Case 143 [Chapter 3]

Case 3: The Birthday and Their crazy antics.


Aku terdiam. Aku lupa kalau Tzuyu sedang ganti baju di kamarku. Wow tubuhnya indah sekali. Tunggu berhentilah memandanginya, di mana anjingku?!

Begitu dia melihatku, dia melompat ke atas tempat tidurku, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan berteriak seperti seorang perempuan.

“Kau sedang apa?” tanyaku jengkel.

“Yah! Kenapa kau tiba-tiba membuka pintu ketika seseorang sedang mengganti baju!”

“Yah! Jangan sentuh selimutku dengan tubuh berkeringatmu! Dan kunci pintunya kalau kau sedang ganti baju!” aku meraih selimutku dan menjauhkannya darinya. Langkah yang salah Im Nayeon. Aku melihat tubuhnya lagi. Jadi seperti ini hasil dari latihan menari dan sedikit Aikido. Aku tidak bisa menyalahkan diriku, bahkan jika Jeongyeon atau Jihyo melihat tubuhnya, mereka akan diam membeku. Kenapa dia lama sekali mengganti bajunya.

Dia buru-buru memakai bajunya dan kembali berdiri, dia kembali melakukan posisi yang sebelumnya.

“Kau mencari apa di kolong tempat tidurku?”

“Anjing.” Aku lupa lagi, tujuanku masuk ke kamar adalah karena aku sedang mencari Yoda.

“Yoda!!”

“Apa?!” dia terlihat kaget.

“Bukan kau, anjingku!” aku menunjuk anjingku begitu dia mendengar namanya.

“Jadi kau menamai anjingmu dengan namaku?”

“Jangan merasa terhormat. Aku menamainya Yoda karena telinga panjangnya.” Aku mengusap-usap anjingku.

“Bagaimana kau tahu kalau ada anjing di sini?”

“Ah, aku mendengar rengekan.”

“Lalu kau mulai mencari tahu dari mana asalnya?”

“Tidak, aku sedang memeriksa kamarmu.”

“Dasar mesum.” Aku mencubit lengannya dan dia memohon ampun.

“Ahhh Noona, sakit tahu! Aku hanya bercanda! Ahh hentikan. Untuk apa aku memeriksa barang-barangmu?”

Aku berhenti mencubitnya, dan dia mengusap-usap lengannya.

“Ibu lupa kalau ada dua Yoda di kamarmu.” Kata ibuku.

Aku tertawa terbahak-bahak. Aku tidak tahu kalau mereka bisa melihat kemiripan di antara Tzuyu dan Yoda.

“Bibi, hentikan…” kata Tzuyu dengan suara yang lucu.

“Omo, jagoan kita sudah dewasa sekarang. Kau sungguh tampan hingga baju itu terlihat cocok dipakai olehmu.” Ibuku menghujani Tzuyu dengan kecupan.

Tzuyu memakai kaos polo maroon berpola dan celana joger.

“Oh tidak, dia mulai lagi.”

“Aku tahu Bibi. Noona baru saja mengatakannya.” Dia tersenyum lebar dan menjulurkan lidahnya.

“Hentikan! Kami akan pergi sekarang! Sampai jumpa. Aku lupa memberitahu kalian kalau aku mendapatkan jepit rambut yang kuinginkan.”

“Baguslah sayang. Kau hampir membanjiri kami dengan air matamu. Ah, nanti ada acara makan malam keluarga, Tzuyu kau diundang. Kami tidak menerima penolakan.” Kata ayahku.

“Ya Paman! Sampai nanti.” Aku menutup pintunya.

Jeongyeon’s POV

Di mana mereka berdua? Sudah satu setengah jam sejak kita berpisah. Bukannya mereka hanya mengganti baju dan mengambil dompet Nayeon, tapi kenapa lama sekali?

Aku merasakan ponselku bergetar dan aku melihat layar ponselku. Tzuyu.

MasterYoda: Noona, kami sedang dalam perjalanan, apa hadiahnya sudah sampai?

YoointheJUNGle: Belum.

MasterYoda: Ganti ke rencana B. Kita bertemu di area Shopping.

YoointheJUNGle: Oke

Aku harap rencana ini berjalan sukses. Aku terkesan mengetahui Tzuyu merencanakan semua ini. Kurasa ini adalah hadiah terbaik yang akan dia terima tahun ini, bahkan jepit rambut itu pun tidak bisa menandinginya.

