30 September 2020 [Chapter 9]

kalian pasti berharap gak pernah baca chapter ini lol

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

Chapter 9: Tiffany

 

KCON 2014

Eric Nam menyerahkan mic kepada Sunny namun Sunny menolak menerimanya karena ia tidak mau menjawab pertanyaan dengan bahasa Inggrisnya yang pas-pasan atau bahkan dengan bahasa Korea. Ia menoleh ke arah Tiffany berharap gadis itu akan mengambilnya. Seperti biasa dan karena ini adalah tanah kelahirannya, kebahagiaan Tiffany adalah ketika ia berkesempatan untuk berbicara menggunakan bahasa Inggris.

“Kami baru saja menyelesaikan tur Jepang dengan kesembilan member kami.”

Tiffany melirik member-member yang lain dan tersenyum sebelum menolehkan kepalanya ke arah Jessica.

“Beberapa dari kami juga tertarik pada designing…”

Tiffany terdengar bangga ketika ia mengatakan itu. Jessica membalasnya dengan seulas senyum malu-malu. Tiffany lalu kembali menghadap ke kerumunan penonton.

“Sub-unit kami akan kembali. Kami minta dukungan kalian. Kali ini pasti akan lebih baik daripada Twinkle.”

Kerumunan penonton pun kembali bersorak. Eric Nam mengambil mic. Beberapa member melambaikan tangan kepada para penonton sementara member yang lain menunggu MC itu untuk melanjutkan kata-katanya.

~~~;~~~;~~~

28 Oktober 2014

Tiffany melihat-lihat playlist-nya. Ia adalah penggemar berat Taylor Swift. Ia merasa puas setelah akhirnya mendapatkan full album Taylor dan sudah memutar lagunya sejak tadi pagi. Bahkan kegembiraan gadis itu dirasa Taeyeon sedikit berlebihan.

“Pany-ah. Dari tadi kau terus-terusan mendengarkan album itu. Aku bahkan bisa mengingat liriknya sekarang.”

“Shhh…”

Tiffany menyuruh Taeyeon menutup mulutnya. Taeyeon memutar bola matanya dan mengambil remote TV. Ia menyalakan TV tersebut dan mengubahnya ke saluran kesukaannya. Bagaimanapun juga ia akan menghadiri Style Icon Award nanti jadi mengapa tidak menghabiskan sedikit waktu bermalas-malas di sofa sambil menonton saluran favoritnya?

“TaeTae?”

“Hrmm?”

“Dengarkan ini.”

All You had To do Was Stay

Taeyeon mengembalikan ponsel Tiffany dan raut wajahnya datar. Tiffany menghela napas.

“Bukankah lagu ini cocok dengan situasi kita saat ini?”

“Aku tidak mau membahasnya.”

Nada suara Taeyeon terdengar tegas. Tiffany tahu betapa terlukanya Taeyeon. 2 hari lagi, tepat satu bulan sejak Jessica bukan lagi member SNSD. Untuk beberapa alasan, Tiffany merasa lagu itu ditujukan kepada mereka. Mereka ingin Jessica tetap bersama mereka tetapi kekacauan yang disebabkan Jessica terlalu berat bagi mereka. Bahkan lebih dari sekadar beban.

“Dia mengacaukannya.”

Tiffany memandang Taeyeon yang masih memusatkan perhatiannya ke TV. Ia tahu apa yang Taeyeon maksud.

“Aku ingin percaya padanya. Tapi rasanya sulit.”

“Aku melihat foto-fotonya di bandara. Dia terlihat kesepian. SONES mengedit beberapa foto dan menambahkan gambar kita di sampingnya.”

“Dia sudah membuat keputusannya, Fany. Dia sudah melanjutkan hidupnya. Kurasa sekarang saatnya kita melakukan hal yang sama.”

Taeyeon benar dan Tiffany menyadarinya. Jessica terlihat baik-baik saja tetapi member yang lain menderita akibat reaksi yang tidak menyenangkan dari orang-orang di luar sana. Sementara Jessica sendiri, 8 member lain harus menghadapi cacian dunia hanya karena mereka tidak mengatakan apa-apa.

“Apa kita tidak boleh memberikan penjelasan kita sendiri juga Tae? Kita bisa membereskan masalah ini.”

Taeyeon mengembungkan pipi dan mematikan TV. Ia menaruh remote dan berbalik menghadap Tiffany.

“Haruskah T-manager? Haruskah kita pergi online dan menghancurkan dia seperti dia menghancurkan kita? Aku tidak yakin kau sanggup melakukannya. Dia adalah sahabatmu.”

“Tapi dia melakukan itu kepada kita.”

“Dia sedang marah dan emosi. Dan juga aku tidak keberatan jika dia berpura-pura sebagai korban. Kita sudah berjanji untuk melindungi dia untuk yang terakhir kalinya. Kau sendiri yang menyarankan itu.”

“Hal-hal yang kita lakukan untuk diri kita masing-masing. Aku bangga dengan kekompakan grup kita.”

“Aku juga Fany.”

Taeyeon tersenyum lemah dan beranjak dari sofa.

“Aku ingin beristirahat sebentar. Jangan sering-sering mendengarkan lagu itu jika lagu itu mengingatkanmu padanya.”

Tiffany menarik ujung baju Taeyeon.

“Tae?”

“Ya?”

“Jika suatu hari nanti dia kembali, akankah kau menerimanya?”

“Bagaimana denganmu?”

“Seperti yang kau bilang dia mengacaukan semuanya. Kita sudah melindungi dia dari awal. Dia tidak memerlukan kita. Dia lebih percaya kepada laki-laki itu daripada kita, sahabatnya sendiri. Dia mencampakkan kita. Tapi aku tidak bisa membenci atau mencampakkan dia. Aku sangat mencintainya hingga rasanya menyakitkan.”

Taeyeon melihat mata Tiffany berkaca-kaca. Tiffany dan Jessica sudah seperti saudara. Kau tidak bisa memisahkan mereka. Cinta dan kebencian yang mereka miliki adalah alasan mengapa mereka bisa berteman dalam waktu yang lama. Rasanya gila mengetahui bagaimana seseorang bisa dengan mudah mengubah persahabatan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun.

Taeyeon berlutut dan menarik Tiffany ke dalam pelukannya membiarkan gadis riang itu menggunakan bahunya untuk menangis. Menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan, Taeyeon memberikan jawaban padanya.

“Sekarang aku memang membencinya tapi aku akan mencintai dia selamanya.”

