My Valuable Treasure is Your Love [Final Chapter]

ENDDDD!!!

enjoy~

~~~ ~~~ ~~~

Final Chapter

Donghae ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Dengan bantuan Hodong, polisi akhirnya dapat memecahkan kebenaran mengenai kecelakaan yang telah menyebabkan terbunuhnya Yoona. Mereka meminta maaf sedalam-dalamnya kepada keluarga Jung dan Kwon atas kesalahan mereka.

FLASHBACK

Opsir Shinyoung membungkuk meminta maaf kepada kedua keluarga atas kesalahannya. Ia tidak berani untuk bertatap muka dengan mereka setelah apa yang terjadi.

“Maafkan saya! Seharusnya kami melakukan penyelidikan dan tidak hanya bergantung pada saksi mata saja!”

Mr. Jung masih marah padanya namun apa boleh buat? Semuanya sudah terjadi.

“Anggap ini sebagai teguran! Jika aku menemukan kesalahan-kesalahan lain yang disebabkan oleh anggota kepolisian, aku akan menyeret salah satu dari kalian ke pengadilan!”

Opsir Shinyoung mengangkat wajahnya namun tidak berani melihat ke mata Mr. Jung.

“Sayang. Sudahlah. Sekarang kita tahu Jessica tidak bersalah. Aku merasa bahagia.”

Mr. Kwon yang masih berdiri memeluk istrinya menoleh dan melihat ke Mr. Jung.

“Maafkan saya karena sudah menuduh Jessica.”

Mr. Jung melihat ke arahnya dan tersenyum.

“Kita semua bersalah. Saya memperlakukan Yoona seperti anak saya sendiri. Hari ketika dia meninggalkanmu adalah hari ketika saya tahu saya akan merindukannya. Saya merasa bahagia karena kita akhirnya berhasil menangkap pelaku sebenarnya dan SAYA TURUT BERDUKA CITA.”

Mr. Kwon melepaskan pelukan istrinya dan mengulurkan tangannya ke Mr. Jung. Mr. Jung tertawa kecil dan memeluknya.

“Tidak perlu bersikap formal. Putriku menikah dengan putramu. Pada kenyataannya kita bersaudara!”

END OF FLASHBACK

Taeng tersenyum pada Opsir Shinyoung dan berterima kasih padanya. Tapi sebelum Taeng sempat pergi, Opsir Shinyoung menghentikannya.

“Beritahu Nona Jung, saya minta maaf yang sedalam-dalamnya atas…”

Senyum Taeng lenyap seketika. Ia tahu seberapa besar penyesalan opsir ini.

“Tidak apa-apa. Kau sudah melakukan yang terbaik. Aku tahu Jessica akan baik-baik saja.”

Dengan itu, Taeng meninggalkan kantor polisi dan pergi ke rumah sakit.

“Akhirnya.”

+++

Sooyoung dan Sunny sedang menunggu di luar ruangan sementara Tiffany dan Jessica berada di dalam. Jessica tidak meninggalkan sisi Yul dan menunggunya di sana. Tiffany ingin ikut bersama Taeng ke kantor polisi namun Taeng menyuruhnya untuk tetap di sana dan menemani Jessica.

“Tiff? Kapan dia akan bangun?”

Tiffany menepuk pundaknya dengan pandangan tertuju pada Yul yang berbaring tak berdaya di tempat tidur.

“Dia akan bangun. SEGERA. Jangan khawatir, Jess. Dia tidak akan membiarkanmu menunggu terlalu lama.”

Jessica tidak balas menjawab namun tetap memandangi Yul. Ia membelai wajah Yul dengan telapak tangannya berharap sentuhan itu dapat membangunkannya. Taeng masuk ke dalam ruangan dengan tampang kelelahan. Tiffany bergegas menghampirinya dengan banyak pertanyaan dalam benaknya.

“Apa yang terjadi pada Donghae?”

Taeng memandang ke arahnya dan cemberut.

“Bagaimana kalau menanyakan keadaanku saja daripada dia?”

Tiffany memutar bola matanya dan mendorong Taeng. Taeng jatuh ke kursi di belakangnya. Tiffany memelototinya. Ia baru saja akan mengomelinya ketika mereka mendengar Jessica menjerit.

“Yul?”

Yul sedikit bergerak dan perlahan membuka matanya. Ia memandang berkeliling mencoba untuk mengenali tempat itu namun tak berapa lama pandangannya menangkap sepasang bola mata cokelat di depannya. Ia tersenyum.

“Kau terlihat…lelah.”

Yul perlahan mengangkat tangannya dan membelai pipi Jessica. Gadis itu langsung memegang tangan Yul dan menggenggamnya dengan kuat dengan air mata yang mengalir dari matanya.

“Yul. Jangan lakukan itu lagi.”

Yul menyunggingkan seulas senyum lemah pada Jessica sebelum beralih pada Taeng dan Tiffany.

“Di mana…SooSun?”