“Ayo kita pergi ke area Shopping. Oke semuanya berpisah, rencana B. Daehyun dan Chaehyung pergi ke Pusat Permainan.”

“Eh Noona. Aku juga ingin ke sana.” Keluh Minato, menggoyang-goyangkan kaki penguinnya.

“Wow, ini pertama kalinya aku mendengarmu mengeluh dan kedengarannya…lucu.” Jihyo memelankan suaranya di akhir kalimat.

“Oke, oke; kalian bertiga ke Pusat Permainan, kami berdua akan pergi ke area pakaian.” Kataku sambil berjalan berlawanan arah dari mereka.

“Di mana ‘hadiahnya’ sekarang?” tanya Jihyo.

“Terjebak macet.” Kataku.

Jihyo hanya menganggukkan kepalanya.

“-tapi tidak jauh dari sini, katanya hadiahnya harus memarkirkan mobilnya di tempat lain.”

“Kita lakukan pekerjaan kita sekarang. Kuharap hadiah kecil kita akan dihargai.”

“Pasti.” Aku menepuk punggungnya.

Tzuyu’s POV

Hal terburuk dari yang terburuk baru saja terjadi; kami harus berhati-hati dalam bertindak.

Aku khawatir rencana kami tidak akan berjalan dengan baik, karena itu aku terdiam untuk sesaat hingga Noona bertanya padaku.

“Kenapa kau sangat aneh saat aku bilang kalau kau boleh memakai kamarku untuk ganti baju?”

“Kau tidak merasa risih melihat laki-laki memakai kamarmu?” aku menoleh padanya.

“Tentu saja, tapi kau yang akan memakainya jadi aku tidak keberatan.” Jawabnya dengan penuh percaya diri.

“Wow kukira kau tidak percaya padaku karena aku kejam.” Kataku.

“Yah! Aku sudah mengenalmu selama lebih dari 10 tahun; setiap kali kau berkunjung ke rumahku kau selalu masuk ke kamarku tanpa permisi; kau bahkan sering tidur bersamaku.” Dia berbicara dengan keras sehingga orang-orang mulai memandang ke arah kami.

“Shhh! Kenapa kau bilang kalau kita tidur bersama? Itu terjadi 7 tahun yang lalu; saat itu umurmu 8 dan aku 6 tahun dan terakhir kali aku masuk ke kamarmu itu sekitar 3 tahun yang lalu.” Jelasku.

“Aku bahkan tidak perlu merasa malu karenanya, kau sudah seperti adikku sendiri tahu.” Dia berubah tenang dan mengatakannya dengan pelan.

“Tapi kita bukan adik kakak, jadi berhentilah membicarakannya kalau kau ingin menjaga image, orang-orang sedang memandang ke arah kita sekarang.”

Dia memandang berkeliling dan melihat orang-orang yang memandang ke arah kami.

“Kau dan suara nyaringmu.” Aku mendesah.

“Maaf.” Dia tersipu saat mengatakannya. Kenapa dia tersipu?! Demi tuhan, hentikan.

Keheningan menyelimuti suasana, tidak ada yang berani berbicara untuk beberapa saat hingga Noona memutuskan untuk memecah keheningan.

“Aku penasaran, apa yang dibisikkan ayah padamu tadi?” tanyanya. Aku tidak tahu dia melihat kalau Paman membisikkan sesuatu padaku.

“Ah itu, kenapa? Itu adalah pembicaraan antara pria, Noona.” Aku menatapnya dan tersenyum.

“Sungguh? Apa ayahku mengubahmu menjadi orang mesum?” apakah dia sungguh berpikir kalau ayahnya ingin mengubahku menjadi orang mesum? Tentu saja tidak, siapa yang menginginkan putri mereka digodai oleh seseorang.

“Kau terlalu banyak berpikir, Paman hanya ingin tahu apa aku bisa menemukan bukti kalau kau punya pacar atau tidak; lalu aku bilang ya, aku akan coba mencari tahunya saat aku berada di kamarmu.” Aku tersenyum menyeringai.

“Yah jadi kau menyentuh barang-barangku?” dia merasa jengkel mendengar apa yang kukatakan.

“Bercanda. Paman hanya bertanya tapi aku tidak menyentuh apa pun.” Aku menenangkannya.

“Kau kira aku akan mempercayaimu?”

