Case 143 [Chapter 4]

Case 4: Is this bribery for earlier? Should I say he’s suspect no. 1?

But he’s too clumsy

 


Nayeon’s POV

Kami baru menyadarinya setelah pulang ke rumah; bayi besar ini akan tidur di mana?

“Paman aku akan di tidur di sofa.” Saran Tzuyu.

“Tidak, kau bisa tidur di kamarku.” Kata Oppa.

“Maaf Tzuyu, kami memintamu untuk menginap di sini tapi Bibi lupa kalau kamar tamunya masih kotor.”

“Tidak apa-apa Bibi. Aku bisa tidur di sini dan kamar Hyung kecil, dia pasti merasa tidak nyaman.”

“Idiot. Tubuhmu lebih panjang daripada sofa. Kau bisa tidur di kamarku.”

“B-bersamamu?!” sahutnya.

“Ya, kenapa?” wajahnya mulai memerah, kenapa dengan saranku?

Semua orang terdiam; aku mulai memikirkan saranku. Lalu sekarang giliran wajahku yang memerah.

“Ahh- ehh- maaf. Kau bisa tidur di sini kalau kau mau tapi pintu kamarku terbuka kalau kau mau tidur di sana. Aku akan menggelar kasur di lantai. Kau yang pilih. Aku akan mengambilkan bantal dan selimut untukmu.” Aku pergi ke lantai atas. Tapi di tengah-tengah tangga, dia setuju dengan saranku.

“Uhh Noona. Aku akan menerima undanganmu.” Dia mengusap-usap bagian belakang lehernya.

“Kalau begitu kemarilah, Yoda juga ingin tidur, tahu. Dia hanya ingin tahu apa kau akan menggunakan tempatnya atau tidak.”

“Oh oke. Sekarang tempatnya milikmu Yoda, kau bisa tidur sekarang.”

Kami berempat tertawa. Kelihatannya dia seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Dia memandangi kami.

“Maaf, kau boleh pergi sekarang. Selama malam Tzuyu, jaga dia kelinciku.” Kata ibuku.

“Pfft- Ya Ibu, selamat malam.”

Aku dan Tzuyu berbaring di tempat tidur kami masing-masing. Tapi sebelum aku lupa, aku melepaskan jepit rambutku dan menaruhnya di atas meja.

Tzuyu tidak berbicara dan itu membuatku gelisah. Dia tidak sehening ini saat kami jalan-jalan tadi. Mungkin aku harus memecah keheningan ini.

“Hei Tzuyu, kau belum tidur?” aku menghadapnya.

“Ya Noona, kenapa?” tanyanya dengan punggung yang menghadap ke arahku.

“Jangan terlalu banyak berpikir. Aku tahu kau sudah dewasa sekarang tapi aku percaya padamu jadi jangan khawatir. Aku tidak mau kau merasa tidak nyaman.”

“Kau hanya membuat suasananya semakin canggung Noona.”

“Oh maaf. Tapi kumohon bersikaplah seperti biasanya, kau berubah menjadi bisu setelah apa yang terjadi tadi.” Dia mulai menghadapku.

“Tapi aku banyak bicara di restoran tadi.” Katanya sambil menyokong kepala dengan lengannya.

“Tapi setelah kita tiba di rumah dan mulai memikirkan di mana kau akan tidur, kau berubah hening.”

“Hanya saja sudah tiga tahun aku tidak masuk ke kamar perempuan. Jadi aku merasa canggung.” Katanya dan kembali berbalik dan memunggungiku.

“-dan aku juga ingin menghargai privasimu…sebagai seorang pria.”

“Sesulit itukah masuk ke kamar perempuan ketika kau menjadi seorang laki-laki dewasa?”

“Bagiku sulit, karena aku tidak ingin perempuan itu mengira kalau aku orang yang mesum. Kurasa Daddy Hyung akan mengerti apa yang kumaksud.”

“Laki-laki selalu seperti itu.” aku berbalik, sekarang kami saling membelakangi. Suasana kembali hening. Ini sungguh menggangguku. Ah, aku baru ingat. Tzuyu adalah orang yang merencanakan semua ini, aku hampir lupa berterima kasih padanya.

“Hei Tzuyu.” Aku menghadap ke langit-langit kamar.

“Kenapa Noona?”

