9 Months [Chapter 14]

masih ada yang mau baca ini? 😀

enjoy~

Chapter 14

 

Hari-hari berlalu sejak kedatangan Hayoung ke kantor Yuri. Ia khawatir jika gadis itu akan datang lagi dan membuat kekacauan tapi untungnya gadis itu tidak datang lagi. Hal itu membuatnya tidak begitu khawatir. Bukan karena ia menyembunyikan sesuatu dari Jessica tapi setelah Jessica memintanya untuk membicarakan masalah ini dengan Hayoung, ia agak ragu. Dari sudut pandangnya ini bukanlah ide yang bagus. Ia menghela napas sebelum bersandar ke kursi dan memejamkan matanya.

“Kau baik-baik saja?”

Tiffany menutup pintu di belakangnya dan menarik kursi untuk dirinya sendiri. Ia duduk sambil memperhatikan temannya yang terlihat sedang dalam masalah.

“Aku baik-baik saja.”

Matanya masih terpejam dan dari raut wajahnya, Tiffany tahu apa yang dipikirkan laki-laki itu.

“Masalah Hayoung?”

Ia mendengar desah samar dari laki-laki itu.

“Kau sadar kan kalau kau mengkhawatirkan orang yang salah?”’

“Apa maksudmu?”

Pernyataan itu menarik perhatiannya. Tiffany menyilangkan tangan di depan dada dan menopangkan kaki.

“Bukankah seharusnya kau mengkhawatirkan Jessica, ISTRIMU?”

Ia menekankan kata ‘istri’.

“Kau tidak mengerti Fany.”

“Tolong buat aku mengerti Yul.”

Yul membuka matanya dan balas menatapnya.

“Dia menangis saat meninggalkan ruanganku. Aku sudah menyakitinya. Ini bukan salahnya.”

“Lalu ini salah Jessica?”

“BUKAN!”

“Lalu? Aku tidak mengerti. Kau menikahi Jessica tapi kau mengkhawatirkan mantan pacarmu.”

“Sudah kubilang kau tidak akan mengerti. Dia tidak bersalah tapi dia menjadi korbannya. Ini salahku Fany.”

Tiffany memasang ekspresi yang Yuri ketahui dia tidak senang mendengar penjelasannya. Apa lagi yang bisa ia lakukan?

“Yuri, putus cinta terjadi setiap hari.”

Yuri mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan pada saat itu, Tiffany menyadari apa yang terjadi.

“Kau belum putus dengannya sebelum kau menikahi Jessica?”

Ketika Yuri tidak menjawabnya, Tiffany berdiri dan menggebrak meja sambil menatapnya tajam.

“Kau memang brengsek Yuri.”

“Aku sudah mencobanya oke! Dia…sungguh…keras kepala.”

“Astaga.”

“Kenapa kau panik?”

“Aku baru saja membiarkan sahabatku menikahi orang brengsek yang kebetulan adalah bosku!”

“Hei, aku mencintainya oke. Aku akan megakhiri hubunganku dengan Hayoung.”

Tiffany mengambil pulpennya dan menunjukkannya ke arah Yuri. Laki-laki itu menelan ludah ketika ia melihat hasrat Tiffany yang menggebu-gebu untuk membunuhnya dengan pulpen tidak berdosa itu.

“F-Fany…”

“Akhiri semuanya atau aku akan menusukmu dengan pulpen ini dan membiarkanmu kehabisan darah dan mati. Percaya padaku Kwon, kau tidak akan menyukainya.”

Ia melihat Tiffany berbalik dan berlalu pergi. Tapi sebelum dia pergi, kata-katanya semakin membuatnya takut.

“Atau aku akan memotong barangmu dan memberikannya pada anjing.”

