You’ll be the Prince & I’ll be the Princess [Chapter 24]

Hiiii kapan terakhir gue update ini fanfic?? lol anyway,

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

Title1d

Chapter 24: The truth we speak

Bunyi dentang keras bergema di seluruh penjuru gudang saat sebuah peluru memantul dari permukaan logam sebuah mesin tua, meleset dari sasaran yang dituju karena Yuri dan Jessica merunduk tepat waktu. Meraih tangan Jessica bersama dan berlari secepat mungkin, Yuri berhasil bersembunyi di balik peti kayu kokoh sebelum tembakan lain terdengar di kejauhan. Mereka bergegas, berkelok-kelok lebih dalam di barisan peti kayu yang tersusun acak berusaha untuk bersembunyi lebih jauh hingga akhirnya mereka kelelahan. Berada di ambang kelelahan, Yuri bersandar ke peti kayu dan merosot ke lantai. Jantungnya berdebar cepat, hampir mengancam untuk meledak di sana. Kepalanya terasa pusing dan ia merasa mual. Yuri memejamkan mata kuat-kuat berusaha menahan semua rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, ia merasakan seseorang meremas lengan bawahnya.

“Yul, kita harus pergi!” bisik Jessica khawatir dan takut sambil menarik lengan Yul.

Jessica tahu benar pukulan-pukulan tanpa ampun mereka telah menyebabkan kerusakan besar pada tubuh Yul namun mereka tidak bisa beristirahat sekarang, tidak ketika seserorang yang mereka anggap sebagai pengawal mereka berubah menjadi seorang bajingan. Jessica tidak mengerti sedikit pun kenapa pengawal mereka berkhianat, namun saat ia melihat tatapan kejam pria itu tertuju pada Yul, segalanya menjadi jelas, Taewoo ingin mereka mati.

Jessica bisa mendengar langkah-langkah berat yang kian mendekat. Dengan tergesa-gesa, ia menyampirkan lengan Yul di bahunya, memaksa dia untuk bergerak maju.

Yuri kembali membuka matanya dan mengangguk-angguk kecil. Ia bisa beristirahat selama mungkin setelah siksaan ini berakhir. Untuk saat ini, tidak banyak waktu tersisa. Yuri mengangkat dirinya dengan dukungan gadis itu. Jessica menyelipkan lengannya di balik pangeran yang terkejut, merangkul pinggangnya sebagai dukungan tambahan. Di balik kedoknya yang berani, Jessica gemetar ketakutan, ia takut mati dan kehilangan seseorang yang menyayanginya.

Merasakan ketakutan gadis itu, Yuri menempatkan tangannya di atas tangan Jessica dan memegangnya erat-erat, menenangkannya.

“Kita akan keluar dari kekacauan ini bersama-sama.”

Namun, sebelum Jessica sempat menjawab, tembakan lainnya terdengar di kejauhan diikuti dengan  pekikan tercekik dan jeritan tajam. Hati mereka berdua melemah.

“Kwon Yul. Tunjukkan dirimu atau aku akan segera membuat teman-temanmu menderita.”

Taewoo berbicara dengan suara dingin sambil mengarahkan senapan pada Sungmin yang pahanya berdarah-darah karena luka tembak. Meskipun dirinya sendiri tengah dalam bahaya, Sungmin memaksa Sunny bersembunyi di belakangnya, bertekad untuk melindungi dia dari pria yang berbahaya tersebut.

Jessica menatap mata Yul dan ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu.

“Kumohon…”

“Diam di sini.” Kata Yuri tegas sambil menarik diri dengan enggan.

“Tidak!” Jessica memohon. “Kumohon jangan pergi.”

“Dalam hitungan sepuluh.”

Suara Taewoo memecah keheningan.

“A-aku harus pergi…”

Jessica tahu itu. Ia bisa melihat dari mata Yul dan ia tahu tak ada yang bisa mengubah pikiran laki-laki itu sekarang. Bahkan dirinya. Jessica menggandeng lengan Yul erat-erat. Ia ketakutan. Takut jika ia membiarkan laki-laki itu pergi, ia akan menyesal. Takut jika ia tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi. Takut jika Yul hanya akan tinggal kenangan.

Yuri pun merasa takut. Jika ia diberi pilihan, ia akan memilih untuk tetap tinggal bersama Jessica. Tapi tak ada lagi pilihan tersisa. Nyawa-nyawa yang tak berdosa sedang dipertaruhkan.

“Maafkan aku…” jawab Yuri dengan berat hati.

“Kalau begitu aku akan ikut.”

“Tidak!” tolak Yuri tegas. “Aku tidak akan membiarkanmu terluka.”

“Tidak juga aku!” suara Jessica terdengar serak, air mata menggenangi matanya.

Yuri membelai lembut pipi Jessica, menyeka air matanya dengan ibu jari sambil mengendalikan ketakutannya.

“Aku juga takut. Aku bukan superhero. Aku hanya manusia biasa yang rela melakukan apa pun semampuku, untuk menyelamatkanmu… karena kau sangat berarti bagiku…”

Yuri menarik Jessica lebih dekat, dahi mereka bersentuhan.

“Dan hanya karena kau, Super Black Bear ada… Karena kau, Aku… Aku menemukan cinta.”

Perasaan yang telah lama tersimpan jauh di dalam lubuk hatinya akhirnya dibebaskan. Yuri tersenyum sambil memegang bahu Jessica, menatap ke matanya dengan penuh cinta dan menghafal setiap inci wajahnya, senyumnya dan matanya. Hal ini menyadarkan dirinya bahwa ia tidak pernah memberitahu Jessica betapa ia mencintainya.