“Terima kasih. Terima kasih untuk hari ini. Maaf aku marah padamu di toko buku tadi.”

“Bagian yang mana?” tanyanya.

“Saat kau memohonku untuk tidak pulang, aku minta maaf. Aku tidak tahu kenapa tapi aku yakin kalau saat itu kau terus menghilang karena sebuah alasan.”

“Tidak. Aku hanya ingin membuatmu kesal.”

“Yah!” aku mendengar seseorang mengetuk kamarku.

“Hei kau tidak apa? Kenapa juga jam segini kau marah pada Tzuyu?”

“Tidak Oppa. Aku tidak marah! Kami hanya sedang mengobrol! Kau bisa kembali ke kamarmu sekarang!” sahutku pada laki-laki yang berada di balik pintu.

“Oke. Tidur nyenyak kalian berdua.” Setelah itu aku mendengar pintu kamar Oppa tertutup.

“Aku bercanda Noona. Kau tidak tahu bagaimana paniknya kami tadi.” Dia terkekeh begitu mengingat apa yang terjadi tadi.

“Sebelum aku melupakannya…” dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Happy birthday Noona. Aku tahu ini bukan yang kau mau. Aku mencoba untuk mendapatkannya tapi setelah aku kembali lagi, barangnya sudah tidak dipajang lagi dan aku bertanya pada penjaga tokonya, dia bilang kalau mereka tidak punya stock lagi. Jadi…maaf.”

Aku menatapnya saat dia menjelaskan tentang kadonya. Dan ketika aku membukanya, aku melihat hoodie Stitch.

“Aku hanya memilih hoodie biru yang paling lucu jadi aku membeli hoodie itu. Maaf Noona.” Dia menundukkan kepalanya sambil menggaruk-garuknya.

“Bodoh! Aku suka. Hoodienya lucu. Ini lebih lucu daripada yang kumau. Terima kasih Tzuyu.” Aku turun dari tempat tidur dan memeluknya. Aku merangkulkan kedua lenganku di pinggangnya. Kami berdua jatuh dan berbaring di tempat tidurnya.

“Apa kau benar-benar Noona? Jadi sekarang kau tahu bagaimana cara berterima kasih padaku.”

Aku duduk dan memakai hoodie itu.

“Lihat, hoodie ini terlihat lucu dipakai olehku.” Aku terkekeh dan memeriksa hoodie itu.

“Tidak, hoodienya terlihat jelek.” Bagus, dia kembali ke dirinya yang semula.

“Kali ini aku akan memaafkanmu.” Aku memelototinya.

“Apakah Oppa yang meneleponmu saat makan siang?”

“Oh itu. Ya, tapi aku tidak mengangkatnya karena kau sedang bersama kami, bagaimana kau tahu?”

“Saat aku kembali ke kelas, aku mendengarmu berbicara dengan seseorang dan kau memanggilnya Hyung.”

Tzuyu tidak berbicara selama 5 detik.

“Seharusnya kau tidak menguping Noona.”

“Itu hanya kebetulan, dan aku hanya mendengar bagian terakhirnya. Yang aku dengar hanyalah ‘Hyung’.”

“Oh oke.” Aku bisa merasakan kalau Tzuyu merasa lega.

“Aku memberitahunya di mana tempat membeli baju. Dari awal itu adalah rencana kami.”

Cerdas, aku benar-benar mengira kalau Oppa adalah Tzuyu.

Suasana kembali hening dan aku ingin mengobrol lebih banyak dengannya.

“Bolehkah aku duduk di sini lebih lama? Aku merindukan saat-saat di mana kau tidur bersamaku.”

“Tidak Noona, sudah malam. Pergi tidur sana.”

“Kau tidak menyenangkan. Aku menyesal bersikap manis padamu.” Aku mendesis.

“Jadi kau bilang tadi itu manis huh?” katanya.

“Turun dan tidurlah di sofa!”

Keesokan harinya.

“Langit yang hitam. Semuanya terlihat hitam dan putih saat aku mengharapkan dia untuk kembali-”

Sekolah berakhir dan di sinilah aku, di ruang OSIS, membuat laporan kehilangan jepit rambut; berharap seseorang mungkin akan menemukannya. Argh bagaimana bisa jepit rambut itu hilang?

