Dear Diary [Chapter 15]

cyknthiuaaargz3


Chapter 15: It’s Over

 

Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi situasiku saat ini. Biasanya, aku akan menangis sampai tertidur tapi sekarang aku terlalu mati rasa untuk bahkan mengeluarkan setetes air mata.

“Kadang-kadang, kau harus berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja di depan orang-orang yang menyakitimu. Dan suatu hari nanti, kau akan terbiasa dan mati rasa, dan pada akhirnya, itu tidak akan terasa menyakitkan lagi. Lari dari mereka tidak akan membantumu.” Aku teringat akan apa yang dikatakan Nayeon. Aku tersenyum bodoh. Aku mati rasa, ya, tapi bukan berarti rasanya tidak menyakitkan lagi. Rasanya tetap menyakitkan.

Sejak kemarin Chaeyoung belum mengirimku SMS. Kelihatannya dia bersungguh-sungguh. Aku memutuskan pergi berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu. Aku berjalan di sepanjang jalan tanpa tahu ke mana arah tujuanku. Aku hanya berjalan melewati apa pun yang kulihat. Aku tiba-tiba berhenti ketika aku melihat Tzuyu dari kejauhan. Dia masuk ke dalam Supermarket.

“Tzuyu!” panggilku. Dia menolehkan kepalanya dan melihatku. Dia berpura-pura tidak terkejut.

Aku mendekatinya dengan ekspresi datar. “Ikut aku.” Kataku.

“Untuk apa?” tanyanya dengan nada kesal.

Aku langsung meraih pergelangan tangannya dan menariknya. “Aww…lepaskan! Kau mau membawaku ke mana?”

Aku tidak menjawabnya dan hanya menariknya ke dalam kafe. Aku memaksanya duduk. Aku duduk di hadapannya. Dia memutar bola matanya. “Jaga Chaeyoung baik-baik.” Kataku. Tiba-tiba dia mengubah ekspresi wajahnya. Dia menatapku dengan tatapan bingung.

“Kalau kau sungguh mencintainya, jangan bawa dia ke kafe ini besok. Percaya padaku. Aku serahkan semuanya padamu.” Kataku tanpa ekspresi.

“Cih. Kau sudah gila. Urus saja urusanmu sendiri.” Dia berdiri dengan kesal dan berlalu.

Aku pulang ke rumah dengan ekspresi datar. Aku mulai terlihat seperti zombie lagi. Aku tidak memiliki motivasi untuk melakukan apa pun. Aku hanya menulis diary dan langsung tidur tanpa makan malam. Aku bangun dengan malas dan turun dari tempat tidur sambil merenggangkan otot-otot leherku. Aku pergi ke kamar mandi dan duduk di toilet. Banyak hal yang berkelebat dalam benakku.

Hari ini seharusnya menjadi hari kematian Chaeyoung. Aku tidak khawatir karena dia bersama dengan Tzuyu, dan aku rasa Tzuyu tidak akan mengulang kesalahan yang sama sepeti yang pernah kulakukan dulu. Pada saat yang sama, aku yakin dia akan mendengarkanku.

Aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku dengan bermain game di komputer. Waktu berlalu begitu cepat saat aku bermain game. Tapi meskipun aku sedang bermain game, jantungku terus berdegup kencang setiap kali aku mengingat kematian Chaeyoung. Aku menyadarkan diriku meyakini kalau itu tidak akan pernah terjadi jadi aku kembali bermain game.

Beberapa jam kemudian dan aku masih fokus bermain. Lalu aku mendengar ponselku berbunyi. Aku memeriksa untuk melihat SMS yang masuk.

“Chaeyoung sedang ada di kafe.” Bunyi SMS dari Nayeon.

Jantungku seketika berdegup kencang. “Apa maksudmu? Dia bersama Tzuyu?” balasku.

“Tidak. Dia sendirian. Kurasa dia sedang menunggunya.” Balas Nayeon seketika.

Mataku terbelalak setelah membaca SMS tersebut. Kejadian itu akan terulang lagi. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak akan membiarkannya. Aku keluar dari apartemen dengan terburu-buru. Langkah buru-buruku terdengar sangat keras sehingga orang-orang memandangiku ketika aku berlari melewati mereka. “Aku tidak bersenang-senang dengan game ini.” Gumamku. Saat aku berlari menuju kafe, aku menerima SMS dari Nayeon. “Tzuyu sudah ada di sini. Mereka sedang mengobrol sekarang.” Aku mendesah. Terima kasih Tuhan. Aku berbalik dan mulai berjalan pulang. Saat aku berjalan dengan perlahan, aku menerima SMS lagi. “Aku rasa mereka sedang memperdebatkan sesuatu.”

Apa? Apa yang terjadi? Perasaanku mulai tidak enak. Aku kembali berlari menuju kafe. Kali ini aku berlari secepat kilat. Lagi-lagi, aku mendengar ponselku berbunyi. Aku memeriksanya sambil berlari.

“Tzuyu keluar dari kafe. Chaeyoung sedang mengejarnya.”

SIALAN. Tzuyu kau sedang dalam masalah besar. Jika sesuatu terjadi pada Chaeyoung, kau akan menerima akibatnya. Aku mencoba berlari lebih cepat meskipun napasku terengah-engah. Aku kerap menubruk orang-orang yang berlalu lalang. Aku bahkan tidak punya waktu untuk meminta maaf dan hanya terus berlari.

Aku semakin dekat. Aku baru saja akan menyebrangi jalan, jalan yang sama di mana Chaeyoung akan tertabrak oleh mobil, ketika pemandangan di seberang jalan membuatku terdiam sejenak. Aku diam membeku begitu aku melihat pemandangan di depanku. Chaeyoung dan Tzuyu tengah berpelukan. Kurasa mereka sudah baikan bahkan sebelum Tzuyu menyebrangi jalan dan membiarkan Chaeyoung tertabrak mobil.

Aku tidak tahu apakah aku harus merasa bahagia mengetahui kalau Chaeyoung akan tetap hidup atau merasa hancur mengetahui kalau dia akan tetap hidup tapi dia tidak akan mencintaiku lagi. Aku memandangi mereka dengan tatapan kosong. Aku berdiri di seberang jalan dan merasa seperti orang yang bodoh.

Aku mati rasa. Aku tidak bisa menangis.

Aku menelan ludah.

Perlahan, aku melangkah mundur. Aku berbalik dan pergi sambil mengepalkan tangan.

“Sudah berakhir.” Bisikku.

TBC

credit: chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

3 thoughts on “Dear Diary [Chapter 15]

  1. sudah berakhir. hubungan chaemin benar-benar berakhir. ternyata semua nya berbeda. dgn kejadian di dalam diary mina. kejadian yang seharusnya chaeyoung kecelakaan tapi ga terjadi. hhh…. syukurlah walau mina harus terluka lagi.

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s