“Sica Aku-”

“Aku mencintaimu.” Kata Jessica, mencium bibir sang pangeran dengan lembut dan dalam sebuah langkah mengejutkan.

Tiga kata sederhana itu berarti banyak bagi Jessica.

Akhirnya ia telah menemukan keberanian untuk menyatakan perasaannya.

Sudah menjadi mimpi setiap gadis untuk menikahi seorang pangeran yang menawan.

Juga sudah menjadi mimpi setiap gadis untuk menikahi seseorang yang mereka cintai.

Ia mengira ia tidak akan pernah menemukan cinta sejatinya melalui perjodohan ini. Tapi takdir berkata lain, ia telah menemukan orang spesial itu. Pangeran Yul, pangeran sombong dari pertemuan pertama mereka, yang tidak pernah ia duga akan menjadi seseorang yang akan disukainya, apalagi dicintainya. Namun seiring hari berlalu, ia telah menemukan sisi lain sang pangeran yang lebih memikat. Dia berkarisma, baik hati, lembut, pengertian, penuh kasih dan Yul memiliki segala sesuatu yang ia harapkan dari seorang pria. Dan tanpa ia sadari, ia telah jatuh cinta sepenuh hati pada laki-laki yang berdiri tepat di depannya.

Ciuman itu hanyalah ciuman sederhana, namun ciuman itu telah menyampaikan makna yang tak terucapkan.

Dan seandainya saja waktu dapat berhenti untuk selamanya…

Enggan namun tak dapat dielakkan, Yuri memisahkan diri dari ciuman singkat mereka dan hendak mengatakan tiga kata itu pada Jessica ketika gadis itu menempelkan jari telunjuk di bibirnya, menghentikannya untuk mengucapkan kata-kata itu.

“Jangan katakan itu.”

Itu adalah tindakan egois namun Jessica merasa takut.

“Aku…tidak mau mendengarnya sekarang.”

Ia takut kata-kata itu akan menjadi kata-kata perpisahan terakhir mereka.

Merasakan ketakutannya, Yul merangkul Jessica dalam pelukan hangat dan memeluknya erat-erat.

“Nanti. Aku akan mengatakannya nanti…” Yul berbisik pelan ke telinga Jessica sebelum ia melepaskan pelukan.

Hati Jessica terasa sakit saat ia merasakan tangan laki-laki itu terlepas dari genggamannya.

“Pergilah.” Yuri memberikan sentakan terakhir, mendesak gadis itu pergi sementara dirinya melangkah mundur.

Bergelut dengan kepiluan hatinya, Yuri membisikkan “Aku mencintaimu” sebelum ia berbalik dari gadis malang itu dan pergi menuju sebuah takdir yang tak pasti.

Setelah akhirnya Yul menghilang dari pandangannya, Jessica terjatuh ke tanah seperti sebuah boneka hancur, mengizinkan air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir dengan bebas.

*****

“Waktu habis…”

Dengan raut wajah yang sulit dibaca, Taewoo mengangkat senapan itu di depan wajah pucat Sungmin.

“Sepertinya temanmu memang orang yang tak punya hati…aku tidak terkejut…dia memang tidak punya hati, seorang raja yang hanya memedulikan dirinya sendiri, sama seperti anggota keluarganya yang lain.”

Sungmin menelan ludah dengan gugup. Ia tidak bisa memaksa dirinya untuk menyalahkan Yul. Terlepas dari semua itu, ia sendiri yang memaksa Yul untuk ikut dalam misi berbahaya ini. Ia hanya bisa meratapi nasib dan kegagalannya sendiri. Setidaknya, ia rela mengorbankan dirinya sendiri demi melindungi Sunny. Ia hanya berdoa semoga tembakan itu akan terjadi dengan cepat dan tidak begitu menyakitkan. Sebuah peluru yang menembus kepala seharusnya tidak terlalu menyakitkan…

Sungmin menutup matanya untuk bersiap-siap dan kemudian entah dari mana, suara yang tak terduga terdengar.

“Kim Taewoo!”

Pria kekar itu segera mengalihkan perhatiannya kepada sang pangeran, senjatanya terarah padanya, sekitar tiga puluh meter darinya. Sementara itu, Yuri mengalihkan pandangannya dari senapan yang mengancam tersebut untuk mengamati kondisi mereka. Terlepas dari kaki Sungmin yang terluka, Yuri merasa senang mengetahui sampai saat ini mereka masih relatif tanpa cedera.

“Aku di sini. Mereka hanya warga sipil tak berdosa. Hormatilah sumpah-sumpahmu.”

Meskipun ia merasa ingin mengumpat serangkaian kata-kata kasar padanya, Yuri harus menggunakan kata-katanya dengan hati-hati. Alasan pengkhianatan Taewoo masih belum jelas. Dari posisi saat ini, segalanya bisa menjadi tak terkendali, baik yang mungkin maupun yang tidak mungkin terjadi.

“Kenapa aku harus menghormatinya kalau kalian tidak?”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Kalian, keluarga kerajaan…” Taewoo menggeleng-gelengkan kepalanya. “adalah sekumpulan orang yang paling menarik. Tidakkah kalian merasa lelah, bersembunyi di balik kedok palsu di hadapan orang-orang yang kalian sebut ‘warga sipil tak berdosa’?”

Alis Yuri berkerut mendengar peryataannya.

“Aku bukan seorang ahli cryptologist. Apa maksudmu?”

“Aku hanya sedang menunjukkan kebenaran pada semua orang. Dimulai dari kau…”

Yuri bergerak-gerak gelisah. Apa yang sebenarnya dia maksud dengan itu?

