Case 143 [Chapter 1]

Chapter 1: Awal Dari Semuanya

 

Nayeon’s POV

Bulan September, aku suka bulan ini; bulan musim gugur dan juga bulan ulang tahunku. Aku tidak mengerti tapi bagiku, musim ini sangat romantis. Berjalan-jalan sambil bergandengan tangan dengan seorang kekasih diiringi dengan dedaunan yang berjatuhan ke kepalamu; tapi sayangnya…

Aku tidak punya pacar.

Bel sekolah berdering dan aku masih berkhayal tentang berjalan-jalan di sepanjang jalanan kecil dengan pepohonan di sisi kanan dan kiri di luar sekolah bersama dengan seorang laki-laki yang kusukai, hingga Jungyeon dan Jihyo menyadarkanku. Aku tidak sadar kalau kelas sudah berakhir.

“Bagaimana bisa sadar kalau kau terus berkhayal?” kata Jungyeon.

“Ya, ya berhentilah mengomel Bu.”

“Aku tidak punya putri yang bodoh.” Jungyeon menjitak kepalaku.

“Yah!”

“Cepatlah; dia sudah menunggumu.” Jihyo memotong percakapan kami.

Aku mengemas barang-barangku dan keluar dari ruang kelas. Mereka tahu kalau hari Minggu dan Jumat adalah jadwal ‘kencan’-ku dengan dia. Sehingga mereka tidak pulang bersamaku hari ini.

Laki-laki yang kubicarakan adalah Chou Tzuyu, seorang siswa kelas satu dan adik dari temanku di Taiwan. Dia dan kakaknya adalah teman masa kecilku; bersama dengan Jungyeon dan Jihyo, tapi mereka harus kembali ke taiwan setelah 3 tahun tinggal di Korea. Setelah 5 tahun berlalu, Tzuyu kembali dan muncul secara tiba-tiba seperti jamur; suatu hari dia muncul di ruang keluargaku seperti tidak terjadi apa-apa. Dia hanya duduk santai di sana seperti saat dulu. Aku lalu mengetahui bahwa sekolah kami menawarkan beasiswa penuh padanya dan dia menerimanya. Orangtuaku tahu kalau dia akan datang dan sengaja menyembunyikannya dariku sehingga aku akan terkejut. Kakaknya memintaku untuk ‘mengasuhnya’ sehingga kami memutuskan untuk ‘berkencan’ dua kali dalam seminggu agar kami bisa tahu bagaimana kehidupan sehari-hari kami dan mengetahui apa kesibukannya.

Aku memandanginya begitu kami keluar dari sekolah. Harus kuakui, Tzuyu adalah laki-laki yang tampan; aku tidak tertarik padanya tapi aku akui kalau dia tampan tapi terlalu savage untuk ukuran wajahnya. Aku mulai melihatnya seperti ini ketika dia berumur 15 tahun. Pubertas sudah mengubahnya, maksudku, benar-benar mengubahnya.

“Ada sesuatu di wajahku?” dia menyadari kalau aku memandangi wajahnya.

“Tidak ada.” Balasku dan mulai melihat ke depan.

“Apa aku terlalu tampan hingga kau terus memandangiku?”

“Aku hanya mengingat masa lalu. 3 tahun lalu aku lebih tinggi darimu dan sekarang kau jauh lebih tinggi dariku.”

“Akui saja kalau kau melihatku sebagai laki-laki tampan.” Dia terus membahas topik ini.

“Oke, oke. Yoda memang tampan.”

Ini adalah kali pertamanya dia menanyakan hal ini padaku. Aku bersumpah jika dia berubah menjadi laki-laki yang genit, semua gadis akan tergila-gila padanya. Untung saja aku tidak mengasuh orang seperti ini, atau jika tidak, semua gadis yang dia goda akan mengirimku tatapan-tatapan yang mematikan.

Dia mengerutkan kening saat kami mulai berjalan menjauhi gerbang sekolah.

“Apakah pernyataanmu itu tulus?” dia menoleh padaku.

“Kenapa bertanya kalau sudah tahu jawabannya? Kenapa repot-repot bertanya?”

