9 Months [Chapter 6]

enjoy~

~~~ ~~~~ ~~~

CHAPTER 6

 

“Ya kau bisa menaruhnya di sana. Terima kasih.”

“Mister Kwon, ini daftar tempat duduk tamu undangannya. Anda mungkin ingin memeriksanya sekali lagi.”

Yuri mengambil daftar dari wedding planner-nya, Jungah, dan membacanya. Ia hanya tersenyum dan melihat ke arah Jungah.

“Tidak salah aku menyewamu.”

“Ini sudah menjadi pekerjaan saya Mister Kwon. Terlebih lagi Anda dan Miss Jung sudah bersikap baik pada saya terlepas merencanakan pernikahan dengan terburu-buru.”

“Sekali lagi terima kasih.”

Yuri lalu mendengar ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Ia segera membukanya.

Sayang, bisakah kita bertemu sekarang?

Entah bagaimana Jungah bisa melihat senyum Yuri memudar. Bahkan tanpa bertanya ia mengira SMS itu dari Jessica. Siapa lagi?

“Mister Kwon.”

Yuri menaruh ponselnya dan mengangkat kepalanya.

“Ya?”

“Saya rasa Anda harus pulang dan beristirahat sebelum hari besar Anda besok. Saya akan mengurusnya dari sini.”

“Tapi…panggung utamanya…”

“Pulanglah, Mister. Anda bilang saya cukup sanggup ‘kan? Jadi pulanglah dan beristirahat bersama Miss Jung. Besok adalah hari besar Anda. Kita tidak ingin melihat pengantin pria yang seperti panda besok.”

“Kau yakin Jungah?”

Gadis itu mengangguk. Yuri mendesah dan menyetujuinya. Sejak tadi pagi, bersama dengan Jessica, ia menyiapkan segalanya di sini. Ia memaksa supirnya untuk mengantar Jessica pulang sementara dirinya tetap di sini untuk melakukan pengecekan terakhir.

“Oke, kalau begitu sampai besok.”

Jungah menepuk pundaknya dan meninggalkan Yuri berdiri di sana memandang sekelilingnya. Siapa yang mengira bahwa kurang dari satu bulan, mereka bisa membereskan semuanya sebelum hari H. Ia merasa bahagia. Tapi kemudian SMS itu datang. Yuri berlalu pergi sambil mengeluarkan ponselnya dan menelepon nomor di speed dial ke-4. Tidak peduli apa pun itu ia tidak bisa mengabaikan gadis itu.

~~~;~~~;~~~

Tiffany menjatuhkan diri di kasur di samping Jessica dan memastikan dirinya merasa nyaman. Jessica memutar bola matanya saat ia melihat Tiffany menghela napas lega seperti itu.

“Sekarang aku mempercayai Yuri saat dia meminta bantuanku untuk membelikan kasur ini untukmu. Kukira kau sudah membuang kebiasaan burukmu ini Jess?”

“Hei kasurku adalah suami pertamaku.”

Pernyataan itu membuat Tiffany tertawa keras sementara Jessica terkekeh. Tiffany menopang kepalanya dengan sebelah tangan dan menghadap sahabatnya secara menyamping.

“Aku tidak menyangka kau akan menikah duluan.”

Jessica berbalik ke samping menghadap Tiffany dan tersenyum menyeringai.

“Aku tidak menyangka kau belum.”

“Aku tahu. Aku hampir bersumpah saat di SMA dulu kalau aku akan menikah duluan.”

Mereka saling berpandangan dan tersenyum. Masa-masa yang menyenangkan. Jika bukan karena Tiffany, Jessica mungkin tidak akan pernah mengalami masa-masa SMA terbaik selama hidupnya. Mereka melalui masa-masa yang menyenangkan bersama-sama.

“Fany. Terima kasih.”

“Huh?”

“Aku tidak pernah sempat mengatakan ini padamu tapi berkat kau, aku menikmati hidupku dengan damai. Jadi terima kasih.”

“Aku memang mengagumkan kan?”

