Dear Diary [Chapter 11]

Sorry…


Chapter 11: The Last Straw

 

Hari ini aku tidak ada rencana apa-apa. Aku memutuskan untuk menghabiskan waktu seharian ini di apartemen. Aku membaca beberapa halaman di buku diary-ku. Aku harus pastikan kalau aku membaca semuanya dari sekarang untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tak terduga seperti kemarin-kemarin. Menurut apa yang kubaca, yang akan terjadi hari ini adalah Chaeyoung akan mengundangku untuk datang ke apartemennya karena hari ini adalah hari di mana dia pertama kali membuat kue dan dia ingin aku yang pertama kali mencicipinya. Aku mendesah. Aku yakin dia akan mengundang Tzuyu, bukan aku.

Aku tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi di antara mereka berdua sehingga aku memutuskan untuk bermain games di laptop. Ini akan membantuku menjernihkan pikiran.

“Sudah lama tidak main game.” Gumamku saat permainannya dimulai. Ketika akhirnya aku mendengar suara musik dari game tersebut, kenangan-kenangan indah terputar dalam ingatanku. Kenangan-kenangan itu adalah ketika aku masih belum bertemu dengan Chaeyoung dan aku hanya peduli pada games bodoh ini. Aku rindu bayi-bayiku. Tiga jam berlalu. Aku terlalu asyik bermain game sehingga aku mulai terlihat seperti zombie. Tiba-tiba, aku mendengar ponselku berdering.

Aku terus memencet keyboard sementara pandanganku memeriksa layar ponsel yang terletak di samping keyboard. Mataku terbelalak ketika aku melihat siapa yang menelepon dan seketika mengangkat tanganku dari keyboard untuk menjawab panggilan.

“Halo? Chaeyoungie?” seketika aku mulai berbicara.

“Mina unnie! Kau tidak punya rencana hari ini?” jawab Chaeyoung.

Sial. Apakah itu pertanyaan?” “Tentu saja.”

“Maukah kau datang ke apartemenku? Aku membuat kue. Aku ingin kau mencicipinya.”

Tunggu. Ini bukan lelucon? Dia mengundangku? Apa dia salah sambung? Kurasa tidak karena dia memanggilku Mina. Yah, tidak ada alasan untuk menolak.

“Tentu. Aku akan tiba 20 menit lagi.”

“Oke. Sampai nanti.” Chaeyoung mematikan teleponnya.

“WAAHHHHH!” aku berteriak dan melompat-lompat kegirangan. Aku tidak bisa menenangkan diriku. Aku langsung memeriksa penampilanku di depan cermin. “Oh sial. Apa yang terjadi padaku?” aku pergi mandi. Aku mengenakan pakaian tanpa memeriksa bagaimana kelihatannya. Aku keluar dari apartemen dengan terburu-buru dan langsung pergi ke apartemen Chaeyoung. Senyumku tak kunjung memudar. Ketika aku berada 10 langkah dari apartemennya, aku melihat seseorang berdiri di depan pintu apartemen Chaeyoung dan baru saja akan mengetuknya ketika aku menghentikannya.

“Tzuyu-ah.” Panggilku. Dia menoleh dan melihatku dengan tatapan kaget.

“Oh. Mina unnie. Dia mengundangmu juga?” tanyanya.

“Dan dia mengundangmu juga, huh?” suasana hatiku seketika berubah.

“Mmm.” Jawabnya. Aku berdiri di sampingnya.

Aku membiarkan dia mengetuk pintunya. Chaeyoung membukanya dengan seulas senyum di wajahnya. Aku memasang senyum palsu. Dia mempersilakan kami masuk dan duduk nyaman di sofa. Dia lalu pergi ke dapur dan keluar membawa baki dengan dua piring berisikan sepotong kue di atasnya. Kami berdua mengambil piring itu dan memuji Chaeyoung karena kuenya terlihat cantik dan rasanya enak. Dia tersenyum dan berterima kasih kepada kami.

“Oh, aku lupa bawa minum. Aku akan segera kembali.” Dia langsung pergi ke dapur. Suasana canggung menyelimuti ruangan di antara aku dan Tzuyu. Kami hanya mengunyah kuenya. Chaeyoung kembali dengan membawa dua gelas orange juice.

“Kau harus sering-sering membuat kue, smol.” Kata Tzuyu.

Smol? Aku memberikan nama panggilan itu pada Chaeyoung. Berani-beraninya dia? Pertama, kenanganku bersama Chaeyoung, lalu, kencan-kencan kami, dan sekarang, bahkan nama panggilan untuknya? Aku tidak menyangkanya.

“Sungguh?” Chaeyoung terkekeh.

“Ya. Dan kau harus mengundang kami setiap kali kau membuatnya.” Aku tersenyum.

