You’ll be the Prince & I’ll be the Princess [Chapter 25]

Hi…really udah lama gak ngepost YBTP haha

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

 Title1d

Chapter 25: It is you I have loved

 

“Clear!” 

Sebuah kejutan tiba-tiba membuat dirinya terjaga. Rasa sakit yang melumpuhkan dengan seketika merobek seluruh tubuhnya, mengirimnya ke dalam sebuah kekejangan yang hebat. Ia menutup matanya, jari-jarinya menancap jauh ke dalam tanah basah dalam keputusasaan, napasnya tersendat-sendat, mencoba untuk mengurangi tingkat kesakitannya. Tindakan itu berhasil untuk sesaat; rasa sakitnya sedikit berkurang. Terbebas dari siksaan itu, ia kembali membuka matanya dan mendapati dirinya menatap ke langit berwarna kemerah-merahan dengan corak-corak aneh. Ia menopang tubuhnya di atas tanah, menyadari bahwa ini pertama kalinya ia berada di sebuah lingkungan yang asing. Tanahnya berwarna merah tua dan udaranya berbau logam berat.

“Di mana aku…?”

Terlepas dari warna-warna hangat yang terlukis di sekitarnya, ia merasa dingin sekali; sebuah perasaan yang tidak ia sukai. Ia berusaha menahan tubuhnya yang menggigil kedinginan.

“Di mana semua orang?”

Tidak ada seorang pun, bahkan satu bangunan pun tidak terlihat. Tidak ada apa-apa, hanya dataran kosong yang terhampar tanpa ujung menuju cakrawala. Sesosok orang itu bangkit berdiri, membersihkan debu di pakaiannya dan mulai mengembara tanpa tujuan.

“Aku harus…kembali…ke suatu tempat…”

Ia terus berjalan, mendorong tubuhnya untuk tetap maju. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan, atau seberapa jauh ia melangkah. Yang ia tahu, ia harus kembali pulang tak peduli seberapa jauhnya itu.

“Ke…mana?”

Langkah kakinya melambat dengan sangat drastis. Kenyataan yang suram mulai membebaninya.

“Apakah ada…suatu tempat…yang harus aku kunjungi?”

Ia berjalan terhuyung-huyung dengan penuh kegigihan namun ia segera mencapai batas lemahnya, baik secara fisik maupun mental. Rasanya seolah-olah ia telah berjalan lama sekali namun, tak ada satu pun yang terletak di depannnya. Yang dilihatnya hanyalah hamparan kosong yang tak berujung.

“Aku harus…pergi…ke mana?”

“Hanya…diriku…sendirian…”

Terlalu lelah untuk melanjutkan langkahnya, ia merosot ke tanah, pikirannya hampir tidak terfokus. Ia tidak bisa mengingat apa pun. Tidak bisa mengingat sebuah nama, tidak bisa mengingat sebuah tempat, tidak bisa mengingat sebuah arah, tidak bisa mengingat sebuah alasan.

“Clear!”

Tunggu.

Sebuah siluet samar terlintas dalam pikirannya.

Seseorang. Seorang gadis. Dan dia mengenakan sebuah gaun. Ya, sebuah gaun putih.

“Di mana…aku pernah melihat dia…?”

Sebuah kerumunan. Terlihat banyak sekali orang. Terdengar suara-suara, kilatan-kilatan lampu blitz kamera dan di sanalah gadis itu, tepat di pusat perhatian.

Namun ia tak dapat mengingat bagaimana rupanya.

Rambutnya panjang tergerai.

Ia berusaha mengingatnya dengan lebih keras.

Pirang. Itu benar. Gadis itu memiliki rambut pirang panjang tergerai.

Namun hanya itu yang dapat dingatnya. Ia tidak bisa mengenali wajah orang tersebut.

“Kenapa aku tidak bisa mengingat satu hal pun?”

Alisnya berkerut saat dirinya berusaha keras untuk fokus. Pasti ada sesuatu yang bisa dingatnya. Kepalanya mulai terasa sakit setiap kali ia berusaha mengingat-ingat. Sedikit informasi yang diperolehnya dengan susah payah tadi mulai lenyap, sedikit demi sedikit. Kilatan-kilatan lampu blitz kamera itu buyar, suara-suara menghilang, kerumunan orang mereda dan garis samar itu pun perlahan sirna.

Tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada, kecuali gadis itu, dan hanya gadis itu sendiri…

“….Siapa…Aku?”

Kegelapan menyelimuti pikirannya saat ia akhirnya menyerah karena rasa sakit luar biasa mengambil alih tubuhnya yang rusak.

Serangkaian bunyi ‘beep’ yang tak menentu terdengar dari berbagai perangkat pemantau. Garis di monitor jantung itu menunjukkan degup kencang yang tak beraturan, tangan-tangan yang menanganinya bergerak dengan tergesa-gesa di bawah tekanan yang berlebihan.

“Sial, kita akan kehilangan dia. Cepat!”

Defibrillator (alat kejut jantung) itu kembali dikejutkan dalam upaya putus asa yang terakhir untuk menariknya kembali dari jurang kematian, hanya beberapa saat lagi.

*****

Kwon Jin menatap jam tangannya, memutar-mutar es di dalam gelas wiskinya. Sudah satu jam, satu jam penuh dengan kurangnya berita yang meresahkan. Sebuah ketukan di pintu membuyarkan pikirannya.

“Yang Mulia, Anda memanggil saya?” seorang pria dalam setelan hitam rapi menyapa pangeran yang lebih tua.

Pangeran Jin mengembuskan napas keras sebelum meneguk scotch yang tersisa. Dengan tenang ia menaruh gelas kosong itu ke mejanya dan dengan nada datar, ia mengeluarkan perintahnya.

“Siapkan mobil. Aku akan pergi sekarang.”

*****

Berjalan mondar-mandir di koridor, Yul menggigit bibir bawahnya sambil terus memeriksa jam di tangan untuk yang kesekian kalinya. 30 menit telah berlalu sejak Yuri dilarikan ke ruang operasi namun untuk para jiwa yang menunggu cemas di luar, waktu terasa berjalan begitu lambat dan penuh penderitaan.

