Dear Diary [Chapter 5]

Twice’s comeback is around the corner


Chapter 5: The Thirdwheel

 

29 January 2016. Hari ini adalah saaatnya. Aku mematikan alarm ponselku. Aku bangun dari tempat tidur dan meregangkan tubuh. Aku pergi mandi dan mengenakan pakaian yang rapi. Aku langsung menelpon Chaeyoung.

“Hai Chaeyoung. Ini aku Mina.”

“Mina unnie! Apa kabar?”

“Baik. Uhm, apa kau tidak ada rencana hari ini?”

“Hmm, hari ini aku akan pergi bersama Tzuyu. Maaf unnie.”

“Ahh, begitu.”

Aku baru saja akan mengakhiri panggilan ketika dia menyela.

“Uhm, maukah kau bergabung dengan kami?”

Aku tersenyum lebar.

“Sungguh? Apa Tzuyu tidak keberatan kalau aku ikut denganmu?”

“Dia tidak akan keberaran. Kita bertemu di bioskop 30 menit lagi. Sampai nanti unnie.”

“Oke. Sampai nanti.” Aku menutup telepon.

Aku menggigit bibir bawahku berusaha menahan kebahagiaanku. Kukira rencanaku tidak akan berhasil tapi aku senang semuanya berjalan sesuai rencana. Aku langsung pergi ke bioskop menggunakan taksi. Di sepanjang perjalanan aku tidak berhenti tersenyum. Aku merasa seolah-olah akan berkencan bersama Chaeyoung. Meskipun orang bernama Tzuyu itu akan berada di sana juga untuk mengacaukan semuanya, yah mau bagaimana lagi.

Akhirnya aku tiba di bioskop. Aku membayar ongkos dan turun dari taksi. Aku bisa melihat mereka dari kejauhan. Sepertinya mereka datang lebih awal daripada aku. Aku bisa melihat Chaeyoung melambaikan tangannya dengan riang padaku. Aku balas melambaikan tangan. Tzuyu juga melambaikan tangannya. Aku menghampiri mereka.

“Apa aku terlambat?” aku memulai percakapan.

“Tidak. Kami juga baru datang.” Jawab Chaeyoung.

“Kami sudah membeli tiga tiket untuk kita. Bagaimana kalau kau yang membeli popcornnya?” kata Tzuyu.

“Oh. Oke. Popcornya dibayar olehku.” Aku tersenyum.

Kami masuk ke dalam teater dan duduk di kursi yang nyaman. Chaeyoung duduk di antara aku dan Tzuyu. Kami menunggu 5 menit hingga lampu dimatikan. Filmnya dimulai. Aku masih ingat jelas setiap adegan di dalam film ini sehingga aku tidak begitu memperhatikannya. Aku hanya mengunyah popcorn. Beberapa saat kemudian, adegan yang kutunggu-tunggu akan segera muncul. Aku memperhatikan Chaeyoung dan Tzuyu dengan curiga tanpa menolehkan kepalaku  agar tidak terlihat jelas. Chaeyoung baru saja akan memegang tangan Tzuyu. Aku bertindak cepat dan menjatuhkan ponselku dengan sengaja.

“Astaga! Ponselku jatuh!” aku panik.

Chaeyoung berhenti dan menoleh padaku.

“Bisakah kau menyalakan flashlight ponselmu? Aku tidak bisa melihatnya.” Pintaku baik-baik.

Tzuyu menyalakan flashlight ponselnya dan kemudian aku akhirnya melihat ponselku. Aku mengambilnya.

“Maaf mengganggu kalian.” Kataku malu-malu.

“Tidak usah khawatir,” jawab Tzuyu.

Mereka mengembalikan perhatian ke film. Aku kembali mengunyah popcorn. Aku menunggu. Menunggu. Menunggu. Tiba-tiba, Chaeyoung bersandar di bahu Tzuyu. Tzuyu terkejut dan pipinya memerah.

“Kalian masih punya popcorn? Aku sudah menghabiskan punyaku.” Aku menyela mereka.

Chaeyoung kembali menoleh ke arahku. Dia lalu menegakkan posisi duduknya.

Dia menyerahkan popcornnya padaku. “Ini. Kau bisa memakannya.” Dia tersenyum.

“Terima kasih.” Aku menerimanya dan balas tersenyum.

Tzuyu mendengus dan terlihat agak jengkel. Aku tersenyum seperti orang bodoh sambil menikmati popcorn. Setelah beberapa saat Chaeyoung berbicara.

“Aku harus pergi ke kamar kecil.”