“Kau ingin mendengar cerita?” canda Taewoo, matanya yang tenang tidak menunjukkan emosi apa pun. Senjata itu masih diangkat tingi-tingi dan mantap.

“Cerita ini tentang seorang pelayan muda istana yang ditugaskan di tempat tinggal pangeran kerajaan. Sama seperti dongeng lainnya, sang pangeran menyukai dia dan tak lama kemudian mereka pun jatuh cinta. Tidak dapat menahan hasrat cinta mereka yang kian bertambah, mereka melakukan suatu hal yang sangat buruk, dan itu terjadi tak lama sebelum hubungan terlarang mereka akhirnya terungkap. Sang raja mengamuk dan tebak apa yang dilakukan sang pangeran?”

Taewoo mengangkat sebelah alisnya, menunggu sebuah jawaban. Yuri tetap diam, tidak tahu harus berkata apa.

“Sang pangeran memilih untuk menyelamatkan dirinya.”

Taewoo tertawa pahit.

“Janji cinta abadi, kebahagiaan abadi hanyalah sebuah kebohongan belaka. Sebuah karangan, kebohongan yang rumit. Dipermalukan dan ditolak, pelayan muda itu dipaksa untuk meninggalkan istana, tapi tidak ada seorang pun, bahkan dirinya sendiri tahu bahwa dia tengah mengandung keturanan berdarah bangsawan… tapi siapa yang akan percaya padanya? Dengan seorang diri dan tanpa bantuan, ibu muda itu harus membesarkan anaknya yang baru lahir sendirian. Dia bekerja keras banting tulang, hanya agar dia bisa memberikan kenyamanan terbaik yang bisa dia penuhi untuk anaknya. Sangat sulit namun mereka tetap hidup dengan damai. Beberapa tahun berlalu tanpa kesulitan sebelum dia akhirnya melihat pria itu lagi, kali ini melalui siaran televisi yang menayangkan upacara penobatan Raja yang baru. Terpesona oleh prosesi yang mewah, anak naif itu berkata pada ibunya bahwa suatu hari nanti dia akan menjadi seorang Raja agar ibunya bisa hidup dengan nyaman. Seketika itu juga, ibunya memeluk dia erat-erat dan menangis tersedu-sedu, mengejutkan si anak karena dia tidak pernah melihat ibunya meneteskan setetes air mata pun meskipun keaadaannya sulit. Sejak hari itu, anak itu bersumpah untuk tidak pernah membuat ibunya menangis lagi. Tapi nasib tidak pernah baik pada si ibu. Beberapa tahun kemudian, dia meninggal karena menderita sakit parah, meninggalkan anaknya yang berusia hampir sepuluh tahun untuk mengurus dirinya sendiri. Yang tersisa setelah kematian ibunya hanyalah sebuah kotak, sebuah kotak kusam yang berisikan buku harian dan surat cinta kusut yang sudah menguning. Si anak mulai mengetahui seluruh kebenaran seputar kelahirannya, dan seorang ayah yang telah meninggalkan ibunya demi status…”

Insting Yuri biasanya berjalan dengan baik, tapi untuk saat ini, ia berharap dirinya salah. Saat ia melihat ekspresi gelap di wajah Taewoo, ia tahu semuanya akan menjadi berbahaya.

Pistol itu sedikit gemetar ketika Taewoo mencengkeram gagangnya dengan erat, emosi pertama yang ia tunjukkan sejak ia melangkah ke dalam gudang dengan hanya satu tugas dalam benaknya.

“Aku bersumpah di depan kuburannya. Sebuah sumpah untuk membalaskan dendam atas semua kesalahan yang telah dilakukan padanya…”

Saat itu juga tenggorokan Yuri terasa tercekat.

“Apa kau tahu apa yang sangat membuatnya marah? Kau tahu?” Taewoo meninggikan suaranya.

Suranya berubah menjadi rendah namun penuh kebencian, “Sebenarnya dia merasa sangat menyesal telah membawaku ke dunia ini. Dia merasa kalau semua ini adalah salahnya, karena dia jatuh cinta kepada seorang pangeran dengan statusnya yang rendah. Sebenarnya ibuku membela si b******k yang sudah meninggalkannya. Dan apa kau bahkan tahu kenapa kau ada di sini? Yah, semua ini berkat rencana ‘ayahku’…paman ‘sedarah’mu, yang telah bertahun-tahun mengincar takhta itu…”

Butuh beberapa saat sebelum Yuri tersadar sepenuhnya.

“P-pamanku?” suara Yuri terdengar serak. Tentu saja, entah mengapa Jin selalu terlihat seperti orang yang bermuka dua sama seperti yang pernah dikatakan ibunya…namun bagaimanapun juga mereka tetap keluarga sedarah. Akankah Jin berbuat sampai sejauh ini hanya demi kekuasaan dan status?

Taewoo mendengus mencemooh, sedikit menurunkan pistolnya.

“Ya…ayahku yang kejam, Kwon Jin. Yang Mulia Pangeran Jin itu sendiri. Dalang dari semua ini…dia merencanakan segalanya tepat dari awal. Kecelakaan berkuda itu bukanlah kecelakaan. Begitu juga dengan skandal itu. Bahkan hari ini… dialah yang memperdayai putrimu untuk membawamu ke taman…sendirian dan tanpa pengawalan…terkejut?”