Sooyoung dan Sunny masuk ke dalam ruangan tepat waktu.

“Kami di sini, Yul. Keluargamu menelepon. Mereka akan segera kemari.”

Yul kembali memandang Jessica dan dengan lembut menghapus air matanya.

“Sayang…jangan menangis…aku tidak mau bayiku menjadi anak cengeng…”

Yul masih sedikit lemah tapi dia akan baik-baik saja. Jessica balas tersenyum.

“Jangan pernah bertindak seperti pahlawan lagi.”

Yul mengerutkan kening.

“Aku ingat…Hae menarik pelatuknya…lalu…pandanganku menjadi gelap…”

Jessica membelai rambut Yul dengan tangannya yang bebas. Taeng memandang Yul dengan ekspresi bingung.

“Kau tidak ingat?”

Yul menggelengkan kepalanya. Sooyoung terkekeh sementara Sunny mencubit lengannya. Ia mengerang kesakitan. Tiffany tersenyum padanya.

FLASHBACK

Yul jatuh ke lantai sementara Donghae menjatuhkan pistolnya. Mata Jessica terbelalak. Para polisi berlari ke arah Donghae dan menahannya sementara Taeng dan Sooyoung berlari menghampiri Yul dan Jessica. Kain di mulut Jessica dilepas. Ia bisa merasakan pandangannya mulai semakin buram karena air matanya.

“YUL!”

Sooyoung menghampiri Jessica untuk melepas tali yang mengikatnya sementara Taeng menyangga Yul. Ia membalikkan tubuh Yul dan ia melihat banyak darah. Wajah Yul mengernyit kesakitan. Sooyoung telah selesai membebaskan Jessica. Jessica segera menghampiri Yul dan merebahkan kepala Yul di pangkuannya.

“Yul! Kumohon jangan tinggalkan aku!”

Yul membuka matanya ketika ia mendengar suara Jessica. Taeng berusaha menekan lukanya.

“Donghae melewatkan sasarannya. Peluru itu hanya tembus…ke dekat perutku…”

Yul benar. Donghae kehilangan sasaran namun darah yang mengalir dari lukanya benar-benar membuat Jessica histeris.

“Lukamu mengeluarkan banyak darah. Soo!”

Sooyoung segera memanggil paramedis yang datang. Yul dapat merasakan matanya mulai terasa berat. Ia menoleh pada Jessica sambil masih menahan rasa sakitnya.

“Aku…mencintaimu…”

END OF FLASHBACK

“Kau pingsan setelah itu. Untungnya Donghae tidak bisa menggunakan pistolnya dengan baik. Kau tidak terluka parah.”

Tiffany mengakhiri ceritanya. Yul menggunakan tangannya yang bebas dan menggerakkanya ke perban di perutnya. Sunny tersenyum padanya.

“Kau akan baik-baik saja, Yul.”

Yul memandang Jessica dan melihat raut wajahnya yang terlihat gembira. Jessica mengangguk.

“Apa yang terjadi pada Donghae?”

Taeng mendengus.

FLASHBACK

“Apa yang akan terjadi padanya?”

Taeng tidak dapat menahan rasa penasarannya lagi. Ia harus mengetahui tindakan seperti apa yang akan dilakukan polisi pada Donghae. Bagaimanapun juga mereka pernah berteman. Opsir Shinyoung menghela napas.

Kita harus menunggu ayahnya datang. Dia masih di bawah umur sehingga penuntutannya akan sedikit berbeda.”

Taeng mengangguk. Wajahnya muram. Opsir Shinyoung menyadarinya.

“Dulu dia adalah teman baikku. Hanya karena satu kesalahan. Hanya dibutuhkan satu kesalahan untuk menghancurkan semuanya.”

Opsir Shinyoung menepuk punggungnya.

“Kita tidak bisa menghindar dari berbuat salah tapi kita bisa mempelajari bagaimana cara mencegahnya.”

END OF FLASHBACK

Yul ingat ketika dirinya, Donghae, Yoona dan Taeng selalu bermain bersama. Rasanya seperti baru kemarin sejak hari itu. Masih jelas sekali dalam ingatannya setiap kenangan yang ia lalui bersama Yoona dan Donghae. Suara Yoona masih terngiang-ngiang di telinganya. Tanpa disadari, air matanya jatuh membasahi pipi.

“Kyuhyun meninggal karena…bunuh diri di rumahnya sendiri. Ibunya tidak bisa menahannya lagi…dan menjadi sakit jiwa. Donghae menyalahkanku…karena semua ini. Aku kehilangan Yoona dan aku hampir kehilangan Sica…kami berdua kehilangan orang-orang yang sangat kami sayangi. Aku hanya berharap…kalau saja dulu Donghae…menjelaskannya padaku. Semua ini tidak akan pernah terjadi.”

Jessica menggunakan telapak tangannya untuk menyeka air mata Yul.

“Ini bukan salah siapa-siapa, Yul. Dia hanya mengambil jalan yang salah.”