Di sudut bangku ruang tunggu, Sooyoung duduk di sebelah Jessica yang terdiam, memasang ekspresi kosong di wajahnya; sebuah ekspresi yang belum pernah dilihatnya. Sungguh kejadian yang tak terduga. Sooyoung tahu bahwa hari ini Yuri berencana untuk menyatakan perasaannya pada Jessica namun ia tidak pernah membayangkan semuanya terjadi secara tragis. Sooyoung ingin memeluk Jessica, menenangkan dan memberitahunya bahwa tidak apa-apa kalau dia ingin menangis dan melepaskan semua emosi yang dipendamnya namun Sooyoung tidak bisa melakukan hal itu; sang putri yang tak bergerak itu membuatnya takut.

Setelah lama terdiam, sejak kejadian itu, akhirnya Sooyoung mengucapkan kata pertamanya pada gadis itu.

“Kami minta maaf…”

Sooyoung menundukkan kepalanya, tidak mampu menatap lurus ke mata Jessica.

Jessica tetap diam. Mata murungnya menatap kosong tangannya; tangannya yang kini tak bernoda setelah dibersihkan dari bekas darah, hampir seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bekas merah samar di pergelangan tangan dan sikunya yang lecet adalah satu-satunya sisa luka yang dapat terlihat dari siksaan mengerikan itu. Namun luka-luka itu hanyalah luka fisik semata, mudah dibersihkan dan diobati oleh dokter, dan hampir semua orang bisa mengobatinya. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mampu mengobati rasa sakit mendalam di lubuk hatinya. Dan rasa sakit itu terbentuk hanya karena sebuah kebohongan.

Sebuah kebohongan mengenai segalanya, dari sejak awal…

Dari semuanya, seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta terpaksa membohonginya sejak dari awal. Apakah semuanya hanyalah sebuah kebohongan? Apakah perasaan yang mereka miliki hanyalah sebuah kebohongan? Apakah itu cinta, atau hanya sekadar isapan jempol belaka? Apakah…Yul…benar-benar mencintainya?

“S-seharusnya…aku…memberitahumu…dari…a-awal…”

“Aku bukanlah…o-orang…yang…kau kira…”

“Aku b-bukan…Yul…”

Kejadian itu kembali terputar dalam ingatannya dan akhirnya, kata terakhir itu berdering dengan keras.

“Aku…mencintaimu.”

Tak mampu lagi menceritakan perasaan campur aduk di dalam hatinya, dengan letih Jessica mengusir pikiran-pikiran itu. Hatinya terasa sakit hanya dengan memikirkan kejadian itu dan pada titik ini, ia merasa muak.

Sooyoung menunggu responnya namun nihil. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Kami tidak bermaksud untuk-”

“Aku tidak mau membicarakan hal itu.” Jessica memberikan jawaban singkat namun dingin.

Sooyoung memalingkan muka dengan penuh rasa sakit. Ia tidak terbiasa melihat Jessica yang bersikap dengan begitu dingin. Sooyoung mendongak pada Yul yang menangkap sorot matanya dan mengalihkan pandangannya karena merasa bersalah. Merasa frustrasi dengan akibat perbuatannya dan sebagian besar merasa marah pada dirinya sendiri, Yul memukulkan tinjunya ke dinding.

“Ini semua salahku! Sialan!” gerutunya. Semua ini tidak akan terjadi jika dirinya tidak melarikan diri.

Yul kerap mengulang gerakan itu, kali ini darah menetes dari buku-buku jarinya yang terluka. Sooyoung berhasil menghentikan usaha ketiga Yul, meraih lengannya sebelum tinju Yul menyentuh dinding.

“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri!” bentaknya. “Ini…bukan salahmu…kalau saja aku melihat pesan itu lebih awal- kalau saja ponselku tidak dialihkan ke mode hening-”

Sooyoung mengencangkan genggamannnya pada lengan Yul, “Kalau saja kita datang lebih awal…kita bisa-” Sooyoung menghentikan kalimatnya saat ia berusaha menahan air matanya, bertekad untuk tidak terlihat hancur di depan siapa pun namun usahanya terasa semakin sulit seiring berlalunya waktu. Melihat raut wajahnya yang dipenuhi kesedihan, Yul menepuk kepala gadis itu dan dengan perlahan menyandarkannya ke pundaknya, berusaha menenangkannya tanpa harus mengucapkan sepatah kata apa pun.

Keheningan itu pecah ketika derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar melewati jalan sempit. Sooyoung segera mundur, menyeka air mata dengan punggung tangannya, ia berbalik tepat waktu sebelum rombongan itu datang.

“Yang Mulia-”

Sebelum Sooyoung bisa menyapa para tetua dengan benar, Ratu Hyun bergegas maju, matanya memerah dan sembab. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak lagi peduli dengan formalitas. Ratu Hyun memegang bahu Sooyung dan mengajukan serangkaian pertanyaan.

“Sooyoung, bagaiamana keadaan Yuri? Bagaimana ini bisa terjadi? Kalian berdua seharusnya ada di Amerika dan sekarang kenapa dia-” suaranya bergetar.

Sebersit rasa bersalah terlintas dalam benak gadis itu.

Itu benar.

Ia dan Yuri seharusnya berada di Amerika, menghabiskan hari-hari seperti siswa normal lainnya dan tidak seperti ini. Tidak di dalam ruangan operasi, berjuang untuk tetap hidup. Sebuah pemikiran mengerikan terlintas dalam benaknya; dialah yang membawa Yuri pulang ke Korea, dialah yang membawa Yuri pada nasib yang mengerikan ini.

Merasa gelisah untuk mendapatkan jawaban, Ratu Hyun menoleh ke arah putranya dengan raut memohon. Sebaliknya, Yul menatap ke bawah, terlalu merasa bersalah untuk menatap mata ibunya.

“Kenapa tidak ada seorang pun yang menceritakan apa yang terjadi? Aku hanya ingin tahu bagaimana kondisi Yuri!”

Raja Chung melangkah maju dan perlahan meraih lengan istrinya.

“Hyun, duduklah dulu. Daritadi kau merasa tertekan. Yuri saja sudah cukup, kalau kau pingsan juga, bagaimana aku bisa menanganinya?” kata Raja Chung dengan nada tenang sambil mengarahkan ratunya ke sebuah bangku dan mendudukkannya perlahan.

“Kau tahu bagaimana kondisinya, tapi kau tidak ingin memberitahuku?”

