Dear Diary [Chapter 9]


Chapter 9: Nice To Meet You

 

Apa yang terjadi tadi membuatku tercengang. Aku pulang ke apartemen tanpa menyadari apa yang terjadi di sekelilingku. Kejadian tadi terus terputar dalam ingatanku. Aku berbaring di tempat tidur dan tersenyum konyol setiap kali mengulangnya. “WAAAAHHHHH!” aku harus mengeluarkannya dari benakku sehingga aku berteriak. Aku mulai berguling-guling di atas tempat tidur. Mina yang biasanya tenang baru saja mati. Aku tidak bisa menjelaskan kebahagian yang aku rasakan saat ini. Aku melompat-lompat di atas tempat tidurku. Aku terus memukul-mukul bantalku hingga lelah dan kembali berbaring. Aku mengembuskan napas sambil tersenyum.

Aku memutuskan untuk menelepon Nayeon dan menemuinya untuk merayakan hari ini.

“Ayo kita bertemu.” Aku mengajaknya dengan gembira.

“Wow. Tidak seperti biasanya.” Dia terdengar sedikit terkejut.

“Ayo.” Aku bersikeras.

“Dengan senang hati tapi aku sedang kencan sekarang. Maaf. Mungkin lain kali?” dia menolaknya.

Aku merasa kesal sehingga kumatikan teleponnya. Aku memutuskan untuk menelepon Momo.

“Momo unnie. Ayo kita bertemu. Aku akan mentraktir apa pun yang kau mau.”

“Mina-ya. Aku ada rencana kencan dengan seseorang. Maaf.”

“Apa? Dia juga? Kenapa dengan orang-orang hari ini?” pikirku. Aku baru saja akan mengakhiri panggilan ketika dia memotongnya.

“Oh, kau bisa bergabung dengan kami. Aku ingin mengenalkan dia padamu.”

Aku ingin tahu siapa orang itu tapi aku tidak bertanya dan menyetujuinya begitu saja.

“Kita bertemu di retoran Jokbal. Sampai nanti.” Momo menutup teleponnya.

Aku bersih-bersih dan pergi ke sana. Mereka sudah berada di sana ketika aku datang. Momo duduk menghadap ke arahku ketika aku masuk dan teman kencannya duduk di hadapannya sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Momo menyadari kehadiranku dan melambaikan tangan padaku. Teman gadisnya menoleh untuk melihat siapa aku. Aku tidak mengenalnya. Tapi dia terlihat cantik. Dia juga terlihat seperi orang yang tegas dan serius. Dia sedikit membuatku takut. Aku melambaikan tangan pada mereka. Gadis itu tersenyum padaku. Aku balas tersenyum. Aku berjalan ke arah mereka dan duduk di samping Momo. Aku langsung mengulurkan tanganku pada gadis di hadapanku.

“Hai. Aku Mina. Senang bertemu denganmu.” Aku tersenyum.

“Aku Jungyeon. Senang bertemu denganmu juga.” Dia tersenyum dan menjabat tanganku.

“Aku akan memesan makanan untuk kita.” Kata Jungyeon sambil berdiri dan pergi ke kasir.

“Dia yang menolongku saat perutku sakit waktu itu.” kata Momo.

“Ahh. Jadi dia orangnya. Kalian pacaran?” tanyaku.

“Tidak. Dia membelikanku makanan setiap hari jadi kami selalu bertemu.” Jawab Momo.

Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Sudah kuduga.”

Setelah beberapa saat Jungyeon kembali dan duduk. “Makanannya akan siap dalam 15 menit.” Katanya.

Aku tersenyum. “Jadi kalian berdua bertemu di sini saat perut Momo sedang bermasalah?” tanyaku.

“Ya.” Dia tertawa kecil. “Momo sering berbicara tentangmu. Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan sahabatnya.”

“Ahh. Aku juga senang akhirnya bertemu dengan seseorang yang bisa mengatasi Momo selain aku.” Jungyeon dan aku tertawa bersama. Momo memelototi kami.

Aku sedang mengobrol-ngobrol santai bersama Momo dan Jungyeon ketika seseorang yang baru saja datang menarik perhatianku. Dia langsung melihatku dan melambaikan tangan. “Mina-ya!” sapa Nayeon. Dia bersama seseorang. Mereka berdua menghampiri kami. Dia melirik orang-orang yang sedang bersamaku. Dia mengenali Momo dan melambaikan tangan. Momo membalasnya. Nayeon mengalihkan pandangannya ke arah Jungyeon. Dia menatapnya seperti yang tertarik padanya.