Dia menatapku, tersenyum sambil berjalan di sampingku. Sekarang giliran dia yang memberiku tatapan itu.

Kami tiba di jalan yang aku khayalkan tadi tapi sayangnya, aku sedang bersama orang yang paling savage yang pernah kukenal.

“Jadi kau benar-benar beranggapan kalau aku menarik?” dia tersenyum lebar. Aku tahu dia akan menggodaku sehingga aku tidak repot-repot menoleh ke arahnya.

“Siapa yang tidak setuju? Kau adalah pujaan di kampus ini, aku berterima kasih kepada Tuhan karena tidak ada seorang pun yang menusukkan belati di punggungku.”

“Pujaan?” apakah dia sungguh tidak peka untuk tidak menyadari tatapan yang diberikan orang-orang asing padanya?

“Kau tidak begitu ramah sehingga gadis-gadis tidak tergila-gila padamu, mereka hanya berpikir kalau kau menarik.” Jelasku.

“Kalau begitu aku akan mulai berbicara dengan gadis-gadis lain besok.” Aku tahu dia akan mengatakan hal itu.

“Jangan…kumohon jangan.” Pintaku.

“Kenapa?”

“Aku akan menerima tatapan mematikan dari fangirlsmu yang gila…mereka mungkin akan mengatakan kalau kau selalu didampingi oleh gadis cantik.”

IM NAYEON KENAPA KAU HARUS MENAMBAHKAN BAGIAN TERAKHIR ITU! Gawat. Aku baru saja menggali kuburanku sendiri. Aku ingin meleleh.

“Aku yakin mereka tidak akan begitu.”

“Bagaimana kau yakin?”

“Karena kau tidak cantik, Noona. Mereka tidak akan cemburu.” Dia tersenyum menyeringai dan lesung pipitnya terlihat.

“Yah!”

“Aku bercanda.”

Kami biasa mengobrol seperti ini, kami benar-benar nyaman dengan kehadiran masing-masing sehingga bersikap savage terhadap satu sama lain adalah hal yang biasa.

Tzuyu berubah hening, dia mengamati pemandangan; dia mengangkat kepada lalu pandangannya mengikuti daun-daun yang berguguran.

Aku bertanya jika dia suka musim gugur atau tidak.

“Aku hanya suka melihat daun-daun yang berguguran. Mungkin aku suka musim gugur.” Dia terlihat tidak yakin dengan jawabannya.

Okay checklist!!

Daun-daun kering yang berguguran ceklis!

Embusan angin ceklis!

Laki-laki tampan di sebelahku ceklis!

Berpegangan tangan. Cakra.

Cinta, Cakra.

Daftarnya hampir sempurna kecuali yang berhubungan dengan cinta.

“Cantik bukan?”

“Tidak. Tampan sepertiku.”

“Ada apa denganmu hari ini? Kau mungkin ingin bergabung dengan klub ‘no jam’ (tidak lucu) Jungyeon?” aku mengejeknya.

“Kau tidak menyenangkan Noona. Kau adalah pendiri klub itu.” dia menatapku dan tersenyum menyeringai lagi.

“Apa kau bilang?!” aku sedikit jengkel mendengarnya.

“Tidak Noona. Aku tidak bilang apa-apa.”

Saat berjalan ke arah tempat berbelanja, aku melihat seorang laki-laki berjalan di belakang kami. Sepertinya dia salah satu siswa pindahan dari Jepang. Aku tidak memedulikannya dan terus berjalan.

Tzuyu dan aku berjalan berkeliling, hingga dia menyarankan untuk pergi ke toko perhiasan. Dia bilang dia melihat banyak siswa-siswa yang sering masuk toko ini sehingga dia memperkirakan kalau harganya akan sedikit murah.

Kami memasuki toko itu dan melihat dua siswa pindahan dari Jepang; laki-laki berambut pirang dan laki-laki yang kulihat tadi, tapi mereka berdua mengenakan pakaian kasual.

“Hai.” Sapa siswa berambut cokelat.

“Kau murid pindahan itu kan?” tanyaku.

“Ya, kurasa kita dari sekolah yang sama.” katanya.

