My Valuable Treasure is Your Love [Chapter 20]

udah mau tamat!!

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

Chapter 20

 

Akhirnya ciuman mereka pun berakhir. Victoria menarik diri sementara Sooyoung terkesiap dan menatap ke arahnya. Bukan karena ia tidak pernah berciuman sebelumnya namun mencium Victoria berarti juga selingkuh dari Sunny. Sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.

“Kenapa?”

Victoria meraba dadanya dan merasakan jika ada perubahan dengan denyut jantungnya. Sooyoung menginginkan sebuah jawaban namun jika Victoria tetap diam, ia harus mendesaknya.

“Kenapa kau menciumku? Beritahu aku.”

Victoria bisa melihat betapa cemasnya Sooyoung. Sunny benar-benar beruntung memiliki pacar seperti Sooyoung. Ia tersenyum pada Sooyoung. Ekspresi wajah laki-laki itu terlihat bingung bercampur gelisah.

“Aku hanya sedang menguji.”

Sooyoung mengerutkan kening.

“Menguji? Untuk apa?”

Victoria sedikit menjauhkan dirinya dari Sooyoung.

“Selama kita bersama, aku sedikit tertarik padamu. Semua yang kau lakukan membuat jantungku berdebar. Kukira aku memang jatuh cinta padamu tapi…”

Sooyoung menunggunya untuk melanjutkan.

“…ketika kita berciuman. Ciuman itu tidak memiliki perasaan yang sama. Perasaanku padamu hanyalah sekadar suka. Maaf…”

Victoria kembali membungkuk pada Sooyoung dan mencoba melangkah pergi namun Sooyoung menghentikannya. Ia membuat gadis itu berbalik menghadapnya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi aku bukanlah untukmu. Aku mungkin bersikap bodoh dan tidak peka dalam bebarapa hal tapi mencoba mengalihkan perasaanmu dari Yul dengan cara menciumku tidak akan menyelesaikan apapun.”

Victoria tetap melihat ke bawah. Ia tahu ia tidak seharusnya melakukan itu.

“Aku tahu kau masih mencintai dia, benar? Aku memahaminya tapi kau tidak bisa terus menyimpan perasaanmu untuk Yul selamanya.”

Air mata Victoria mulai menetes. Ia memandang Sooyoung dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tahu aku pernah bilang padamu kalau aku tidak akan pernah merusak kebahagiaan mereka tapi aku menderita, Soo. Beberapa hari terakhir ini, aku sering memikirkan Yul dan itu membuatku sakit. Kenapa aku tidak bisa menjadi Jessica? Kenapa aku tidak bisa memiliki Yul?”

Sooyoung menghela napas dan memeluk Victoria. Ia membelai rambutnya mencoba untuk menenangkan gadis itu.

“Kau ingin menjadi Jessica? Ditiduri dan dibuang? Dipanggil pelac*r oleh setiap orang? Pergi ke sekolah dengan keadaan hamil 5 bulan? Harus memikul celaan orang lain? Kau menginginkan itu? Aku tahu aku tidak baik dalam memberikan nasehat tapi Vic, hidup tidaklah semudah apa yang kau rencanakan. Takdir bisa selalu berkata lain. Yul tidak ditakdirkan untukmu tapi aku yakin suatu hari nanti kau akan menemukan seseorang yang bisa kau andalkan dan bisa membuatmu bahagia. Hingga saat itu tiba, aku ingin kau tahu, aku akan selalu ada di sini sebagai teman setiamu yang bisa kau andalkan.”

Victoria menganggukkan kepalanya dan membiarkan Sooyoung menenangkannya. Ia menarik diri ketika sudah merasa agak tenang. Dengan seulas senyum bercampur air mata di wajahnya ia terlihat sedikit tenang.

“Aku minta maaf karena menciummu. Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa dan juga maaf karena memanfaatkanmu untuk mencoba melupakan Yul.”

Sooyoung tersenyum lebar.

“Aku menikmati ciuman itu. Kita harus melakukannya lagi kapan-kapan.”

Victoria menampar pundaknya dengan main-main.

“Haruskah aku beritahu Sunny?”

Wajah Sooyoung berubah pucat ketika Victoria menyebutkan nama itu.

“JANGAN! Maksudku…JANGAN! DIA AKAN MEMBUNUHKU! CIUMAN ITU HANYALAH KEBETULAN DAN AKU…”

Victoria menertawakannya.

