9 Months [Chapter 7]

enjoy

~~~ ~~~~ ~~~

CHAPTER 7

 

Yuri mendesah untuk yang kesekian kalinya. Betapa ia mengharapkan dirinya bisa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di dalam benaknya tapi sayangnya, ia tidak tahu. Ia tidak bisa mengendalikan perasaannya dan merasa tidak berguna. Jessica melihat Yuri yang kelihatannya sedang merenung. Apa pun yang ada di dalam benak laki-laki itu, ia yakin akan menyetujuinya. Melihat Yul tersakiti adalah hal terakhir yang ia inginkan. Yuri sudah membawanya dari hotel dan berhenti di depan taman di mana mereka menemukan bangku yang nyaman untuk diduduki. Tempatnya tidak terlalu gelap karena lampu-lampu di sekitar mereka cukup menerangi. Jessica tidak tahan dengan keheningan di sekelilingnya.

“Yul, apa yang akan kita lakukan?”

Yul perlahan menoleh dan menghadapnya. Di luar dugaannya, Jessica tetap tenang terlepas apa yang sedang terjadi.

“Aku…aku tidak tahu…”

Jawaban Yuri entah mengapa sedikit menyakitinya. Dia terdengar sangat yakin jika dirinya tidak akan tetap bersama Jessica. Hayoung akan menjadi prioritasnya. Jessica menahan kesedihan yang perlahan menyelimutinya dan memasang senyumnya; demi laki-laki itu. Ia memegang tangan laki-laki itu.

“Aku sudah bilang padamu berulang-ulang kali dan aku akan mengatakannya lagi. Kau tidak perlu melakukan ini. Kita bisa menghentikan pernikahan ini. Aku akan berbicara pada ayah dan kalau kau mau aku bisa berbicara juga pada Unlce Sang Woo. Mereka akan mengerti.”

“Sica…”

“Kau pantas untuk bahagia Yuri. Tidak usah mencemaskanku.”

Jessica tidak ingin menunggu jawabannya dan berdiri. Yuri melihat gadis itu memeluk tubuhnya sendiri mencoba menutupi tubuhnya yang kedinginan karena dinginnya malam. Dia tersenyum hangat pada Yuri.

“Ayo kita pulang.”

Jessica mengulurkan tangannya untuk Yuri. Yuri tidak pernah melihat sisi ini dari Jessica sebelumnya. Gadis itu bahkan tidak menitikkan air mata terlepas ia sudah menyakitinya juga. Ia tidak yakin apakah ia pantas menerima kebaikan ini dari Jessica. Melihat Yuri ragu-ragu, Jessica meraih tangannya dan membantunya berdiri sebelum menuntunnya kembali ke mobil. Ia mengambil kunci mobil dari Yuri dan menuntun laki-laki itu masuk ke sisi penumpang sebelum ia sendiri duduk di balik kemudi dan melaju pergi.

~~~;~~~;~~~

Keduanya tidak bergerak ketika Jessica menghentikan mobil di depan hotelnya. Di dalam benaknya, Jessica mengulang-ulang bagaimana ia akan memberitahu keluarganya? Jika pernikahan ini seminggu lagi, masalahnya tidak akan rumit seperti ini tapi tidak. Pernikahannya besok. Yuri menoleh ke sebelah kirinya dan melihat Jessica menunduk menatap tangannya. Ia merasa bersalah melihat gadis itu seperti ini.

“Sica…maafkan aku.”

Jessica perlahan menggelengkan kepalanya. Apakah itu salah Yuri? Bukan. Itu adalah salahnya.

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku akan berbicara dengan ayah besok. Kau juga harus berbicara pada uncle. Mereka harus mengetahuinya.”

