“Kalau Jisoo mempunyai saudara, Jisoo akan mempunyai teman main. Kalian berdua bisa memainkan semua mainan-mainan ini, dan sebagai seorang kakak, Jisoo harus menjaganya, oke?”

“Benarkah?”

Orangtuanya mengangguk. Yuri mengusap-usap perut Jessica dan mulai berbicara. “Halo, Baby! Apa kabar? Appa ada di sini dengan Umma dan Jisoo. Baik-baik di sana, oke? Kami bertiga akan merawatmu.”

“Apakah saudara Jisoo ada di sana?” tanya Jisoo menunjuk perut ibunya.

Jessica mengangguk. “Kemarilah.”

“Sini,” panggil Yuri. Jisoo mematuhinya. “Letakkan telinga Jisoo di dekat perut Umma.”

Jessica terkekeh melihat kelucuan mereka. “Bicaralah Jisoo.”

“Seperti ini?” tanya Jisoo sambil menirukan posisi ayahnya tadi. Ia mendekatkan telinganya dengan perut ibunya.

“Tok tok.” Kata Yuri.

“Tok, tok.” Kata Jisoo polos.

“Siapa di sana?” tanya Yuri dengan menirukan suara anak kecil.

“Seseorang menjawab.” Mata Jisoo terbelalak dan ia melihat ke ibunya sambil tersenyum.

“Jisoo Oppa, kaukah itu?” lanjut Yuri.

“Jisoo Oppa? Siapa kau?” keningnya berkerut saat dirinya fokus mendengar suara anak kecil itu.

“Aku teman bermainmu, aku tidak sabar untuk bertemu denganmu Oppa!!!”

Jisoo terkekeh. “Aku ingin bermain denganmu!”

“Tunggu sampai aku keluar, oke? Tolong jaga Appa dan Umma dulu, oke?”

“Baiklah.” Jisoo lalu mencium perut ibunya, Jessica terkejut dengan aksinya yang tiba-tiba.

Setelah itu Yuri dan Jessica membawa Jisoo ke tempat tidur dan kembali ke kamar mereka.

“Mungkin kita benar-benar harus pindah sekarang.” Kata Jessica sementara Yuri merebahkan kepalanya di pangkuan Jessica.

“Begitukah?”

Jessica mengangguk sambil mulai menyisir rambut Yuri, lalu seperti yang dilakukan Jisoo sebelumnya, Yuri menolehkan wajahnya menghadap perut Jessica. Ia menciumnya, membuat Jessica terkekeh.

“Apa kau tahu kalau aku sangat mencintaimu?”

“Aku tahu.” Jessica tersenyum.

“Aku akan mencari rumah yang dekat dari sini jadi kita tidak perlu tinggal jauh dari Ayah dan Ibu, oke?”

Jessica mengangguk, Yuri duduk dan menciumnya.

*****

“Sica baby!” panggil Yuri dari dapur. Ia baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk mereka. Tiba-tiba, Jisoo berlari menghampiri dengan satu set pakaian baru, dia baru saja selesai mandi, Jessica yang tengah hamil 8 bulan berjalan di belakangnya. Yuri bergegas berjalan menghampirinya dan membantunya duduk di kursinya.

“Ugh, melelahkan sekali,” keluhnya begitu ia duduk di kursi.

“Ayolah, tidak apa-apa. Aku akan menyuapimu,” kata Yuri, menenangkannya. “Jisoo bisa makan sendiri, kan?”

“Ne, Appa!!!” sahut Jisoo, mengangkat sendok dan garpunya ke udara.

“Itu baru anakku.”

Yuri telah meminta cuti bekerja selama dua bulan untuk merawat istrinya karena Jessica akan segera melahirkan. Mereka sudah tinggal di rumah mereka sendiri yang berada tidak jauh dari kediaman keluarga Jung.

“Katakan ahh…”

“Ah…” kata Jessica, lebih terlihat seperti mengernyit daripada menuruti perintah Yuri.

“Ayolah Sicababy, buka mulutmu lebar-lebar, kau harus makan sekarang.”

“Ahhh!!!!”

“Sicababy?”

“Astaga Yuri, bawa aku ke rumah sakit sekarang.”

“Ke-kenapa? Apa kau…”

“Ck. Kwon Yuri, sekaraaaaaaaang!!!”

“Ya, ya…err…” gumamnya sambil berjalan mondar-mandir, tidak tahu di mana ia harus mengambil barang-barang yang telah mereka siapkan sebelumnya.