“Jangan khawatir, Soo. Aku tidak akan pernah memberitahunya. Aku berjanji.”

Sooyoung bernapas lega. Ia tahu ia tidak seharusnya berbohong pada Sunny tapi terkadang beberapa hal ditakdirkan untuk tetap menjadi rahasia. Sunny dan ciuman itu pasti akan membuatnya menderita.

+++

Jessica telah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan sehelai handuk. Sejak dirinya dan Yul telah membereskan semua masalah dan kesalahpahaman mereka di masa lalu, Jessica tidak lagi merasa malu di dekat Yul. Sebelum ini, ia akan mengenakan pakaiannya di kamar mandi atau hanya menunggu hingga Yul meninggalkan kamar. Yul tengah duduk di tempat tidur dengan punggung bersandar ke sandaran tempat tidur sambil membaca koran yang dibawanya tadi. Yah, akhir pekan adalah hari terbaik untuk menikmati bacaan dari berita dunia. Jessica duduk di dekatnya, mengambil botol lotion dan mengoleskannya ke kaki. Yul mengintip dari balik korannya dan menghela napas.

“Sayang, kumohon jangan lakukan itu. Kau membuatku gila.”

Jessica berpura-pura tidak mendengarnnya dan terus mengusapkan lotion itu. Yul menaruh koran dan menarik Jessica ke arahnya. Ia membiarkan punggung Jessica bersandar padanya dan Yul melingkarkan lengannya di pinggang Jessica.

“Kau wangi sekali. Aku menyukainya.”

Jessica terkekeh ketika Yul mencoba mengendus lehernya.

“Yul, 4 bulan lagi dan bayinya akan lahir.”

Yul menghentikan tindakannya dan memegang tangan Jessica.

“Aku tahu. Aku tahu.”

Jessica bisa merasakan nada suara Yul yang sedikit berbeda. Ia bermain-main dengan jari suaminya.

“Kau tidak bahagia?”

Yul menyandarkan dagunya di bahu Jessica.

“Aku bahagia tapi bayi ini…bukanlah bayiku.”

“Kau menyesalinya?”

Jessica mengendalikan suaranya agar tidak terdengar sedih.

“Menikahimu? Tidak. Aku hanya berharap aku bisa memutar kembali waktu dan mencegah semua ini terjadi.”

Yul mencium lehernya dengan perlahan.

“Kau tidak menginginkannya bayinya?”

Yul berhenti. Jessica tetap diam menunggu jawaban Yul.

“Kuharap bayi ini adalah bayiku.”

Jessica tahu betapa sulitnya bagi Yul untuk menerima bayi ini namun ia tidak bisa memaksanya. Ekspresi Jessica berubah sedih. Yul memeluknya dengan lebih erat.

“Aku hanya berharap bayi ini akan menerimaku sebagai ayahnya karena aku bukan. Aku akan merasa sakit jika bayi ini menolakku. Aku tahu aku bukanlah ayah kandungnya tapi aku ingin membesarkannya. Ketika dia pergi sekolah, aku ingin mengantarnya dan menemaninya. Aku ingin dia memanggilku dengan sebutan ‘ayah’ dan memberitahu teman-temannya betapa dia sangat mencintaiku.”

Jessica tidak berusaha menahan air matanya dan membiarkannya mengalir. Yul memandang wajahnya. Ia menghapus air matanya.

“Kenapa kau menangis?”

Jessica holds his hand and smiles.

Jessica menggenggam tangan Yul dan tersenyum.

“Aku yakin dia akan bahagia memiliki ayah sepertimu dan aku yakin dia akan merasakan cintamu untuknya.”

Yul balas tersenyum dan kembali memeluknya.

“Seobang?”

“Hmm?”

“Aku kedinginan.”

Yul tertawa karena ia tidak ingat kalau Jessica masih mengenakan handuknya. Ia menarik selimut dan menyelimuti mereka berdua dengan itu.