“-dan aku memulai pencarianku. Aku memulai perjalanan untuk mencarinya. Tunggu aku, aku akan mencarimu.”

“Bisakah kau diam. Ini adalah ruang OSIS bukan drama dan demi Thomas, itu hanya jepit rambut, Nayeon. JEPIT RAMBUT kecil! Bukan pacar maupun anakmu! Berhentilah bersikap melodramatik.” Jeongyeon mengomeliku.

“Tapi- tapi.” Aku mulai menangis.

Ya, jepit rambutku yang berharga itu sekarang hilang dan aku tidak tahu di mana mencarinya.

Sebelumnya di hari itu.

Setelah makan siang kami bertujuh pergi ke perpustakaan tapi mereka kecuali aku dan Tzuyu pergi duluan karena mereka ada kegiatan klub.

“Noona, aku pergi duluan, lanjutkan tidurmu. Aku hanya akan melihat klub ini. Aku ingin mencobanya.”

“Oh oke kalau begitu. Sampai nanti.” Kataku tanpa mengangkat kepala. Aku ingin melanjutkan tidurku.

“Noona, hari ini bukan hari kencan ingat?”

“Ah maaf aku lupa, biarkan aku tidur.”

“Oke, sampai nanti.” Tzuyu meninggalkanku.

Dan kemudian setelah aku bangun, aku pergi ke kamar kecil untuk melihat bagaimana penampilanku. Tapi ketika aku menyentuh kepalaku, jepit itu tidak ada di mana-mana.

Sekarang.

“Jeongyeon!!!!!” aku memeluknya dan menangis habis-habisan.

“Yah berhentilah melengket padaku, lap dulu hidungmu! Kau menggosok-gosokkan ingusmu ke seragamku!” dia melepaskan lenganku yang merangkul pinggangnya.

“Yah! Dukunglah temanmu sekali ini saja, kau dingin sekali.”

“Lap dulu hidungmu, kau terlihat menyedihkan.” Kata Jeongyeon.

“Yah! Dingin sekali.”

“Pergilah ke kolam, jangan di sini. Pergilah ke sana dan syuting adegan menangismu seperti dalam video musik.” Tambah Jihyo.

“Kau tidak membantu!” aku merengek. “Aish aku mau pulang.” aku berdiri dan keluar dari ruangan.

“Hei, berhentilah menangis; kau terlihat menyedihkan. Kau mungkin akan kehilangan beberapa pengagummu.” Jeongyeon berjalan ke arahku dan menepuk pundakku.

“Wow, begitukah caramu menenangkan seorang teman? Aku benci kalian. Aku mau pulang sekarang, terima kasih atas bantuannya.”

Aku pulang ke rumah dengan keadaan patah hati.

Aku tiba di rumah dan berbaring di tempat tidur dengan keadaan depresi, patah hati, dan tak bernyawa. Aku masih memikirkan bagaimana cara jepit rambut itu menghilang dari kepalaku. Aku yakin kalau sebelum kami memasuki perpustakaan, aku sedang memakainya tapi setelah aku bangun jepitnya menghilang. Apakah laki-laki berambut pirang itu ada hubungannya dengan ini? Obrolan kami terus terputar dalam benakku.

Tadi pagi, berangkat sekolah

Aku berjalan dengan damai di jalan setapak di antara pepohonan, menikmati embusan angin yang dingin dan memikirkan beberapa hal ketika tiba-tiba laki-laki berambut pirang dan bertubuh tinggi berjalan di sebelahku. Itu adalah laki-laki di toko itu.

“Hargai jepit itu, kau tidak akan pernah tahu bagaimana takdir benda itu.” gumamnya tiba-tiba.

Aku terkejut di sana; aku tidak mengira kalau dia berbicara padaku.

“Maaf, apa aku mengejutkanmu? Hargai saja jepit itu. Aku bisa merasakan kalau kau akan menangis habis-habisan saat kau kehilangannya.” Dia melihat ke arahku dan berbicara padaku dengan santai.

Apa aku bermimpi? Hal baik apa yang pernah kulakukan di kehidupanku sebelumnya untuk bisa berbicara dengan laki-laki tampan di sepanjang jalan yang dipenuhi daun-daun berguguran?