‘Astaga! Dia sangat menakutkan!’

~~~;~~~;~~~

Taeyeon bersenandung senang saat menaiki elevator. Ia akan kencan makan siang bersama Tiffany dan ia tidak bisa menahan senyumnya. Beberapa orang yang lewat memperhatikannya dan saling berbisik. Mereka tahu kalau Taeyeon berpacaran dengan Tiffany tapi terkadang mereka bertanya-tanya kenapa Tiffany tertarik pada anak kecil ini? Selain kaya, laki-laki ini cukup konyol. Taeyeon menyadari orang-orang yang membicarakannya tapi ia terlalu senang untuk memikirkan hal itu. Hanya Tiffany yang ada dalam benaknya.

“Pagi Mr. Kim. Anda kemari untuk menemui Mr. Kwon?”

Nana, sekretaris Yuri bertanya padanya. Ia menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku tidak kemari untuknya.”

“Ah, Anda pasti kemari untuk menemui Miss Hwang? Dia ada di ruangannya.”

“Aku tahu. Terima kasih Nana!”

Taeyeon setengah meneriakkan bagian terakhirnya. Nana hanya terkekeh. Ia merasa kalau Taeyeon ini lucu dan Taeyeon dan Tiffany terlihat cocok.

“Fany!”

Lengan Taeyeon terbuka lebar begitu ia melangkah masuk namun terdiam begitu melihat pacarnya yang marah menatap tajam padanya. Ia menelan ludah.

“Oke, siapa yang membuat mushroom-ku marah?”

Tiffany berdiri dan memeluk Taeyeon sambil merengek dengan membenamkan wajahnya di dada laki-laki itu. Ia tidak tahu apa yang dikatakan gadis itu karena suaranya teredam.

“Err, Fany? Aku tidak begitu bisa mendengarmu.”

Tiffany agak menarik diri dan mengangkat kepalanya. Kaki Taeyeon terasa gemetaran melihat Tiffany memasang puppy eyes. Gadis itu menggunakan senjata rahasianya untuk melawannya.

“Ow, kenapa sayang?”

“Yul…”

“Oke, apa yang Yuri lakukan padamu?”

“TaeTae….”

Oh aegyo-nya yang lucu. Ia kesulitan berdiri ketika gadis manis ini merengek dengan cara yang lucu. Merasa dirinya tidak bisa bertahan lama, ia perlahan menariknya ke sofa dan duduk.

“Yuri memang brengsek…”

“Sayang, aku sudah memberitahumu. Kenapa kau masih bekerja untuknya? Aku tahu dia sahabatku tapi kau bisa bekerja denganku dan bayangkan hal-hal yang bisa kita lakukan di waktu luang kita.”

Tiffany melihat senyum yang coba disembunyikan Taeyeon. Ia memukul dadanya membuat Taeyeon mengerang. Ia menarik dirinya dan memelototi laki-laki itu.

“Yah aku hanya bercanda.”

Ia mengerutkan kening dan Taeyeon hanya tersenyum sambil kembali menariknya ke dalam pelukan.

“Oke bagaimana kalau aku membawamu ke restoran mewah untuk kencan makan siang kita dan mungkin kita bisa memperbaiki suasana hatimu ini. Setuju?”

“Tapi aku merasa nyaman berada dalam pelukanmu.”

Pernyataan itu semakin membuat senyum Taeyeon mengembang. Ada beberapa hal mengenai Tiffany yang tidak diketahui oleh orang lain tapi diketahui olehnya. Bagi orang lain, Tiffany adalah gadis mandiri yang mimpinya melebihi orang biasa. Keinginannya untuk berhasil mengantarkan dia menjadi gadis yang disegani di antara para pemagang saham. Taeyeon menyukainya tapi terkadang ia lebih menyukai sisi lucu dan manja Tiffany. Seseorang yang bisa bergantung padanya kapanpun dan di manapun.

~~~;~~~;~~~

Jessica merenungkan apakah datang ke kantornya sekarang adalah ide bagus atau tidak. Minggu depan, perkuliahan akan dimulai. Ia tidak akan menghabiskan banyak waktu bersama Yuri sehingga ia memutuskan kalau mungkin ia harus mengunjungi kantornya. Ditambah lagi ia tidak punya teman selain para pelayan di rumah sehingga ia merasa bosan. Ia mengirim Tiffany SMS tapi ia lalu teringat kalau sahabatnya juga sedang bekerja.

“Kau bisa melakukannya. Bersikaplah seperti biasa.”