“Aku masih ingin memelukmu.”

~~~;~~~;~~~

Donghae menunggu di mobilnya. Ia telah mengamati rumah ini selama berminggu-minggu. Setiap jadwal dan aktifitas seluruh keluarga ini telah ia simpan dalam ingatannya. Ia telah merencanakan rencana ini sejak hari pertama. Sekarang, semuanya akan diselesaikan. Ia melihat Yul keluar rumah dan tersenyum menyeringai.

“Hanya keluarga Jung yang tersisa.”

+++

Yul bertemu dengan Taeng dan Sooyoung di kafe tempat biasa mereka berkumpul. Taeng melambaikan tangan kepadanya sementara Sooyoung hanya fokus ke ponsel dan laptopnya. Yul duduk dan mengerutkan kening.

“Aku tahu kau sangat menyukai gadget tapi bisa-bisanya kau mengabaikanku!”

Sooyoung mengangkat kepalanya dan kembali menghadap laptopnya. Taeng tertawa sementara Yul menghela napas.

“Sedang apa dia?”

Yul masih mengerutkan dahinya.

“Foto-foto.”

“Huh?”

Taeng memukul kepalanya dalam hati.

“Kenapa kau bodoh sekali? Dia sedang mengirimkan foto-foto yang kemungkinan adalah musuhmu ke ponselnya untuk Pak Hodong.”

Mulut Yul membentuk huruf O dan tiba-tiba tersenyum menyeringai.

“Aku bukan satu-satunya orang bodoh di sini. Kau juga bodoh kecuali si kutu buku di sampingku.”

Yul dan Taeng tertawa bersama. Sooyoung memandang mereka dan menghela napas.

“Bagaimana bisa kita semua jatuh di urutan tiga teratas sebagai siswa dengan nilai terbaik?”

Taeng menoleh padanya dan mendorongnya sedikit.

“Yah! Aku tidak sebodoh itu. Aku hanya sedikit lamban. Sedangkan Yul terlalu polos untuk melihat beberapa hal.”

Yul menganggukkan kepalanya dan memelototi Sooyoung. Sooyoung mengabaikan mereka dan akhirnya selesai mengirimkan semua foto-foto kandidat itu ke ponselnya.

“Aku sudah selesai!”

Yul dan Taeng segera berdiri. Sooyoung memandangi mereka dengan ekspresi bingung.

“Kenapa kalian berdiri?”

Yul menariknya berdiri.

“Kita tidak akan mengetahui kebenarannya jika kita hanya duduk di sini. Tentu saja kita akan menemui Hodong. Dengan penuh harapan untuk mencari tahu semuanya.”

+++

Donghae masuk ke jalan kecil di taman kediaman keluarga Jung dan mengintip melalui kaca jendela. Yul telah pergi sekitar 30 menit yang lalu sementara Mr. dan Mrs. Jung baru saja pergi. Ia tahu hari ini adalah hari libur para pembantu. Donghae bergerak diam-diam dan dengan cepat pergi ke pintu belakang. Ia tidak dapat masuk melalui pintu depan. Orang-orang akan mencurigainya. Ia mencungkil kunci dan berhasil membuka pintunya. Donghae berjalan masuk.

“Akhirnya. Aku akan mengakhiri semua ini.”

Jessica berada di lantai atas dan hanya berbaring di tempat tidur sejak Yul bilang bahwa dia harus melakukan sesuatu yang penting dan keluarganya pergi beberapa menit yang lalu meninggalkannya di rumah sendirian.

FLASHBACK

“Kau akan baik-baik saja, Jessica?”

Jessica tersenyum pada keluarganya. Mr. Jung menerima panggilan yang memberitahunya bahwa adiknya mengalami kecelakaan dan karena Jessica tidak suka melakukan perjalanan dengan kondisi yang seperti ini, ia memilih untuk diam di rumah.

“Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Yul akan segera kembali.”

Mrs. Jung merasa enggan meninggalkan putrinya di rumah sendirian namun Jessica tidak ingin membuat ibunya khawatir. Mr. Jung memeluk putrinya dan tersenyum.

“Kami akan segera kembali. Telepon kami jika terjadi sesuatu dan jangan membukakan pintu kepada siapa pun.”

Jessica mengangguk dan menyuruh keluarganya pergi. Mrs. Jung menoleh untuk mengingatkannya.

“Ingat, jangan membukakan pintu kepada orang asing dan panggil Yul untuk segera pulang.”

Jessica menganggukkan kepalanya.

END OF FLASHBACK

Ia ingin menelepon Yul namun Jessica merasa hal itu tidak perlu diberitahukan kepadanya sejak ia tahu bagaimana reaksi Yul jika dia tahu Jessica berada di rumah sendirian.

‘Aku akan baik-baik saja. Yul akan segera kembali. Jangan buat dia khawatir.

Dongae mengintip ke dalam kamar dan melihat Jessica berbaring di tempat tidur. Ia tersenyum. Semua usahanya terbayar sudah. Ia lalu melihat Jessica berbalik dengan punggung yang membelakangi pintu.

‘Tepat waktu.’

