Dear Diary [Chapter 7]

16.10.24

cvbofevumaartou
MY GIRL, MYOUI MINA

Chapter 7: A Day with Satan

 

Aku berjalan tanpa tujuan. Malam ini sungguh ramai. Rembulan bersinar dan bintang-bintang berkelip. Aku tidak tahu ke mana arah tujuanku. Suara mobil-mobil terdengar di mana-mana. Orang-orang melirik ke arahku saat aku berjalan melewati mereka. Mungkin karena aku terlalu kelihatan jengkel.

“Mina unnie! Tunggu aku!” mohon Chaeyoung sambil berusaha mengejarku.

Aku tidak menghiraukannya dan terus berjalan. Chaeyoung mempercepat langkahnya untuk menyusulku.

“Mina unnie. Biar aku jelaskan.” Dia meraih pergelangan tanganku.

Aku menatapnya tajam. Aku meraih tangannya yang memegang pergelangan tanganku dan melepaskannya. Aku melanjutkan langkahku.

“Mina unnie!” dia tidak menyerah dan terus mengikutiku.

Aku terus mengabaikannya dan melihat ke kiri dan ke kanan. Aku mulai menyebrangi jalan dengan tatapan kosong.

“Mina unnie! Dengarkan aku!” pinta Chaeyoung dan bergegas mengejarku.

Tiba-tiba, aku mendengar bunyi berciut dan hantaman keras. Aku menghentikan langkah. Jantungku berdebar kencang hingga aku tidak berani menoleh ke belakang. Bibirku mengering dan wajahku memucat. Perlahan, aku berbalik. Tanganku mulai gemetar dan mataku berlinang.

Chaeyoung terbaring, berdarah dan tidak berdaya.

“Ch-Ch-Cha-Chaeyoung-ah…” panggilku terbata-bata. Aku melangkah dengan air mata menuruni pipi.

“CHAEYOUNG-AHHHHH!” teriakku.

Jantungku berdebar-debar begitu aku mendengar alarm ponsel. Aku terbangun. Keringatku terasa dingin dan jantungku terus berdegup kencang. Aku terengah-engah. Aku mematikan alarm ponsel. Menutup wajahku dan mengerang.

“Kenapa aku tiba-tiba memimpikan itu?” tanyaku.

Aku merasa belum sepenuhnya terbangun sehingga aku mencoba turun dari tempat tidur. Aku meregangkan tubuh dengan malas. Aku menampar-nampar pelan wajahku untuk membangunkanku dan pergi ke kamar mandi. Saat aku mencuci wajah, aku berhenti sejenak. “Kenapa kejadian itu muncul di dalam mimpiku?” aku bertanya-tanya.

Aku duduk untuk memeriksa diary asliku dan melihat apa yang akan terjadi padaku dan Chaeyoung hari ini. Ponselku mulai berdering bahkan sebelum aku membaca kata pertama di halaman itu. Aku mengambil ponsel di atas tempat tidur dan memeriksa siapa yang menelepon.

“Im Nayeon – Calling”

Si setan ini mulai lagi. Bagus. Aku duduk di tempat tidur dan menjawab teleponnya.

“Mmm…” jawabku malas.

“Mina-ya. Temui aku di kafe sekarang. Ayo kita minum smoothie. Aku yang traktir.”

“Apa? Sekarang?”

“Ya. Aku sudah di sini. Aku akan menunggumu.” Nayeon menutup teleponnya.

Aku segera mengenakan pakaian kasual dan meninggalkan apartemen. Aku pergi dengan berjalan kaki. Butuh waktu 10 menit untuk aku tiba di kafe. Aku bisa melihat Nayeon dari kaca jendela kafe. Dia melambai ke arahku sambil tersenyum. Sial. Senyumnya sangat mematikan, sungguh. Aku membuka pintu dan lekas berjalan ke tempat di mana Nayeon duduk. Aku duduk di hadapannya.

