Dear Diary [Chapter 3]

Chapter 3: Glad we finally met, Mina

 

Sudah tiga hari berlalu dan aku masih belum menerima panggilan telepon atau bahkan SMS dari Chaeyoung. Aku bertanya-tanya apakah aku mengetik nomor yang salah atau ponselnya rusak. Sebenarnya aku tahu nomor teleponnya karena aku sudah menghafalkannya tapi mungkin akan terasa aneh jika aku meneleponnya duluan. Dia mungkin akan mengira kalau aku seorang penguntit.

Aku bosan. Aku hanya menatapi dinding-dinding di apartemenku. Aku berbaring. Aku memeriksa ponsel. Tetap tidak ada apa-apa. Aku menaruhnya. Aku menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong.

Akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan pergi ke suatu tempat untuk sekadar menghabiskan waktu.

Aku pergi ke kedai kopi terdekat. Aku memesan frappe kesukaanku. Aku duduk dan memeriksa ponsel. Masih tidak ada apa-apa. Aku menaruhnya di atas meja.

Aku lelah menunggu. Aku berharap dia kebetulan datang kemari. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan hari ini karena aku tidak menemukan apa-apa di buku diary.

Tempat ini terlihat ramai hari ini. Bukannya hari ini orang-orang sibuk ya?

Oh tunggu. Ponselku baru saja bergetar.

Aku mengangkatnya dengan gembira.

“1 Pesan Teks: Momo.”

Oh bagus.

“Mina-ya, kau di mana? Ayo kita makan. Kau yang traktir.”

Cih. Orang ini hanya tahu makanan.

“Aku sibuk. Kita bertemu lain kali saja unnie.” Balasku.

Aku tidak mau bertemu dengan siapa pun hari ini. Untuk sekarang aku hanya ingin sendirian. Aku kembali meminum kopiku. Aku memandang kursi di hadapanku. Aku sedang tidak fokus saat memandanginya.

Tiba-tiba, aku terkejut.

Aku berhenti menyesap kopiku. Aku menatap seseorang yang tiba-tiba duduk di hadapanku dengan senyum lebar di wajahnya.

“Hai.” Katanya dengan nada bangga.

“Siapa kau?” tanyaku agak kesal.

Dia tidak terlihat seperti orang yang mencurigakan atau seseorang yang akan meminta sedekah. Dia berpakaian rapi dan dengan senyum yang sangat menggemaskan yang dapat dengan mudah meluluhkan hati siapa pun.

“Aku Im Nayeon tapi kau bisa memanggilku Babe.”

Aku hampir menjatuhkan rahangku mendengar perkataannya. Siapa dia? Apa masalahnya?

“Maaf tapi aku tidak mengenalmu dan aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu. Silakan pindah ke meja lain atau kalau kau tidak mau, aku saja yang pindah.” Kataku dengan nada kesal.

“Ada apa denganmu? Aku hanya mencoba untuk membuatmu tertawa karena kau terlihat kesepian.” Katanya dengan nada kesal namun lucu.

Aku mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Aku hanya akan berpura-pura tidak melihatnya.

“Hei! Babe. Maafkan aku. Mari kita bicarakan. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji.” Kata Nayeon.

Kenapa dengannya? Dia berbicara padaku seolah-olah aku adalah pacarnya atau semacamnya. Lelucon macam apa ini?

Aku masih berpura-pura tidak melihatnya.

Ponselku bergetar. Jantungku berdebar-debar. Aku menunduk untuk memeriksa nama penelepon.

Son Chaeyoung – Calling

Aku baru saja akan mengangkatnya ketika Nayeon mengambilnya.

“Halo? Ya. Aku pacarnya. Dia sedang sibuk berkencan denganku sekarang. Silakan hubungi lagi nanti. Dah.”

“Apa yang kau lakukan? Aku sudah menunggu panggilan itu selama tiga hari dan lihat apa yang sudah kau lakukan? Kau mengacaukan semuanya! Kalau kau ingin bermain, ganggulah orang lain!”

“Wow. Meskipun kau berteriak, kau terdengar sangat tenang, Babe.” Dia bahkan tidak terkejut. Aku berdiri, mengambil ponselku dan berjalan keluar.

Ugh. Aku benci dia. Sekarang aku harus pergi ke mana? Aku menelusuri jalanan tanpa tujuan. Aku tidak bisa berpikir jelas karena aku sangat kesal dengan apa yang terjadi tadi. Aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk menelepon Chaeyoung. Sekarang aku harus menunggu telepon darinya lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke taman. Aku duduk di bangku di mana Chaeyoung biasa duduk dan menggambar. Aku terus memandangi ponselku, berpikir-pikir apakah aku harus menelepon atau mengirimnya pesan.

“Sial.” Bisikku.

Aku mengangkat kepala. Pemandangan di depanku mengejutkanku. Chaeyoung. Chaeyoung ada di sini. Dia bersama orang lain. Aku bersembunyi di balik semak-semak di dekat bangku taman. Orang itu. Orang itu adalah orang yang menumpahkan kopi di gaun Chaeyoung. Aku merasa cemburu. Aku tidak bisa melakukan apa-apa sehingga membuatku meneteskan air mata.