Yul menangis di samping Jessica. Sooyoung dan Taeng saling berpandangan dan kembali memandang Yul. Keduanya dapat merasakan penderitaan Yul namun Taeng lebih merasakannya.

FLASHBACK

Taeng telah berjanji pada Tiffany untuk menunggunya sepulang sekolah nanti karena Tiffany sedang sibuk dengan kegiatan OSIS. Mereka bilang bahwa Tiffany akan menjadi ketua selanjutnya sehingga dia akan selalu sibuk namun itu tidak menghentikan Taeng untuk menunggunya hari ini.

“Sudah larut. Di mana dia?”

Taeng memutuskan untuk pergi ke ruang OSIS. Ia mendengar sesuatu menubruk dinding dan tak berapa lama terdengar suara teriakan Tiffany. Teriakan itu berlangsung sekitar 5 detik namun Taeng dapat mendengarnya. Ia mendobrak pintu dengan seluruh kekuatannya dan melihat Donghae menahan Tiffany ke dinding. Taeng bergegas lari menghampiri mereka dan mendorong Donghae.

“APA YANG KAU LAKUKAN?”

Donghae tersandung ke belakang namun tersenyum sinis ketika ia melihat Taeng. Ia berdiri tegak sekali lagi dan merapikan kemejanya.

“Aku hanya bercanda, Taeng. Itu bukan apa-apa.”

Tubuh Tiffany gemetar ketakutan. Taeng memeluknya namun pandangannya masih tertuju pada Donghae.

“BERANI MENYENTUH DIA SEKALI LAGI DAN AKU AKAN PASTIKAN ITU AKAN MENJADI TERAKHIR KALINYA KAU BISA MENYENTUH SESUATU DENGAN TANGAN ITU.”

Donghae tertawa.

“Apa yang akan kaulakukan, Taeng?”

Taeng menggertakkan giginya.

“Kau ingin memberitahu Jessica? Dia tidak akan pernah memercayai kalian.”

Donghae tidak membiarkan Taeng menyelesaikan kata-katanya dan pergi meninggalkan ruangan. Taeng menoleh pada Tiffany dan mencoba menenangkannya.

“TaeTae. Kita harus memberitahu Jessica…tentang ini.”

Taeng menghela napas. Jessica tidak akan memercayai mereka terutama Taeng karena ia adalah sahabat Yul.

“Kurasa dia tidak akan memercayai kita tapi dia mungkin akan percaya padamu. Tidak ada salahnya mencoba.”

END OF FLASHBACK

“Kurasa akhirnya kita bisa melupakan semua ini?”

Suara Sunny membuat mereka menoleh padanya.

“Kurasa aku bisa melupakannya. Aku yakin kalau aku dan TaeTae akhirnya bisa mengakhiri bab ini. Menutup buku ini untuk selamanya.”

Taeng memeluk Tiffany dari belakang. Sooyoung mengangguk. Jessica memandang Yul dengan seulas senyum muram.

“Aku tidak benar-benar bisa mengatakan kalau dia menghancurkan hidupku. Dia malah membantuku untuk belajar dari kesalahanku sendiri dan jika Donghae tidak melakukan itu, aku dan Yul mungkin masih saling membenci.”

Yul mengalihkan tatapannya ke jendela kamar.

“Akhirnya…aku bisa merelakan Yoona pergi.”

+++

Akhirnya Yul telah pulih setelah menghabiskan waktu seminggu bermalam di rumah sakit untuk proses penyembuhannya. Jessica tidur di sana juga meskipun Yul memperingatkannya untuk tidak tidur di sana. Tapi mengetahui betapa keras kepalanya Jessica, Yul membiarkannya melakukan apa pun semaunya. Usia kehamilan Jessica kini menginjak bulan kedelapan dan Yul melarangnya untuk pergi ke sekolah. Ia bahkan menyewa Sunny dan Tiffany untuk mengajar Jessica dan itu membuat Sooyoung dan Taeng sedikit marah pada Yul karena mengambil pacar mereka. Yul tidak memedulikan mereka dan tetap menjalankan rencananya.

+++

Besok akan menjadi pertandingan besar bagi Taeng. Pertandingan final Basketball Youth Championship. Taeng merasa sedikit gugup karena kali ini ia akan memimpin timnya.

“Tenanglah, Taeng. Kau akan melakukannya dengan baik.”

Taeng menoleh pada sahabatnya dan tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak melihat Yul mengenakan jersey SMA Seoul.

FLASHBACK

Taeng dan rekan-rekan timnya tengah berlatih ketika pandangannya tertuju pada seseorang yang sangat dikenalnya, Yul. Taeng menghampirinya dengan ekspresi bingung.

“Yul. Sedang apa kau di sini?”

Yul tersenyum pada pelatih sebelum tersenyum pada Taeng.

“Dengar-dengar kau memerlukan pemain depan tambahan.”

