You’ll be the Prince & I’ll be the Princess [Chapter 21]

a long chapter 😀

enjoy~

~~~ ~~~ ~~~

Title1d

Chapter 21: The scheming Prince

 

“Apa kau baik-baik saja?” suara bernada khawatir terdengar, menyebabkan gadis yang sedang asyik sendiri agak tersentak.

“Eh… er ya, aku baik-baik saja…” jawab Yuri segera, berpura-pura tersenyum sambil terus berjalan-jalan lambat di taman istana yang tenang.

Sudah beberapa hari berlalu setelah kekacauan yang muncul akibat foto-foto skandal yang dirilis secara tak terduga dan pengalaman mengerikan ketika mencari Jessica yang hilang. Selama perkelahian, Yuri terluka dan bertahan sampai akhir sebelum menyerah karena kelelahan. Untungnya, ia telah pulih dibawah perawatan konstan dokter dan pelayan-pelayan istana dan pada saat yang sama, skandal itu pun telah mereda karena upaya humas istana. Namun sejak saat itu, Yuri berusaha menemukan cara untuk memberitahu Jessica. Berbohong kepada orang yang dicintainya dengan sepenuh hatinya akan semakin menyulitkan dari hari ke hari.

Sejenak Jessica melihat raut wajahnya yang tampak merenung sebelum berubah dengan raut wajah tersenyum seperti biasa. Pada awalnya ia pikir berjalan-jalan santai akan baik untuk kesehatan Yul, terutama karena dia telah terbaring di tempat tidur selama beberapa hari terakhir tetapi meskipun niatnya baik, tampaknya itu tidak cukup membantu.

“Mungkin bukan ide bagus untuk mengajakmu jalan-jalan keluar, karena kau baru saja sembuh…,” Jessica menggigit bibir bawahnya, menyalahkan dirinya atas penyakit yang diderita Yul. Namun, ia segera menghilangkan pikiran yang menegur dirinya sendiri itu, tidak ingin menciptakan kekhawatiran lebih untuk sang pangeran. Ia memegang tangan Yul dan tersenyum hangat, “Ayo kita kembali.”

“Tunggu,” Yuri menahannya, menghentikan langkah Jessica, “Ada yang harus aku katakan padamu…” katanya dengan perasaan gelisah yang mengganggu batinnya. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Hmm?”

“Bisakah kau berjanji padaku kau tidak akan lari, tidak peduli apa pun yang terjadi? Kau boleh kesal padaku, marah padaku, kau boleh manamparku, menendangku atau bahkan membunuhku jika kau mau tapi kumohon jangan lari lagi… aku tidak yakin aku bisa menahannya lagi…”

Jessica merasa bersalah ketika ia mendengar kata-kata itu. Ia tidak pernah tahu bahwa tindakannya telah menyebabkan begitu banyak kekhawatiran dan penderitaan bagi Yul. Ia mengangguk dengan meminta maaf.

Hening sejenak. Yuri menatap Jessica dengan lembut. Sebuah momen memilukan di mana kebenaran bisa mengubah segalanya.

“Maafkan aku… seharusnya aku mengatakan ini sebelumnya tapi aku takut… aku takut kehilanganmu…”

Sekarang, Jessica bisa merasakan ada sesuatu yang salah.

“Aku ingin memberitahumu… semua tentangku dan…kakakku…”

“Kakak…mu?” tanya Jessica bingung.

Yuri menghela napas. Sekarang saatnya mengatakan kebenaran.

“Aku bukan Yul. Aku bukan Putra Mahkota. Dia saudara kembarku,” Yuri menurunkan tatapannya, “Dan aku hanya berpura-pura menjadi dirinya untuk sementara…”

Jessica ingin menganggap semua itu sebagai lelucon tetapi ekspresi sungguh-sungguh di wajah laki-laki itu menceritakan yang sebaliknya. “Kau bercanda…k-kan?” Suaranya bergetar dengan ketidakpastian, “Ini tidak lucu sama sekali.”

Ini jauh lebih sulit daripada yang dibayangkannya. Yuri mengepalkan tinjunya erat-erat, buku-buku jarinya memucat dari tekanan yang diberikan saat ia mendongak, sejajar dengan tatapan Jessica.

“Aku serius… Aku Yuri, aku saudara kembarnya. Selama ini aku hanya menyamar sebagai dirinya untuk menutupi hilangnya Yul sejak lebih dari seminggu yang lalu. Aku tahu seharusnya aku bilang sejak awal…”

Tidak mungkin orang di depannya ini adalah Putri Korea. Tingkah lakunya, penampilan dan semuanya…

“Kau bercanda terlalu jauh… hentikan omong kosongmu!” seru Jessica marah.

Untuk meyakinkan gadis itu, Yuri hanya meraih tangan kanan Jessica dan segera diletakkan di atas dadanya sendiri. Ia bisa melihat mata gadis itu perlahan-lahan melebar dengan wajah terkejut dan mulutnya menganga kaget.

“K-Kau…seorang perempuan!?” Jessica tersentak, tangannya masih terbaring di atas dada Yuri. Tidak ada kekeliruan.

“Maafkan aku…”

“Selama ini kau berbohong padaku?” Tanya Jessica, jelas-jelas merasa terkhianati.

“Maafkan aku-”

“Berhentilah meminta maaf! Karena kau tidak menyesal!” Jessica menarik tangannya dan mengambil langkah mundur mengejutkan. “Kata-kata yang kau katakan, perasaan yang kita miliki… apakah semuanya hanya lelucon bagimu?”

“Tidak! Itu semua benar! Perasaanku untukmu be-”

“Hentikan! Hentikan!” Jessica menggeleng marah, menutupi telinganya dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin mendengarkan kebohongan-kebohongan Yul, tidak, kebohongan Yuri lagi. Air matanya mengalir deras.

“Sica, kumohon…” Yuri mengambil langkah maju, menempatkan tangannya di bahu gadis itu, “Tolong dengarkan aku-”

“Jangan dekati aku!” Jessica menjerit, mendorong tangan Yuri. Hatinya serasa ditusuk-tusuk. Patah hati, ia menatap Yuri dengan tatapan terluka, bibirnya bergetar saat ia berbicara, “Dan mengira… aku benar-benar jatuh cinta padamu? Aku sungguh bodoh…”