Begitu ia mengatakannya, setetes air matanya jatuh bergulir di pipi kirinya. Untungnya, Yuri tidak bisa melihatnya. Ia segera turun dari mobil dan menutup pintu di belakangnya. Yuri melihat Jessica melangkah pergi. Ia ingin memanggilnya dan mengatakan sesuatu tapi ia merasa dirinya yang bersalah. Ia tidak pantas memiliki gadis itu. Ketika Jessica berada di balik pintu kaca hotel, Yuri kembali ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya. Jessica mengepalkan tangannya dan air matanya tumpah; air matah mempelai wanita yang patah hati. Seorang mempelai wanita yang pernikahannya tidak akan terjadi.

~~~;~~~~;~~~

Tiffany menutup mulutnya dengan air mata yang jatuh menuruni pipi. Ia tidak menemukan Jessica di tempat tidurnya tadi. Ia menelepon dan Jessica tidak mengangkat teleponnya sehingga ia turun ke lounge untuk mencarinya hanya untuk menyaksikan Jessica turun dari mobil Yuri dan mulai menangis sendiri kita Yuri pergi. Entah bagaimana ia bisa mengetahui apa yang telah terjadi kepada gadis itu. Ia selalu mengetahuinya dan hatinya terasa sakit melihat Jessica tersakiti. Berjalan perlahan menuju gadis berambut pirang yang sedang menangis itu, Tiffany berlutut di sampingnya dan menariknya ke dalam pelukan.

“Shh, kau akan baik-baik saja.”

“Fany…Yuri….pernikahannya…”

“Aku tahu. Aku tahu.”

Tiffany mengusap-usap punggung sahabatnya berharap itu akan cukup menenangkannya tapi ia tahu itu tidak akan berhasil. Jessica tidak perlu menjelaskannya padanya. Ia bisa menebaknya; Yuri memilih Hayoung. Ia membenci laki-laki itu karena telah memberikan harapan kepada Jessica. Tega-teganya dia melakukan ini pada sahabatnya?

“Fany…sakit sekali rasanya.”

Tiffany memeluknya lebih erat dan membiarkan air mata Jessica membasahi piyamanya. Ia tidak peduli dengan orang-orang lewat yang memperhatikan mereka. Ia tahu beberapa dari orang-orang itu mungkin mengenali mereka tapi itu tidak penting lagi. Yuri patut disalahkan. Laki-laki itu memberikan harapan pada Jessica dan sekarang harapan itu dihancurkan oleh dirinya sendiri.

‘Yuri bodoh.’

~~~;~~~;~~~

Yuri menjatuhkan diri di tempat tidurnya. Ia tidak pernah tidur di tempat tidurnya sendiri sejak kedatangan Jessica. Karena kehamilannya, Yuri selalu tidur di kamar gadis itu. Tempat tidurnya sendiri terasa asing. Ia bangun dan keluar dari kamarnya menuju kamar di mana Jessica tidur sejak hari pertama. Perlahan, ia memutar kenop pintu dan masuk ke dalam sebelum menutup pintu di belakangnya. Air mata mulai membayang di matanya begitu ia melihat koper Jessica di dekat lemari.

FLASHBACK

Jessica menarik kopernya dan Yuri bertanya-tanya mengapa dia melakukannya.

“Kenapa kau mengeluarkan kopermu?”

“Aku sedang berkemas. Apa lagi?”

“Aku tahu tapi kau hanya akan menginap di hotel selama satu malam. Jika aku jadi kau, aku akan mengizinkan semua orang tidur di rumah kita.”

Jessica terkekeh melihat Yuri yang masih merasa tidak masuk akal melihat keluarganya menyewa kamar hotel dan memisahkan mereka hanya untuk semalam.

“Sudah adatnya begitu, Yul. Mempelai pria dan wanita tidak boleh berada di ruangan yang sama sebelum pernikahan. Ayahmu bilang begitu.”

“Ayahku kuno. Siapa yang masih mengikuti aturan itu?”

“Yah, ayahku masih mengikuti adat istiadat.”

Yuri mendesah.

“Oke. Kau menang. Tapi…”

Yuri mengambil kopernya dan kembali menaruhnya ke tempat di mana Jessica mengambilnya tadi. Jessica memandangnya dengan bingung. Yuri tersenyum lebar.

“Hanya untuk semalam. Bawa saja beberapa pakaian. Kau tidak memerlukan kopermu.”

“Aku butuh kotak make up-ku.”

“Tidak. Aku akan mengurus semuanya. Kau cukup pergi ke sana dan tidur nyenyak dan kita akan menikah keesokan harinya.”

Yuri mencubit pipinya dan keluar dari kamarnya meninggalkan Jessica tersipu malu.