Donghae mendorong pintu perlahan dan memasuki kamar. Pandangannya tertuju pada Jessica. Ia berjalan menghampirinya dan duduk di tempat tidur di dekat Jessica. Merasakan tempat tidurnya bergerak, Jessica tersenyum.

“Kau bilang kau akan kembali setelah beberapa jam. Kau merindukanku?”

Donghae tersenyum menyeringai. Ia tengah menunggu saat yang tepat. Karena Jessica tidak mendengar jawaban Yul, ia memutuskan untuk berbalik dan terkesiap ketika ia melihat orang di belakangnya. Jessica baru saja akan berteriak ketika Donghae dengan cepat menutup mulutnya dengan saputangan. Jessica berusaha meronta-ronta namun tak lama kemudian ia merasa mengantuk. Jessica melihat Donghae sekali lagi sebelum ia kehilangan kesadaran. Donghae melepaskan saputangan itu dan tersenyum. Ia membelai wajah Jessica dengan jarinya.

“Kukira kau akan menyalahkan Yul tapi kau tidak. Aku tidak akan melakukan ini jika kau menyalahkan dia.”

+++

Yul, Taeng dan Sooyoung menunggu Hodong menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu terlihat kaget ketika ia melihat mereka bertiga.

“Saya rasa saya sudah memberitahukan semuanya.”

Yul tersenyum kepadanya dan mengisyaratkan Sooyoung untuk menunjukkan semua foto-foto dari musuh terbesar Yul.

“Aku membawa banyak foto. Aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya atau tidak tapi jika kau melihat seseorang yang mirip dengan laki-laki yang menyewamu, kumohon beritahu aku.”

Hodong memandang Yul, Taeng, dan Sooyoung sebelum kembali memandang Yul.

“Saya berbuat salah dan saya benar-benar ingin menyerahkan diri tapi saya ingin memastikan bahwa saya meninggalkan keluarga saya dalam kehidupan yang layak.”

Taeng tersenyum padanya.

“Kalau begitu kumohon bantu kami terlebih dahalu.”

Hodong mengangguk dan mengambil ponsel dari Sooyoung. Ia melihatdari satu foto ke foto lainnya. Ia berhenti pada sebuah foto dan menatapnya. Ia mendongak pada Sooyoung dan mengembalikan ponselnya.

“Laki-laki ini.”

Sooyoung mengambil ponselnya dan terkejut. Ia menoleh pada Yul dan menyerahkan ponsel itu. Yul melihatnya bersama Taeng. Hodong memandang mereka bertiga.

“Saya akan menyerahkan diri hari ini dan memberitahukan semua ini pada polisi. Maafkan saya atas segalanya. Saya tidak bisa menghidupkan kembali gadis itu tapi saya bisa membuat semuanya kembali benar.”

+++

Tiffany memutuskan untuk mengunjungi Jessica hari ini karena ia tidak ada kegiatan dan Taeng sedang sibuk dengan teman-temannya. Maka ia memutuskan untuk datang dan bersenang-senang dengan sahabatnya. Sunny sedang dalam perjalanan juga. Tiffany tiba dan menekan bel namun  tidak ada yang membukakan pintu.

“Tidak ada orang?”

Suara Sunny dari balik punggungnya membuat Tiffany berbalik dan menghadapnya. Ia menggelengkan kepala.

“Kukira Jessica dan keluarganya akan ada di rumah.”

Tiffany mengangkat bahu dan kembali menekan belnya. Masih tidak ada orang.

“Aneh. Mungkin dia pergi dengan Yul? Coba telepon Sica.”

Sunny mengambil ponselnya dan menelepon Jessica. Dahinya berkerut.

“Dia mematikan ponselnya. Tunggu, aku akan menelepon Sooyoung.”

Tiffany menunggu Sunny untuk menelepon Sooyoung dengan mengetuk pintu. Semua orang tahu betapa Jessica sangat suka tidur jadi mungkin dia masih tidur.

“Youngie. Kau bersama Yul? Jessica tidak ada di rumah.”

+++

Yul meninju kap mobil. Ia tidak memercayai matanya. Seseorang yang ia kira tidak bersalah adalah orang yang menghancurkan hidupnya. Apa yang telah ia lakukan sehingga menerima semua ini? Yul tidak bisa menahan amarahnya lagi.

“KENAPA DIA MELAKUKAN INI?”

Taeng membiarkan Yul melampiaskan amarahnya. Ia sendiri merasa marah dan benci. Mr. Hodong hanya meliha ke bawah. Yul lari dari bengkel tanpa teman-temannya.

“Yul tunggu!”

Taeng dan Sooyoung berlari mengejarnya. Mereka mencoba untuk menahan Yul namun amarah Yul tidak bisa mereka tahan. Sooyoung melakukan apa yang dapat dilakukannya. Ia meninju wajah Yul dengan keras. Yul berhenti meronta-ronta dan Taeng berhasil menahannya.

“Dengarkan aku! Kau harus tenang!”

Yul memandang mereka dengan bibir terluka.