Taeng mengangguk tapi apa hubungannya dengan Yul? Sepeninggal Yoona, Yul tidak pernah datang kemari di tengah-tengah latihan.

“Yah, akulah pemain tambahan itu. Pelatih memberiku tempat di tim dan jangan khawatir, aku sudah menunjukkan semua keahlianku padanya kemarin. Dia merasa senang.”

Taeng tidak bisa memercayainya. Tapi kemudian wajahnya berubah murung lagi.

“Kau meninggalkan basket karena Yoona.”

“Tapi sekarang aku bermain untuk Yoona. Jessica benar; Yoong pasti sungguh menginginkanku untuk kembali bermain.”

Taeng mengerutkan kening.

“Yang aku perlukan untuk membuatmu bermain lagi adalah Jessica? Seharusnya dulu aku menyuruh dia membujukmu.”

END OF FLASHBACK

Taeng mengoper bola padanya. Yul memandang Taeng dengan ekspresi bingung. Taeng tersenyum lebar.

“Selamat datang kembali, Kwon Yul.”

+++

“Anda sedang menyaksikan pertandingan final Basketball Youth Championship! Kedua tim ini memang sudah terkenal! Mereka kini membuka jalan dengan satu tujuan untuk menarik hati Institut Tokyo! Tapi pertandingan ini masih belum berakhir dengan SMA Seoul membuat comeback yang sebenarnya di babak ketiga. Kwon Yul memimpin skor timnya dengan 30 poin sementara sang kapten, Kim Taeng berlarian di lapangan untuk membantunya hari ini! Kwon Yul pernah mengundurkan diri sebelumnya akan tetapi 3 bulan terakhir ini, dia kembali dan benar-benar dalam kondisi yang baik! Itulah sebabnya dia masih tetap menjadi pemain terbaik Korea! Saya Sandara Park melaporkan langsung dari The Arena.”

Yul duduk di samping Taeng dan mendengarkan penjelasan pelatih mereka. Ia dapat merasakan adanya kesamaan dalam pertandingan ini dengan pertandingannya bersama Kyuhyun dulu.

‘Kurusa, inilah saatnya. Sekarang atau tidak sama sekali.’

Pendukung dari kedua sekolah telah mengisi arena dan saling menyorakkan dukungan mereka. Yul menoleh pada Taeng dan menepuk pundaknya.

“Ini akan menjadi pertandingan terakhir kita bersama-sama!”

Taeng tersenyum menyeringai.

“Ya! Kita buat mereka menyesal karena bermain melawan kita!”

Yul dan Taeng melihat ke dalam arena. Mereka akan bermain sebagai tim dalam 5 menit lagi.

“Ayo kita pergi kapten!”

+++

Jessica dan Tiffany pergi berkeliling kota. Mereka pergi ke beberapa toko berbeda untuk mencari gaun yang akan mereka kenakan di prom nanti. Akhir-akhir ini Jessica selalu merasa sangat kelelahan namun ia tidak bisa mengabaikan permintaan Tiffany begitu saja dan karena ia sangat suka berbelanja, ia menyetujuinya.

“Jessi! Baju ini bagus sekali! Aku menyukainya!”

Suara nyaring Tiffany benar-benar membuat Jessica ingin menutup telinganya namun ia sungguh tidak bisa mengabaikan sahabatnya.

“Kalau begitu ambillah. Kita sudah pergi ke belasan toko. Pilih saja satu, Tiff.”

Dengan bahagia Tiffany memutar gaun itu.

Jessica berdiri di depan gaun yang sangat indah. Gaun itu benar-benar indah.

“Kau menyukainya?”

Suara Tiffany mengejutkan Jessica. Ia menghela napas.

“Lihatlah perutku, Tiff. Aku tidak bisa pergi ke prom.”

Jessica mengusap-usap perutnya namun tersenyum bahagia meskipun ia tidak bisa pergi ke prom, ia tahu Yul akan berada di sana untuknya.

+++

Yul membuka pintu dan memasuki rumahnya. Ya, mereka telah pindah dari rumah keluarga Jessica karena keduanya membutuhkan privasi mereka sendiri. Yul memandang berkeliling dan melihat pintu kamar mereka sedikit terbuka. Ia berjalan menuju kamar tidur dan tersenyum ketika melihat Jessica menatap fotonya saat memenangkan Basketball Youth Championships.

“Sica? Kenapa kau memandang fotoku seperti itu?”

Jessica berbalik dan cemberut.

“Kita hanya menghabiskan waktu bersama yang sebentar sejak kau terlalu sibuk berlatih.”

Yul berjalan menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Sekarang aku sudah punya banyak waktu.”

Yuri mengambil foto itu dan meletakkannya di meja. Ia lalu meraih tangan Jessica dan mengecupnya.

“Yul?”

“Hmm?”

Yul tengah sibuk bermain-main dengan jemari Jessica.