Raja yang sabar itu menghela napas. Memang, ia mengetahui segalanya. Ia tahu tingkat keparahan cedera Yuri dan bahkan persekongkolan besar di balik itu semua. Akan tetapi, tidak ada gunanya mengungkapkan semua itu sekarang, berita itu hanya akan menciptakan kekacauan dan kemelut yang lebih parah, dan yang terpenting, pada saat ini, ia bukan lagi seorang raja dengan penuh kebanggaan, namun hanya seorang ayah yang mengkhawatirkan putrinya.

“Kita serahkan saja pada dokter.”

“Jessica!” seru suara feminine dari kejauhan dengan derap langkah kaki terburu-buru yang kian mendekat. Seorang ibu yang khawatir itu melihat putrinya di tengah kerumunan dan bergegas menghampiri, menarik putrinya ke dalam pelukan erat. Ia hampir pingsan ketika pertama kali mendengar kabar bahwa putrinya berada di rumah sakit setelah terselamatkan dari percobaan penculikan.

“Apa kau terluka?” ibu khawatir itu segera melepaskan pelukannya dan memeriksa luka-luka Jessica yang masih tampak. Lady Jung menahan napasnya, melihat goresan yang masih basah di pergelangan tangan putrinya.

“Masih sakit?”

Tanpa sadar Jessica menggelengkan kepalanya dengan tatapan kosong. Orangtuanya saling bertukar pandang dengan cemas, mengetahui jelas apa yang terjadi dengan tingkah laku putri mereka. Mereka berdua merasa bingung ketika pertama kali mendengar berita ini; siapa sangka ternyata selama ini sang pangeran merupakan seorang putri?

Ketika mereka melihat betapa bahagianya Jessica untuk pertama kalinya, mereka mengira perjodohan ini adalah berkah terselubung. Kecuali, mulai saat ini, semuanya telah berubah. Merasa marah dengan kebohongan ini, Lord Jung langsung mengamuk pada teman lamanya.

“Ini konyol! Beginikah caramu memperlakukan persahabatan kita? Jika putra berhargamu tidak menyukai putriku, kau bisa langsung mengatakannya padaku. Cukup batalkan pernikahan mereka. Kenapa memainkan tipuan jahat pada putriku?!” seru Lord Jung tanpa pikir panjang.

“Aku tidak mengetahui apa pun sampai hari ini-”

“Itu bukan alasan!” bentak Lord Jung.

“Woosung,” Raja Chung menyebut nama depan teman lamannya, berharap persahabatan mereka selama bertahun-tahun bisa melunakkan dia. “Aku tahu ini bukan alasan yang tepat tapi aku tidak pernah bermaksud untuk berbohong. Pernikahan itu adalah pemikiran tulus untuk membuat hubungan persahabatan kita menjadi lebih dekat. Aku tidak pernah membayangkan semuanya akan berakhir…dengan cara seperti ini.”

“Lupakan saja apa yang kita sebut dengan ‘hubungan persahabatan’. Putriku bukan lagi mainanmu.” Lord Jung menegaskan. Meskipun demikian, ia tidak marah pada temannya namun lebih kepada dirinya sendiri karena mendesak putrinya dalam perjodohan ini.

Memutuskan untuk memperbaiki tindakan kepengecutan dirinya yang menyebabkan segalanya menjadi seperti ini, sang putra mahkota yang sedari tadi hanya berdiri diam akhirnya melangkah maju.

“Paman Jung, semua ini salah saya. Sayalah yang menolak perjodohan ini, tapi saya memilih untuk melarikan diri secara pengecut. Yuri hanya bermaksud untuk menutupinya. Kami tidak punya niat jahat untuk mengelabui siapa pun. Sayalah yang harusnya  meminta maaf dan memohon pengampunan semua orang…terutama Jessica.”

Langkah Yul yang selanjutnya mengejutkan semua orang termasuk Jessica, ketika sang putra mahkota berlutut di hadapan gadis tersebut. Bukannya menghindari sorot mata Jessica dalam rasa bersalah, Yul menatap langsung ke mata Jessica dan dengan nada tulus, ia meminta maaf.

“Maafkan aku…semua ini dimulai karena diriku dan aku mungkin tidak berhak untuk memohon permintaan maafmu…tapi tolong…kumohon maafkan Yuri. Dia tidak akan pernah bermaksud untuk berbohong padamu. Dia mencintai-”

“Sudah cukup, bajingan!” Lord Jung memotong ucapannya dan menarik kerah kemeja Yul, “Aku belum menyelesaikan balas dendamku padamu!”

“Jessica, dengar-”

“Hentikan! Hentikan! Kumohon hentikan!”

Luapan emosi tiba-tiba Jessica membuat semua orang berhenti.

“Aku lelah dengan semua ini…aku hanya-” Jessica mengalihkan tatapannya ke lantai. “…ingin pulang.”

“Ya, ya, kita akan pulang sekarang, sayang.” Tambah Lady Jung segera. Ia menarik Jessica berdiri dan menenangkan gadis itu sambil membawanya keluar. Lord Jung melepaskan cengkeramannya dan mengikuti dua sosok yang berjalan menjauh. Bukannya mendapatkan ketenangan seperti yang diperkirakan Jessica, setiap langkah yang diambilnya membuat hatinya terasa semakin berat.

“Kau mau pergi? Begitu saja?” Sooyoung yang sedari tadi diam tiba-tiba berbicara dengan nada menyangsikan.

“Kau tidak boleh pergi…”

Jessica tetap berjalan.

“Yuri membutuhkanmu…”

Langkah kakinya melambat.

“Dan kau tahu itu!”

Jessica berhenti, pikirannya benar-benar kacau.

Mengapa ia masih terpengaruh oleh seseorang yang telah berbohong padanya, sejak dari awal?

Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi terbuka, menarik kembali perhatian semua orang. Kerumunan yang cemas itu pun mendesak maju, menghujani dokter yang keluar dengan beberapa pertanyaan. Jessica berbalik, bereaksi seketika.

“Dokter! Bagaimana keadaan putri saya?”

“Bagaimana kondisinya?”

“Apakah operasinya berhasil?”

Kakinya bertindak dengan sendirinya, membawa tubuhnya ke arah kerumunan yang berkumpul di depan ruang operasi.

“Kami masih berusaha semampu kami…tapi-” dokter itu berhenti sejenak, membuat kerumunan itu gelisah. Mengabarkan berita buruk bukanlah pekerjaan yang mudah.

“Tapi apa!?” tanya Jessica dengan tiba-tiba, mengejutkan mereka.

