Case 143 [Chapter 2]

Case 2: The Escape plan. What about blackmail and mock detention?

Jihyo’s POV:

Pelajaran sudah dimulai. Kenapa jadwal pertama harus Fisika? Pelajaran ini sungguh membosankan untuk kelas sepagi ini. Bukan salah siswa kalau mereka tertidur.

Aku melihat keluar dan halaman gedung sekolah ini terlihat seperti kota hantu. Aku mulai memikirkan hal-hal aneh seperti kenapa nama panggilan Minato terdengar seperti nama perempuan dan kenapa itu cocok dengannya dan beberapa hal aneh hingga aku mengingat kado Nayeon. Hari ini adalah kado ketiganya. Aku masih berpikir siapa laki-laki yang kerap memberinya kado-kado mahal di setiap tahunnya; aku ingin tahu bagaimana cara mereka mendapatkan uang untuk membelikan semua itu untuknya. Tidak hanya di ulang tahunnya, tapi juga di hari-hari libur seperti hari Valentine dan Natal tapi pengirim itu hanya memberinya cokelat dan mawar di hari-hari itu.

Harus kuakui, Nayeon memang cantik, dan dia adalah idaman semua laki-laki. Laki-laki di sekolah ini mengantri untuk mendapatkannya; dia adalah gadis populer di sekolah ini jadi aku tidak heran dia akan menerima hadiah dan surat dari mereka. Harus kuakui juga kalau kelinci di sebelahku ini bersikap cukup dingin terhadap laki-laki, setiap hari dia menolak setiap laki-laki yang menyatakan cinta padanya; dia selalu bilang kalau mereka hanya menyukainya karena kecantikannya dan ingin pamer kepada laki-laki lain kalau mereka memiliki pacar yang cantik. Ya Nayeon selalu bilang kalau dirinya cantik ketika sesuatu seperti ini terjadi. Aku berharap dia bisa menemukan seseorang yang bisa meyakinkannya kalau orang itu mencintai dia apa adanya bukan karena wajah rupawannya.

Aku dan Nayeon duduk berdampingan dan Jungyeon duduk di hadapanku. Kami mengobrol-ngobrol di kelas.

“Kelasnya membosankan ya?” kataku sambil menoleh ke arah Nayeon.

Nayeon tidak menjawab. Dia masih memainkan jepit di kepalanya dan tersenyum seperti orang bodoh.

“Jangan repot-repot bertanya padanya, dia terlalu sibuk mencerna kalau jepit itu sekarang menjadi miliknya.” Bisik Jungyeon.

Mungkin aku harus mengalihkan perhatiannya.

Aku mengeluarkan ponselku dan menyalakan rekaman. Aku menarik perhatian Jungyeon dan mengisyaratkannya untuk diam dan mendengarkan apa yang akan aku katakan.

“Hei Nayeon.”

“Ya?” jawabnya tanpa menoleh ke arahku, masih memainkan jepitnya.

“Apa kau idiot?” kataku. Jungyeon terkekeh.

“Ya.”

Ini adalah hari yang kutunggu-tunggu; hari dimana kau mengakui kalau kau idiot.

“Kau menyukai Tzuyu?” aku kembali bertanya.

“Ya.” Dia menjawab dengan cepat tanpa menyadari apa pertanyaannya. Aku dan Jungyeon tersentak mendengar jawabannya. Hehe kau ketahuan Im Nayeon. Aku akan menggunakan rekaman ini untuk memerasmu.

“Bisa kau ulang pertanyaannya?” Jungyeon masih terkejut dengan jawabannya.

“Kau menyukai Tzu- tunggu. Apa?!! Tidak!!” bagus, sekarang dia sudah sadar.

Aku segera menaruh ponselku ke tas sehingga dia tidak akan mengetahui kalau aku merekam apa yang dikatakannya.

“Aish. Aku harus selalu bertanya padamu agar kau kembali sadar.” Kataku kesal dan dengan nada rendah.

“Aku selalu sadar tahu.”

“Kau baru saja bilang kalau kau idiot.” Kata Jungyeon.

“Aku tidak bilang begitu!”