“Malam ini adalah malam prom. Aku ingin tahu seperti apa prom itu.”

Yul menatapnya dan tersenyum. Ia beranjak dari duduknya dan menyalakan stereo. Ia memilih lagu yang paling romantis dan memutarnya. Yul lalu meredupkan lampunya. Ia lalu kembali menghampiri Jessica dan mengulurkan tangannya.

“Maukah kau berdansa denganku?”

Jessica menyunggingkan seulas senyum dan meraih tangan Yul. Mereka berdiri berhadapan. Yul merangkul pinggang Jessica dan merangkulkan lengan Jessica di lehernya. Mereka bergerak perlahan mengikuti irama musik. Yul menatap mata Jessica.

“Kau terlihat cantik malam ini.”

Pipi Jessica seketika merona. Ia berusaha menutupinya dengan ucapannya.

“Dengan perut ini? Aku bahkan tidak bisa menjangkau rambutmu, seobang.”

Yul tertawa kecil. Ia melepaskan pelukannya di pinggang Jessica dan pindah ke belakangnya. Yul lalu merangkul pinggang Jessica dari belakang sementara Jessica bersandar ke dadanya dan menautkan jari mereka.

“Sekarang kau bisa menjangkaunya?”

Jessica mengangguk. Ia dapat merasakan napas Yul di lehernya.

“Kau ingat apa yang pernah aku katakan sehari sebelum kita menikah?”

Jessica tidak pernah melupakan kenangan-kenangan itu. Saat itu Yul memperlakukannya dengan kasar.

“Aku bilang kalau ketika bayi ini lahir, kita akan bercerai.”

Jessica tidak dapat menjawabnya dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk.

“Aku menarik kembali ucapanku. Aku tidak bisa membayangkan diriku tanpamu. Tanpa kita. Sica baby, maukah kau pergi bersamaku ke Amerika?”

Jessica berusaha keras untuk menolehkan kepalanya menghadap Yul. Yul hanya menunggu jawabannya.

“Kau tahu jawabannya, Yul.”

Yul tersenyum dan mencium bibirnya. Ia memutar Jessica untuk menghadapnya dan menangkup wajahnya sambil tetap menciumnya. Tak berapa lama mereka melepaskan ciuman. Yul menempelkan dahinya di dahi Jessica.

“Masih mau pergi ke prom?”

Jessica tersenyum menyeringai. Ia memegang bahu Yul dan mendorongnya ke tempat tidur.

“Ini jauh lebih baik daripada prom.”

+++

Taeng sedang menunggu di ruang duduk keluarga Hwang dengan gugup. Ia kerap melirik jam tangannya.

‘Kenapa aku gugup sekali?’

Taeng kembali melihat ke tangga dan menggosok-gosok tangannya untuk menenangkan dirinya. Ia mengenakan tuksedo dan membawa setangkai mawar merah.

‘Tenanglah Taeng. Ini hanyalah prom.’

‘Ya, prom bersama Tiffany.’

‘Lalu?’

‘Buatlah malam ini menjadi malam yang berkesan baginya.’

Taeng mentally smack himself in the head for saying that. Now he feels more pressure.

Taeng mengutuk dalam hati karena berpikiran semacam itu. Sekarang dia semakin merasa gugup.

“Pikiran bodoh.”

“TaeTae?”

Taeng mengangkat kepala dan menatap Tiffany dengan mata terbuka lebar dan mulut melongo.

“Wow. Kau terlihat berbeda.”

“SUNGGUH?”

Jawaban nyaring Tiffany membuat Taeng tertawa terbahak-bahak. Tiffany menampar lengannya.

“Yah! Aku kesulitan mencari gaun yang bagus.”

Taeng mengusap-usap lengan yang ditampar Tiffany. Ia menyunggingkan senyum bodohnya.

“Aku membelikan bunga untukmu.”

Tiffany tersenyum. Terkadang orang konyol ini bisa menjadi sangat romantis. Benar-benar romantis.

“Hanya untuk malam ini?”

Taeng tidak menjawabnya namun ia mengulurkan tangannya. Tiffany menaruh bunga itu, ia meraih tangan Taeng menuju mobilnya. Taeng membukakan pintu mobil untuk Tiffany sebelum pergi ke sisi pengemudi dan masuk. Ia lalu menyalakan mesin mobil dan melajukannya.

+++

Sooyoung sedang bersenang-senang bersama Sunny tepat di tengah-tengah lantai dansa. Mereka menari seolah dunia milik mereka sendiri dan tidak memedulikan murid-murid lain yang berdatangan.

“Sekarang aku tahu kenapa gadis-gadis menyukai prom.”

Sunny mengangkat alis kirinya dan menatap Sooyoung.

“Kenapa?”

Sooyoung mengisyaratkan Sunny untuk melihat ke samping kanannya.

“Mereka terlihat cocok.”

“Si cantik dan si kutu buku. Aku tidak pernah mengira mereka akan seawet ini.”