“Silakan lihat-lihat, semoga kau menyukai aksesoris di toko kami.” Tambahnya.

“Kau yang punya bisnis ini?” tanya Tzuyu.

“Keluargaku yang menjalankan bisnis ini.”

“Keren, kau bisa mendapatkan aksesoris gratis.” Aku takjub mengetahui kalau dia adalah putra pemilik toko ini.

“Tidak juga, aku tetap membayarnya. Aku hanya mendapatkan diskon kalau aku membeli aksesoris di sini.”

“Tapi tetap keren kok.” Kataku.

“Hehe… silakan lihat-lihat.” Dia meninggalkan kami lalu aku mulai berkeliling.

Aku melihat banyak siswa yang mampir ke toko ini. Mungkin mereka teman sekelas dua orang Jepang itu.

“Oh Tzuyu, jepit rambut ini lucu sekali.” kataku dengan nada riang.

“Mau mencobanya?”

“Uhh…tentu.”

Aku agak ragu karena aku tahu aku tidak mampu membelinya karena ini adalah toko perhiasan! Tentu saja, harga barang-barang di sini mahal-mahal.

Tzuyu berjalan ke arah dua laki-laki tadi dan bertanya apakah aku boleh mencobanya atau tidak. Mr. Pewaris Toko (laki-laki berambut pirang) berjalan ke belakang meja kasir dan mengeluarkan jepit rambutnya.

“Di pojok sana ada cermin jadi kau bisa melihat apakah jepit rambutnya cocok denganmu tapi percayalah jepitnya akan terlihat bagus dipakai olehmu.” Aku tersipu mendengar pernyataannya. Ini adalah pertama kalinya aku dipuji oleh seseorang yang tidak kukenal, dan juga di depan tiga laki-laki.

Aku hanya berterima kasih padanya dan mengalihkan pandanganku darinya. Tzuyu melihat ke arahku dan ke arah laki-laki dari Jepang itu.

“M-maaf, aku tidak bermaksud untuk menggo-” sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Tzuyu memotongnya.

“Tidak apa-apa. Dia pengasuhku.” Begitu aku mendengarnya, aku bisa melihat Tzuyu tersenyum menyeringai ke arahku.

“Sejak kapan aku menjadi pengasuhmu?” tanyaku.

“Tiga tahun lalu.”

“Aish. Aku akan mencobanya di depan cermin.”

Aku merasa heran. Laki-laki ini menggodaku kapanpun dan di manapun.

Aku pergi ke arah cermin, memasang jepitnya, dan wow! Cantik sekali. Aku yakin ini jepit rambut yang mahal. Tanpa sepengetahuanku, Tzuyu mengikutiku dan aku terkejut melihat bayangannya yang berdiri di belakangku.

“Noona jepit rambutnya terlihat cocok denganmu, kau harus membelinya.” Katanya sambil tersenyum, lebih terlihat senyum licik bagiku.

“Kau sungguh-sungguh?” aku tidak percaya padanya, karena kekejamannya, terkadang aku tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.

Aku menyadari kalau laki-laki berambut pirang itu terus menatapku. Dia terlihat imut, dia tinggi, tapi Tzuyu lebih tinggi darinya. Mr. Pewaris Toko juga tampan, dia agak tinggi tapi tetap saja Tzuyu lebih tinggi. Rambutnya berwarna cokelat terang. Apakah orang Jepang suka mewarnai rambut mereka? Kau memikirkan hal-hal aneh Im Nayeon dan ada apa dengan laki-laki hari ini? Mereka terus menatapku; bahkan Tzuyu menatapku tadi. Apakah ada sesuatu di wajahku?

“Kali ini aku serius Noona. Kau harus membelinya.”

Aku setuju untuk membelinya tanpa memikirkan harga dan dompetku yang malang.

“Permisi, uhh…berapa harga jepit rambut ini?” tanyaku ragu.

“50,000 won sunbae”

50.000 won?! Harganya sedikit murah tapi tetap terlalu mahal untuk ukuran siswa.

“Aku menyerah. Maaf tapi aku tidak mampu membelinya. Tapi aku sungguh menyukainya. Terima kasih untuk hari ini, sampai jumpa di sekolah.”