“Mau bukti?” kataku sambil menatapnya dengan ekspresi licik.

“Tidak…

-TUNGGU!! Kau merekamnya?!!” bisiknya keras.

“Shhh!!”

Aku tersenyum lebar padanya; aku menunjukkan senyum terjahatku. Dia diam membeku untuk sesaat sebelum dia mulai berbicara lagi.

“Tidak apa-apa. Ini hanya Tzuyu, dia tidak akan percaya jika dia mendengarnya.” Kau mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja tapi suaramu bergetar.

Aku merasakan ponselku bergetar. Siapa yang mengirimku SMS sepagi ini.

Berbicara tentang Tzuyu. Dia yang mengirim SMS.

MasterYoda: Noona bisakah kau keluar?

MicJ: Kau tahu, tidak boleh memainkan ponsel di dalam kelas.

MasterYoda: Oh. Haruskah aku melaporkan diriku sendiri padamu nanti?

MicJ: Tidak usah, aku tidak mau melihatmu ditahan di ruang OSIS. Ruangannya akan terlihat jelek.

MasterYoda: Haha jadi kali ini aku tidak akan kena hukuman.

MicJ: Apa maumu?

MasterYoda: Bisakah kau keluar? Ajak Jungyeon Noona juga.

MicJ added YoointheJUNGle

Aku mencolek Jungyeon dan menunjuk ponselku dan tasnya. Kuharap kami tidak ketahuan.

YoointheJUNGle: Kenapa aku di sini?

MasterYoda: Bisakah kau keluar? Aku janji tidak akan lama.

MicJ: Bisakah kau mengatakannya di sini daripada di luar?

MasterYoda: Pelajaran kalkulus sungguh membosankan, ayo kita keluar. Aku tahu kalian juga mau. (¬‿¬)

YoointheJUNGle: Hei Jihyo. Kita harus menyelesaikan ‘laporan’ kita untuk Kepala Sekolah, ayo kita pergi ke ruang OSIS. (¬‿¬)

MicJ: Aku lupa!!! Aku harus menyelesaikan PROPOSAL untuk festival yang akan datang. Aku ikut!

MasterYoda: Haruskah aku melaporkan kalian berdua ke Kepala Sekolah karena menyalah-gunakan wewenang kalian?

MicJ: Tidak, diam di kelas, kami akan menjemputmu.

Setelah obrolan berakhir, aku berdiri.

“Songsaeng-nim aku dan Jungyeon mau minta izin. Ada kegiatan OSIS.”

“Apa-” aku menendang kaki Nayeon sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.

“Oke. Pastikan kalian menyalin catatan dari teman kalian.”

Aku mencolek Jungyeon dan mengisyaratkan kalau kita bisa pergi sekarang.

Saat kami berjalan menuju ruang kelas Tzuyu, kami tidak bisa menahan tawa mengingat apa yang baru saja kami lakukan. Aku harap kami tidak ketahuan tapi aku memang akan melakukan pekerjaan OSIS di sana. Setidaknya kami terhindar dari pelajaran yang membosankan itu.

Kami tiba di koridor kelas 1.

“Aku punya rencana.” Kataku pada Jungyeon.

Kami berjalan perlahan dan bolak-balik memandangi ruang kelas Tzuyu. Lalu aku mengetuk pintu kelas mereka.

“Annyeonghaseyo, Songsaeng-nim. Maaf mengganggu kelas Anda. Tapi saya harus menarik perhatian murid ini. Chou Tzuyu, berdiri, kau dihukum karena menggunakan ponsel di kelas. Keluar, kau dihukum sekarang!!”

Tzuyu terlihat bingung.

“Aku?!”

“Kau baru saja mengirimku SMS.” Aku mengangkat ponselku dan menerima pemberitahuan.

“Ya. Maafkan aku sunbae. Saya minta maaf sonsaeng-nim. Saya akan pergi sekarang.” Tzuyu berjalan cepat menuju pintu.

“Sampai jumpa songsaeng-nim. Saya akan merenungkan apa yang sudah saya perbuat, maaf mengganggu kelas Anda.” Tzuyu tersenyum dan melambaikan tangan.