Jessica memutar bola matanya dan dengan main-main menjauhkan Tiffany darinya. Mereka kembali tertawa bersama.

“Sungguh merusak suasana, best friend.”

“Bukankah itu gunanya sahabat?”

Jessica mengangkat bahu. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia tahu Tiffany mengerti apa yang ia maksud. Itulah mengapa mereka bisa berteman. Sahabat akan selalu mengerti tanpa harus menjelaskan. Seolah-olah mereka memiliki ikatan yang menyatukan mereka bersama. Tiffany berbaring di tempat tidur.

“Jess, bolehkah aku mengatakan sesuatu?”

“Tentu. Apa?”

Tiffany berpikir-pikir, apakah sekarang saat yang tepat untuk mendiskusikan hal ini? Tapi Taeyeon benar. Pernikahan ini pada akhirnya akan menyakiti hati seseorang dan ia tidak ingin seseorang itu adalah Jessica.

“Apa kau benar-benar yakin dengan rencana pernikahan ini? Maksudku kau bisa membesarkan bayimu seorang diri dan aku bisa membantumu ditambah lagi kau sendiri bilang kalau setelah melahirkan, Yuri akan menikahi Hayoung. Mau di bawa ke mana hubungan ini?”

Jessica mendesah dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Apa pun yang ada di dalam benak Tiffany, ia sangat yakin semua itu sudah sering berlalu-lalang di benaknya.

“Entahlah. Aku sudah memikirkannya setiap malam tapi aku masih tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah 9 bulan. Jika saja Yuri berlaku kejam dan bersikap buruk padaku, mungkin akan mudah bagiku untuk pergi darinya tapi entahlah. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu.”

“Sayang, dia mencintai Hayoung. Aku bekerja dengannya. Gadis itu selalu datang ke kantornya setiap hari. Kau tidak mungkin bisa memenangkan hatinya kalau kau tidak tahu mau di bawa ke mana pernikahan ini.”

“Kau sungguh tidak mengerti Fany.”

Tiffany memutar bola matanya dan menyandarkan punggungnya seperti Jessica tapi bergeser lebih dekat dengan sahabatnya.

“Jelaskan padaku.”

Jessica melihat ekspresi di wajah Tiffany. Memahami Tiffany, dia tidak akan mungkin menyerah. Mungkin akan sulit untuk dijelaskan.

“Aku tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai meninggalkanmu. Aku tidak mau Yuri dan Hayoung memutuskan hubungan mereka. Ini tidak adil bagi Hayoung atau hubungan mereka. Tyler meninggalkanku dan aku berusaha keras agar tidak terlarut dalam kesedihan. Aku tidak mau wanita lain mengalami apa yang pernah aku alami. Ini tidak adil.”

Tiffany melihat Jessica berhenti sejenak. Ia menunggu gadis itu melanjutkan kata-katanya.

“Akulah yang masuk ke dalam hubungan mereka dan merampas Yuri.”

Jessica menarik bantal dan memeluknya. Tiffany melihat Jessica memeluk bantal seolah-olah dia bisa menemukan ketenangan dari bantal itu. Dapat dilihat di matanya kalau gadis itu rela berkorban.

“Tapi kau akan menjadi istrinya. Apakah itu adil buatmu? Bagaimana dengan bayimu? Jess, ini gila. Kau tidak boleh menyakiti hatimu sendiri demi Hayoung atau orang lain.”

“Fany, aku berbuat salah. Tyler dan aku melakukan kesalahan itu. Kenapa harus menghukum Yuri dan Hayoung karena kesalahanku sendiri?”

“Tapi…”

Tiffany bisa melihat mata Jessica berkaca-kaca dan ia merasa bersalah karena membicarakan topik ini.

“Oke. Tapi ingat satu hal.”

“A-Apa?”

Tiffany mengulurkan tangannya dan menarik Jessica ke arahnya, memeluk gadis itu.

“Apa pun yang kau pilih, pada akhirnya aku akan selalu berada di sampingmu, oke? Jadi jangan ragu-ragu untuk meneleponku kapan pun di mana pun.”