“Sica, aku-”

“Aku…aku tidak ingin melihatmu lagi…” Jessica menahan tangisnya dan perlahan-lahan mundur. Ia melirik Yuri dengan mata berkaca-kaca untuk yang terakhir kalinya sebelum berbalik, meninggalkan Yuri berdiri di belakang – hancur.

Yuri hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Ia sudah menduganya. Ia sudah tahu bagaimana Jessica akan bereaksi terhadap kebohongannya. Meskipun ia sudah siap menerima hukuman apa saja, caci maki, setiap pukulan dan segalanya, tidak ada yang bisa mempersiapkan dirinya untuk sakit hati yang dirasakan keduanya. Mirip seperti menyajikan sebuah hukuman mati, tapi rasa sakit itu berbeda; rasa sakit itu membunuhnya secara perlahan. Ia mencengkeram dadanya yang tersiksa oleh rasa bersalah dan kemudian tiba-tiba, keadaan di sekelilingnya mulai berputar-putar. Pohon-pohon yang rimbun saling menyatu dan pandangannya semakin kabur. Dalam sekejap, Yuri tidak melihat apa pun kecuali ruang putih kosong di depan.

“Di mana… aku…” ia mengangkat satu tangannya, melindungi dan menyipitkan matanya karena silau. Ia bisa melihat sosok samar tepat di depannya. Jantungnya berdetak kencang saat ia mengenali rambut pirang sosok itu.

“Sica? Apakah itu kau?” Yuri menghampiri sosok itu, mengabaikan cahaya yang menyilaukan. Saat tangannya menyentuh punggung Jessica, cahaya luar biasa lainnya menyorot.Yuri refleks menutup matanya dan berpaling dari cahaya itu.

Ia membuka matanya beberapa saat kemudian dan sekali lagi ia melihat lingkungannya berubah. Kali ini, ia mendapati dirinya berdiri di tengah-tengah sebuah gudang tua, di dalam sebuah ruangan pengap dan bau logam yang menyengat dengan firasat tidak enak. Tersesat dan bingung, ia berbalik dan yang mengejutkannya, ia melihat Jessica, berbaring di genangan cairan berwarna gelap.

“Sica!” Yuri berteriak sekeras mungkin sambil berlari dan jatuh ke depan, berlutut di samping gadis yang tampak mengerikan berlumuran darah.

“Tidak, tidak! Ini tidak terjadi!” Yuri gemetar ketakutan saat ia mengangkat gadis itu ke dalam pelukan. Rasa lega langsung membanjiri dirinya ketika mata Jessica terbuka dengan lemah.

“Sica,” seru Yuri cemas.

“K-Kau… p-pembohong…” suara Jessica terdengar serak dan lemah, ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah dan meletakkannya di pipi Yuri.

“Maafkan aku, Sica, aku benar-benar minta maaf…”

“Aku… berharap… Aku tidak pernah… bertemu denganmu…”

Itu adalah kata-kata terakhir Jessica sebelum ia menutup matanya dan tangannya terjatuh.

“TIDAAAK!” Yuri berteriak dalam kesedihan, saat gadis itu terbaring lemah dalam pelukan Yuri sementara rasa sakit yang memilukan meledak dalam benaknya.

“Yul? Yul?”

Seseorang menepuk-nepuk pipinya dan mata Yuri pun terbuka, hanya untuk melihat ekspresi khawatir Jessica tepat di atasnya dengan sebuah handuk di tangan.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Jessica sambil menangkup sisi wajahnya dan menekan handuk kering itu menyeka keringat yang membasahi dahinya. “Kau menggigil dan berkeringat dingin… Aku sangat khawatir,” Jessica menggigit bibirnya. Sejujurnya, ia sangat takut, melihat wajahnya berkerut seolah-olah dia merasa kesakitan saat dia terbangun.

Yuri bisa merasakan jantungnya berdebar cepat tak menentu di dadanya dan paru-parunya berhenti berfungsi. Ia mengerjap beberapa kali saat kenangan-kenangan itu mulai membanjiri pikirannya kembali. Ia bergelut dengan benaknya dan samar-samar ia ingat mendengar suara panik Jessica sebelum pingsan.

“Itu hanya mimpi…?” Yuri mengerang dalam hati. Kepalanya terasa sakit karena mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Ia membiarkan kelopak matanya yang berat menutup sekali lagi. Jessica memperhatikan dari samping, tangannya membelai pipi Yul dengan penuh kasih sayang. Ia senang, akhirnya Yul terbangun.

“Aku akan panggilkan dokter-”

“Tidak… jangan tinggalkan aku…” jawab Yuri samar-samar sambil tangannya memegang tangan hangat menenangkan yang menempel di pipinya.

“Aku tidak akan ke mana-mana… aku hanya akan memanggil dokter untuk memeriksamu…”

Yuri membuka matanya dan menatap cemberut pada gadis itu, “Aku… mimpi buruk… Aku bermimpi kalau… kau… kau meninggalkan aku… dan-” ia berhenti, tidak mau membayangkan mimpi itu sekali lagi.

Jessica meletakkan handuk basah di sampingnya dan menggunakan tangannya yang lain, ia menyeka rambut basah laki-laki itu ke samping. Ia mencondongkan tubuh ke depan, mengecup dahi sang pangeran, “Aku tidak meninggalkanmu, bodoh… Aku akan segera kembali. Istirahatlah dulu, ok?”

Yuri mengangguk enggan, hatinya sedikit sakit saat Jessica perlahan melepaskan genggamannya dan dengan bantuan kruk, gadis pincang itu berjalan ke arah pintu. Rasa takut kehilangan gadis itu mulai menjalari dirinya. Beberapa saat kemudian ia menutup matanya, merasakan fisiknya yang sangat kelelahan.

Jessica kembali menatap pangeran yang tengah beristirahat sementara tangannya mencengkram pegangan pintu, “Bukankah aku berjanji tidak akan pernah pergi dari sisimu lagi… Aku akan menepati janjiku, pangeran bodohku.”

*****

“Yang Mulia, tampaknya demam Anda sudah turun tapi-”