Ia terus mengulang kata-kata itu. Bukan karena ia takut atau semacamnya tapi ini akan menjadi kali pertamanya ia datang sebagai istri Yuri. Orang-orang pasti masih menggosipkan tentang dirinya yang mencuri Yuri dari Hayoung. Ia mengembuskan napas.

“Ini membuatku frustasi.”

Ia keluar dari mobilnya dan mengambil tas tangannya.

‘Sekarang atau tidak sama sekali.’

Ia mengunci mobilnya dan berjalan menuju lift di pelataran parkir. Ia menekan tombol naik dan menunggu sejenak. Suara ‘ding’ terdengar dan ia masuk ke dalam dan menekan tombol nomor lantai ruangan Yuri. Saat menunggu, Jessica memutuskan untuk menenangkan diri dengan mengingatkan dirinya kalau ia adalah istri Yuri. Seorang istri mengunjungi suaminya itu adalah hal yang biasa. Ia akhirnya tiba dan mengintip keluar. Menghela napas lega karena tidak ada seorang pun di koridor, ia perlahan keluar. Terdapat pintu besar lainnya di hadapannya dan ia yakin kalau pintu ini adalah jalan menuju ruangan Yuri tapi kemudian ia mengerutkan kening mengingat ia harus berjalan melewati meja karyawan-karyawan di sepanjang perjalanannya. Menggelengkan kepalanya, ia mengangkat kepalan tangannya dan meneriakkan ‘fighting’ di dalam hati.

Jessica merapikan pakaiannya dan berjalan ke dalam. Ia sadar begitu dirinya melangkah masuk, semua mata tertuju padanya. Ia menelan ludah dengan gugup namun masih bisa berjalan dengan tenang. Hal terakhir yang ia inginkan adalah memalukan dirinya sendiri di hadapan orang-orang asing. Keheningan tiba-tiba dipenuhi dengan bisikan-bisikan dari karyawan-karyawan. Ia bisa membayangkan dirinya menjadi topik utama dalam diskusi tersebut.

‘Kenapa ruangannya jauh sekali?!’

Sambil menjerit dalam hati, perjalanan yang ia lalui terasa semakin berat dan berat hingga ia mencapai meja sekretarisnya di mana Nana sudah terlihat tersenyum padanya.

“Mrs. Kwon. Selamat datang. Mr. Kwon ada di dalam.”

Jessica tidak berani menanyakan mengapa Nana tidak memberitahu Yuri dulu mengenai kedatangannya. Yang ia inginkan saat ini adalah keluar dari pandangan orang-orang. Semakin cepat ia lari dari semua itu, semakin baik. Jessica segera menutup pintu di belakangnya begitu ia masuk ke dalam.

“Tadi itu me-menakutkan…”

“Sayang?”

Suara itu. Betapa ia sangat merindukan laki-laki itu meskipun sekarang baru saja jam makan siang. Ia berbalik dan disapa oleh sepasang mata hangatnya. Tatapan yang membuat kegugupannya lenyap. Yuri menaruh dokumennya dan berjalan menghampiri Jessica. Ia menariknya ke dalam pelukan sebelum mengajaknya duduk di sofa. Mereka duduk saling berhadapan. Yuri memegang tangannya dan membelainya dengan ibu jarinya.

“Sedang apa kau di sini?”

“Aku ingin mengunjungimu.”

Pernyataan itu membuatnya tersenyum lebar. Ia sangat bahagia mengetahui Jessica menyempatkan waktu dan datang kemari. Ia bersyukur. Pipi Jessica merah merona ketika Yuri mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibirnya. Ia masih merasa malu dengan kedekatan mereka.

“Kau sudah makan siang Yul?”

“Belum. Mau makan siang bersama?”

“Karena itulah aku datang kemari.”

Untungnya senyum Yuri tidak bisa lebih lebar dari semestiya. Pernikahan mereka semakin terasa lebih baik di setiap harinya dan Jessica sendiri memperjuangkan hubungan ini. Yuri mencubit pipinya membuat Jessica protes tapi rengekannya sama sekali tidak membuat Yuri berhenti. Gadis itu terlalu menggemaskan.