Ia merasakan anggukan Jessica dalam pelukannya. Ini adalah satu-satunya cara yang diketahui Tiffany untuk meyakinkan gadis itu bahwa terlepas bagaimana akhirnya nanti, ia akan selalu berada di sampingnya.

“Thanks.”

Mereka berpelukan untuk beberapa saat sebelum Jessica melepaskannya. Tiffany mendorongnya dengan main-main dan kembali berbaring di kasur dengan pandangannya yang beralih dari wajah Jessica ke jam dinding. Sudah pukul 00.30. Ia mengerutkan kening.

“Hei Jess, Yuri belum pulang?”

Jessica menggelengkan kepala.

“Dia bilang dia sedang dalam perjalanan pulang. Aku merasa tidak enak meninggalkan dia menyelesaikan semuanya sendiri tapi dia memaksaku pulang.”

“Yah dia peduli padamu. Dan besok kita tidak ingin melihat pengantin wanita yang ngantuk ‘kan?”

Wajah Jessica tersipu merah mengingat hari esok. Besok ia akan menikah. Besok ia akan menjadi istri Yuri.

“Ya.”

Tiffany tiba-tiba mengembuskan napas keras-keras mengegetkan Jessica. Ia melihat ke arah Tiffany.

“Kenapa?”

“Aku akan merindukan sesi nginap-menginap kita. Ini adalah pertama kalinya kita tidur bersama setelah bertahun-tahun dan ini akan menjadi yang terakhir.”

“Aku bisa selalu meminta Yuri untuk mengizinkanku tinggal denganmu sekali-kali. Aku yakin dia tidak keberatan.”

“Sungguh? Kau akan lakukan itu?”

Jessica mengangguk antusias. Tiffany menjerit kegirangan membuat Jessica terkekeh melihat reaksinya yang berlebihan. Pintu kamar pun tiba-tiba terbuka menampilkan Krystal yang masuk sambil merengek dan menutup pintu itu sebelum menyambar Jessica.

“Unni!”

Jessica membiarkan Krystal memeluknya sementara Tiffany tersenyum lebar melihat Krystal memeluk kakaknya.

“Jangan menikah dan tinggalkan aku!”

“Yah Krystal! Bukan berarti kakakmu akan diculik darimu.”

Krystal menoleh dan merengut ke Tiffany. Tiffany memasang ekspresi jijik.

“Unni, Yuri oppa akan mengambil dia pergi dariku dan dari unni!”

“Lalu?”

Krystal melepaskan pelukannya dari Jessica yang masih terlihat kebingungan dan merangkul lengan  Tiffany.

“Unni, kita akan dihapus dari ingatannya. Kita tidak akan dikenal lagi.”

Tiffany pura-pura tersentak dan mencengkeram dadanya.

“Oh, hatiku! Tuhan kenapa aku harus tersakiti?”

Krystal dan Tiffany menangis pura-pura dan keduanya bertingkah seolah-olah mereka sangat kesakitan. Jessica menertawakan reaksi keduanya yang terlalu dramatik.

“Krystal, ayo kita culik kakakmu sekarang.”

“Aku mendukungmu Fany unni!”

