Dear Diary [Chapter 1]

Aku Dira btw, temennya kak Tarra hehe salam kenal…


Chapter 1: Was it a Dream?

 

2 Mei 2016

Dear Diary,

Minggu berlalu dan aku masih tidak bisa tidur nyenyak. Aku bisa mendengar suaranya ke manapun aku pergi, dan bahkan saat aku berusaha tidur. Aku selalu mendengar bisikannya. Dan sejak aku kehilangannya, hidupku sudah tidak berarti lagi. Yang tersisa dalam hidupku hanyalah penyesalan. Aku tidak ingin hidup di dunia ini tanpa kehadirannya. Karena itulah aku menulis diary ini sebagai surat terakhir untuk diriku sendiri. Ini akan menjadi kata-kata terakhirku di dunia ini: “Chaeyoung, maafkan aku, dan aku mencintaimu.”

Aku menulis kata-kata itu tanpa ragu. Aku bahkan tidak berubah pikiran. Aku sudah memantapkan hatiku. Aku menatap halaman diary itu sebelum menyelipkannya di balik baju. Tak ada lagi air mata yang tersisa dan aku sama sekali tidak menyesali apa yang akan aku lakukan sekarang.

Aku berdiri dari kursi meja tulisku dan berjalan menuju pintu yang mengarah ke rooftop. Begitu kubuka pintunya, aku bisa merasakan embusan angin yang menerpa pipiku. Aku menatap langit yang terlihat kelam. Seolah-olah langit itu turut berkabung. Aku mencapai tepi rooftop. Aku melihat mobil-mobil yang tampak kecil dan orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana. Bagi mereka, hari ini sama seperti hari-hari biasanya. Aku bertanya-tanya, apakah di antara orang-orang itu ada yang telah menyerah sepertiku.

“Cih. Untuk apa aku peduli? Lagi pula aku akan mati.” Kataku pada diriku sendiri.

Aku berdiri dan merentangkan tangan. Aku merasakan embusan angin kencang yang mencoba mendorongku menjauh dari tepi rooftop seperti seolah-olah membisikkan: “Jangan lakukan itu.”

Aku memejamkan mata.

Aku kehilangan keseimbangan dan membiarkan tubuhku jatuh dengan sukarela. Aku menitikkan setetes air mata saat kuterjatuh.

Gravity menarikku dengan cepat.

Lalu segalanya berubah gelap.

Aku merasa tersesat.

Gelap dan dingin.

“Di mana aku?”

Lalu perlahan aku bisa melihat cahaya menghampiriku.

Aku bisa merasakan hangatnya sinar matahari di wajahku.

“Apa ini?” tanyaku pada diriku sendiri.

Aku perlahan membuka mataku. Aku memandangi setiap sudut kamarku. Lemari, meja tulis, tempat tidur, lampu— aku berada di kamarku.

Apakah kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi? Semua itu terasa sangat nyata. Aku mencoba untuk bangun perlahan karena aku merasa sedikit mual. Aku menggaruk-garuk dadaku yang terasa gatal. Lalu mataku terbelalak begitu aku merasakan diary yang ada di balik bajuku. Seketika aku mengeluarkannya dan memeriksa halaman terakhirnya.

“2 Mei 2016

Dear Diary,

Minggu berlalu dan aku masih tidak bisa tidur nyenyak. Aku bisa mendengar suaranya ke manapun aku pergi, dan bahkan saat aku berusaha tidur. Aku selalu mendengar bisikannya. Dan sejak……….”

Kejadian tadi bukan hanya mimpi. Apa yang terjadi kemarin? Aku ingat jelas kalau aku melompat dari rooftop. Tapi kenapa aku masih ada di sini? Apa aku ketiduran saat menulis diary itu? Yah, bisa jadi. Tapi aku masih sedikit bingung. Ada yang aneh.

Aku memutuskan untuk jalan-jalan ke luar untuk menjernihkan pikiran. Aku memakai jaket dan topi.

Langitnya begitu cerah. Aku memandangi setiap rumah, gedung, toko yang aku lewati. Semuanya terlihat sama, tapi ada sesuatu yang beda. Aku tidak bisa memahaminya.

Ugh. Kepalaku terasa sakit lagi. Lebih baik aku tidak memikirkan apa-apa sekarang.

Aku memutuskan untuk pergi ke taman yang biasa aku dan Chaeyoung kunjungi. Aku agak merasa gugup begitu aku berjalan menuju taman.