Kami pergi dari kelas mereka. Tzuyu masih terlihat senang pergi dari kelasnya. Kami berjalan hening menuju ruang OSIS.

No one’s POV:

“Dia terlihat senang menerima hukuman.” Kata guru mereka.

“Siapa yang tidak akan senang kalau kau berada di ruang hukuman bersama dua gadis cantik.” Kata seorang siswa.

Daehyun dan Chaehyung saling berpandangan sambil tersenyum.

Jihyo’s POV

Kami tiba di ruang OSIS. Kami duduk dan mengobrol.

“Kau berani melambaikan tangan dan tersenyum senang kepada gurumu.” Kata Jungyeon.

“Sekarang kau resmi menjadi anak nakal Tzuyu.” Kataku.

“Lihat siapa yang berbicara.” Dia tersenyum.

“Siapa yang merencanakan ini.” Tambah Jungyeon.

“Tapi kalian setuju.” Senyumnya melebar.

“Oke, oke kali ini kau menang.” Aku mengaku kalah. Aku menghela napas.

Suasana menjadi hening. Tidak ada yang ingin berbicara hingga Jungyeon berkata,

“Hei, berapa lama kau bisa membereskan ‘proposalmu’?

“Entahlah, mungkin 4 jam?”

“’Laporanku’ masih belum selesai.” Jungyeon melihat ke arah kami berdua.

“Aku memperpanjang hukuman Tzuyu.”

Kami bertiga saling berpandangan. Kami semua tahu apa artinya. Kami semua ingin bermain League of Legends.

“Aku akan memakai Master Yi!” Tzuyu berlari dan duduk di depan komputer.

“Aku akan membuat hukumanmu menjadi nyata.” Aku menatapnya dengan penuh kemenangan.

“Master Yi menjadi milikmu sekarang.” Jawabnya cepat.

“Tunggu sebelum kita mulai, ada yang ingin kutanyakan Noona.”

Aku dan Jungyeon mendadak hening, menatap laki-laki itu sambil menunggunya berbicara

“Jihyo Noona, Jungyeon Noona…

Bisakah kalian membantuku?”

Nayeon’s POV

Tunggu, kegiatan OSIS apa? Setahuku tidak ada acara di bulan ini. Jadi kenapa mereka meminta izin? Sekarang aku tidak ada teman mengobrol. Ugh kelas ini sungguh membosankan. Aku ingin tidur.

Aku memikirkan musim gugur lagi. Aku masih ingin melakukan bucket list yang aku dedikasikan untuk kekasihku. Kapan dia akan datang? Hei cupid kenapa kau tidak mencoba dan memanahku dengan panah asmaramu? Kenapa kau terus memberiku cinta yang palsu? Kenapa kau terus memberiku laki-laki yang mencintaiku hanya karena kecantikanku saja? Tolong beri aku petunjuk kalau laki-laki yang akan mencintaiku sudah pernah bertemu denganku. Oke mari kita buat kesepakatan. Jika nanti aku melihat seorang laki-laki yang baru saja mencuci wajahnya, itu berarti aku sudah bertemu dengannya.

Ugh. Aku ingin bolos dari kelas ini. Mungkin aku harus meng-SMS mereka sekarang.

CherryTokki: Apa yang kalian lakukan? Kenapa mendadak pergi? Tidak akan ada acara di bulan ini. Kenapa berkumpul di ruang OSIS?

MicJ: Kau mau dihukum??

MicJ: idiot.mp3

MicJ: Mau kutambahkan Tzuyu di sini?

CherryTokki: Kau mau membayar makananmu sendiri nanti?

MicJ: Kau cantik sekali temanku; kau bagaikan seorang dewi, kenapa kau tidak mengganti namamu menjadi Dewi?

CherryTokki: Wow, aku bisa merasakan cintamu. Cinta untuk mendapatkan traktiran.

MicJ: Kami sedang bersama Mina hehehe

CherryTokki: Aku tidak peduli.

MicJ: Aku bisa membayangkan wajahmu yang sedang menangis

CherryTokki: Aku tidak akan membayar makananmu.