Keduanya melompat ke arah Jessica dan menggelitikinya hingga teriakan lumba-lumba terdengar dari gadis berambut pirang tersebut.

~~~;~~~;~~~

Yuri melirik jam tangannya saat dirinya berdiri di dekat mobilnya. Malam semakin larut dan gadis itu belum datang juga. Yuri sudah berjanji kepada Jessica kalau ia akan segera pulang. Tidak baik jika ayahnya menelepon ayah Jessica dan menanyakan keberadaannya. Ia mendesah. Cahaya yang menyorot dari kejauhan membuatnya menghela napas lega. Mobil itu berhenti dan terparkir di dekatnya. Begitu pintu terbuka, gadis itu melompat ke arahnya; memeluknya dan membenamkan wajahnya di dadanya. Yuri seketika merangkul pinggangnya.

“Aku merindukanmu.”

“Maaf. Banyak yang harus kukerjakan hari ini.”

Hayoung menarik diri dan menempelkan bibirnya pada bibir Yuri. Ciuman itu dirasa Yuri berbeda seolah-olah Hayoung menuangkan seluruh isi hatinya pada ciuman itu. Ia merasakan gadis itu mendorongnya ke arah mobilnya. Lidahnya menyentuh bibir Yuri memintanya untuk membuka mulutnya. Yuri mulai merasa kesal. Ia perlahan menjauhkan Hayoung tapi kelihatannya gadis itu melawannya. Tapi Yuri jauh lebih kuat daripada gadis itu sehingga akhirnya ia berhasil melepaskannya. Dengan napas terengah-engah, mereka saling berpandangan.

“Kenapa?”

Tatapan Hayoung terlihat bernafsu dan itu membuat Yuri merasa tidak nyaman. Ada yang tidak beres. Ia menyadarinya sejak seminggu yang lalu, sikap Hayoung berubah setiap kali mereka bertemu. Gadis itu kelihatan nekat dan itu membuat Yuri cemas. Yuri menangkup pipinya dan membelainya lembut.

“Sayang, ada apa?”

“Apa kau mencintaiku?”

Yuri tidak mengiranya. Tapi meskipun demikian, ia tetap bersikap tenang.

“Tentu saja aku mencintaimu.”

“Kalau begitu ikut aku.”

“Apa? Kenapa?”

Yuri melihat Hayoung menjauhkan diri darinya dan masuk ke dalam mobilnya sendiri.

“Kalau kau mencintaiku, ikuti aku.”

Hayoung menutup pintu dan menyalakan mesin mobilnya. Yuri masih terlihat bingung tapi ia segera masuk ke mobilnya ketika Hayoung mulai melaju pergi. Apa pun itu, Yuri sangat ingin mendapatkan jawaban atas tingkah laku aneh pacarnya.

~~~;~~~;~~~

Hayoung akhirnya berhenti di depan hotel yang tidak asing lagi bagi Yuri. Hotel itu adalah milik keluarga Hayoung. Yuri melihat gadis itu memberikan kunci mobilnya ke tukang valet dan menyuruh Yuri untuk melakukan hal serupa. Yuri mendesah dan melakukan apa yang dimintanya sebelum mengikutinya masuk ke dalam. Entah mengapa ia sama sekali merasa tidak senang.

“Hayoung, tunggu!”

Hayoung tidak memedulikan permohonannya dan terus berjalan menuju lift. Ia menekan tombol nomor lantai suite keluarganya dan menunggu Yuri untuk masuk sebelum menutup pintunya.

“Ada apa denganmu?”

Gadis itu tetap diam dan keluar dari lift ketika mereka sampai. Yuri mengikutinya dan melihat Hayoung mengeluarkan kunci kamar berbentuk kartu dari tas tangannya dan masuk ke dalam. Yuri mendesah dan ikut  masuk. Ia sedang sibuk menutup pintu ketika ia merasakan Hayoung memutar badannya dengan paksa dan menciumnya dengan bernafsu. Yuri membalas ciumannya sama-sama bernafsu dan merangkul pinggang gadis itu sementara Hayoung merangkul lehernya. Yuri mengarahkan mereka ke tempat tidur dan perlahan membaringkannya tanpa menghentikan ciuman itu.

Entah mengapa Yuri merasa gadis itu berbeda malam ini dan ciuman itu memberitahunya kalau dia menginginkan lebih dari itu. Sesuatu yang tidak bisa ia berikan. Yuri tiba-tiba menarik diri seperti yang dilakukannya tadi. Kali ini Hayoung tidak menyerah dan mengganti posisi mereka dengan dirinya berada di atas. Ia kembali mencium Yuri dengan lebih bergairah. Ia memiringkan kepalanya memastikan Yuri bisa merasakannya dari setiap sudut. Tangannya meraih kemeja polo Yuri dan mencoba melepaskannya. Saat itulah Yuri menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Ia mendorong Hayoung dan berdiri. Napasnya terengah-engah dan menjauhkan diri dari gadis itu.