“Kenapa kau bilang begitu? Dan itu tidak akan pernah terjadi…selamanya.” Aku menekankan kata terakhir di kalimatku. Dia terkekeh ketika dia mendengar kata-kataku.

“Aku hanya menyatakan kemungkinannya. Aku harap kau akan menjaganya.” Dia terlalu santai dan terlalu perhatian untuk ukuran orang asing. Apa maunya?

“Apa kau sungguh bersikap senyaman ini dengan orang asing?” aku tidak bisa menahannya lagi jadi aku bertanya padanya.

“Yah minggu kemarin kita saling bertemu di toko jadi apakah aku masih orang asing?” apa dia serius? Tentu saja dia adalah orang asing.

“Kita bahkan tidak mengobrol di sana, bagaimana bisa kau mengatakan kalau kau mengenalku?” aku memutar bola mataku, tapi tidak dengan cara yang tidak sopan.

“Yah aku melihatmu, mengenal wajahmu dan mengetahui di mana kau sekolah jadi kau bukan orang asing.” Apa dia tahu betapa bahayanya dunia saat ini? Berbicara kepada orang asing yang hampir tidak kau kenal dan mengobrol ramah dengannya kelihatan sangat salah, tapi kelihatannya aku juga bersalah.

“Jadi pengertian seorang kenalan sekarang berubah, siapa saja yang kau kenali wajahnya sekarang bisa  dianggap sebagai seorang kenalan.” Kalau ini adalah pengertian baru dari kata kenalan, maka hampir semua siswa di sekolah kami adalah kenalanku.

“Mungkin, tergantung dari pandangan masing-masing. Ngomong-ngomong apa kau suka tupai?”

“Mereka terlihat lucu, kenapa?” obrolan ini semakin aneh, kenyataan kalau aku berbicara dengan orang asing ini terasa aneh, membicarakan tentang menjaga jepitku dan aku menangis itu lebih aneh, membicarakan tentang pengertian kenalan juga aneh, dan sekarang kami membicarakan tentang tupai.

“Aku bertanya karena mungkin kau tidak suka berbicara dengan seseorang yang terlihat mirip tupai.” Laki-laki ini seperti anak kecil. Kedengarannya tidak seperti sedang menggodaku, kedengarannya lebih seperti seorang anak laki-laki yang menanyakan apakah tidak apa-apa dia berbicara kepada temannya karena dia terlihat seperti seekor tupai kecil yang tak berdaya. Dia terlalu polos untuk dunia ini; dia seperti Mina tapi sedikit  banyak bicara.

“Tidak sama sekali. Hanya saja aku merasa aneh berbicara dengan orang asing.” Seperti yang kukatakan, dia terlihat lucu, namun aneh. Tapi mudah saja bergaul dengannya.

“Yah tidak lagi.” Katanya sambil melihat ke arahku dan tersenyum.

Sebelum aku lupa, seharusnya aku menanyakan tentang jepitnya tapi itu terlalu memalukan. Mungkin aku harus bertanya atau mungkin tidak?

“Aku melihatmu di area loker kemarin, apa yang membawamu ke sana?” apakah ini hal yang benar untuk ditanyakan?

“Tidak ada, aku hanya jalan-jalan.” Aku tidak mempercayainya. Itu adalah pertama kalinya aku melihat dia di sana. Aku yakin pasti ada alasannya, tapi kali ini aku membiarkannya. Aku akan menangkapnya suatu hari nanti.

Dengan begitu dia tiba-tiba menjadi tersangka no.1

Kami tiba di gerbang sekolah tapi setengah gerbangnya sudah tertutup. Dia terlalu asyik berbicara denganku sehingga dia tidak melihatnya dan kemudian, tiba-tiba aku mendengar suara keras dan ketika aku melihat ke samping, dia tidak lagi berdiri di sana, dan dia terduduk di tanah di belakangku.

“Hei! Kau tidak apa-apa? Kukira kau melihatnya jadi aku tidak memberitahumu.” Sekarang aku merasa bersalah. Aku segera menghampirinya dan membantunya berdiri lagi.

“Sudah biasa, jangan khawatir.” Dia berdiri dan meyakinkanku kalau dia tidak apa-apa dengan melakukan beberapa lompatan-lompatan.

“Apa maksudmu sudah biasa?” aku terkejut. Orang normal tidak akan menjadikan tubrukan menjadi ritual sehari-hari.

