Dear Diary [Chapter 13]


Chapter 13: Birthday Present

 

Hari ini aku memutuskan untuk bertemu dengan Momo dan Jungyeon. Kami pergi ke restoran Jokbal. Seperti biasa. Kurasa aku dan Jungyeon sekarang berteman dekat. Sebenarnya aku kira dia adalah orang yang menakutkan tapi sebenarnya dia perhatian dan manis. Aku tidak tahu kalau dia juga konyol dan jahil. Aku senang Momo menemukan sosok teman seperti dia. Jelas sekali kalau Jungyeon menyukai Momo tapi pada kenyataannya, Momo sudah menikah dengan makanan.

Kami menikmati makanan kami dan saling bergurau, sama seperti sebelumnya, Nayeon datang bersama seorang gadis. Kali ini dengan gadis yang berbeda. Jungyeon mendadak hening. Nayeon menghampiri kami dan memperkenalkan gadis itu.

“Hei guys. Dia Dahyun. Kami kemari untuk makan siang.” Dahyun melambaikan tangan pada kami dan tersenyum.

“Oke. Selamat bersenang-senang.” Kataku.

Keduanya pergi ke meja mereka. Kali ini dia tidak menghiraukan Jungyeon. Dia bahkan tidak melirik ke arahnya. Kami bertiga kembali makan dan mengobrol. Tapi kemudian aku menyadari kalau Jungyeon tidak memerhatikan obrolan kami dan sepertinya dia mencuri-curi pandang ke belakangku. Aku berbalik dan melihat Nayeon. Nayeon hanya memerhatikan gadisnya. Aku kembali menghadap Jungyeon. Dia menyadari kalau aku menangkapnya sedang memandangi Nayeon sehingga dia mengalihkan pandangannya ke makanan.

Aku menggigit bibirku untuk menahan tawa.

“Guys, aku harus pergi ke toilet.” Kata Momo. Kami berdua mengangguk dan Momo pergi ke toilet.

Jungyeon terdiam selama 10 detik sebelum akhirnya berbicara. “Apakah itu pacarnya Nayeon?” tanyanya ragu-ragu.

“Kurasa bukan. Nayeon berkencan dengan gadis yang berbeda setiap harinya. Kurasa dia tidak mungkin menjalani hubungan serius.” Jawabku tenang berpura-pura tidak mengetahui kalau dia tertarik pada Nayeon.

“Dia menyebalkan.” Kata Jungyeon jengkel.

Aku terkekeh. “Pada awalnya aku juga membencinya. Aku rasa hanya orang bodoh yang akan menyukainya saat pertama kali bertemu. Tapi, setelah kau mengenalnya dengan baik, kau akan menyukainya.”

Raut wajahnya berubah serius. Dia membasahi bibirnya yang kering dan menunduk dan hanya mengangguk. Setelah beberapa saat, Momo kembali. Kami memutuskan untuk pergi dan pulang. Terlihat jelas kalau Jungyeon mencuri-curi pandang ke arah Nayeon saat kami pergi. Nayeon bahkan tidak menyempatkan untuk mengucapkan sampai jumpa pada kami.

Aku sudah jalan terpisah dari Jungyeon dan Momo. Aku sudah dekat dengan apartemenku ketika aku menerima SMS dari Chaeyoung.

“Mina unnie, kalau kau tidak ada rencana hari ini, kau boleh datang ke apartemenku. Aku membuat kue. Tzuyu juga akan datang.”

Aku tidak ragu untuk pergi ke sana meskipun Tzuyu akan berada di sana juga.

Sudah beberapa hari berlalu sejak aku, Chaeyoung dan Tzuyu memiliki hubungan seperti ini. Terkadang, aku dan Chaeyoung bertemu secara pribadi, dan terkadang aku menjadi orang ketiga di antara mereka berdua. Aku bisa melihat kalau Tzuyu merasa tidak senang setiap kali aku bergabung dalam kencan mereka. Aku tidak memedulikannya. Aku ingin dia semakin membenciku. Saat aku pergi berdua bersama Chaeyoung, terkadang dia membuatku merasa kalau dia juga menyukaiku tapi dia tidak pernah menyatakannya. Terkadang aku memberikan kode yang menunjukkan perasaanku. Aku tidak tahu apakah dia tidak memahaminya atau dia hanya berpura-pura untuk tidak memahaminya.

Hampir dua bulan berlalu sejak saat itu. Aku memutuskan untuk menulis diary hari ini.

23 Maret, 2016

Dear Diary,

Sudah lama aku dan Chaeyoung menghabiskan waktu bersama. Tapi bukan sebagai sepasang kekasih. Hanya sebatas teman. Aku sungguh tidak tahu bagaimana perasaan dia terhadapku karena dia tidak pernah berbicara serius padaku dan dia bahkan tidak pernah membicarakan tentang perasaannya terhadap Tzuyu. Setiap kali aku bertanya padanya, dia akan selalu mengubah topik pembicaraan. Aku bahkan tidak bisa membaca pikirannya sehingga aku tidak mengetahui perasaannya. Ngomong-ngomong, besok adalah hari ulang tahunku. Aku tidak begitu menyukai ulang tahun. Satu-satunya alasan mengapa aku menantikan hari itu adalah karena hari itu aku dan Chaeyoung resmi berpacaran. Dia bilang kalau itu adalah kado ulang tahunku. Aku tidak begitu mengharapkan kami akan menjadi sepasang kekasih besok. Pernyataan cinta saja sudah cukup. Aku sungguh menantikannya.