Begitu teringat pamannya sendiri berencana untuk melawan kakaknya sudah cukup membuat dirinya geram. Semua ini hanya karena haus kekuasaan, perebutan kekuasaan yang tertulis dalam garis keturunan mereka yang kacau, sebuah pelajaran gelap dari masa lalu yang suram. Dan membayangkan Jessica dan yang lainnya terperangkap dalam situasi ini hanya karena seseorang yang menginginkan takhta. Tapi Taewoo… apa yang dia inginkan…?

“Tapi- kalau kau membenci ayahmu, lalu kenapa kau…membantu dia?”

Kepala Taewoo tersentak ke belakang karena tertawa keras, menikmati ekspresi terkejut di wajah sang pangeran.

“Dia mengira aku datang untuk mengemis pengakuan. Kau lihat, dia mengira semua orang menyukai dia. Haus akan kekuasaan dan gila harta…tentu saja, pada awalnya dia sama sekali tidak memercayaiku, tapi aku bekerja pelan-pelan melalui pangkatku dan pada akhirnya… aku menjadi orang kepercayaannya. Bagaimanapun juga, dia membutuhkan seseorang yang bisa melakukan pekerjaan kotornya tanpa menodai tangannya sendiri. Aku hanyalah suruhannya dan di sinilah aku…menyelesaikan apa yang dimulainya…”

Taewoo tersenyum licik.

“Untuk seseorang yang sangat peduli dengan status, gelar, dan martabatnya, kematian bukanlah hukuman yang seberapa. Baginya, untuk kehilangan segala yang sangat dijaganya, itu akan menjadi pembalasan yang sangat pantas…aku sudah bilang, aku ingin balas dendam demi ibuku dan lebih baiknya untuk membuat seluruh keluarga berduka atas meninggalnya putra mahkota, penerus keluarga kerajaan yang dihasut oleh seorang anggota dari dalam kerajaan. Kau hanyalah permulaan dari sebuah akhir…”

*****

Jessica mengikuti kata-kata Yul dan berlari sejauh mungkin. Lingkungan yang tak berubah-ubah dan mesin-mesin berkarat sedikit menghambat harapannya. Ia bergantung pada satu kepercayaan yang diberikan Yul padanya – sebuah janji pernyataan cintanya. Dengan itu, ia terus berlari, dan akhirnya melihat sebuah jalan keluar yang gelap. Tangannya mencari-cari palang pintu dan menekannya dengan kuat. Engsel berkarat itu berderit sedikit sebelum akhirnya pengungkit itu terlepas, dan dengan sekali dorongan yang kuat, perlahan-lahan pintu itu berderit terbuka, membiarkan embusan udara segar memasuki ruangan yang pengap. Tangannya masih melekat pada palang pintu, ia tampak ragu untuk melakukan langkah selanjutnya.

Tinggal satu langkah lagi dan ia akan bebas.

*****

Sepatu boots-nya yang berat berkeletak di tanah yang padat saat Taewoo perlahan-lahan mendekat. Yuri merasa tegang, ia mundur dengan hati-hati. Ia terlihat tenang dalam menghadapi kematian di depannya namun pada kenyataannya, ia sangat ketakutan. Semua rahasia yang terbongkar hari ini terlalu berat untuk ditangani. Tidak disangka-sangka, ia mempunyai sepupu yang tak menyerah untuk membunuhnya.

Menunda…yang harus ia lakukan hanyalah menunda-nunda waktu. Namun…sampai kapan?

Apakah Jessica sudah berhasil melarikan diri?

Apakah bantuan akan datang?

Yuri hanya bisa berharap Sooyoung telah melihat pesannya dan dia sedang dalam perjalanan kemari.

“Dia harus datang, atau jika tidak….dia tidak akan pernah mendapatkan traktiran apa pun…”

Skenario terburuk – dia tidak akan berhasil keluar hidup-hidup.

“Dengar, Taewoo…kau membuat kesalahan yang besar-”

“Aku menyadari sepenuhnya apa yang sedang kulakukan.”

“Kau hanya…akan menghancurkan masa depanmu sendiri.”

“Aku tidak punya masa depan. Setelah semua ini selesai aku akan mengundurkan diri…aku hanya akan menyeret semua orang untuk jatuh bersamaku, terutama ayahku sendiri.”

“Semua ini? Kau pikir ibumu…dia menginginkanmu untuk terjerumus ke jalan yang salah?”

Raut wajah Taewoo berubah gelap dan Yuri tahu ia telah menyentuh perasaannya.

“Apa yang kau tahu tentang ibuku! Kau dihujani dengan berkah, dilayani oleh ratusan pelayan, dan mempunyai kehidupan yang mewah sejak hari pertama kau dilahirkan! Apa kau bahkan tahu penderitaan yang pernah kami alami?”

“Tidak ada ibu di dunia ini yang mengharapkan anaknya menderita!”

“Lalu siapa yang akan membayar semua penderitaan ibuku?! Siapa yang akan membayar penderitaanku!” teriak Taewoo geram.

*****

Kata-kata tidak jelas mereka yang kian memanas membuat Jessica semakin merasa gelisah. Ia mempercepat langkahnya berkelok-kelok melalui lorong namun perlahan-lahan berhenti ketika ia mendengar kata-kata itu menjadi lebih keras dan jelas. Ia menghentikan langkahnya ketika ia melihat bayangan menjulang melalui celah kecil di antara peti-peti. Jessica menunduk seketika, menyembunyikan dirinya sambil diam-diam bergerak di sekeliling peti-peti saat sosok itu berjalan melewatinya.

Lalu ia mendengar Yul berbicara.

“Itu adalah sesuatu yang terjadi di masa lalu! Kau seharusnya tidak mengungkit hal itu sendiri!”