“KwonYURI!!!!!!!!!!!!”

~~~;~~~;~~~

END

Epilogue-nya di-post hari kamis 😀

credit: zhel @SSF

Advertisements

44 thoughts on “Unlike Him [Final Chapter]

  1. oh mak..
    kirain sica onnie beneran kenapa-kenapa, eh ternyata sica onnie pingsan gara-gara dia lagi hamil toh..
    ah hampir gagal jantung toh si yul oppa, yul oppa jang, baru kawin uda langsung dapat anak kedua ya..
    hebat, taeny aja kalah sama mereka..
    yul oppa sama taeng oppa kayak anak kecilnya, gak pernah akur selalu ada aja berantem tapi meraka sahabat yang jjang…
    yah gantung…
    o.k chingu..
    ditunggu epilogue nya ya..
    fighting and see you..
    jangan pernah percaya sama media, soshi and sica onnie always one..

  2. Annyeong ….

    Yeaay ,Happy Ending.,meski sangat cpat udh mau end aj ….kkkeee
    Kwon yulsic family bertmbah ,bhagia sekli ….
    Dtunggu hari kamis ,thanks for update !!!!
    SEMANGAAAAAAAAAAT

  3. Annyeong…
    Tu kan bnar sica hamil,,,brti jiso dpat adik baru,,,
    asyek t brtmbah lgi cucu mr.jung,,,taeny yg sbar entr nyusul yulsic kok pnya kim junior,,tnang aj taeng pnctak gol yg hbat#plakkkkkk
    Hahahaha yul bggung sndri t,,,sdh bruan bwa krmhskit,,entr sica mlah mlhirkn d jln,,,,,
    Ok siip,,,
    Ttp smngattt,,,
    Gomawo,,

  4. aaaaah kekekek happy ending juga nih ff
    keluarga yulsic emang lucu jd senyum”baca.
    taeng kalah ama yul nih jd kejar”n deh wkwkwkkw
    thanks tara :))

  5. Ahh kependekan-_- epilog epilog need epilog;3wkwk gue komen gtdoang dah gue sempet panik juga masa end nya sica K.O sh nyusul si ikan tp gamungkin juga eh ternyata eh ternyata…BabyKwon datang yuhuuu~

  6. Kiraen sica unnie knpa” eh ga tau x hamil senang btul tuh kwon …knpa ga d’terusin smpai lahiran x z thor kan nanggung jde x ..hhe

  7. kwon yurii .. end ? o_O
    huaah part end yah , mkin lgkap dah yulsic family nggu beby nya kluar 😀
    taeny gmana nh ? hrus lbh smgat , biar cpt nysul yul , udh ktingglan jauh nh kwkwkw
    dtggu epilog nya thor 😉

  8. Ini anak kedua yul tp pengalaman pertama ngurus sica pas hamil dan mau melahirkan jd masih kaku..hehehehe
    Taeny usaha terus ya bikin anak nya..
    Mungkin emang bener mesti bulan madu yg kedua supaya fokus bikin anaknya..hahahah

  9. Hahaahaaa bener bener KwonPabo,,
    Wahwahhh siapsiap di siksa yaa Kwon ntar d dlm ruang bersalin,,, hahahahab,
    Ahhh kira mau sekalian sama epilog nyaa,, heheh

  10. Hahaha..
    Akhirny yulsic b’akhir dgn sgt happy ending..
    Btw, kpn taeny bs dpt dede bayi thor? Bwt sequel utk mereka dong..
    Please..

  11. Sica hamil!! Selamat, Sica! semangat banget sih bikin penerus Kwon-Jungnya (??) =)). TaeNy aja kalah, sampe skrg blm ‘jadi’ juga wkwk

  12. Seneng bngt liat yulsic dsni , bahagianya double2 yeayy walaupun akhirnya ckup smpe dsni critanya alias END…. Hehee sweetsweet ending dah , ,,,, tarra jjjaannnggg

  13. Yultae koplak bngt klo udh ktmu…
    Akhirnya sica hamil lg dech jd tambah rame tuch tr keluarganya….
    Thor, katanya tgl 24 mo ngpost ff yg prince yul cs udh penasaran bngt….

  14. whooaaa yul appa hebat euy, bru kawin dah mo pnya baby lg
    wkwkwk taeny kalah start lg, padahal yg ngebet bngt pngn pnya anak kn taeny
    yeaaaa jisoo mo pnya adek
    ok ditunggu epiloguenya ya…..

  15. Wahhh…
    akhir yg membahagiakan…
    Taeny terlalu sibuk jd ditektif sich…
    makannya blom proses…
    tp tenang aja..
    kalo udh waktunya pasti dikasi kok…

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s