MicJ: aku akan menambahkan Tzuyu di sini.

CherryTokki: Aku hanya bercanda. Hehe aku mencintaimu

MicJ: Wow cepat sekali. Kau sungguh ingin melindungi image-mu. Mungkin aku bisa memutar rekaman ini di pengeras suara sekolah.

CherryTokki: Aku tidak kenal seseorang bernama Park Jihyo

MicJ: Siapa itu? Aku Thomas

CherryTokki: Screencapped!!

MicJ: Apa? Kau akan meng-post-nya? Aku menantangmu.

CherryTokki: Ooooh kau sungguh menakutkan.

MicJ: Ponselku tersambung dengan speaker.

YoointheJUNGle: img_143.jpg

CherryTokki: Tunggu!!! Aku akan mentraktirmu dua kali lipat nanti.

MicJ: Tidak mau. Kau terlambat.

Aku mendengar suara dari speaker. Suara itu terdengar singkat namun nyaring seolah-olah tidak sengaja terputar dan terhenti begitu mereka memutar rekamannya.

CherryTokki: Yah!

MicJ: Aku bisa memutarnya kapan saja kalau kau tidak mentraktirku dua kali lipat nanti.

CherryTokki: Aisshh oke oke. Aku akan membalasmu nanti.

MicJ: Semoga beruntung kalau kau bisa

CherryTokki: Lihat saja.

CherryTokki: Tunggu, di mana Jungyeon? Bukankah dia mengirimkan foto? Kenapa dia tidak ada di sini?

YoointheJUNGle: Aku sedang sibuk oke. Sampai nanti.

MicJ: Dia sedang main League of Legends

CherryTokki: Apa bagusnya game itu?

MicJ: Entahlah. Game ini sungguh menyenangkan. Kau juga harus mencobanya. Minta Tzuyu untuk mengajarimu.

CherryTokki: Tidak, terima kasih. Aku terlalu sibuk

MicJ: Terlalu sibuk karena Tzuyu yang akan mengajarimu. Kalau begitu minta Mina untuk mengajarimu

CherryTokki: Tidak, terima kasih

MicJ: Oooh jual mahal

CherryTokki: Sampai nanti, seongsaeng-nim bisa memergokiku. Aku akan mampir ke sana nanti.

MicJ: Kau menghindari topik aishh

YoointheJUNGle: Apa yang kulewatkan?

MicJ: Baca sendiri Jungyeon

Istirahat makan siang. Aku mengambil kotak makan siangku dan pergi ke ruang OSIS. Aku memasuki ruang tersebut dan melihat Tzuyu sedang bermain bersama Jungyeon. Begitu Tzuyu melihatku, dia berdiri menjauh dari komputer.

“Aku sedang menjalani hukuman!” Tzuyu mengambil kertas dan pulpen seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku baru saja melihatmu bermain, jadi sekarang ini yang dinamakan hukuman huh?”

Aku menutup pintu.

“Sekarang kau resmi debut menjadi si pembuat onar Chou Tzuyu.”

“Apa maumu? Kami sedang sibuk tahu.” Kata Jungyeon.

“Sibuk pantatku. Tidak akan ada acara dan kau tidak perlu sesibuk itu.”

“Kami sedang sibuk seperti kau yang sibuk mengusap-usap jepit rambut berhargamu itu.” Jihyo menunjuk jepit yang menempel di kepalaku.

“Noona, itu jepit rambut yang kau coba kemarin?” kata Tzuyu sambil berpura-pura menulis sebagai bentuk hukumannya.

“Ya!” kataku antusias.

“Baguslah, kau menangis di telepon selama satu jam saat kau mengetahui kalau seseorang membelinya.” Dia tersenyum menyeringai.

“Aku tidak menangis!”

“Aku merekamnya.” Senyumnya melebar.

“Aku….memang menangis, lalu apa masalahmu?”

“Kau akan mentraktirku dua kali lipat nanti atau aku akan menyambungkan ponselku ke speaker.” Kenapa mereka selalu memerasku.

“Kau juga virus Jihyo.”