Dokter itu menghela napas. “Saya khawatir…Yang Mulia Putri tidak bisa selamat…”

Telinganya berdenging dan pikirannya kosong. Sebelum Jessica sempat mendengar bagian terakhir, ia jatuh ke lantai. Samar-samar ia mendengar teriakan panik yang memanggil paramedis sebelum ia kehilangan kesadarannya, membawanya ke dalam ketenangan dan istirahat yang sangat dibutuhkan.

*****

Langit-langit putih polos yang asing. Hanya itu yang dilihatnya ketika ia membuka mata. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur kecuali kesadaran akan hari yang sudah malam, melihat ruangannya yang remang-remang. Satu-satunya sumber penerangan hanyalah cahaya bulan yang bersinar melalui kaca jendela.

Jessica merasakan sensasi kesemutan di punggung tangannya dan melihat selang infus yang menempel di atasnya. Tatapannya melihat ke atas, ke kantung berisikan cairan bening yang hampir kosong tergantung di sebuah tiang sebelum akhirnya berhenti begitu melihat boneka beruang putih yang langsung dikenalinya, dan sebuah kotak polos di atas meja samping tempat tidurnya. Ia berusaha bangkit dan meraih boneka beruang putih yang dengan penuh kasih sayang ia namai ‘Mrs. Bear’.

“Aku akan memenangkan boneka itu untukmu…”

Ia mengingat jelas bagaimana Yuri mengucapkan kata-kata itu, disertai dengan senyum nakal di wajahnya.

“Super Black Bear untuk menyelamatkan!”

Ia mengingat aksi yang Yuri tampilkan di hadapan seorang anak kecil yang tengah menangis, menarik kembali kenangan masa kecilnya dan sekarang segalanya terlihat jelas. Kalimat itu, aksi itu, dan permen itu, semuanya terasa tak asing lagi karena itu berasal dari orang yang sama. Semuanya selalu berasal dari orang yang sama.

Jessica berusaha menahan air matanya saat ia mencoba untuk menutup semua kenangan itu, namun semakin keras ia mencoba, semakin sulit ia menahan. Kemarahan dan rasa sakit yang ia rasakan perlahan berkurang.

Sambil menahan air matanya, ia meraih kotak di sampingnya. Sebuah catatan tulisan tangan yang singkat menempel di atasnya.

Aku mengumpulkan semua ini atas nama Yuri. Kurasa kau harus memilikinya. Ini hakmu. – Sooyoung.

Jessica ragu sejenak sebelum akhirnya mengambil sedikit keberanian untuk membuka kotak tersebut. Air matanya langsung mengalir begitu ia melihat isi dari kotak tersebut. Ia mengambil foto-foto perjalanan mereka di pulau Jeju, satu per satu foto itu diambilnya dengan tangan gemetar, sebagaimana kenangan-kenangan itu terus berkelebat dalam ingatannya. Museum beruang, pantai, jajanan pinggir jalan, dan kenangan-kenangan lain yang terukir jauh dalam ingatannya. Tak peduli seberapa kuat ia mencoba untuk menyangkal, ia tidak bisa menghilangkan perasaan tersebut, perasaan yang ia rasakan saat-saat itu terasa begitu nyata.

“Kau sudah bangun.” Suara lembut itu terdengar dari samping dan dengan cepat Jessica kembali menaruh foto-foto itu ke dalam kotak dan menyeka air matanya dengan terburu-buru, tidak ingin siapa pun melihat dirinya dalam keadaan seperti itu. Ia kembali memusatkan perhatiannya kepada wanita tua yang berdiri di ambang pintu, cahaya dari koridor menerangi ruangannya sebentar sebelum wanita itu menutup pintunya.

“Yang Mulia,” sapa Jessica hormat dan hendak turun dari tempat tidurnya namun Ibu Suri berhasil menghentikannya tepat waktu.

“Putriku tersayang, kenapa sekarang kau bersikap formal? Atau apakah aku tidak lagi pantas mendengar kata ‘Nenek’ darimu?”

“Bukan begitu, Yang Mulia…hanya saja…sekarang saya tidak berhak untuk memanggil Anda dengan sebutan itu.”

“Bodoh, kau berhak memanggilku dengan sebutan itu.”

Jessica mengamati dalam diam saat wanita tua itu berjalan menghampiri dan duduk di ruang kosong di tempat tidurnya. Wanita tua itu menggenggam tangan Jessica dan membelai lembut rambutnya. Tak ada lagi kata-kata yang terucap dan keduanya tetap berada di posisi itu dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya wanita tua itu bersuara.

“Ikuti saja kata hatimu.”

Hanya ada satu jawaban di dalam hatinya.

Ini akan menjadi sebuah dongeng sempurna jika ia bertemu dengan seorang pangeran dan jatuh cinta pada pangeran tersebut sebelum pertunangan diumumkan.

Tapi ini bukanlah sebuah dongeng belaka.

Ini adalah sebuah kisah cinta; sebuah kisah tentang bagaimana dirinya bertemu dengan seorang putri lebih dari 15 tahun yang lalu dalam pertemuan yang tak disangka-sangka, lalu jatuh cinta padanya 15 tahun kemudian dan juga dalam pertemuan yang tak disangka-sangka.

Semuanya sudah jelas sekarang dan ia tahu apa yang benar-benar diinginkan hatinya.

*****

“Selamat pagi.”

Jessica menyapa dengan riang begitu ia memasuki ruangan dengan sebuah pot tanaman kecil di tangannya. Memberikan seulas senyum pada gadis yang tengah tertidur dengan damai di atas tempat tidur. Jessica berjalan ke ujung ruangan menuju jendela. Dengan hati-hati ia menaruh pot lavender kecil itu di meja samping tempat tidur dan berjalan menuju jendela, ia membuka jendela itu, membiarkan embusan udara segar mengisi ruangan. Ia mundur selangkah dan menyunggingkan seulas senyum puas melihat tambahan terbaru. Ruangan itu kini terlihat lebih hidup dengan sedikit warna-warna alami. Ia berbalik menuju ujung tempat tidur, dengan senyum puas ia menata dua buah boneka beruang secara berdampingan. Jessica telah menjahit kain tambalan berbentuk hati di atas robekan Mr. Bear dan boneka itu terlihat bagus seperti baru.

“Cuaca hari ini indah sekali. Mungkin kapan-kapan kita harus pergi ke pantai!” komentar Jessica antusias sambil mendudukkan dirinya di lengan kursi, di dekat tempat tidur.