ACHOO!

Yuri bersin keras sekali, tepat di depan dokter berpengalaman yang dengan bijak bergeser ke samping.

“-itulah yang akan saya katakan mengenai flu Anda… obatnya sama dengan yang lama – lebih banyak minum air putih dan beristirahat dengan cukup…” saran Dr. Kim saat ia dengan hati-hati melepas perban lengan kiri Yuri, sementara gadis itu tetap duduk tegak di tempat tidur. Hal itu menunjukkan garis jahitan yang terlihat halus, menyebabkan gadis itu tersentak sedikit. Luka itu tidak sesakit kelihatannya, jahitannya mencapai panjang 4 inci. Dan lagi, malam itu ia berkelahi dalam desakan adrenalin, yang mungkin telah memati rasakan semua rasa sakit.

Dr. Kim memperbaiki letak kacamatanya, memeriksa luka itu dengan cermat.

“Tampak bersih dan baik-baik saja… Saya memberikan suntikan tetanus untuk berjaga-jaga karena Anda terluka oleh pecahan kaca… tapi saya masih harus memeriksa suhu tubuh Anda dua kali sehari untuk mencegah infeksi.” Pernyataan itu meluncur dari mulutnya secara alami. Ia mengambil gulungan kain kasa baru dan di bawah jari tangkasnya, lengan kiri Yuri kembali terbalut rapi dalam waktu singkat.

“Lecet-lecet di punggung Anda seharusnya tidak ada masalah. Lady Bae akan segera mengobatinya.”

“Jadi… Aku rasa Dokter sudah mengetahui keadaanku…” tanya Yuri penasaran.

“Yang Mulia Pangeran Yuri? Ya… aku sedikit mengetahuinya dari Sir Yoon.”

“Terima kasih sudah merahasiakannya… Maksudku… sepertinya Jessica belum menyadari hal ini.”

“Jangan berterima kasih terlalu dini. Hanya soal waktu sebelum kebenaran itu terbongkar. Saya harap Anda punya rencana cadangan untuk itu,” Dr Kim berbicara dengan nada serius.

Yuri mengalihkan pandangannya untuk menghindar. Ia berharap ia bisa memberitahu Jessica secara terbuka tapi mimpi buruk itu kerap menghantuinya berulang kali. Setiap kali ia mencoba untuk memikirkan cara-cara untuk memberitahu Jessica, bayangan gadis sekarat itu terlintas dalam benaknya.

“Yang Mulia? Tangan kanan Anda?”

“Yang Mulia?” Kali ini, Dr. Kim sedikit meninggikan suaranya, ia akhirnya menangkap perhatian gadis itu.

“Oh, maaf, aku melamun… tadi dokter bilang?”

“Tangan kanan Anda. Saya harus memeriksa jahitan itu lagi… kali ini untuk memastikan jahitan itu tetap kuat,”  ia berbicara dengan nada sedikit menegur.

“Oh…” Yuri tersenyum tipis dan mengangkat tangan kanannya hati-hati. Dokter istana itu langsung menyadari gemetar samar.

“Kapan mulainya?”

“Maaf?”

“Getaran. Tangan Anda gemetar.”

Sekarang setelah dokter itu menanyakan, ia mulai memperhatikan tangannya sendiri. Ia merasakan mati rasa aneh menyebar di punggung tangannya.

“Mungkin itu karena obat… kau tahu… Aku masih mengantuk! Lihat! Tangan kiriku juga gemetar.” Yuri mengangkat kedua tangannya dengan lemah untuk menjelaskan, “Sungguh tidak ada yang salah!”

Dr. Kim menatapnya curiga ketika ia mengulangi proses yang sama, ia melepaskan perban. “Apakah Anda yakin Anda tidak merasakan apa-apa?”

Yuri mengangguk sungguh-sungguh, “Ini benar-benar hanya karena kelelahan… dan selain itu luka ini tidak menyakitkan atau semacamnya.”

Setelah lapisan atas perban terlepas, tanda pertama dari bercak darah kecil menceritakan cerita yang berbeda. Ia mempercepatnya dan melihat jahitan zigzag yang agak bengkak di punggung tangan Yuri. Yuri menatap jahitan yang tampak berantakan itu dengan ekspresi agak tidak senang.

“Sepertinya Anda perlu satu dosis antibiotik,” ia mengerutkan kening sedikit, “Dan ini tidak terlihat cantik karena seseorang tidak mendengarkan saya ketika saya menyuruh untuk menahan diri agar tidak terlalu banyak mengerahkan tenaga. Sekarang, butuh waktu lebih lama untuk menyembuhkan luka ini!” Dr. Kim mengomel sambil membersihkan lukanya, mengoleskan kapas antiseptik sementara Yuri memalingkan muka dengan malu.

“Untungnya Anda tidak merasakan mati rasa apa pun…”

Yuri bergeser sedikit dan bertanya gugup, “K-Kenapa?”

“Artinya mungkin ada sedikit kerusakan saraf.”

*****

Udara di dalam ruangan megah itu terasa berat karena kegelisahan orang-orang di dalamnya. Yuri mendongak dan melihat tatapan dingin dari Lord Jung sementara istrinya duduk di sampingnya, menahan dia dengan sentuhan meyakinkan di lengannya. Jessica duduk tepat di samping ayahnya.

Raja Chung duduk menghadap anaknya sementara Ratu dan Ibu Suri duduk berdampingan, menghadap keluarga Jung dalam pembicaraan empat sisi. Yuri bergeser tidak nyaman saat semua pandangan tertuju padanya. Tapi untungnya, Sir Yoon berdiri tepat di sampingnya. Sebagai kepala pelayan istana dan penasihat Putra Mahkota, ia memiliki kedudukan yang penting dalam keluarga kerajaan. Selain itu, ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui semua kebenaran di dalam ruangan tersebut, selain Yuri.

Beberapa pelayan senior masuk dan dengan cepat meletakkan cangkir-cangkir teh yang baru diseduh,  yang dipesan khusus oleh Ibu Suri untuk menenangkan suasana di dalam ruangan tersebut, mereka lalu mengosongkan ruangan, memberikan keleluasaan untuk keluarga kerajaan.

“Minumlah, sebelum tehnya dingin. Akan memalukan untuk menyia-nyiakan kerja keras dari para pemanen teh.” Ibu Suri memecah keheningan dengan kata-katanya yang mendalam sambil menempelkan cangkir porselen ke bibirnya.