“Kalau begitu beli obat sana.” Kata Jihyo tanpa menoleh padaku, kembali menulis proposal.

“Siapa? Aku-” aku membungkam mulut Tzuyu dengan tanganku.

“Shhh! Aku sedang mempersatukan mereka jadi jangan merusaknya. Kau boleh membantuku kalau kau mau.” Jihyo mengangkat kepala.

“Siapa?” tanyanya dengan tatapan tajam.

“Bukan siapa-siapa, benar kan Tzuyu?” Tzuyu mengangguk seperti anak anjing.

“Kalian berdua aneh.”

“Hei ayo kita makan siang!” sahutku.

“Tidak terima kasih. Aku butuh ruang untuk menampung traktiranmu nanti.” Kata Jihyo sambil memandangku.

“Aku membatalkannya.” Aku menepuk pundaknya.

“Kau tahu aku bisa melakukannya sekarang, akan lebih menyenangkan karena kalian berdua ada di sini.” Kata Jihyo pelan sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya sementara dia masih menulis proposal.

“Aku bercanda.”

“Aku tahu. Aku hanya bermain-main denganmu.”

“Yah Jungyeon berhentilah mengerjakan ‘laporanmu’. Ayo kita makan.”

“Tunggu! Aku sedang bertarung dengan laporanku.”

“Apa status ‘laporanmu’ Noona?”

“12 Kills 0 Deaths 5 assists.”

“Ooh laporan yang keren. Aku akan melaporkanmu ke Kepala Sekolah.”

“Tunggu! Aku selesai! Ayo kita makan siang, aku lapar.” Jungyeon buru-buru berdiri dan mengambil kotak makan siangnya, menunda game-nya.

Kami bertiga menyantap makan siang. Seseorang terus menelepon Tzuyu tapi dia terus mematikannya.

“Kau tidak akan mengangkatnya?” tanyaku.

Dia tidak menjawab. Seseorang menelepon lagi, Tzuyu buru-buru menghabiskan makanannya.

“Aku akan pergi ke kamar kecil Jihyo Noona. Aku akan segera kembali.” Tzuyu pergi dari ruangan tanpa persetujuan Jihyo.

“Yah jangan hancurkan pintunya!”

“Aku akan pergi sekarang, kalian tidak akan menghadiri kelas kan?”

“Tidak, kami akan menyelesaikan ini.” Jungyeon sibuk mengetik di depan komputer.

“Aku juga memperpanjang hukuman Tzuyu.” Balas Jihyo.

“Aku mencium bau-bau politik.”

“Aku akan menyambungkan ponselku.” Kata Jihyo tanpa memandang ke arahku.

“Aku menarik kembali ucapanku. Aku akan pergi sekarang, sampai nanti.”

Aku berjalan kembali ke ruang kelas, saat aku berjalan melewati toilet laki-laki, aku mendengar suara Tzuyu.

“-Oke, hati-hati Hyung, dah.”

Dan Tzuyu keluar dari toilet.

“Oh Noona, sudah selesai makan? Aku harus buru-buru sekarang, Jihyo Noona mungkin akan berubah dari mesin tank menjadi kereta peluru.” Dia berlari menuju ruang OSIS bahkan tanpa mendengar balasan dariku.

“Kenapa dengan anak itu? Aish aku harus pergi sekarang atau aku akan terlambat masuk kelas.”

Tapi sebelum aku pergi ke kelas, aku ingin pergi ke kamar kecil dulu. Ketika aku akan masuk ke kamar kecil, Mr. Pewaris keluar dari toilet pria.

“Oh kau memakai jepitnya, sangat cocok denganmu.” Dia tersenyum dan pergi. Pikiranku mendadak kosong. Apakah dia yang memberiku jepit ini? Jika iya berarti aku memiliki pengagum yang lucu. Kau tahu, kau bisa saja mendekatiku. Tunggu, aku menyangkal pikiranku tadi. Aish aku harus buru-buru dan pergi ke kelas.