“Aku selalu terpeleset dan menubruk tembok.” Aku mengerti…dia sungguh aneh. Dia adalah definisi dari seorang laki-laki yang menarik tapi ternyata ceroboh. Kalian bisa menerapkan pepatah ‘Jangan menilai buku dari luarnya’ karena dia adalah sesosok laki-laki yang memiliki fisik yang bagus, tampan, lembut, tapi terlihat atletis. Dia…terlalu berharga.

“Ku-kurasa aku harus membawamu ke klinik, kau menubruk gerbang dengan lumayan keras, dan keningmu pasti kesakitan.” Aku tidak bisa membiarkannya, sebagai seorang sunbae aku harus mengantarnya ke klinik dan aku sedikit cemas.

“Tidak apa-apa sunbae, jangan repot-repot.”

“O-oke, sekarang pergilah ke kelasmu dan istirahatlah sebelum kelasnya dimulai.” Kami kembali berjalan dan tiba di lantai fakultas tari.

“Ya sunbae, terima kasih sudah perhatian padaku.” Dia menjabat tanganku dan membungkuk. Orang mana yang berterima kasih dengan menjabat tangan dan membungkuk pada waktu yang bersamaan hanya karena seseorang menunjukkan rasa empatinya pada mereka? Oh Tuhan dia terlihat bersinar,  aku merasa buta.

“Oke sekarang pergilah, jalan hati-hati.” Aku bersungguh-sungguh, dengan apa yang kulihat tadi, kau benar-benar harus mengingatkannya untuk selalu berhati-hati.

Aku kembali berjalan ke lantai atas dan tiba di ruang kelas kami. Tunggu, aku tidak tahu namanya…sayang sekali, dia sungguh ramah dan mudah diajak bicara.

Setelah peristiwa hilangnya jepit rambut

Aku keluar dari kamar kecil dengan mata yang masih basah, air mataku sudah hampir jatuh ketika aku melihat laki-laki berambut pirang itu lagi. Dia sedang memandang keluar jendela di depan kamar kecil. Apakah dia mendengarku menangis? Sudah berapa lama dia berada di sana? Kali ini aku tidak peduli. Aku hanya menginginkan jepit rambutku yang berharga kembali.

“Kau kehilangan jepit itu kan?” dia mulai berbicara, tidak menghadap ke arahku.

“Bagaimana kau tahu?” suaraku terdengar jelek karena hidungku mampet setelah menangis tadi.

“Itu adalah satu-satunya alasan yang bisa kupikirkan.” Katanya dengan nada tahu.

“Aku sudah bilang kalau kau harus menjaga jepit itu tapi sekarang kau menghilangkannya.” Suaranya terdengar sedih, tapi kenapa?

“Kenapa juga kau peduli? Kecuali kalau kau yang memberikan jepit itu padaku.” Tenanglah Im Nayeon, dia hanya orang asing, tidak seharusnya kau marah di depannya.

“Mungkin iya, mungkin tidak.” Dia mulai menghadapku dan tersenyum menyeringai. Astaga, apakah bersikap ceroboh hanyalah kedoknya untuk menyembunyikan kenyataan kalau dia itu jahat? Aku bisa melihat sedikit kekejaman Tzuyu dalam dirinya.

Tunggu- apa dia bilang? Mungkin? Oke, aku mulai tenang mendengar apa yang dikatakannya.

“Aku akan mengganti pertanyaannya. Apa kau ada hubungannya dengan menghilangnya jepit rambutku?”

“Mungkin iya, mungkin tidak.” Kali ini, dia tersenyum kecil dan berjalan menuju tangga. Aku tercengang, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, apakah dia tersangkanya? Entahlah…sekarang apa yang harus kulakukan?

“Tunggu, siapa namamu?” setidaknya kali ini aku harus bertanya.

Dia berbalik dan senyum kecil tersungging di bibirnya.

“Namaku? Jangan khawatir kau akan segera mengetahuinya.” Dan senyum kecilnya melebar. Aku semakin meragukannya sekarang. Aku benar-benar berpikir kalau dia ada hubungannya dengan ini. Kukira dia adalah tipe orang seperti Mina, tapi aku salah; dia seperti perpaduan dari Tzuyu dan Mina, yang malah lebih parah lagi, tipe pendiam tapi juga memiliki sisi jahat. Tzuyu memang agak pendiam tapi dibandingkan dengan Mina, diamnya Tzuyu itu berarti dia sedang merencanakan sesuatu tidak seperti Mina.