“Tidak apa-apa sunbae. Sampai jumpa.”

Aku lekas meraih pergelangan tangan Tzuyu lalu menariknya keluar toko. Aku menyadari kalau laki-laki berambut pirang itu masih memandangiku. Apakah aku terlalu cantik hingga dipandangi selama itu?

“Misi gagal.” Tzuyu menyinggung ‘misiku’ untuk membeli jepit rambut.

“Dari awal juga kau tahu kalau kita berdua tidak mampu membelinya.” Aku mendesah.

“Setidaknya kau menemukan sesuatu yang bisa kau beli nanti.”

“Dan menurutmu di mana aku bisa menemukan uang dalam jumlah sebanyak itu?” tanyaku.

“Minta ke orangtuamu; minta mereka untuk membelikannya sebagai hadiah ulang tahunmu. Senin depan ulang tahunmu kan? Kau bisa mendapatkanya sebagai kadomu.” Sarannya.

“Kau genius!” aku melompat-lompat dan memukul-mukul tangannya.

Dia hanya tersenyum. Aku tahu senyum itu berarti ‘sama-sama’. Lain kali cobalah untuk mengatakannya Chou Tzuyu.

Kami berjalan-jalan lagi dan kami melihat butik yang memajang hoodie lucu bergambarkan kelinci. Aku menunjukkannya pada Tzuyu dan dia tersenyum lebar.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan, dasar licik.”

Dia tidak bisa mengendalikan tawanya lagi. Aku memukul pelan bahunya tapi dia hanya semakin tertawa terbahak-bahak. Ughh susahnya menjadi pengasuh anak nakal ini tapi pada saat yang sama ini menyenangkan juga.

“Ayo kita makan saja lalu pulang, beritahu kakakmu kalau seharian ini kau mengejekku.”

“Tidak mau.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Dia akan mengomeliku.” Dia menyatakan fakta kalau kakaknya akan mengomelinya bahkan meskipun mereka tinggal berjauhan.

“Kalau begitu jangan mengejekku.” Saranku.

“Tapi ini menyenangkan.” Katanya dengan seringai khasnya.

“Aku menyerah. Aku tidak akan berbicara padamu.” Balasku dengan nada serius dan aku mempercepat langkahku. Aku menoleh ke belakang dan dia juga mempercepat langkahnya dan wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

“Maafkan aku Noona.”

Aku tidak bisa mengendalikan tawaku. Aku tertawa terbahak-bahak.

“Aku tidak sungguh-sungguh, pffttt kalau saja kau bisa melihat wajahmu sendiri. Aku hanya bercanda.”

“Aku tetap minta maaf Noona.” Dia bersungguh-sungguh.

“Untuk apa?” aku tersenyun padanya sehingga dia bisa sedikit tenang sekarang.

“Tidak ada.”

Ini adalah sifatnya yang masih belum kupahami. Aku tahu dia nakal, savage, dan jahat tapi ketika dia berubah serius, dia akan benar-benar serius.

Dia mengantarku pulang setelah kami pergi makan. Saat ini dia tidak tinggal di rumah lama mereka; dia tinggal di asrama bersama Minato dan siswa-siswa lainnya. Aku belum pernah pergi ke sana karena dia tidak mengizinkanku. Dia bilang kalau di sana terlalu banyak anak laki-laki sehingga jika aku pergi ke sana aku hanya akan menyebabkan kekacauan.

Keesokan harinya aku meminta orangtuaku untuk membelikan jepit rambut itu sebagai kado ulang tahunku. Tapi ketika kami tiba di sana, kami sudah terlambat. Jepit rambut itu tidak lagi dipajang. Haruskah aku bertanya pada Mr. Pewaris Toko siapa yang membelinya? Aku hanya akan mempermalukan diriku jika aku menanyakan hal itu padanya.

Senin, hari ulang tahunku tiba sementara hatiku hancur berkeping-keping; hatiku hancur mengetahui kalau aku tidak akan bisa melihat jepit rambut itu lagi. Selamat tinggal jepit rambutku yang lucu.