P.S. aku baru saja merayakan ulang tahun beberapa bulan yang lalu sebelum aku kembali ke masa lalu dan rasanya aneh mengetahui kalau aku merayakannya lagi.

Setelah menulis diary, aku kembali menaruh diary di laci meja. Aku mematikan lampu dan tidur.

Hari ini adalah saatnya! Dengan riang aku turun dari tempat tidur dan meregangkan tubuh. Aku menelepon Nayeon untuk membantuku berbelanja. Aku tiba lebih dulu di sana dan memutuskan untuk menunggu di luar.

“Kenapa dia lama sekali?” gumamku.

Oh. Itu dia. Sepertinya dia tidak sendirian. Aku melambaikan tangan dan tersenyum pada mereka.

“Aku tidak tahu Jungyeon akan bergabung dengan kita hari ini.” Kataku.

Nayeon dan Jungyeon sudah sering jalan bersama sekarang. Mereka masih belum berpacaran tapi kurasa hubungan mereka mengarah ke sana. Nayeon hanya harus berusaha lebih keras.

“Aww!” Nayeon berteriak kesakitan ketika Jungyeon menjetikkan jarinya ke dahi Nayeon.

“Kau memandangi gadis lain lagi.” Jungyeon mengomel.

Ya. Dia hanya harus mengatasi kegenitannya. Kegenitannya harus dihentikan. Sungguh.

“Kalian berdua lucu sekali.” aku tersenyum.

Yah, Momo baik-baik saja. Dia masih menikah dengan makanannya dan mereka semakin dekat. Terkadang Nayeon dan Jungyeon bahkan pergi jalan-jalan bersama Momo untuk mentraktirnya makan. Mereka baik-baik saja.

Kami memasuki pusat perbelanjaan dan membeli beberapa barang untuk perayaan ulang tahunku. Kami membeli banyak barang meskipun tidak banyak orang yang kuundang. Hanya dua orang yang bersamaku ini, Momo, Chaeyoung, Tzuyu, dan beberapa orang yang kukenal yang akan datang ke pesta ulang tahunku. Aku tidak akan mengundang Tzuyu jika bukan karena Chaeyoung.

“Oh! Jangan lupa kuenya.” Nayeon mengingatkan.

Setelah kami membeli semua perlengkapan yang diperlukan, kami pergi ke toko kue. Chaeyoung menyukai stroberi sehingga aku memilih kue yang banyak stroberinya. Setelah berbelanja, mereka ikut ke apartemenku. Mereka membantuku menyiapkan makanan untuk pesta nanti. Setelah persiapan selesai, Jungyeon dan Nayeon pulang ke rumah untuk mandi dan mengganti pakaian.

Dengan bosan aku menunggu selama dua jam sebelum tamu-tamunya tiba. Momo yang pertama datang. Tentu saja dia ingin menjadi orang pertama yang menyantap makanan. Dia menyerahkan kado untukku sebelum masuk dan mengucapkan selamat ulang tahun. Setelah itu tamu-tamu yang lain tiba. Mereka adalah teman sekelas dan teman masa kecilku yang sudah tidak begitu dekat denganku lagi. Nayeon dan Jungyeon datang bersama. Jungyeon menyerahkan kotak kecil yang berisikan sepasang anting.

“Di mana kado untukku?” tanyaku pada Nayeon.

“Cintaku untukmu saja sudah cukup, Babe.” Jawab Nayeon dengan penuh percaya diri. Jungyeon memelototinya dan mencubit pinggangnya. “Aww.” Nayeon berteriak. Aku terkekeh. Aku mempersilakan mereka masuk.

Sekarang hanya tinggal satu tamu yang tersisa. Chaeyoung. Oops. Dan Tzuyu. Aku mengangkat kepala untuk melihat jam dinding. Mereka terlambat 17 menit. Aku ingin tahu di mana mereka sekarang.

Aku mengobrol-ngobrol dengan tamu-tamuku selagi menunggu. Aku terus memeriksa pintu untuk mengetahui jika mereka sudah datang. Aku melihat jam dinding. Terlambat 30 menit. Aku mendesah. Aku memutuskan untuk kembali mengobrol dengan tamu-tamu untuk melupakan Chaeyoung.

Tiba-tiba aku berbalik ketika aku mendengar suara ketukan di pintu. Aku segera pergi ke depan untuk membukakan pintu.

“Mina unnie! Maaf kami terlambat.” Chaeyoung meminta maaf saat mereka masuk ke dalam.

“Happy Birthday!” kata Tzuyu sambil menyerahkan kado untukku.

“Kami berdua membelikannya untukmu.” Kata Chaeyoung.

Aku membuka kotaknya dan melihat boneka penguin. Aku terkekeh. “Masuklah.” Undangku.