“DENGAR APA? DONGHAE MEMBUNUH YOONA! DIA MENGHANCURKAN HIDUP JESSICA! MENGHANCURKAN HIDUPKU!”

Sooyoung meninjunya dua kali. Taeng memandang Sooyoung dan mencoba menghentikannya namun Sooyoung mengabaikannya.

“AKU TAHU! Tapi apa yang akan kau lakukan? Balas membunuhnya? YUL! BIARKAN POLISI YANG MENANGANINYA! Berpikirlah dengan kepalamu bukan dengan hatimu! Kau ingin menjadi korban selanjutnya? APA KAU BENAR-BENAR MENGINGINKAN JESSICA MENERIMA MAYATMU?”

Yul terkesiap. Jika Donghae dapat melakukan itu semua, dia juga mungkin akan melukai Yul. Taeng masih menahannya namun ia dapat merasakan Yul sedikit tenang.

“Tapi kenapa? Yoona sudah seperti…adiknya sendiri. Kenapa dia…melukainya?”

Suara Yul bercampur dengan tangisannya. Taeng melepaskannya dan menatapnya dengan penuh simpati. Sooyoung membungkuk.

“Kita akan mencari tahu kebenarannya tapi kita harus melaporkan ini ke polisi.”

Yul mengangkat kepalanya dan menatap kedua sahabatnya. Ia mengangguk terlepas hatinya mendesaknya untuk pergi menghampiri Donghae dan menanyakan alasannya seorang diri. Perhatian mereka teralih pada Sooyoung ketika ponselnya berdering.

“Bunny? APA?”

Sooyoung menurunkan ponsel dari telinganya. Ia memandang Yul.

“Jessica…dia tidak ada di rumah.”

+++

Yul melihat sekeliling rumah namun tidak ada seorang pun di sana. Ia mencoba menelepon ibu mertuanya namun nihil. Ia terlihat seperti orang gila pada saat itu. Sooyoung dan Sunny telah pergi ke kantor polisi bersama Hodong untuk kembali melaporkan kecelakaan itu sementara Taeng dan Tiffany mencari Jessica di luar.

FLASHBACK

“Diam di sini, Yul. Kami akan mencari cara untuk menemukannya.”

Yul ingin pergi dan mencari Jessica namun Taeng tidak mengizinkannya karena tidak ada yang tahu ke mana Jessica pergi.

“Diam di sini, Yul! Dia mungkin hanya berjalan-jalan atau semacamnya. Akan lebih baik kalau kau diam di rumah dan menunggunya kalau-kalau dia kembali.”

Yul memandang Tiffany. Ia merasa akan meledak atas apa yang terjadi. Keterlibatan Donghae dalam kecelekaan itu dan sekarang hilangnya Jessica.

“Bagaimana kalau…dia…tidak kembali?”

Tiffany memeluknya dan berusaha menenangkan laki-laki itu.

“Dia akan kembali.”

END OF FLASHBACK

“Sayang. Kumohon kembalilah.”

Yul tidak bisa menangis lagi. Semua air matanya telah ia keluarkan. Ia hanya dapat menangis tanpa suara mengharapkan keselamatan Jessica. Ponselnya berbunyi dan Yul tahu kalau itu adalah sebuah pesan.

Pergilah ke alamat ini…SENDIRI.

jika kau benar-benar ingin melihat istrimu selamat.

Abaikan ini dan kau tidak akan melihatnya lagi.

INGAT…DATANG SENDIRI.

Yul membaca alamatnya dan mengenali tempat itu. Ia mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi ke mobilnya dan berlalu.

“Jangan sakiti dia, Donghae.”

+++

Yul berjalan memasuki gudang tua. Perhatiannya terfokus untuk mengeluarkan Jessica dari sini dengan aman dan selamat. Ia tidak peduli lagi dengan Donghae maupun kecelakaan itu. Ia hanya ingin istrinya kembali. Yul masuk lebih jauh ke dalam gudang tersebut.

“Kau sungguh mencintai dia, huh?”

Yul berbalik dan melihat Donghae di hadapannya. Ia menarik napas dalam-dalam. Meskipun sekelilingnya gelap, Yul dapat melihat Donghae yang tersenyum sinis padanya.

“Di mana Jessica?”

Donghae menertawakannya. Ia benar-benar tak bisa dikuasai sementara Yul mencoba berhati-hati.

“Aku sungguh tidak memahamimu, Yul. Kau masih menerima dia setelah semua ini?”

Yul tetap tenang. Gerakan yang tiba-tiba dapat membahayakan hidup Jessica sejak ia tidak tahu di mana Donghae menyekapnya.

“Aku tahu kaulah orang di balik kecelakaan itu. Aku hanya tidak tahu kenapa kau melakukannya.”

Donghae berjalan-jalan di sekitarnya namun masih menjaga jarak di antara mereka.

“KAU TIDAK TAHU? KAULAH PENYEBAB BUNUH DIRI KYUHYUN! IBUKU MENJADI SAKIT JIWA KARENA ITU! KAU MENGHANCURKAN KELUARGAKU!”

Yul sedikit terkejut namun alasan Donghae tidak masuk akal.

“Kyuhyun meninggal karena kecelakaan. Apa hubungannya denganku?”

Donghae mendengus. Ia geleng-geleng kepala.

“KECELAKAAN? DIA GANTUNG DIRI KARENA KAU MENYEBABKAN DIA KEHILANGAN SATU KAKINYA!”

