Dear Diary [Chapter 14]

cxkbu51veaajtvf
MiChaeng ^^

Chapter 14: Let’s Stop

Sudah satu minggu aku membusuk di apartemenku. Hidup ini rasanya seperti mati. Secara fisik aku masih hidup tapi secara emosi dan mental aku sudah mati. Air mataku mengering dan tak lagi tersisa. Aku mulai mati rasa. Aku sudah seperti zombie. Aku tidak tahu apakah diriku atau apartemen ini yang bau. Ponselku berdering tiada henti. Aku mendapatkan SMS dan panggilan tak terjawab dari Chaeyoung dan Nayeon. Dan juga, SMS dari Momo yang mengajakku keluar untuk makan siang. Aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun lagi. Aku hanya akan hidup di tempat yang kumuh ini selama sisa hidupku.

Aku berada di kamarku, berpikir: “Kenapa aku masih ada di sini?” jika aku dan Chaeyoung ditakdirkan untuk bersama, lalu kenapa dia harus menyukai Tzuyu bukannya aku? Lebih baik hari itu aku mati saja dan meyakini kalau Chaeyoung mencintaiku lebih dari siapa pun. Aku akan mati dengan bahagia meyakini kebohongan seperti itu.

Tapi kenapa aku hidup?

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunan ketika aku merasakan getaran ponselku. Aku mengambilnya.

SMS dari Nayeon lagi. Bagus.

“Teruskan saja. Sia-siakan saja hidupmu. Matilah seperti yang kau inginkan. Buang kesempatan untuk bisa mengubah segalanya. Kau hebat dalam hal itu, pengecut.”

Jiwaku rasanya seperti tertusuk. Kata-kata itu terlalu menyakitkan sehingga membuatku meneteskan air mata. Aku tidak membenci Nayeon karena mengatakan hal itu. Dia benar. Aku memang pengecut. Aku menarik napas dalam-dalam. Tiba-tiba, aku menerima SMS lagi. Aku memeriksa untuk melihat dari siapa SMS itu.

“Mina unnie, kalau kau ada waktu kita bertemu hari ini.”

SMS itu dari Chaeyoung.

“Oke. Kita bertemu di taman.” Balasku.

Nayeon membuatku mengingat kata-kata yang dia katakan di kafe: “Lari dari mereka tidak akan membantumu.” Itu benar. Tidak akan ada yang terjadi jika aku lari dari segalanya. Akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan mandi.

Aku pergi ke taman dengan ekspresi datar. Aku menunggu Chaeyoung di bangku biasa. Dari sudut mataku, aku bisa melihat dia berjalan mendekat tapi aku tidak menoleh ke arahnya dan hanya menatap pemandangan di hadapanku. Dia lalu duduk di sampingku.

“Apa kabar unnie?” tanyanya sambil memandang ke depan sepertiku.

“Baik.” Jawabku dingin.

“Kenapa kau tidak pernah menjawab telepon dariku dan membalas SMSku selama seminggu ini?” tanyanya.

“Aku sedang sakit.”

Meskipun dia tahu aku berbohong, dia hanya mengangguk. Dia lalu menyerahkan sesuatu berbentuk kotak dan terbungkus koran. Aku menoleh padanya dengan tatapan kaget.

“Apa ini?”

“Maaf aku lama menyelesaikannya. Ini adalah kado ulang tahun dariku tapi aku tidak menyelesaikannya lebih awal. Happy Birthday unnie.”

Aku membuka kado yang dibungkus koran itu. Kado itu adalah sebuah lukisan pemandangan. Aku tertegun. Aku terus memandangi lukisan pemandangan itu dengan raut wajah kaget. Aku tahu di mana pemandangan ini. Aku tidak akan pernah melupakan tempat ini. Ini adalah lukisan sebuah tempat di Jeju. Pepohonan, bebatuan, bunga-bunga, dan air mancur. Ini adalah tempat di mana aku dan Chaeyoung menghabiskan waktu liburan bersama. Kami berkencan di sini di bulan April yang lalu, dua minggu sebelum dia meninggal. Ketika kami memandangi pemandangan yang sama persis dengan lukisan ini, dia bilang kalau hari itu adalah hari terindah dalam hidupnya dan dia tidak akan pernah melupakannya.

“Saat aku memikirkan apa yang harus kulukis untuk Mina unnie, bayangan itu muncul dalam kepalaku. Aku tidak begitu memahaminya tapi aku hanya melukisnya begitu saja.” Kata Chaeyoung.

Aku memandangnya dengan ekspresi senang.

“Apa kau tahu di mana tempat ini?” tanyaku.

“Tidak. Bayangan itu tiba-tiba muncul dalam kepalaku ketika aku memikirkanmu.”