Aku menghabiskan waktu hari ini dengan melamun dan mengantuk. Aku juga ingin bergabung dengan mereka, ini tidak adil. Aku tidak mencatat materinya, kelas ini sungguh membosankan. Aku ingin pergi keluar dan bersantai-santai sejenak. Ruang kelas ini sungguh menyesakkan tanpa dua orang itu. Aku berdiri dan meminta izin.

“Seongsang-nim, saya izin ke kamar kecil.” Aku keluar dan pergi ke kamar kecil.

Aku baru saja akan masuk ke kamar kecil ketika tiba-tiba aku melihat Mina keluar dari toilet pria. Wajahnya basah; sepertinya dia baru saja membasuh wajahnya.

“Oh Noona, aku tidak menduga bisa bertemu denganmu di sini.” Katanya sambil mengelap wajanya. Wah, dia mengejutkanku. Astaga dia tampan sekali.

“Kelasnya membosankan jadi aku berencana untuk menghabiskan sedikit waktu di sini.” Aku memandangi wajahnya.

“Sepertinya Tzuyu beruntung hari ini, dia membolos. Mungkin aku harus pergi ke ruang OSIS dan bermain di sana.”

“Jangan! Kau mau menjadi anak nakal seperti Tzuyu?”

“Tzuyu?” katanya bingung.

“Dia resmi debut sebagai anak nakal tadi.”

“Ah hukumannya? Aku dengar Jihyo Noona memperpanjang hukumannya.”

“Percayalah tidak ada hukuman yang terjadi di sana.”

“Ya aku tahu, karena itulah Tzuyu beruntung hari ini.” Dia cemberut. Wow dia lucu sekali cemberut seperti itu.

Aku kehabisan kata-kata, tapi aku seperti menahannya pergi. Aku tidak boleh menghentikannya meskipun aku ingin mengobrol dengannya.

“Kau harus pergi ke kelas sekarang, maaf sudah menahanmu di sini.”

“Tidak apa-apa Noona, aku bahkan tidak mau kembali ke sana. Kelasnya sungguh membosankan.”

“Pelajaran apa kali ini?” tanyaku.

“Kimia.” Katanya dengan wajah yang murung. Im Nayeon kendalikan dirimu. Berhentilah fangirling.

“Oh, aku kasihan padamu.” Aku tersenyum.

“Berhentilah mengejekku Noona.” Dia cemburut.

“Oke, sekarang pergilah.”

“Sampai jumpa nanti.”

Dia pergi tapi kemudian berhenti dan berbalik.

“Ah Noona, jepit itu terlihat cantik dipakai olehmu.” Dia melambaikan tangan.

Aku lekas memasuki kamar kecil dan membasuh mukaku. Apakah dia sungguh mengatakan hal itu? Aku masih tidak percaya kalau dia memujiku; secara tidak langsung dia bilang kalau aku ini cantik. Oke mungkin tidak, hentikan khayalanmu sekarang. Tapi tetap saja, dia bilang jepit ini terlihat cantik dipakai olehku. Oke aku benar-benar harus berhenti sekarang atau guruku akan curiga kalau aku membolos.

Aku kembali membasuh wajahku hingga aku teringat- Myoui Minato baru saja mencuci wajahnya. Aku melihat seorang laki-laki yang baru saja mencuci wajahnya!! Kalau begitu dialah yang akan mencintaiku! Oke, aku kembali berkhayal. Hentikan! Itu berarti bahwa aku akan bertemu dengan laki-laki yang akan mencintaiku, bukan Minato yang akan mencintaiku. Aku harus kembali sekarang atau aku akan menjadi gila di sini.

Saat aku kembali ke kelas, guruku kini sedang mendiskusikan tentang Sherlock Holmes. Bagaimana bisa profil Sherlock Holmes muncul dalam diskusi kita. Aku melihat bukuku; oh kita sedang mendiskusikan tentang Sir Arthur Conan Doyle.

“Sherlock Holmes memperlakukan wanita dengan penuh hormat dan membuat mereka merasa tenang; akan tetapi di matanya, wanita adalah korban yang tidak berdaya, tidak masuk akal, dan terlalu emosional, hal ini dibuktikan dengan bagaimana cara wanita berperilaku dalam sekian banyak peristiwa. Ini membuktikan kalau pria mengalahkan wanita di zaman tersebut.” Guruku meneruskan diskusinya.