“Percaya apa yang ingin kau percayai. Aku hanya menyatakan kebenarannya.”

“Aishh. Kau sungguh bukan main.”

Kami tiba di area Shopping dan bertemu dengan Jeongyeon Noona dan Jihyo Noona.

“Ke mana tiga laki-laki lagi?” tanya Nayeon Noona.

“Ah katanya mereka akan datang terlambat. Mereka bilang kalau mereka ingin mengambil sesuatu di pusat permainan jadi kami cuci mata di sini.” Kata Jeongyeon Noona.

“Katanya mereka akan menelepon setelah selesai.” Tambah Jihyo Noona.

Kami berjalan-jalan di area itu. Setelah beberapa saat, mereka berdua berpisah dari kami dan Nayeon Noona tidak bisa menghubungi mereka. Jadi kami berdua pergi ke pusat permainan dan melihat Chaeng, Daehyun, dan Minato. Begitu aku melihat mereka, aku mengedipkan sebelah mataku pada mereka, dan mereka tersenyum menyeringai. Kami berjalan berkeliling mencoba untuk mencari Jeongyeon Noona dan Jihyo Noona; tapi lagi-lagi Chaeng, Daehyun, dan Minato terpisah dari kami dan ponsel mereka mati (lol KaTalk mereka offline). Kami melihat Jihyo Noona dan Jeongyeon Noona lagi dan kami kembali berkeliling untuk mencari Chaeng, Daehyun, dan Minato.

“Noona, ayo kita berpisah. Akan lebih cepat kalau aku pergi mencari mereka. Aku akan meneleponmu beitu aku melihat mereka.” Aku pergi menjauh dari mereka dan bertemu dengan Chaeng, Daehyun, dan Minato. Aku menelepon seseorang.

“Hai Ayah, kau di mana sekarang?”

Jeongyeon’s POV

Kami terus berjalan ‘berharap menemukan tiga bocah itu’ dan aku bisa merasakan kalau Nayeon ingin mengeluh sekarang. Kami sudah berjalan selama hampir satu jam dan sekarang sudah hampir jam 7 malam. Tzuyu mengirimiku SMS.

MasterYoda: Noona, hadiahnya bilang kalau dia akan segera tiba. Aku akan meneleponmu kalau hadiahnya sudah ada di restoran.

YoointheJUNGle: Cepatlah!

MicJ: Cepatlah

MasterYoda: Wow kalian menulis hal yang sama pada waktu yang bersamaan, jangan marah padaku. Katakan itu pada hadiahnya nanti.

“Ugh aku tidak bisa menahannya lagi. Kita pergi ke restoran saja dan menunggu mereka di sana.”

Uh-oh, bahaya. Kami harus bertindak cepat.

“Tunggu! Sebelum kita pergi, bisakah kau ikut denganku ke toko itu. Aku hanya ingin mencari sesuatu untuk kakakku.” Alasan yang basi Yoo Jeongyeon. Matilah kita.

“Oke.” Kata Nayeon. Dia mempercayainya!

Aku dan Jihyo saling berpandangan. Ini adalah saatnya untuk mengalihkan perhatian gadis ini dan kami harus berusaha sebaik mungkin.

Kami berpura-pura menyukai gaun ini dan itu hanya untuk mengalihkan perhatian kelinci ini. Dia duduk di sofa di dalam butik sementara aku dan Jihyo pergi ke kamar pas.

“Kenapa lama sekali!” bisiknya dengan nada jengkel.

Ponselku bergetar dan Tzuyu menelepon.

“Kenapa kau lama sekali? Nayeon memaksa untuk langsung pergi ke restoran tanpa kalian berempat.”

“Untuk sekarang tinggalkan saja dia. Aku ingin membuatnya jengkel sebelum dia bisa melihat hadiahnya.” Aku bisa mendengar dia tersenyum menyeringai di ujung sana.

“Bagaimana caranya?!” aku terkejut mendengar rencananya dan sekarang kami tidak tahu bagaimana menyelinap pergi darinya.

“Bilang saja kalau aku menyuruhnya untuk membelikan ballpen di toko buku terdekat. Jangan khawatir dia pasti menyetujuinya.”

“Beritahu saja sendiri!”

“Kumohon Noona.” Katanya dengan manis.

“Dasar licik!” aku menghela napas.

“Oke kalau begitu kita bertemu di restoran sekarang.”