Ini bukan kado yang kutunggu-tunggu. Sesuatu mungkin akan terjadi nanti. Aku harus menunggunya.

Pestanya dimulai. Bukan benar-benar pesta. Secara teknis, lebih terlihat seperti aku mengundang beberapa orang untuk makan malam. Sedari tadi Chaeyoung terus bersama dengan Tzuyu. Aku berdiri tidak jauh dari Chaeyoung. Aku terus mencuri-curi pandang ke arahnya ketika aku mengobrol dengan Nayeon. Kapan mereka berdua berpisah?

Nayeon tiba-tiba menjetikkan jari di depan wajahku. “Apa kau mendengarkanku?”

“Huh? Oh, ya. Tentu saja.” Jawabku. Dia memutar bola matanya. “Kalau kau ingin berbicara dengannya, pergilah. Kau lamban sekali.”

Tiba-tiba, aku melihat Tzuyu pergi ke kamar mandi. “Sekarang, ini kesempatanku.” Kataku pada Nayeon. Dia mengangguk. Seketika aku pergi menghampiri Chaeyoung yang duduk di meja makanku. Aku duduk di hadapannya. Dia menyadari kehadiranku dan mengangkat kepalanya. Dia tersenyum. “Happy Birthday unnie.” Aku menunduk dan tersenyum. “Thanks…kuharap kau menikmati makanannya.”

“Tentu saja. Aku sangat suka kuenya.” Dia tersenyum.

Aku balas tersenyum. Kami terdiam sejenak. Tiba-tiba, ekspresi wajah Chaeyoung berubah serius.

“Unnie. Aku harus mengatakan sesuatu padamu.” Dia menatapku.

“Apa itu?” tanyaku. Dia menelan ludah. “Aku su-” kata-kata Chaeyoung terpotong oleh pelukan dari belakang dari Tzuyu. Aku terkejut. Dia lalu mencium pipinya. “Apa yang kalian bicarakan?” tanya Tzuyu sambil tetap memeluk Chaeyoung. Aku diam membeku. Chaeyoung tidak terlihat nyaman. Dia tidak berbicara. “Kau sudah memberitahunya, Chaengie?” Chaeyoung terdiam. Tzuyu melihat ke arahku dan tersenyum.

“Kami sudah berpacaran sekarang.” Kata Tzuyu.

Chaeyoung memalingkan muka.

Mendengar kata-kata seperti itu membuatku hancur berkeping-keping. Hatiku rasanya seperti ditusuk-tusuk pisau. Aku tidak bisa berkata-kata. Rasanya seperti dunia kembali runtuh. Tiba-tiba, aku sadar kalau aku harus berpura-pura menerimanya sehingga aku tersenyum dengan paksa. “Sungguh? Selamat.” Chaeyoung tidak bisa menatapku secara langsung. “Erm, aku harus pergi ke kamar kecil. Selamat bersenang-senang.” Aku berdiri dan berjalan menuju kamar kecil. Aku mengunci pintu dan bersandar di balik pintu tersebut. Aku tercengang. Lututku terasa lemas hingga aku terjatuh ke lantai. Aku tidak bisa berpikir jernih. Tiba-tiba aku mendengar seseorang mengetuk pintu.

“Mina-ah? Kau ada di dalam sana?” bisik Nayeon. Aku tidak menjawab. “Mina-ah…”

“Ya. Aku di sini.” Jawabku.

“Kau baik-baik saja di sana?” tanyanya.

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya sakit perut. Suruh semua tamu pergi. Kau harus pulang juga.” Kataku.

“Kalau begitu biarkan aku membantumu di sana.”

“Aku bilang aku tidak apa-apa. Pergilah.”

Nayeon sama sekali tidak memaksaku. Aku mendengar dia memberitahu para tamu kalau itu sudah saatnya untuk pulang. Setelah lima menit, tempat ini berubah hening menandakan kalau semua orang sudah pergi. Aku membuka pintu. Apartemenku sudah kosong. Aku berjalan ke sudut ruangan. Aku duduk sambil memeluk lutut dan mulai menangis. Aku menatap ke lantai. Tiba-tiba seseorang mengenakan sepatu converse muncul di depan mataku. Aku terkejut. Aku mengangkat kepala perlahan dan melihat Nayeon dengan raut wajah cemas.

Nayeon berlutut di hadapanku dan menarikku ke dalam pelukan, membiarkanku menangis di bahunya. Aku menangis habis-habisan ketika dia memelukku.

“Nayeon unnie… Nayeon unnie…” Aku memanggil-manggil namanya.

“Shhhh…” dia menepuk-nepuk punggungku untuk menenangkanku.

***

TBC

credit: chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

3 thoughts on “Dear Diary [Chapter 13]

  1. hahahaah…. si player nayeon bertekuk lutut di hadapan juyeon.
    aku rasa chaeyoung juga menyukai mina, hanya saja mungkin tzuyu menyatakan perasaan nya lebih dulu terhadap chaeyoung.
    terlihat ekspresi chaeyoung yg tidak nyaman saat tzuyu mengungkapkan tentang hubungan mereka.

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s