Yuri meneguk teh itu dan berbicara bahkan sebelum orang lain menyentuh teh mereka.

“Pertama-tama, saya ingin meminta maaf atas perilaku gegabah saya dan membuat Yang Mulia khawatir. Dan untuk Lord Jung dan Lady Jung, saya menyesal saya telah gagal melindungi Jessica dari bahaya.”

“Yah… Kau… kau melindungi Jessica dari preman itu… Aku er… sebaliknya aku harus berterima kasih,” kata Lord Jung dengan sedikit gagap. Ia tidak menduga sang pangeran meminta maaf karena hal itu, ia mengetahui laki-laki itu sendiri terluka selama perkelahian.

“Ayah,” kata Jessica lembut, dan menyikutnya. Ia menatapnya penuh arti.

“Er… Maafkan aku untuk… pukulan itu,” katanya canggung. “Tapi jika kau benar-benar selingkuh, aku akan menarik permintaan maafku kembali,” ia cepat menambahkan.

“Ayah!”

“Apa! Ayah hanya-… Jangan berbicara ketika orang dewasa berbicara.”

Raja Chung terbatuk pelan, menarik perhatian mereka.

“Yul, ayah dan ibumu senang kau tidak apa-apa sekarang. Mungkin jika kau bisa, tolong jelaskan tentang apa yang mengganggu benak kami dan mungkin juga seluruh bangsa.” Terdengar jelas dari nada suara sang Raja bahwa masalah itu sangat mendesak.

“Foto-foto itu memang nyata,” kata Yuri terus terang, mereka terkesiap kaget khususnya para ibu.

“Tapi foto-foto itu tidak seperti kelihatannya. Tidak ada hubungan apa-apa di antara saya dan Sooyoung. Dia baru saja kembali dari Amerika dan sudah tiga tahun sejak terakhir kami bertemu. Saya pikir akan sangat menyenangkan untuk pergi berbelanja disela-sela kunjungannya dan kami hanya bermain-main ketika foto-foto itu diambil-”

“Bermain-main?” Raja Chung menggelengkan kepalanya. Ia pikir putranya, seorang calon Raja, akan lebih dewasa dan sadar akan pandangan publik dan apalagi, untuk bermain-main dengan gadis lain.

“Hanya dengan Sooyoung?” Nada suaranya lebih keras dari biasanya.

Setelah mendengar itu, Yuri membantah, “Ada apa dengan Sooyoung? Dia temanku, teman lamaku jika Ayah lupa.”

“Yang Mulia, ini salah saya karena gagal mengamankan wilayah tersebut sebelum Yang Mulia Pangeran pergi sendiri.” Tambah Sir Yoon cepat, mencegah konflik yang mungkin terjadi. Dengan bijak Yuri menahan kata-katanya. Gelar Putra Mahkota telah tercemar oleh skandal tersebut. Ia tidak membutuhkan alasan lain untuk membahayakan posisi kakaknya.

“Jika tidak ada yang terjadi di antara mereka, kita harus menunda masalah ini,” Ibu Suri mengungkapkan pikirannya, “Anak itu belum terlalu sembuh. Aku tidak ingin cucuku jatuh sakit lagi.”

Ia melirik Yuri dan tersenyum, “Pergilah dan istirahat. Biarkan mereka yang menangani media, aku yakin ayahmu tidak akan keberatan,” ia berpaling ke anaknya dan tersenyum, “Apakah aku benar?”

Tentu saja, sebagai orang yang paling tua dari keluarga kerajaan dan Ibu dari sang Raja, tak ada seorang pun yang akan melawan keinginannya.

“Minum teh lagi. Ini baik untuk kesehatan. Lebih banyak kalau kau tidak meminumnya secara teratur…”

*****

Sebuah kerikil halus melompat tiga kali di atas permukaan sebelum akhirnya tenggelam ke dasar kolam. Jessica menghela napas panjang. Sudah dua hari setelah perbincangan itu dan sejak saat itu ia jarang bertemu dengan Yul. Satu-satunya kesempatan untuk mereka bertemu adalah selama makan malam tetapi meskipun demikian, akhir-akhir ini Yul telah berhenti keluar untuk makan malam. Sebagian besar waktunya dihabiskan di kantornya, menangani administrasi dan hubungan masyarakat. Keuntungannya adalah karena keikutsertaanya, skandal itu pun telah mereda dan rating persetujuan masyarakat telah meningkat kembali. Kelemahannya, pertunangan mereka harus ditunda sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Gadis itu duduk di paviliun, mengambil kerikil lain yang ia kumpulkan dan melemparkannya tanpa tujuan.

“Apa yang dilakukan seorang gadis cantik sepertimu di hari yang indah ini sendirian?” Sebuah suara akrab terdengar dari belakang. Jessica langsung berbalik dan kembali meletakkan kerikil itu.

“Yang Mulia! Maksudku-Paman.”

Pangeran Jin tertawa, memberi isyarat dengan tangannya supaya gadis itu duduk sementara ia duduk di kursi kosong di hadapan gadis itu.

“Aku melihatmu melemparkan kerikil-kerikil itu jadi aku datang untuk mengobrol sedikit denganmu, jika kau tidak keberatan mendengarkan orang tua membosankan ini berbicara.”

“Tidak. Tentu saja, aku tidak akan keberatan.”

“Ah… jadi kau mengakui kalau aku orang tua membosankan…” goda Pangeran Jin.

“Tidak! Bukan itu maksudku.” Jawab Jessica gugup, Pangeran yang lebih tua itu menanggapinya dengan tertawa.

“Kenapa kalian berdua tidak pergi berkencan? Setelah kejadian ini, aku yakin kalian berdua bisa menggunakan beberapa waktu bersama dan kau tahu…kembali lebih dekat… dan mengesampingkan masa lalu yang tidak menyenangkan.”

“Tapi-”

“Yul terlihat lelah dan terlihat agak tertekan karena kejadian itu…  akan sangat  menyenangkan kalau dia bisa pergi keluar untuk melepas penat… dan tentu saja, apa lagi yang bisa lebih baik daripada kencan berdua denganmu,” ia menyiratkan dengan santai.