END OF FLASHBACK

Yuri tersenyum sedih. Ia duduk di atas tempat tidur; tempat tidur gadis itu. Ia mengusap-usap kasur itu. Ia ingat ketika ia memaksa Tiffany untuk mencarikan kasur terempuk yang bisa ia temukan. Dibutuhkan waktu yang lama sebelum akhirnya ia menemukan kasur ini dan Jessica menyukainya. Yuri memandang sekeliling dan merasa tempat tidur itu terlihat hampa tanpa Jessica tertidur di atasnya.

“Apa yang sudah kulakukan?”

“Hal terbodoh, nak.”

Yuri mengangkat kepala dan melihat Sang Woo berdiri di ambang pintu dan wajahnya kelihatan tenang.

“Ayah.”

Sang Woo tidak memedulikan putranya dan duduk di dekatnya. Yuri menunggu ayahnya melanjutkan kata-katanya namun Sang Woo hanya memandang berkeliling dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Ayah…aku…”

“Kau tahu, mendiang ibumu selalu mengatakan kalau suatu hari nanti saat kau menikah dan memiliki seorang anak, ibumu akan mengubah kamar ini menjadi kamar bayi. Kau baru saja berusia 8 tahun saat itu.”

Yuri melihat Sang Woo menarik napas dalam-dalam.

“Ayah tahu apa yang terjadi di antara kau dan Hayoung. Ayah tidak buta Yuri.”

Yuri tidak berani menatap ayahnya, ia malah menundukkan kepalanya.

“Ayah tidak memaksamu melakukan ini Yul. Kau menyetujuinya. Ayah tidak membuat keputusan ini. Kau yang membuatnya. Sekarang apa yang terjadi?”

“A-ayah tahu?”

Sang Woo mendesah lagi. Kapan Yuri akan mengetahui kalau ia memiliki mata-mata di mana-mana.

“Ayah punya mata-mata di jalanan, kantor, taman. Sebutkan saja. Ayah dengar ketika orang-orang membicarakan tentang kau dan Hayoung. Ayah tahu Sangjin juga mengetahuinya tapi ayah biarkan kau mengurusnya sendiri. Ayah tidak memaksamu menerima Jessica dan ayah juga tidak memaksamu untuk putus dengan Hayoung. Apakah ayah ayah yang tidak berguna, Yuri?”

Kepala Yuri terangkat dan ia bisa melihat ekspresi kecewa di wajah ayahnya.

“Tidak ayah! Ini salahku!”

“Lalu kenapa kau harus menempatkan dirimu dalam situasi yang sulit ini? Ayah mengizinkan kau memilih Yul.”

“A-Aku…aku tidak tahu…”

Sang Woo memegang bahu putranya. Ia meremasnya sebelum berdiri.

“Ayah sudah berjanji kepada ibumu kalau ayah akan selalu membuatmu bahagia. Ayah akan berbicara dengan Daniel besok tapi kau harus memberitahunya sendiri alasan kenapa kau membatalkannya.”

Sang Woo menepuk kepala putranya sebelum meninggalkan ruangan. Yuri bahkan tidak memandang punggung ayahnya yang semakin menjauh. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Yuri perlahan berdiri. Semakin lama ia berada di kamar ini, ia merasa seolah-olah dunianya terbalik. Yuri melangkah pergi tapi ia hampir tersandung karena sebuah kotak. Ia menunduk ke bawah dan melihat sebuah kotak berwarna cokelat. Ia berlutut dan membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat banyak album foto. Ia mengambil satu dan membukanya. Ia melihat sebuah foto anak-anak yang sedang berlari-lari. Anak yang satu sedikit lebih tinggi dan anak yang lainnya bertubuh agak kecil; kira-kira berumur 8 dan 6 tahun. Yuri mengeluarkan foto tersebut dan membaliknya. Ia melihat tulisan di balik foto itu.

Yuri dan Jessica.

FLASHBACK

“O-oppa!!”

Yuri kecil tersenyum kepada gadis kecil itu. Gadis kecil itu terengah-engah. Yuri menunggunya. Setelah gadis itu berhasil mendekatinya, gadis itu cemberut.

“Sudah kubilang jangan mengikutiku.”

“Tapi tapi…aku ingin…ikut oppa.”

Yuri mengacak-acak rambut gadis kecil itu dan berlutut di depannya dengan punggung menghadap ke arahnya.

“Naiklah! Oppa akan menggendongmu, oke?”

“Yeay!”

Gadis itu melompat ke punggung Yuri dan ketika ia merasa gadis kecil itu sudah aman di punggungnya, ia perlahan berdiri. Yuri memastikan lengannya menahan gadis kecil itu dari belakang sehingga dia tidak akan terjatuh.