“Hayoung, apa yang kau lakukan?”

“Aku menjadikan kau milikku.”

“A-Apa?”

Hayoung berdiri namaun Yuri pastikan ia menjaga jarak. Ia bisa melihat mata gadis itu menatapnya dengan penuh amarah.

“Kau adalah milikku! Aku tidak akan membiarkan wanita murahan itu memilikimu!”

Sekarang Yuri mengerti. Semuanya terlihat jelas sekarang.

“Kau harus menenangkan dirimu.”

“Apa aku hanya mainan bagimu?!”

Pukulan demi pukulan di arahkan kepadanya. Yuri berusaha keras menghindari pukulan itu tapi pada saat yang sama ia terus menatap gadis itu.

“Kau mempermainkanku dan sekarang kau meninggalkanku untuk menikahi perempuan murahan itu?!”

Yuri sudah merasa muak.

“HAYOUNG!”

Yuri meraih kedua lengannya dan membaliknya sebelum mendorongnya ke dinding kamar hotel berhasil menghentikan amarahnya.

“Jangan panggil dia dengan sebutan itu!”

“Kenapa?! Karena dia mengandung bayimu?!”

Yuri mencium bibirnya dengan paksa. Hayoung meronta-ronta namun genggaman Yuri di lengannya sangatlah kuat dan ia tidak sebanding dengan kekuatan laki-laki itu. Hayoung berteriak lemah ketika ia merasakan Yuri mengangkat kedua lengan ke atas dengan tangan kiri dan kanannya berada di atas dada Hayoung yang terbalut pakaian. Yuri bersikap kasar padanya dan ia merasakan laki-laki itu menghisap lidahnya sementara telapak tangannya menangkup dan memain-mainkan payudaranya. Ini tidak seperti apa yang ia bayangkan. Tidak saat Yuri memperkosanya seperti ini. Hayoung menggigit bibir bawahnya membuat laki-laki itu mengerang.

“Yuri…hentikan…”

Mendengar permohonannya entah mengapa menyadarkan Yuri dari apa pun yang mengendalikannya. Ia melepaskan Hayoung dan menariknya ke dalam pelukan.

“Maafkan aku…maafkan aku…”

Hayoung tidak punya kekuatan lagi untuk mendorong Yuri dan ia bahkan tidak menginginkannya. Bagaimanapun ia harus bertanggung jawab atas tindakannya malam ini.

“Yul. Aku takut. Aku tidak bisa kehilanganmu.”

Malam itu ia menangis di dada Yuri. Besok, laki-laki itu akan menjadi suami orang lain dan ia tidak berhak memilikinya. Ia bukan istri sahnya.

~~~;~~~;~~~

Yuri tidak tidur sama sekali. Ia menoleh ke sampingnya dan melihat Hayoung sudah terlelap. Ia menyentuh wajah gadis itu, menelusurinya dari hidung hingga bibir. Apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu? Ia merasa bersalah telah mengubahnya menjadi seperti ini. Seharusnya ia melepaskan Hayoung dari awal. Kejadian tadi menyadarkannya kalau ia patut disalahkan. Ini bukan salah Hayoung. Yuri mendesah. Perlahan ia menarik kembali tangannya dari bawah kepala gadis itu, Yuri turun dari tempat tidur. Ia memandangnya untuk yang terakhir kalinya sebelum meninggalkan kamar hotelnya.

“Aku sungguh minta maaf.”

Tukang valet tadi menyerahkan kunci mobilnya. Yuri masuk ke dalam mobil dan berlalu. Ia tidak tahu harus pergi ke mana? Bar? Rumah Taeyeon? Rumahnya? Jessica? Ia tidak bisa memutuskannya. Setelah mengemudi cukup lama, ia akhirnya berhenti di depan sebuah hotel. Ia mengangkat kepala dan terkekeh. Sepertinya takdir sedang bermain-main dengannya. Ia keluar dari mobil dan menutup pintunya. Ia bersandar sambil menatap lantai atas hotel tersebut.

“Aku benar-benar kacau.”