Aku kembali melewati jalanan indah di tengah-tengah pepohonan. Setidaknya jalan ini sedikit menyemangatiku. Terima kasih telah hadir dalam hidupku jalan indah.

Aku tiba di sekolah dan seketika dikerumuni anak laki-laki yang mengucapkan selamat ulang tahun atau memberiku kado tapi aku tidak menerimanya. Aku tidak mau terkesan tidak sopan pada mereka jadi aku hanya berterima kasih. Suasana hatiku sedang tidak enak untuk menyenangkan mereka dan kado-kadonya sehingga aku langsung pergi ke kelas.

Aku memasuki ruang kelas dan melihat Jihyo dan Jungyeon bersama-sama. Aku duduk di samping mereka.

“Lihat siapa yang menyebabkan keributan lagi di sini.” Kata Jihyo jengkel.

“Kado apa lagi tahun ini? Boneka Teddy Bear sebesar pintumu?” tambah Jungyeon.

“Tahun kemarin dia dapat apa ya? Oh! Sepatu kan?” kenapa mereka terus menunggu kado ulang tahunku di hampir setiap tahunnya? Yah. Mr. Tanpa Nama hanya mulai memberiku kado sejak dua tahun lalu dan setelah itu dua orang ini menunggu kado ulang tahunku setiap tahun.

“Bukan sepatu biasa. Sepatu itu bermerk dan mahal. Dia bahkan membelikan sepatu dengan ukuran yang tepat.” Kata Jungyeon takjub.

“Im Nayeon, kau sungguh memiliki pengagum yang kaya raya. Bisakah kita bertukar tubuh hari ini?”

“Yah aku sedang tidak ingin bercanda hari ini.”

Siapa tidak ketika kau sudah mengincar sesuatu lalu ketika kau kembali untuk mendapatkannya, barangnya hilang.

“Ooh birthday girl sedang tidak mood. Haruskah kupanggilkan Mina?” Jungyeon menggodaku.

“Apa yang bisa dilakukan Mina dalam situasi seperti ini?” tanyaku.

“Melelehkan hatimu.” Kata keduanya serempak.

“Kenapa kalian mengaitkanku dengan Mina?”

“Kenapa dengan kami?” balas Jungyeon yang sudah siap untuk menjelaskan ‘fakta ilmiah’.

“Kau tersenyum ketika kau melihatnya.” Kata Jungyeon dan Jihyo bergantian.

“Terkadang suaramu berubah ketika dia ada di dekatmu.”

“Kau berubah tegang ketika dia berada di sebelahmu.”

“Haruskah kami sebutkan satu per satu?”

“Ya tentu, ada alasan lain?”

“Oh ini!”

“Kau selalu ceroboh ketika dia ada di dekatmu!” mereka tertawa karena mereka mengatakan hal yang sama secara bersamaan.

“Wow apa aku sungguh bertingkah seperti itu di dekatnya? Kukira aku sudah mengendalikan beberapa sikapku.”

“Ya.” Kata Jungyeon.

“Tentu.” Lanjut Jihyo.

“Kau bisa mengendalikan beberapa sikapmu tapi kami masih bisa membuktikannya.” Jungyeon setuju denganku.

“Kami bisa membuktikannya sekarang.” Kata mereka serempak.

“MINA!!” wow, bahkan ketika mereka berteriak, mereka tetap kompak. Apa mungkin mereka adalah saudara kembar yang terpisah?

“Yah!” aku memukul lengan mereka keras-keras.

Beberapa saat kemudian aku melihat Mina mengintip ruang kelas kami.

“Ya Noona?” kata Mina dengan suara pelannya, tangannya memegang PS VITA.

“Kemarilah.” Perintah Jungyeon dan dengan patuh dia mengikuti perintah Jungyeon.

“Oh Nayeon Noona… Happy Birthday.” Seulas senyum tersungging di bibirnya.

Aku bisa merasakan wajahku yang memanas karena tersipu mendengar kata-katanya.

“Uhh…Thanks.” aku tidak bisa melihat ke arahnya dalam keadaan seperti ini dan aku melihat ke lantai.