~~~;~~~;~~~

“T-Tyler?”

“Hai princess.”

Tyler mendekat dan mengecup bibirnya sebelum menarik seikat mawar merah dari balik badannya. Ia memberikan bunga itu pada Jessica. Jessica tidak merespon sehingga Tyler memegang bunga itu dan menarik tangan Jessica.

“Kau tidak akan mengundangku masuk?”

“Ma-masuk?”

Tyler terkekeh melihat reaksi lambat Jessica. Berpacaran dengannya, ia tahu bagaimana sifat Jessica yang terkadang butuh waktu untuk merespon. Daripada menunggunya, ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke dalam. Mata Jessica terbelalak kaget namun ia terlambat karena Tyler dan dirinya sudah berada di dalam. Tyler menutup pintu di belakangnya.

“Kenapa kau terlihat sangat terkejut sayang?”

Jessica menelan ludah dengan panik. Bagaimana cara menjelaskan semua ini?

“Ty, bisakah kita pergi keluar?”

“Kenapa?”

“Sarapan di luar?”

Tyler tersenyum lebar dan melangkah masuk. Untungnya kamar hotel ini adalah kamar mewah di mana kamar tidur dan ruang duduk berada di 2 ruangan berbeda. Tyler duduk di sofa dan menyalakan TV. Ia menepuk ruang di sampingnya.

“Kemarilah. Aku sangat merindukanmu.”

Jessica merasa ragu. Ia cepat-cepat pergi ke dapur dan menemukan mesin pembuat kopi. Ia tidak tahu bagaimana cara menggunakan benda itu tapi tampaknya mempelajarinya sekarang adalah ide yang baik.

Tyler melihat sepasang sneaker di samping sepatu flat Jessica.

“Kau beli sneaker baru?”

“Huh?”

“Itu. Kau beli sneaker baru?”