Kelihatannya tidak ada banyak orang hari ini. Bisikku.

Lalu aku memperhatikan sekelilingku lagi. Ada yang berbeda. Aku mencoba mencari tahu apa itu hingga aku melihat seorang gadis duduk di bangku taman, menggambar sketsa, dan terlihat tidak asing lagi. Tidak. Dia bukan hanya tidak asing lagi. Aku benar-benar yakin siapa orang ini.

Son Chaeyoung.

Aku tidak bisa bernapas sejenak. Aku berhenti berjalan. Aku memandangi gadis yang telah hilang dariku. Tanpa sadar aku menangis. Dan setelah melalui hari-hari depresi, aku akhirnya bisa tersenyum. Tanpa pikir panjang aku segera berlari ke arahnya.

“CHAEYOUNG-AH!”

Gadis itu berhenti mencoret-coret sketsanya dan menatapku kaget. Dia berdiri.

Aku memeluknya. Aku bisa merasakan kulitnya yang sudah lama tidak kusentuh. Aroma tubuhnya yang sudah hampir kulupa, akhirnya aku bisa mengingatnya lagi.

“Kau hidup. Aku sangat merindukanmu.” Kataku sambil terus memeluknya.

Dia perlahan mendorongku. Aku terkejut.

“Maaf tapi aku tidak mengenalmu.” Katanya pelan.

Dia mengambil pensilnya yang terjatuh ketika aku memeluknya tadi dan menaruh semua barang-barangnya di dalam tas gendongnya. Dia menggendong tasnya. Aku menghentikannya.

“Tunggu.”

“Ini aku, Mina. Kau tidak ingat? Aku Mina.” Tanyaku tenang.

“Aku minta maaf.” Jawabnya dengan nada dingin.

Dia melangkah pergi.

Aku benar-benar kaget. Aku hampir pingsan sehingga aku jatuh terduduk di bangku taman. Wajahku berubah pucat. Satu jam berlalu dan akhirnya aku tersadar.

Aku memutuskan untuk pulang. Saat kuberjalan, tatapanku kosong. Aku bahkan tidak tahu apakah aku berjalan ke arah yang benar atau tidak.

Lalu aku melihat sebuah pohon.

Pohon ini. Aku yakin pohon ini sudah ditebang dua minggu lalu. Aku sangat yakin. Kenapa pohonnya berdiri lagi?

Mataku terbelalak dan kemudian aku menyadari sesuatu.

Mungkinkah…?

Aku bergegas lari ke apartemenku. Keringatku dingin dan bibirku mengering.

“Tidak. Ini tidak mungking. Hal seperti ini tidak mungkin terjadi.” Aku meyakinkan diriku sendiri.

Tapi aku harus memastikannya. Aku akhirnya tiba di apartemen dan langsung masuk ke kamarku. Aku mengambil buku diary di atas tempat tidur. Di halaman terakhirnya tertulis tanggal 2 Mei 2016. Aku memeriksa laci mejaku.

Buku diary lain. Diary ini sama dengan diary yang kupegang sekarang. Aku menelan ludah karena gugup. Aku memeriksa tanggal di halaman terakhinya. 16 Januari 2016.

Ini tidak mungkin.

Aku memeriksa kedua buku diary ini. Semua isinya terlihat sama, kecuali diary yang satu tidak lagi ditulisi setelah tanggal 16 Januari. Aku mencari ponselku. Keringat membasahi wajahku. Aku menemukan ponselku di bawah tempat tidur. Aku membuka kunci ponselnya.

“9:27AM, MINGGU, 17 JANUARI 2016.”

Aku jatuh terduduk di kursi meja tulisku.

“Apa aku…apa aku kembali ke masa lalu?”

***

TBC

credit:  chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

12 thoughts on “Dear Diary [Chapter 1]

  1. hai…
    part pertama, seprti biasa banyak pertanyaan?.
    apa, itu memang mimpi mina saat mina,menulis diary nya di Bulan januari?, atau memang mina kembali ke masa lalu?.
    tapi kenapa chaeyoung ga kenal mina?.

  2. hmm, 2 mei 2016 dan kembali ke 16 januari 2016…
    tunggu bukannya dia si chaeyoung uda mati y? dan kembali ke masalalu dimana si chaeyoung gk kenal? hmmm.. ok

  3. wow , keren banget ceritanya . mina kembali ke masa lalu nih , chaeyoung gak inget mina . gmana nih kelanjutannya min ? gue lanjut yah …

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s