Saat ini

Ugh ini sungguh menjengkelkan! Seharusnya tadi aku tidak mengobrol dengannya. Memang tidak ada hubungannya jadi seharusnya aku jangan menyalahkan dia, tapi tetap saja! Dia pergi tanpa memberitahukan informasi tentangnya, bagaimana aku bisa mempercayai kata-katanya tadi dan apa maksud dari jawaban itu? Mungkin ya, mungkin tidak? Kalau aku berada di posisinya aku akan bilang kalau aku tidak mencurinya. Tapi aku masih ragu kalau pelakunya dia. Aku tidak bisa menahannya lagi; aku butuh teman bicara tapi siapa? Jihyo? Tidak…dia hanya akan mengomeliku, juga Jeongyeon. Mungkin Tzuyu akan mendengarkanku, aku harus mencoba meneleponnya.

Aku menelepon Tzuyu dan setelah tiga kali deringan dia mengangkatnya.

“Tzuyu!!!!” aku menangis dan aku bisa merasakan kalau dia terkejut dengan apa yang didengarnya.

“Noona? Apa yang terjadi? Aku yakin kau terlihat mengerikan sekarang.” Aku bisa membayangkan senyumnya yang lebar di ujung sana.

“Aku tidak peduli!! Jepit rambutku hilang!! Cari!!” aku memerintahnya.

“Di mana aku bisa menemukannya? Kau menghilangkannya di mana?” di akhir kalimatnya nada suaranya terdengar sedikit khawatir. Aku tahu dia mau mencarinya.

“Entahlah…Tzuyu!!”

“Noona suaramu keras sekali, telingaku sakit.” Dia agak jengkel mendengarkan kemarahanku dan sekarang menginginkanku diam.

“JEPIT BERHARGAKU!!” kali ini tangisanku semakin hebat.

“Kau berisik sekali Noona, aku akan pergi ke sana. Tunggu aku, aku hanya akan mengambil beberapa baju.”  Sepertinya dia berencana untuk menginap di rumahku.

“Kau mau tidur di sini?” tanyaku.

“Ya, kurasa aku harus mendengarkan tangisan anak 5 tahun semalaman. Sepertinya kali ini aku yang berperan sebagai pengasuhnya.” Dia mengatakannya seolah-olah memprediksikan apa yang akan terjadi nanti.

“Oke, aku akan menutup teleponnya sekarang! Sampai nanti!” aku mengakhiri panggilan. Aku tidak sadar kalau aku menangis hebat sehingga aku membangunkan kakakku.

“Hei, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu?” Oppa membuka pintu kamar dan dia melihatku dengan kondisi yang mengerikan.

“Wow…kau terlihat…” sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, aku menyelesaikannya untuknya.

“Jelek, aku tahu.”

“Apa yang terjadi padamu?” Oppa duduk di sampingku dan menanyakan apa yang terjadi. Aku menjelaskan semuanya padanya dan dia berjanji untuk membelikan jepit rambut yang baru kalau dia memiliki uang, tapi untuk sekarang dia sama sekali tidak punya uang karena saat ini sedang libur semester. Setelah menenangkanku selama 10 menit, dia pergi dan kembali ke kamarnya. Aku menangis hingga pingsan.

Aku terbangun dan merasa mengerikan. Aku melihat jam dinding dan sekarang sudah pukul 8 malam, terakhir kali aku melihatnya saat itu baru pukul 6, jadi aku tidur selama 2 jam. Aku berbaring telungkup dan badanku terasa sakit karena posisiku. Begitu aku berbalik ke kanan, aku melihat Tzuyu bermain PS VITA milik Mina di sebelahku. Apa yang dia laku- AKU BENAR-BENAR LUPA! Dia bilang dia akan pergi ke sini dan aku benar-benar lupa.

“Lama sekali kau tidur.” Katanya masih terfokus pada apa yang dimainkannya.