“Oppa cepatlah!”

Yuri terkekeh dan mulai berjalan.

“Oppa?”

“Hrmm?”

“Aku cinta oppa.”

“Sungguh Sica? Oppa juga cinta Sica!”

“Yeay! Oppa cinta Sica!”

Kedua anak kecil itu mulai tertawa dan Yuri mempercepat langkahnya tapi pada saat yang sama memastikan Jessica tidak akan terjatuh.

END OF FLASHBACK

“Sica…”

Yuri berdiri dan menaruh kotak itu tapi tetep memegang sebuah foto di tangannya. Sekarang ia ingat mengapa ia menyetujui permintaan ayahnya.

~~~;~~~;~~~

Jessica terbangun dengan mata bengkak karena menangis semalaman. Ia tidak tahu kapan tapi ia mengingat Tiffany menenangkannya. Jessica menarik selimutnya dan menolak turun dari tempat tidur. Ia sungguh berharap dirinya masih berada di LA. Mengapa dulu ia menerima permintaan ayahnya? Ia bisa saja menyelamatkan hatinya dari kesakitan. Terlepas menghabiskan waktu yang singkat bersama Yuri, Jessica menyadari laki-laki itu telah mengisi kekosongan hatinya dan menyembuhkan sakit hatinya. Tapi dia juga orang yang sama yang telah mematahkan hatinya tadi malam. Ia tidak bisa menghadapi kejamnya dunia sekarang. Ia tidak tahu bagaimana caranya.

“Jess?”

Jessica menoleh menghadap ke pintu dan melihat senyum sedih Tiffany di wajahnya.

“Aku tidak mau keluar.”

“Tapi kau harus makan.”

“Aku tidak bisa. Fany?”

“Ya?”

“Bisakah kau memanggil ayahku ke sini? Aku…”

“Aku mengerti. Aku akan memanggilnya.”

Jessica hanya mengangguk dan Tiffany pergi. Tidak peduli apa pun yang terjadi, ia harus memberitahu ayahnya. Beberapa menit kemudian, Daniel datang dengan senyum terlebar di wajahnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan Sang Woo belum memberitahunya.

“Sooyeon. Bangunlah dan sarapan. Kita harus bersiap-siap untuk pernikahanmu!”

Jessica melihat ayahnya sangat bahagia. Bagaimana ia bisa memberitahu ayahnya? Jessica tidak memiliki keberanian lagi. Daniel terlihat sangat bahagia dan Jessica enggan merampas kebahagiaannya. Daniel mengeluarkan gaun pernikahan Jessica dan menaruhnya di atas tempat tidur.

“Periasmu akan datang 30 menit lagi! Kau harus bersiap-siap!”

“Ayah…”

“Ayah sangat bahagia Sooyeon. Ayah berharap ibumu bisa melihatmu berjalan menuju altar pernikahan. Dia akan sangat senang melihatmu di hari pernikahanmu.”

Jessica merasakan hatinya hancur berkeping-keping begitu ia melihat air mata menggenang di mata ayahnya. Dan rasanya lebih menyakitkan mengetahui ibunya mungkin akan melihat mereka dari surga menunggu saat-saat putrinya berjalan menuju altar pernikahan.

“Ayah…aku minta maaf.”

“Huh? Kenapa sayang?”

“Ayah, aku dan Yuri…”

Sebelum Jessica bisa memberitahu ayahnya, mereka mendengar suara keras dari luar bercampur dengan suara Krystal dan Tiffany. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka menampilkan Yuri yang terengah-engah dengan tangan di lutut berusaha mengisi paru-parunya dengan udara. Pada kenyataannya Yuri berlari menaiki tangga karena berpikir lift akan berjalan terlalu lambat. Daniel tersentak.

“Yuri! Kau tidak boleh melihat putriku sekarang!”

“Uncle tunggu!”

Daniel sudah siap mengusir Yuri keluar tapi laki-laki itu menghindarinya dan melompat ke sisi Jessica.

“Uncel, aku harus berbicara pada Jessica. Kumohon?”

Daniel memandangi Jessica dan Yuri dan menyadari ada yang tidak beres. Ia perlahan menyadari kalau Yuri terlihat serius dan mata putrinya bengkak. Apa yang terjadi dengan mereka?

“Unlce. Tolonglah?”

Daniel ingin bertanya tapi ia mengurungkan niatnya. Apa pun itu, ia yakin itu adalah masalah serius hingga Yuri datang ke hotel mereka dengan memakai tuksedonya. Daniel perlahan meninggalkan keduanya dan menutup pintu di belakangnya meninggalkan Jessica yang masih sangat terkejut melihat Yuri tiba-tiba masuk dengan memakai tuksedo pernikahannya. Yuri menenangkan diri dan menatap Jessica. Begitu matanya mendarat pada mata gadis itu, ia menyesalinya. Gadis itu terlihat lebih hancur dari perkiraannya. Apa yang sudah ia lakukan?

“Sica…”

“Pergilah Yul. A-Aku ingin sendiri.”

“Tidak. Kau harus mendengarkanku.”

“Untuk apa? Aku l-lelah. Kumohon tinggalkan aku…sendiri.”

Jessica membalikkan badan dari Yuri dan menghapus air matanya yang sudah jatuh.

“Kau pernah bertanya padaku kenapa aku setuju untuk menikahimu. Kau ingin mengetahuinya sekarang?”

“….”

Jessica mengabaikannya. Tiba-tiba ia merasakan kedua lengan laki-laki itu merangkul pinggangnya memeluknya dari belakang. Ia meronta-ronta namun Yuri semakin mengencangkan pelukannya.

“Yuri…kumohon…”

“Ini.”

Yuri menunjukkan foto di tangannya. Jessica memandang foto itu dan melihat dirinya berlari di hadapan seorang anak laki-laki. Ia tidak mengenal mengenal anak laki-laki itu.

“Itu adalah kau dan aku Sica, saat kita masih kecil.”

Yuri menyandarkan dagunya di lekuk leher Jessica sambil terus memeluknya.

“Aku ingat sekarang kenapa aku menyetujuinya sejak awal. Aku masih jatuh cinta pada gadis di foto itu; cinta monyetku.”

Jessica berhenti meronta-ronta. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya berharap suara tangisnya tidak terdengar ke luar kamar.

“Tapi…Hayoung…Yuri kau tidak bisa…”

“Aku akan mengakhiri hubunganku dengannya. Aku berharap dia akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku karena aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu selama 16 tahun. Aku tidak bisa menghentikannya sekarang.”

Ia seharusnya tidak merasa bahagia tapi Jessica merasa seolah-olah sakit hatinya tadi malam lenyap begitu Yuri mengatakan kalau dia mencintainya. Dengan lembut Yuri mencium pipinya.

“Kita akan memulainya lagi dari awal, oke?”

Jessica membiarkan air mata kebahagiaannya membasahi pipi. Ia menaruh tangannya di atas tangan Yuri. Mengangguk perlahan. Yuri memberikan ciuman lain di lehernya.

“Sica?”

“Ya?”

“Maukah kau menikah denganku?”

Ia perlahan melepaskan pelukan Yuri di pinggangnya dan berbalik menghadapnya. Ia menangkup wajah Yuri dan memberikan seulas senyum yang akan selalu diingat laki-laki itu.

“Ya.”

