9 Months [Chapter 1]

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

Chapter 1

 

Jessica menunggu dengan panik. Ia merasa tidak enak badan selama beberapa hari terakhir ini dan pagi tadi, ia muntah beberapa kali. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau ia mungkin sedang sakit. Pada awalnya itu adalah satu alasan yang bisa dipikirkannya untuk mengalihkan pikirannya tapi ketika ia lagi-lagi muntah untuk yang ketiga kalinya di sekolah, ia tahu ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Jessica mengambil kotak itu dan kembali membaca instruksinya.

Hasil instan dalam 5 menit.

Ia mendesah dan kembali melirik jam tangannya. 30 detik lagi. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, menenangkan jantugnya yang berdegup kencang.

“Oke.”

Jessica mengambil alat di tangannya dan melihatnya. Matanya terbelalak.

“Ini tidak mungkin…tidak…mungkin…”

Ia menutup matanya dan membukanya lagi berharap ini adalah mimpi buruk. Tapi tidak. Terdapat dua garis merah di alat tersebut. Ia mengambil kotaknya lagi dan membaca kalimat selanjutnya dari kata-kata tadi.

“Kemunculan dua garis di daerah C dan T menyatakan hasil POSITIF.”

Jessica merasa ingin pingsan. Ia merasa seolah-olah dunianya hancur. Ia merasa bahwa takdir membencinya. Ia tidak mungkin hamil. Demi tuhan, ia tidak mungkin hamil! Tangannya gemetar ketakutan. Ia menjatuhkan alat tes kehamilan itu. Dengan perlahan alat itu jatuh ke lantai.

“A-aku tidak bisa…tidak…”

Ia tidak sanggup menghadapi orang-orang dengan perutnya yang membesar. Apa yang akan dikatakan keluarganya? Apa yang akan dilakukan ayahnya? Apa yang akan dilakukan pacarnya? Pacarnya. Ya, dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Jessica lekas mencari ponselnya. Setelah ia menemukannya, ia menelusuri daftar kontaknya dan memanggil nomor pacarnya.

“Hai sayang.”

“Tyler…aku harus…menemuimu.”

“Hei, kau tidak apa? Kau terdengar berbeda. Apakah semuanya baik-baik saja?”

“Bisakah aku menemuimu sekarang? Kumohon?”

“Oke. Aku akan menjemputmu sekarang oke?”

Jessica tidak menjawabnya dan mengakhiri panggilan. Dari reaksi laki-laki itu tadi, dia terdengar mencemaskannya. Itu tanda yang baik ‘kan? Ya, ia harus mempercayainya. Dia tidak akan meninggalkannya. Dia mencintainya. Dia akan bertanggung jawab. Tyler yang ia cintai tidak akan pernah menyakitinya. Perlahan, ia menaruh telapak tangannya di perutnya. Ia tahu Tyler akan mendampinginya di saat-saat sulit seperti ini.

“Dia akan ikut bahagia, bukan begitu baby?”