Jessica merenung sejenak. Ia sering melihat tampilan gelisah Yul baru-baru ini. Dan mungkin seperti apa yang disarankan Pangeran Jin, sedikit perjalanan santai mungkin akan membantunya.

“Tapi dia sibuk akhir-akhir ini…”

“Ya, kalau kau mengajaknya berkencan, aku yakin dia tidak punya alasan untuk menolak.”

Merasakan keraguan gadis itu, ia menambahkan sambil menghela napas, “Dan berpikir aku sudah menyiapkan tiketnya… sepertinya semua itu sia-sia.”

Jessica menjadi bingung pada tuduhan halusnya, “Tidak, Paman, itu tidak benar! Aku rasa, tidak ada salahnya mencoba.”

Pangeran Jin tersenyum dalam hati sambil menyerahkan sepasang tiket pada gadis yang tentu saja menurut untuk menerima tawaran baiknya.

“Lotte World?” tanya Jessica ketika melihat tiket itu. Nama itu terdengar akrab dalam ingatannya.

“Itu adalah taman bermain. Kalian berdua akan bersenang-senang di sana,” kata Pangeran Jin positif, sebelum menurunkan suaranya menjadi bisikan, “Tapi hanya kita berdua yang boleh mengetahui rahasia ini.”

“Rahasia?”

Pada awalnya Jessica bingung dengan kata-katanya, tapi secara bertahap, ia mulai memahami niat Pangeran itu.

“Ahhh, aku mengerti! Ini sebagai bentuk kejutan untuk Yul.”

“Gadis pintar! Tapi ini tidak akan menjadi kejutan spesial kalau semua orang berakhir menyusul kalian berdua untuk kencan kecil kalian…”

“Tapi Sir Yoon pasti akan mengirim satu atau dua pengawal-”

“Sederhana,” ia menyuruh gadis itu untuk maju dan dengan pelan membisikkan sebuah rencana ke telinganya. Setelah beberapa saat, wajahnya secara bertahap besinar mendengar saran brilian sang pangeran.

“Ini pasti akan berhasil!” Pangeran Jin tertawa riang.

“Yul beruntung memiliki seorang paman yang peduli.”

“Haha, kau tidak tahu seberapa besar aku mengagumi keponakanku. Besok adalah hari kerja, sehingga tidak akan ramai pengunjung… Cukup sempurna untuk sebuah kencan kecil,” pangeran licik itu menyelesaikan ucapannya dengan seulas senyum.

*****

Yuri menguap tertahan saat ia meregangkan tubuh lelahnya, setelah duduk di kursinya menyelesaikan berbagai laporan selama satu jam terakhir. Ia mengulurkan tangan untuk meraih gelasnya dan hendak meminumnya ketika ia kehilangan pegangan, menjatuhkan segelas air es di atas meja, menumpahkan isinya di atas laporan-laporan yang telah diselesaikan.

“Aish!” ia mengutuk dalam hati dan segera menyelamatkan dokumen itu. Rasa sakit yang tajam menjalar di punggung tangan kanannya saat ia mengambil berkas-berkas tersebut. Ia menjatuhkan berkas-berkas itu di atas nampan di sudut meja dan mencengkeram tangan kanannya yang gemetar berusaha menghentikan getaran itu. Rasa sakit itu semakin memburuk akhir-akhir ini. Yang paling baru terjadi pagi ini ketika ia menandatangani dokumen di hadapan Sir Yoon. Saat itu, rasa sakitnya begitu menyakitkan sehingga ia bahkan tidak bisa memegang pena dengan benar. Untungnya, itu adalah dokumen terakhir yang harus ia tandatangani dan ia hanya harus menuliskan tanda tangannya sendiri. Cap stempel resmi dari Putra Mahkota Korea sudah cukup untuk memvalidasi keasliannya.

Yuri perlahan meredakan ketegangan tangannya dengan pijatan lembut dan dengan segera, ia mampu melenturkan jari-jarinya saat mati rasa itu pergi secara berangsur-angsur. Kata-kata dokter kerajaan melintas di pikirannya. “Mungkin ada sedikit kerusakan saraf.”

Ia melihat ke atas meja, pada gelas yang sekarang kosong. Menantang dirinya sendiri dan membuktikan semua itu hanya kebetulan, dengan hati-hati Yuri menegakkan gelas itu sekali lagi, kali ini dengan sukses.

“Itu hanya ada di dalam kepalaku…”

Ketukan lembut di pintu membawanya kembali dari lamunannya.

“Silakan masuk”

Jessica perlahan-lahan melongokkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka.

“Apakah aku mengganggumu?”

Mata Yuri berbinar senang melihat kehadiran Jessica. Ia sudah lama tidak mengobrol dengan gadis itu karena jadwalnya yang padat dan ia sangat merindukannya.

“Tidak. Buatlah dirimu senyaman mungkin.” Yuri menghampiri gadis itu, mengantarnya masuk

“Jadi… ini kantormu… kantormu bagus.”

“Yah, ini hanya kantor pribadi. Ada kantor lain di istana utama. Kantor itu jauh lebih megah dan raja-raja sebelumnya pernah menggunakannya sebelum mereka menjadi raja, tapi aku selalu lebih suka bekerja di sini. Kantor ini tidak terlalu banyak tekanan kurasa…”

Sang pangeran memang sedang tertekan seperti apa yang dikatakan pamannya tadi. Jessica merasa tidak enak karena tidak menyadari hal itu sebelumnya.

“Yul… ayo kita p-pergi kencan!”

“Eh?” Yuri tidak siap untuk permintaan mendadak Jessica.

Wajah gadis itu berubah merah, malu dan malu karena pendekatan beraninya sendiri. Ia memetik keberaniannya sekali lagi.

“Aku bilang, ayo kita pergi kencan besok!” Kali ini, Jessica terdengar jauh lebih percaya diri tetapi pada saat yang sama, jantungnya berdegup di luar batas normal.

“O…ok,” jawab Yuri, sedikit terkejut dengan inisiatifnya. Ia tidak mengira pernyataan itu keluar dari seorang gadis. Barulah Jessica menyadari adanya sedikit kecanggungan di antara mereka.

