Dear Diary [Chapter 2]

Masih ada yang belum tau couple di Twice ya? Hehe mereka semua Shipable kok

ctbkg4wuiaac48m


Chapter 2: The Day We Met

 

Pohon yang ditebang 2 minggu lalu kembali berdiri. Beberapa rumah dan gedung terlihat sedikit berbeda. Chaeyoung tidak mengenaliku. Mungkingkah aku kembali ke saat di mana aku dan Chaeyoung masih belum bertemu? Aku memeriksa buku diary yang asli. Karena hari ini tanggal 17 Januari, aku harus memeriksa kapan aku bertemu dengan Chaeyoung.

18 Januari 2016

Dear Diary,

Hari ini aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik. Aku bertemu dengannya di kedai kopi. Dia mengenakan gaun yang sangat indah. Tetapi, aku menumpahkan kopiku di gaunnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa sangat malu dan meminta maaf padanya berulang-ulang kali. Bukannya marah karena telah mengotori gaunnya, dia tersenyum padaku dan bilang tidak apa-apa. Dia bilang namanya Son Chaeyoung. Kami mengobrol sebentar dan aku bisa sedikit mengenalnya. Dia bilang aku enak diajak ngobrol dan menanyakan jika kami bisa bertemu lagi besok. Aku menyetujuinya. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannnya lagi.

Kami akan bertemu besok. Aku mengela napas.

Aku sangat gelisah sekarang. Bagaimana kalau dia tidak datang besok? Atau kejadiannya akan berbeda? Terserahlah. Aku hanya akan mengikuti diary ini. Untuk sekarang, aku harus menulis semua yang terjadi mulai saat ini, di buku diary yang satunya.

 

17 Januari 2016

Dear Diary,

Hal yang paling aneh terjadi hari ini. Aku kembali ke masa lalu. Aku kembali ke waktu di mana aku dan Chaeyoung belum bertemu. Besok adalah hari di mana aku seharusnya bertemu dengannya. Aku takut tapi juga senang. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja besok.

Hari ini adalah saatnya.

Aku mengenakan pakaian terbaikku. Aku memeriksa bayangan diriku di cermin berulang-ulang kali. Aku bahkan menyemprotkan parfum.

Aku pergi ke kedai kopi. Dia masih belum datang. Aku membeli kopi yang seharusnya tumpah ke gaunnya. Ini memang terdengar tidak sopan.

Aku duduk di sudut ruangan. Aku memandang sekeliling. Bagi orang-orang, ini adalah hari yang biasa-biasa saja. Suasana hari ini sangat bagus. Di kedai kopi ini terasa sangat tenang meskipun aku bisa sedikit mendengar orang-orang mengobrol yang hampir terdengar seperti suara lebah.

Dia datang. Aku mengangkat kepala. Meskipun aku sudah melihatnya kemarin, aku masih merasa kaget. Aku masih tidak percaya bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk melihat wajah yang pernah hilang dariku. Aku sangat bahagia hingga ini membuatku sedikit berlinang air mata.

Dia mengenakan gaun yang sama dengan gaun yang dipakainya ketika aku bertemu dengannya dulu. Kelihatannya semua berjalan seperti yang diperkirakan. Sekarang aku hanya harus menumpahkan kopi ini ke gaunnya dan semuanya akan berjalan dengan baik.

Tapi…sesuatu menahanku dari berdiri.

Aku berhenti sejenak.

Aku menunduk.

Chaeyoung meninggal karena salahku. Itu adalah salahku. Bagaimana jika semua yang terjadi akan terulang dengan sendirinya? Dia mungkin meninggal lagi. Dia mungkin meninggal karenaku lagi.

Aku mengepalkan tangan dan membasahi bibirku yang kering. Aku menatap Chaeyoung dengan pandangan kosong.  Aku tidak bisa berdiri lagi.

Lalu…

Mataku terbelalak begitu aku menyaksikan sesuatu yang tidak pernah aku duga.

Seseorang menumpahkan kopi ke gaunnya. Orang itu bukan aku melainkan orang lain. Seharusnya ini tidak terjadi. Orang itu terlihat sangat malu dan menyesal.

Seolah-olah seperti…seseorang sedang memerankan ceritaku dalam sebuah film.

Chaeyoung tersenyum dan mengatakan kalau dia tidak apa-apa.

Beberapa saat kemudian, mereka duduk di satu meja. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku hanya bisa mendengar bisikan-bisikan. Tapi aku tahu pasti apa yang sedang mereka bicarkan.

Aku memandangi mereka seperti orang bodoh. Aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Kopiku sudah dingin. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat hingga hampir merusak cangkirnya.

