Dear Diary [Chapter 6]

ctx11z4umaapipm


Chapter 6: Nayeon, the life saver

 

Aku terbangun dengan senyum lebar di wajahku. Semua yang terjadi kemarin masih teringat jelas dalam benakku. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sejak kematiannya. Sekarang aku akhirnya bisa mengingat bagaimana rasanya bahagia.

Aku merapikan tempat tidur dan melakukan peregangan. Aku berharap hari ini akan lebih baik dari kemarin. Aku membuka gorden kamar untuk melihat betapa cerahnya cuaca hari ini.

Aku merentangkan tanganku ke atas dan menguap. Aku memutuskan untuk mencuci muka dan mengenakan pakaian yang nyaman. Aku pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan. Aku menaruh semua makanan di atas meja dan mulai menyantapnya. Beberapa saat kemudian, aku mendengar ponselku berbunyi dari kamar tidur. Aku segera pergi ke sana berpikir itu telepon yang penting. Aku mengangkatnya.

“Im Nayeon – Calling”

“Apa yang dia inginkan?” tanyaku. Aku menjawabnya.

“Mina-ya. Temui aku di kedai es krim jam 3 sore nanti. Aku bosan. Sampai nanti.” Nayeon menutup teleponnya seketika.

Sial. Dia bahkan tidak bertanya apakah aku ingin bertemu dengannya atau tidak. Kenapa dia selalu bertingkah seperti seorang bos? Ugh. Hariku mendadak kacau. Meskipun aku tidak mau bertemu dengannya, aku tidak punya pilihan karena aku tidak ada kerjaan hari ini dan aku mungkin akan membusuk di apartemen kalau aku tidak pergi ke luar. Aku beres-beres rumah dulu untuk membuang-buang waktu. Setelah beres-beres, aku memutuskan untuk pergi mandi. Aku berdandan alakadarnya dan langsung pergi ke kedai es krim begitu saja.

Aku akhirnya tiba di kedai es krim. Aku memandang sekeliling. “Dia masih belum datang.” Bisikku. Aku mencari tempat duduk dan duduk di pojok ruangan.

Aku menunggu.

Aku memeriksa jam di ponselku. “3:16PM – 30 Jan 2016.”

Aku benci dia. Aku meneleponnya. Dia menjawabnya.

“Minaaaaa! Maafkan aku. Aku tidak bisa datang.” Nayeon menjawab teleponnya dengan penuh maaf.

“Apa? Kau membuatku pergi jauh-jauh ke sini hanya untuk-”

“Maaf. Aku harus melakukan sesuatu.”

Aku baru saja akan memakinya ketika seseorang yang baru saja datang menarik perhatianku. Aku diam membeku seperti orang bodoh. Rahangku hampir terjatuh. Aku memandanginya seolah-olah aku sudah lama tidak melihatnya ketika aku baru saja bertemu dengannya kemarin. Chaeyoung. Chaeyoung ada di sini. Apalagi, dia sendirian.

“Mina-ya! Kau masih di sana? Aku benar-benar minta maaf. Aku akan membayarnya lain-” Nayeon berbicara.

“Tidak apa-apa. Sampai nanti.” Aku mengakhiri panggilan sambil tetap memandangi Chaeyoung.

Chaeyoung tidak melihatku dan berjalan ke arah meja kosong.

“Chaeyoung-ah!” panggilku.

Dia menoleh ke belakang dan sedikit terkejut.

“Oh unnie!” dia melambaikan tangan sambil tersenyum dan berjalan menghampiriku.

Aku menawarkan kursi kosong di hadapanku dan dia duduk di sana.

“Kau sendirian juga?” tanyanya.

“Ya. Di mana Tzuyu?” tanyaku.

“Dia bilang sedang sibuk hari ini. Aku merasa bosan jadi aku pergi ke luar. Aku senang bisa bertemu denganmu di sini.” Jawabnya ceria.