Jessica memandang ke arah yang ditunjukkan Tyler dan melihat apa yang dimaksudnya. Itu sneaker milik Yuri. Ia segera mengangguk berharap Tyler tidak bertanya lagi. Tyler hanya mengangguk seolah-olah itu bukan apa-apa sementara Jessica tetap berusaha sebaik mungkin mempelajari kopi mixer tadi. Ia bersyukur karena dirinya adalah orang yang lambat dalam hal-hal seperti ini. Ini memberinya waktu untuk merencanakan cara mengusir Tyler. Tetapi sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya mengejutkannya. Ia hampir berteriak namun mengingat kalau Yuri masih tidur, ia menggigit bibirnya. Tyler mengusap-usapkan hidungnya di leher Jessica, sepenuhnya tenggelam dalam aroma tubuhnya.

“Bagaimana mungkin kau tetap wangi bahkan saat kau baru bangun tidur?”

“Ty, jangan sekarang.”

“Kenapa? Aku merindukanmu. Kau tidak merindukanku?”

Sejujurnya, tidak, ia tidak merindukan laki-laki ini.

Tyler menciumi leher Jessica. Jessica mendesah pelan. Dibutuhkan seluruh kekuatan dalam dirinya untuk tidak mengalah pada sentuhan Tyler. Ia meraih tangan Tyler di pinggangnya dan melepaskannya. Tyler memandangnya dengan bingung.

“Kenapa?”

Jessica mundur beberapa langkah.

“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit lelah.”

Tyler tersenyum nakal dan berjalan menghampiri Jessica. Ia kembali merangkul pinggang Jessica.

“Lelah kenapa? Kau tidak ada jadwal kemarin.”

Ia menyelipkan tangannya ke dalam baju Jessica, mengusap-usap sisi pinggangnya. Jessica memegang tangan itu dan menghentikannya.

“Kumohon? Akhir-akhir ini aku merasa lelah.”

“Jess, selama berminggu-minggu ini kita tidak bertemu. Aku sungguh merindukanmu.”

“Aku tahu tapi kumohon?”

Tyler menghela napas dan menarik diri. Ekspresi kekecewaan terlihat di wajahnya dan itu membuat Jessica merasa bersalah. Tyler membiarkan Jessica berdiri di sana dan kembali ke sofa. Jessica membenci dirinya karena ia terjebak di antara cinta segitiga ini. Ia berjalan menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Maaf.”

Ia mendengar laki-laki itu menghela napas lagi.

“Tidak apa-apa. Kau sedang tidak mood. Aku mengerti.”

Jessica membenci nada suara itu. Tyler tidak baik-baik saja dan dia tidak mengerti. Dia hanya mengatakan itu untuk membuatnya semakin merasa bersalah.

“Ayolah Ty. Aku selalu sabar denganmu. Bisakah kau melakukan hal yang sama?”

Pernyataan itu menarik perhatian Tyler.

“Salahkah aku kalau aku meminta ciuman dari pacarku? Salah?”

Mereka kembali berdebat. Jessica merasa terjebak setiap kali Tyler memberikan jawaban seperti itu seolah-olah dirinya yang bersalah. Melihat Jessica tidak menjawab, dengan lembut Tyler memegang tangannya dan menciumnya.

“Aku hanya ingin bersamamu. Aku merindukanmu. Beberapa minggu terakhir ini kau selalu sibuk.”