YoointheJUNGle: Hei kata Tzuyu, kau bisa belikan dia ballpen sekarang?

CherryTokki is online

CherryTokki: Apa?! Kenapa? Oke aku berangkat sekarang.

CherryTokki is offline

“Cepat sekali.” Jihyo tertegun.

“Ayo kita keluar dari sini.” Saranku.

Tzuyu’s POV

Begitu aku mengetahui kalau Nayeon Noona pergi ke toko buku, aku juga pergi ke sana dan melihatnya masuk ke dalam.

“Noona!” panggilku.

“Astaga- sedang apa kau di sini? Bukannya kau ingin aku membelikanmu pulpen?”

“Ah…itu, aku berubah pikiran.” Aku tersenyum padanya.

“Jadi aku sia-sia pergi ke sini? Aish berhentilah bermain-main denganku!” aku bisa merasakan kalau dia kesal sekarang.

“Maaf. Aku tidak bisa menghubungi ponselmu tadi jadi aku datang kemari.” Aku bisa melihat kalau dia masih marah padaku.

“Oke, cepatlah. Kita pergi ke restoran sekarang.”

“Oke!” aku berlari menuju tempat pulpen dan setelah beberapa saat, aku meninggalkan toko buku tanpanya. Restorannya dekat dengan toko buku sehingga setelah keluar aku langsung berlari menuju restoran, berharap tidak ketahuan.

Nayeon’s POV

Ya, meskipun aku dan Tzuyu sering bercekcok, aku tetap memperlakukannya seperti adikku sendiri dan aku akan melakukan apa saja untuknya. Tapi, aku merasa kesal mengetahui kalau dia berubah pikiran dan sekarang dia sendiri yang membeli pulpennya. Kenapa aku merasa kesal hanya karena sebuah pulpen? Ugh di mana dia? Kenapa lama sekali?

Ponselku bergetar, Tzuyu menelepon.

“Noona, kau ke mana saja? Aku tidak bisa menemukanmu di mana-mana jadi aku pergi ke restoran sekarang. Kami semua ada di sini.”

“Makan saja dengan mereka. Aku mau pulang.” aku mengakhiri panggilan tapi dia menelepon lagi.

“Apa?!” aku sungguh jengkel sekarang. Kenapa semua ini terjadi terutama di hari ulang tahunku.

“Noona kalau kau tidak datang ke sini, kami semua akan menyesalinya dan kau juga akan menyesal.”

“Ada apa? Langsung ke intinya saja.”

“Datang saja ke sini.” Dia mengakhiri panggilan, sekarang bagaimana? Haruskah aku pergi? Tidak…aku akan pulang saja.

Dia menelepon lagi.

“Sekarang apa lagi? Aku mau pulang.” aku bersungguh-sungguh sekarang tapi aku sudah menenangkan diri.

“Yah Im Nayeon kalau kau tidak datang sekarang juga aku bersumpah demi PS VITA Mina kau akan menyesalinya.” Jeongyeon mengancamku.

Aku mendengar orang lain berbicara di ujung sana.

“Kenapa bawa-bawa PS VITAku? Ah Noona, kumohon datanglah. Kau sungguh akan menyesalinya.” Apakah itu suara Mina, Minaku? Aku berkhayal lagi. Tapi aku sudah memantapkan hatiku.

“Kalau kau tidak datang sekarang, kau akan kehilangan 6 orang teman yang sangat mencintaimu.”

“Aku tidak bisa merasakan cinta yang kau bicarakan.” Aku mengakhiri panggilan lagi.

Ketika aku keluar dari toko buku, aku melihat seseorang sedang menungguku.

Tzuyu menelepon lagi. Aku mengangkatnya.

“Noona, Mina hyung pergi untuk menjemputmu…jadi kumohon makanlah dengan kami. Kami tidak keberatan membayar makanan masing-masing jadi kumohon kemarilah.” Aku diam membeku begitu melihat Mina. Dia adalah orang terakhir yang kuduga akan datang menjemputku. Jantungku berdegup kencang.

“Noona, ayo kita pergi sekarang. Kami minta maaf.” Dia menatapku dan mengerutkan kening.

“Aku akan pergi sekarang.” Aku menatapnya sambil menggumamkan kata-kata itu. Aku mengakhiri panggilan.

“Maaf untuk apa Minato?” aku ingin tahu, kenapa dia meminta maaf.