“Oke, tunggu di sini. Aku akan mengambil dompetku.”

Ia berdiri dan mengambil dompet dari tas selendangnya. Jessica juga berdiri menunggunya. Yuri kembali menghampirinya dan membukakan pintu.

“Pria duluan.”

Jessica terkekeh. Yuri mengangkat alisnya.

“Apa?”

“Bukankah seharusnya wanita duluan?”

Yuri tersenyum dan memegang tangannya.

“Pria duluan sehingga aku bisa memegang tanganmu seperti ini dan menuntunmu keluar.”

Yuri lebih dari romantis dan Jessica tidak pernah mengerti bagaimana laki-laki ini selalu memiliki sisi yang mengejutkannya setiap saat. Yuri melihat pipi Jessica memerah.

“Kenapa kau tiba-tiba malu?”

Jessica menggelengkan kepalanya dan segera melepaskan genggamannya. Yuri terkejut tapi kemudian senyumnya kembali ketika Jessica menggandeng lengan kirinya dan mengangkat kepalanya.

“Pria yang hebat adalah pria yang menghormati istrinya.”

Jessica berbicara dengan malu-malu. Yuri mencubit hidungnya dan mendekat sebelum mencium bibirnya. Ciuman yang singkat namun cukup untuk membuat Jessica tahu bahwa ia mencintainya. Yuri menarik diri.

“Sudahkah kubilang kalau aku mencintaimu, Sica?”

“Setiap saat.”

“Oke. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

Jessica bersumpah ia melihat Nana bersorak untuknya dari tempatnya berada. Ia menyukai sekretaris itu.

~~~;~~~;~~~

Mereka akhirnya tiba di depan mobil Jessica dan karena Yuri terlalu malas untuk mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di ruangannya, mereka memutuskan untuk menggunakan mobil Jessica. Jessica mengatakannya sendiri, apa yang menjadi miliknya akan menjadi milik Yuri juga. Mereka masuk ke dalam mobil dan berlalu meninggalkan pelataran parkir bawah tanah.

“Kau mau makan apa?”

“Western food?”

“Oke. Kalau begitu kita makan western food.”

Tangan kiri Yuri memegang kemudi sementara tangan kanannya memegang tangan Jessica. Jessica menyukainya. Yuri memperhatikan detail-detail kecil dan itu membuatnya bahagia. Di sisi lain, Yuri bahagia karena sesuatu yang lain.

“Ayah membelikan mobil yang bagus untukmu.”

“Mungkin kau harus membeli yang baru juga.”

Yuri melirik Jessica dan tersenyum. Terlepas kesukaannya pada mobil BMW sport keluaran terbaru milik Jessica, ia masih menyayangi mobil Golf GTI miliknya.

“Tempat tidurmu adalah suami pertamamu bukan? Mobilku adalah istri pertamaku, sayang.”

Jessica mengembungkan pipinya membuatnya terlihat lucu. Yuri menggeleng-gelengkan kepala sambil tetap fokus mengemudi.

~~~;~~~;~~~

“Ini pesanan Anda. Selamat menikmati.”

Yuri berterima kasih padanya dan pelayan itu pergi setelah ia menaruh semuanya di atas meja. Jessica membantu Yuri menyiapkan alat makan sementara laki-laki itu menontonnya kagum.

“Kau akan menjadi istri yang hebat.”

“Jadi sekarang aku belum menjadi istri yang hebat?”

Yuri sengaja membuat Jessica menunggu jawabannya. Jessica yang sudah mengetahui kejahilan Yuri tidak menanggapinya tapi terus melakukan apa yang sedang dilakukannya. Setelah selesai, ia bersandar dan mereka berdua mulai menyantap makanan mereka. Yuri mengambil pasta dan menunjukkannya padanya.

“Ini. Rasanya enak.”

Jessica memakannya dari garpu Yuri dan mengangguk setuju. Ia melakukan hal serupa dengan mengambil jamur dan membiarkan Yuri mencicipinya.

“Taeyeon benar tentang makanan di sini.”

Jessica mengelap saus dari ujung bibirnya dan meminum smoothie.