“Kudengar bunga-bunga di sekitar pedesaan sudah mekar. Bagaimana kalau kita…melakukan perjalanan singkat lainnya?”

Jessica menggenggam tangan tak bergerak Yuri dan menunggu dengan sabar. Ia mengharapkan sebuah respon. Sebuah kata ‘ya’, sebuah anggukan, sebuah bisikan, sebuah erangan, bahkan sebuah gumaman samar pun ia tak keberatan. Namun yang ia dengar hanyalah bunyi ‘beep’ lembut yang terdengar dari mesin monitor.

Ia membenci suara itu.

Ia benci akan kenyataan bahwa mesin tak bernyawa itu adalah satu-satunya alat yang mampu memberitahunya bahwa pada saat itu jantung Yuri masih berdetak. Ia benci akan kenyataan bahwa berbagai pipa karet di sekujur tubuh Yuri adalah hal-hal yang bisa membuatnya agar tetap hidup. Jessica benar-benar benci dengan kehadiran alat-alat yang mau tak mau menjadi salah satu sumber kepastian.

Untuk saat ini, mesin-mesin itu menempatkan Yuri dalam kedamaian.

“Kenapa…kenapa kau tidak bangun?”

Tanpa sadar Jessica mengusap-usap punggung tangan Yuri dengan ibu jarinya saat ia menatap gadis yang koma itu dengan penuh kerinduan.

Sudah lebih dari seminggu sejak kejadian naas itu dan Yuri belum bangun dari komanya. Tak ada kepastian, bahkan dari para dokter, kalau sang putri akan sadar kembali. Yuri bisa bertahan hidup pun sudah menjadi suatu keajaiban. Peluru itu hampir saja mengenai jantungnya, namun peluru itu menusuk paru-paru kirinya dan merobek pembuluh paru-parunya, sehingga menyebabkan pendarahan secara besar-besaran. Selain itu, Yuri menderita beberapa patah tulang dan gegar otak ringan.

Dengan besarnya cedera yang dideritanya, bersamaan dengan kehilangan banyak darah, mendorong tubuhnya melebihi batas. Jantungnya berhenti selama satu atau dua menit sebelum paramedis berhasil menghidupkannya kembali. Namun kerusakan itu sudah teratasi. Sejak saat itu, Yuri berada dalam keadaan koma. Di hari-hari pertama jantungnya kerap berhenti beberapa kali, ia hampir sangat dekat dengan kematian, sampai saat ini ia bisa bertahan hidup karena bantuan mesin. Tapi untungnya, masa-masa yang sangat sulit itu telah berakhir. Selama beberapa hari ini, kondisinya kian membaik. Tiga hari yang lalu, Yuri hanya bisa bernapas melalui bantuan ventilator mekanik, tapi sekarang dengan paru-parunya yang sudah pulih, ventilator mekanik itu dilepas, digantikan dengan nasal kanul (alat bantu pernapasan).

Dan sejak saat itu, Jessica selalu menemani Yuri, ia baru akan meninggalkan Yuri jika ada keperluan penting saja. Namun, menjaga Yuri dalam waktu yang lama berdampak pada kesehatannya juga. Tubuh Jessica kian melemah dan ia kehilangan banyak berat badan; bahkan pipi meronanya pun tak lagi berwarna. Tak peduli berapa banyak orang yang telah berusaha berbicara padanya, Jessica bersikeras menolak untuk meninggalkan Yuri. Bahkan baik orangtuanya maupun orang tua Yuri tidak berhasil membujuknya. Akhirnya, mereka menyerah. Hanya ada sedikit alat-alat kedokteran yang dapat membantu Yuri. Mungkin, bahkan hanya dengan sedikit kemungkinan, Jessica adalah satu-satunya harapan mereka yang tersisa.

Jessica tidak pernah berhenti berharap. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berbicara pada Yuri, menceritakan berita terbaru dan betapa semua orang sangat peduli padanya.

Sungmin telah sembuh total, meskipun dia harus menggunakan tongkat penyangga selama satu bulan. Tapi dia akan baik-baik saja, terutama karena Sunny berperan sebagai pelayan pribadinya, menyuapinya terus menerus dengan makanan ‘bergizi’ yang dibuatnya, yang mana terbuat dari kaki babi sampai gurita hidup, pada dasarnya makanan apa pun yang berhubungan dengan kelincahan; G lah yang menyarankan gurita hidup, mengingat kelas cephalopoda memiliki delapan kaki yang bergerak dengan sangat lincah.

Taewoo berhasil selamat dan sekarang berada di dalam tahanan polisi. Ketika berita keterlibatan Taewoo merebak, semua orang di dalam divisi keamanan terkejut. Raja Chung telah berbicara panjang lebar dengan Taewoo secara pribadi dan dia akhirnya meminta maaf atas perbuatannya.

Taewoo mengakui perbuatannya dan membeberkan detail keterlibatan sang dalang – Pangeran Jin. Raja Chung menulis selembar surat pemohonan kepada Presiden, berharap bisa mengganti hukuman Taewoo menjadi hukuman penjara saja. Satu-satunya penculik yang masih hidup, Bull, yang berhasil lolos dari pembantaian itu karena dia telah tersingkir lebih awal oleh Yuri, ditangkap dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Sementara Pangeran Jin, pasukan kemanan berhasil mencegah dia yang hendak meninggalkan Negara seperti rencana awalnya namun sayangnya, dia telah menyogok mereka. Gelar kerajaannya telah dicabut dan perintah penangkapan telah dikeluarkan untuk menangkap Pangeran Jin yang buron. Sampai saat ini, lokasinya masih belum diketahui.

Sisi baiknya, akhirnya Pangeran Yul yang asli telah menyatakan perasaan yang dimilikinya untuk Sooyoung kepada para tetua. Jessica dapat mengingat jelas adegan dramatis ketika Yul tiba-tiba meraih tangan Sooyoung dan mengumumkan kepada semua orang bahwa Sooyoung adalah satu-satunya gadis yang akan dinikahinya. Tak heran, semuanya terkejut dengan kabar mendadak dan janggal itu. Untungnya, Ibu Suri berada di pihaknya, menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

Setelah melakukan diskusi tertutup yang meliputi kedua belah pihak dan orangtua mereka, Raja Chung akhirnya menyetujui pernikahan mereka. Namun Sooyoung menolaknya seketika, ia bersikeras untuk menunggu Yuri pulih. Sejak saat itu, Yul telah melakukan usaha ekstra untuk membangunkan Yuri dengan leluconnya yang tak terhitung. Setelah mendapatkan nasehat dari sumber yang tak diketahui, Yul membawa party popper dan meledakkannya tepat di dekat telinga Yuri. Tentu saja, setelah kejadian itu, kepala perawat melarang dia untuk memasuki ruangan.