Kau mengingatnya. Ingatanmu mungkin melupakan semua kenanganmu denganku tapi hatimu mengingat setiap bagian kecil dari kenangan-kenangan itu. Raut wajahku berubah cerah. Aku tersenyum padanya.

“Terima kasih.” Kataku.

“Sama-sama.” jawabnya.

 “Tidak. Terima kasih karena memberiku alasan lain untuk memperjuangkanmu.”

“Unnie, tentang hubungan aku dan Tzu-” Chaeyoung baru saja akan mengatakan sesuatu namun dia ragu-ragu. “Ahh…lupakan.”

“Kita masih bisa berteman, kan?” tanya Chaeyoung.

“Tentu saja.” Aku tersenyum. Dia balas tersenyum.

Aku dan Chaeyoung menghabiskan hari-hari sebagai teman. Kadang-kadang kami masih jalan-jalan bersama tapi tidak sesering dulu. Terkadang aku menyadari kalau dia agak mencoba menjaga jarak dariku. Ketika kami jalan-jalan bersama, dia akan selalu ingin pergi ke tempat di mana orang lain tidak bisa melihat kami. Mungkin karena dia tidak ingin Tzuyu melihat kami bersama. Dia sering berkunjung ke apartemenku juga. Kami akan menonton film atau bercerita. Aku bahkan pernah memasak untuknya.

Hari ini dia memutuskan untuk datang ke apartemenku lagi. Kami memutuskan untuk menonton film lagi. Kami duduk nyaman di sofa sambil mengunyah keripik kentang.

“Unnie! Film ini sangat lucu.” Kata Chaeyoung dengan pandangan yang tertuju pada televisi. Dia tidak tahu kalau aku menonton dirinya dan bukan menonton filmnya. Aku menatapnya dalam-dalam. Dia tertawa terbahak-bahak sambil mengunyah keripik kentangnya. Aku perlahan mendekat ke arahnya. Perlahan…perlahan…perlahan hingga wajahku sangat dekat dengannya. Dia lalu menolehkan kepalanya dan melihatku dengan tatapan kaget. Aku lalu mengecup bibirnya tanpa ragu. Mataku terpejam. Sudah lama aku tidak merasakan bibirnya. Rasanya sangat manis dan lembut. Bibirnya yang lembut menggelitikiku.

Tiba-tiba Chaeyoung mendorongku. Dia menatapku kaget sekaligus cemas. Dia berdiri. “A-a-aku harus p-pergi.” Kata Chaeyoung sambil mengedipkan matanya berulang-ulang. Dia berjalan keluar dengan tergesa-gesa.

Aku menutup wajah. Aku lepas kendali. “UGHHH!” teriakku.

Setelah peristiwa itu terjadi, Chaeyoung tidak pernah lagi mengirimku SMS. Aku terus meminta maaf padanya lewat SMS tapi dia tidak pernah membalasnya. Aku bahkan mencoba untuk meneleponnya tapi dia tidak pernah mengangkatnya. Aku ingin pergi ke apartemennya dan meminta maaf padanya secara langsung tapi aku takut dia tidak akan memperdulikanku atau bahkan menamparku.

Hari ini aku masih menunggu balasan darinya. Aku berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar, dan menampar diriku berulang-ulang setiap kali mengingat apa yang telah terjadi.

Tiba-tiba, aku merasakan ponselku bergetar. Aku bangkit untuk membacanya.

“Unnie. Ayo kita bertemu di taman.”

SMS itu dari Chaeyoung. Aku merasa lega karena dia akhirnya mengirimku SMS. Aku langsung pergi ke taman. Dia datang lebih awal. Dia duduk di bangku dan hanya memandangi pemandangan di depannya dan bahkan tidak menoleh untuk menyapaku. Aku duduk di sebelahnya.

“Uhm, maaf-” aku mulai berbicara ketika Chaeyoung memotong ucapanku.

“Unnie…kita harus berhenti bertemu.” Kata Chaeyoung dingin.

Aku terkejut. Aku tidak bisa berkata-kata untuk sesaat. Tapi aku harus menyadarkan diri dan berpura-pura tegar.

Aku tersenyum menyeringai. “Tzuyu benar. Kau berbeda. Kau bukan Chaeyoung yang kukenal. Chaeyoung yang kukenal hanya melihat padaku, hanya mencintaiku. Jika kau tidak ingin melihatku lagi, oke. Aku tidak keberatan.” Aku berdiri. “Selamat tinggal.” Kataku. Aku bisa melihat matanya yang menahan tangis.

Aku berlalu pergi.

TBC

credit: chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

3 thoughts on “Dear Diary [Chapter 14]

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s