Ya, aku menyukainya. Dia adalah teman sekamar dan sekelas Tzuyu tapi dia lebih tua dari Tzuyu. Tzuyu juga tahu kalau aku menyukai Mina.

Setelah beberapa saat, Tzuyu memasuki ruangan bersama dengan Chaehyung dan Daehyun.

“Happy Birthday Kelinci Pengasuh.” Itu adalah sapaan Tzuyu untuk hari ini.

“Aku senang kau mengucapkan happy birthday hingga kau mengatakan aku adalah pengasuhmu, sekarang aku merasa kesal.” Kataku main-main.

“Membuatmu kesal adalah niatku.” Dia tersenyum lebar.

“Yah!”

“Happy Birthday Noona.” Kata Chaehyung dan Daehyun. Mereka adalah teman sekelas Tzuyu.

“Terima kasih, kau lihat Tzuyu, jadikan mereka panutanmu, mereka bersikap sopan kepada yang lebih tua.” Aku menunjuk mereka berdua saat aku menjelaskan pada Tzuyu.

“Kalau begitu hidupmu akan terlalu sepi; itu membosankan.”

Anak ini; Tzuyu adalah anak yang manis tapi dia tidak ingin menunjukkannya sehingga setiap kali dia bersikap manis, dia berubah savage. 90% savage dan 10% manis.

“Oh, hi Thomas.” Tzuyu mengalihkan pandangannya pada Jihyo. (Jihyo mirip Thomas The Train)

“Sekarang aku kesal.” Jihyo mengerutkan kening dengan sengaja.

“Kau selalu terlihat kesal Noona.” Tzuyu tersenyum menyeringai sambil memalingkan muka darinya.

“Apa kau bilang Yoda?” dia berdiri dan mencubit lengannya.

“Ahhh! Sakit Noona. Aku tidak bilang apa-apa ahhh!” katanya sambil tertawa sekaligus berteriak kesakitan.

Jihyo kembali duduk di kursinya dan Tzuyu mengusap-usap lengannya.

“Ah ya Mina, kami memanggilmu karana Nayeon akan mengundang kalian berempat nanti.” Jungyeon mengumumkan kalau aku akan mentraktir mereka nanti. Jungyeon sialan. Dasar shikshin! Menemukan cara untuk mendapatkan makanan gratis. Tapi aku memang akan mentraktir mereka.

“Kenapa kalian hanya memanggil Hyung? Kami juga berdiri di depan kelas kalian.” Tanya Tzuyu. Kau juga Tzuyu? Apa kau akan membongkar kedokku?

“Punggung kalian membelakangi kami. Kami tidak tahu kalian bertiga ada di luar.” Jelas Jihyo. Aku sedikit lega mendengar penjelasannya.

“Kau tidak mengenali punggungku, punggung  tampanku?” kata Tzuyu sambil menunjukkan punggungnya.

“Kata siapa kau tampan?” Jihyo terus bercekcok dengannya.

“Kata Noona.” Dia menunjukku.

Mereka berlima kecuali Tzuyu melihat ke arahku secara bersamaan. Keheningan menyelimuti seisi ruangan hingga Jihyo memecahkannya.

“Jadi pasukan ‘menurutku Tzuyu tidak tampan’ sekarang bubar huh?” dia menoleh ke arah Jungyeon.

“Cih. Pemimpinnya sendiri yang menggagalkan misi kita.” Tambah Jungyeon dan menatapku.

“Jangan pura-pura tidak berdosa kalian.” Aku mencoba untuk mengungkapkan kebenaran.

“Setidaknya kami tidak mengatakannya dengan lantang.” Kata Jihyo sambil mendekat ke arahku.

“-dan di depannya.” Tambah Jungyeon dengan gaya yang sama.

Yang benar saja, mereka berdua kerap menyelesaikan kalimat masing-masing.

“Jadi sekarang kalian berdua mengakui kalau dia tampan.” Aku menang ha!

Mereka berdua diam membeku; mereka tidak sadar kalau mereka secara tidak langsung baru saja mengatakan kalau Tzuyu tampan. Aku bisa merasakan Tzuyu tersenyum di belakangku.

“Aku menutup mulutku.” Kata Jihyo dengan ekspresi datar.