Melihat gadis itu tidak menjawab, ia perlahan menangkup sisi wajah Jessica dan menariknya lebih dekat. Meronta-ronta di saat seperti ini dirasa Jessica sia-sia. Tyler menginginkan ciuman maka dia akan mendapatkannya jika itu berarti dia akan segera pergi. Mereka saling berciuman dengan Tyler yang perlahan membaringkannya di sofa.

~~~;~~~;~~~

Yuri merasakan sesuatu yang basah di pipinya. Ia mengelapnya dengan ibu jari dan melihat setetes air jernih. Itu adalah air matanya sendiri. Ia sudah berdiri cukup lama di sana, mendengarkan sekaligus melihat mereka berdua.

“Kau mematahkan hatiku lagi.”

Yuri tersenyum sedih. Apa yang dipikirkannya ketika ia mengira bahwa ia bisa memilikinya? Pada akhirnya, ia bukan siapa-siapa. Yuri menutup matanya sejenak berharap pemandangan di depannya tidaklah nyata namun setelah ia membuka matanya, Tyler masih menciumi Jessica seolah-olah memberitahunya bahwa dia akan selalu bisa mendapatkan Jessica kembali.

Sejak kedatangannya di L.A, Yuri bukan lagi si tukang tidur. Setiap gerakan dan suara bisa dengan mudah membangunkannya. Kedatangan Tyler telah membangunkannya.

Ia mengambil jaketnya dan mengeluarkan ponselnya.

Sunny, rasanya menyakitkan.

Ia menahan teriakan kesakitannya dan mencengkeram dadanya. Rasa sakit itu tak tertahankan. Yuri tidak bisa diam di sini lebih lama lagi. Ia membenci dirinya karena membiarkan Jessica kembali ke dalam kehidupannya. Ia membenci dirinya karena memberikan kesempatan untuk kembali mencintainya. Ia membenci dirinya atas apa yang dilakukan Jessica padanya. Apakah kejadian tadi malam tidak berarti apa-apa bagi Jessica?

Yuri membuka jendela dan melihat ke bawah. Kamar mereka berada di lantai 34.

Ia tidak bisa menahannya lagi. Yuri memanjat jendela dan berpegangan ke kedua bilahnya. Melihat ke bawah, jatuhnya ia dari sini akan berarti mati seketika. Ia menoleh ke sampingnya dan melihat jendela kamar sebelah terbuka. Dengan hati-hati ia turun dengan masih berpegangan pada bilah jendela tersebut. Ia berpegangan pada pipa dan bergeser di sepanjang langkan. Dengan kekuatannya, ia berhasil berpegangan pada jendela di sebelah jendela tadi.

Memanjat masuk, ia tidak menyangka dirinya berhasil melakukan hal gila seperti itu.

“Nona?”

Dengan air mata yang masih terlihat jelas di pipinya, Yuri mengangkat kepalanya dan melihat tukang bersih-bersih di rumah itu memandangnya bingung. Ia menyeka air matanya yang tersisa dan berdiri.

“Maaf. Saya sedang melarikan diri.”

“Oh.”

“Maaf. Saya akan pergi sekarang.”

Yuri tidak repot-repot mendengarkan jawabannya dan meninggalkan kamar itu dengan langkah terburu-buru. Ia tidak tahu ke mana arah tujuannya namun kakinya terus melangkah. Ia meninggalkan mobilnya di pelataran parkir hotel. Ia bergantung pada ke mana kakinya akan membawanya. Satu hal yang pasti, ia ingin pergi jauh dari sini.

~~~;~~~;~~~

Sunny, Sooyoung, Hyoyeon dan Yoona melangkah keluar dari bandara dengan tubuh yang terasa sedikit pegal. Perjalanan itu sangat melelahkan tetapi untungnya mereka bisa tidur dengan nyenyak. Sooyoung mengeluarkan ponselnya dan menghidupkannya. Ia menelepon Taeyeon.

“Halo?”

“TAENGOO! KAMI SUDAH SAMPAI!”

“Benarkah?”

Sooyung tersenyum lebar.

“Ya dengan Sunkyu, Hyo dan Yoona. Kau akan menjemputku atau kami saja yang pergi ke rumah Tiffany?”

“Aku akan menjemput kalian bersama Fany. Ju Hyun juga akan segera tiba. Coba cari dia di sana, oke? Sampai jumpa 20 menit lagi.”

“Oke! Dah Taengoo!”

Sunny menghidupkan ponselnya dan ada pesan masuk. Pesan teks dari nomor tak dikenal. Ia tidak mengenali nomor tersebut. Itu bukan nomor Korea juga. Sunny membuka pesannya.

Sunny, rasanya menyakitkan.

Matanya terbelalak. Ia menelepon nomor itu dengan panik. Dering pertama, kedua dan akhirnya terhubung.

“Yul?”

“….”

“Yuri, kau di mana? Beritahu aku!”

Nama itu menarik perhatian yang lain. Sooyoung menanyakan siapa itu dan Sunny membisikkan ‘Yuri’. Hyoyeon mencoba mengambil ponsel Sunny namun Yoona menghentikannya dan menyuruhnya untuk membiarkan Sunny berbicara.