~~~;~~~;~~~

Jessica bergerak sedikit ketika ia merasakan Tiffany menarik selimutya. Suhu dingin di kamarnya terasa dingin sekali. Ia menyukai AC tapi setelah hamil, Jessica kelihatannya bermasalah dengan benda itu. Ia tidak tahan dengan suhu dingin. Mengusap-usap lengannya, tubuhnya menggigil. Jessica meraih ponselnya dan melihat jam di layarnya. 1.30 pagi. Ia mendesah.

‘Fany bodoh.’

Mengumpat dirinya dalam hati dan mungkin karena stress menjelang hari H, ia tidak bisa kembali tidur. Ia memutuskan untuk mencari udara segar. Pelan-pelan ia berjalan menuju balkon berharap Krystal dan Tiffany tidak terbangun. Ia mendekat ke pagar pembatas dan menarik napas dalam-dalam. Ponselnya berbunyi. Ia menjawabnya.

“Halo?”

“Sica, ini aku.”

“Yuri? Kenapa kau belum tidur?”

Ia mendengar laki-laki itu mendesah di ujung sana. Jelas sekali ada sesuatu yang mengganggu pikiran laki-laki itu. Tapi ia tidak ingin memaksanya.

“Sica, apa kita melakukan hal yang benar?”

Pertanyaan itu mengejutkannya. Minggu-minggu terakhir ini, Yuri tidak pernah menanyakan pertanyaan ini padanya. Ia sendiri yang terus bertanya-tanya tapi malam ini, ia akhirnya mendengar Yuri menanyakan pertanyaan serupa yang dirinya sendiri tidak punya jawabannya.

“Menurutmu?”

“Entahlah.”

Entah mengapa Jessica bisa merasakan beban dalam nada suara laki-laki itu. Kedengarannya dia menahan sesuatu. Hal itu membuatnya merasa cemas. Ia melihat ke bawah dan meskipun berada di lantai 15, ia bisa melihat GTi Golf merah terparkir di depan hotelnya.

“Yul, kaukah yang ada di pinggir jalan itu?”

“K-Kau  bisa melihatku?”

“Tunggu. Aku akan turun.”

“Tidak Sica…”

“Tunggu saja. Aku akan turun.”

Jessica meraih mantelnya dan segera berjalan keluar. Butuh waktu 5 menit baginya untuk akhirnya tiba di depan Yuri dan ia sedikit terengah-engah. Bagaimanapun juga, ia turun dengan terburu-buru. Yuri menatapnya kagum. Senyum kecil terpampang di wajahnya. Mereka mengakhiri panggilan. Jessica berdiri di sampingnya dengan menyandarkan punggungnya ke mobil Yuri.

“Ingin menceritakannya padaku sekarang?”

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak mau menyakiti siapa pun lagi.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Aku akan baik-baik saja.”

“Aku bertemu Hayoung tadi. Dia…terlihat hancur… semua ini salahku.”

Jessica menoleh ke sampingnya dan untuk pertama kalinya ia melihat Yuri menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa sehingga ia menarik laki-laki itu ke arahnya dan membiarkannya menangis di bahunya. Apa pun yang terjadi di antara Hayoung dan Yuri tadi, ia yakin itu tidak berakhir dengan baik. Ia mengusap-usap kepala Yuri dengan lembut.

“Jangan tinggalkan Hayoung, Yul. Dia mencintaimu. Aku akan baik-baik saja. Bagaimanapun juga, kau hanya membantuku ‘kan? Beritahu Hayoung. Dia akan mengerti.”

Yuri perlahan melepaskan diri. Mereka saling berpandangan dan hati Jessica terasa sakit melihat air mata yang membekas di pipi Yuri.

“Aku tidak mau menyakitimu Sica.”

“Tapi aku tidak mau kau menyakiti Hayoung.”

“Aku tidak bisa meninggalkan dia.”