Aku tidak pernah menjadi penggemar Sherlock Holmes tapi aku mengaguminya karena pribadinya yang jenaka dan cerdas; tapi aku tidak pernah mengira kalau dia juga ternyata seseorang yang brengsek; jadi bahkan karakter yang terkenal dan cerdas pun bisa menjadi seseorang yang brengsek.

“-tapi di lain hal, Irene Adler yang sering digambarkan sebagai kekasih Holmes, dia adalah satu-satunya orang yang mampu memperdayakan Sherlock Holmes.”

Sepertinya Sherlock Holmes hanya jatuh cinta pada wanita yang cerdas; tapi dia tetap laki-laki brengsek.

“Karena musim sudah berubah, mari kita bicarakan tentang musim gugur dan cerita-cerita yang berhubungan dengan musim gugur.” Apakah guru ini tahu kalau dia tidak sedang mengajar murid TK? Kami semua tahu apa itu musim gugur.

“Musim gugur selalu dikaitkan dengan Melankolia bahkan hingga saat ini. Musim ini disebut musim yang tidak sehat.” Tapi bagiku ini adalah musim tersehat.

“Musim gugur adalah musim semi kedua di mana semua daun adalah bunga.” ― Albert Camus

Kelas berakhir dan setelah pulang sekolah kami bertujuh bertemu di gerbang sekolah.

“Ayo kita pulang dulu dan ganti baju. Aku juga lupa membawa dompetku jadi aku akan mengambilnya. Kita bertemu di restoran nanti.”

“Noona aku ikut denganmu.” Tzuyu bersukarela.

“Tidak apa-apa. Kau juga harus mengganti bajumu.” Aku bersikeras agar dia tidak ikut denganku.

“Tidak, aku akan ikut denganmu. Aku bawa baju ganti di tasku.” Dia menunjuk tasnya.

“Ahh, oke ayo kita pergi.”

Kami tiba di jalan yang dipenuhi oleh daun-daun yang berguguran. Aku tidak ingin mempedulikan kenyataan kalau aku sedang berjalan di sini tanpa seorang kekasih tapi dengan orang terkejam yang pernah kukenal.

“Kenapa tiba-tiba kau ingin pulang denganku?” tanyaku ingin tahu.

“Aku harus mengunjungi Paman dan Bibi, apalagi ini hari ulang tahunmu, ini adalah caraku untuk berterima kasih kepada mereka karena sudah merawatku selama ini.” Kata Tzuyu, kali ini dengan nada serius. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku kalau Tzuyu akan memikirkan hal semacam ini.

“Jadi kau hanya berterima kasih kepada mereka dan aku tidak termasuk?” kataku sambil menundukkan kepala.

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

“Ya ya aku tahu kau sudah muak padaku dan ingin kembali ke Taiwan.” Kataku bergurau.

“Aku selalu berterima kasih pada semua orang yang selalu bersamaku setiap hari. Aku hanya tidak mau mengatakannya.” Dia melihat ke kiri mencoba menyembunyikan wajahnya dariku.

“Wow aku tidak pernah mengira kalau kau bisa serius seperti itu.” kataku tercengang.

“Kau tidak termasuk di sana.” Dia menjulurkan lidahnya dan menaruh jari telunjuk di bawah mata kirinya dan berlari menjauhiku.

“Yah kau akan membayar makananmu nanti!” aku mencoba mengejarnya.

Kami tiba di rumahku. Kami masuk ke dalam dan orangtuaku terlihat sedang menonton tv di ruang keluarga.

“Kau lupa membawa dompet sayang?” kata ibuku begitu dia mendengar langkah kakiku.

“Bagaimana ibu tahu?” aku pergi ke lantai atas.

“Kau memang pelupa.” Aku berhenti dan memelototi ibuku.

“Oppa akan pulang hari ini?”