Kami mengobrol panjang; kebanyakan mengobrolkan hal-hal yang tidak penting. Meskipun aku tertawa beberapa kali selama obrolan itu. Aku tetap merasa kesal mengetahui kalau Tzuyu memanggil Chaeyoung dengan sebutan ‘smol’. Ini batas akhir kesabaranku.

Setelah beberapa jam, Chaeyoung memberitahu kami kalau dia harus beres-beres dan menyelesaikan gambar-gambarnya sehingga kami harus pergi. Kami memaksa untuk membantunya beres-beres tapi dia menolaknya. Kami tidak punya pilihan lain selain pergi. Aku dan Tzuyu keluar dari apartemen bersama-sama. Aku tidak menyadari langit sudah berubah gelap.

“Rumahmu berlawanan arah denganku, kan?” tanyaku.

“Ya.”

“Oke. Kalau begitu hati-hati di jalan.”

“Mmm. Kau juga unnie.” Dia tersenyum.

Kami berdua berbalik dan mulai berjalan berlawanan arah hingga aku berhenti sejenak dan kembali berbalik.

“Tunggu.” Aku berbicara. Dia berhenti dan berbalik. “Aku ingin berbicara denganmu.” Kataku.

Kami pergi ke sebuah kafe yang hampir tidak ada pengunjungnya. Kami duduk berhadapan. Ekspresi wajahku datar saat aku menatapnya. Dia tidak langsung menatap mataku.

“Kau bisa menghentikan dramanya sekarang. Hanya ada kita berdua di sini.” Aku mulai berbicara.

Tzuyu memandang bingung. “Apa maksudmu, unnie?”

Aku tersenyum lebar. “Kau tahu apa yang sedang kubicarakan. Kita selesaikan sekarang dan untuk selamanya.”

“Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan. Aku akan pergi sekarang.” Kata Tzuyu saat dia beranjak dari duduknya dan mulai berjalan keluar.

Aku menghalangi jalannya dan menarik kerah bajunya menariknya mendekat ke arahku. “Siapa kau sebenarnya?” tanyaku geram. “Unnie, ada apa denganmu?” tanyanya gugup. “Katakan saja siapa kau sebenarnya!” teriakku marah sambil menariknya semakin dekat. Orang-orang yang berada di kafe pun tiba-tiba melihat ke arah kami. Mataku menatapnya tajam. Ekspresi wajahku seketika berubah ketika tetes air mata jatuh di tanganku yang sedang mencengkeram leher bajunya. Aku tertegun. Aku melonggarkan cengkeramanku dan menurunkan tanganku. Dia menangis. Dia terlihat ketakutan.

“Aku-Aku minta maaf.” Aku meminta maaf dengan suara pelan. Dia menutupi wajahnya sambil menangis lalu pergi.

Aku terkejut dengan reaksinya. Lututku melemah sehingga aku jatuh ke kursi. Aku memutuskan untuk mengirim SMS pada Nayeon.

“Nayeon, temui aku di kafe Dalkom. Sekarang.”

“Aku datang.” Balasnya segera.

Aku memesan secangkir kopi sambil menunggunya. 30 menit kemudian dia akhirnya datang.

“Kenapa lama sekali?” omelku.

“Yah aku harus meninggalkan teman kencanku karenamu. Itulah yang menyebabkanku terlambat.” sindir Nayeon.

“Tzuyu tidak bersalah.” Kataku.

“Apa? Bagaimana kau tahu?”

“Dia menangis.”

“Dia hanya menangis dan kau mempercayainya begitu saja?” Nayeon tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Air mata itu benar-benar nyata. Aku tahu seperti apa air mata yang nyata itu. Dia bahkan takut padaku.” Jelasku.

Nayeon mendesah. “Kalau dia memang tidak bersalah, lalu apa rencanamu sekarang?”

“Aku kasihan padanya karena menjadi korban dari kekacauan ini.”

“Lalu apa kau akan menyerah untuk memperjuangan Chaeyoung demi Tzuyu YANG TIDAK BERSALAH?” dia menekankan kata ‘tidak bersalah’.

“Tidak. Aku hanya merasa kasihan karena dia harus terlibat dalam kekacauan ini. Tapi sayangnya aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku bukan orang seperti itu.” jawabku dengan tampang bersungguh-sungguh.

Nayeon hanya mengangkat bahu dan menyesap kopiku.

***

TBC

credit:  chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

4 thoughts on “Dear Diary [Chapter 11]

  1. wow ,, nekat banget mina ,, sampe nemuin tzuyu ,, buat tzuyu nangis gitu . sperti yg dikatakan mina ,, tzuyu gak bersalahh , emang bener ya ,, atau dia hanya berpura2 ?? penasarannn …

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s