Donghae melemparkan selembar kertas pada Yul. Yul mengambil kertas itu dan membukanya. Sebuah surat. Ia membacanya dan kembali melihat Donghae.

“Pertandingan basket itu adalah kecelakaan. Kami berdua mengejar bola. Aku tidak tahu dia terluka separah itu.”

Donghae mengeluarkan pistol ayahnya dan mengarahkannya pada Yul.

“Ibuku sakit jiwa dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa karenamu! Aku menyalahkanmu atas segalanya!”

Yul tidak dapat hanya berdiri saja di sana dan tidak berkata apa-apa. Ia terlalu lama menyimpan amarahnya.

“KAU MENYALAHKANKU DAN MEMBUNUH YOONA! KAU MENYALAHKANKU DAN MENGHUKUM JESSICA! AKULAH YANG KAU INCAR!”

Donghae merasa sedikit ragu ketika nama Yoona disebutkan dan Yul menyadari hal itu.

“Kau merencanakan kecelakaan itu untuk membunuhku, kan? Kau tidak tahu kalau Yoonalah yang membantu Jessica. Kau tahu kalau aku akan mengemudikan mobil itu sehingga kau menyabotase remnya karena kau tahu aku akan membunuh diriku sendiri saat aku menyelamatkan Jessica. KAU MERENCANAKAN SEMUANYA UNTUK MEMBUNUHKU!”

Donghae menggertakkan giginya dan memandang Yul. Ia masih mengarahkan pistol itu pada Yul.

“YA, AKU MERENCANAKAN SEMUANYA UNTUK MEMBUNUHMU! Tapi kemunculan Yoona yang tiba-tiba merusak segalanya! Aku berusaha membuat keluarga Jung untuk menyalahkanmu tapi mereka malah menyuruhmu menikahi putrinya! Aku mencoba segala cara tapi tidak ada yang berhasil! Tapi hari ini, semua ini akhirnya akan berakhir…”

Yul mengepalkan tinjunya. Ia menjejalkan tangannya ke dalam saku celana dan perlahan meraih ponselnya. Ia harus memastikan Donghae tidak menyadarinya.

“Kau menginginkanku, bukan? Sekarang kau mendapatkanku. Lepaskan Jessica.”

Donghae tersenyum sinis.

“Lihat ke samping kananmu.”

Yul menoleh dan ia dapat melihat Jessica terikat di lantai dengan mulut dibekap.

“Lepaskan dia, Donghae. Ambil aku dan lepaskan dia.”

“Kau masih peduli padanya? Ayolah! Dia membuat hidupmu menderita!”

Yul berhasil mengirimkan pesan terakhir pada Sooyoung. Ia hanya berharap mengirimkan pesan yang tepat ke nomor yang tepat.

“Dia tidak membuat hidupku menderita. Kaulah yang membuatku menderita dan aku tidak akan membiarkanmu menyebabkan kekacauan lagi.”

+++

Sooyoung menatap ponselnya and membaca pesan. Ia terkesiap dan bergegas pergi ke kantor polisi.

“Kita harus bergegas!”

+++

“Dulu kita berteman. Kenapa kita berakhir seperti ini?”

Raut wajah Donghae menjadi gelap. Yul mencoba untuk mengulur-ngulur waktu. Jika Sooyoung menerima pesannya, ia harus menunggu. Ia hanya bisa berharap.

“Teman tidak saling membunuh. Aku akan mengakhiri penderitaanku.”

Yul melihat ke samping kanannya dan meskipun ia tidak dapat melihat Jessica dengan jelas, ia tahu gadis itu merasa panik. Ia pun merasa demikian.

“Donghae, aku mohon padamu. Kumohon lepaskan Jessica dan kita bisa menyelesaikan masalah ini. Hanya kita berdua.”

Donghae kembali berpikir namun perhatiannya teralih ke pintu gudang. Sekelompok pria bersenjata bergegas masuk. Ia tahu siapa mereka dan mulai berlari menghampiri Jessica dan menahannya di depannya. Langkahnya terlalu cepat sehingga Yul tidak berhasil mengejarnya.

“Turunkan senjata kalian dan angkat tangan!”

Donghae memandang berkeliling dan mundur dengan Jessica yang masih bersamanya.

“Jangan mendekat atau akan kutembak dia!”

Yul dapat melihat mata Jessica yang mulai dibasahi air mata. Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Taeng dan Sooyoung dijauhkan oleh Kepala Polisi dan mereka bisa merasakan ketegangan di ruangan itu.

“Donghae! Menyerahlah! Kita akhiri saja sekarang. Kumohon jangan melukai siapa pun lagi.”

Semua polisi mulai menyebar. Donghae tahu ia tidak bisa pergi ke mana-mana lagi. Ia hanya memiliki satu pilihan.

“Selamat tinggal Yul.”

Suara tembakan keras dapat didengar. Yul jatuh ke lantai. Mata Jessica terbelalak sementara Donghae menjatuhkan pistolnya. Para polisi berlari ke arahnya dan menahannya sementara Taeng dan Sooyoung berlari menghampiri Yul dan Jessica. Kain di mulut Jessica dilepas. Ia bisa merasakan pandangannya mulai semakin buram karena air matanya.

“YUL!”