“Yuri-ah. Beritahu aku di mana kau?”

“Rasanya menyakitkan Sunny. Rasanya sakit sekali.”

“Yuri tetap di sana! Beritahu aku di mana kau dan aku akan ke sana!”

“Kenapa dia harus menyakitiku…”

“Kwon Yuri!”

Panggilan berakhir. Sunny kembali meneleponnya tetapi kali ini, ia tidak bisa menghubunginya. Hyoyeon mengambil ponsel tersebut dan mencoba meneleponnya.

“Sial! Di mana dia, Sunny? Kenapa kau berteriak padanya?!”

“Dia bilang sakit. Dia terdengar sangat kesakitan. Dia sama sekali tidak terdengar baik-baik saja.”

Sooyoung kembali menelepon Taeyeon.

“Bisakah kau menunggu Soo?”

“Yuri menelepon Sunny dan memberitahu kami kalau dia kesakitan!”

“Apa? Kau bercanda ‘kan?”

Yoona meraih ponsel itu dari Sooyoung. Ia menghidupkan loudspeaker.

“Unni, Yuri unni terdengar kesakitan! Di mana dia?!”

“Dia kesakitan? Tidak mungkin.”

Sunny sudah mulai jengkel.

“Dia kesakitan! Di mana dia?!”

Taeyeon hampir melemparkan ponselnya karena teriakan Sunny. Tiffany berhasil memegang ponselnya dan angkat bicara.

“Dia bersama Jessica di hotelnya.”

Hyoyeon melihat ekspresi bingungnya sendiri di wajah yang lain.

“Jessica?”

“Ceritanya panjang tapi dia sedang bersama Jessica. Aku yakin. Tunggu biar aku meneleponnya.”

~~~;~~~;~~~

Jessica merasakan tangan Tyler yang masuk ke dalam pakaiannya. Ia lalu menyadari kalau ini sudah tidak benar. Ia mendorong Tyler perlahan.

“Tolong hargai keputusanku Ty.”

“Uh, oke. Aku mau ke kamar mandi.”

Tyler kembali mengancingkan kaos Jessica dan dengan langkah biasa berjalan ke kamar mandi. Jessica menenangkan napasnya yang terengah-engah. Dering yang tak asing dari ponselnya mengejutkannya. Ia memandang sekelilingnya dan melihat ponselnya di atas meja. Ia mengangkat teleponnya mengetahui kalau itu dari Tiffany.

“Hei Fany. Ada apa?”

“Yuri sedang bersamamu?”

Jessica segera mengintip ke arah kamar mandi dan setelah memastikan kalau Tyler masih ada di dalam, ia berbisik pelan-pelan.

“Ya, dia sedang tidur. Kenapa?”

Jessica mendengar suara berisik dari ujung sana.

“Bisakah kau memeriksanya untukku?”

“Kenapa?”

“Tolong periksa saja.”

Jessica memutar bola matanya dan berdiri. Ia pergi ke kamar tidurnya dan melihat ke dalam hanya untuk dikejutkan dengan ranjang yang kosong dan jendela terbuka.

“T-Tidak mungkin…”

“Jess, bagaimana?”

“Dia…dia tidak ada di sini…”

“APA?!”

~~~;~~~;~~~

Yuri melihat orang-orang yang berlalu-lalang baik jogging maupun berjalan-jalan santai. Ia terlihat sangat konyol duduk di sini dengan mata sembab dan pakaian berantakan. Siapa yang peduli? Ia patah hati lagi.

“Kau tahu unni, kau sering melarikan diri.”

Yuri mendongak dan melihat Seohyun berdiri di hadapannya sambil tersenyum.

“J-Juhyun?”

“Aku melihatmu ketika aku sedang naik taksi. Aku mengikutimu ke sini.”

Melihat sang maknae, Yuri kembali menangis. Seohyun merangkul gadis yang lebih tua itu dan menariknya lebih dekat.