Aku bangkit dari kursi. Aku meninggalkan kopinya. Aku berjalan keluar dengan wajah datar.

Dan dengan begitu, aku kehilangannya.

18 Januari 2016

Dear Diary,

Seharusnya hari ini aku bertemu dengan Chaeyoung. Tapi malah orang lain yang bertemu dengannya. Aku masih ingat jelas bagaimana cara dia tersenyum padaku dulu. Sekarang dia memberikan senyum berharganya itu pada orang lain. Aku hanya berharap apa yang aku pikirkan salah. Orang itu tidak mungkin mendapatkan kenangan-kenangan yang akan aku miliki bersama Chaeyoung. Ini tidak mungkin terjadi.

Satu hari berlalu dan aku memutuskan untuk menemui seorang teman. Aku meneleponnya.

“Momo unnie!”

“Oh Mina-ya! Apa kabar?”

“Ayo kita bertemu.”

“Maaf, aku tidak bisa. Aku sibuk.”

“Aku akan mentraktirmu makan siang.”

“Oke. Temui aku di tempat Jokbal.”

Aku mengenakan pakaian casual dan langsung pergi ke tempat Jokbal.

Sial. Dia sudah memesan makanan dan sedang menyantapnya.

“Momo unnie!” Aku melambaikan tangan.

Dia mengangkat kepala dan melihatku.

“Mima-yahbbb” (Mina-yaaa!)

Aku duduk di hadapannya.

“Bisakah kau makan pelan-pelan? Dan jangan berbicara ketika mulutmu penuh makanan!” omelku.

“Aku tawhu iwu!” (Aku tahu itu!)

“Momo unnie. Dengarkan aku. Sesuatu yang aneh terjadi padaku.”

“Mmm.” Dia tidak begitu memperhatikan dan terus menyantap makanannya.

“Aku kembali ke masa lalu. Semua yang terjadi saat ini sudah terjadi sebelumnya. Sekarang semuanya kembali terulang dengan sendirinya.”

Terkejut, dia tidak sengaja menelan makanannya.

“Mina-yah! Apa kau sudah gila?” dia tertawa lalu kembali makan.

“Momo unnie, ingat ini. Beberapa hari lagi, jangan berani datang ke tempat ini. Kau akan menyesalinya.” Aku tersenyum jahat dan tertawa kecil.

“Mmm.” Dia hanya terus makan bahkan tanpa melihat padaku.

“Aku sungguh ingin tahu kenapa aku punya teman sepertimu.” Kataku.

**

Hari ini aku masih penasaran dengan apa yang terjadi padaku dan mengapa ini bisa terjadi. Terkadang aku berpikir jika apa yang terjadi padaku saat ini hanyalah mimpi semata. Aku bahkan mencoba untuk menampar pipiku sendiri. Itu bukan ide yang bagus. Rasanya sakit sekali.

**

Hari-hari berlalu dan aku masih tidak mengerti dengan semua ini. Aku membutuhkan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan dalam benakku. Tapi pertanyaan yang sebenarnya, pada siapa aku harus bertanya?

Aku duduk di kursi meja tulisku dan mulai menulis diary.

Tunggu.

Aku ingin tahu apa yang akan terjadi hari ini. Aku membalik halaman-halaman di buku diary yang asli.

25 Januari 2016

Dear Diary,

 

Hari ini Chaeyoung meneleponku. Dia bilang dia sedang menggambar di taman dan tiba-tiba turun hujan deras. Dia tidak membawa payung dan bertanya padaku jika aku bisa menjemputnya atau tidak. Aku lalu membawakan payung tambahan dan menjemputnya. Pakaiannya, barang-barangnya, dan bahkan sketsanya basah semua. Dia terlihat sangat kesal karena gambar-gambarnya rusak. Jika saja aku tahu kalau hari ini akan turun hujan, dia tidak akan sesial ini.

Aku bergegas memakai jaketku dan membawa dua payung. Aku berharap bisa tiba di taman tepat waktu. Aku keluar dari apartemen dan berlari secepat mungkin.

Langkah kakiku dapat jelas terdengar bahkan dari kejauhan.

Sial. Sudah mulai hujan.

Aku berusaha lari lebih cepat bahkan meskipun aku kehabisan napas.

Akhirnya aku bisa melihat dia dari kejauhan. Dia mencoba untuk menelepon seseorang.

“Hei! Sebelah sini!” sahutku.

Dia mengangkat kepalanya dan melirikku sekilas. Dia berlari ke arahku.

Aku membuka payungku yang lain dan menyerahkannya padanya.

“Terima kasih.” Katanya sedikit malu-malu namun dengan nada datar.