“Heeey!” sapa Nayeon riang.

Senyum itu lagi. Ugh. Hentikan. Aku berpura-pura masih kesal dengan apa yang terjadi kemarin sehingga aku memasang tampang jengkel.

“Kau masih marah karena kemarin? Ayolah. Maafkan aku. Oke?”

Aku tidak menjawab.

“Cih. Bukan hanya aku yang bersalah.”

Aku merasa heran. “Maksudmu?” tanyaku.

“Tidak heran kau tidak mengomeliku saat aku mengajak Momo berkencan.”

Aku terkekeh. “Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Aku mengajaknya berkencan. Dia menyetujuinya karena aku bilang aku yang traktir. Tapi begitu makanannya datang, dia hanya mengunyah makanannya dan mengabaikanku. Maksudku, siapa yang SANGGUP mengabaikan Nayeon yang Agung?”

Aku mulai tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan. “Yah, sepertinya kita seimbang.”

Nayeon tersenyum menyeringai.

“Ayo kita memesan. Kau mau makan apa?” tanyanya.

“Apa saja.” Jawabku.

Dia berdiri dari kursinya dan memesan makanan. Aku memeriksa ponselku untuk melihat apakah aku menerima SMS dari Chaeyoung atau tidak. Aku tidak menemukan apa-apa. Haruskah aku mengirimnya SMS? Tapi aku tidak punya keberanian. Mungkin seharusnya aku tunggu dia SMS duluan. Aku menaruh ponsel di atas meja.

Aku mendesah pelan.

Nayeon kembali dan duduk. “Mereka bilang makanannya akan siap 10 menit lagi.”

“Oke.” Aku tersenyum.

“Aku lupa bilang. Kau terlihat lelah dan ngantuk.” Tampang Nayeon terlihat cemas.

“Ahh. Mungkin karena aku mimpi buruk.” Jawabku.

“Tentang apa?”

“Kematian Chaeyoung.”

Dia berhenti sejenak memikirkan apa yang akan dikatakan selanjutnya.

“Ahh…aku selalu ingin menanyakan ini padamu, tapi aku tidak berani karena aku takut menyinggung perasaanmu atau membuatmu teringat akan kesakitanmu atau semacamnya.”

“Menanyakan apa?” tanyaku penasaran.

“Bagaimana dia bisa meninggal? Tidak, maksudku, kenapa dia meninggal?”

“Bukankah kau sudah membacanya di buku diaryku?”

“Yah, uh, aku tidak membaca semuanya karena isinya terlalu panjang. Aku hanya membacanya sekilas.” Nayeon beralasan.

“Oh. Dia meninggal karena satu alasan yang bodoh.”

“Seperti?” Nayeon terlihat seolah-olah dia sangat tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi.

Aku mendesah dan mulai berbicara.

“Oke. Jangan menghakimiku.”

Dia mengangguk.

“Hari itu aku akan menemui Chaeyoung di kafe. Bukan kafe ini. Tapi sesuatu terjadi sehingga aku mengirimnya SMS kalau aku tidak bisa ke sana. Dia membalas SMS-ku dan bilang kalau dia sudah berada di sana tapi dia mengatakan kalau dia akan baik-baik saja sehingga aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Tapi saat aku pergi ke tempat yang harus aku tuju, rencananya dibatalkan. Aku sangat kesal. Aku mengirim Chaeyoung SMS memberitahunya kalau aku bisa bertemu dengannya sekarang tapi dia tidak membalas SMS dariku. Aku lalu pergi ke sana, tidak yakin jika dia masih berada di sana. Ketika aku tiba di sana, skenario yang tidak mengenakkan terjadi di depan mataku. Chaeyoung sedang dipeluk oleh seseorang. Aku yakin mereka hanya berteman. Tapi lebih parahnya lagi, orang itu mencium pipi Chaeyoung sambil tetap memeluknya. Aku tidak pernah melihat wajah orang itu karena aku berdiri di belakangnya. Aku hanya dapat melihat wajah Chaeyoung. Aku berdiri membeku seperti orang bodoh dan hanya menatap mereka. Lalu Chaeyoung menyadari kehadiranku dan mendorong orang itu darinya.