“Tapi kau baru saja membukanya Noona.” Balas Chaehyung dengan senyum lebar di wajahnya.

Jihyo memelototi Chaehyung.

“Lihat sekarang siapa yang menjadi panutan.” Jungyeon terlihat sedikit takjub.

“Pengaruh buruk lebih tepatnya.” Tambah Jihyo.

“Kau memang virus Chou Tzuyu.” Kataku dengan nada serius namun main-main.

“Virus yang tampan.” Balasnya. Aku memukul lengannya; dia mencoba menghindar dan tersenyum.

Kami mengobrol sesaat namun seperti biasanya, Mina terus bermain game dan jarang ikut mengobrol, lalu aku teringat akan sesuatu, aku belum mengambil buku dari loker.

“Kami akan pergi sekarang, kelasnya akan segera dimulai.” Kata Mina setelah lama hening.

“Ah….Noona kau harus periksa lokermu. Isinya penuh.” Kata Daehyun sebelum pergi.

“Sampai jumpa Jungyeon Noona, Jihyo Noona, dan Nayeon Noona.” Kata Chaeng sambil beranjak dari kursi sebelum pergi.

Mereka pergi.

“Lain kali coba kendalikan rona merah di pipimu.” Kata Jihyo.

“Diam kalian.” Kataku dengan pipi memerah.

Ruang kelas mereka berseberangan dengan ruang kelas kami namun sedikit jauh. Kami bisa saling melihat dari jendela.

Sekolah ini memiliki susunan yang aneh. Setiap lantai terdiri dari 3 tingkatan dan 3 bagian; lantai pertama untuk jurusan Musikal; lantai kedua untuk jurusan Tari; dan lantai ketiga untuk jurusan Musik, tempat kami. Setiap lantai memiliki wilayah lokernya sendiri dan bangunan lain yang saling berhubungan dengan ruang fakultas dan ruang klub.

“Tunggu, aku lupa mengambil bukuku.”

“Kau hanya tidak sabar untuk melihat kadomu.” Goda Jungyeon.

“Diam!”

Begitu aku pergi untuk mengambil buku, aku mendengar mereka berbicara.

“Mau taruhan berapa harga kadonya kali ini?” Jihyo mulai bertaruh dengan Jungyeon.

“Apa tawaranmu?” Jungyeon mulai bernegosiasi.

“Menggoda Mina untuk membuat Nayeon cemburu.” Jihyo mengumumkan hadiahnya.

“Deal! Menurutku 70.000 won.” Kata Jungyeon.

“Oke! Menurutku 40.000 won.”

“Yang benar saja.” Aku terus berjalan menuju daerah loker.

“Sepertinya kita sudah bisa menebak kalau kadonya sekarang lebih mahal.” Jungyeon menoleh ke arah Jihyo.

Saat aku berjalan ke area loker, aku melihat siswa dari Jepang, si laki-laki berambut pirang, di luar area loker dengan sesuatu di tangannya. Dia tersenyum padaku. Aku diam membeku; ini pertama kalinya aku melihat dia di sini, mungkn dia pergi ke ruang fakultas atau klub. Aku mengikutinya dengan pandanganku saat dia berjalan menuruni tangga. Mungkin dia jurusan tari.

Aku lekas pergi ke lokerku dan melihat lokerku dipenuhi surat yang mencuat keluar. Aku menarik surat-surat itu dan melihat kalau lubang untuk memasukkan surat pengumumannya ditutup. Itu menjelaskan kenapa lokerku dipenuhi surat yang mencuat keluar. Aku memeriksa loker lain dan hanya lokerku yang tertutup. Siapa yang melakukannya? Entahlah, aku hanya akan mengambil bukuku.

Saat aku membukanya, aku melihat sebuah kotak super tipis. Begitu aku membukanya dan…

“Dewi Kelinci!” ini adalah jepit rambutnya!

Terdapat surat dalam kotak tersebut.

Happy Birthday Im Nayeon. Semoga kau menyukainya. Aku dengar kau sungguh suka jepit rambut ini. Sekarang jepitnya milikmu.