~~~;~~~;~~~

TBC

jengjengjeng

credit: bluppy @AFF

Advertisements

41 thoughts on “9 Months [Chapter 7]

  1. Ciieeee… akhirnya menikah jugaaa.. gak jadi nangis di pojokan kamar guee.. *ehhh 😊☺😁😁 wkwkwkwkwkwk….
    Yey!! Yulsicc akhrinya mendapatkan pernikahan yg real.. se real-real nya.. wkwkwkwkwk…

  2. Whoaaaa senengnya kl yulsic akhirnya jd merid, yyeeeyyy
    Mutusin hayoung emng kudu dilakukan dr dlu, biar gak bikn rusuh hubngan yulsic
    Untung aja gw blm sumpahin yuri biar makin item hehe
    Moga aja gak akan ada yg gangguin yulsic lg

  3. nangis aku baca nya, bener2 miris bgt nasib nya jessica, walopun yuri blng cinta sm sica n mau mutusin hayoung, takutnya nnti si hayoung bakalan ganggu hubungan yulsic.hadehhhhh

  4. wah…. scene awal bikin baper aja, hmmm…fiuh.. syukurlah yulsic jadi nikah juga. hehehe….
    maaf ya hayoung, cari namja laen aja, yuri hanya untuk Jessica. wkwkwkwk…

  5. Woooooooooo party party party dulu kekkeke sebelum drama di mulai lebih kejam lagi. Udah yul beneran dah putusin siapalah itu namanya….