“Erm, kalau begitu sampai jumpa besok pagi. Semoga malammu menyenangkan!” kata Jessica cepat dan meninggalkan kamarnya dengan tergesa-gesa sebelum Yuri bisa mengatakan apa-apa. Hanya ketika ia mencapai halaman kamarnya detak jantungnya melambat. Sambil memejamkan mata, Jessica bersandar di pintu buram dan menyunggingkan senyumnya. Ia telah berhasil memintanya berkencan secara resmi sekarang.

*****

“Ugh, ini lebih sulit daripada yang kukira,” gadis itu menggerutu saat ia bersusah payah dengan semangkuk salad tuna yang telah diaduknya selama hampir tiga puluh menit. Meskipun gadis itu tampak profesional dengan penampilan yang sebaik-baiknya; sebuah celemek yang terlihat bersih, dan rambutnya disanggul rapi, kekacauan di meja dapur menunjukkan kemahirannya dalam masak-memasak; singkatnya, sebuah bencana. Potongan-potongan tuna tersebar di seluruh meja, bersama dengan beberapa irisan tomat tebal (ukuran tertipis yang bisa dipotongnya tapi masih dianggap tebal menurut pandangan normal) dan potongan selada yang tidak mirip dengan bentuk aslinya.

Mengambil sepotong daging kecil dari salad tuna mayo, dengan hati-hati ia memasukkannya ke dalam mulutnya, hanya untuk membuat ekspresi wajah tidak enak dan aneh begitu ia mencobanya.

“Ugh, terlalu hambar…” Rasanya bahkan jauh dari buatan ibunya. Ia mulai melirik sekelilingnya untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkan masakannya dan matanya berbinar, ia melihat sebuah botol saus. Merasa sangat pintar karena menemukan solusi, ia menambahkan bumbu itu dengan bangga dan percaya diri; tidak ada makanan yang tidak enak dengan saus.

“Saus ini memang hebat, bukan begitu Mr. Bear?” dengan genit Jessica menanyai boneka beruang hitam yang ia dudukkan di kursi sebagai pengawas dapur Jessica. Jam di dinding menarik perhatiannya dan ia sadar bahwa ia sudah kehabisan waktu. Dengan cepat ia mencampur-adukan semuanya bersama-sama, membuat sandwich istimewa yang diisi dengan irisan tomat tebal, salad tuna mayo yang belum teruji (taste-wise) dan bahan yang terpenting; cintanya.

Segera, semuanya dikemas rapi dalam kotak makan. Merasa puas dengan dirinya sendiri, ia membersihkan celemeknya dan di tengah-tengah melakukannya, dengan ceroboh ia menjatuhkan botol saus yang terbuka, menyebabkan isinya tumpah ke arah boneka beruangnya. Beberapa saat kemudian, botol itu mendarat di lantai dengan bunyi pecahan keras.

“Oh tidak…”

Meletakkan kotak makannya, Jessica melihat kekacauan yang telah ia ciptakan. Saus yang tumpah di seluruh tempat dan boneka beruang malangnya terbaring di tengah-tengah kekacauan itu, berlumurkan saus merah.

“Apa yang terjadi?” Seorang pelayan perempuan datang saat mendengar suara itu dan berlari ke dapur dengan cemas.

“Y-Yang Mulia!” sapa pelayan junior itu kaget, sebagian karena melihat putri mahkota yang mengenakan celemek pagi-pagi sekali. Ia melihat ke bawah dan segera menyadarinya.

“Ah Maafkan aku, aku terlalu ceroboh,” Jessica meminta maaf sambil membungkuk, berusaha untuk membersihkan kekacauan yang dibuatnya tetapi dengan cepat dihentikan oleh si pelayan.

“Serahkan saja pada saya, Yang Mulia!”

Dengan enggan, Jessica minggir, tetapi tidak sebelum mengambil boneka beruang kotornya dari lantai. Ia mengangkat boneka beruang kesayangannya itu dan kecewa saat ia melihat sobekan kecil, memperlihatkan isian putihnya yang kini ternodai oleh saus merah. Perasaan gelisah merayap di benaknya.

“Yang Mulia, boneka beruang yang Anda pegang kotor. Serahkan saja pada saya, saya akan mengirimkannya untuk dibersihkan dan boneka itu akan kembali bersih seperti baru.”

Jessica kembali menatap jam dinding dan dengan enggan ia menyerahkan beruang itu. “Tolong jaga Mr. Bear. Sayangnya boneka itu sedikit sobek, tapi aku akan menjahitnya kembali nanti malam.” Ia meraih kotak makan dan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada gadis itu sambil menyerahkan celemek. Ia melirik boneka beruang hitamnya sekilas dan menyingkirkan perasaan yang tak menyenangkan. Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan baginya dan sang pangeran.

*****

“Kau akan berkencan dengan Jessica? Ke mana?”

“Dia bilang dia ingin pergi berkuda lagi.”

“Berkuda? Kau baru saja jatuh dari kuda seminggu yang lalu!” Suara Sooyoung terdengar nyaring di seberang sana.

“Tenanglah, Sooyoung. Sekarang kuda-kuda itu sudah baik-baik saja, bukan? Itu tidak akan terjadi lagi…”

Keduanya kerap mengobrol melalui ponsel sejak perubahan susunan pegawai karena skandal itu. Sooyoung telah menawarkan untuk melepaskan posisinya sebagai pengawal pribadi sang pangeran, sebagai langkah pencegahan untuk menghentikan rumor yang tersebar bahkan di antara pegawai istana. Bahkan, ayahnya telah memerintahkannya untuk kembali ke Amerika Serikat untuk mengawal Putri Yuri, bagaiamanapun itu adalah tugas awalnya. Untungnya dengan bantuan campur tangan ibunya, Sooyoung diizinkan untuk tinggal di Korea selama satu minggu untuk menghabiskan waktu luang bersama keluarganya, untuk menebus ketidakhadirannya selama beberapa tahun belakangan.

“Pokoknya aku membutuhkan bantuanmu. Foto-foto di Jeju sudah siap diambil tapi karena aku mungkin tidak akan bisa mengambilnya hari ini, bisakah kau membantuku mengambilnya? Aku akan meninggalkan tanda terimanya di tangan Sir Yoon. Mungkin kau bisa menemui dia ketika kau datang ke istana hari ini.”