Kami memutuskan untuk membeli makanan. Kami berdua memesan es krim rasa stroberi. Kami duduk dan menikmati es krim kami dan mengobrol-ngobrol ringan. Kukira Nayeon sudah mengacaukan hariku tapi sebenarnya dia menyelamatkannya. Kami menghabiskan es krim dan duduk berlama-lama sambil tetap mengobrol. Beberapa saat kemudian Chaeyoung merasa bosan.

“Mina unnie, ayo kita jalan-jalan ke taman.” Saran Chaeyoung.

Aku tidak menduga dia masih ingin bersamaku lebih lama lagi. Tidak ada alasan untuk berkata tidak.

“Tentu.” Aku menerimanya dengan suka hati.

Kami berdiri dan berjalan bersama. Meskipun aku mengenalnya dengan baik, aku masih merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Aku merasa seolah-olah sedang berjalan dengan orang asing. Tidak. Aku merasa seakan-akan akulah yang sebenarnya orang asing baginya. Ketika kami tiba di taman, kami menikmati indahnya pemandangan bersama. Tapi sejujurnya, bukan pemandangannya yang aku nikmati. Melainkan Chaeyoung. Aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Setelah berjalan-jalan cukup lama, kami memutuskan untuk duduk di bangku taman.

“Ini tempat pertama kita bertemu bukan?” kata Chaeyoung sebagai awal obrolan.

“Ah, ya. Anggap saja itu tidak pernah terjadi.” Kataku malu-malu.

Kami berbicara tanpa saling memandang satu sama lain dan hanya memandangi pemandangan di depan kami.

Chaeyoung terkekeh. “Kejadian itu cukup lucu. Tidak usah malu.”

“Tetap saja.”

“Chaeyoung…nama dia juga Chaeyoung, kan?” tanyanya.

“Ya.” Jawabku.

“Kalian dulunya berpacaran?” dia lanjut bertanya.

Dia menatap ke arahku. Aku mengangguk tanpa balas menatapnya.

“Di mana dia sekarang?” aku menoleh ke arahnya ketika mendengar pertanyaan ini. Aku memalingkan muka lagi.

“Dia meninggal.” Jawabku.

Chaeyoung agak terkejut dan menundukkan kepala. “Maaf.” Dia meminta maaf.

Aku menarik dan mengembuskan napas dengan cepat. “Tidak apa. Kurasa aku sedikit mendingan sekarang.”

Chaeyoung merasa lega mendengar bahwa aku baik-baik saja.

“Lalu, kau tidak pernah berpacaran setelah dia, kau tahu.” Tanyanya penasaran.

“Tidak. Dia belum lama meninggal. Tapi, meskipun demikian, kurasa aku tidak akan bisa mencintai seseorang sebagaimana aku mencintainya.”

Dia menoleh ke arahku. Dia tersenyum. “Dia sangat beruntung.” Aku sedikit kaget. Aku menoleh ke arahnya.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Karena kau sangat tegar dan kau masih setia padanya.” Dia tersenyum kecil.

Aku tersenyum kagum. “Kuharap dia mendengar apa yang kau katakan tadi. Gadis itu tidak tahu betapa kerasnya aku berjuang untuknya tapi dia sungguh tidak peka.” Aku tersenyum dan menunduk, menggelengkan kepala.

Dia hanya memandangiku. Aku menatap langit.

“Kurasa hari mulai gelap. Haruskah aku mengantarmu pulang?” cemasku.

“Ah, tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Kau bisa pulang duluan. Aku akan baik-baik saja.” Tolak Chaeyoung.

“Kau yakin?”

“Ya.” Dia tersenyum.

Kami berdua berdiri. “Oke. Hati-hati, Chaeyoung.” Aku tidak mau memaksanya jika dia tidak ingin aku mengantarnya pulang.

“Kau juga unnie.”

Kami lalu berpisah dan pulang dengan selamat.

***

TBC

credit:  chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

6 thoughts on “Dear Diary [Chapter 6]

  1. pendek banget. 😁😁
    mina kenapa ngomong begitu?. bagaimana kalau chaeyeong yg baru menyukai mu?. dia bisa mundur nanti kalau dia tau kamu ga bisa mencintai orang lain?.
    mina berterima kasih lah pada nayeon. 😁😁

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s