“Kita harus datang ke sini kalau kau ngidam western food.”

“Sungguh?”

“Ya. Aku baca kalau wanita hamil terkadang mengidamkan sesuatu. Kau masih belum menginjak tahap itu?”

“Mungkin iya dan mungkin tidak. Ayah memberitahuku kalau aku bisa disebut mengidam ketika aku menginginkan sesuatu yang mustahil.”

“Seperti apa?”

“Uh….ketimun?”

Kata itu sendiri membuat keningnya mengernyit. Ia sangat membenci satu sayur itu. Yuri memasang ekspresi kaget. Ia tidak mengetahui tentang itu.

“Kau sama sekali tidak suka ketimun?”

Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lucu. Yuri mengingatkan dirinya untuk tidak pernah memberi dia sayuran itu. Mereka menghabiskan makanan mereka beberapa menit kemudian. Jessica memandangi kue-kue yang dipajang di dekat meja kasir. Yuri melihatnya dan ia berbalik.

“Kau mau kue?”

“Tapi aku agak kenyang.”

Dari nada suaranya, ia tahu kalau Jessica masih menginginkannya. Karena itu ia memanggil pelayan dan memintanya untuk membawakan sepotong kue untuk mereka. Pelayan itu mengerti dan mengambilkannya untuk Jessica. Jessica tersenyum senang ketika pelayan tersebut kembali dengan sepotong kue. Yuri mengambilkan garpu kecil dan memotong kue lalu menyuapkannya ke mulut Jessica. Dengan senang Jessica menyantapnya. Saat ia mengunyahnya, Yuri ikut menyantapnya di sela-sela. Karena kecerobohannya, bibirnya belepotan dan ia tidak menyadarinya. Jessica mengambil tisu dan membantu Yuri mengelapnya. Yuri tersenyum.

“Terima kasih.”

“Itu saja? Hanya terima kasih?”

“Aku mencintaimu.”

Itu cukup random. Jessica kembali tersipu dan mengambil garpu dari tangan Yuri dan menyuapkan kue ke mulutnya sendiri. Yuri mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengacak-acak rambut Jessica membuatnya mengerang kecil. Interaksi mereka menarik perhatian pelanggan-pelanggan yang lain namun Yuri tidak menghiraukan mereka. Ini dunia mereka sendiri.

“Jessica?”

Mereka berdua berhenti bermain-main. Yuri mengangkat kepala dan melihat wajah yang ia harapkan tidak pernah dilihatnya. Di sisi lain, Jessica tahu siapa orang itu. Sungguh ironis situasinya saat ini. Ia perlahan berbalik. Tyler berdiri dengan tangan di saku celana jeansnya. Yuri tidak tersenyum lagi dan itu membuat Jessica siaga. Tyler bahkan tidak tersentak.

“Wow. Saat Hana memberitahuku kalau kau kembali ke Korea, aku tidak bisa mempercayainya.”

“Tyler.”

Tyler hanya tersenyum dan mengambil kursi terdekat dan menempatkannya di samping Jessica. Yuri terlihat sangat marah dan wajahnya memerah. Tyler pura-pura terkejut begitu pandangannya mendarat pada cincin di jari manis Jessica.

“Kau sudah menikah Jessica? Kenapa aku tidak diundang? Dengan siapa?”

“Aku. Dia istriku Tyler.”

Tyler pura-pura kaget. Ia tersenyum dalam hati ketika ia melihat Yuri mengernyitkan dahi.

“Selamat ya! Aku ikut senang! Aku tahu aku salah dan semacamnya tapi aku benar-benar turut berbahagia Jessica. Ditambah lagi memiliki bayi sangat membuatku takut. Untunglah kita sepakat dalam hal itu.”

Jessica melihat mata Yuri memerah.

“Tyler, bisakah kau pergi?”

“Kenapa? Maksudku dia tahu tentang aborsi itu kan?”

Keheningan menyelimuti sekeliling mereka.