“Baiklah, karena aku tidak punya banyak pekerjaan akhir-akhir ini…”

“Ya, manfaatkan waktu istirahatmu.”

“Seperti apa? Nonton TV? Aku selalu menonton TV selama tiga hari terakhir.”

“Pergilah berkencan dengan kakakku. Dia pandai menyamar, begitulah cara dia berhasil lari ke luar negeri.”

“Itu mungkin berhasil,” Sooyoung tertawa secara paksa, “Kalau saja kakakmu cukup romantis.”

“Mm… terlalu banyak detail… Aku tidak tertarik dengan kencanmu khususnya karena itu melibatkan kakakku.”

“Terlalu sulit sebagai sahabat yang baik?”

“Sooyoung…” Yuri berhenti sejenak.

“Ya?”

Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.

“Terima kasih atas segalanya.”

“Kenapa kau tiba-tiba berterima kasih padaku?” Tanya Sooyoung, merasa bingung dengan sikapnya.

“Hanya berterima kasih… Kenapa? Sekarang aku tidak boleh berterima kasih kepada seorang teman?”

“Kenapa kau berbicara seolah-olah dunia ini akan berakhir besok?”

“Mungkin duniaku…”

“Huh?”

“Aku sudah memutuskan. Aku akan mengatakan padanya hari ini.”

*****

“Yang Mulia, apakah menunggang kuda sesuai dengan kondisi Anda?” Tanya Sir Yoon dengan nada prihatin. Ia baru saja mengetahui hal itu beberapa saat yang lalu ketika Jessica datang ke tempat sang pangeran, telah siap untuk tamasya mereka.

Jessica sedikit tegang mendengar pertanyaan yang diajukan.

“Aku lihat tidak ada masalah. Selain itu, aku sudah sembuh dari demamku.” Jawab Yuri yakin.

“Begitu. Haruskah aku menyiapkan transportasi dan beberapa penjaga untuk perlindungan?”

“Ah, tidak perlu.” Jawab Jessica cepat. “Maksudku… karena Pangeran Jin akan berada di sana juga. Kami tidak mau merepotkan semua orang untuk… kencan kecil kami.”

“Pamanku akan berada di sana?” Tanya Yuri kaget. Jessica tidak menyebutkan hal itu sebelumnya. Gadis itu mengangguk singkat.

“Kalau begitu… Aku rasa…” Sir Yoon ragu-ragu sejenak sampai Taewoo berbicara dari samping.

“Sebagai  pengganti pengawal Yang Mulia untuk saat ini, mungkin saya harus mengikutinya…untuk berjaga-jaga.”

Baru-baru ini Taewoo ditugaskan sebagai pengawal pribadi Pangeran, keputusan bersama ini dibuat oleh Raja dan Sir Choi, karena khawatir akan serangan sebelumnya terhadap pangeran muda ini. Dan siapa lagi yang akan cocok dengan peran tersebut, selain wakil kepala keamanan saat ini.

“Tapi sebelum itu, saya rasa saya harus mengikuti di mobil terpisah. Untuk keleluasaan Yang Mulia.” tambah Taewoo bijak.

Tidak dapat menawarkan saran yang lain, Sir Yoon tidak punya pilihan selain menyetuinya. Merasa lega, Jessica memberikan Taewoo tatapan rasa berterima kasih sekilas, sebelum memimpin Yul keluar.

“Maafkan aku karena memperalatmu sedemikian rupa…” Taewoo berpaling dari gadis itu sambil mengikuti dari belakang.

*****

“Kenapa tiba-tiba tertarik berkuda?” Tanya Yuri penasaran sambil mengemudikan Mini Cooper pink, mobil hitam mengikuti di belakang mereka, di jarak yang aman.

Jessica bergeser di kursi penumpang, “Ya…”

“Kau tidak takut dengan kuda-kuda itu lagi? Kukira kejadian itu akan membuatmu takut sehingga kau bahkan tidak akan berani naik kuda lagi…”

“Sejujurnya, aku masih takut.”

“Eh?” Mobil mereka berhenti di persimpangan lampu merah dengan beberapa mobil berjajar depan mereka.

“Yul, sebenarnya…” perlahan-lahan Jessica mengambil tiket dari tasnya dan menunjukkan kepadanya, “Aku ingin pergi ke tempat ini.”

Yuri mengambil tiket di tangannya. “Lotte World?”

“Maaf aku berbohong!” Jessica merapatkan kedua tangannya dalam posisi berdoa, meminta maaf. Yang mengejutkan, dia hanya tertawa.

“Oh… jadi itu sebabnya kau ingin kita pergi sendirian tanpa penjaga,” kata Yuri dengan nada menggoda dan menyentuh puncak kepala Jessica, menepuk-nepuk kepalanya seolah-olah dia adalah seorang anak kecil, “Lain kali, beritahu saja aku, Putri.”

“Kau tidak m-marah?”

“Kenapa aku harus marah? Sudah lama aku tidak pergi ke Lotte World. Kau dibesarkan di Amerika, aku rasa kau belum pernah pergi ke Lotte World, kan?”

“Aku rasa… Aku pernah pergi ke sana sekali, dengan orangtuaku.”

“Benarkah?”

“Ya… tapi aku tersesat. Untungnya, waktu itu ada seorang gadis seusiaku yang membantuku!” Kata Jessica riang.

“Itu bagus. Jadi apakah kau pernah bertemu gadis itu lagi?”

“Sayangnya tidak… Aku bahkan tidak tahu nama aslinya.” Jessica hanya tahu kode nama superhero yang diberikan gadis itu – Super Black Bear.

“Siapa tahu… mungkin kau bisa bertemu dengannya lagi hari ini.”

“Aku harap begitu!” Jessica tersenyum menanggapinya.

“Pegangan Sica… Karena kita akan memutar arah secara ilegal sekarang!” Mengambil kesempatan di perhentian lalu lintas, Yuri berbelok tajam memutar arah, meninggalkan mobil Audi hitam di belakang dan melesat ke arah yang berlawanan. Melalui kaca spion, Taewoo menyaksikan semua itu. Segera, lampu lalu lintas berubah menjadi hijau dan tanpa banyak ekspresi, ia tetap mengemudi lurus. Ia mengaktifkan ponselnya dalam panggilan-otomatis dan menunggu hubungan tersambung.

“Yang Mulia… semuanya berjalan sesuai yang direncanakan…”