“Rasanya sakit, JuHyun.”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi kau selalu bisa menangis di bahuku. Tidak apa-apa.”

~~~;~~~;~~~

TBC

sorry banget gue baru update lagi. gue lagi sibuk banget haha you have no idea.

 

boiboi~

credit: bluppy @AFF

Advertisements

103 thoughts on “30 September 2020 [Chapter 9]

  1. huftt, menyakitkan. boleh ga sih bantai tuh si laler. hellaaaaah..
    untung ada seohyun kalo ga ada pasti kacau balao banget yuri nya, dan untuk jess gua yakin dia pilih kwon, kwon yuri, seobang yang ia palig cintai ^_^

    lanjooot terus tar, lanjooooot..

  2. Haha sneng gw bcax,sica emg gak prnh nolak ma kwon entah itu yul ato ty wkwkwk,yah q lgi suka drama2 mnyakit bin menyedihkn:-P

  3. Gue yg baca aja sakit sama nangis apalagi si yul😭😢
    Author kok Dhanshin sih.. Yg jangkun kaya sooyoung dong chapternya.

  4. Huaaaaaaa….rasanya pngn makan tu manusia botak… aslinya gak tau ini salah siapa.. tpi benci aja klok tu botak di deket sica.. gak rela klok yul sakit hati.. dan hancur…

  5. Heloo tar, long time no see hhaha. Kasian amat itu yul, apa msh bisa stelah ini dia baikan lg sama sica? Smoga member lain bisa bikin dia ngerasa lebih baik

  6. Tuh kan yul nangis 😭😭 gw kira yul tdi mau lompat, trnyta pngen trun aja 😵
    Sica knpa gak nolak sih, tampar aja si tiler dan bilang putus 😤

    Hebat yah author kita, bnyak yg baper krn bca fanfic ini ☝….
    Di tnggu chap slanjtnya 👌

  7. sakit dulu baru ngerasain bahagiia. sabar yul.. mungkin kedepannya akan bahagia.
    tapi kenapa jessica gajujur aja waktu yuri ngungkapin. rumit kan jadinya

  8. yaa alloh yul kasian banget dah ah yg sabar yaa kwon seobang nanti juga ada saat nya kau akan bahagia dengan jessica dan aduuuhh males banget dah gw klo denger nama tyler, gimana tuh rasa nya jessica tau yul kabur lg gara2 dy emg tyler nih masalah nya huhh
    untungnya seohyun nemuin yuri tuh yaa

  9. haaaa…lega rasa’a ada seohyun dsaat yuri “hancur lagi”#hanyut dalam ff
    kok gue rasa’a pengen bejek-bejek si tyjess ya -_-
    upaya yuri kabur nyeremin juga ih,untung kaga terjun bebas dia hufftttt…jadi pertemuan mereka apa bisa terjadi?

  10. Eaaaaa drama sakit menyakiti mulai wkwkwkkw, saya suka saya suka ahahaha. Ff ini khusus yulsic ya thor? Yuri bikin semua orang bingung aja ya ampun ahahaha. Ah aturan jangan ketemu seo dulu wkwkwkw.

  11. kasian yul, ikutan nangis baca nya, rasanya kalo udh kyk gini pengen yul
    ninggalin sica aja, ga suka sm sikap sica yg kurang tegas dlm mengambil keputusan

  12. Ahhh gila thorrr sebel banget ama tylerrrr
    Kasiam yurinya, jadi baper juga nih udh gitu lu tbcnya cepet nongolnya lama, udah penasaran banget thor:( semoga cepet baik baik lagi semuanya. Semangat terus ya thor! 🙂

  13. aaaaaaaaaakhhh kesel2!!! kesian yuri…….. tarra…
    jessica kok gitu sih!
    dasar laler si muka sempak!
    bikin gw sedih sekaligus kesel baca chap ini >< sabar ya yul….T_T

  14. Tbc nya 😢ga tepat,
    Gua nyesek baca chap ini.. unniee Yul sabarr yaak 😭
    Panjangin lg thor hihi dsn cepet update ya gomawo sudah update 😊

  15. iihhhhh kamvrertt kamvrett kamvrett!! kenpa sica mesti bohong sma yurii huwahh. kasian yuri sumppahh. kenapa d saat semua mmber mau ketemu, yulsic malah kena badaii huhuhuu seddih guweeh:((( . aseekk yuri ketemu seohyunn. ohh myy baperr guweehh