“Kau tidak akan mengenalkan temanmu padaku?” tanya Nayeon sambil pandangannya tetap terpaku pada Jungyeon.

“Ahh, dia Jungyeon. Temannya Momo.” Aku memperkenalkan.

Jungyeon tersenyum dan melambaikan tangan pada Nayeon dengan kikuk. Tatapan Nayeon terlihat tidak seperti biasanya. “Aku Nayeon.” Nayeon memperkenalkan dirinya sendiri sambil tetap menatap Jungyeon. Aneh. Biasanya Nayeon akan memperkenalkan dirinya dengan bangga dan genit. Jungyeon tidak bisa menatap Nayeon secara langsung karena dia menyadari tatapan Nayeon padanya.

“Kau tidak akan mengenalkan temanmu?” aku memecah keheningan.

“Uh, dia uh- siapa namamu?” Nayeon bertanya kepada temannya sambil masih memandangi Jungyeon. Gadis yang berdiri di sebelah Nayeon pun memelototinya dan tersenyum pada kami. “Aku Jihyo.” Jihyo membungkuk kecil kepada kami. Kami semua memperkenalkan diri masing-masing padanya dan tatapan Nayeon masih tetap terpaku pada Jungyeon. Aku bisa merasakan kekikukan Jungyeon sehingga aku harus melakukan sesuatu.

“Kurasa kalian berdua harus mencari meja kalian.” Kataku, jelas-jelas menyuruh Nayeon untuk pergi. Jihyo menepuk bahu Nayeon untuk menyadarkannya.

“Ah ya. Kurasa kami harus pergi. Sampai jumpa lagi.” Mereka berdua pergi ke meja lain. Mereka  duduk dua meja di belakang kami. Beberapa saat kemudian, pesanan kami datang dan kami mulai menyantapnya sambil mengobrol-ngobrol santai. Aku lalu merasa kalau Jungyeon merasa tidak nyaman. Matanya kerap memandang ke hal-hal yang random. Aku berbalik dan melihat Nayeon memandangi Jungyeon sambil makan. Jihyo bahkan tengah berbicara padanya tapi sepertinya Nayeon sama sekali tidak mendengarkannya. Gadis yang malang. Aku membenarkan posisi dudukku. “Ayo kita jalan-jalan keluar.” Undangku. Jungyeon tidak berpikir dua kali dan menyetujuinya. Dia bahkan yang pertama kali berdiri. Kami bertiga pergi ke luar bersama-sama. Kami sudah berjalan 20 langkah dari restoran ketika langkah terburu-buru terdengar dari belakang. Aku berbalik. Ekspresi wajahku datar. “Kenapa kau mengikuti kami?” tanyaku pada Nayeon. “Kalian mau ke mana? Aku mau ikut.” Nayeon memaksa untuk ikut dengan kami.

Jungyeon mulai merasa tidak nyaman lagi. Aku memelototi Nayeon. Nayeon hanya memberikan tatapan bingung.

“Kalian duluan. Ada yang harus aku bicarakan dulu dengan Nayeon.” Kataku pada mereka berdua.

“Apa-” Nayeon baru saja akan bertanya ketika aku memotong ucapannya. “Sampai nanti guys.” Aku berpamitan pada mereka sambil menarik pergelangan tangan Nayeon. Aku menariknya ke toko kecil.

“Apa yang mau kau lakukan?” tanyaku dengan nada jengkel. “Apa maksudmu?” tanyanya bingung.

“Dari tadi kau memandangi Jungyeon tadi. Jangan berani-berani.” Omelku. “Kurasa aku menyukainya.” Kata Nayeon sungguh-sungguh. “Kau mengatakan itu kepada setiap gadis.” Kataku.

“Kali ini aku bersungguh-sungguh.”

“Cih. Tidak mungkin.” Aku menolak untuk percaya.

“Tidak. Aku merasa berbeda dengannya. Ini pertama kalinya jantungku berdetak kencang. Begitu aku melihatnya, aku merasa melayang-layang di udara. Aku tidak bisa bernapas. Aku tidak bisa berbicara. Apa kau pernah merasakan hal seperti itu?”