“Tzuyu!! Aku melihat laki-laki berambut pirang itu lagi! Dan aku rasa dia ada hubungannya dengan semua ini!” aku meluapkan semuanya begitu aku melihatnya. Aku mengingat obrolan kami tadi.

“Laki-laki berambut pirang?” dia memandangku bingung.

“Laki-laki di toko itu.”

“Oh…Sanji Hyung. Aku baru saja bertemu dengannya di klub Aikido tadi.”

“Katakan padaku, apa kau menyadari sesuatu? Apakah dia bertingkah aneh?” aku menghujaninya dengan pertanyaan.

“Aku tidak bisa bilang kalau dia aneh tapi jika kau bilang begitu…bertingkah aneh adalah bagian dari dirinya.”

“Kenapa kau bilang begitu?” yah dia benar-benar aneh, aku mengerti kenapa Tzuyu berkata seperti itu.

“Kami sudah berteman dekat, dia bilang kalau aku bukan orang asing.” Wow, dia mengatakan hal yang sama padanya.

“Aku kaget mengetahui dia menjadi kapten klub Aikido hanya dalam waktu sebulan, dia pasti benar-benar hebat dalam Aikido untuk menjadi seorang pemimpin.”

“Kapten Aikido?” aku tahu tubuhnya terlihat sehat tapi untuk menjadi pemimpin klub Aikido itu sungguh di luar dugaanku.

“Aku juga kaget, dia terlihat keren tapi tiba-tiba, dia tersandung di depanku.” Matanya tetap terpaku pada layar game.

“Wow…kukira kau adalah satu-satunya orang yang kau sebut keren.”

“Aku pergi.” Dia mematikan gamenya dan mulai berjalan. Kurasa suasana hatinya sedang tidak baik.

“M-maaf.” Aku menundukkan kepalaku.

Dia berbalik dan aku melihatnya tersenyum menyeringai lalu dia kembali ke tempat tidurku.

“Yah! Kenapa kau harus membuat orang merasa bersalah karena kelakuanmu yang kekanak-kanakkan?”

“Karena rasanya menyenangkan.” Dia kembali ke posisinya tadi dan memainkan game.

“Kenapa juga kau membawa PS VITA Mina? Dia sering memakainya, Mina tidak akan keberatan?”

“Ini milikku oke, tapi gamenya punya Mina.” Dia kembali bermain bahkan tanpa repot-repot melihat ke arahku.

“Sepertinya ada 3 virus dari semua temanku.”

Aku menceritakan tentang obrolan kami di sekolah dan juga tentang tubrukan di gerbang dan tentang tindakan jabat tangan dan membungkuk yang aneh.

“Aku mengerti apa maksudmu Noona.” Dia merasa simpati padaku.

“Huh? Kenapa?”

“Dia melakukan hal yang sama padaku, saat kami akan mengambil minum setelah latihan, dia menabrak tembok dan aku menawarkannya untuk pergi ke klinik, begitu dia berdiri dia membungkuk di depanku dan menjabat tanganku.” Kurasa aku sedang menonton adegan dalam anime sekarang. Laki-laki bernama Sanji ini memiliki aura kecerobohan seorang gadis di sekelilingnya.

“Tapi aku tidak bisa menyalahkanmu karena mencurigainya, berdasarkan apa yang dikatakannya, dia benar-benar terlihat kalau dia ada hubungannya dengan hilangnya jepitmu.” Jelasnya, tapi dia juga menyangkal kata-katanya.

“-tapi Noona, dia adalah seseorang yang memiliki alter ego. Pada awalnya dia terlihat seperti orang yang polos dan bersinar lalu tiba-tiba dia akan berubah keren dan hal-hal aneh akan keluar dari mulutnya ketika sesuatu yang membangkitkan minatnya terjadi.” laki-laki ini memang ajaib. Tapi yang lebih penting saat ini adalah…apakah Tzuyu baru saja mengatakan bersinar? Ketika aku mendengarnya, yang bisa kupikirkan adalah dia yang sedang menunggangi unicorn yang bersinar.

“Pfft- bersinar? Aku baru saja melihatmu menunggangi unicorn.” Aku tidak bisa menahan tawaku sekarang, kata bersinar terlalu feminin untuknya.

“Tunggu, aku akan berhenti sekarang. Apa yang kau maksud dengan alter ego?”

Tzuyu berdiri dan menirukan Sanji.