Seulas senyum tipis terbentuk di bibirnya.

~~~;~~~;~~~

“A-apa?”

“Aku hamil.”

Tyler mundur dua langkah seolah-olah Jessica menyebarkan virus padanya. Raut wajah laki-laki itu menggambarkan semuanya. Saat itu mereka berada di taman, Jessica memintanya untuk membawanya ke sana. Taman itu adalah tempat di mana mereka pertama kali bertemu.

“Be-berapa lama?”

Jessica menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu. Tapi ia tidak kunjung datang bulan dan alat tes tadi meyakinkannya kalau ia benar-benar hamil. Wajah Tyler memucat.

“Aku memeriksanya dengan alat tes kehamilan yang aku beli. Positif. Mungkin aku memang hamil.”

Tyler menelan ludah dengan susah payah. Ini tidak mungkin terjadi.

“Tyler…kurasa kita harus-”

“Aku tidak bisa memiliki bayi itu.”

“Apa?”

“Kita masih sangat muda. Aku tidak bisa punya bayi sekarang.”

Jessica tidak mempercayainya. Ia merasa seolah-olah semua beban tadi kembali menimpanya. Ia berpikir bahwa Tyler akan bertanggung jawab. Tuhan, ia salah. Merasakan air matanya mulai menggenang di mata, Jessica melihat Tyler menggeleng-gelengkan kepala dan mundur selangkah.

“Ini baru beberapa minggu ‘kan? Kita bisa mengaborsinya. Aku tahu dokter yang bisa membantu kita.”

Aborsi? Jessica tidak bisa mendengar apa-apa darinya. Pikirannya dibanjiri dengan ide aborsi. Ia berbuat salah dan begitu juga dengan Tyler. Kenapa ia harus membunuh nyawa yang tidak berdosa? Kesadarannya kembali ketika ia merasakan Tyler memegang tangannya dan tersenyum padanya.

“Kita aborsi oke? Aku akan mengatur semuanya.”

Jessica menatapnya. Siapa laki-laki ini? Ia merasa seolah-olah tidak begitu mengenalnya. Perlahan menarik tangannya, Jessica menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak akan melakukannya.”

Ia melihat raut wajah laki-laki itu berubah marah. Ia tidak akan melakukannya.

“Jess, apa kau gila?! Kita masih sangat muda! Aku tidak bisa punya bayi sekarang. Keluargaku dan keluargamu akan malu dengan apa yang terjadi! Aku tidak bisa merusak nama baik keluargaku!”

“Jadi menurutmu tidak apa-apa membunuh bayi ini?”

Air mata Jessica tumpah keluar. Ia merasa kecewa padanya. Demi nama baik mereka, dia lebih memilih mengorbankan nyawa lain? Tyler sedikit tenang. Ia mencoba memegang tangannya lagi tapi Jessica menghindar. Jessica hanya balas menatapnya dengan air mata yang mengalir semakin deras.

“Sayang, kita baru berusia 20 tahun. Masih banyak yang ingin aku lakukan dan masih banyak yang harus aku kerjakan. Ayahku akan merasa kecewa jika aku merusak nama baik mereka dengan berita ini. Kau juga masih muda. Kita masih belum siap.”

Jessica memintanya untuk bertemu karena ia pikir Tyler akan mengerti. Ia pikir Tyler tidak akan mengecewakannya. Tapi ia salah. Ini bukanlah hasil yang ia harapkan. Bukannya berjuang dengannya, Tyler memilih mundur. Menghapus air matanya dengan lengan baju, Jessica membulatkan tekadnya.

“Aku sangat mencitaimu Tyler. Aku memberikan segalanya padamu. Kurasa itu tidak cukup bagimu.”

Membalikkan badan, Jessica tidak bisa menahan air matanya lagi. Dulu ia bermimpi bahwa suatu hari nanti ia bisa membangun sebuah keluarga bahagia bersamanya. Hari ini, Tyler menghancurkannya. Tyler meraih lengannya, menghentikan langkahnya.

“Aku juga mencintaimu tapi kau harus mengerti. Keluargaku…mereka tidak akan menyetujuinya.”

“Aku ingin putus denganmu. Lepaskan tanganku.”

Tyler berpikir-pikir. Ia tahu inilah saatnya. Jika ia melepaskannya, ia akan kehilangannya. Tapi jika ia tetap bersamanya, nama dan reputasi keluarganya akan hancur. Keluarganya mungkin tidak akan mengakuinya lagi. Ia tidak bisa menerima hal itu.

“Maafkan aku.”

Perlahan Tyler melepaskannya. Jessica merasa hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak bisa menahan rasa sakitnya. Sakit sekali.

“Setidaknya, biar kuantar kau pulang.”

“Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku lagi.”

Dengan itu, Jessica terus berjalan meninggalkan Tyler yang melihat punggung gadis itu semakin menjauh darinya. Kakinya membeku di atas tanah melihat cintanya pergi karena dirinya. Ia ingin berlari dan memeluknya namun resikonya jauh lebih besar.

Ia sungguh tidak bisa.