~~~;~~~;~~~

credit: bluppy @SSF

boiboi~

Advertisements

51 thoughts on “My Valuable Treasure is Your Love [Chapter 20]

  1. Yaah donghae nembak yul??? Awas aja klo yul kenapa” gue jadiin sarden tuh si ikan^Δ^,thor jgn bunuh yul ato sica ya bikin happy ending ya

  2. Annyeong ….
    Bntar lg mau tamat ya .
    Wah tegang yeh ,kasian s yul tuh mlahd tmbak ..s dongek jahara bngt dah -_-
    Gak sadar” pula dia ..
    Smga selamat aj papah yul ,pnasaran deh dtunggu yaah ..
    SEMANGAAAAAAAAAAT

  3. Kampret si ikan beraninya dia nembak yul uda salah ms tetap saja keras kepala si ikanz,kyuhyun meninggal karena gantung dirinya sendiri sementara yoona meninggal karena pembunuhan berencana si ikan eh malah yuri yg disalahin,jangan buat yuri meninggal ya thor,author fighting!

  4. ahahah. author kampret selalu pas tegang2nya malah tbc 😀 dongek nih tolol ngebnuh yul aja malah ngaco in yg lain wkwk

    okey thanks thor udh updte

    lu slah stu author fav gw 😀

  5. omaigat itu yg ketembak moga bkn yul, moga aja si hae, biarin aja mati biar gak ganggu yulsic
    haduh gak tega kl liat yul meninggal, kasian sica

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s