“Apa yang tidak terselesaikan di masa lalu akan diselesaikan hari ini!”

Jessica segera mengamati sekelilingnya dan menemukan sebuah balok kayu panjang yang tergeletak di dekatnya.

“Jangan salahkan aku. Salahkan nasibmu jika perlu.” Kata Taewoo sungguh-sungguh, ia mengangkat pistolnya. Jantung Yuri berdebar keras di dadanya. Jika ia menggerakkan tubuhnya, bahkan hanya sedikit, Taewoo tidak akan segan-segan untuk menembaknya dengan sekali tembakan yang tidak mungkin ia hindari tepat waktu.

Lari? Atau…

Sebelum ia bisa membuat keputusan cepat, sekilas Yuri melihat Jessica yang muncul dari sudut matanya dan beberapa detik kemudian, sebuah balok kayu mengayun ke punggung Taewoo, mematahkan kayu tersebut menjadi dua bagian.

Tidak menyadari serangan yang tiba-tiba, Taewoo terhuyung ke depan dengan kepala yang sedikit pusing. Diluar dugaan Jessica, pria tegap itu kembali pulih dengan cepat, Jessica menjerit ketika Taewoo menolehkan kepalanya dengan tatapan haus darah, mencengkeram pistolnya dengan pasti.

“Aku hampir lupa. Sang putri sebagai pelengkap akhirnya…”

“JESSICA!”

Bayangan mimpi di mana Jessica tergeletak berlumuran darah seketika melintas dalam benaknya.

Dan Yuri melakukan apa yang harus dilakukannya.

Yuri sudah tidak peduli lagi saat dirinya berlari ke depan, dipicu dengan adrenalin yang kuat ia menggerakkan tubuhnya yang lelah untuk maju, mendorong Jessica secara paksa. Suara ledakan keras terdengar dan segalanya perlahan menjadi buram. Suara jeritan dan kemudian terdengar ledakan lain, namun kali ini lebih pelan dan di kejauhan. Dan Yuri merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya saat logam peluru itu menembus dagingnya, panas dan membakar. Kakinya yang lelah ambruk dan ia terhuyung mundur ke dalam pelukan seorang gadis yang terkejut.

“Yul!” teriak Jessica kaget. Ia hampir tidak bisa menahan laki-laki itu, dan dengan kombinasi berat badan mereka, Jessica pun terjatuh dan keduanya mendarat dalam posisi menyamping di tanah yang kotor. Sikunya yang tergores seketika terasa menyengat nyeri.

Ketiga suara tembakan berturut-turut dan akan menjadi suara tembakan terakhir yang akan Jessica dengar bergema di telinganya yang berdengung.

Suara teriakan tertahan berasal dari depan dan sekilas pandangan mereka bertemu sebelum Taewoo terhuyung ke depan, menghantam tanah dengan suara gedebuk.

Seseorang…akhirnya seseorang datang untuk menyelamatkan mereka.

“Yul! Kita akan baik-baik sa-”

Jessica menghentikan kalimatnya setelah melihat punggung laki-laki itu tidak bergerak.

“Yul…?”

Jessica merasa jantungnya berhenti berdetak dan ia segera berlari ke depan, membalikkan tubuh Yul ke posisi telentang. Ia merasa ngeri ketika ia melihat bulatan merah gelap yang kontras di kemeja berwarna terang itu semakin melebar. Wajah laki-laki itu mengernyit kesakitan.

“Yul-” suara Jessica terdengar serak karena panik.

Menghentikan pendarahan; itu adalah satu-satunya hal yang muncul dalam benaknya.

Tangannya gemetar ketakutan saat ia meletakkan tangannya di atas bulatan darah di dada Yul. Tidak membuang-buang banyak waktu, Jessica menekan luka itu dengan keras. Dada Yul yang lembut mengejutkan Jessica namun ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu sekarang.

“Kenapa tidak mau berhenti!?” teriak Jessica bercampur rasa takut dan frustrasi. Kelembaban yang semakin bertambah di bawah tangannya membuatnya ketakutan ketika tak lama kemudian tangannya dibanjiri oleh cairan hangat berwarna merah tua. Air mata mulai menggenangi matanya.

“Yul, kumohon! Kumohon bukalah matamu!” Jessica memohon dengan putus asa.

“Ugh-”

Yuri terbatuk. Setiap helaan napas yang ia tarik sedikit demi sedikit menjadi terasa semakin sulit. Rasa sakit yang tajam kembali muncul setiap kali ia berusaha untuk bernapas.

Jessica bisa mendengar suara napasnya yang sesak.

“Yul! Kau bisa mendengarku?”

Suara itu terdengar teredam dan jauh di dalam kegelapan, namun meskipun demikian Yuri masih bisa mendengarnya.

“Yul!”

Suara itu…suara itu hanya mungkin berasal dari…

Jessica?

“Sica…”

Suaranya terdengar seperti gumaman, namun Jessica mendengarnya. Yul memanggil namanya.

“Yul!”

Mata Yuri perlahan-lahan terbuka, Jessica merasa lega dan bahagia. Gadis itu menyunggingkan seulas senyum lega sesaat sebelum Yul terbatuk lagi, kali ini dengan memuntahkan cairan berwarna merah. Jessica merasakan hatinya melemah setelah ia melihat aliran darah segar berwarna merah cerah berbusa keluar dari mulut Yul. Ia menangkup wajah pucat Yul dengan tangannya yang bebas. Kini air matanya mengalir bebas menuruni pipinya.

“Yul!” Jessica berteriak, air matanya menetes ke kemeja Yul yang berlumuran darah.