Sooyoung kerap membawakan makanan secara rutin dan mengingatkan Jessica untuk makan secara teratur. Sesekali ia bergurau dengan mengancam Yuri bahwa dirinya masih mengingat 100 bufet yang Yuri janjikan, namun belakangan ini, ia bilang bahwa dirinya telah menghapus hutang itu dan sebagai gantinya ialah yang akan mentraktir Yuri dengan 100 bufet.

Dengan lembut Jessica membelai pipi Yuri.

“Kau berhutang ‘dare’ padaku…”

Sebuah tantangan yang tidak dimenangkan Yuri dalam permainan truth or dare.

“Aku akan m-membayarnya lain kali!”

“Kau kalah dalam lomba lari…”

Perlombaan dari anak tangga yang tidak dimenangkan Yuri saat liburan mereka di pulau Jeju.

“Aku tidak peduli…aku menang…dan kau harus mendengarkan…aku!”

“Kau sudah berjanji…”

Sebuah janji yang dia buat sebelum pertunangan mereka.

“Berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu berada…di dekatku…”

“Aku berjanji…”

“Kau harus menyelesaikan tantangan itu…kau harus mendengarkan perintah yang menang…kau harus menepati janjimu…”

Jessica berusaha menahan air matanya.

“Aku hanya ingin…kau…bangun…”

Seolah-olah peran mereka dalam dongeng klasik telah beralih, kali ini sang putrilah yang menunggu pangerannya terbangun dari tidur lelapnya. Andai saja sebuah ciuman sejati dapat membangunkan sang pangeran seperti cerita di dalam buku-buku, ia akan melakukannya dengan senang hati.

Jari-jarinya perlahan menelusuri batang hidung gadis itu, bergerak perlahan melewati bibirnya. Jessica mencondongkan tubuhnya ke depan, memberikan kecupan lembut di bibir Yuri. Dengan penuh cinta ia menangkup wajah Yuri dengan tangannya, menunggu keajaiban itu menjadi kenyataan di hari ini.

Namun, seperti sebelumnya, keajaiban itu tak pernah datang, dan setelah ciuman itu, Jessica tak dapat lagi percaya bahwa dongeng itu nyata.

Ia merebahkan kepalanya di lengan Yuri sementara tangannya memegang lembut tangan Yuri, menautkan jari-jari mereka bersama. Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya berada di posisi tersebut, mengenang kenangan-kenangan mereka hingga matanya terasa berat di setiap menit berlalu dan akhirnya, ia tertidur, merasa kelelahan.

*****

“Apa aku…mati?”

Tenggorokannya terasa tidak nyaman dan kering, dan belum lagi, seluruh badannya terasa sakit. Ia berusaha untuk membuka matanya namun ia tidak bisa; seolah-olah kekuatan tak terlihat membatasi pergerakan fisiknya.

Ia kembali mencobanya dengan lebih keras, memaksa matanya terbuka. Dan kali ini, akhirnya ia berhasil.

Namun,  langit aneh yang sama menyambutnya seperti mengejek.

“Berapa lama lagi…aku harus seperti ini…?”

Dengan lemah ia mendongak ke atas langit yang mendung, memejamkan matanya sekali lagi.

“Aku tidak bisa…meneruskannya…lagi…”

*****

Saat Jessica membuka matanya, ia mendapati dirinya memandang ke langit yang sangat berbeda. Bukan langit biru yang biasa dilihatnya, namun langit aneh berwarna merah dengan awan mendung. Datarannya terlihat kering dan  pecah-pecah, tidak ada kehidupan dan wilayah itu dikelilingi kabut tebal.

“Apakah aku…bermimpi?”

Embusan angin dingin menerpa wajahnya, menembus sampai ke tulang-tulangnya. Jessica memeluk tubuhnya saat ia mulai merasa mengigil kedinginan. Jantungnya berdegup semakin cepat di setiap detiknya saat pikirannya mulai melantur ke mana-mana. Ia tidak tahu di mana dirinya berada dan kesendiriannya tidak mengurangi kegelisahannya. Takut, Jessica tetap berdiri diam, namun, firasatnya menyuruhnya untuk melangkah maju. Jessica ragu sejenak namun ia merasakan sebuah tarikan yang menariknya, seolah-olah sesuatu atau seseorang memanggil dirinya.

Jika ini adalah mimpi, tak ada satu pun yang akan melukainya secara fisik. Mengesampingkan ketakutannya, Jessica melangkah maju, memercayai instingnya. Dan seterusnya, ia berjalan dan berjalan, menempuh jarak jauh yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, tapi anehnya, ia bahkan tidak merasa lelah, hampir tidak ada setetes pun keringat terlihat.

Tak lama kemudian, kabut yang mengelilinginya sedikit demi sedikit mulai menipis seiring kakinya terus berjalan. Jauh di depan, sinar terang menyorot dari celah-celah terbuka di antara awan yang gelap, memungkinkan dirinya untuk bisa melihat lebih jauh. Pandangannya berkeliaran dan terhenti pada sosok yang tergelatak di tanah. Jantungnya berdebar ketika melihat sosok yang dikenalnya. Ia mempercepat langkahnya hingga akhirnya mencapai sosok gadis itu dan berlutut di sampingnya.

“Yuri…” panggil Jessica pelan, menyentuh lembut gadis yang tengah tertidur itu sambil berusaha membangunkannya. Jika ini adalah mimpi, ia akan memiliki kekuasaan penuh atas segalanya; Yuri akan terbangun dan berbicara padanya seperti apa yang diharapkannya. Namun setelah berusaha sebanyak sepuluh kali, akhirnya Jessica tersadar, tak ada yang berubah, bahkan keajaiban pun tidak dapat terjadi di dalam mimpinya sendiri.

Perlahan Jessica merebahkan kepala Yuri di atas pangkuannya, menyapu beberapa helai rambut ke samping dan menunggu dengan sabar di sampingnya. Yuri tidak memiliki luka lemar, tidak ada perban dan sebaliknya, ia terlihat sangat baik-baik saja, terlelap dalam tidurnya. Jessica tak bisa lagi menahan air matanya, mengetahui bahwa semua ini hanyalah mimpi belaka.