~~~;~~~;~~~

Daniel Jung duduk menatap mata putri tercintanya dengan sangsi. Ia memberinya apa saja yang dibutuhkan seorang anak. Ketika dokter keluarga mereka memberitahunya bahwa putri pertamanya hamil, ia merasa seolah-olah putrinya baru saja mencabut nyawanya. Ia melihat Jessica yang menatap ke lantai. Putrinya yang tercinta. Putrinya yang ia banggakan. Di samping Jessica, Krystal memegangi tangan kakaknya.

“Apakah Tyler ayahnya?”

Perlahan tapi pasti Jessica mengangguk. Tinju Daniel mengepal.

“Dia harus bertanggung jawab. Di mana dia?”

Jessica perlahan mengangkat kepalanya. Ia melihat ayahnya balas menatapnya dengan ekspresi kecewa.

“Dia tidak menginginkan bayi ini.”

“APA?”

Daniel berdiri dan terlihat geram.

“Ayah, biarkan unnie menjelaskannya dulu.”

“Apa lagi yang harus dijelaskan Soojung? Dia hamil dan ayahnya tidak mau bertanggung jawab!”

Jessica menggigit bibir bawahnya dengan harapan ia tidak akan menangis di depan keluarganya. Kenyataan dirinya menghadapi semua ini seorang diri terasa sakit sekali. Daniel Jung berjalan mondar-mandir. Apa yang akan dikatakan orang-orang mengenai skandal ini? Putrinya mengandung bayi haram?

“Ayah tenanglah. Unnie sudah cukup menderita. Kumohon?”

Melihat Krystal membela kakaknya cukup melunakkan kekerasan hatinya. Menghela napas, ia kembali duduk berharap bisa menyelesaikan masalah ini.

“Dia tidak menginginkan bayinya. Dia menyuruhku untuk…melakukan aborsi…”

“Anak sialan! Berani-beraninya dia?!”

Jessica melihat ayahnya meneriakkan umpatan-umpatan yang tidak jelas pada Tyler. Ketika akhirnya dia tenang, Jessica melanjutkan kata-katanya.

“Aku…aku ingin membesarkan bayi ini…”

Jessica menunggu ayahnya untuk meledakkan amarahnya tapi tidak. Ayahnya terus menatap matanya. Daniel akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri putrinya, ia perlahan menariknya berdiri dan menariknya ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat.

“Ibumu pasti bangga padamu Sooyeon karena kau ingin menjaga nyawa yang tidak berdosa ini.”

Jessica membiarkan ayahnya memeluknya dan ia merangkul sosok yang lebih tua itu.

“Maafkan aku ayah jika aku mengecewakanmu.”

“Shhh…tidak apa-apa sayang. Kau akan baik-baik saja.”

Air mata Jessica mengalir keluar. Ia menangis di pelukan ayahnya. Ia takut jika ayahnya akan marah padanya tapi ternyata tidak. Mengusap-usap kepalanya, Daniel berbicara.

“Jangan menangis Sooyeon. Dia yang rugi.”

Krystal yang menyaksikan mereka sedari tadi, berdiri dan memeluk kedua sosok itu. Ia tahu seberapa besarnya skandal ini akan merusak reputasi dan bisnis ayahnya tapi dia adalah ayah mereka. Dia sudah melindungi mereka sebelumnya dan dia akan melindungi mereka lagi.

“Ayah akan menemui ayah Tyler besok.”

Melepaskan diri, Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak…kami sudah putus ayah. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi.”

Kekhawatiran dan ketakutan akan putrinya sendiri adalah perhatian utamanya. Bisakah dia membesarkan anaknya seorang diri tanpa sosok ayah? Ia sendiri mengalami kesulitan membesarkan kedua putrinya ketika istrinya meninggal saat kedua anaknya masih kecil. Memberikan seulas senyum tipis. Jessica tidak hanya meyakinkan ayahnya tapi juga dirinya sendiri.

“Aku harus melakukannya. Demi keluarga kita.”