“Mina unnie.” Chaeyoung memanggilku dengan gugup.

Ekspresi wajahku datar dan aku pergi darinya dan dari kafe itu. Lalu kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, kan?”

Nayeon terlihat kebingungan dan berpikir-pikir.

“Wow. Kau benar-benar bodoh.” Nayeon akhirnya berbicara.

“Aku tahu.”

“Kau bahkan tidak memberi dia kesempatan untuk menjelaskan. Orang itu mungkin saja hanyalah orang asing yang baru saja dia temui dan mungkin saja hanya menggodanya.” Kata Nayeon seakan-akan aku sangatlah bodoh karena tidak mengizinkan Chaeyoung untuk membela dirinya sendiri.

“Apakah orang asing akan memeluk dan mencium seseorang yang tidak dikenalnya? Yang benar saja?” jawabku dengan nada kesal.

“Kenapa tidak? Itu yang biasa aku lakukan juga.” Nayeon tersenyum menyeringai.

“Wow. Aku tidak percaya. Kau benar-benar sesuatu.” Kataku sinis.

“Yah, aku memang salah karena menyimpulkan sesuatu dengan terburu-buru. Aku bertindak berlebihan. Aku tahu. Dan juga, saat itu aku sangat kesal karena rencanaku dibatalkan dan skenario itu menambah kekesalanku. Seharusnya aku menenangkan diriku lebih dulu. Tapi sekarang aku memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Aku pasti akan memperbaikinya.” Jelasku dengan penuh keyakinan.

Nayeon tersenyum. “Aku ikut senang.”

Setelah semua perbincangan itu, makanannya siap. Kami menyantapnya dengan lahap dan mengobrol tentang Nayeon dan gadis-gadisnya. Aku tidak bisa menghitung berapa banyak gadis yang sudah dia sebutkan. Aku juga mengetahui alasan kenapa dia mencampakkanku kemarin; salah satu gadisnya mengajaknya bertemu. Dia beruntung makanan di sini rasanya enak sehingga aku tidak sempat memakinya. Waktu berlalu begitu cepat saat aku sedang bersama Nayeon. Terkadang, dia tidak begitu buruk.

Sudah hampir pukul 6 sore sehingga kami memutuskan untuk berpisah dan pulang. Aku terus memeriksa ponselku saat berjalan menuju rumah berharap mendapatkan SMS dari Chaeyoung. Tapi aku tidak mendapatkan apa-apa.

Ketika aku tiba di apartemen, aku langsung pergi ke kamar tidur untuk mengganti pakaian. Setelah memilih pakaian, aku melihat diary di atas mejaku. Aku lupa memasukkanya kembali ke laci sebelum aku pergi. Aku melirik beberapa kata yang membuatku berhenti sejenak dan mulai membaca halaman itu. Setelah membaca apa yang tertulis, aku berlari keluar dari apartemen.

***

TBC

Ka’ Tarra lagi so sibuk hahaha

credit:  chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

6 thoughts on “Dear Diary [Chapter 7]

  1. mina, kenapa ga jadian aja ama nayeon?. 😁😁
    apa mungkin kejadian itu akan terulang lagi,?. dimana chaeyeong ke tabrak mobil karna mengejar mina, tapi sekarang berubah, yg fi kejar tzuyu, dan mina menyelamatkan chaeyeong. ??
    arghh…. penasaran banget kelajutan nya !.

  2. jangan bilang mina ada rasa juga sama nayeon . yahh , klo ada , gak pa2 . gue suka . hehehhe . terus knp tuh mina setelah baca diary langsung lri keluar . mungkinkah kejadian ditabraknya chayeong akan terulang lagi …

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s