  16. Thoooorrr… Lu ilang berabad-abad dan nongol dg cerita seperti ini?? Maygawd -_- Tapi thanks udh update 😀 .. Beteweh.. Ada yg jual golok?? Pengin gw cincang tuh jidat golf -___-

  17. Sedih gini nasip Yul. Sicaaaa!!! Jahara bangeeettt

    Wow akhirnya kumpul ditempat yg sama. GG!!! Walau belum ketemu tapi sedikit lagi yeay

    Tyler bikin emosin duh sica digrepe gitu hmmm pantes yul sakit 😦

    Aaaaa gk boleh digrepe sama yg lain wakakka sama yul aja sica bolehnyaaa 😁

  18. authorx ngilangx lama banget..tapi dgan cerita yang bikin aq nyesek bacax..jessi ngapain jg pake bohong sama yul..akhirx yul sakit lagi..

  19. Aduh, lama nunggu eh ternyata part ini bikin nyesek. Pendek pula. Update soon ya tarra. Penasaran banget sih baca klanjutannya…

  20. itu menjijikan -_- sensor itu adegan TK…
    huwek…

    omg. knp harus yuri lagi 😥 kasian… tpi untung ada maknae dewasa kita

    sampe netesin air mata… pas yuri nangis ngeliat ITU di hotel

  21. elllaah thor baru dipostt kangen tau sekalinya post dikit doang malah nanggung lagiii sebell deh guee thor guee ganti Yang dulu Ehaa skrng jejewijayaa okee:D

  22. baca part ini sambil dngerin lagu exo – hurt + ambil tisu satu box, pass banget :3 you hurt’s me so bad so badT____T bikin gue pengen asah golok ajee ngapa ada adegan “itu” bareng si laler cobaa -____- jessica juga sihh pake bohong segala hih bikin betek tek tek tek -,- yuriii!!!!! *peluk, senderin kepalanya kebahu gue* *sambil usap-usap kepalanya* ;_____;

  23. gue jg sakit bgt yul T.T sumpret gue ikut sakit bacanya
    aduh beneran dah ini ff baper bgt..
    jess ko tega sih?
    assyeem jadinya bayangin beneran sica laler cem gitu

  24. Nyeseeeeeeeekkkk pas baca bagian yul tau jessica begitu, nyesek pas tau kalo ini kependekan thorrrr;( ahhhh sibuk ya thor? Pantesan updatenya lama. Yaudahhhhh, Fighting ya thorrr!’-‘)9

  25. aigo yulll…. ngenes ngenes… nasib mu… nasibmu…. terlalu mudah pataj hati ;D… nyeseg ajh baca ff ini… huuuu yul… peluk yull

  26. OMG!!!! patah lagi hatinya yuri….gwe ykin sica akan sulit bt nyembuhin ht yuri….
    kasian yuri n slamat berjuang dech sica….:p

  27. waduh waduh yg kyk gni nih yg bikn miris, kasian yuri pdhal dia udh seneng bngt krn udh bs ktemu sm sica lg
    tuh si teler emng mnta di cincang aja, biar gak gangguin yulsic
    nah kn gmn tuh ntr sica jelasin ke yuri soal si teler?

  28. Yuull itu pasti sakit rasanyaaa ada tamu yang gak diundang dateng tiba tiba
    Sabarr yaa yull seobang

    Lanjutt thorr biar gak terlalu greget hehehe

  29. Skiiippppp,,…
    Prtanyaan nya adalah, siapa yg salah disini sebenarnya?
    Yul yg sabar, semuanya indah pd

    Hal gk akan prnah kalau terus trsakiti, wkwk,,..

  30. Kenapa yul yang selalu sakit hati..kenapa njess masih pertahanin tailer??kenapa njess..aq bingung ama sikap njess….😢😢😢

  31. Buset dah thoor lu kejam banget sama Yuri ..

    Haha .. untung tu kamar kosong dan hanya ada petugas kebersihan , bisa2 nya Yuri nekat keluar dari jendela lt.34

    Kirain Yuri bakal hilang lg .. untung magnae nemuin :v

  32. huh. lagi lagi tersakiti. seperti nya belum waktunya untuk yuri bahagia. baru aja melayang ke langit ke tujuh udah jatuh terhempas ke dasar jurang lagi, appo neomu appo.

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s