“Kalau begitu jangan. Tetaplah di sampingnya. Kita akan baik-baik saja.”

Air matanya sudah mengancam keluar dari matanya tapi sebelum Yuri bisa melihatnya, Jessica kembali menariknya ke dalam pelukan. Jika ia masih sama seperti dirinya 5 tahun lalu, ia yakin ia tidak akan mengatakan kata-kata seperti ini dan mengklaim Yuri untuk dirinya sendiri. Tapi tidak. Setelah perpisahan itu, ia belajar untuk memahami bahwa terkadang bahagia itu adalah ketika merelakan orang itu pergi. Ia hanya berharap bahwa perasaan apa pun yang ia miliki pada laki-laki itu tidak akan pernah diketahui. Tidak untuk sekarang. Tidak untuk selamanya.

~~~;~~~;~~~

TBC

motivasi menurun haha

akun Facebook gue diganti juga lol

add Tarra Guitarra

credit: bluppy @AFF

 

Advertisements

33 thoughts on “9 Months [Chapter 6]

  1. uhhh…. so complecated. yuri benar2 ga tau harus berbuat apa?. dan sica yg selalu merasa bersalah karna sudah hadir di antara yuri dan hayoung.
    apa pernikahan mereka akan tetap terlaksana?.

  2. Yuri knp gak tegas sih, siapa yg yuri pilih, kasian klo sica dtinggalin, knp sih yuri sm hayoung gak mau jg lepas, gw brharap yuri milih sica

  3. Njess daebak.. kalo yul ga mau nyakitin 22nya.. ya harus buat keputusan lah.. skrng atau ntar kan sama aja.. akan ada yg tersakiti..

  4. Bimbang banget kalo jadi yuri, trus ya sedih lah kalo diposisi hayoung pacarnya mau nikah sama orang lain. Dan sica sakit hati parah krn mantannya gak tanggung jawab dan harus melewati semuanya sendiri bahkan kayaknya udah mulai suka sama yuri 😭

  5. Makin parah aja ini cerita ekekeke semuanya tetep pada pendiriannya. Tapi tapi yul serius lu agak aman nikah sama sica jangan deh nyakitin sica. Mana dia suka lagi sama elu astaga.

  6. Thor panjangin lg donk. Kasian hayoung sbnrnya tp g tega jg sm sica. Tp yuri mang hrus bt kptusan lanjutkan to g

  7. Aduh mampus mommy sica gw udh terbawa perasaan.. hiks hiks berat bnget psti…plesae jgn pisahin yulsic krn yul bkal sadar kalo cintanya itu buat sica….
    seneng ya jdi yul di kagumi 2 wanita………

  8. aishhhh,, sumpah gue takut banget kalo yuri dan hayoung sampai diluar kendali…
    hmm,, kadang cinta tidak perlu berbicara cukup dirasakan,,
    hayoung. . . hayoung. . . napa jadi gini?

  9. Andwe yul!!! Jng lepaskan sica please,hikshiks..
    Aischh..knp sichh hyoung tiba” kyk orng kesurupan jah uhggg…
    Oh nooo, gwegk rela yul lebih milih hyoung..please don’t tarra..
    Bikin yul balikan sm sica ajah dungg…

  10. sehenarnya disiniyg paling kasian si hayong, kasian hancur gtuu.
    mudahan ntr jessica dlm posisi hayong.
    knp mesti yuri yg hrs berkorban, author tlng dong bwtin ygjessica menderita sakit hati gara2 yuri.
    gak seru gkada bls dendam.

  11. “bahagia itu merelakan orang yang kita sayangi pergi” saya suka kata-kata itu kak 😭
    Merelakan tidak semudah memberi dan menerima huhu jadi curhat 😂
    Klik selanjutnya (lagi) hehe

  12. Agak sedih ya eps ini dibikin galau bener sama yul sica hayoung
    Tiga2nya sama2 dilema
    Entahlah gue rasa salah 1 dr mreka emng ada yg hrs dikorbanin *korban perasaan mungkin 😂😂*

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s