Dear Diary [Chapter 8]


Chapter 8: Don’t Go

31 Januari 2016

Dear Diary,

Hari ini aku menghadiri pesta bersama Momo. Ponselku mati sehingga aku tidak bisa mengetahui keadaan Chaeyoung. Pestanya berakhir sangat larut. Aku pulang dengan keadaan lelah dan mengantuk. Waktu menunjukkan pukul 11 malam ketika aku tiba di rumah.  Dan aku baru menulis diary ini pada hari ini (1 Februari 2016). Meskipun aku sangat mengantuk untuk melakukan sesuatu, aku berupaya untuk mengisi baterai ponselku agar bisa memeriksa keadaan Chaeyoung. Ketika aku berhasil menyalakannya, notifikasi SMS muncul berulang-ulang kali. Aku menerima 20+ SMS dari Chaeyoung. Aku mulai membacanya satu per satu. Dan SMS yang terakhir bertuliskan: “Mina unnie, aku merasa tidak enak badan. Aku tidak bisa bangun lagi.”

Jantungku berdegup kencang. Aku segera keluar dari apartemen dan pergi ke apartemen Chaeyoung. Ketika aku tiba di sana, suhu tubuh Chaeyoung sangat tinggi dan tubuhnya menggigil. Dia terlihat tidak sadarkan diri karena dia tidak kunjung berbicara padaku. Aku sangat cemas sehingga aku menelepon ambulans. Setelah dia dibawa ke rumah sakit, dokternya bilang kalau dia hanya demam tinggi. Aku merasa sedikit lega mendengarnya. Tapi dokter juga bilang kalau Chaeyoung harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Aku berharap agar dia lekas sembuh.

Aku keluar dari apartemenku dengan terburu-buru.

“Sial. Kenapa aku tidak mengingatnya?” pikirku.

Aku memanggil taksi agar tiba di sana secepat mungkin. “Bisa lebih cepat sedikit, Pak? Aku sedang buru-buru.” Kataku cemas. “Baik nona. Akan saya usahakan.” Kata pengemudi taksi yang tidak muda lagi itu.

Aku memandang ke luar untuk memeriksa apakah aku sudah dekat dengan apartemen Chaeyoung atau belum. Aku sangat panik. Napasku terengah-engah. Aku tidak bisa menenangkan diriku. Aku terus meneleponnya tapi dia tidak kunjung menjawab panggilan dariku. “Tunggu aku, Chaeyoungie.” Gumamku.

Ketika akhirnya aku tiba di apartemennya, aku merasa agak tenang mengetahui aku berhasil tiba di sini. Aku membayar ongkos taksi dan segera turun begitu taksinya berhenti. Aku berlari ke pintu apartemennya dengan terburu-buru. Aku tidak repot-repot mengetuk pintunya dan langsung masuk begitu saja seperti yang selalu aku lakukan dulu.

Apartemennya gelap sekali. “Chaeyoung-ah?” panggilku cemas. Aku menyalakan lampu dan di luar dugaanku, aku melihat Chaeyoung terbaring menggigil di lantai dengan selimut di tubuhnya. Aku langsung menghampirinya dan berlutut.

“Chaeyoung-ah.” Kataku sambil meletakkan tanganku di bahunya. Dia membuka matanya perlahan untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Mina unnie? Se-sedang apa kau di sini?” tanyanya dengan suara yang serak.

Aku meraba keningnya untuk memeriksa kondisinya. “Astaga. Kau panas sekali. Aku akan menelepon ambulans.” Aku lekas mengeluarkan ponsel dari saku celanaku. “Jangan.” Chaeyoung menolaknya sambil mengerang. “Tapi lihat keadaanmu. Panasnya akan semakin tinggi. Lebih baik aku-”

“Tetap di sini…kumohon.” Chaeyoung memohon dengan mata terpejam.

Aku mendesah. “Ayo…kau harus berbaring di tempat tidur.” Aku mengulurkan tangan. Perlahan dia meraih tanganku. Aku membantunya berjalan ke kamar tidur sementara tubuhnya masih ditutupi selimut. Dengan hati-hati aku membaringkannya di tempat tidur.

“Aku akan ambilkan air hangat dan handuk agar kondisimu membaik.” Aku baru saja akan pergi dan mengambilkan beberapa barang namun dia meraih pergelangan tanganku. “Jangan pergi.” Pinta Chaeyoung.

Aku berlutut di sampingnya dan tersenyum. “Aku tidak pernah pergi. Aku selalu di sini menantimu. Ke mana saja kau selama ini?”

Chaeyoung terlihat tidak sadar sehingga dia tidak mendengar apa yang baru saja kukatakan. Tubuhnya masih menggigil kedinginan dan matanya tertutup rapat. Aku menyeka rambutnya ke samping untuk bisa melihat wajahnya lebih jelas. Aku menyentuhkan jari telunjukku ke pipinya untuk merasakan kulitnya. Aku tersenyum. “Sudah lama aku tidak melihat wajahmu sedekat ini.”