Daniel Jung melihat Jessica perlahan menaruh telapak tangannya di perutnya. Ia merasa momen ini sama seperti ketika dulu mendiang istrinya mengandung putri pertamanya. Itu adalah keberkahan.

~~~;~~~;~~~

2 hari kemudian…

Kwon Sang Woo memberikan kunci mobilnya ke salah satu tukang valet dan masuk ke dalam restoran.

“Selamat datang, Pak. Boleh saya bantu carikan tempat duduk?”

“Tidak apa. Aku kemari untuk bertemu teman. Namanya Daniel Jung.”

Gadis itu memeriksa daftar tamunya dan tersenyum.

“Mister Jung sudah tiba di sini. Mari saya antar, Pak.”

“Terima kasih.”

Gadis muda itu mengantarnya ke tempat di mana Daniel duduk. Ketika ia melihatnya, Daniel melambaikan tangan padanya. Ia menertawakan tingkah konyolnya. Ia duduk dan gadis itu pun memanggilkan pelayan. Mencatat pesanan mereka, pelayan dan gadis muda itu pun meninggalkan meja mereka.

“Bagaimana bisnismu kawan?”

Daniel terkekeh.

“Tidak ada ucapan halo kepada teman lama Sang Woo? Oh hatiku sakit.”

“Aku baru saja menanyakannya padamu di telepon tadi malam. Lagipula kau terlalu muda untuk mati Jung.”

Pernyataan itu membuat Daniel dan Sang Woo tertawa bersama. Beberapa saat kemudian pesanan mereka akhirnya datang. Sang Woo memasang serbet makan di kerah bajunya.

“Jadi ada apa? Kau terdengar mendesak saat menelepon.”

Daniel mendesah. Ia berhenti memasang serbetnya dan fokus ke temannya.

“Sang Woo, kau temanku ‘kan?”

Sang Woo menggigit daging di garpunya dan menatap Daniel dengan aneh.

“Kawan, dulu aku melompat dari atap sekolah denganmu. Aku mungkin gila untuk melakukan hal seperti itu jika kau bukan temanku.”

“Ya, dulu kita memang gila. Ayahku memarahiku selama berbulan-bulan.”

“Ayahku juga.”

Daniel menatap Sang Woo dengan seulas senyum di wajahnya. Sang Woo telah menjadi temannya sejak SMA. Mereka sudah seperti saudara kembar. Selalu bersama.

“Ngomong-ngomong, apa yang kau katakan sebelum aku memotong ucapanmu?”

“Jessica.”

“Putrimu? Kenapa dengannya?”

Daniel menarik napas dalam-dalam.

“Dia hamil.”

Mata Sang Woo terbelalak. Ia tidak menduganya. Terakhir kali ia bertemu, Jessica masih kuliah dan belum menikah.

“Sungguh?”

Daniel mengangguk. Ia tidak bisa mempermanis ceritanya. Tapi mengenal Sang Woo, ia tahu dia tidak akan menghakimi.

“Wow. Maksudku selamat?”

“Aku akan merasa bahagia menerima ucapan itu jika ayahnya sadar akan tanggung jawabnya. Sayangnya, dia menolak untuk bertanggung jawab.”

Sang Woo tidak lagi berselera makan. Ia menaruh peralatan makannya.

“Kau melepaskannya?”

“Sooyeon memintaku melepaskannya terlepas apa yang sudah dilakukan dia pada putriku. Bajingan itu.”

“Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang.”

Daniel perlahan mendorong piringnya.

“Sang Woo, Jessica tidak bisa membesarkan anaknya seorang diri. Anak itu membutuhkan sosok ayah.”

“Apa kau…”

Daniel perlahan mengangguk. Sang Woo bersandar di kursinya.

“Dan, kau adalah temanku. Tapi ini bukanlah keputusan yang bisa aku ambil. Aku bisa membantumu apa saja tapi tidak dengan ini.”

“Aku putus asa. Aku tidak peduli lagi dengan reputasiku. Aku hanya mempedulikan dia dan bayinya. Kumohon Sang Woo. Bicaralah padanya.”

Sang Woo mendesah. Ini adalah tugas yang sulit. Tapi pria di hadapannya ini telah banyak membantunya. Berbicara bukan ide buruk ‘kan?

“Oke, aku akan mencobanya. Tapi aku serahkan semua ini padanya. Aku tidak berhak memutuskan apa pun. Jangan terlalu banyak berharap.”