Aku berhenti sejenak dan tiba-tiba bayangan Chaeyoung muncul di benakku. “Ya.”

“Jangan lakukan hal-hal aneh, oke?” aku memperingatinya. Kami membeli soda dan duduk di dekat jendela.

“Bagaimana dengan Jihyo?” tanyaku. “Aku bilang padanya kalau aku harus pergi.”

“Gadis yang malang. Aku kasihan padanya karena sudah menjadi korbanmu.” Aku terkekeh.

“Nahh. Aku baru saja bertemu dengannya tadi dan mengajaknya makan siang. Jangan mencemaskannya.”

Setelah beberapa saat, kami membeli makanan ringan dan aku mulai membicarakan tentang Chaeyoung. Aku memberitahukan apa yang terjadi tadi malam. Nayeon hanya mendengarkan ceritaku dan sama sekali tidak merespon. Dia hanya menatapku dan mengganggukkan kepala sekali-kali. Setelah beberapa saat, pandangannya beralih ke luar jendela. Dia menunjuk dengan wajah terkejut. “Mereka ada di sini.” Katanya. Aku menolehkan kepala dan seketika mengenali Chaeyoung dan Tzuyu. Mereka berjalan melewati toko. Aku segera mengalihkan pandanganku pada Nayeon. “Anggap saja kita tidak melihat mereka.” Nayeon memalingkan wajahnya dari Tzuyu dan Chaeyoung. Mereka berdua berlalu tanpa menyadari kami.

“Kenapa kau tidak mau menghampiri mereka?” tanya Nayeon.

“Hatiku sakit.” Jawabku dengan nada lemah.

Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah serius dan dia menatapku dalam-dalam. Aku mendadak hening hingga Nayeon memecahkan keheningan.

“Kau masih punya aku, babe.” Nayeon bercanda hanya untuk membuat suasananya terasa lebih ringan. Aku memasang poker face. “Kukira kita sudah selesai dengan ‘babe’.” Kataku.

“Kadang-kadang kedengarannya bagus.” Dia tersenyum. “Ngomong-ngomong, bukankah seharusnya kau memanggilku unnie? Jelas-jelas aku lebih tua darimu. Kau bahkan memanggil Momo dengan sebutan ‘unnie’ dan aku lebih tua darinya. Itu artinya aku lebih tua darimu, benar?” tambah Nayeon.

“Aku tidak mungkin memanggilmu ‘unnie’. Kau bahkan tidak bertingkah seperti seorang ‘unnie’.” Jawabku.

“Cih. Sungguh tidak sopan.” Dia menyesap minuman sodanya. “Kadang-kadang, kau harus berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja di depan orang-orang yang menyakitimu. Dan suatu hari nanti, kau akan terbiasa dan mati rasa, dan pada akhirnya, itu tidak akan terasa menyakitkan lagi. Lari dari mereka tidak akan membantumu.” Dia tiba-tiba menjadi serius dan berbicara tanpa memandang ke arahku.

Aku menatapnya dengan kegirangan. Aku tiba-tiba mempertanyakan diriku sendiri berpikir apakah aku sungguh berbicara dengan Nayeon yang sebenarnya. Dia juga ternyata memiliki sisi serius. Hingga detik ini aku tidak pernah tahu orang semacam apa dia. Mungkin bersenang-senang dan mengatakan hal-hal aneh selama ini hanyalah kedoknya. Kurasa dia meyakini kalau mengekspresikan kata-kata semacam itu hanyalah ciri-ciri kelemahan sehingga dia hanya menyimpannya dalam hati. Kurasa aku bertemu dengan Nayeon yang sebenarnya hari ini.

“Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Nayeon.” Kataku. Dia menatapku bingung.

Aku tersenyum.

 ***

TBC

credit:  chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

3 thoughts on “Dear Diary [Chapter 9]

  1. siapa yg ga bingung kalau tiba mina di bilang senang akhirnya bertemu dgn mu ??. 😁
    yah, yg di katakan nayeon benar2 kita harus terlihat baik2 saja di depan orang yg menyakiti kita, agar kita tidak terlihat menyedihkan.

  2. banyak couple dsini . nayeon sukanya ganti2 terus ya ,, yah akhirnya langsung mentok pas lihat jungyeon . hahahhaha .. tenang aja mina , chaeyeong udah ada sedikit rasa untukmu , buat chaeyeong lebih suka lgi dengan mu . semangat

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s