Selama berhari-hari ia telah menahan dirinya untuk tidak menangis di hadapan orang-orang namun di dalam mimpinya sendiri, ia tidak perlu lagi berpura-pura kuat. Ia memeluk Yuri dan menangis habis-habisan, mengeluarkan emosinya yang terpendam.

“Kwon Yuri! Kau…bodoh! Kenapa k-kau…harus pergi meninggalkanku sendiri…disaat aku akhirnya menyadari bahwa kaulah yang aku cintai! Kenapa kau…harus bersikap…sekejam ini padaku? Masih banyak yang harus kau jelaskan…masih banyak yang harus kau lakukan untukku…kau harus melanjutkan hidupmu…aku belum sempat membalas semua perhatian yang telah kau berikan padaku.”

Air matanya menetes ke dalam kemeja Yuri saat Jessica terus menangis tanpa henti.

“Kau telah menunjukkan arti cinta sejati padaku…kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk membalas cintamu? Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan ‘Aku cinta padamu’ kepada dirimu yang sebenarnya!”

Sorot lampu putih muncul dari ruang di antara mereka, mendorong awan gelap itu pergi dan mengganti langit merah itu menjadi warna biru cerah. Jessica menghindari cahaya yang menyilaukan itu.

Beberapa saat kemudian, matanya terbuka dan Jessica mendapati dirinya menatap pada ujung tempat tidur dengan lehernya yang terasa sakit.

“Itu hanya mimpi…” 

Pikir gadis itu saat dirinya perlahan mengangkat kepalanya, lehernya terasa sakit. Pada saat yang sama, ia merasakan getaran lembut di tangannya. Jessica tidak memedulikannya, berpikir dirinya hanya membayangkan sesuatu atau lengannya mati rasa karena posisi tidurnya yang salah.

“Aku…mendengar suaramu…memanggil namaku…”

Namun ketika suara yang sudah lama ingin ia dengar berdering lembut di telinganya, ia tahu ia tidak sedang bermimpi. Jessica menolehkan kepalanya ke arah suara dan menemukan sepasang bola mata coklat yang menatap lurus ke arahnya. Air matanya seketika tumpah.

“Dan aku ingat kenapa…aku harus kembali…”

Air mata bahagianya jatuh dengan bebas ketika Yuri menyunggingkan seulas senyum tipis.