“Saat kami berlatih tadi, aku bertanya jika aku boleh pulang duluan untuk bertemu denganmu, saat dia mengetahui kalau aku akan pergi ke rumah gadis dia menjadi agak konyol dan bersikap keren dengan menjejalkan tangannya di saku celananya dan bilang ‘Heh…aku tidak pernah mengira kalau kau laki-laki seperti itu’ lalu dia mulai berjalan seperti preman lalu tiba-tiba dia tersandung dan kembali bersikap seperti biasanya  dan mulai membungkuk sambil meminta maaf berulang-ulang lalu dia bilang ‘semoga harimu menyenangkan Tzuyu-chan’ sambil membungkuk.”

“Apa kau sadar kalau kau terlihat seperti orang bodoh sekarang?” aku memandanginya dan dia menghentikan apa yang sedang dilakukannya.

“Aku hanya menirunya! Lagipula, kau menikmatinya, kenapa kau menghentikanku?”

“Ooh, ide bagus, seharusnya aku merekam apa yang kau lakukan tadi, ulang lagi.” Aku mengibaskan tanganku mengisyaratkannya untuk mulai.

“Kau pikir aku sebodoh itu?”

“-tapi sungguh Noona, dia…sungguh menyilaukan, dia terlalu polos. Apa aku terdengar aneh?”

“Tidak; percaya padaku kau bukan satu-satunya orang yang berpikir seperti itu.”

Tiba-tiba, Tzuyu menerima telepon. Telepon darinya; Sanji.

“Halo Hyung? Kenapa tiba-tiba menelepon?”

“Dia mendapatkan nomormu?! Wow cepat sekali.” bisikku padanya sehingga Sanji tidak akan mendengarku. Dia mengangguk dan melanjutkan obrolan mereka.

“Aku menginap di rumah temanku, kenapa?” dia melihat ke arahku saat percakapan itu berlangsung.

“Eh? Sekarang?

Akan kuusahakan. Sekarang sudah jam 8, aku akan meminta izin keluar pada mereka

Aku sedang bersamanya

Oke, aku akan mengirimmu SMS nanti, aku tutup teleponnya.”

Tzuyu mengakhiri panggilan. Dia melihat ke arahku dengan keadaan yang masih terkejut.

“Dia bilang apa?”

“Dia menanyakan apakah aku mau makan malam dengan mereka, dia masih sedang bersama beberapa anggota dari klub Aikido.”

Dia berhenti sejenak; dia sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu.

“-dia pulang ke rumah dan sekarang dia bersama Mina Hyung.”

Aku bisa membayangkan suasana di sana sekarang, Sanji berbicara dan Mina bermain game, sungguh kacau. Seharusnya aku merasa kasihan pada Mina karena ikut terseret tapi aku merasa kasihan pada Sanji karena dia harus mengobrol dengan tembok.

“Dia juga bilang kalau dia akan menyuruh anggota Aikido pulang kalau kau mau ikut.” Eh? Dia tahu kalau Tzuyu ada di sini?

“Sekarang baru jam 8 malam, kita masih bisa pergi keluar. Aku kasihan pada Sanji karena tidak ada teman mengobrol.”

“Haha Noona kurasa tidak.”

“Di mana mereka?”

“Mc. Donalds, tapi dia mengajak kita minum-minum kopi setelah makan malam, kau tidak keberatan?”

“Tentu ayo.”

Aku mengambil dompet dari tasku, sesuatu terjatuh tapi aku tidak memedulikannya. Aku berteriak dan bilang kalau aku dan Tzuyu akan makan malam di luar dan mereka menyetujuinya. Dengan begitu kami pergi ke Mc.Donalds.

Saat kami tiba di sana, rahangku terbuka lebar ketika aku melihat Mina, tidak sedang memainkan PS VITA dan nyatanya sedang berbicara kepada orang asing di hadapannya; menggunakan bahasa Jepang.


To Be Continued

credit: TheTzusenOne @AFF

 

Advertisements

One thought on “Case 143 [Chapter 4]

  1. Huhu . penasaran kelanjurannya . sanji itu siapa , dia yg ambil jepitannya nayeon kah ? Trus , apa barang yg dikasi jatuh sama nayeon . dan mungkin mina sama sanji kakak adik ya ?

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s