~~~;~~~;~~~

Yuri menggosok-gosok mata lelahnya. Ia sudah memandangi kertas-kertas di depannya sejak ia pulang bekerja. Dengan ayahnya yang pelan-pelan membiarkan ia mengurus perusahaan, pekerjaannya bertambah dua kali lipat. Ia menutup berkas itu dan berdiri meregangkan otot-otot lelahnya. Ia tiba-tiba merasa haus. Ia keluar dari kamarnya dan pergi ke lantai bawah, ia berjalan ke dapur. Mengeluarkan sekaleng minuman bersoda, ia tersenyum.

“Ayah tidak akan meminum itu jika ayah jadi kau.”

Yuri berbalik dan melihat ayahnya berdiri di dekat pintu dapur.

“Hai yah. Apa aku membangunkan ayah?”

“Tidak, tapi kau tidak boleh minum itu larut malam begini. Itu tidak sehat. Ayah akan panggilkan pelayan untuk membuatkanmu kopi.”

Yuri menggelengkan kepalanya dan mengembalikan kaleng itu ke dalam kulkas. Sang Woo menarik kursi meja makan dan duduk sambil menyuruh Yuri melakukan hal serupa. Laki-laki berkulit kecokelatan itu pun mematuhinya dan duduk.

“Ada apa, yah?”

Sang Woo memutuskan untuk memulainya dengan menanyakan beberapa pertanyaan terlebih dahulu.

“Ayah bertemu dengan Daniel Jung tadi.”

“Oh dia kembali dari Amerika? Tapi apa hubungannya denganku?”

Wajah bingung Yuri membuat Sang Woo merasa bersalah. Tapi ia sudah berjanji kepada Daniel untuk membicarakannya dengan Yuri.

“Kau ingat Jessica, Yul?”

“Sedikit. Maksudku keluarganya pindah ketika aku masih kecil. Kenapa?” Inilah saatnya. Berdoa keras, Sang Woo hanya bisa berharap Yuri akan menanggapinya dengan tenang.

“Kau akan menikah dengannya bulan depan.”

“APA?!”

Yuri seketika berdiri memprotes. Ia sama sekali tidak menyukai ide itu.

“Ayah tidak bisa mengatur hidupku seperti ini, yah.”

“Yul tolong dengarkan ayah dulu.”

“Tidak, aku tidak akan mendengarkan apa pun. Aku sudah selesai di sini. Selamat malam.”

Yuri berbalik dan bersiap-siap untuk pergi ketika ayahnya menarik perhatiannya lagi.

“Yul, dengarkan ayah dulu.”

“Tidak, yah! Aku sudah selesai.”

Yuri berlalu namun terhenti ketika ia mendengar kata-kata selanjutnya keluar dari mulut ayahnya.

“Dia hamil dan ayahnya tidak menginginkan bayinya.”

Yuri selalu merasa simpati kepada anak yatim. Ia sendiri kehilangan ibunya ketika dirinya masih sangat kecil. Ayahnya berperan sebagai ayah sekaligus ibu hingga hari ini.

“Yul, Daniel sudah membantuku berulang kali dulu. Jika bukan karena dia yang membantu ayah membangun kembali perusahaan kita pada tahun 1998, kita berdua mungkin sudah akan tidur di kolong jembatan. Ayah tidak memintamu untuk menerimanya sekarang tapi tolonglah Yul. Daniel membutuhkan bantuan kita.”

Tinju Yuri mengepal. Buku-buku jarinya memutih. Ia sudah mengetahui pengorbanan Daniel Jung untuk keluarganya. Mereka berhutang banyak padanya.