“S-Si-ca-” panggil Yuri dengan suara serak.

Penglihatannya mulai kabur saat ia berusaha keras untuk menarik napas. Bahkan wajah yang ingin dilihatnya dan yang secara diam-diam ia harapkan bisa dilihat setiap kali ia terbangun dari mimpinya mulai buram menjadi rona samar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak pernah merasa sangat takut dan juga tidak pernah menghadapi kematian sedekat ini. Dalam benaknya, Yuri tahu ia harus mengatakannya sekarang juga, atau ia mungkin tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mengakui kebohongannya. Ia sudah tidak peduli lagi jika Jessica akan memaafkan atas kebohongan yang telah dilakukannya atau tidak.

“Yul…kumohon…tetaplah bersamaku!” Jessica memohon, menepuk-nepuk pipinya saat ia melihat mata Yul yang tak fokus sedikit demi sedikit menatap padanya.

“Maaf…aku berbohong-”

“Apa yang kau bicarakan? B-berhentilah berbicara! Kau akan baik-baik saja!” Jessica berbohong dengan sangat buruk. Bagian depan kemeja Yul dibasahi dengan darah, dan meskipun Jessica menekan luka itu, pendarahannya tak kunjung berhenti. Ia tidak ingin memercayai apa yang dilihatnya. Ia ingin meyakini bahwa Yul akan baik-baik saja, bahwa Yul akan tersenyum lagi, dan bahwa Yul akan selalu berada di dekatnya, mencintainya.

Yuri berusaha menahan darah di tenggorokannya dan kembali melanjutkan ucapannya dengan susah payah.

“Seharusnya…a-aku…memberitahumu…dari…a-awal-”

Yuri berhenti mendadak ketika serangan batuk lain menyerang tubuhnya yang rapuh.

“Yul! Jangan berbicara lagi…aku mengerti!” Jessica kembali berbohong. Ia merasa gugup ketika melihat aliran darah segar keluar dari mulut laki-laki itu. Ia menyekanya dengan tangan yang berlumuran darah, namun cairan berwarna merah tersebut mengalir tanpa henti.

“Tidak…aku tidak seperti…a-apa…yang kau pikirkan…” ucap Yuri dengan suara parau, suaranya hampir tak terdengar, “Aku b-bukan…Yul-”

Kebenaran yang sangat menyedihkan itu terungkap dengan suara yang terbata-bata. Ia melihat ekspresi bingung di wajah penuh air mata Jessica, tapi tidak.

Jessica tidak memahaminya…dia tidak mengerti.

Dia hanya terus menangis tanpa henti…

“Kenapa dia menangis?”

Seorang gadis…seorang gadis kecil sama seperti dirinya tengah duduk sendirian di trotoar. Wajahnya dibenamkan di kedua tangannya, gadis itu menangis tak terkendali.

“Kenapa kau menangis?”

“Apa kau selalu menangis…karena aku?”

Yuri mengangkat tangannya yang gemetar, dengan lembut membelai wajah Jessica. Jessica langsung menangkup tangan Yul, menempelkannya di pipinya. Yuri membelai pipi kiri gadis itu dengan ibu jarinya, menyeka air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.

“Aku m-mencintaimu…”

Hanya itu yang dapat ia katakan, dengan seulas senyum yang dapat ia berikan dan sebuah sentuhan yang akan ia rindukan.

Dan seandainya, waktu berada di pihaknya…

Aku akan jatuh cinta padamu sekali lagi…

Aku akan memilih untuk jatuh cinta padamu sekali lagi…

Tangannya terlepas dari genggaman Jessica, meskipun ia berusaha untuk berpegangan.

Matanya terpejam, meskipun ia berusaha untuk tetap terjaga.

Napasnya terhenti, meskipun ia berjuang untuk tetap hidup.

Jantungnya perlahan-lahan berhenti, meskipun ia ingin jantungnya terus berdetak untuk seseorang.

“Y-Yul…b-bangunlah…bangun!”

Suara Jessica yang bergetar tercekat di tenggorokannya saat dirinya berteriak, mengguncang-guncang tubuh sang pangeran yang tak sadarkan diri untuk tetap terjaga namun laki-laki itu tidak merespon. Dia menolak untuk merespon.

Beberapa langkah buru-buru bergegas menghampiri dan teriakan keras terdengar di mana-mana. Seseorang meneriakkan paramedis, seseorang lainnya berteriak untuk mengamankan lokasi.

Jessica menolehkan kepalanya ketika mendengar keributan tersebut.

Seseorang yang sangat dikenalnya, kehadiran yang sangat melegakan. Suaranya terdengar parau.

“S-Sooyoung…t-tolong…dia…dia…” suara parau Jessica bergetar.

Gadis jangkung itu terkejut tanpa kata.

Darah…terlalu banyak darah…

Sooyoung jatuh berlutut, berjongkok di samping Yuri, seketika juga memeriksa denyut nadinya. Ia meletakkan tangannya di bagian samping leher Yuri dan tangannya yang lain di bawah dada Yuri. Ia tidak merasakan denyut nadinya dan dadanya pun tidak naik turun.

“Medis! Saya membutuhkan petugas medis di sini!” teriak Sooyoung sekeras mungkin, sebelum ia meletakkan kedua tangannya, bertumpukkan, di dada Yuri.

“Jangan tidur, bodoh!” Sooyoung mengumpat saat dirinya mulai melakukan serangkaian tekanan di dada Yuri. Jessica menyingkir ke samping saat paramedis datang secara spontan, memasangkan ambubag di wajah sang pangeran. Ia tidak dapat melalukan sesuatu yang berguna, kecuali memegang tangang sang pangeran dengan erat.