~~~;~~~;~~~

TBC

next chap…YulSic in Lotte World 😀

credit: choki @SSF

boiboi~

Advertisements

42 thoughts on “You’ll be the Prince & I’ll be the Princess [Chapter 21]

  1. Gw kirain yul udah bneran ngungkapin semuax ke sica terxta cman mimpi doang..
    Gw khawatir apa yg bkalan direncanain pangeran jin di lotte world ke yulsic…

  2. Hadooh bada apalagi yg akan terjadi ? Gw udah tegang gw kira beneran itu yul ngasih tau sica ternyata blm baguslah klo bigtu haha

    Lama bgt tnor gw nunggunya , ini ff gw suka bgt 😀

  3. Yeahhh thanks tarra ^^ hahahahhaa…
    uhhh ap ada yg slh dg srf tgan yuri ?
    ckck Jessica emg TOp klo soal berantakin dapur hahahahaa…
    oksip ditunggu kencannya…
    lanjut~
    tarrarengkyu~

  4. gw pikir yul bneran kasi tau sica semunya,, trnyata… hnya mimpi.. apalagi yg jadi rencana pngeran jin,, yg pasti itu hal yg sangat buruk buat yulsic,, nice chapter,, ditungggu kelanjutannya..

  5. Pangeran jin bakal ngerencanain pa tuch ma yulsic??
    Semoga yul bisa cepet jujur dech ma sica supaya sica gak tau dari orang lain

  6. kirain yuri bnran dh Jujur trnyat hny mimpi..hufft sdkit kcw hehe…ad yg mw jht sm yul.pngern jin n taewoo blm tw kn lo ot putti yuri..next thor yulsic in lotte world

  7. Aaa..udah lama ga absen sama wp mu thor 🙂
    jadi ketinggalan sama ceritanya…
    Ciyeee next chap yulsic in lotte world yah 😀
    Penasaran apakah yuri mau buka tampang poker face nya ?

  8. ternyata hanya mimpi waktu yuri bilang yg sebenarnya kepada sica.tapi sepertinya mimpi itu bakal jadi kenyataan karena pangeran jin merencanakan sesuatu kepada yuri dan mudah2an yul dan sooyoung juga kencan di LW
    lanjut lagi thor

  9. Annyeong…

    Yeeaaah…princess Yuri mncul.
    Trz gak sbar pngen YulSic cpet nympe Lotte World n mga aja kencan mreka lncar2 aja, gak ada yg gngguin.

    Ni ff favorit gue bnget lo Tarra…udah brpa x gue ngulang bca nya…
    Next nya gak lma kan… 😀
    semangat…!

  10. astagaaaa.. kirain yg awal tuh beneran. ampe dag dig dug beneraaaannn..
    ekh mimpi -_- kurang asem..

    huft, semoga gak terjadi apa2. masalahny kasian sama yuri nya…

    dan buat pangeran jin, cepet2 masuk botol jamu aja lah.. kesel jadinya ..

  11. Badai yulsic blm selesai jga ?? O.o
    hum,sepertix crita ini msi sngat pnjang :v
    yul jga blm ngaku kalo dy sbnarx yuri.
    Dan hubungan percintaan yul & soo blum ada titik terangx,
    keknya ni ff bkal pnjang bnget yag? O.o
    bguslah :v

  12. sii yul g jdi ngungakapin yaa kirain udah trnyta mmpi,,lotte world akan lbih bgus klo g ada penganggu sprti sii licik,,tp prcya org baek mah sllu dilindungi..

  13. Aq kira yul bnr2 udh blng yg sbnrnya m sica tp trnyta cma mimpi toh….tp serem jg mimpi ny yul…
    N tu smga saraf tngan ny yul gk parah…
    Sica pintar bngt ngancurin dapur…
    Om jin n taewoo mo bt rencana jahat aplg ni k yul???
    Yul k LW mg2 aj die ingat prnh ktmu sica wkt kecil dlu…
    Berdoa mg2 kencan yulsic aman mski ky e bkl ad sesuatu yg trjdi..
    Lanjut thor….semangat….

  14. itu si om jin mo ngapain lg sm yulsic
    omg kirain bneran tuh yuri ngungkapin soal kebohongnnya slama ini, trnyata cm mimpi tho
    cieee next chap yulsic kencan nih di lotte world

  15. Emang licik deh.. yuri mau diapain lagi??
    Yuri cepat deh ngaku sama jessica..
    Sejujurnya white lie itu tidak ada, jadi mendingan deh cepat2 ngaku

  16. ternyata hanya mimpi..
    tapi makin lama dipendam sica onnie nya nanti makin metasa ditipu..
    aduh pusing mikirinnya..
    aduh pangeran itu mau lakuin hal jahat macam apa lagi..
    aduh sica onnie jangan percaya sama itu orang..
    semoga tidak terjadi hal yang membahayakan..
    lanjut .
    selalu ditunggu..

Comment ^^~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s