“Oke.” Jawab aku dan tzuyu

Dia berdiri dan pergi ke kamar kecil. Aku dan Tzuyu saling berpandangan. Aku tersenyum bangga sekaligus licik padanya. Aku memalingkan muka dan berpura-pura sedang menonton film. Aku mengunyah popcorn sambil tersenyum. Dia keheranan dan kembali menonton film. Chaeyoung kembali setelah beberapa saat. Filmnya berakhir tanpa ada masalah apa pun. Aku menghela napas.

Kami keluar dari gedung bioskop. Akhirnya aku bisa melihat sinar matahari.

“Tadi itu benar-benar film yang bagus. Bagaimana menurut kalian?” tanya Chaeyoung riang.

“Ya.” Jawab Tzuyu. Aku hanya tersenyum karena aku sudah menduga kalau Chaeyoung akan mengatakan hal itu.

“Ayo kita pergi makan es krim.” Saran Chaeyoung dengan gembira.

“Oke. Tapi, bukannya Mina unnie mau pulang?” tanya Tzuyu.

“Tidak, aku tidak keberatan. Hari ini aku tidak begitu sibuk. Ayo kita pergi.” Jawabku dan mulai berjalan. Aku tersenyum bahagia.

Kami lalu pergi ke kedai es krim dan sedikit mengobrol-ngobrol dalam perjalan. Ketika kami tiba di kedai es krim, aku berinisiatif untuk membayar es krim yang mereka pesan. Kami duduk dan mulai menikmati es krim kami. Ketika kami sedang makan, mereka membicarakan beberapa hal yang tidak kupahami karena aku tidak begitu memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Aku hanya mendengar suara tawa. Aku hanya memperhatikan Chaeyoung. Senyumnya, aroma tubuhnya, suaranya, aku tidak bisa menjelaskan betapa aku sangat merindukan setiap bagian dari kehadirannya. Aku berharap waktu akan berhenti di sini. Aku bisa menikmati momen ini selama hidupku. Mataku hampir meneteskan air mata.

Tiba-tiba aku mendengar suara ponsel berbunyi. Aku tersadar dari lamunan.

“Oh, maaf. Aku akan menjawabnya dulu.” Chaeyoung mengangkat ponselnya dan menjawabnya.

“Ya Pak? Sungguh? Oke. Aku akan tiba 15 menit lagi.” Chaeyoung menutup teleponnya.

Chaeyoung membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru.

“Maaf. Aku harus pergi sekarang. Aku harus menyerahkan gambar-gambarku kepada bosku. Kalian bisa berlama-lama di sini dan saling mengenal satu sama lain.” Chaeyoung meminta maaf dan terdengar seperti sedang terburu-buru.

Suasana hatiku mendadak berubah. Tiba-tiba aku merasa sedih melihat Chaeyoung harus pergi. Aku ingin bersamanya lebih lama. Bagian ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Semuanya mendadak berubah sekarang. Aku heran.

“Oke. Hati-hati Chaeyoung.” Aku dan Tzuyu berpamitan pada Chaeyoung.

“Oke. Dah.” Chaeyoung pergi dengan tergesa-gesa.

Suasananya berubah sedikit canggung setelah Chaeyoung pergi. Kami bahkan tidak melihat ke arah satu sama lain. Suasananya begitu canggung sehingga aku harus memecahkan keheningan.

“Jadi, Chaeyoung adalah seorang seniman?” aku berpura-pura tidak tahu.

“Ya. Dia sering menggambar.” Dia tersenyum kikuk.

“Bagaimana denganmu?” tanyaku.

“Aku belum bekerja.” Jawab Tzuyu.

“Sungguh? Kukira kau seorang artis.”

“Apa?” Tzuyu tertawa kikuk.

“Kau terlihat seperti seseorang yang bisa berakting dengan baik. Akting sangat cocok denganmu. Kau bahkan mungkin bisa mendapatkan penghargaan.” Aku tersenyum menyeringai.

“Ap-”

“Oh, sudah jam berapa ini. Aku lupa harus melakukan sesuatu…” aku menaruh cangkir es krim di atas meja dan berdiri. “Sampai nanti Tzuyu.” Aku berpamitan dan meninggalkan Tzuyu yang keheranan.

***

TBC

credit:  chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

5 thoughts on “Dear Diary [Chapter 5]

  1. hahhaha .. kocak si mina .. ada2 aja kelakuannya buat gagalin pedekate nya chaeyong dan tzuyu . hahah haha , smoga aja bisa berhasil ya rencananya . hhaha

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s