“Kau tidak melakukan aborsi? Kukira kau sudah melakukannya. Yul, aku sungguh tidak tahu. Maaf sobat. Mengira kalau malam pertamamu…”

Tyler tidak menyelesaikan ucapannya ketika Yuri sudah memukulnya. Jika bukan karena Jessica yang segera berdiri dan menahan lengannya, ia pasti sudah akan menendang Tyler ketika laki-laki itu jatuh ke lantai. Tyler mengerang dan tangannya memegang rahangnya. Tatapan tajam Yuri membuatnya sedikit panik.

“Menjauhlah darinya. Jika aku melihatmu lagi, bukan hanya pukulan yang akan kau dapatkan. Percaya padaku. Ayo kita pergi Sica.”

Yuri menarik Jessica menuju kasir sebelum menaruh beberapa lembar uang di atas meja kasir dan meninggalkan restoran dan Tyler yang mencoba bangun. Beberapa pekerja ingin membantunya namun ia menyingkirkan mereka. Ia membersihkan celananya dan melihat pasangan itu pergi. Ia tersenyum menyeringai.

“Ini hanyalah permulaan Jessica. Aku akan membuat dia meninggalkanmu. Sampai jumpa nanti.”

~~~;~~~;~~~

TBC

credit: bluppy @AFF

Advertisements

15 thoughts on “9 Months [Chapter 14]

  1. huaaa akhir’y d lanjut jga
    ah si laler ganggung moment yulsic aj cba d basmi pke pmbasmi serangga
    buset dh fany fany tiffany kejem bgt haha

  2. tarra…. update…^^
    saking syang nya fany sma sahabat nya ampe marah nya ke yuri serem amat.. ^^
    sialan tu laler licik banget sih ganggu aja!
    pantes aja tu dapat pukulan yuri
    d bunuh juga pantes dasar kakek botak!!!

  3. Akhir’a akhir’a dilanjut jga ff ini………😀😀😀😀.
    Aq sdh lma menanti update drimu untuk ff ini thor……
    Dan terima kasih karna masih melanjutkan ff yg WOW ini…..tetap lanjutkan …karna msih ad yang nungguin ff ini….SEMANGAT…👍💪

  4. Hadeehhh mau nya tyler apa sih,dulu ga mau tanggung jawab,skrg giliran sica udh nikah,dia malah ganngguin dasar trouble maker tuh laler

  5. Duuuhh manis bngt sih yulsic, ikutan senyum2 sndiri😆😆. Ppany serem jg kl marah2, awas aja yul jd dipotng bneran ntr sm ppany hehehe, walah tuh si laler ngapain sih msh gangguin yulsic aja, maunya apa sih sbnernya

  6. Romantis nya taeny jg yulsic perhatian kecil tp tetap sweet ..
    Semoga aja apapun yg tyler lakuin buat nyingikrin yul dari njess ga terjadi ,semoga yul ttep bertahan ama njess ..

  7. Senangnya author updet lagi 😊👍
    Siapa yg bisa menolak pesona si bocah tae 😋
    Jd yul belum putus oh MY GOD (cepat putusin yul entar fany yg “mutuskan” nya) 😂
    Si laler nongol aje..nganggu yulsic momen 😠😡

  8. Lama gk da kabar akhirnya cerita nehh lanjut..hahaha…
    Gwe tunggu” sampe jamuran tw tarra….akhirnya”..
    Dan muncul laler..dasar lalat sialan..ganggu kmanisab yulsic jah sichh…butuh dihncurkan tuh om jidad…..
    Jang lama” lgi ya updatenya…tampaknya neh cerita makin seruuu….wkwkwkwkwkw…

  9. Awwww taeny romantis banget 😍😍😍,yulsic juga 😍😍😍,yahhh ada yg ganggu yulsic ehh laler pergi sana jgn ganggu yulsic 😒😒😒😒,ganggu yulsic lagi kencan aja 😒😒😒

  10. Yampun akhirnya dilanjut ini ff astagaaa nunggunya sampe 3 setengah abad sendiri buat nunggu kelanjutan ini ff 😣😣😣
    Roman2nya bakalan bau bafai nih buat yulsic siap2 setrong dah mreka bedua yoo ckkc
    Ayo dong tarra lanjut lagi jangan sampe brenti pliss 🙏🙏🙏

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s