Komentar-komentar terus terlontar. Mereka berdua tetap bisa mendengarnya meskipun suara musik mengalun keras.

“Kau harus berterima kasih padaku, Youngie.”

Sooyoung mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena berkat seorang Sunny, kau menjadi salah satu laki-laki yang paling diincar di sekolah.”

Ucapan Taeng membuat Sunny tertawa. Sooyoung mendorong Taeng dengan main-main.

“Menarilah di tempat lain, pendek!”

Tiffany menarik Taeng menjauh dari Sunny dan Sooyoung. Sooyoung berterima kasih pada Tiffany. Tiffany menariknya sedikit jauh dari mereka.

“Ayolah mushroom. Aku harus menggoda mereka. Mereka…”

Tiffany membungkamnya dengan ciuman. Pada awalnya Taeng merasa sedikit kaget namun tak berapa lama ia ikut menikmatinya. Taeng yang pertama melepaskan ciuman mereka.

“Apakah aku akan mendapatkan banyak ciuman malam ini?”

Tiffany memutar bola matanya.

“Tetaplah bermimpi, Kim.”

+++

Taeng menggenggam tangan Tiffany dan membawanya keluar dari aula sekolah. Mereka memutuskan kalau berjalan-jalan di luar jauh lebih baik daripada kepanasan dan bersesak-sesak di dalam. Benar-benar panas.

“TaeTae. Apa yang akan terjadi jika kita saling melupakan satu sama lain?”

Taeng berhenti berjalan dan menoleh menghadapnya.

“Aku tahu aku tidak akan melupakanmu.”

Wajah Tiffany berubah murung begitu teringat bahwa minggu ini adalah minggu terakhir mereka bersama-sama.

“Tapi bagaimana kalau itu terjadi? Kita berdua tidak bisa menjanjikan kalau kita akan saling setia.”

Taeng tersenyum kepada Tiffany dan menggenggam tangannya dengan erat.

“Fany-ah. Jika kau jatuh cinta kepada orang lain, aku ingin kau tahu bahwa aku turut bahagia dan aku akan merelakanmu pergi.”

Mata Tiffany mulai berkaca-kaca ketika Taeng berbicara seperti itu.

“Tapi, aku tidak mau jatuh cinta kepada orang lain! Aku menginginkanmu!”

Taeng tidak bisa tahan melihat mushroom-nya menangis seperti itu. Ia memeluk erat gadis itu.

“Kalau begitu, percayalah padaku ketika aku mengatakan ini. AKU AKAN MENCARIMU TIDAK PEDULI DI MANA ATAU KAPAN PUN ITU. DAN KETIKA AKU MENEMUKANMU, AKU AKAN MEMBUATMU JATUH CINTA LAGI PADAKU.”

Air mata Tiffany membasahi tuksedo Taeng namun Taeng tidak peduli.

“Kau berjanji akan melakukannya?”

Taeng melepaskan pelukannya dan menatap mata Tiffany dalam-dalam. Ia membelai pipi gadis itu.

“Aku berjanji.”

Taeng mengikat janjinya dengan ciuman.

+++

Taeng terbangun di samping Tiffany. Ia ingat membawa gadis itu pulang namun tidak diperbolehkan pergi oleh Tiffany. Itulah sebabnya Taeng terbangun dengan masih mengenakan tuksedonya. Taeng memandangi wajah cantik di sebelahnya.

“Aku sangat peduli padamu. Aku tahu apa yang kulakukan nanti akan sangat menyakitimu tapi kumohon mushroom, kumohon jadilah gadis yang kuat, gadis yang kucintai.”

Taeng membelai rambut Tiffany sebelum perlahan menarik lengannya. Ia berdiri dan memandang gadis itu untuk yang terakhir kalinya.

“Selamat tinggal, Miyoung.”

+++

“TIDAK! KAU BOHONG PADAKU, SOO! TAENG TIDAK AKAN PERNAH PERGI DENGAN CARA SEPERTI ITU!”

Sunny berusaha menenangkan Tiffany namun gadis itu menjauh dari mereka. Sooyoung telah menelepon Yul dan Jessica untuk segera datang.

“Taeng tidak akan pernah pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku!”

Sooyoung menggertakkkan giginya.

FLASHBACK..

Taeng, Yul, dan Sooyoung bertemu di sebuah kafe di pusat kota. Undangan Taeng yang tiba-tiba membuat Yul dan Sooyoung bertanya-tanya.

“Aku akan pergi dengan keluargaku di hari setelah prom nanti.”

Sooyoung menatapnya terkejut sementara Yul menggelengkan kepala.

“Kau tidak memberitahu Tiffany?”

Pertanyaan Yul membuat Taeng merasa bersalah. Ia mengangguk. Sooyoung menatapnya dengan tatapan tajam.

“Kau akan pergi dan kau tidak ingin Tiffany tahu? KAU BENAR-BENAR GILA!”

Taeng tidak bisa mengendalikan suaranya lagi.