Aku menghela napas. “Aku hanya akan mengambil beberapa barang dan kembali lagi, oke?”

Dia mengerang.

Aku berdiri dan pergi ke dapur untuk memasak air dan mengambil obat. Ketika aku kembali, aku langsung melakukan pertolongan pertama. Aku juga membantunya untuk meminum obat. Aku membereskannya kembali dan pergi ke dapur. Aku kembali memeriksa keadaan Chaeyoung. Tubuhnya masih menggigil namun dia terlihat lebih baik daripada sebelumnya.

Ponselnya tiba-tiba berdering. Aku memeriksanya untuk melihat siapa yang meneleponnya.

“Chou Tzuyu – Calling” aku menatap layar ponsel dengan ekspresi datar dan melirik Chaeyoung sekilas. Aku menunggu panggilan itu berakhir. Aku memeriksa jam di layar ponselnya.

“11:07PM – 31 Januari 2016” dering ponselnya tiba-tiba berhenti dan aku memeriksa SMS-nya. Dia sudah mencoba menghubungi Tzuyu dan memberitahunya kalau dia sedang sakit. Aku mulai mengetik SMS di ponsel Chaeyoung untuk Tzuyu.

“Tzuyu-ya. Aku sudah mendingan sekarang. Tidak usah mencemaskanku. Beristirahatlah~” aku mengirimnya SMS.

Dia membalasnya dengan cepat. “Chaeyoungie! Aku sedang berada di luar tadi dan ponselku mati jadi aku tidak bisa mengabarimu. Maafkan aku. Aku lega kau baik-baik saja sekarang. Tapi aku masih ingin memeriksa kondisimu.”

“Tidak usah. Aku baik-baik saja. Aku tahu kau lelah. Kau istirahat saja. Kita bertemu besok. Oke? Selamat malam.” Balasku.

“Oke. Tidur nyenyak Chaeyoungie~” balasnya.

Aku langsung menghapus SMS tadi dan menaruh ponselnya di atas meja. Aku berlutut di samping Chaeyoung dan memeriksa kondisinya. Tubuhnya masih menggigil. Aku berdiri dan berbaring di sampingnya. Aku merangkulnya dari belakang. Dia terus merintih. Aku memejamkan mata dan tersenyum sambil mendekatkan tubuhku dengannya. Tanpa kusadari aku pun terlelap.

Aku terbangun dan mengerang kecil. Sekelilingku mendadak menjadi terlalu terang karena tadi malam ruangan ini cukup gelap. Aku baru sadar kalau aku tertidur. Perlahan aku membuka mata dan melihat Chaeyoung sudah pergi. Aku memeriksa sekelilingku untuk mencarinya. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menghampiri pintu kamar tidur.

Chaeyoung masuk dengan membawa nampan berisi sarapan di atasnya. “Unnie, kau sudah bangun?”

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku.

“Aku baik-baik saja sekarang.” Jawabnya sambil menaruh nampan di atas tempat tidur di hadapanku. “Ini. Makanlah sarapan.” Dia duduk di meja belajarnya. Wajahnya masih terlihat pucat namun terlihat lebih cerah dibandingkan semalam.

“Ngomong-ngomong, terima kasih.” Chaeyoung berterima kasih padaku.

“Tidak apa-apa.” Jawabku sambil mengambil makanan dari nampan. Aku mulai mengunyah makanannya.

“Bagaimana kau tahu di mana tempat tinggalku?” tanyanya.

Aku terbatuk-batuk dan hampir tersedak. Telapak tanganku basah karena keringat. “Uhm, kau ingat saat di taman waktu itu? Aku mengikutimu pulang karena aku merasa khawatir. Aku benar-benar minta maaf.”

“Ahh… benarkah? Tidak apa-apa. Tapi apa yang membuatmu datang ke sini tadi malam?”

Sial. Chaeyoung kumohon maafkan aku karena berbohong padamu.

“Aku ingin mengunjungimu karena aku sangat bosan. Aku tidak tahu kau sakit.” Aku memberi alasan.

Aku mulai mengigit bibir bawahku.

Dia tersenyum kecil. “Kalau kau tidak datang, aku pasti sudah mati sekarang.” Dia terkekeh. Ekspresi wajahku agak berubah.

“Jangan bercanda. Aku benci gurauan seperti itu.” nada suaraku terdengar jelas kalau aku tidak menyukai apa yang dikatakan Chaeyoung.

Dia menundukkan kepala. “Maaf.”