“Kau akan mengetahuinya Noona.”

Begitu aku memasuki restoran, aku melihat Tzuyu duduk di samping Jihyo dan kepalanya terbenam di meja, menghalangi wajahnya dengan lengannya.

“Yah kenapa kalian terus meninggalkanku.” Aku memukul lengan Tzuyu keras-keras lalu dia mengangkat kepalanya. Astaga!!

“Sakit tahu. Happy Birthday kelinci kecilku.” Kata Jaebum Oppa. Itu Jaebum Oppa! Dia ada di sini! Dia memakai baju yang sama dengan yang dipakai Tzuyu.

“Oppa!” aku melompat-lompat berkali-kali dan memeluknya erat. Aku sungguh merindukan kakakku.

“I told you you’ll regret it” Tzuyu said at the back and when I turned around, he’s smiling at me

“Kubilang juga apa. Kau akan menyesalinya.” Kata Tzuyu dari belakang dan saat aku berbalik, dia tersenyum padaku.

“Happy birthday Noona.” Kata Tzuyu masih dengan senyum termanis yang pernah kulihat.

“Jadi gara-gara ini kau terus membuatku kesal seharian?”

“Ya, dan karena ini juga aku mendapatkan hukuman di sekolah tadi.”

“Kalian berdua bagian dari rencana ini?” aku melihat ke arah Jeongyeon dan Jihyo.

“Kami berenam merencanakannya, kejadian di pusat permainan, kejadian ‘aku tidak bisa menemukan tiga laki-laki itu’, kejadian pulpen, dan ‘ayo kita bersembunyi dari Nayeon dan Tzuyu’, yep, kurang lebih semuanya sudah direncanakan. Minato yang menjemputmu itu bukan bagian dari rencana.” Jihyo mengatakan semuanya tapi sambil memandangi ponselnya.

“Jadi kau langsung menjemputku begitu mendengar kalau aku mau pulang?” tanyaku pada Minato.

“Yah aku tidak mau usaha kami jadi sia-sia.” Aw, sayang sekali. Tidak seperti yang ada dalam pikiranku, kukira dia menyukaiku.

“Ahh, kau memang dongsaeng yang baik.” Aku tersenyum padanya. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.

“Dan karena rencana ini sekarang kau harus mentraktirku dua kali lipat. Rencana ini sangat menggelisahkan tahu!” tambah Jihyo.

“Baik nyonya. Kalau aku tidak mau, sesuatu pasti akan…kau tahu…aku akan mematuhimu kali ini.” Aku merasa kalah sekarang saat aku ingat ancaman Jihyo.

“Ah Oppa, lihat, seseorang memberiku ini.” Aku menunjuk jepit di kepalaku.

“Kelihatannya mahal. Jepitnya terlihat jelek dipakai olehmu.” Begitu Oppa mengatakan hal itu, semua orang terlihat berusaha menahan tawa mereka.

“YAH!”

“Lihat siapa yang kesal sekarang karena jepitnya terlihat jelek dipakai olehnya.” Kata Jihyo.

“Kenapa? Apa para laki-laki memujinya karena jepit itu?”

“Entahlah tapi aku ingin bilang kalau jepit itu terlihat jelek dipakai olehnya.” Mina melihat ke arah mereka.

“Tos!” Oppa dan Jihyo ber-high five. Aku memelototi mereka.

“Ayo kita pesan sekarang. Kami hanya bercanda.” Oppa mengacak-acak rambutku. Aku kembali merapikannya setelah itu.

“Jeongyeon, Tzuyu, Chaeng, dan Daehyun bantu aku memesan.” Kami berdiri dan sebelum kami pergi, Oppa ingin ikut bersama kami tapi aku tidak mengizinkannya. Posisi tempat duduknya sudah sempurna sekarang. Aku tidak ingin mengacaukannya.

“Tidak Oppa. Kau diam saja di sini.” Kataku dan kami berlima mengedipkan sebelah mata padanya sementara Jihyo sibuk dengan ponselnya.

“Yah! Dasar anak-anak nakal.” Dia memasang ekspresi jengkel tapi aku tidak peduli.

“Ini yang kau dapatkan setelah menyebut jepitku jelek.” Aku menjulurkan lidahku.

Kami selesai makan dan pulang menggunakan mobil Oppa, tentu saja, Tzuyu tidak pulang ke rumahnya.