“AKU TIDAK BISA MEMBERITAHUNYA! AKU TIDAK MENGKHAWATIRKAN DIA! AKU MENGKHAWATIRKAN DIRIKU SENDIRI! Aku tidak bisa melihat dia mengantar kepergianku! Aku tidak sekuat itu.”

Yul menenangkan Sooyoung dan menatap Taeng.

“Taeng. Kau tidak bisa menyembunyikan ini selamanya.”

“Aku bisa menyembunyikannya. Aku hanya ingin kalian berdua berhati-hati dengan berita ini. Yul, setelah aku pergi, bisakah kau membantuku?”

Yul mengangguk sementara Sooyoung masih berusaha mencerna semua yang didengarnya hari ini.

“Bantu aku untuk memberitahukan betapa aku sangat mencintainya.”

END OF FLASHBACK..

Tiffany menangis habis-habisan. Bahkan keluarganya tidak bisa menghentikannya. Yul dan Jessica datang. Mereka berdua mencoba mendekati Tiffany. Setelah meronta-ronta, Jessica berhasil memeluknya dan Tiffany menangis dipelukannya.

“Jess. Dia pergi. Dia meninggalkanku.”

Jessica mengusap-usap punggungnya; berusaha menenangkan gadis itu. Yul memandangi Tiffany dan menepuk pundaknya.

“Taeng menyuruhku memberitahumu kalau dia sangat mencintaimu dan dia ingin kau mewujudkan impianmu. Di manapun dia berada, dia akan selalau mencintaimu dan hanya akan mencintaimu.”

Hati Tiffany terasa sakit. Ia tidak bisa menerimanya namun ia juga tidak bisa membencinya.

‘Tepati janjimu, Tae. Aku akan menepati janjiku.’

+++

Yuri dan Jessica berada di bandara; mereka tengah menunggu pesawat mereka lepas landas. Keluarga Jung, Kwon, Sooyoung, Sunny dan Tiffany ada di sana juga bersama dengan keluarga Hwang karena hari ini juga merupakan keberangkatan Tiffany ke Amerika.

“Anak laki-lakiku sudah dewasa.”

Yul cemberut kepada ibunya sementara Jessica dan yang lainnya menertawakannya.

“IBU! Aku bukan anak kecil lagi. Aku suami seseorang, ingat?”

Jessica menatapnya dan menyikutnya.

“SEOBANGKU.”

Sooyoung tidak bisa menahan tawanya lagi. Keposesifan Jessica sungguh tak terkendali. Sunny menyela.

“Dan ayah baby Yoona. Aku sungguh akan merindukan dia.”

Sunny mencium pipi baby Yoona. Baby Yoona bergerak di pangkuan Jessica. Sooyoung mengernyitkan dahi.

“Dia benar-benar suka tidur, ya?”

Yul menoleh kepada Sooyoung dan menggelengkan kepala. Tiffany mengulurkan lengannya pada Jessica.

“Bolehkan aku menggendong baby Yoona untuk yang terakhir kali?”

Jessica tersenyum pada Tiffany dan menaruh baby Yoona di lengannya. Tiffany tersenyum pada bayi yang tengah tertidur itu.

“Saat kita bertemu nanti, kau pasti sudah tumbuh lebih besar. Sampai jumpa Yoona.”

Tiffany mengecup keningnya. Jessica menyadari reaksi Tiffany.

“Tiff. Ini tidak akan menjadi yang terakhir kalinya. Aku akan mengunjungimu. Kalau Yul tidak mengizinkan, dia akan melepaskan tali HellSica dan kita tahu seberapa bencinya Yul dengan itu.”

+++

Tiffany sekarang tengah dalam perjalanannya menuju Amerika. Yul dan Jessica menawarkannya untuk pergi bersama mereka namun ia merasa ingin sendiri untuk perjalanannya kali ini. Tiffany memegang sebuah amplop. Ia masih mengingat apa yang Taeng katakan tentang amplop itu. Ia tidak membukanya di hari kelulusan. Ia selalu menyimpannya namun tidak pernah membukanya. Tiffany menghela napas.

‘Haruskan aku membukanya?’

Setelah berpikir-pikir, Tiffany akhirnya memutuskan untuk membukanya. Ia membuka amplop tersebut dan melihat ke dalamnya. Di dalam amplop tersebut, terdapat selembar foto dirinya yang terbelah menjadi dua bagian. Terdapat sebuah kartu yang terlampir di sebelahnya.

 
rainy-day-walk-on-the-wharf-832x41611

Tiffany menahan air matanya dan ketika ia membalik foto itu, ia melihat catatan di belakangnya.

 270299_1658795889729_1832104852_1092289_2688483_n
Catatan: aku membaginya menjadi dua bagian karena setengah dari dirimu adalah milikku dan bukan milik orang lain. Aku akan kembali untuk mengambil setengah yang lainnya. Maafkan aku atas segalanya.

LOVE YOU ALWAYS,

.

Kim Taeng.

Tiffany tersenyum ketika ia membaca catatan itu.

“I LOVE YOU TOO.”