“Aku berhutang sebuah dare padamu, aku harus mendengarkanmu dan aku harus menepati janjiku…karena kau adalah…alasanku untuk hidup.”

 ~~~;~~~;~~~

TBC

you have no idea berapa lama gue nerjemahin 4726 kata di chapter 25 ini -_- tapi akhirnya beres juga hffftttt so please do comment or like or share or something haha

HAPPY 5th ANNIVERSARY ABANG!!! :* LOL

credit: choki @SSF

boiboi~

Advertisements

57 thoughts on “You’ll be the Prince & I’ll be the Princess [Chapter 25]

  1. Finally update jg ff ini…
    Untunglah yuri sadar kmbali, kan kasian sica kl yuri mati..
    Tarra, msh brp chap lg nih ff?? Soalny penasaran dgn endingny…
    Smg aja happy ending… 🙂

  2. Stlh sekian lama pas baca chap ini memuaskannn…
    Akhhh suka sma kata2 yul “km adalah alasanku untk hidup,syukurlah yul siuman dr komanyaaa…smga endingnyaa bahagiaaa…

  3. mewek gue baca ceritanya..
    gue kira sica onnie beneran ninggLin yul oppa (yuri onnie), ternyata sivmca onnie sadar dan bertahan..
    akhirnya kesabaran sica onnie berbuah keberhasilan…
    ye, yul oppa bangun dari tidur panjangnya..
    semoga semuanya baik-baik saja, tanpa ada masalah lagi..
    makin penasaran gue sama ini cerita..
    lanjut tarra, selalu ditunggu ceritanya..
    see you and fughting chingu..

  4. semoga kmentar ini masuk,yeay akhirnya kelanjutan ff ini di update author,woah kasihan yulsic 😦 ,bingung mau marah or gak dengan sang pangeran karena harusnya dia yg tertembak bukan yuri tp klo dia setuju tunangan dgn jessica maka yulsic gk akan punya perasaan semendalam sekarang #apeu , ditunggu kelanjutan ff ini author,gomawo tarra #sokakrab ,author fighting!

  5. AKHIRNYAAAAA YBTP update juga,
    bener2 dah chapter ini bkin nyesek dari awal tapi sebelum TBC bikin bahagia akhirnya yuri sadar. udah takut aja yuri sadar terus amnesia. yeay YULSIC ❤

  6. Syukur deh sica maapin kebohongannya yuri, mana sanggup sica marah liat kondisi yuri kayak gitu
    Keluarga Jung juga ga ngelarang sica buat balik sama yuri,
    Ayoo yuri cepet sembuh, gw kangen yulsic yang manis-manis :3

  7. Annyeong
    Huftttttt smga bdai itu bnr2 brkhir,,,tkut aj sica bkln bnci yuri,,tp cinta nya mnglahkn rsa bnci nya akan kebohongan yg yuri bwat,,,krain yuri bkal lama koma nya dan bsa amnesia klw sdar,,tp syukurlh smua nya baik2 saja,,,ayo yuri smngt untuk smbuh ksian sica tu,,
    Ok siip
    Next d tunggu
    Ttap smngattttt
    Gomaomao,,,

  8. aaah sedih bacanya sempet meneteskan air mata hiks*lebay ya hahahaha
    tapi akhirnya si kwon yuri bangun juga rada lega tapi kaya nya bkln cpt end nih*sok tauuuu

  9. yeayyy
    yuri akhirnya sadar
    ayoo dong thorr bikin yuri sehat lagi. hehe
    aku pikir td jessie bakal ninggalin yuri. wkwk
    smngat thor

  10. Gue serius bngt bacanya dri awal smpe hampir nangis pas sica mau pergi , tpi untung so bsa bkin sica sadar smpe akhirnya sica slalu ngejagain yuri….. & ga sia2 sica sabar nungguin yuri akhirnya the prince terbebas dri komanya hehee seneng bngt gue,,,,, tapi baru senyum bntr. Eh tbc muncul nyebelin hahaa Nextchap smoga banyak moment yulsic

    Thx for update tarra…..

  11. Akhirnya update jg..
    Sica bner2 cinta ma yuri ya bukan yul
    Yul sadar uhuy,akankah hubungan mereka direstui,udh gk sabar.

    ditunggu next chap tarra

  12. Wooow kereeen… Dramatis banget tp bikin ngakak pas bagian yul ngagetin yuri pake party popper eh diusir sm perawat. Lol

    ini mau end yaa ka ff nya? Waaa akhirnya yuri sadar jugaaa, semoga happy ending yaaa lord n’ lady jung smga bisa restuin mereka u,uuuu

  13. Chapter nii bikin degdeg kan.. Takut jessica ninggalin yul, dan takut yulnya metong T.T .. Tp akhirnya nya sica brtahan dan yuri sadar trharu gue.. Buat tarra smngt trus transletnya^^

  14. Ah update, yuri akhirnya sadar, kirain sica setelah tau akan marah atau ninggalin yuri ternyata tidak, penasarang part berikutnya d tunggu th0r.

  15. horeeee yuri udh sadar, kirain gak baklan bngun lg
    haduh trharu deh sm kata2nya yuri, bikn mewek
    syukurlah kl akhirnya sica gak ninggalin yuri
    ok lnjuttt……

  16. Fuk!!! Ni ff bkin saya mewek se mewek2nya;, >.<

    Akhirnya yuri pun sadar;
    itu krn kekuatan cinta; yulsic 🙂

    Dan mudah2an tuthor update secepatnya !
    Krn saya sangat suka sama ff yg 1 ini :v

    Happy ending yah!! 🙂

  17. Bukan cuma sica yg brasa mimpi, gw juga brasa mimpi ff ini akhirnya lanjut ^o^

    Thx bgt buat neng Tarra yg udah sudi meluangkan segenap waktu n tenaganya buat mentranslet ff ini ^^ semangat terus ya Tarra, CHAYOOOO…!!! 😀

  18. Makin cinta dech ma yulsic couple ni…
    *ikuti kata hatimu*…….ak setuju bgd ma kalimat ni….
    ktunggu chapt selanjutnya. Thankz dah mo share cerita yg menajubkan ni….

  19. Akhirny stlh lama nungguin ni ff dlanjutin jg…
    Aq smp terharu n bca berulang2 ni part bnr2 bkin deg2an….
    Untungny ibu suri n soo bz bt sica gk ninggalin yuri….
    Penasaran chapter depan gmna stlh yuri sadar….
    Lanjut thor….semangat…

  20. nangis gua thor yuri koma tpi brsyukur bngt sica mau nrima yuri n nunggu yuri sica cinta sjti yuri.yg buat yuri sadar.wlau sdih ak ska.lnjt thor.smngt

  21. huwaaaaa chapter ini penuh dgn mewek smua!! aaaaaa untung aja sica mau nemenin yuri pas koma dan akhir.y yuri.y udh sadar.
    oke tunggu next.y aja

  22. sica pilihan mu emg yg pling tepat… slalu berada dsamping yuri apapun yg trjadi
    yuri akhir nya sadar jg gk sia2 sica jagain mu…
    abis ini gk akn ada lgi kn yg ngalangi yulsic..

  23. Satu part yang bener” bikin gue mewek dari awal sampai akhir..Tapi yg diakhir itu tangisan bahagia karena yuri sadar.Gue ulangi sekali lagi.. YURI SADARRRRR!!!!#clapclap

    Itu siyul serius pake lelucon ledakn buat bangunin yuri?Sekalian aja pake bom..=_____=.

    JIN masih berkeliaran diluar sana…Kyknya gue mesti manggil gongshil buat nyari tuh Jin.#lol

  24. Yeeeee. Updet jg w seneng bingit.. pas lo apdet thor.. w jingkrak2.. lebay mode on..
    AYoo Yuri sehat qm masih pnya hutang “dare ” sama Jessie.. ga sabar nunggu sesi romantis Yulsic.. thor pliizz jgn lama2 y updet ff ini.. lo author ter CAEM deh klo updet ny cpt.. xixixi.. semangat

  25. aaaahhh…

    akhirnya muncul juga . ff favorit…
    awal baca sempet takut sica bakal ninggalin yuri yg krisis gitu…. dan ternyata sica setia menunggu…
    tapi ada hal yg mengganjal…
    takut bgt klo yuri hilang ingatan. tapi untungnya enggak…

    btw si yur asli bego bgt masa. ngelakuin lelucon nya kelewatan extrim….
    huhuhu..

    semangat ya thor.. jgn sedih2 mulu. ngeliat author sedih jadi ikut sedih. .
    dr kehilangan temen dan dosen itu…
    (bukan dlm arti SKSD. tpi simpati thor ckckckc)
    CAYOOO…

  26. sica akhirnya mendengarkan omongan soo dan ibu suri dan mengingat kembali tentang super black bear yg membuatnya memaafkan yuri dan selalu ada disampingnya utk menunggu yuri terbangun dan untungnya usahanya ga sia2 karena akhirnya yul siuman juga dan berniat membayar hutangnya kepada sica
    lanjut lagi makin penasaran dg endingnya

  27. Fiuuhhh,, akhirnya yuri sadar juga,,
    Emg itu si yul kurang ajjar,, masa iya org koma dikasi party popper,,knpa ga sekalian granat aja,,,

  28. akhirnya yul sdr jg…smg j badai yulsic sgr brlalu lnjuuuuttt…smg j prshbtn ortu yulsic kmbli mmbaik…..pnsrn m endingny

  29. Annyeong…

    Thx Tarra udh translet n apdet ni ff…
    Tpi dri part brapa kmaren blum gue bca, msih gue save. Nunggu lo apdet nympe end bru ntar gue bca, biar g’ pnasaran gmna ending nya gtu.
    Btw msh brapa part lgi ya Tarra,ni ff end??

  30. knapa sich, yuri mesti menderita kya gini. kali2 biarin dia bahagia donk kk. kasiankan YUlSic. aduh jd makin penasaran sma kelanjutannya. lanjuttt kk mkn seru+menarik..gila terharu aku bca part ini. d lanjutt yah..hiks hiks hiks. sadarrr yurii….

  31. HWAHHHHHHH
    udh ga tau mw komen apaan,saya reader baru cuma mau ninggalin jejak.ijin bca semua ff’y..ditunggu jg lanjutannya

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s