~ Pengagummu ~

Tulisannya diketik. Sial, cara yang bagus untuk menyembunyikan identitasmu. Tunggu- aku teringat sesuatu; siapa ini? Siswa yang tahu kalau aku sungguh menyukai jepit rambut ini adalah laki-laki berambut pirang, Mr. Pewaris Toko, dan Tzuyu. Tapi hari itu banyak siswa yang keluar masuk toko. Aku tidak ingin memikirkannya sekarang; aku harus pergi ke kelas. Terima kasih Mr. Pengagum, kau membuatku bahagia.

Aku memakai jepit itu dan berjalan dengan riang di sepanjang koridor. Begitu aku kembali, Jungyeon bertanya padaku.

“Kau terlihat senang, aku juga ikut senang. Sekarang berapa harganya?” aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum pada mereka.

“Wow kau sungguh matre.” Kata Jihyo.

“Yah bukan begitu. Aku hanya senang karena ini.” Aku menunjuk jepit rambutnya dengan kedua jari telunjukku.

“Woah, daebak!” Jungyeon benar-benar terlihat senang tapi kemudian

“-berapa harganya?” dia terus menanyakan harganya.

“Cara yang bagus untuk membuatku percaya kalau kau menyukai jepitnya. Harganya 50.000 won.”

“Aww… sayang sekali tidak ada yang menebaknya dengan tepat. Tapi kita sudah menebak kalau kadonya lebih mahal dari yang sebelumnya.” Jungyeon terkekeh.

“Im Nayeon. Kau bagaikan sang dewi bagi kaum pria tapi hanya kelinci bodoh bagi kami.” Mereka tertawa.

“Oke kita hentikan sekarang. Tapi wow, sepertinya kali ini pengagum rahasiamu sudah bangkrut huh?” kata Jihyo.

“Aku bahkan tidak ingin tahu harganya oke? Aku bahkan tidak ingin mereka memberiku kado tapi kenyataan kalau dia membelikan jepit ini untukku sungguh membuatku bahagia; kukira aku tidak akan melihat jepit rambut ini lagi.”

“Sepertinya kali ini laki-laki kasmaran itu tepat sasaran.” Jungyeon menepuk punggungku.

“Selama dua tahun belakangan ini, kau selalu menerima hadiah dari mereka. Setiap tahun kau selalu menerima hadiah dari orang tanpa nama itu dan ini adalah pertama kalinya aku melihatmu bahagia dengan hadiahmu itu.” jelas Jihyo.

“Aku bahkan tidak ingin membawa pulang kado-kado mereka. Kadonya terlalu banyak tapi aku harus menghargai usaha mereka jadi aku harus membawanya pulang.”

“Kau bisa saja memberikannya kepada kami.” Jungyeon memposisikan tangannya seperti sedang menunggu sesuatu untuk mendarat di tangannya.

“Tidak terima kasih. Aku tidak begitu menyukai kalian berdua.”

“Yah!” kata mereka serempak.

“Aku hanya bercanda. Mau ciuman?”

“Tidak terima kasih. Kami juga tidak begitu menyukaimu.” Balas Jihyo.

“Yah!”


To Be Continued

credit: TheTzusenOne @AFF

 

Advertisements

5 thoughts on “Case 143 [Chapter 1]

  1. tebakan pertama, pengagum rahasia nayeon adalah tzuyu, tapi ada kemungkinan mina?, walau dia terlihat cuek2 aja. atau cowok berambut pirang?. hhaa….. masih chap pertama jadi masih penasaran 😁
    cie….. nayeon yg jadi kembang sekolah. hahaah…..

  2. Ini WP jadi FFnya Twice ya? cuma pengen bilang aja sih.. jangan dihapus ff lamanya.. siapa tahu ada yang masih mau baca.. hehehe.. kadang kalo kangen snsd kan baca ff jadi jangan dihapus yakk apalagi WP ini ceritanya bagus semua

  3. Asikkk , chap pertama aja udahh seru . trio girl gokil banget . ngebayangin jdi mina , banyak banget penggemarnya . belum lelihatan nihh couple2 apa saja dsini . gue ngship mina sama nayeon . wkwkwkwk

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s