“Tidak apa-apa.” Seseorang menepuk pundakku. Aku terkejut.

Aku perlahan menoleh ke belakangku. Mataku terbelalak.

“Sedang apa kau di sini?” bisikku sambil menghapus air mataku.

“Aku merasa tidak enak setelah kau berteriak padaku. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja jadi aku mengikutimu kemari.”

“Kau tidak perlu mengikutiku. Kau bisa saja menganggap kejadian tadi tidak pernah terjadi.”

“Aku tidak bisa melupakan kejadian tadi begitu saja dan kembali menjalani hidup seolah-olah aku tidak mengacaukan hari seseorang seperti yang pernah aku lakukan dulu.”

“Pergi saja.” Aku memandang ke depan. Chaeyoung dan orang itu sudah pergi. “Sial.” Bisikku.

“Bagaimana kalau aku mentraktirmu es krim sebagai bentuk perdamaian.” Tawar Nayeon.

Aku menerima tawarannya dengan enggan. Kurasa dia tidak akan melepaskanku begitu saja sebelum aku menyetujuinya. Jadi aku hanya mengikutinya. Kami pergi ke kedai es krim yang terkenal. Mereka menjual es krim dengan berbagai macam rasa. Semua es krimnya terlihat sangat menggiurkan sehingga aku hampir lupa betapa marahnya aku. Aku memesan secangkir es krim rasa stroberi. Aku menyantapnya dengan nikmat. Saat aku memakan es krim, aku melihat Nayeon menatapku sambil tersenyum.

“Kau terlihat lebih cantik saat kau bahagia.” Nayeon akhirnya berbicara.

“Cih. Kau tahu, kau sedikit aneh.” Kataku sambil tersenyum.

“Wow. Kau benar-benar menyebutku aneh ketika akulah yang seharusnya mengatakan itu padamu. Lagi pula kenapa kau menguntit orang itu? Dan kenapa kau menangis?” tanyanya penasaran.

“Bukan urusanmu.” Aku memalingkan muka.

“Oh! Kebetulan sekali, dia ada di sini!” katanya antusias sambil menunjuk ke belakangku.

Aku menoleh ke belakang. Aku langsung berdiri. Chaeyoung sudah melihat ke arahku bahkan sebelum aku menoleh ke belakang. Dia masih bersama orang itu.

“Mina unnie!” dia melambaikan tangan. Dia berjalan ke arahku.

“Tadi aku mencoba meneleponmu tapi orang lain mengangkatnya dan bilang kalau kau sedang berkencan. Kelihatannya memang benar.” Dia melanjutkan kata-katanya sambil tertawa.

Aku memelototi Nayeon. Nayeon hanya tersenyum bangga.

“Oh. Orang ini yang mengangkat teleponku dan dia hanya bercanda. Jangan mengkhawatirkannya. Ngomong-ngomong kenapa kau meneleponku?” tanyaku.

“Uhm, Tzuyu bilang dia ingin bertemu denganmu dan berterima kasih karena telah menolongku kemarin.”

Tzuyu? Mungkinkah orang yang berdiri di samping Chaeyoung ini Tzuyu yang mencuri kenanganku dengan Chaeyoung? Tanyaku dalam hati.

“Oh itu bukan apa-apa. Aku hanya kebetulan lewat saat hujan turun. Aku Myoui Mina.” Aku mengulurkan tangan kananku pada Tzuyu.

“Aku Chou Tzuyu. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu.” Dia menjabat tanganku.

Aku menatap matanya dalam-dalam. Aku tersenyum menyeringai. Seolah-olah mataku mengatakan, “Aku yakin kau tahu apa yang sedang terjadi. Jangan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Berhentilah merampas apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Aku melepaskan tangannya. Aku mengenalkan Nayeon pada mereka. Mereka saling berjabat tangan. Aku memutuskan untuk meninggalkan kedai es krim dan menarik Nayeon bersamaku.

Chou Tzuyu. Dia tahu sesuatu. Aku yakin itu. Apa pun yang dia rencanakan, aku harus menghentikannya. Aku harus mencari tahu siapa dia, apa niatnya, atau mengapa dia mencuri kenangan-kenanganku dan bersikap seolah-olah semua ini hanyalah kebetulan.

***

TBC

Masih ada yang baca?

credit:  chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

7 thoughts on “Dear Diary [Chapter 3]

  1. hmmm nayeon hadir tiba2 di kehidupan mina. apa nayeon juga tahu sesuatu tentang mina?, seperti tzuyu yg di curigai mina?.
    sepertinya akan jadi rumit. ?.

  2. beda masa ya, gak persis yg ada dibuku diary mina yg lama ceritanya , lambat laun crita yg ditulis di buku diary baru mina tertulis berbeda critanya lebih ditambah bumbu2 kecemburuan . gmana perjuangan mina untuk dapetin hti chaeyoung ..caelah . semangat mina .. wkwwkkwk

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s