“Jangan bercanda seperti itu lagi, oke?” aku tersenyum. Dia tersenyum dan mengangguk. Tiba-tiba pandangan kami bertemu dan saling memandang satu sama lain. Hatiku meleleh. Ini mengingatkanku pada hari-hariku bersama Chaeyoung dulu. Beginilah cara dia memandangku dulu; dalam dan penuh makna. Dan sejak aku bertemu dengannya lagi, aku tidak pernah melihat dia memandangku seperti dulu. Dia bahkan tidak pernah menatap mataku langsung. Dia akan selalu memusatkan pandangannya ke bagian wajahku yang lain setiap kali kami mengobrol, tapi tidak pernah langsung menatap mataku.

Tatapan kami semakin intens. Aku menelan ludah.

“Mina un-” Chaeyoung baru saja akan mengatakan sesuatu padaku ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Dia memiringkan kepalanya ke kiri dan mengambil ponselnya dari meja di sebelahnya. Dia langsung menerima panggilan tersebut.

“Tzuyu-ya! Bagaimana kabarmu?” Chaeyoung menyapa Tzuyu dengan riang.

Raut wajahku mendadak berubah begitu aku mendengar nama Tzuyu. Aku memalingkan muka dan berpura-pura sedang memeriksa sekeliling kamar tidur.

“Ya. Aku baik-baik saja sekarang. Oke kalau begitu aku akan mandi dan pergi ke sana. Sampai jumpa.” Chaeyoung mengakhiri panggilan.

“Mina unnie…”

Aku mengembalikan perhatianku padanya. “Mmm?”

“Aku akan pergi keluar.”

“Ahh…kalau begitu aku akan pergi juga.” Kataku sambil turun dari tempat tidur.

“Kita pergi bersama saja. Aku hanya akan mandi sebentar.” Saran Chaeyoung.

“Oke.”

Chaeyoung berdiri dan mengambil baju yang akan dipakainya. Aku kembali duduk di tempat tidur. Dia langsung pergi ke kamar mandi. Aku melihat piring-piring di sampingku. Aku memutuskan untuk bersih-bersih dan membawa piring-piring itu ke dapur. Aku mencuci piring sambil menunggu Chaeyoung. Setelah mencuci piring, aku berbaring di sofa. Aku berbaring seperti di rumah sendiri. Aku meregangkan tubuh. “Hayyyy. Aku sungguh rindu berbaring di sini.” Tiba-tiba, aku ingat Chaeyoung akan pergi keluar bersama Tzuyu. Lagi-lagi, raut wajahku berubah. “Aku benci dia.” Bisikku.

Tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Seketika aku bangun dan duduk sopan.

Kamar mandi itu berlokasi tepat di depan sofa. Aku melihat Chaeyoung keluar dengan wajah yang terlihat polos dan segar. Dia menyadari kehadiranku. “Aku akan memakai make up dulu. Kau juga?”

“Tidak usah.” Aku menolaknya. Dia pergi ke kamar tidurnya. Aku menunggu di sofa dengan sabar. Aroma parfum tercium dari kamar tidurnya. Aromanya seperti stroberi. “Dia masih memakai parfum yang sama.” aku tersenyum. Beberapa saat kemudian, dia keluar dengan penampilan yang sangat mempesona. Aku hampir meneteskan air liur saat menatapnya. Dia bahkan tidak terlihat seperti baru bangun dari sakitnya.

“Kita pergi sekarang?” undang Chaeyoung. Aku tersentak. “Ah ya, ayo.” Aku berdiri dan kami keluar dari apartemen bersama-sama. Matahari bersinar terang. Orang-orang terlihat ceria saat kami berjalan melewati mereka. Akan tetapi, kami berdua tidak mengatakan apa-apa saat kami berjalan. Aku masih bisa merasakan aura kecanggungan menyelimutiku. Kami berjalan bersama selama 8 menit sebelum akhirnya berpisah.

“Sampai jumpa nanti.” Kata Chaeyoung berpamitan padaku.

“Ya. Hati-hati.” Balasku.

Aku berbalik dan mulai berlalu. Setelah 8 hingga 10 langkah aku mendengar Chaeyoung mengatakan sesuatu dari belakangku.

“Tunggu!” dia berbicara. Aku berhenti dan berbalik.

Dia berlari ke arahku dan langsung memelukku. Aku tertegun dan jantungku berdegup kencang. Aku tidak bisa membalas pelukannya karena aku bahkan tidak bisa mengangkat satu jari pun saking terkejutnya.

“Hati-hati.” Katanya sambil melepaskan pelukan dan berlalu pergi tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara.

***

TBC

credit:  chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

4 thoughts on “Dear Diary [Chapter 8]

  1. Oh My God chaeyoung knapa kau tiba” memeluknya?? Gue deg deg serrr masa. Tzuyu kau benar” pengganngu. Oh semoga cepat ada kelanjutannya

  2. chaeyoung udah ada rasa nih sama mina ? asekkk .. tzuyu sama yg lain aja . jgn ganggu uri chaeyoung dan mina . hehehhee

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s