“Aku tahu ini sulit Yul. Tapi Jessica dan Daniel membutuhkan bantuan kita. Mereka membutuhkan bantuanmu. Sanggupkah kau melihat seorang bayi hidup tanpa sosok ayah?”

“Entahlah. Bolehkah aku memikirkannya dulu?”

Sang Woo tersenyum padanya dan mengangguk. Ia melihat putranya menjauh. Ia tahu putranya akan memikirkannya matang-matang. Semoga dia akan mengerti.

~~~;~~~;~~~

“Aku setuju.”

Senyum lebar terpasang di wajah Sang Woo begitu Yuri turun dan memberikan jawaban padanya. Ia tahu putranya tidak akan mengecewakannya.

“Terima kasih Yul.”

~~~;~~~;~~~

TBC

i love Tyler kok, be nice guys 😀

byong~

credit: bluppy @AFF

Advertisements

68 thoughts on “9 Months [Chapter 1]

  1. Issss..si laler nyempil😠
    knp mesti dia sih..dasar b******* nggak mau tanggung jawab😬gue gorok lo..
    Yul you are my seobang,my hero😘😍(lebay 😁)
    gmn kehidupan yulsic nnt ya..msh penasaran😊

  2. Knp harus iler? Tyler maksudnya,knp yg bikin mommy tekdung harus dia,gaada cast lain gtu 😭 YULSIC get merried 😍

  3. tetep aja nii biang keroknya si laler,mau enaknya doankk,gak mau tanggungjawab..daddy yul dah setuju aj,penasaran gmn rumah tangga yulsic nanti

  4. Gw mrah tp skligus senang..
    Huwaah g kebyang klo tiler yg jd suami aunty sica, g rela bnget dah..
    Untng j dah dia nolak -,-
    duh yul seobang emg hero nya njess ^^

  5. knpa harus si makhluk namek sih yg ngehamilin Jessica…tapi gpp sih soalnya mereka udah putus ini ya, udah YulSic langsung dinikahin aja gg usah di tunda” lgi
    next Thor

  6. Wowowo… annyeong.. leader baru nongol.. 😀
    Wawawah.. itu tyler -_- haahh.. untungnya langsung bye.. ckckckck.. kesel kesel uey..
    Tapi daebak untuk yul.. I love it , hahaha.. daebak untuk authornya juga… hehe..

  7. wuuih…panjang juga chap pertama, tapi tbc juga. wkwkwk….
    hmmm… yul seobang jjang!!👍. u
    yul udah jadi pahlawan untuk sica dan keluarga nya. ha…. apa yg akan terjadi selanjutnya?. isshhh… dasar si telor main kabur aja.😬
    ga sambar untuk nunggu nc nya #next chap.# jangan terlalu lama ya thor updet next chap nya?!.hehe. 😁😁😁 V

  8. Sumpah.. pngn nyekek laler. Hufftt..
    Yul Seobang emang orang yang paling baik sedunia… hahaha
    Lanjut kak.. lanjut..

  9. Hiing npa ade laler pke hamilin sica pula aiisshhhh😡😡…
    Sica mommu gw pst kuat aplgi yul stuju dgn rncana prnihakannya.. di tunggu next chap tarra

  10. Akhirny tyang perdana nih hhhh wah bnr2 murah hti mas yul mau nikahi sica, si laler disemprot baygon j tuh. Pst nti yul jd ayah yg baik 😀

  11. Ey najong.. Ngapain jg Jessie pcr’n sama tu tempat samvah.. Bgni kn hasil ny DI CAMPAKAN mampus lo Jessie.. Knp jg hrs Yul gue yg bertanggung jwb.. Klo yulsic nikah trs gue apkbr ny

  12. Iiih kesel banget,,,, si kakek jidad! Gak di ff sm d dunya nyata ada mulu sih! Aduh tarra,,, kenapa gk donghae aja si yg jd pacar nya sica kenapa musti kakek jidad yang menghamilin sica,,, bikin nyesek,,

  13. mudah2 an tyler cuma nongol di part ini aja, jgn sampe dia muncul lg besok2 nya, akhirnya tul setuju jg ya, baik bgt dia. thor gimana kalo mereka manggil nya appa aja, rasanya aneh kalo manggil nya ayah

  14. Berharap si om jidat cma jdi cameo aja dan untuk yulsic berharap yg terbaik ini nnti sikap yul ke sica gmna ya secara kyaknya yul agak jepaksa nikah ma sicanya hufft gak sabar nunggu lanjutanya semangat terus.