“Nadinya masih belum terlihat!” seru paramedis, melipatgandakan usahanya untuk mempertahankan aliran oksigen yang stabil.

Sooyoung mengulangi proses yang sama tanpa henti.

“Sial…bernapaslah Yuri! Jangan mati di tanganku!”

“Yuri?” Jessica mendongak melihat Sooyoung dan di sudut matanya; ia melihat sosok yang sangat mirip dengan Yul berdiri tak jauh darinya.

“Yul…? Tidak mungkin-”

Yul berdiri membeku, mengamati sekelompok paramedis yang berjalan melewatinya secara terburu-buru

“Yuri…” gumamnya.

Apa yang terjadi…

Tercengang dan terkejut tanpa kata, Jessica hanya dapat menatap kosong pada pangeran yang sebenarnya sementara kekacauan terhampar di depan matanya sendiri.

 ~~~;~~~;~~~

TBC

sorry baru update lagi fanfic YBTP soalnya gue rada males ngedit terus  banyak kerjaan juga -__-

credit: choki @SSF

boiboi~

Advertisements

58 thoughts on “You’ll be the Prince & I’ll be the Princess [Chapter 24]

  1. akhir.y lu dpt hidayah jg buat kambekin nih epep yaaaa.. gw seneng bngt tau ngkkkkk hehe
    bahkan gw hrs ngebaca ulang chapt sebelum.y lol

    kenapa para badai msh stay.ama.yulsic sih hah.. oalahhhh
    pls buruan next lh ini hehe

  2. hihihi.

    maaf thor klo jarang comen. failed terus sih.

    dan awalnya lupaaa… ceritanya apa..
    dan makin ketengah baru inget hihi.

    dan pas nadi yul gak kedenger.. langsung nangis.
    njeb bgt.

    semoga yuri masih idup.

    bener2 penasaran sama kelanjutannya

  3. Annyeong,,,,
    Ohhh tidak yuri ngaku dia bkan yul,,,dan snng nya dia msih smpat mnyatahkn cinta bwat sica,,,tpii sica sngat trkjut soo memanggil dgan sbutan yuri,,dan stlah itu mnculah yul asli,,,hadeuuuuhhh bdai dan drama bru bwat yulsic,,,smkin bkin pnsran,,
    Ok siip
    Next d tunggu
    Ttap smngattt,,,
    Gomawo

  4. Akhirnya dilanjut juga..
    Yuri ga boleh mati dulu! Super Black Bear-nya Sica harus kuat! Yuri juga masih punya hutang penjelasan ke Sica.

  5. yuri gk bklan mati kn… walaupn dia udh jujur tpi mna blh dia mati skrang
    sica bklan super duper galau nih udh tau kbnaran ny… ak berdebar2… yuri emg lbh cucok jd pangeran dr pda si yul

  6. yul oppa (onnie) pliase bertahan..
    jangan tinggalin sica onnienya..
    yul oppa pliase buka mata mu, pliase jangan tidur lagi..
    semuanya cepat bantu yul oppa..
    penasaran sama reaksi sica onnie yang uda tau kebenarannya..
    apa dia bakalan marah atau akan terjadi sesuatu yang mengejutkan ??
    yang penting sekarang bangunin yul oppa nya dulu..
    lanjut chingu..
    selalu ditunggu ceritanya..
    pliase jangan lama-lama lagi ya updatenya…
    see you and fighting friend..

  7. Gilaaa . . . Terharu gw bacanya . Segitunya yuri nyelamatin sicanya . Tapi gw harap yuri nya ga mati , dan itu yul yg asli datang dan sica liat ?? Ahhh gw penasarannnn . . Jangan sampe yuri mati , lanjuuttt thor 😀

  8. Yah akhirny autor come back juga 😥 hiks ksian yuri ketembak smg yuri g mati jessica shock liat pngeran yul di tnggu next tour

  9. andwee please slmetin yul y thorbkln seru lg nh krn yul pangeran asli udah muncul,akankah yul m sica prrjodohanny berlnjut trus gimn hub soo m pangeran yul,yuri n sica di tunggu nh thor lnjut

  10. akhiirrnyaaa.. ff yg gw tunggu2.. di lanjuutt jugaaaaa.. tapi sebelumnya makasih ya thor, krna udah memutuskan buat balik nulis lagi,,,
    ini udah mndekati ending’kah?? sekarang jessica bakalan tau ttg yul & yuri, apakah jessica kan memaafkan mreka? apalagi pngorbanan yuri buat sica selama ini udah sangaaatt bnyaakk.. gw harap semuanya bisa berakhir bahagiaa.. di tungguu next chapternya..
    btw,, ada ff baruu nih,, gw mau ngijin baca dulu ya,, nanti gw nongol lagii.. see youuu thooorrr 😉

  11. Epick nya disini, chapter ini, akh akhirnya jessica sedikit tahu lah bahwa itu bukan pangeran asli walaupun kebenaran akan terungkap jelas di chapter berikutnya xD next chap bakal seru. Makasih author udah translate ff ini 🙂 oh ya salam kenal reader baru disini.

  12. dah d tunggu chap ini akhirnya update juga…..
    thor..please selamatkan yuriii…..
    identitasnya dah terbongkar..
    pangeran yul asli dah di liat ma sica…jgn bqn galu sica thor…gmn kelanjutanhub soo ma pangeran yul klo yuri mati…sica ma siapa dnk???
    jgn lama” yaa thor updatenya 🙂