“Kau tahu kalau hari ini adalah hari terakhir kakakmu di semester ini. Dia akan pulang besok atau besoknya lagi.” Aku merengek. Aku sungguh ingin bertemu dengan Oppa hari ini dan ini adalah ulang tahun pertamaku tanpa kehadirannya.

“Annyeonghaseyo.” Tzuyu memasuki ruang keluarga.

“Oh, kau tidak bilang kalau Tzuyu ikut ke sini.” Ibu terkejut ketika dia melihat Tzuyu.

“Aku lupa, dia bilang dia ingin berterima kasih pada kalian karena sudah merawatnya.” Aku menatapnya dan tersenyum.

Dia tidak merespon dan menundukkan kepalanya, tunggu, apakah dia tersipu?!

“Apa kau sakit? Apa ini benar-benar Tzuyu? Aku tidak pernah tahu kalau Tzuyu adalah anak yang manis.” Goda ibuku.

“Ahhh Bibi. Aku bukan anak kecil lagi!” rengeknya. Ibuku menepuk dan mengacak-acak rambutnya.

“Noona kenapa kau harus mengatakannya.” Dia memandang ke arahku dan merengek.

“Itu yang kau dapatkan karena selalu kejam padaku.” Aku menjulurkan lidah padanya dan pergi ke lantai atas menuju kamarku, mengambil dompet dan mengganti bajuku. Aku memakai celana dan sweater biru dan sneakers Vans simple. Begitu aku turun, Tzuyu bertanya padaku,

“Noona, boleh aku pakai kamar mandi? Aku mau mengganti bajuku.”

“Kau bisa ganti di kamarku.” Aku menunjuk ke lantai atas.

Dia kembali tersipu.

“Tidak usah, di kamar mandi saja.” Dia bersikeras.

“Kamar mandinya basah Tzuyu, bajumu bisa ikut basah. Untuk saat ini pakai saja kamar Nayeon.” Kata ayahku sambil menepuk punggungnya.

Ayahku membisikkan sesuatu pada Tzuyu, apa itu? Aku akan bertanya padanya nanti.

“Ya Paman.”

Dia lalu pergi ke kamarku dan mengganti bajunya. Saat dia mengganti baju, aku pergi ke kamar mandi dan terkejut, kamar mandinya berantakan.

“Ayah! Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Ah anjingmu bermain di kamar mandi dan terjebak, dan badannya berlumpur karena bermain di luar tadi.”

“Yoda? Sekarang di mana dia?” aku mulai panik, bagaimana bisa anjingku berlumpur seperti itu? Bagaimana bisa dia keluar dari rumah?

“Dia ada di kamarmu; kau tidak melihatnya saat kau pergi ke kamarmu?”

“Apa?!” oh tidak, dia pasti akan bermain-main dengan barang-barangku.

Aku pergi ke lantai atas dan aku bahkan tidak repot-repot menunggu jawaban ayahku.

“Kami sudah memandikannya! Jangan khawatir.” Aku tahu ayah memandikannya, tidak akan ada yang menaruh seekor anjing di kamar saat tubuhnya dipenuhi lumpur. Aku mengkhawatirkan barang-barangku, bagaimana kalau dia menggigit sepatu atau baju-bajuku, atau buku-bukuku.

Aku memasuki kamar dan melihat Tzuyu membungkuk di lantai, melihat ke kolong tempat tidurku; bertelanjang dada.


To Be Continued

credit: TheTzusenOne @AFF

Advertisements

3 thoughts on “Case 143 [Chapter 2]

  1. ternyata dewa cupid mendengar permohonan nayeon. dan sangat kebetulan cowok yg membasu muka adalah minato. cowok idaman nayeon.
    hahaha….. nayeon bahagia banget, fangiirli nya keluar.

  2. hahahahha . nayeon mina cocok sihh . tpi klo sama tzuyu juga cocok ,, wkwkwkw , nayeon ngelihat tzuyu telanjang dada , gmana reaksinya . hahahha , banyak ketawa gue ….

  3. Aku udh nungguin kelanjutannya. Aku udh baca sih di aff. Kaget bgt sama akhir ceritanya. Tp berhubung inggris ku parah bgt. Jd ttp nungguin ini.
    Semangat

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s