~~~;~~~;~~~

TBC

credit: bluppy @SSF

boiboi~

Advertisements

62 thoughts on “My Valuable Treasure is Your Love [Final Chapter]

  1. yuhu .. masih ada lanjutannya kan thor ..

    hey hey .. itu sica udah lahiran ceritanya ..

    kayanya chapt selanjutnya bkal buat mempersatukan taeny, dan yulsic ngurusin baby yoona 😀

  2. Diatas End dibwah TBC
    Baby yoona kgak tau lahirnya,tau2 udh digendong..hihihi..
    Taeng jhat amir ninggalin fany
    moment romantis yulsic kurang bnyak

    moga ja TBC neh

  3. what?msh tbc? :”(
    Ikut nyesek grgr tae ninggalin fanny,feelnya dapet bgt :”( anaknya yulsic dinamain yoona jga 🙂

  4. Lah ko 3 hrup yg bkin gw bete nongol TBC wkakakakaka jdi ga end ini ap emnk end?
    Wah babynya udh lhir yee psti cute bnget tu
    #ciumbabyyoong haha
    Ykin lah taeny bkal brsatu kembali

  5. Wow…panjang juga chap End-nya
    Akhirnya belum happy ending juga untuk taeny 😂 ? Apakah ada special chapter or epilognya tar ?

  6. lah gw pikir bakalan langsung END ga taunya masih ada TBC
    tapi ga apa2 lah biar endingnya ga ngegantung dimana taeny masih terpisah dan yulsic dan baby yoona ga ada ceritanya
    ditunggu lanjutannya thor

  7. kirain end bneran ternyata msih tbc….
    akhirnya yulsic happy ending dngan yoona baby yg tau2 dah brojol…
    taeny ngenes bnget…smg nextnya taeny bersatu lagi n yulsic nmbah lgi anaknya

  8. aish ini ending belum thour?jangan bikin gue gakaruan ngeliat taeny begni. yulsic soosun udah seneng. kalo msh tbc bagus dah thouh hehe.
    fighting thour

  9. Gk tau ceritanya sih tp seru,
    Itu sica dah ngelahirin,
    Knapa tae ninggalin phany bgitu aj?
    Ini tbc kn bukan end,.
    Brharap tbc ntar next chap baca,

  10. yeayyy yulsic bahagia
    tinggal tunggu taeny nih
    taeng kenapa harus pergi begitu saja sih?
    lanjut thor

  11. yeeeeyy… baby yulsic udah lahir kluarga yg bahagia tp aseeek TBC jd bakalan ada lg cerita tentang kluarga kecil kwon termasuk klanjutan taeny…. ^_^

  12. apa2an nih ktanya final chap tpi msih tbc 😀 . cieeee akhirnya yulsic mkin anget 😀

    thanks thor dh update

  13. Wah akhirnya kelar. Iti sica udh ngelahirin ya? Tae kok ninggalin tanpa pamit sih, kasian fany. Ending nya walau taeny pisah tp ttep dapet thor (y)

  14. Annyeong ……

    Lah kirain bneran end .. ><
    Yul untung nya selamat ,kirain drama lg…
    Smua berbhagia, yulsic dptkan baby yoona ya, tpi kzl s dongek knpa gk di eksekusi (? Sih ..*eh
    Taeny nih msh gntung ya,dtunggu aja next nyah …
    SEMANGAAAAAAAAAAT

  15. Nah lo ko msih tbc??di atas tulisanx final..tp di tungguin deh lnjutanx..msh blm kesampaian taeny bersatu lagi..

  16. woaaa TBC
    ada lanjutannya kah bagus ni cerita
    lanjut thor
    em pikiranku maah taeny moment yg banyak untuk next chap soalnya yulsic kan dah g ada problem lg hehe #songong

  17. Hallo author 😉
    Aku readers baru, baru aja selesai baca semua chap untuk ff ini. Gak bohong ini ff bikin nyesek, masalah dr ceritanya rumit tapi keren, ngebayangin suatu saat bakalan kepisah sm temen2, benar-benar sangat menyedihkan;(
    Selesai sampai disini sajakah? Ini benar-benar sad ending, thor. Tae perginya kyk gitu bikin nyesek banget:(
    Maaf kalo aku baru komen ya thor. Terus berkarya!^^

  18. laaahh bukan final???
    eettdaahh
    ini sadsweet bgt summppeehh
    laah kapan sica lahiran nyaa??
    pdahal mau liat dia ngeden wakakakakak
    klo ada next partt.. buru yaakk weheheeh
    semangaattt

  19. tunggulah tiff taeng akan datang padamu untuk mengambil separuh jiwanya.
    baby yoona suka tidur?. wong mommy nya sleepyhead. wkwkwk

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s