“Mmm.” Aku tidak bisa berkata-kata.

Kami pergi ke tempat berteduh terdekat. Kami masuk ke dalam kafe yang tidak banyak dikunjungi orang. Kami menglap barang-barang yang basah dengan handuk kecil yang kubawa.

“Untunglah gambarku tidak rusak!”

Akhirnya aku bisa mendengar suaranya yang ceria.

“Terima kasih banyak.” Tambahnya.

Aku tersenyum. “Tidak masalah.”

Kami duduk di satu meja dan memesan kopi panas.

“Bagaimana kau tahu kalau aku ada di sana?” tanyanya penasaran.

“Uhh, aku hanya sedang lewat situ ketika aku melihatmu.” Jawabku dengan sedikit gugup.

“Tapi kenapa kau membawa dua payung?”

Aku menelan ludah. Berpikir. Berpikir. Berpikir.

“Ahh, tadinya aku mau bertemu dengan teman yang meninggalkan payungnya di apartemenku. Dia tidak datang. Aku bawa satu untukku takutnya akan turun hujan.”

Aku menghela napas.

“Ahh, jadi begitu.” Jawabnya dengan nada percaya.

Hah. Selamat.

Sejenak, suasana di antara kami terasa canggung. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara dari sesapan kopi yang bisa didengar.

Aku terus menyesap kopiku. Aku merasakan tatapannya padaku. Aku tidak bisa menatapnya lurus-lurus.

“Bukanya kau orang yang ada di taman dua hari yang lalu?” dia akhirnya bertanya.

“Maaf?” aku pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakannya.

“Kurasa aku tidak salah menebak. Orang itu memang kau.”

Aku menyesap minumanku sebelum akhirnya berbicara.

“Ahh, ya. Kukira kau adalah seseorang yang aku kenal. Maaf soal hal itu.” aku sekarat.

“Tapi kau memanggilku Chaeyoung. Namaku Chaeyoung.” Tanyanya curiga.

“Sungguh? Aku tidak tahu kalian berdua memiliki nama sayang sama. Wow!”

Sial. Aku akan masuk neraka karena semua kebohongan ini.

“Hmm.” Dia tidak terlalu percaya dengan jawabanku tapi dia tidak bertanya lagi. Ponselnya bergetar. Dia mengangkat teleponnya.

“Oh Tzuyu-ya!”

Siapa Tzuyu? Aku tidak tahu dia punya teman bernama Tzuyu.

“Ya. Aku tidak apa-apa. Seseorang menolongku. Ya. Aku akan tiba dalam 15 menit. Sampai jumpa!”

Panggilan teleponnya berakhir.

“Uhm, aku harus pergi.”

Jangan pergi. “Oh, oke.”

“Senang bertemu denganmu, Mina?” dia menyebut namaku dengan tidak yakin.

“Ah ya. Oke, sampai jumpa lagi.”

“Oh tunggu. Bolehkah aku minta nomor teleponmu?”

Aku tidak tahu hanya dengan dimintai nomor telepon bisa membuatku sebahagia ini.

“Tentu.” Aku mengetik nomorku di ponselnya.

Dia mengucapkan terima kasih untuk hari ini dan pergi.

***

TBC

credit:  chaenk_you @AFF
Follow chaenk_you on Twitter: @enchaengted

Advertisements

7 thoughts on “Dear Diary [Chapter 2]

  1. Ooo..ini member twice 😁sorry Yg aku tau sih member twice cm tzuyu ama yg rambut pendek itu (cumanlupasiapa) 😂
    Kira2 diary yg ditulis mina bakalan berubah nggak ya..kan bukan dia yg numpahin kopinya..
    Tp udah tukaran nope tu 😊

  2. apa tzuyu yg mengganti kan peran mina?, dalam kisah, yg ada di diary nya?.
    ya…. walau aku ga tau satu pun member twice, mana yg mina dan mana chaeyoung?. 😂✌.tapi aku njoi dgn cerita nya. cerita nya oke.👌😃

  3. wkkk,, ok agak sedikit binggung mana yg mina mana yg chaeyoung…
    wooooo,,,
    tp yg gue heran,, 16 januari banding 2 mei 2016?belum kenal lagi? waktu yg gk singkat, bukan?
    tpi apa yg dilakukan chaeyoung, hingga si mina terlihat cinta mati, bahkan pake lompat dari rooftop.. okk
    gue penasaran sekarang

  4. yah ,, biar gak sesuai dengan cerita di diary yg lama , tpi masi tetep aja ya , emang dasar jodoh pasti akan bersatu , mudah2an ya . wkwkwkw

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s