  6. Akhirnya mengungkapkan juga kalo yulsic saling jatuh cinta hihi
    Penasaran sama pernikahan mereka dan kehidupàn keluarganya
    Pasti hayoung malah benci sama sica lagi dan mengusik rumah tangga mereka
    Ditunggi updatenya 😊 fighting !!!

  7. Ahirnya pernikahan ini didasari dgn cinta juga. yulsic fighting!! kira2 hayoung mau ga ya diputus ama yul. kyanya bakal ribet juga nih. secara dia cinta bgt gt loh. ya udah deh trgantung takdir (??) aja deh!!

  8. Gw ga jdi mewek.. walau tdi udh smpat mewek di awal yulsic pisahhahahahaha tpi yul akhirnya sadar…. tinggl nunggu mreka nikah asyeeekkk..
    Tpi ap hayoung mau nerima semua itu??

  9. Yah… tarra asik” baca.. knp jengjengjeng yang muncul… Hahahhaa gpp deh akhirnya mereka menikah atas dasar cinta…
    Di tunggu ya kelanjutannya tarra..
    Tarra fighting..

  10. Yeee yulsic g jd galau. Gmn hayoung lg nih. Untung aja yuri kmrn sadar apa yg mau dlakukan hayoung. Kalo g makin galau lh dy.

  11. Aciee cieee, jad juga nikahnya, tapi kasian hayoung tp semoga hayoung dapetin yg lebih baik daro yuri. Dab yulsic bahagia dgn baby nya…

  12. nyesekk, pas yul tiba tiba bilang ““Aku…aku tidak tahu…”
    arggghhhhh,, /jitakkepalayul/ lu bener2 tadi bilang nya gk tau sekarang bilang nya mau nikahhh..
    gitu donk,, lu harus pilih satu diantara dua /kekjudullagu/
    Cieeee,, yg malem nya habis nangisss
    cieeeeee yg mao nikahhhh

    tapi tunggu gue herannn, pas malam itu YulSic mao batalin pernikahan nya? kenapa bayi yg dikandungan nya tidak bereaksi y?
    gue harapnya sii gitu,, ato bayinya? Woooiiiii,, bayii lu masi ada kan??

    tapi gk pa2 gue lega setelah baca ini mereka mao nikah,, tinggal tunggu hayaoung? gue mau liat, apa yg mao dilakukannya..

  13. Ck… gw deg deg an yulsic gk jadi nikah… apaan coba pengantin kok malah nangis. Kok rasanya sakit bener jadi sica. Aih… pilihan yg tepat yul. Hahahah…. tippa andaikan lo itu adalah gw yg bebas meluk sicca dan dapat pacar imut kayak tatang… wah hidup gw pasti penuh dgn cinta wkwkwkw….
    Gw terharu …. the power of love… ahhhh…. gw menunggu kabar bahagia bung~~~
    See ya thor n hwataenggg!!!!

  14. Yuhuuu…sica menang dptin ht yull..
    Gthu dong yull yg gantle jd laki”, tanggung jawab…
    Akhirnya yulsic jadi nikah n kenyataanya itu cinta pertama mreka..soo sweet…
    Btw ini msh bru dimulai kN kisah mreka tarra???
    Mslh hayoung di hapus jah dechhh..Qiqiqi…

  15. Padahal awal udah nyiapin hati kalo2 sica batal nikah
    Tapi yah namanya jodoh ya kagak mungkin sejahat itu buat dijauhkan 2 org ini ckckck
    Tapi ya badai belum ilang ini pastinya

  16. Emak pura” tgar dpan uncle yul pdhal dia jg sbnarnya rapuh, untg aj sllu ada mommy dsisinya..
    .
    Hohoho thanks bgt buat “kotak box” yg udah buat uncle yul kesndung (?) krn drimu akhirnya uncle mnemukan cnta monyetnya (emak) & ninggaln cnta nafsunya (hayoung)… wkwk LOL
    Akhirnya nikah jg, snang bgt lhat emak nangis bahagia gtu 😘

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s