  13. Akhirnya ni ff d lanjut jg jd gk sia2 nungguinnya….
    N akhirnya rahasia yuri terbongkar tinggal liat gmna reaksi sica…
    Smga sica ttp mau terima yuri scra pengorbanannya yg besar bngt n rela mati demi sica….
    Lanjut thor jng lama2 lg apdet ff yg ini….

  14. Yakkkk….TBC tu emang penyakit di setiap ff…..
    Lo tepati apdet tgl ni….lanjut bray…
    Kece abis ni ff…..cpt dilanjut ya chap selanjutnya…

  15. Yuhuuuuuuu…. ini ibarat kado ultah yg lu kasih buat gw tarra hehehehe. Pas bgt sih tgl apdetnya ama ultah gw hahahahahahahahaha….
    BTW, yuri daebak bgt aseli dah. Bahagia bgt kalo ada org yg kaya yuri buat jd pacar jessica. Pkoknya part nie keren plus berdarah darah deh….

  16. Itu Jin iprit harus d musnah kan.. jgn mati dunk thor Yuri ny… bangun Jessie jgn bengong ajj.. bkn saat ny buat bengong… pengorbanan Yuri sama Jessie pe sgto.
    Saking cinta ny ..semangat thor jgn males y.. hehehe..seru

  17. Yuri blm ungkapkan diri sebenarnya tp sooyoung terlebih dahulu ungkap secara tak sengaja. Ditambah kehadiran yul.
    Jangan matiiiii. Tolonglah yuri.
    Taewoo ternyata anak paman yul. Paman yul rakus ingin pake mahkota luar biasa

  18. Yah thorrrr napa yul tertembak???
    Bakal selamatkan yuri?
    Dia harus jelasin semuanya dulu ke sica
    Terus yul knp lu bru muncul ketika suasananya kacau bgt
    Sungmin gmn tuh kakinya gpp kan?
    Gue udah nggak sabat bgt thor gmna kisah selanjutnya

  19. Kyaaa ybtp updet, sekian lamanya menunggu 4bulan tar 4 bulan haiiiiyyaa o_O
    Liat perjuangan yul, miris. Cewe gitu tapi begitu. Dan sica penyakit telat mikirnya kambuh gag ngudeng dan ketika ngeliat sosok yul yang sebenernya dia bengong..
    lanjuuuuut tarraaaaa

  20. akhirnyaaaa,,,

    huhh,rada lupa cerita nya.. tapi untung ke inget lagi.
    apa sicca udah ngerti ??
    jangan bikin yuri mati dong thor

  21. wahh gw rasa sica dln keadaan kebingungan ngeliat pangeran yul ada 2,gw rada tkt sica mlh membenci yuri stlah tau kbnrnya…

  22. O’ow, si Jess udah dilemma tuh di episode akhirnya,,
    sumpah berbulan-bulan(?) tungguin cerita ini akhirnya….
    Ternyata tulisan si choky setelah di translet ke b.indo lebih enak ya? Tapi Mungkin ini karna author indonesianya sendiri?
    Udah segitu doang?
    (P.s Tulisan Lokal juga bagus sih)

  23. huwaaa akhirnya apdet jugaaa !!
    yulsic gw.. gak di ff, gak di kehidupan nyata sama sama tragis wkwkw 😀
    next chap jgn lama lama thor..
    Gomawo

  24. kebenaran terungkap disaat genting gini..masih bakal nerima yuri kah ntar sikha klo ternyata pangeran nya wanita,sabar ya jessie 😦
    ditunggu lanjutan nya.

  25. Akhirnya…akhirnya…akhirnya….Ff ini kembali kepermukaan!hehe
    Wah…Gue telat beberapa hari baca ni ff….Setelah sebelumnya bergelut dengan kesibukan#lol

    Dari awal gue sempet bingung juga baca ni ff.Coz udh hampir lupa karena lama gk muncul”.
    Pada akhirnya,jessica tau kalau yul itu yuri bukan karena yuri yg ngasih tau..:(

  26. whoooaaa akhirnya update jg, senangnya hati q…..
    yuri jgn pergi dlu, jgn tinggalin sica dlu, msh bnyak hal yg prlu km ungkapnkn ke sica
    dn akhirnya pangern yul mncul di dpn sica, haduh gmn ntr reaksi sica
    moga aja sica mo maafin yuri dn prasaannya gak brubah, tetep cinta sm yuri

  27. WuAhhh…!! Akhirnya tuthor yg baik hati ini update jg ff favorite saya 😀

    Waduhhh makin runyam ajeuh ni ff (?) #ehh

    Mudah2an aja yuri gah apa2,
    Dan sica bsa nrima yuri apa adanya,,,
    Tpi jgn smpe loh sica cintanya ke yul bkn yuri -_-

    ayooo thor di percepat nextnya :v #maksa #plakk

  28. pengen mewek deh ah jadinya aku jujur.
    tapi rahasia mulai terbongkar nih panasaran sama kelanjutannya deh aku gimana sica setelah tau kebenarannya ya semoga yuri selamat deh.
    thanks tarra.

  29. OMG…..akhirny diupdate jg hikz….hikz….*tangiz bahagia*
    Ak dah cba hunting ff ni. Dan smuany ada web soshie, ak nda bsa ngaksesny.Jd strezz ndiri.
    Mkzh ya thor, dah mo share chapt 24 ni. Pleaseee……kutunggu chapt slnjtny ya…

  30. satu dr beberapa ff berkesan yg pernah aku baca nih, choki emg the best. dulu pertama kali baca ff ini ampe nangis hahahha 😀
    Eh, ini seriusan loh translatetannya enak bgt kekeke~
    Gomawo ^^

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s