  15. Mual gw😑 ngeliat nm itu.. enak bwgd liat abis di pake ninggal gitu aja.. otak nya gak selebar jidatnya gitu.. so bad gw liat tuh jenong.. untunglah sica gak mau n mutusin n berharap yul menjadi appa yg bijak buat tuh anak n ummanya..

  16. Kenapa musti laler sih??? Duh dasar brengsek bgt, enak aj gak mau tanggung jawab. :/ :/
    Emang yul itu is the best, wkwkwkwk

  17. Yee….yul jjaangggg….ini baru laki” yg gantlee….
    Beda banget ma lalerr , apa dia tuh bisanya bisanya ngehamili tp gk tanggung jawabb…huff dasarr bancii….
    Gmn ya nt rumah tangga yulsic???
    Mr. Sangwo bnr” penegrtian ke temenn….daebakkk.
    Next chap tarraaa,,,, 🙂

  18. halah, tyler. jgn2 aslinya emang gitu yah?? huh!
    mmmm, jd ini awal dri hubungan yulsic. smoga kdepannya baik2 j deh. kan yul mmang dciptakan untuk sic. *plak!! lanjuut…

  19. Yaelah kenapa yul dapet bekasan si tyler sih thor, parah tyler ngehamilin tapi ga mau tanggung jawab, sica juga main lepasin tyler gampang banget masa kan sedih ya.

  20. dasar lu tyler enak aja main hamilin anak org lgsg ditinggal aja. emang lu kira sica apaan?!? ngajak berantem lu namanya. ksian yuri deh jd pelampiasan ajh. semoga ntar yuri jessica bsa saling jatuh cinta yh! gw kangen kalian berdua Yulsic 4ever ❤❤❤❤

  21. Ciiihhh masa yuri musti bertanggung jawab untuk bayi jess yg jelas2 anak tyler,adeeehh jess bego bgt seehh mau aja jdi korban mahkluk namek.trus ntar yul bakal baik apa ga ya ke jessica???

  22. Udh takdir yul kalia ia.. Slalu jd suami jessica disaat sica hamil anak org.. Udh bnyk ff gue baca kyk gitu.. Hahahha

  23. hadeeehhh emng bikn esmosi aja nih si teler, seenaknya bikn anak orng hamil eh malah gampang bngt suruh gugurin, mo enaknya aja si teler.
    whoaa yuri emng cowok ganteng, keren, baik lg, gak rugi deh ntr sica dpt yuri, tp sica mau gak ya nikah sm yuri?
    moga aja yulsic pelan2 bs sling mncintai, kn yul emng ditakdirkn bwt sica#udhjodoh

  24. Suka nih ceritanya. Si tyler bajingan sebenernya tapi bener bener sayang sica, jadjadi ga terlalu bangsat kaya di ff ff biasanya. Moga ga ada kdrt ya nanti.

  25. ugghh..eneg bener ada namax nyempil di sini..bajingan pula gak mau tanggung jwab..
    yul elo memang di takdirkan sama sica…salut dah …

  26. Upss ternyata prediksi gua salah di teaser wkwk mian 😝
    Pas gua baca diawal ad nama TY udah elek eh dibaca2 lg dia yg nyebabin jessica hamil ga mau tanggung jawab pula makin elek gua thor hahaa 😂esmosi jadinya..
    Wow yul lu hebat bisa ambil keputusan ini gentleman bgt dh..

  27. Kasian jesica nya , hamil tpi dtinggalin ma tyler , untung muncul yuri yg baik mw nangguin anak jessica , penasaran ma kelanjutannya ..

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s