“Kau sudah datang Jaebum. Ibu merindukanmu.” Kata ibuku dan menghujani Oppa dengan kecupan.

“Tunggu, ibu tahu rencana ini?” sekarang aku terkejut.

“Tidak semua tapi Tzuyu bilang kalau dia ingin membuat Jaebum pulang hari ini sebagai bentuk hadiah ulang tahunmu.”

Aku mengerti sekarang, jadi dia merencanakannya dari awal. Aku menatap ke arahnya dan dia menghindari tatapanku.

“Kelihatannya kalian bertiga masih kenyang, mungkin kita harus minum kopi saja?” saran ayahku.

Akhirnya kami pergi minum kopi di Moonbucks. Apakah mereka tidak akan dituntut karena ini? Namanya terdengar sangat tidak asing. (lol starbucks)

Aku duduk di samping Oppa dan ibu duduk di hadapanku sementara ayah di sampingnya. Tzuyu duduk di bagian samping meja di sebelah ayah dan Oppa.

“Omong-omong Tzuyu. Kau sudah punya seseorang?” tanya ayahku.

“Seseorang?” tanyanya sambil menyeruput frappe-nya.

“Kau terlalu tampan untuk menjomblo sayang.” Kata ibuku.

“Ahhh.” Sekarang Tzuyu mengerti apa yang dimaksud ayah.

“Untuk saat ini aku tidak punya seseorang, Paman.” Dia tersenyum lebar.

“Tapi kau menyukai seseorang?” kakakku ikut bertanya.

Aku memandangi Tzuyu dengan tekun saat menunggu jawabannya. Sekarang kalau dipikir-pikir, Tzuyu tidak pernah membicarakan tentang gadis-gadis dan kalau dia menyukai seorang gadis. Apa jawaban Tzuyu?

“Tidak, untuk saat ini tidak ada.” Dia tersenyum dan menundukkan kepalanya. Aku sedikit lega mendengar jawabannya, tapi ada yang salah. Aku sungguh merasakan ada yang salah.

“Kau sangat tampan tapi kau tidak punya pacar. Aku terkesan.” Ibuku terkejut mendengar pengakuan Tzuyu.

“Bagaimana dengan Daddy hyung? Dia juga tidak punya pacar, benar kan Hyung?” Tzuyu, kau lebih pintar dalam hal menyudutkan kakakku.

“Aish. Aku sudah menyuruhmu berhenti untuk memanggilku Daddy. Kau benar, aku juga tidak punya pacar. Kau sudah tahu tapi kenapa kau bertanya.”

“Teruslah menyangkal Oppa dan kau akan semakin jatuh cinta padanya.” Aku menggodanya dan tersenyum padanya.

“Si-siapa? A-apa yang kau bicarakan?” dia tergagap-gagap.

Tzuyu tertawa dan terus mencolek-coleknya.

“Dia kan, dia kan?” kata Tzuyu dengan nada yang meninggi.

“Yah…hentikan.”

“Ibu, Oppa menyukai…”

“Jihyo!” kataku dan Tzuyu bersamaan.

“Aish.” Dia menggaruk-garuk kepalanya dan membenamkan kepalanya ke meja dengan kedua tangan di atas kepalanya.

“Omo…anak laki-lakiku sedang jatuh cinta.”

“Semangat!” kata ayah.

“Ya ayah.” Oppa tidak bisa mengeluh dan hanya itu yang bisa dia katakan.

Kami pulang ke rumah, untuk malam ini Tzuyu menginap di rumahku. Oppa mempunyai cadangan seragam sekolah kami dan dia meminjamkan baju untuk malam ini. Tapi masalahnya sekarang, Tzuyu akan tidur di mana?


To Be Continued

credit: TheTzusenOne @AFF

Advertisements

3 thoughts on “Case 143 [Chapter 3]

  1. wohooo ,, chap 3 yg dtngg2 sdh ada, asiik , seru ceritanya . berhasil banget tuhh mereka , kasih kejutan ke nayeon . hahahah . tzuyu nginap drmh nayeon ? tidur dmana ? gak mungkin sama nayeon kan , heheeh . gak sabaran nunggu chap selanjutnya …

  2. tzuyu tidur dimana?.

    tzuyu tidur ama nayeon, kan udah biasa tidur bersama. 😄
    jaebum oppa dan jihyo?.
    rencana kejutan yg sukses walau hampir aja gagal. wkwkwk..

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s